Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Relationship of acid–base imbalance with hemorrhage volume and mortality in intracerebral stroke hemorrhage Gavin Mukti; Iwan Setiawan; Metana Puspitasari; Sulistyani Sulistyani
JHeS (Journal of Health Studies) Vol. 10 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jhes.4008

Abstract

This study aimed to evaluate the relationship between acid-base balance disturbances and intracerebral hemorrhage volume with mortality rates in hemorrhagic stroke cases. The research used an observational analytic design with a cross-sectional approach and was conducted at Dr. Soeratno Gemolong General Hospital, Sragen, from September to November 2024. The study population consisted of medical records of patients diagnosed with hemorrhagic stroke at the hospital between August 2021 and August 2024 who met the inclusion criteria. A total of 50 samples were selected using a purposive sampling technique. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the Chi-Square test, and multivariate analysis using logistic regression. The results showed a significant relationship between acid–base balance disturbances and intracerebral hemorrhage volume with mortality in hemorrhagic stroke cases (p=0.001). In addition, intracerebral hemorrhage volume was significantly associated with mortality (p=0.007). Multivariate analysis confirmed that both acid–base imbalance and hemorrhage volume significantly influence mortality outcomes. These findings indicate that acid–base imbalance and intracerebral hemorrhage volume greater than 30 ml are strong predictors of mortality in hemorrhagic stroke patients. Therefore, strict monitoring of arterial blood gases, neurological status, and hemodynamic stability is essential during the acute phase of care. Early detection of physiological deterioration and prompt intervention may help reduce the risk of adverse outcomes. Future research is recommended to use prospective multicenter designs with larger sample sizes to further clarify causal relationships and evaluate whether early correction of acid–base disturbances can improve mortality outcomes in hemorrhagic stroke patients.
Hubungan HBA1C dan Hipertensi dengan Kejadian Retinopati Rizky Febrian; S Sulistyani; Budi Hernawan; Sahilah Ermawati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retinopati merupakan komplikasi mikrovaskular yang umum pada penderita diabetes dan hipertensi. Retinopati diabetik menjadi penyebab utama kebutaan di antara populasi usia kerja di negara industri. Prevalensi diabetik retinopati di Indonesia masih sangat tinggi hingga 42,6%, dengan 24.600 orang mengalami retinopati diabetik. Retinopati hipertensi disebabkan karena tekanan darah tinggi yang konstan di pembuluh darah retina. Banyak orang di dunia yang menderita penyakit hipertensi. Kadar HbA1c merupakan indikator rata-rata konsentrasi glukosa darah selama 2-3 bulan untuk diagnosis diabetes. Hipertensi juga berkontribusi pada patogenesis komplikasi mikrovaskular yang menginisiasi terjadi nya retinopati. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan HbA1c dan Hipertensi dengan angka kejadian penyakit retinopati. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Subyek penelitian ini adalah 65 peserta prolanis terdiri dari 54 perempuan dan 11 laki-laki. Hasil korelasi HbA1c dengan retinopati, didapatkan dari analisis uji korelasi spearman HbA1c dan retinopati diperoleh nilai p sebesar 0,744 sedangkan hipertensi dan retinopati nilai p diperoleh sebesar 0,219. Tidak terdapat hubungan antara HbA1c maupun hipertensi dengan kejadian retinopati.
Hubungan Hipoglikemia dan Anemia dengan Kejadian Stroke Iskemik Nastiti Farasvita Putri; Dwi Kusumaningsih; S Sulistyani; Safari Wahyu Jatmiko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Stroke iskemik adalah jenis stroke yang disebabkan oleh tersumbatnya arteri serebral, arteri vertebral, atau vena serebral sehingga terjadi kematian jaringan otak. Stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian dan disabilitas utama di banyak negara dengan lebih dari 7,6 juta kasus baru tiap tahunnya. Patologi utama stroke iskemik adalah adanya aterosklerosis pembuluh darah besar yang dapat menyebabkan infark. Plak aterosklerotik dapat menyebabkan penyempitan lumen pembuluh darah, iskemi jaringan, dan perubahan metabolik pada jaringan yang divaskularisasi. Kejadian stroke dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, diantaranya faktor yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Kadar gula darah dan hemoglobin termasuk ke dalam faktor yang dapat dimodifikasi. Pencegahan stroke dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Penelitian pra-klinis menunjukkan adanya hubungan potensial antara risiko kejadian penyakit kardio/serebrovaskular pada pasien hipoglikemia melalui peningkatan katekolamin. Namun, premis ini belum didukung dengan studi klinis yang baik sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa anemia termasuk salah satu faktor risiko terjadinya stroke iskemik. Anemia menyebabkan hiperdinamik sirkulasi darah sehingga terjadi peningkatan ekspresi molekul adhesi pada endotel vaskuler. Beberapa penelitian masih menunjukkan hasil yang kurang konsisten. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan hipoglikemia dan anemia dengan kejadian stroke iskemik. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Data yang telah didapatkan dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chisquare dan uji Fisher. Hasil : Analisis bivariat menunjukkan nilai p value hubungan hipoglikemia dengan stroke iskemik adalah 1,0, sedangkan nilai p value hubungan hipoglikemia dengan stroke iskemik adalah 0,57. Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara hipoglikemia dan anemia dengan kejadian stroke iskemik.
