Claim Missing Document
Check
Articles

PERBAIKAN JALAN ANGKUT TAMBANG : PENGARUH PERUBAHAN STRUKTUR LAPIS JALAN TERHADAP PRODUKTIVITAS ALAT ANGKUT Adip Mustofa; Jaka Guruh Wicaksono; Nurhakim Nurhakim; Afriko Afriko; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 1, No 01 (2016): Jurnal Himasapta Volume 01 Nomor 01 April 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v1i01.906

Abstract

Jalan angkut memiliki peranan yang sangat penting dalam siklus operasi produksi penambangan.  Kualitas jalan angkut akan menjadi faktor penentu dalam pencapaian target produksi suatu perusahaan. Pencapaian target produksi antara lain dipengaruhi oleh produktivitas alat. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana pengaruh perbaikan jalan angkut terhadap produktivitas alat angkut.Perbaikan yang diterapkan berupa perubahan struktur lapis jalan berdasarkan daya dukung material jalan yang diperoleh melalui uji lab serta beban maksimum yang diterima jalan. Penentuan rancangan ketebalan struktur lapis jalan mengacu pada nilai California Bearing Ratio (CBR). Sedangkan beban maksimum dihitung dari alat angkut terbesar dalam keadaan bermuatan penuh yang melewati jalan. Geometri jalan angkut yang meliputi panjang segmen, lebar jalan, dan kemiringannya merupakan perpaduan hasil pengukuran langsung dan pengolahan data dari peta jalan angkut. Data waktu edar alat diambil langsung di lapangan sebelum dan sesudah jalan diperbaiki untuk mengetahui dampaknya terhadap perubahan produktivitas.Alat angkut terbesar yang melewati jalan berupa Komatsu HD465-7 dengan berat bermuatan 97,875 kg dan distribusi beban maksimum terletak pada bagian belakang alat angkut sebesar 36,682.5 lbs. Tebal perkerasan di atas subgrade yang sesuai untuk menahan beban ini adalah setebal 28 inch, dengan minimal lapisan base coarse 8 inch, dan lapisan surface coarse 9 inch.  Hasil uji lab material yang tersedia di lapangan yaitu batulempung dan batulempung pasiran memiliki nilai CBR maksimum masing-masing 43% dan 48%. Batulempung digunakan sebagai material surface coarse dengan tebal 7 inch. Batulempung pasiran digunakan sebagai material base coarse dengan tebal 21 inch. Kecepatan rata-rata alat angkut yang sebelumnya 20.65 km/jam naik menjadi 22.19 km/jam setelah jalan diperbaiki sehingga terjadi peningkatan produktivitas alat angkut yaitu sebesar 2.1 BCM/ jam untuk setiap alat angkut. Kata-kata kunci: Jalan angkut tambang, perbaikan jalan, produktivitas alat angkut, struktur lapis jalan
Aspek geoteknik pemanfaatan lempung kaolin sebagai material lapis badan jalan tambang Kabupaten Banjar Haikun Pranoto; Adip Mustofa; Kartini Kartini
Jurnal Himasapta Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Himasapta Volume 6 Nomor 2 Agustus 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v6i2.3964

Abstract

Desa Limamar merupakan desa yang terletak di Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Desa Limamar memiliki tanah lempung kaolin dan pasir kuarsa dengan pontensi yang sangat berlimpah. Tanah lempung kaolin sering dimanfaatkan warga setempat untuk dijadikan bahan bangunan dan sering dimanfaatkan sebagai material alternatif jalan, karena potensi tanah lempung kaolin sangat berlimpah di desa tersebut, sehingga memiliki kecenderungan tanah setempat dapat digunakan untuk lapis tanah urug jalan. Untuk mengetahui kuat atau tidaknya suatu jalan dalam menahan alat diatas permukaan maka perlu adanya daya dukung tanah yang baik guna sebagai aspek geoteknik jalan. Daya dukung tanah didapatkan dengan pengujian pemadatan tanah dan uji CBR.Hasil pemadatan dan uji CBR di laboratorium didapatkan nilai daya dukung izin tanah menggunakan variasi tumbukan 10, 25 dan 56 dengan rincian tumbukan 10 menghasilkan daya dukung tanah terendah sebesar 147,10 Kpa dan tertinggi sebesar 223,27 Kpa. Tumbukan 25 menghasilkan daya dukung tanah terendah sebesar 195,47 Kpa dan tertinggi sebesar 237. Kemudian tumbukan 56 menghasilkan daya dukung tanah terendah sebesar 231,77 Kpa dan tertinggi sebesar 277,87 Kpa serta rekomendasi ketebalan minimum lapis tanah urug daerah penelitian sebesar 0,28 meter dan ketebalan maksimum sebesar 0,37 meter. Berdasarkan nilai daya dukung izin tanah daerah penelitian, maka material tersebut tidak dapat dimanfaatkan sebagai tanah urug badan jalan untuk dilewati alat angkut Hino tipe ringan hingga berat dengan kapasitas 5,2 sampai 44 ton dan memiliki kelemahan tingkat gerusan dan kembang susut tanah. Kata-kata kunci: daya dukung tanah, CBR, beban alat, tebal lapisan
PENGARUH PELAPUKAN TERHADAP SIFAT MEKANIK BATUAN DAN TANAH RESIDUAL BREKSI VULKANIK FORMASI PITANAK DI KECAMATAN KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR Adip Mustofa; Agus Triantoro; Irham Nurhafidz; Eko Santoso
Jurnal Himasapta Vol 2, No 01 (2017): Jurnal Himasapta Volume 02 Nomor 01 April 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v2i01.935

