Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Tingkat Kesiapan Masyarakat Kecamatan Sayung Terhadap Rencana Pengintegrasian Pembangunan Tanggul Laut Dengan Jalan Tol Semarang-Demak El Sifa Mega Biruni; Wakhidah Kurniawati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The plan for the construction of sea wall in Sayung Subdistrict, which was launched by the Ministry of Public Works and Public Housing, is a form of government intervention in the prevention of tidal floods in the Semarang-Demak region in the northern coastal. This development will be integrated with Semarang-Demak toll road. This decision is contradicting with the 2011-2031 Demak Urban Land-use Plan about planning of the northern Demak Regency as a Minapolitan area. According to (Larz T, 1995) the issue of regional planning is related to the inhabitants of the planning area. The readiness of the community is considered important therefore the program receives support from them. The purpose of this research is to find out how to increase the level of preparedness of the Sayung Subdistrict community towards the Semarang-Demak Toll Road development plan. This research uses the quantitative approach by using the scoring method using the Guttman scale. The result of this study is that the level of readiness of the Sayung Subdistrict community in each village is different. The lowest readiness ladder is in Sriwulan Village and Loireng Village that means no awareness as these villages on the first stage of readiness. In Purwosari Village, Sayung Village and Tambakroto Village are on the third stage of the readiness ladder that means vague awareness. Whereas Sidogemah Village and Bedono Village are on the fourth stage called pre-planning that means the most prepared villages.  
Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang Fionita Yuliani Devi; Wakhidah Kurniawati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Changes in the physical condition of mangrove forests that occur cannot be separated from human intervention, especially the local community. So that community involvement in efforts to conserve mangrove forests is needed. Therefore, the purpose of this research is to find out the participation model in the conservation of mangrove forests as a protected area in Mangunharjo Village, Tugu District, Semarang City. The method used in this study is qualitative, and uses interactive data analysis model techniques. The data used are primary data and secondary data. The results of the study showed that the form of community participation in the Mangunharjo Village was divided into two, namely (1) in the form of ideas, aspirations and inspiration as well as community expertise or skills in the mangrove farming community and the processed mangrove community, (2) in the form of energy as volunteers for the community outside the community in mangrove forest conservation activities. Community motivation to participate in the conservation of mangrove forests is divided into 3 namely psychological motivation, economic motivation, and motivation formed due to the presence of mangrove communities. Stakeholders involved in the conservation of mangrove forests in Mangunharjo Village are divided into several groups namely local communities, governments, non-profit institutions, non-profit organizations and outside communities, that each of these stakeholder groups has different roles from one another. they are interrelated, connected and influential so that they become a model of participation.
PERUBAHAN PEMANFAATAN RUANG KORIDOR DURIAN RAYA – MULAWARMAN RAYA Akhyar Yohanda; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.262 KB)

