Claim Missing Document
Check
Articles

EDUKASI APOCIL DAN DAGUSIBU PADA MADRASAH DINIYAH AWWALIYAH (MDA) MUTIARA ISLAM DI TANJUNGSARI Ernita; Suwendar; Umi Yuniarni; Bertha Rusdi; Dina Mulyanti; Ratih Aryani; Haidir Syafrullah; Nanda Nurhaliza Z; Ainah
GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): GERVASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/gervasi.v10i2.7167

Abstract

Pendidikan kesehatan sejak dini merupakan langkah strategis untuk membentuk pola hidup sehat yang berkelanjutan, terutama dalam mencegah penyalahgunaan obat yang kian meningkat di kalangan masyarakat. Suatu upaya menanamkan kebiasaan hidup sehat pada anak, (seperti cuci tangan, makan bergizi, aktif bergerak, tidur cukup) sejak kecil untuk membentuk fondasi kesehatan jangka panjang agar anak tumbuh optimal secara fisik, mental dan emosional mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan profesi apoteker melalui APOCIL (Apoteker Cilik) dan konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) obat. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan pendekatan edukasi partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi, dan tanya jawab, yang dikemas secara menyenangkan dan komunikatif serta kuesioner untuk mengukur pemahaman peserta didik. Kegiatan melibatkan peserta didik kelas 2, orang tua, dan masyarakat RW 07, dengan fasilitator dari akademisi dan apoteker. Hasil post-test dianalisis menggunakan interpretasi persentase benar (Skala Likert) menunjukkan peningkatan pemahaman peserta didik mencapai nilai tertinggi adalah 90 (20%), dan nilai terendah adalah 50 (30%).
Profil Komorbiditas terhadap Kesembuhan Pasien TB-RO di RSUP Dr. H. A. Rotinsulu Nadia Indah Sari; Umi Yuniarni; Suwendar Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy 87 - 94
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24522

Abstract

Abstract. Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) is a major health concern that requires complex treatment and continuous monitoring. Comorbidities may worsen patients’ clinical conditions, increase the risk of complications, and affect treatment outcomes. This study aimed to describe patient characteristics, the profile of comorbidities, and treatment outcomes among DR-TB patients at Dr. H. A. Rotinsulu General Hospital. This study employed a descriptive observational design with retrospective data collection using electronic medical records of DR-TB patients during the 2024–2025 period. The data included sex, age, types of comorbidities, and treatment outcomes. Data were analyzed descriptively and presented as frequencies and percentages. The results showed that most patients were male (54.5%), and adults constituted the largest age group (39.3%). The most frequently identified comorbidity was chronic obstructive pulmonary disease (COPD), affecting 25 patients (32.9%), of whom 23 recovered and 2 did not recover. Type 2 diabetes mellitus was identified in 20 patients (26.3%), with 17 patients recovering and 3 not recovering. Ischemic coronary artery disease (CAD) and systemic lupus erythematosus (SLE) were each identified in 2 patients, with 1 patient recovering and 1 not recovering. Comprehensive management and monitoring of comorbidities are necessary to support successful DR-TB treatment. Abstrak. Tuberkulosis resistan obat (TB-RO) merupakan masalah kesehatan yang memerlukan pengobatan kompleks dan pemantauan berkelanjutan. Komorbiditas dapat memperberat kondisi klinis, meningkatkan risiko komplikasi, serta memengaruhi keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien, profil komorbiditas, dan tingkat kesembuhan pasien TB-RO di RSUP Dr. H. A. Rotinsulu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pengambilan data secara retrospektif melalui rekam medis elektronik pasien TB-RO periode 2024–2025. Data meliputi jenis kelamin, usia, jenis komorbiditas, dan hasil akhir pengobatan. Data dianalisis secara deskriptif serta disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (54,5%) dan kelompok usia dewasa merupakan kelompok terbanyak (39,3%). Komorbiditas yang paling sering ditemukan adalah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) sebanyak 25 pasien (32,9%), dengan 23 pasien sembuh dan 2 pasien tidak sembuh. Diabetes melitus tipe 2 ditemukan pada 20 pasien (26,3%), dengan 17 pasien sembuh dan 3 pasien tidak sembuh. Penyakit arteri koroner (coronary artery disease/CAD) iskemik dan lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE) masing-masing ditemukan pada 2 pasien, dengan 1 pasien sembuh dan 1 pasien tidak sembuh. Komorbiditas perlu dikendalikan dan dipantau secara komprehensif untuk mendukung keberhasilan pengobatan TB-RO.
Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Daun Petai Cina terhadap Embrio Ikan Zebra Nazwa Aqilah; Siti Hazar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 147 - 154
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24590