Efektivitas Terapi Akupunktur terhadap Penurunan Derajat Low Back Pain (LBP) di Klinik Pratama Kusmahati Dua Sukoharjo Danendra Favian Alif Kusumo; Dwi Kusumaningsih; S Sulistyani; Saidatul Fitriyah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri punggung bawah (NPB) ialah salah satu masalah kesehatan Musculosceletal Disorders (MSD). Awal mula penyakit tersebut, adanya keluhan nyeri pada bagian punggung bawah berasal dari vertebra bagian spinal, otot, saraf serta bagian di daerah tersebut. Akupunktur ialah suatu alternatif pengobatan dengan insersi jarum kecil dengan target kulit di titik yang dituju. kasus low back pain dapat diberikan perlakuan pada titik Shensu (BL 23) secara bilateral, titik Dachangshu (BL 25) secara bilateral dan titik Weizhong point (BL 40) pada bagian yang sakit. Perlakuan tersebut diberikan sebanyak 4 kali dengan interval 1 kali dalam seminggu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya efektivitas terapi akupuntur terhadap penurunan nyeri nyeri punggung bawah. Penelitian ini menggunakan metode quasy-experimental. Studi ini menggunakan one group pre-test post-test design dengan dua kelompok subjek penelitian. satu kelompok diberikan intervensi menggunakan alternatif akupunktur. Sedangkan kelompok lain sebagai kelompok kontrol tanpa intervensi akupunktur dan diberikan analgetik. Penelitian ini berlangsung selama empat minggu, dilakukan intervensi dan diukur menggunakan alat NPRS pada kedua kelompok. Hasil penelitian dengan uji wilcoxon didapatkan bahwa skor nprs menurun baik pada kelompok perlakuan maupun kontrol dengan p-value 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan pada NPRS dari pasien nyeri punggung bawah dalam penurunan skor dan uji man whitney.
Tatalaksana Komprehensif pada Kasus Hernia Nucleus Pulposus (HNP) Muhammad Irvan; S Sulistyani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hernia nucleus pulposus (HNP) merupakan suatu kondisi dimana sebagian atau seluruh bagian tengah diskus intervertebralis yang lunak (nucleus pulposus) harus melewati bagian diskus yang lemah, sehingga menyebabkan nyeri punggung dan iritasi akar saraf. Perkiraan prevalensi herniasi diskus, termasuk HNP adalah sekitar 1 hingga 3%. Insiden tertinggi terjadi pada usia 30 hingga 50 tahun. Tatalaksana pada kasus HNP dapat dilakukan secara konservatif dan invasif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi manajemen pada kasus HNP dari berbagai sumber literatur. Penelitian ini merupakan penelitian literature review dengan mengumpulkan berbagai sumber pustaka di internet. Pertama peneliti melakukan pemilihan sumber yang sesuai dengan pembahasan yaitu manajemen/tatalaksana pada hernia nucleus pulposus. Selanjutnya melakukan penelusuran materi yang penting, membaca dan melakukan pencatatan serta menyajikan kajian pustaka yang sesuai dengan pembahasan manajemen pada HNP. Penatalaksanaan HNP secara konservatif merupakan pengobatan lini pertama antara lain istirahat, medikamentosa (menggunakan obat pereda nyeri), non medikamentosa (fisioterapi, kompres panas dingin, maasage), strectching, olahraga, terapi dekompresi hingga injeksi epidural dengan kortikosteroid. Dalam beberapa kasus, terapi invasif seperti injeksi atau pembedahan steroid akar saraf mungkin diperlukan jika pengobatan konservatif tidak efektif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dibutuhkannya tatalaksana komprehensif pada kasus HNP, baik secara konservatif maupun invasif, untuk hasil yang lebih baik.