Abstract

Abstrak: Kota Semarang selalu mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk maka semakin bertambah pula aktivitas yang ada didalamnya sehingga mendorong adanya kebutuhan ruang yang juga semakin bertambah hingga ke kawasan pinggiran kota. Salah satu bentuk ruang yang berfungsi sebagai tempat aktivitas atau interaksi sosial masyarakat adalah Koridor Jalan Durian – Mulawarman Raya yang berada di Kecamatan Banyumanik. Adanya pengaruh beberapa pusat pertumbuhan menjadi faktor pendorong aktivitas di sekitar Koridor Durian – Mulawarman Raya semakin berkembang yang kemudian menyebabkan adanya perubahan pemanfaatan ruang. Melihat fenomena ini, maka memunculkan suatu pertanyaan penelitian yang dapat diangkat pada penelitian ini adalah : “Bagaimana  perubahan pemanfaatan ruang di koridor Durian – Mulawarman raya yang dekat dengan pusat pertumbuhan?”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan pemanfataan ruang di koridor Durian – Mulawarman raya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir karena pada kurun waktu tersebut terjadi proses perubahan pemanfaatan ruang yang terjadi yang disebabkan  oleh pusat-pusat pertumbuhan disekitar koridor ini. Penelitian yang akan dilakukan ini akan menggunakan pendekatan kuantitatif sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spasial dan  deskriptif Kuantitatif. Hasil analisis perubahan pemanfaatan ruang koridor Durian – Mulawarman raya dapat disimpulkan bahwa , perubahan pemanfaatan ruang yang terjadi sangat tergantung dari perkembangan pusat pertumbuhan di sekitarnya. Pemanfaatan ruang di koridor ini semakin banyak dimanfaatkan untuk aktifitas komersial seperti perdagangan dan jasa. Perubahan pemanfaatan ruang di koridor ini banyak terjadi akibat perubahan penggunaan lahan dari lahan terbuka menjadi lahan terbangun dan juga fungsi bangunan yang pada awalnya merupakan hunian menjadi campuran.  Kata Kunci : Perubahan Pemanfaatan Ruang, Koridor Durian – Mulawarman Raya, Pusat Pertumbuhan Abstract: Semarang city getting expansion every year. With the increasing number of the population shows that the activities is also growing so that the space requirement is also increasing up to a suburban area. One of space that serves as a place of activity or social interaction is the Durian Road Corridor - Mulawarman residing in District Banyumanik. The influence of several factors driving growth centers into activity around Corridor Durian – Mulawarman which causes a change in the space use. Seeing this phenomenon related to changes in space use which is associated with the study of existing theories, it appears a research question in this study is : " How to change the space use in Durian - Mulawarman corridor close to the growth center? " . The purpose of this study is to analyze the space use’s changing in the corridor Durian - Mulawarman within the last 15 years due to this period a process of change that occurs utilization of space caused by the growth around this corridor. The study will be conducted using a quantitative approach while the methods used in this research is a method of spatial and quantitative descriptive . The results of this analysis are about the space use’s changing occurs depends on the development of growth centers. The space use of the corridor is increasing widely used for commercial activities such as trade and services. The space use’s changing in this corridor occurs due to the land use’s changing from open land into built land and also the function of the building which was originally a residential into the mix.Keywords: Space use’s changing, Durian Road Corridor - Mulawarman, Growth Center
KAJIAN BENTUK PERANSERTA MASYARAKAT DALAM MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN KAWASAN WADUK MRICA KECAMATAN BAWANG, KABUPATEN BANJARNEGARA Virgie Rerian Fiorentine; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.828 KB)