Abstract

Abstract. Leucaena (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) leaves are rich in secondary metabolites with the potential to be developed as traditional medicines. However, their safety must first be established through toxicity testing. This study was conducted to determine the median lethal concentration (LC₅₀) and evaluate the toxic effects of the ethanol extract of Leucaena leaves on zebrafish (Danio rerio) embryos. The study was carried out in accordance with the Fish Embryo Toxicity (FET) guideline, with an observation period of 96 hours. A total of 120 zebrafish embryos were randomly assigned to six experimental groups, consisting of one control group and five treatment groups exposed to extract concentrations of 0.1, 1, 10, 100, and 1000 ppm. The primary endpoints observed were embryo mortality and developmental abnormalities throughout the testing period. Mortality data were subsequently analyzed using probit analysis to determine the LC₅₀ value. The results showed that the LC₅₀ of the ethanol extract of Leucaena leaves was 184.823 ppm, indicating that the extract is practically non-toxic. The only developmental abnormality observed during the study was embryo coagulation. In conclusion, the ethanol extract of Leucaena leaves exhibited a low degree of toxicity toward zebrafish embryos. Abstrak. Daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) kaya akan kandungan metabolit sekunder yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional. Meskipun demikian, jaminan keamanannya harus tetap dipastikan terlebih dahulu melalui uji toksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai LC₅₀ sekaligus mengevaluasi efek toksik ekstrak etanol daun petai cina terhadap embrio ikan zebra (Danio rerio). Penelitian ini mengacu pada pedoman Fish Embryo Toxicity (FET) dengan waktu pengamatan selama 96 jam. Sebanyak 120 embrio ikan zebra didistribusikan ke dalam enam kelompok perlakuan, yang terdiri atas satu kelompok kontrol dan lima kelompok uji dengan seri konsentrasi 0,1; 1; 10; 100; dan 1000 ppm. Indikator utama yang dipantau meliputi angka kematian embrio dan abnormalitas perkembangan selama masa pengujian. Data mortalitas yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC₅₀ ekstrak etanol daun petai cina adalah 184,823 ppm, yang mengategorikan ekstrak tersebut sebagai praktis tidak toksik. Bentuk abnormalitas yang ditemukan pada embrio selama pengujian adalah koagulasi embrio. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun petai cina memiliki tingkat toksisitas yang rendah terhadap embrio ikan zebra.
Pola Penggunaan Antitrombosis pada Pasien Kardiovaskular-GGK di RS X Bandung Tahun 2025 Dini Farizah; Umi Yuniarni; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 171 - 182
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24627