Abstract

Formasi Pitanak merupakan salah satu Formasi batuan yang tersusun oleh beberapa jenis batuan vulkanik seperti andesit, breksi vulkanik dan jenis batuan konglomerat. Pada batuan batuan tersebut sering di temukan jebakan mineral logam, sehingga pada Formasi ini berkemungkinan terbentuk cebakan endapan logam ekonomis untuk dilakukan kegiatan penambangan.Pada tahapan awal penambangan, prasarana jalan sangat penting dalam kegiatan pembangunan (mine development). Pembuatan jalan tambang memerlukan perhitungan dan perancangan material perkerasan jalan baik itu subgrade jalan maupun material perlapisannya. Penelitian perlapisan batuan hasil pelapukan batuan vulkanik di Formasi Pitanak memberikan 6 kelas pelapukan batuan dengan tingkat kekerasan material rata rata 0.03-0.6 MPa untuk tanah residual dan 2-30 MPa untuk material lapuk hingga batuan. Klaster pelapukan pada batuan hasil pelapukan batuan vulkanik di Formasi Pitanak diketahui dengan menggolongkannya berdasarkan 3 sistem klasifikasi  yaitu menurut Sadisun dkk. 1998, ISRM 1981 dan NEH 601.03.
Studi Identifikasi Aluminium Pada Komplek Batuan Granitis Di Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan Leo Cahyo Adi; Adip Mustofa; Riswan Riswan
Jurnal Himasapta Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Himasapta Volume 6 Nomor 03 Desember 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v6i3.4677

Abstract

Aluminium merupakan salah satu unsur penting bahan baku industry. Ketersediaan Aluminium salah satunya bersumber dari mineral penyusun batuan beku granitis dalam mineral Feldspar. Ketersediaan batuan granitis formasi (Kgr) tertuang pada peta Geologi lembar Amuntai yang disusun oleh (Heryanto, 1994), Kebutuhan Aluminium yang tinggi serta sebaran batuan granitis, menjadi pendorong untuk melaksanakan studi identifikasi Aluminium di daerah tersebut.Metode penelitian yang digunakan meliputi pengumpulan data dilapangan (Pengambilan titik Sampling, sampel batuan dan deskripsi batuan). Yang mana didapatkan 15 sampling batuan hasil dari megaskopis berupa jenis batuan yaitu Granodiorite, Diorite, Andesitis dan Granit. Kemudian dilakukan uji laboratorium, uji laboratorium ditujukan untuk mengetahui kandungan mineral dan kimiawi pada sampel batuan Granitis. Analisa tersebut menggunakan dua alat uji yaitu XRD (X-Ray Difractometer) untuk mengetahui kandungan mineral batuan dan uji XRF (X-Ray Fluorescense) untuk mengetahui kandungan unsur kimiawi.Melalui hasil dari uji laboratorium tersebut dilakukan metoda penamaan jenis batuan menurut klasifikasi diagram Streicksen 1967 dan metoda penamaan jenis magma menurut klasifikasi Shand’s Index 1951. Diketahui penamaan jenis batuan hasil dari klasifikasi diagram Streicksen 1967 didapatkan jenis batuan Granodiorite, Monzogranite dan Syenogranite. Dan hasil dari penamaan jenis magma menurut klasifikasi Shand’s Index 1951 didapatkan jenis magma berupa Peraluminous dan Metaluminous. Dari hasil uji XRF(X-Ray Fluorescense) diketahui batuan granitis hasil sampling mengandung Aluminium berkisar 0,02 – 0,07 %. Peningkatan kandungan aluminium semakin meningkat kearah North East daerah penelitian dengan jenis batuan Granodiorite dan Monzogranite, jenis magma hasil plotting klasifikasi Shand Index 1951 berupa Peraluminous dan Metaluminous mengarah pada Desa Harakit.
PENGARUH SUPPLY BATUBARA E4900 TERHADAP KETERCAPAIAN TARGET BARGING PADA JETTY KELANIS 1 DAN KELANIS 3 PT ADARO INDONESIA DESA KELANIS KECAMATAN MENGKATIP Andreas Bayu Bangalino; Agus Triantoro; Adip Mustofa
Jurnal Himasapta Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Himasapta Volume 5 Nomor 03 Desember 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v5i3.2894