Abstract

Abstrak: Berdasarkan fenomena yang ada, telah menjadi wacana publik bahwa adanya masalah-masalah lingkungan di Waduk Mrica seperti sedimentasi, kerusakan hutan dan banyaknya sampah menunjukkan rusaknya lingkungan di Waduk Mrica sehingga mendorong sebagian masyarakat setempat baik yang memiliki keterikatan langsung maupun tidak memiliki keterikatan langsung berupaya untuk menyelamatkan wisata Waduk Mrica agar kelestariannya tetap terjaga. Sehingga muncul pertanyaan penelitian “Bagaimana bentuk peranserta dan kinerja masyarakat sekitar dalam melestarikan lingkungan Waduk Mrica?”. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk peranserta masyarakat dan peningkatan kinerja masyarakat  setempat dalam ikut menjaga melestarikan  lingkungan waduk mrica yang diorientasikan di tiga desa terdekat yaitu Desa Bawang, Desa Bandingan, dan Desa Blambangan. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan alat analisis distribusi frekuensi pada SPSS dan analisis skoring untuk mengetahui kinerja masyarakat. Kesimpulan penelitian ini yaitu secara keseluruhan permasalahan lingkungan Waduk Mrica terdapat di Desa Blambangan dan Desa Bandingan dengan kriteria skor sedang-buruk, sedangkan Desa Bawang masih tergolong dalam kriteria baik. Berdasarkan hasil skoring dalam melakukan bentuk peranserta termasuk kedalam kategori baik. Namun untuk masyarakat Desa Blambangan memiliki kategori tinggi dibandingkan masyarakat Desa Bawang dan Desa Bandingan. Rekomendasi bentuk peranserta masyarakat di sekitar Waduk Mrica adalah perlu peningkatan pengetahuan dan keterampilan, serta perlu adanya peran pendamping untuk membangkitkan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.Kata kunci :Waduk Mrica, bentuk peranserta masyarakat, kelestarian lingkungan Abstract: Based on the existing phenomenon, has become a public discourse that the existence of environmental problems such as sedimentation in Mrica’s reservoir, deforestation and environmental degradation garbage shows in Mrica’s reservoir so encouraging some local people who are tied either directly or indirectly have a direct attempt to save the attachment Mrica’s reservoir tour that continuity is maintained. So the research question arises " How does the form and performance of community participation in preserving the environment around the Mrica’s reservoir?". This study aimed to identify the forms of community participation and improved performance of the local community participated to preserve the environment Mrica’s reservoir oriented in three villages nearest Bawang Village, Bandingan Village, and Blambangan Village. In research is using the descriptive approach quantitative analysis by the use of a frequency distribution in order on spss and analysis skoring to know the performance of society. The conclusion of this research is the overall environmental problem Mrica’s reservoir contained in Bandingan Village and Blambangan Village criteria being - bad scores, while still part of a Bawang village both criteria. Based on the results of scoring in performing the participation form included in either category . But for the Blambangan villagers have higher category than the Bandingan villagers and Bawang village. Recommendation forms of community participation around the Mrica’s reservoir is necessary enhancement of knowledge and skills , as well as the need for a companion role to awaken society to protecting the environment .Keywords: Mrica’s Reservoir, forms of community participation, preserve the environmental  
KAJIAN KARAKTERISTIK PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) YANG MEMPENGARUHI TERGANGGUNYA SIRKULASI LALULINTAS DI JALAN UTAMA PERUMAHAN BUMI TLOGOSARI SEMARANG Ummi Hanifah Marshush; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.848 KB)