Abstract

Abstract. Cardiovascular disease is one of the main causes of morbidity and mortality in the world which is often accompanied by comorbidities of chronic kidney failure (CKD). Decreased kidney function can affect the selection of antithrombosis therapy, so an overview of its use patterns in patients with cardiovascular disease and GGK is needed. This study aims to determine the pattern of use of antithrombosis drugs in patients with cardiovascular disease with comorbid chronic kidney failure. This study is a descriptive observational study with retrospective data collection using patient medical records. Samples were taken using the total sampling method based on inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed descriptively to obtain an overview of the pattern of use of antithrombosis drugs. The results of the study in 96 patients showed that the most antithrombosis use was in the form of a combination of two aspirin + clopidogrel drugs (19%), followed by a combination of three aspirin + clopidogrel + heparin drugs (16%). The most monotherapy use was aspirin (5%), while the combination of four aspirin drugs + clopidogrel + fondaparinuks + heparin (5%), the combination of five aspirin drugs + klopidogrel + tikagrelor + heparin + warfarin (3%), and a combination of six aspirin + clopidogrel + enoksaparin + fondaparinuks + heparin + warfarin (1%). Abstrak. Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia yang sering disertai komorbid gagal ginjal kronis (GGK). Penurunan fungsi ginjal dapat memengaruhi pemilihan terapi antitrombosis sehingga diperlukan gambaran mengenai pola penggunaannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan GGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antitrombosis pada pasien penyakit kardiovaskular dengan komorbid gagal ginjal kronis. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan rekam medis pasien. Sampel diambil menggunakan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh gambaran pola penggunaan obat antitrombosis. Hasil penelitian pada 96 pasien menunjukkan bahwa penggunaan antitrombosis paling banyak berupa kombinasi dua obat, yaitu aspirin + klopidogrel (19%), diikuti kombinasi tiga obat, yaitu aspirin + klopidogrel + heparin (16%). Penggunaan monoterapi paling banyak adalah aspirin (5%), sedangkan kombinasi empat obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + fondaparinuks + heparin (5%), kombinasi lima obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + tikagrelor + heparin + warfarin (3%), dan kombinasi enam obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + enoksaparin + fondaparinuks + heparin + warfarin (1%).
Formulasi Sediaan Patch Mengandung Ekstrak Etanol Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) Tifana Indrafaina Al'munaf; Ratih Aryani; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 201 - 208
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24679

Abstract

Abstract. A laceration is skin damage caused by sharp-object trauma and may lead to bleeding and infection. Sembung leaves (Blumea balsamifera L.) contain flavonoids with potential wound-healing activity. This study aimed to determine the optimal formulation of a patch containing ethanol extract of Sembung leaves and to evaluate its in vivo wound-healing efficacy. Patch optimization was performed using a trial-and-error method by varying HPMC and PVP concentrations. Formula 3, containing 2.25% HPMC and 0.75% PVP, was selected as the optimal base. The patch was round, blackish-green, homogeneous, had a characteristic extract aroma, moisture content of the patch (7.26% ± 0.2), weight uniformity (0.02 g ± 0.00), thickness (0.3 mm ± 0), fold resistance >200 times, and pH (6.37 ± 0.01).  Furthermore, the results of the 5% patch formula (F3C) showed the best efficacy in wound healing on the. Abstrak. Luka sayat merupakan kondisi terjadinya kerusakan jaringan kulit yang disebabkan oleh trauma benda tajam seperti pisau atau benda tajam lainnya, sehingga berisiko mengalami perdarahan dan infeksi. Daun sembung (Blume balsamifera L.) mengandung berbagai senyawa kimia aktif, salah satunya flavonoid yang berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka sayat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi terbaik sediaan patch yang mengandung ekstrak etanol daun sembung berdasarkan hasil evaluasi sediaan dan efektivitas penutupan luka secara in vivo. Optimasi formula sediaan patch dilakukan berdasarkan variasi konsentrasi HPMC dan PVP sebagai polimer. Formula optimal sediaan patch diperoleh pada formula 3 dengan kombinasi HPMC 2,25% dan PVP 0,75%, yang menghasilkan patch yang memenuhi persyaratan evaluasi, yaitu berbentuk lembaran persegi panjang, berwarna hijau kehitaman, beraroma khas ekstrak, homogen, dengan kadar air sebesar 7,26% ± 0,2, keseragaman bobot sebesar 0,02 g ± 0,00, ketebalan sebesar 0,3 mm ± 0, ketahanan lipatan >200 kali, dan pH sebesar 6,37 ± 0,01. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa sediaan patch dengan ekstrak 5% (F3C) memberikan hasil terbaik dengan penyembuhan luka pada hari ke-12.
Efektivitas Antibiotik Pasien Rawat Inap Pneumonia Komunitas di RSUD Welas Asih Khalida Fitrah Qolbina; Umi Yuniarni; Suwendar Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy 237 - 246
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24735