Abstract

Adanya indikasi perbedaan pencapaian target total outloading kuantitas batubara E4900  dengan realisasi yang tercapai ditahun 2016 perlu dilakukan analisa pencapaian target pada masing-masing jetty dimana target outloading yang sudah direncanakan tidak tercapai, sehingga perlu diketahui ketersediaan batubara pada stockpile dan perlu diketahui target yang tidak tercapai dan bagaimana solusi untuk menyelesaikannya.Metode yang digunakan dalam penelian ini adalah perbandingan rencana outloading dan realisasi outloading tahun 2016Tujuan penelitian yaitu menganalisa pencapaian kuantias  batubara E4900 di jetty K1 dan K3, Analisa faktor  yang mempengaruhi pencapaian kuantitas batubara E4900 pada jetty K1 dan K3. Analisa yang digunakan untuk pencapaian kualitas batubara E4900 yaitu analisa pada tonnase stockpile, analisa pada suplai pada tambang dan analisa jam kerja yang ada pada Jetty K1 dan jetty K3.Kuantitas batubara E 4900  pada proses kegiatan outloading pada  jetty K1 memiliki  pencapaian yang lebih besar dibandingkan pencapaiann jetty K3 meskipun kemampuan jetty lebih besar K3 dibandingkan jetty K1. Adanya jam kerja yang ada pada kedua jetty dimana pada jetty K3 jam kerja yang rendah dibandingkan jetty K1 sehinggai mempengaruhi pencapaian kegiatan outloading jetty K3. Faktor yang mempengaruhi ketercapaian outloading pada lokasi jetty K3 adalah adanya hambatan-hambatan seperti kerusakan alat mekanis sehingga jam kerja pada jetty K3 tidak maksimal dan terganggu sehingga perlu dilakukan simulasi jam kerja atau menghilangkan hambatan yang ada sehingga jam kerja pun tidak terganggu dan rencana outloading dapat tercapai. Kata-kata kunci: Batubara, Rencana, Realisasi, Outlaoding, Ketercapaian, Jetty
UJI KETAHANAN SUMP PIT WEST DENGAN SIMULASIWATER BALANCE PADA PT ADARO INDONESIA DI KABUPATEN TABALONG, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Andrew Carnegie Hernan; Agus Triantoro; Adip Mustofa
Jurnal Himasapta Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Himasapta Volume 6 Nomor 01 April 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v6i1.3439

Abstract

Rencana proses in pit dump pada kegiatan penambangan yang terletak di front penambangan menyebabkan sump yang lama akan ditutup serta dialihkan sehingga perlu dilakukan perencanaan untuk sump yang baru. Berdasarkan hasil pengamatan, sistem penyaliran yang digunakan PT Adaro Indonesia adalah sistem mine dewatering.Dalam penelitian ini, metode analisis yang digunakan untuk menentukan uji ketahanan sump di tambang terbuka dengan menggunakan simulasi waterbalance. Penelitian ini diawali dengan penentuan curah hujan rencana yang menggunakan metode distribusi gumbel, untuk menentukan catchment area menggunakan software Surfer 11. Setelah didapatkan curah hujan rencana dan catchment area maka dapat ditentukan jumlah air yang masuk ke dalam sump. Setelah itu dicari kapasitas sump yang direncanakan perusahaan dengan menggunakan software autocad untuk dilakukan analisis dengan menggunakan durasi hujan maksimum sebesar 6,42 jam.Hasil analisis dari penelitian yang dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa sump yang direncanakan sangat mampu menampung jumlah air yang masuk. Baik tanpa maupun dengan pompa, sehingga penelitian ini memberikan rekomendasi mengenai batas critical level aman dengan melakukan simulasi pada elevasi 13 dan 12, maka setelah dilakukan simulasi maka pada elevasi 12 mampu untuk menampung hujan di durasi 6,42 jam. Kata kunci: mine dewatering, catchment area, sump, critical level
STUDI PERILAKU DISTRIBUSI BATUBARA PADA ROM X, PT XXX, KABUPATEN TABALONG, KALIMANTAN SELATAN Aprillyani Herdiana Torasila; Nurhakim Nurhakim; Adip Mustofa; Karina Shella Putri
Jurnal Himasapta Vol 1, No 01 (2016): Jurnal Himasapta Volume 01 Nomor 01 April 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v1i01.912