Abstract

Abstrak: Pertumbuhan Pedagang Kaki Lima (PKL) di perkotaan merupakan fenomena sosial yang tidak dapat dihindari. Pertumbuhan PKL ini menyebar di seluruh fungsional kota, salah satunya pada kawasan perumahan. Di dalam Perumahan Bumi Tlogosari Semarang, PKL yang berjumlah 126 unit tersebar secara linier pada bahu jalan di sepanjang Jalan Tlogosari Raya 1 dan Jalan Tlogosari Raya 2. Aktivitas PKL yang menggunakan ruang bahu jalan tentu saja akan berimplikasi terhadap terganggunya sirkulasi lalulintas. Hal ini disebabkan karena pada kedua ruas jalan tersebut merupakan jalan utama perumahandengan volume lalulintas yang tinggi. Namun, tiap jenis PKL yang ada pada ruas jalan tersebut yaitu meliputi PKL unprocessed, PKL prepared food, PKL semiprocessed, PKL non food dan PKL service memiliki tingkat pengaruh yang berbeda terhadap terganggunya sirkulasi lalulintas tergantung pada karakteristik yang dimiliki. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengkaji tingkat pengaruh tiap jenis PKL terhadap terganggunya sirkulasi lalulintas berdasarkan pada karakteristik yang dimiliki di Jalan Utama Perumahan Bumi Tlogosari. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif yang didukung dengan teknik analisis distribusi frekuensi, sirkulasi lalulintas dan pembobotan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu PKL semiprocessed sangat mempengaruhi sirkulasi lalulintas. Hal ini disebabkan karena membutuhkan ruang aktivitas yang besar untuk meletakkan peralatan memasak, meja, kursi dan peralatan makan lainnya. Sarana aktivitas tersebut diletakkan tepat memenuhi bahu jalan, sehingga ruang parkir yang tersedia untuk konsumen hanyalah pada jalur lalulintas. Hal ini tentu saja akan mengurangi lebar efektif jalur lalulintas. Selain itu, sarana aktivitas tersebut tergolong dalam tipe unit static dimana terdapat perkerasan sehingga tidak mudah dipindahkan dan dibongkar. Kondisi ini menyebabkan sarana aktivitas PKL semiprocessed setiap saat akan mengurangi ruang sirkulasi lalulintas. Kata Kunci: Karakteristik Pedagang Kaki Lima, Sirkulasi Lalulintas, Pengaruh Abstract: The growth of street vendors in urban areas is a social phenomenon that can not be avoided. The growth of these street vendors spread across the functional city, one of them in residential areas. In Bumi Tlogosari Semarang residance, street vendors totaling 126 units spread linearly on Tlogosari Raya 1 and Jalan Tlogosari Tlogosari Raya 2 street. Activities of street vendors who use the road shoulder space will certainly have implications for the disruption of traffic circulation. This is because on both sides of the road is the residential main road with high traffic volume. However, each type of street vendors on the road section which includes unprocessed vendors, prepared food vendors, semiprocessed vendors, non-food vendors and service vendors have different levels of influence on the disruption of traffic circulation that depends on the characteristics. The purpose of this study is to assess the effect of each type of street vendors that disruption to traffic circulation based on their characteristics in the Bumi Tlogosari Residance main street. The study was conducted using quantitative methods that are supported by frequency distribution statistic analysis, traffic circulation and scoring. The results from this research that semiprocessed vendors the most affecting traffic circulation. This is because the activity requires a large space to put cooking utensils, tables, chairs and other tableware. Means the activity is put right shoulder meets the road, so the parking spaces are available only on the traffic lane. This of course will reduce the effective width of the traffic lane. In addition, the activity means belonging to the static type of unit where there is pavement that is not easily removed. This condition causes semiprocessed vendors activity means any time will reduce traffic circulation space. Keyword: Characteristics of Street Vendors, Traffic Circulation, Influence
KAJIAN DESAIN KAWASAN BERBASIS KONSEP WSUD (WATER SESITIVE URBAN DESIGN) DI DAERAH LANGKA AIR (Studi Kasus: Desa Gambirmanis, Kec. Pracimantoro, Kab. Wonogiri) Herlina Kusuma Wardani; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.299 KB)