Abstract

Abstract. Community-acquired pneumonia (CAP) remains a global health challenge due to its high mortality rate, making appropriate antibiotic selection essential to prevent treatment failure and the threat of resistance. This study aimed to analyze the effectiveness of various antibiotic regimens on clinical outcomes, including leukocyte count, body temperature, and respiratory rate. This analytical observational study with a cross-sectional design involved 123 inpatients at RSUD Welas Asih during the 2025 period, selected using a total sampling technique. Secondary data were obtained from medical records and analyzed both descriptively and statistically using the Wilcoxon test. The results showed that the majority of subjects were male (50.4%) and elderly (44.7%), with levofloxacin monotherapy (55%) and ceftriaxone (16%) being the predominant regimens used. Statistically, both antibiotics significantly reduced leukocyte levels (p<0.05), although temperature and respiratory rate parameters did not show similar significance, yet still achieved clinical stability by the third day. In conclusion, levofloxacin and ceftriaxone were the statistically most effective regimens, with further research using a larger sample size recommended. Abstrak. Pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia) menjadi tantangan kesehatan global karena angka mortalitas yang tinggi, sehingga pemilihan antibiotik yang tepat sangat penting untuk mencegah kegagalan terapi dan ancaman resistensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas berbagai regimen antibiotik terhadap outcome klinis yang meliputi kadar leukosit, suhu tubuh, dan laju pernapasan. Studi observasional analitik dengan desain cross-sectional ini melibatkan 123 pasien rawat inap di RSUD Welas Asih periode 2025 yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data sekunder diperoleh dari rekam medis dan diolah secara deskriptif serta statistik menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan mayoritas subjek adalah laki-laki (50,4%) dan lansia (44,7%), dengan penggunaan dominan monoterapi levofloksasin (55%) dan seftriakson (16%). Secara statistik, kedua antibiotik tersebut signifikan menurunkan kadar leukosit (p<0,05), meskipun parameter suhu dan napas tidak menunjukkan signifikansi serupa namun tetap mencapai stabilitas klinis pada hari ketiga. Kesimpulannya, levofloksasin dan seftriakson adalah regimen paling efektif secara statistik, dengan saran penelitian lanjutan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pneumonia Pediatri di RSUD Bandung Kiwari Metode Gyssens Anggietha Zahra Khairunnisa; Fetri Lestari; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 247 - 254
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24742

