Claim Missing Document
Check
Articles

BERI AKU KESEMPATAN Studi Fenomenologis Pengalaman Penyesuaian Diri pada Penderita Kusta setelah Kembali ke Lingkungan Masyarakat Ganesha Efka Putri Wibriani Soenoe; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 (Januari 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.63 KB) | DOI: 10.14710/empati.2017.15206

Abstract

Kusta merupakan penyakit menular kronis yang dalam kasusnya sangat berkaitan dengan stigma yang berkembang di masyarakat. Penderita kusta yang selesai menjalani medikasi harus kembali ke lingkungan masyarakat dengan berbagai stigma yang berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang pengalaman penyesuaian diri pada penderita kusta pasca kembali ke lingkungan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumen audio, dan dokumen resmi. Subjek penelitian berjumlah tiga orang dewasa madya yang terdiri dari dua orang pria dan satu orang wanita dengan karakteristik telah menderita kusta selama minimal empat tahun, telah menjalani medikasi, telah dinyatakan tidak menular dan kembali ke lingkungan masyarakat, dan bersedia menjadi subjek penelitian. Hasil penelitian mengungkap bahwa penderita kusta yang kembali ke lingkungan masyarakat akan menemui stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Pada penderita kusta yang kembali menjalani hidupnya dengan masyarakat ditemukan adanya perasaan sedih, pasrah, sakit hati, dan menarik diri dalam menghadapi respon negatif masyarakat. Kemampuan penderita kusta untuk dapat bangkit dari keterpurukan dan menyesuaikan diri dipengaruhi oleh dukungan keluarga, kemampuan kontrol diri, keterikatan dengan masyarakat, penilaian terhadap diri sendiri, dukungan sosial, dan usaha untuk kembali menjalin hubungan dengan masyarakat.
HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN AMAN DENGAN KOMPETENSI SOSIAL PADA SISWA PENDATANG DI SMA KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA RISKA PUTRI YULIANTI; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 (Oktober 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.296 KB) | DOI: 10.14710/empati.2017.20065

Abstract

Social competence allows students from outside the town to be able to adapt towards the various changes experienced in self and the environment. This study aims to examine the relationship between secure attachment and social competence of new comer student in SMA Kristen Satya Wacana Salatiga. The population in this study is 114 students from 10th and 11th year of science, social and language class with the sample of 105 students. The sampling technique was using the saturated sampling method. The collecting data method used is the secure attachment scale (27 item, α = .883) and the social competence scale (20 item, α = .809). The result of Spearman’s method showed the simple regression coefficient rxy = 0.584 with  p<0.005. The result proves that hypothesis is accepted, there is a positive relation between secure attachment with social competence of new comer student in SMA Kristen Satya Wacana Salatiga.  
HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN STRES PENGASUHAN IBU YANG MEMILIKI ANAK CEREBRAL PALSY Anindya Ikasari; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 (Oktober 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.864 KB) | DOI: 10.14710/empati.2017.20101

Abstract

Cerebral palsy merupakan suatu penyakit neuromuskular yang disebabkan oleh gangguan perkembangan atau kerusakan sebagian dari otak yang berhubungan dengan pengendalian fungsi motorik.  Kehadiran anak yang mengalami cerebral palsy dapat memunculkan stres pada ibu sebagai figur utama pengasuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan stres pengasuhan ibu yang memiliki anak cerebral palsy. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif antara regulasi emosi dan stres pengasuhan. Subjek penelitian ini adalah 50 ibu yang memiliki anak cerebral palsy dan menjalani terapi di YPAC dan PNTC. Sampel diambil menggunakan teknik insidental quota. Pengumpulan data menggunakan dua skala likert yaitu skala stres pengasuhan (37 aitem, α = 0,941) dan skala regulasi emosi (37 aitem, α = 0,972)  Hasil analisis data dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana menunjukkan adanya hubungan negatif antara variabel regulasi emosi dengan stres pengasuhan ibu dengan anak cerebral palsy (r = -0,451, p= 0,001). Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat regulasi emosi, maka semakin rendah tingkat stres pengasuhan ibu dan sebaliknya. Regulasi emosi memberikan sumbangan sebesar 20,3% terhadap stres pengasuan ibu.
STUDI KASUS: KEMATANGAN SOSIAL PADA SISWA HOMESCHOOLING Lisa Rahmi Ananda; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 (Januari 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.816 KB) | DOI: 10.14710/empati.2017.15090