Abstract

Abstrak: Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu kawasan yang letaknya berada di daerah hulu Sungai Bengawan Solo dimana kawasan ini memiliki peranan sebagai kawasan resapan air guna menjaga keseimbangan air kawasan di bawahnya. Kabupaten Wonogiri memiliki luas daerah tangkapan air yang cukup besar sehingga memungkinkan untuk menyimpan cadangan air bagi wilayah-wilayah yang ada di dalamnya. Namun pada kenyataannya, masih ada wilayah di Kabupaten Wonogiri yang mengalami kelangkaan air. Masalah kelangkaan air di Kabupaten Wonogiri ini terutama berada pada Kecamatan Pracimantoro. Kecamatan Pracimantoro merupakan kecamatan terbesar yang ada di Kabupaten Wonogiri. Namun karena jenis tanah yang ada di wilayah ini sebagian besar terdiri dari tanah kars,dimana tanah kars ini memiliki karakteristik menyerap air secara cepat sehingga kawasan di atasnya menjadi kering namun di satu sisi tanah ini menyimpan cadangan air yang cukup besar di bawahnya. Ini yang menyebabkan kawasan di sekitar Kecamatan Pracimantoro sering terjadi kekeringan. Kawasan yang paling parah dalam kelangkaan sumberdaya air di Kecamatan Pracimantoro ini terletak di Desa Gambirmanis. Desa ini seringkali tidak terjangkau oleh infrastruktur penunjang termasuk diantaranya infrastruktur jaringan air bersih. Selain tidak terjangkaunya desa oleh prasarana air bersih, desa ini juga bertanah kars sehingga sungai-suangai yang ada hampir semua mengering akibat air yang terserap oleh tanah, disamping itu tidak adanya sumber mata air menyebabkan semakin sulitnya sumber air bersih yang bisa didapatkan oleh masyarakat. Kondisi ini menyebabkan desain kawasan yang dapat menyimpan cadangan air menjadi sangat penting bagi Desa Gambirmanis.        Kata Kunci : Kelangkaan Air, Desain Kawasan, WSUD (Water Sensitive Urban Design). Abstract: Wonogiri is one area that is located in the headwaters of the Solo River where the region has a role as a water catchment area in order to maintain the water balance in the area below it . Judging from land use Wonogiri , almost 90 % is an area of green open space consisting of forest , mixed farms , fields and moors (RTRW Kabupaten Wonogiri Tahun 2011-2031) . Wonogiri has catchment area is large enough to allow water to save up for those areas that are in it . But in reality , there are still areas in Wonogiri experiencing water scarcity . The problem of water scarcity in the Wonogiri district is primarily located on Pracimantoro . Pracimantoro is the largest districts in the Wonogiri . However, because of the type of soil in this area is mostly composed of karst soil , where it has the characteristics of karst soil absorb water quickly so that it becomes a dry area on one side of the ground , but in this store are fairly large water reserves beneath it . This causes the area around Pracimantoro frequent droughts . The most severe in the area of water resource scarcity in Pracimantoro is located in the village of Gambirmanis . Gambirmanis Village often not affordable by supporting infrastructure including water supply network infrastructure . In addition to the village by the inaccessibility of clean water infrastructure , this village also landed karst river so that there is almost dried up due to water absorbed by the soil , in addition to the absence of water sources making it even harder to clean water can be obtained by the public . These conditions led to the design area that can store water up to be very important for the village Gambirmanis.Keywords : Water Scarcity , WSUD ( Water Sensitive Urban Design )
KAJIAN SEBARAN RUANG AKTIFITAS BERDASARKAN SENSE OF PLACE (RASA TERHADAP TEMPAT) PENGGUNA DI PECINAN SEMARANG Annisa Nur Fauziah; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.638 KB)