Abstract

Abstract. Community-Acquired Pneumonia (CAP) is one of the main causes of hospitalization in pediatric patients. Inappropriate use of antibiotics can reduce the effectiveness of treatment, prolong hospitalization, increase health care costs, and potentially lead to antibiotic resistance. The purpose of this study was to determine antibiotic use and determine the percentage of rational and irrational antibiotic use using the Gyssens method in hospitalized pediatric patients with community acquired pneumonia at Bandung Kiwari Regional Hospital. This study was conducted as a retrospective analytical observational study using total sampling based on medical record data. Based on the research conducted, in hospitalized pediatric patients with community-acquired pneumonia at Bandung Kiwari Regional Hospital in the period 2023-2025, it showed that antibiotic use included; Cefotaxime (18,92%), ceftriaxone (18,92%), ceftriaxone + azithromycin (21,62%), cefotaxime + cloxacillin (5.41%), ampicillin (5.41%), ceftriaxone + cloxacillin (10,81%), azithromycin (2,70%), levofloxacin (2,70%), where according to the evaluation results of antibiotic use as empirical therapy according to the Gyssens method, the rational use of antibiotics (category 0) was 80.65% and the irrational use of antibiotics included in category IV C (there are cheaper antibiotic alternatives) was 19.35%. Meanwhile, the evaluation results of antibiotics as definitive therapy according to the Gyssens method obtained rational antibiotics (category 0) as much as 66.67% and irrational antibiotics included in category IV C (there are cheaper antibiotic alternatives) as much as 33.33%. Abstrak. Pneumonia komunitas (Community Acquired Pneumonia/CAP) adalah salah satu penyebab utama pasien pediatri dirawat di rumah sakit. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengurangi efektivitas pengobatan, memperpanjang masa rawat inap, meningkatkan biaya perawatan kesehatan, dan berpotensi menyebabkan resistensi antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penggunaan antibiotik serta menentukan persentase penggunaan antibiotik rasional dan tidak rasional menggunakan metode Gyssens pada pasien pediatri rawat inap dengan pneumonia komunitas di RSUD Bandung Kiwari. Penelitian ini dilakukan sebagai studi observasional analitik retrospektif menggunakan total sampling berdasarkan data rekam medis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pada pasien rawat inap anak dengan pneumonia komunitas di RSUD Bandung Kiwari pada periode 2023-2025, menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik meliputi; sefotaksim (32,43%), seftriakson (18,92%), seftriakson + azitromisin (21,62%), sefotaksim + kloksasilin (10,81%), ampisilin (5,41%), seftriakson + kloksasilin (5,41%), azitromisin (2,70%), levofloksasin (2,70%), di mana menurut hasil evaluasi penggunaaan antibiotik sebagai terapi empiris menurut metode Gyssens diperoleh penggunaan antibiotik rasional (kategori 0) sebanyak 80,65% dan penggunaan antibiotik tidak rasional termasuk dalam kategori IV C (ada alternatif antibiotik yang lebih murah) sebanyak 19,35%. Sedangkan, hasil evaluasi antibiotik sebagai terapi definitif menurut metode Gyssens diperoleh antibiotik rasional (kategori 0) sebanyak 66,67% dan tidak rasional termasuk dalam kategori IV C (ada alternatif antibiotik yang lebih murah) sebanyak 33,33%
Pola Penggunaan Obat pada Lansia Gagal Jantung Kongesti di RS X Bandung Zahra Aurelia Chendra; Suwendar Suwendar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 285 - 294
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24791

Abstract

Abstract. Heart failure is a cardiovascular disease commonly occurring in older adults and is often accompanied by comorbidities, making treatment more complex. This study aimed to determine the drug utilization patterns, rationality of drug use, and treatment patterns among patients with heart failure and comorbid hypertension and type 2 diabetes mellitus at hospital X Bandung from January to December 2025. This study employed a descriptive observational design with a retrospective approach. Sampling was conducted using non-probability sampling with a total sampling method, resulting in 120 patients who met the inclusion criteria. The results showed that most patients were aged 55–65 years (53%) and were male (58%). The most common comorbidities were hypertension (33%) and type 2 diabetes mellitus (8%). Bisoprolol was the most frequently used drug, followed by furosemide, aspirin, atorvastatin, spironolactone, and sacubitril/valsartan. Most patients received combination therapy, with a five-drug combination being the most frequently used regimen. Abstrak. Gagal jantung merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang banyak terjadi pada lansia dan sering disertai komorbid sehingga terapi menjadi lebih kompleks. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola penggunaan obat, rasionalitas penggunaan obat, serta pola terapi pada pasien gagal jantung dengan komorbid hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 di RS X Bandung periode Januari–Desember 2025. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling menggunakan metode total sampling, sehingga diperoleh 120 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan pasien terbanyak berusia 55–65 tahun (53%) dan berjenis kelamin laki-laki (58%). Komorbid terbanyak adalah hipertensi (33%) dan diabetes melitus tipe 2 (8%). Bisoprolol merupakan obat yang paling banyak digunakan, diikuti furosemid, aspirin, atorvastatin, spironolakton, dan sacubitril/valsartan. Sebagian besar pasien menerima terapi kombinasi, dengan kombinasi lima jenis obat sebagai regimen yang paling banyak digunakan.
Potensi Gastroprotektif Tanaman Herbal di Indonesia Hudari Aklinia Handadly; Bertha Rusdi; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 383 - 390
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24957