Abstract

Jumlah produksi batubara dari suatu tambang perlu memperhatikan kapasitas ROM. Lokasi tempat penimbunan batubara juga harus memenuhi syarat yang ditentukan. PT. XXX mempunyai batubara dengan nama T100, T200, dan T300. Pada bulan Mei 2013 batubara yang masuk sebesar 88,845 ton (T100), 81,965 ton (T200), 47,734 ton (T300). Pada bulan Juni supply sebesar 85,140 ton (T100), 82,370 ton (T200), dan 57,624 ton (T300). Bulan Juli 91,883 ton (T100), 65,298 ton (T200), 35,173 ton (T300). Sedangkan supply batubara yang keluar bulan Mei 74,391 ton (T100), 76,432 ton (T200), 52,383 ton (T300). Bulan Juni 70,185 ton (T100), 89,704 ton (T200), 57,657 ton (T300). Dan bulan Juli 91,198 ton (T100), 53,809 ton (T200), 28,622 ton (T300). Dari hasil perhitungan stok akhir untuk masing-masing produk menunjukkan bahwa stok akhir penimbunan batubara tidak pernah melebihi kapasitas maksimal ROM untuk masing-masing produk batubara. Supply batubara yang masuk ke ROM untuk produk T100, T200, dan T300 selalu lancar tidak ada supply yang kosong selama bulan Mei, Juni, dan Juli. Sedangkan untuk supply yang keluar yang akan menuju port terkadang kosong karena menyesuaikan permintaan.Kata-kata kunci: Supply Batubara, Stok Akhir, Kapasitas Maksimal Penimbunan
STUDI PENGARUH PENGGUNAAN CAIRAN SURFAKTAN WETTING AGENT PADA PROSES BARGING BATUBARA I Wayan Murdiana; Agus Triantoro; Adip Mustofa
Geosapta Vol 4, No 01 (2018): Januari 2018
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v4i01.4436

Abstract

Di Indonesia, kususnya di wilayah Kalimantan selatan merupakan salah satu wilayah yang memiliki banyak sumberdaya batubara. Batubara adalah salah satu energy alternative di Indonesia yang cukup besar cadangannya. Dalam pemanfaatannya, batubara harus diketahui terlebih dahulu kualitasnya, kualitas batubara merupakan faktor dalam pengambilan keputusan oleh pihak konsumen untuk memilih produk yang dihasilkan oleh produsen. Untuk dapat mengetahui serta memperoleh data kualitas batubara yang dihasilkan selama proses produksi perlu dilakukan kegiatan pengukuran kualitas batubara antara lain total sulfur (TS), ash content (AC), volatile matter (VM), inherent moisture (IM), fixed carbon (FC), calorific value (CV), dan total moisture (TM).Metode analisa yang digunakan untuk kualitas batubara adalah America Society for Testing (ASTM) meliputi pengujian, menghitung Total Moisture (TM) batubara yang sebelum dan setelah disemprot dengan cairan surfaktan wetting agent dan menghitung ash Sampel batubara sebelum dan setelah disemprot dengan cairan surfaktan wetting agent.Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa rata-rata TM batubara sebelum disemprot dengan cairan surfaktan wetting agent adalah 37,762% dan TM batubara setelah disemprot engan cairan surfaktan wetting agent adalah 36,105%. Sedangkan rata-rata nilai ash batubara sebelum disemprot dengan cairan surfaktan wetting agent adalah 5,78% dan nilai ash setelah disemprot dengan cairan surfaktan wetting agent adalah 5,58%. Kata-kata kunci: Batubara, Surfaktan Wetting agent.
KARAKTERISTIK α Fe2O3 DALAM LIMBAH BIJIH MANGAN Ridha Agustina; Nurhakim Nurhakim; Adip Mustofa
Geosapta Vol 2, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v2i1.4203