Abstract

Abstrak: Suatu tempat yang memiliki sense of place yang tinggi, maka akan mendorong orang diam disana dan tinggal lebih lama(Najavi, 2011: 192). Namun, yang terjadi di Pecinan justru sebaliknya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, proporsi penduduk yang pindah mendominasi data demografi Pecinan Semarang. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji sebaran ruang aktifitas di Pecinan berdasarkan sense of place pengguna. Dalam konteks ini, sense of place pengguna akan menentukan bagaimana intensitas dalam beraktifitas di ruang-ruang yang terdapat di Pecinan Semarang. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan penelitian deduktif positivistic, dengan metode penelitian statistic deskriptif. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa temuan Najavi tersebut ternyata tidak berlaku di Pecinan Semarang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ruang-ruang yang memiliki sense of place tinggi, intensitas penggunaan ruangnya justru paling rendah dibanding ruang-ruang lain di Pecinan Semarang. Salah satunya ditemui pada ruang-ruang wisata budaya di Pecinan Semarang yang tersebar di Jalan Gg Warung, Gg Lombok, Gg Pinggir, Gg Cilik dan Wotgandul Timur.Sebaliknya, ruang-ruang yang memiliki intensitas penggunaan ruang sangat tinggi, justru sense of place-nya hanya tergolong sedang.Ini ditemui di ruang-ruang permukiman berupa ruko di Gg Pinggir dan Gg Baru serta ruang komersial berupa gudang di Gg Beteng, Gg Belakang, dan Kalikuping.Di Pecinan Semarang, aspek fisik, emosional, dan fungsional yang mengacu pada keunikan tempat cenderung lebih membantu pengguna untuk menyadari dan mengembangkan sense of place dibanding dengan pengalaman pengguna terhadap tempat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  intensitas penggunaan ruang aktifitas di Pecinan tidak berkaitan dengan sense of place pengguna di Pecinan Semarang. Kata kunci :sebaran ruang aktifitas, sense of place, Pecinan Semarang Abstract: A place which has high level of sense of place, encourage people to dwell and stay a little longer (Najavi, 2011: 192). But, the opposite occurred in Semarang Chinatown. In the last five years, the proportion of people who moved dominate the demographic in Semarang Chinatown. According to this, it is necessary to examine the distribution of activity space in Chinatown based on sense of place. In this regard, the sense of place will determine the intensity of use of space in Semarang Chinatown. To achiece this goal, researchers used deductive positivistic approach, with descriptive statistical research methods. The research proved that the statement whose claimed by Najavi does not fit in Semarang Chinatown. Spaces that have a strong sense of place, have the lowest intensity). These spaces are identified as space for cultural tourism which spread across Gg Warung, Gg Lombok, Gg Pinggir, Gg Cilik, and Wotgandul Timur. In the other hand, spaces that have moderate sense of place, has a very high intensity of use. These space are identified as shop house at Gg Pinggir and Gg Baru and warehouses in Gg Beteng, Gg Belakang, and Kalikuping. In Semarang Chinatown, physics, emotional, and functional aspects refers to uniqueness place which help people to develop sense of place rather than users experience with place. Thus, it can be concluded that intensity of use of activity space is not associated with the sense of place in Semarang Chinatown. Keywords: distribution of activity space, sense of place, Semarang Chinatown  
BENTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA PESISIR BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PEKALONGAN Musaddun .; Kurniawati Wakhidah; Santy Paulla Dewi; Novia Sari Ristianti
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.643 KB)

Abstract

Abstrak: Indonesia memiliki garis pantai yang panjang dengan panjang pantai 81.000 km dan terbentang di sepanjang wilayah pesisirnya yang mempunyai berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi keberlanjutan pembangunan. Oleh karena itu dengan adanya beberapa potensi yang terdapat di kawasan pesisir tersebut, saat ini kawasan pesisir banyak yang dimanfaatkan sebagai aktivitas utama masyarakat. Begitu pula yang terjadi di kawasan pesisir Kabupaten Pekalongan dimana mempunyai beberapa potensi wisata pesisir yang dapat dikembangkan. Namun dalam perkembangannya, timbul berbagai macam permasalahan yang berkaitan dengan kawasan pesisirnya. Permasalahan tersebut apabila tidak ditindaklanjuti akan mempengaruhi keberlanjutan dan keberadaan wisata pesisirnya. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pengembangan wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan dalam mewujudkan keberlanjutan kawasan pesisir berupa konsep pengembangan, kebijakan dan pengelolaan serta pembiayaan kawasan. Pendekatan penelitian yang dipakai dalam studi ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini yang dilakukan dalam memetakan potensi dan masalah serta kondsi eksiting kawasan dalam menentukan arahahan pegembangan wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan melalui metode deskriptif analisis. Sedangkan pendekatan kuantitatif yang dilakukan adalah dalam menentukan lokasi prioritas yang akan dikembangkan sebagai wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan dengan melihat keberlanjutannya melalui metode scoring dan pembobotan.      Kata Kunci : pengembangan, wisata, pesisir Abstract:. Indonesia has a long coastline with long sandy beaches and stretches 81,000 km along the coastal areas that have the potential that can be harnessed for sustainable development. Therefore, the presence of several potential contained in the coastal areas, many coastal areas currently utilized as the primary activity of the community. Similarly, occurring in coastal areas and Pekalongan regency, which had some coastal tourism potential that can be developed. But in its development, a wide range of issues arise relating to the coastal region. These problems, if not acted upon and will affect the sustainability of coastal tourism destinations. Based on this, the study aims to provide guidance on the development of coastal tourism in the District and the City of Pekalongan in realizing sustainability of coastal areas such as concept development, policy and management and finance areas. The research approach used in this study is a quantitative and qualitative approach. Qualitative approach in this study were done in mapping the potential and problems as well as in determining the region eksiting kondsi arahahan pegembangan coastal tourism in the District and the City of Pekalongan through descriptive analysis method. While the quantitative approach taken is to determine the location of which will be developed as a priority coastal tourism in Pekalongan to see sustainability through scoring and weighting methods. Keywords: development, tourism, coastal
TRANSFORMASI FISIK SPASIAL KAMPUNG KOTA DI KELURAHAN KEMBANGSARI SEMARANG Meidiani L Dewi; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.782 KB)