Abstract

Abstract. Gastritis is one of the most common gastrointestinal disorders and may progress to gastric ulcers if left untreated. Various Indonesian herbal plants contain secondary metabolites with potential gastroprotective properties. Therefore, this article aims to review the potential of Indonesian herbal plants as gastroprotective agents through a literature review. A literature review was conducted by analyzing seven research articles retrieved from Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect. Eligible articles were selected based on predefined inclusion criteria and descriptively analyzed through evidence synthesis. The findings showed that various Indonesian herbal plants exhibited gastroprotective activity, as indicated by reduced ulcer formation, improved gastric mucosal histopathology, and enhanced mucosal protection. However, the available evidence is still predominantly derived from preclinical studies. Therefore, extract standardization and well-designed clinical studies are required to support the development of Indonesian herbal plants as candidate phytopharmaceuticals for the prevention and adjunctive treatment of gastric ulcers. Abstrak. Gastritis merupakan salah satu penyakit saluran pencernaan yang masih menjadi masalah kesehatan dan dapat berkembang menjadi ulkus lambung apabila tidak ditangani dengan baik. Berbagai tanaman herbal Indonesia diketahui mengandung metabolit sekunder yang berpotensi memberikan efek gastroprotektif. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan mengkaji potensi tanaman herbal Indonesia sebagai agen gastroprotektif melalui literature review. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menelaah tujuh artikel penelitian yang diperoleh dari basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif melalui sintesis hasil penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa berbagai tanaman herbal Indonesia memiliki aktivitas gastroprotektif yang ditunjukkan melalui penurunan pembentukan ulkus, perbaikan gambaran histopatologi mukosa lambung, serta peningkatan perlindungan mukosa. Meskipun demikian, bukti yang tersedia masih didominasi oleh penelitian praklinis. Oleh karena itu, diperlukan standardisasi ekstrak dan uji klinis pada manusia untuk mendukung pengembangan tanaman herbal sebagai kandidat fitofarmaka dalam pencegahan maupun terapi pendukung ulkus lambung.
Kajian Literatur Potensi Rimpang Jahe Merah sebagai Analgesik dan Antiinflamasi Afifah Chantika Sari Priasmara; Umi Yuniarni; Berta Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy 475 - 482
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25136