Abstract

Remaja pada umumnya membutuhkan interaksi mutual dengan teman sebaya. Semakin banyak interaksi yang dilakukan semakin terbentuk pula kematangan sosial pada diri remaja. Kematangan sosial dapat dibentuk melalui pendidikan. Terdapat tiga jalur pendidikan di Indonesia salah satunya adalah pendidikan informal, seperti homeschooling. Homeschooling merupakan salah satu model belajar bagi anak dan merupakan pendidikan pilihan yang diselenggarakan oleh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kematangan sosial pada remaja yang sedang menjalani homeschooling. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi dokumen. Partisipan penelitian berjumlah 1 orang yaitu remaja yang sedang menjalani homeschooling, dan 3 informan yaitu orang tua, guru sewaktu SD, dan teman yang bersedia menjadi partisipan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian kematangan sosial pada partisipan tergambarkan dari konsep diri yang positif, self-direction yang bagus, kemandirian dalam belajar dimana partisipan sendiri yang memutuskan untuk homeschooling dengan berbagai pertimbangan di usianya pada saat itu. Dalam bersosialisasi partisipan cukup terampil berinteraksi dengan orang-orang lintas usia atau yang tidak sebaya. Sedangkan dalam berinteraksi dengan teman sebaya, partisipan mengalami sedikit kendala karena memiliki perbedaan jadwal dalam pembelajaran.
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN COPING STRATEGY PADA TARUNA TINGKAT I DAN II SEKOLAH TINGGI PERIKANAN BOGOR NURUL MAULIDYA SEKAR FARDHANI; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 (Oktober 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.419 KB) | DOI: 10.14710/empati.2017.20066

Abstract

Official school requires students or cadets to have a tough both mentally and physically. The boarding campus life with the social and academic demands faced by cadets often become a stressors during their college life. The effort that individuals do in dealing with stressor is called coping strategy. The aim of this study is to determine the relationship between emotional intelligence with coping strategy at Bogor Fisheries College Cadets (STP Bogor). Emotional intelligence is the ability of the individual to recognize the emotions of oneself and the emotions of others and use their emotions to overcome the demands in the environment. The subjects of this study are 134 cadets obtained with cluster random sampling technique. The measuring instruments used in this study are coping strategy scale (65 items, α = .950), and emotional intelligence scale (31 items, α = .914).  The data analysis method used in this research is simple regression analysis. The result showed that there was a significant positive correlation between emotional intelligence and coping strategy of cadets with correlation coefficient (r = 0.676; p = .000; p <.05). Emotional intelligence contributes effectively to 45.7% in coping strategy.     
HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA PERAWAT RSUD HJ. ANNA LASMANAH BANJARNEGARA Meiliana Ariani; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 (Januari 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.18 KB) | DOI: 10.14710/empati.2017.15097

Abstract

Regulasi emosi merupakan dasar yang mendukung kemampuan untuk mengontrol emosi atau hubungan antara pekerjaan dengan klien. Peristiwa ditempat kerja dapat memicu reaksi emosi positif dan negatif sehingga diperlukan regulasi emosi yang tinggi untuk dapat menyesuaikan respon emosi yang muncul. Respon emosional pada peristiwa ditempat kerja dapat berpegaruh pada suasana hati yang akan mempengaruhi perilaku organizational citizenship behavior. Suasana hati positif mempengaruhi individu untuk menampilkan organizational citizenship behavior sehingga dapat meningkatkan efektivitas organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan organizational citizenship behavior pada perawat. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 152 perawat dengan sampel penelitian 90 perawat. Penentuan sampel menggunakan cluster random sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan melakukan randomisasi terhadap kelompok, bukan terhadap subjek individual. Pengumpulan data menggunakan Skala Regulasi Emosi dengan 19 aitem (α = 0.857 ) dan Skala Organizational Citizenship Behavior (α = 0.901 ) dengan 31 aitem. Analisa data menggunakan analisis regresi sederhana yang menunjukkan hasil rxy = 0.809 dengan p = 0.000 (p<0.001), artinya terdapat hubungan yang signifikan positif antara kedua variabel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perawat yang memiliki organizational citizenship behavior yang tinggi, salah satunya dikarenakan memiliki regulasi emosi yang tinggi, demikian pula sebaliknya perawat yang memiliki organizational citizenship behavior yang rendah, maka regulasi emosi yang dimiliki juga rendah. Regulasi emosi memberikan sumbangan efektif sebesar 65,5% sedangkan 34,5% sisanya berasal dari faktor-faktor lain yang tidak diungkapkan dalam penelitian ini.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SCHOOL WELL-BEING AND ACADEMIC PROCRASTINATION ON STUDENT 10th GRADE of STATE MADRASAH ALIYAH Annisa Annisa; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 (Oktober 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.123 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7562