Abstract

Abstrak: Semarang merupakan salah satu kota yang tumbuh dan berkembang melalui fenomena permukiman kampung kota. Namun, keberadaan kampung di Semarang terutama pada pusat kota saat ini semakin tergerus oleh adanya pengaruh dari pembangunan kota yang terus dilakukan melalui pengembangan kawasan-kawasan komersial di sekitarnya, salah satunya adalah kawasan kampung di Kelurahan Kembangsari. Fenomena transformasi fisik spasial kawasan kampung di Kelurahan Kembangsari terlihat dengan jelas terutama setelah tahun 2000 yaitu pada tahun 2005 dan 2012 dimana kawasan kampung mulai hilang seiring dengan pembangunan kawasan komersial. Tidak hanya pada penggunaan lahan, fungsi bangunan dan jalan serta pola penggunaan ruang permukiman di kawasan ini pun mengalami transformasi. Berdasarkan gambaran fenomena tersebut maka dirumuskan suatu tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis bentuk transformasi fisik spasial pada kawasan kampung kota di pusat kota Semarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan positivistik dengan metode analisis yaitu metode spasial, metode distribusi frekuensi, dan metode deskriptif komparatif. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diketahui bahwa bentuk transformasi fisik spasial yang terjadi pada kawasan kampung kota di pusat kota Semarang bervariasi tergantung pada masing-masing jalan yang melingkupinya. Pada kawasan kampung kota yang masuk dalam kawasan fungsional ekonomi Kota Semarang seperti Kelurahan Kembangsari mengalami transformasi yang cenderung kecil atau tidak signifikan (minor transformation), hanya pada kawasan di sekitar Jl. Gajahmada yang transformasinya cukup terlihat karena karakteristik kampung di Kelurahan Kembangsari itu sendiri kurang kuat, berbeda dengan transformasi pada kawasan kampung kota lain seperti Kauman yang dipengaruhi oleh lokasinya yang berdekatan dengan Pasar Johar dan aktivitas sosial budaya di dalamnya. Sedangkan untuk transformasi pada kampung Gandek Puspo dipengaruhi oleh perkembangan sejarah masyarakat di dalamnya. Kata Kunci : Transformasi fisik spasial, kampung kota Abstract: Semarang is a city that grows and develops through the phenomenon of urban kampong. Nowadays, the existence of kampong in the downtown of Semarang increasingly eroded by the influence of continuous urban development through the expansion of commercial areas in the vicinity. Kembangsari is one of them. After the year 2000, especially in 2005 and 2012, physical and spatial transformation of Kembangsari seen clearly, where the kampong began to disappear and changed to be commercial district. Besides the land uses, the building and road functions also spatial use of settlement in this district was changing. Based on the description of the phenomenon then formulated a research goal is to analyze the physical and spatial transformation in kampong areas at the downtown of Semarang. The approach used in this study is a positivistic approach with analysis methods including spatial, frequency distributions, descriptive and comparative methods. Based on analysis results, it is known that the physical and spatial transformation that occurred in the kampong area at the downtown of Semarang varies depend on its surrounding streets. In the urban kampong that belongs to the functional economic area of Semarang, such as Kembangsari Kampong, have not been undergo significant transformation because of less characteristic of the kampong itself. However the area around Gajah Mada street is quite visible. In contrast, the transformation in Kauman kampong is affected by its location near to Johar market and socio-cultural activities inside. As for the transformation of the Gandek Puspo kampong is influenced by the historical development of their community.Keywords: physical and spatial transformation, urban kampong
STUDI BENTUK PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM REVITALISASI KAWASAN PECINAN SEMARANG Nurfithri Utami; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.053 KB)