Abstract

Abstract. Pain is one of the most common health problems associated with inflammation and is generally managed using nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) and opioids, both of which may cause adverse effects. Therefore, safer therapeutic alternatives are needed, including red ginger (Zingiber officinale var. rubrum). This literature review aimed to analyze the pharmacological activity of red ginger as an analgesic and anti-inflammatory agent based on its bioactive compounds and mechanisms of action. A literature review was conducted by searching articles from PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar using relevant keywords. Eligible articles published within the last ten years were selected and analyzed descriptively. The review of six studies demonstrated that red ginger consistently exhibited analgesic and anti-inflammatory activities in in vitro, in vivo, and limited clinical studies. These pharmacological effects are attributed to bioactive compounds such as gingerol, shogaol, zingerone, camphene, flavonoids, quinones, monoterpenes, and sesquiterpenes, which inhibit COX and LOX enzymes, suppress NF-κB activation, reduce prostaglandin production, and modulate pro-inflammatory cytokines. In conclusion, red ginger has considerable potential as a natural analgesic and anti-inflammatory agent. Nevertheless, further well-designed clinical studies with standardized extracts and optimal dosages are required to confirm its efficacy and safety. Abstrak. Nyeri merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering menyertai proses inflamasi dan umumnya ditangani menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) maupun opioid yang berpotensi menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi yang lebih aman, salah satunya rimpang jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Kajian ini bertujuan menganalisis aktivitas farmakologi jahe merah sebagai analgesik dan antiinflamasi berdasarkan kandungan senyawa bioaktif serta mekanisme kerjanya. Penelitian menggunakan metode kajian literatur dengan penelusuran artikel melalui basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci yang relevan. Artikel dipilih berdasarkan kesesuaian topik, dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian dari enam artikel menunjukkan bahwa jahe merah memiliki aktivitas analgesik dan antiinflamasi yang konsisten pada pengujian in vitro, in vivo, maupun uji klinis sederhana. Aktivitas tersebut dipengaruhi oleh kandungan gingerol, shogaol, zingerone, camphene, flavonoid, kuinon, monoterpen, dan seskuiterpen yang bekerja melalui penghambatan enzim COX dan LOX, penekanan aktivasi NF-κB, penurunan produksi prostaglandin, serta modulasi sitokin proinflamasi. Berdasarkan hasil kajian, rimpang jahe merah berpotensi dikembangkan sebagai agen analgesik dan antiinflamasi alami. Namun, penelitian klinis lebih lanjut dengan standarisasi ekstrak dan dosis yang optimal masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.
Co-Authors 10060321003, Dela Kurniasih 10060321017, Tarisa Perolin Abdul Aziz Akmal Afifah Chantika Sari Priasmara Ainah Alika Ismita Alya Fauziah Zahra Alya Fauziah Zahra Alyah Eka Putri Anggietha Zahra Khairunnisa Anindhita Nur Firdausya Annisa Dila Perwitasari Annisa Nur Hasna Fauziyah Arpilla Almanda Aryuqo Ardha Syaqa Ayu Suci Dewi Bambang Tri Laksono Berta Rusdi Bertha Rusdi Dadang Juanda Dendi Ardian Desi Anom Sari Diki Prayugo Wibowo Dina Mulyanti Dinda Hana Dinda Shafa Nabila Dini Farizah Diva Rachmadita Kusumawardani Ega Nirmala Ega Nirmala Ernita Fetri Lestari Fetri Lestari Haidir Syafrullah Hana Tulia Fazin Hanifah Hidayah Putri Hazar, Siti Hudari Aklinia Handadly Iis Rosita Ina Willona Rudi Irene Yuliani Trinita Isti Elvina Azzahra Jasmine Ayu Diningrum Kamilia Zahro Khalida Fitrah Qolbina Lailatul Taqbi Rahmatya Lanny Mulqie Levina Geby Dwi Putri Alamsyah Luthfika Khansha, Luthfika Khansha Marshanda Reiya Hanafiah Miski A. Khairinisa Muhammad Fajar Muhammad Rafii Akbar Muhammad Raja Fachri Buldan Nabila Khaerunnisa Nabilla, Qori Nadia Indah Sari Najwa Khalisha Putri Nanda Nurhaliza Z Nazwa Aqilah Nela Simanjuntak Nirmala, Ega Novia Nur Islamiati Onoy Rohaeni Puri Salsabila Arsyi Qori Nabilla Rani Pertiwi Ratih Aryani, Ratih Ratu Choesrina Shakira Rida Utami Shifa Fadillah Indreswari Puja Silviya Nur Hasanah Siti Alifa Dzulnadifa Siti Hazar Siti Umniyyah Nabilah Sri Peni Fitrianingsih Suwendar Suwendar Syahla Alpia Rachman Syifa Egidia Delani Tifana Indrafaina Al'munaf Trinita, Irene Yuliani Vidya Sulistiawati Dewi vini nur alfaeni Vira Apriliandani Yani Lukmayani Yuan Vani Puspita Rachma Zahra Aurelia Chendra Zalfa Neysa Salsabila