Abstract

School is a part of learning environment that affect in forming student’s academic behavior including academic procrastination. Academic procrastination is delay either in initiating or completing academic assignments that lead to failure. Academic procrastination can be affected by school environment. The school environment is perceived differently by each student. The student’s perception of aspects having, loving, being, and health tend to be aspect that lead to the school satisfaction, also known as the school well-being. This research aimed to determine the relationship between school well-being and academic procrastination on student 10th grade of State Madrasah Aliyah. Population in this research was the student of State Madrasah Aliyah 1 and State Madrasah Aliyah 2 Banjarnegara. Cluster random sampling consisted of 224 students was used by researcher. This research used both the Academic Procrastination scale (rix = 0.92) and School Well-Being scale (rix = 0,84) that has been tested on 107 students. Product moment correlation revealed that correlation coefficient (rxy) of -0.477 which indicates that there is a negative relationship between well-being and the school academic procrastination. It indicates that the higher school well-being, the lower the academic procrastination and conversely, the lower the school well-being, the higher the academic procrastination.
STUDI KASUS TENTANG GAMBARAN PROSES PENGEMBANGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA ANAK TUNARUNGU Ummi Aulia Augustia; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 (Januari 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.034 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.14970

Abstract

Tunarungu merupakan kondisi di mana indera pendengaran seseorang melemah atau mengalami kerusakan sehingga menyebabkan hambatan pada pemrosesan informasi bunyi dan bahasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pengembangan kepercayaan diri pada seorang penyandang tunarungu. Kepercayaan diri merupakan sikap positif pada diri sendiri untuk dapat menerima kenyataan, meningkatkan kemampuan diri serta mampu mewujudkan keinginan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumen. Subjek dalam penelitian ini adalah anak tunarungu, ibu kandung, pelatih modeling, guru kelas, dan guru les. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa anak tunarungu yang mendapatkan perhatian sejak kecil, akan dapat mengembangkan rasa percaya dan dapat melalui tahap perkembangan berikutnya, yaitu pembentukan otonomi, inisiatif, serta produktivitas yang diperoleh dari dukungan keluarga, penerimaan sekolah luar biasa, penerimaan dari sekolah modeling, serta adanya dukungan dari teman. Lingkungan yang saling mendukung akan menjadi sumber kepercayaan diri anak tunarungu dan membuat seorang anak tunarungu memiliki kesempatan untuk beraktualisasi diri. Hambatan dalam proses pengembangan kepercayaan diri anak tunarungu ialah adanya penolakan dari lingkungan, perubahan penyesuaian diri, serta kurangnya sikap tanggung jawab yang dimiliki anak tunarungu.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA LAKI-LAKI KELAS X SMK NEGERI 4 SEMARANG SIANTI DEWI; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 (Oktober 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.286 KB) | DOI: 10.14710/empati.2017.19997

Abstract

Emotional intelligence plays an important role on someone’s attitude. The parents role most importantly on father figure is very important for his child moreover on the teenager age. The aim of this research is to understand the relation between perception of father’s involvement in parenting with the emotional intelligence of male students grade 10 SMK Negeri 4 Semarang. The subject of this research is male students grade 10 of  SMK Negeri 4 Semarang. The number of sample used for this research is 211 pupils, with using a cluster random sampling technique.  The data collectiong is using a Father Involvement Perception Scale (37 aitem valid; α = .93) and Emotional Intelligence Scale (40 aitem valid; α = .88) that has been tried out on 102 male students grade 10 of SMK Negeri 4 Semarang. Simple regretion analysis shows the positive and significance relation between father perception  relation in parenting with the emotional intelligence, shown by the correlation coefficient rxy= .352 with  p = .000. The higher father involvement perception on parenting, hence the higher the emotional intelligence of male students grade 10 SMK Negeri 4 Semarang, and vice versa. Father involvement perception in parenting give 12,4% of effective contributions to the emotional intelligence. This research is expected to be a consideration for students, parents, school, and also as a reference for further researcher.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SELF-MONITORING WITH ACADEMIC PROCRASTINATION OF STUDENTS WHO ARE WORKING ON THESIS AT FACULTY OF PSYCHOLOGY IN UNIVERSITY OF DIPONEGORO Nur Amelia Sari; Endah Kumala Dewi; Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 (Oktober 2012)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.272 KB) | DOI: 10.14710/empati.2012.8128

Abstract

This research was conducted to determine the relationship between self-monitoring with academic procrastination in students who are working on thesis at the Faculty of Psychology, University of Diponegoro. The population is 123 students with a sample of 60 students. Determination of the samples was done by using simple random sampling. Data collection tool in the study of academic procrastination is a scale consisting of 38 aitem (α = .940) and self-monitoring scale consists of 25 aitem (α = 0.924), which has been tested.The data obtained showed a correlation coefficient of -0.454 with p = 0.000 (p <0.05), meaning that there is a significant negative relationship between self-monitoring with academic procrastination in students who are working on thesis at the Faculty of Psychology, University of Diponegoro. The higher self-monitoring, the lower the academic procrastination in students who are working on the thesis. Conversely, the lower the self-monitoring, the higher the academic procrastination in students who are working on the thesis. Self-monitoring variables contribute effectively to academic procrastination by 20.6%, while 79.4% came from other factors that are not revealed in this study.