Abstract

Abstrak: Revitalisasi merupakan usaha mengembalikan vitalitas kawasan yang mengalami penurunan kualitas. Revitalisasi dapat diterapkan dalam berbagai kawasan, salah satunya adalah kawasan bersejarah Pecinan Semarang.Revitalisasi Pecinan Semarang dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan vitalitas kawasan dengan mengembangkannya sebagai kawasan wisata budaya dan sejarah.Revitalisasi berkaitan dengan upaya membangun kekuatan masyarakat lokal, untuk itu maka revitalisasi sebaiknya mengikutsertakan masyarakat sejak tahap awal pelaksanaannya. Bentuk peran serta masyarakat Pecinan yang didominasi oleh keturunan Tionghoa menjadi menarik untuk diteliti karena dipengaruhi oleh karakteristik masyarakatnya yang khas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk peran serta yang dilakukan oleh masyarakat dalam proses revitalisasi Pecinan Semarang, serta faktor yang mempengaruhinya.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan metode triangulasi. Penggunaan data kuantitatif didapatkan dari hasil kuesioner masyarakat untuk mengetahui karakteristik masyarakat dan bentuk peran serta yang dilakukannya. Hasil data kuantitatif kemudian diperjelas dengan data kualitatif yang didapatkan dari hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat. Melalui analisis didapatkan bahwa bentuk peran serta yang dominan dilakukan oleh masyarakat Pecinan Semarang adalah dalam hal pendanaan.Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa pendapat mereka tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap keputusan program revitalisasi, sehingga mereka cenderung menerima program dan memilih berperan serta dalam hal pendanaan kegiatan. Selain itu, kurangnya sosialisasi dan tidak jelasnya kegiatan yang akan diterapkan pada kawasan Pecinan membuat rendahnya tingkat kepercayaan dan keinginan untuk ikut berperan serta di dalamnya. Melihat hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat dalam hal ini belum dapat secara mandiri mengembangkan kawasan Pecinan Semarang sebagai kawasan wisata budaya seperti tujuan awal dilakukannya revitalisasi. Kata Kunci : revitalisasi, masyarakat, peran serta, bentuk peran serta Abstract: Revitalization is another way to restore the vitality of some place. It can be applied in various areas; one of them is Pecinan Semarang. Pecinan Semarang revitalization was done by expanding the cultural and historical tourist area. Since revitalization needs local communities to build strength, it should include the community revitalization since the early stages of implementation. The form of public participation in Pecinan Semarang could be interesting to be studied because it influenced by the characteristics of Chinese societies. This study aims to determine the form of participation by it society in Pecinan Semarang revitalization process, as well as the factors that influence it. This study using a qualitative method approach, with triangulation method. Quantitative data which obtained from the questionnaire used to determine the characteristics and forms of participation. The results of the quantitative data clarified with qualitative data that obtained from interviews with local community leaders later on. Through the analysis we found that the dominant form of participation by Pecinan Semarang societies is in terms of funding. It’s because there are still many people who think that their opinion does not have a major influence on the decision revitalization program, so they tend to accept the program and choose to participate in financing activities. In addition, lack of socialization and lack of clarity on the activities that will be implemented in Pecinan makes people hard to trust and willingness to participate in it. Seeing this, it can be said that Pecinan Semarang societies have not been able to independently develop Pecinan Semarang as a cultural tourist areas such as the original purpose of revitalization. Keywords: revitalization, societies, public participation, form of public participation