Abstract

Indonesia memiliki potensi sumberdaya mineral mangan dalam jumlah cukup besar namun tersebar di seluruh pelosok Indonesia dalam bentuk cadangan yang kecil dan beragam kualitas. Pemanfaatan bijih mangan lebih banyak diolah menjadi mangan sulfat maupun electrolyte mangan dioxide (EMD). Pengolahan bijih mangan ini menghasilkan produk samping atau limbah yang di dalamnya yang masih terdapat kandungan Fe, Fe ini dijadikan α Fe2O3 yang mana merupakan salah satu bahan baku campuran untuk baterai lithium.Pada penelitian ini akan dilakukan kegiatan penelitian karakteristik α Fe2O3 dalam limbah bijih mangan. Metode yang digunakan untuk menghasilkan serbuk α Fe2O3 adalah metode presipitasi dengan berbagai variasi perlakuan pengujian. Pada proses pelarutan dengan HCl sehingga terbentuk larutan FeCl3. Kemudian dilanjutkan dengan proses hidrolisis yaitu pencampuran larutan FeCl3 dengan larutan ammonium hydroksida (Nh4OH) yang menghasilkan endapan Fe(OH)3. endapan Fe(OH)3 ini akan dipanaskan yang   nantinya  akan menghasilkan serbuk α Fe2O3.Hasil penelitian ini didapatkan bahwa untuk variasi konsentrasi HCl hasil massa optimum yaitu 4,81 gram (H-250) dengan konsentrasi HCl sebesar 6,06 N. Untuk variasi kedua yaitu variasi massa bahan baku, didapatkan hasil massa optimum yaitu 5,01% (M-3) dengan massa bahan baku sebanyak 200 gram. Sedangkan pada variasi temperatur pemanasan, didapatkan hasil massa optimum adalah pada 92,21% (M-100) dengan temperature pemanasan yaitu 100°C. Dari hasil karakteristik dengan Analisa X-Ray Fluorescense besar kandungan Fe2O3 pada limbah bijih mangan sebesar 5,35%. Hasil karakteristik dengan Analisa X-Ray Diffraction tidak ditemukan peak α Fe2O3. Dari hasil karakteristik dengan Analisa Ultraviolet-Visible untuk perlakuan variasi temperatur pemanasan, intensitas yang dihasilkan paling besar adalah 30.000%. Kata-kata kunci: α Fe2O3, Mangan, Baterai Lithium, X-Ray Fluorescense, Analisa Bahan Galian
EVALUASI PRODUKTIVITAS BELT CONVEYOR DALAM PENINGKATAN TARGET PRODUKSI PENGAPALAN BATUBARA DI PELABUHAN KHUSUS PT MITRATAMA PERKASA DESA MUARA ASAM-ASAM, KECAMATAN JORONG, KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Simon Togap Einstein Siahaan; Nurhakim Nurhakim; Adip Mustofa; Yudo Prakoso
Geosapta Vol 1, No 01 (2015): Juli 2015
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v1i01.743

Abstract

PT Mitratama Perkasa pada tahun 2012 merencanakan peningkatan target produksi pengapalan batubara sebesar 5 juta ton per tahun. Dengan demikian, perlu suatu kajian teknis dan evaluasi agar produktivitas conveyor dapat maksimal dan target produksi tercapaiPada penelitian ini, perhitungan produktivitas conveyor, koefisien section area, sudut inklinasi, koefisien kemiringan, dan cross section area dihitung dengan metode Bridgestone. Belt conveyor pada PT Mitratama Perkasa menggunakan tipe 3 conveyors rolls trough dengan trough angle 35° dan surcharge angle 20°. Koefisien section area sebesar 0.1588, kemiringan sudut inklinasi CV-02 10°, CV-03 10°, CV-04 12°, koefisien belt conveyor dengan kemiringan 10° adalah 0.95 dan untuk kemiringan 12° adalah 0.93, Kecepatan belt conveyor rata-rata CV-02 3.1 m/s, CV-03 3.3 m/s, CV-04 3.3 m/s, densitas batubara 0.94 ton/m³, hasil perhitungan produktivitas teoritis adalah sebesar 2,317.067 ton per jam, produktivitas aktual rata-rata belt conveyor sebesar 1,076.899 ton/jam