Claim Missing Document
Check
Articles

PENERAPAN MODEL ARGUMENT-DRIVEN INQUIRY (ADI) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERARGUMENTASI SISWA PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN DI KELAS X SMA NEGERI 1 CIAWIGEBANG Ofi Shofiyatun Marhamah; Ilah Nurlaelah; Ina Setiawati
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 9, No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v9i02.747

Abstract

 Latar belakang dari penelitian ini adalah kurang terlatihnya kemampuan argumentasi siswa, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan guru tentang model-model pembelajaran yang dapat melatih kemampuan berargumentasi. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran yang berimplikasi pada kemampuan berargumentasi siswa. Salah satu model yang menjadi alternatif untuk meningkatkan kemampuan berargumentasi adalah model pembelajaran Argument-Driven Inquiry(ADI). Keterampilan berargumentasi berperan penting dalam membangun suatu eksplanasi, model dan teori dari suatu konsep yang dipelajari, dengan melatih keterampilan berargumentasi berarti melatih kemampuan kognitif dan afektif yang dapat digunakan untuk membantu memahami konsep-konsep dalam biologi.  Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berargumentasi siswa di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan desain Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Ciawigebang tahun pelajaran 2015/2016 sebanyak 9 kelas. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel penelitian yaitu kelas X 4 sebagai kelas eksperimen dan X 1 sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dengan tes uraian, metode observasi  (asesmen kinerja argumentasi dan lembar observasi ADI) angket dan dokumentasi. Uji hipotesis dengan menggunakan uji statistik parametrik dalam hal ini untuk uji hipotesis peningkatan menggunakan uji t didapatkan p 0,05 yaitu 0,000 0,05 yang artinya penerapan model pembelajaran Argument-Driven Inquiry (ADI)dapat meningkatkan kemampuan berargumentasi siswa pada konsep Pencemaran Lingungan di kelas X SMA Negeri 1 Ciawigebang.
Analisis Kemampuan Komunikasi Ilmiah Peserta Didik Pada Kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja Berbasis Riset Terintegrasi Keterampilan Proses Sains Ilah Nurlaelah; Ari Widodo; Sri Redjeki; Taufik Rahman
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 12, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v12i2.2899

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi dan menganalisis profil awal tentang kemampuan komunikasi ilmiah peserta didik. Hasil penelitian ini digunakan untuk merancang program dalam mengembangkan model komunikasi ilmiah dalam Kegiatan KIR terintegrasi pembelajaran berbasis riset. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian eksploratif menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan tes Kemampuan Komunikasi Ilmiah (Tes KKI) dengan indikator kemampuan komunikasi ilmiah meliputi: 1) kemampuan membuat grafik/tabel; 2) kemampuan mendeskripsikan tabel/ gambar/diagram dalam bentuk informasi verbal; 3) kemampuan menginterpretasi; dan 4) kemampuan membuat kesimpulan berdasar data yang tersaji. Data hasil tes kemampuan komunikasi ilmiah dianalisis secara deskriptif yang dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu: 1) dapat menjawab dengan lengkap dan disertai penjelasan logis; 2) dapat menjawab tetapi tidak lengkap (tanpa disertai penjelasan logis); 3) tidak menjawab dan tidak ada penjelasan logis. Sejumlah peserta didik anggota KIR Sekolah Menengah Atas di kabupaten Kuningan terlibat dalam penelitian ini dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan komunikasi ilmiah masih berada dalam kategori kurang, persentase KKI pada masing-masing indikator masih berada pada angka dibawah 50%.
PROFIL KETERAMPILAN PROFESIONAL DAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI DALAM MENERAPKAN CO-PBL PADA PRAKTEK PENGAJARAN MICRO DI UNIVERSITAS KUNINGAN Ilah Nurlaelah; Ina Setiawati
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v7i1.41

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  profil keterampilan profesional dan keterampilan dasar mengajar mahasiswa calon guru biologi dalam menerapkan problem based learning yang dipadu dengan cooperative learning dalam kegiatan praktek pengajaran mikro (Microteaching) di Universitas Kuningan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, untuk mengukur kemampuan professional dan keterampilan dasar mengajar selama kegiatan microteaching berlangsung digunakan lembar observasi dan rubrik. Analisis data penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif menggunakan uji uji statistic t-test dan uji Wilcoxon menggunakan SPSS 17. Peningkatan keterampilan professional dan keterampilan dasar mengajar dapat diketahui melalui perhitungan gain. Hasil uji wilcoxon didapat hasil Sig. (2-tailed) 0.001 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan profesional awal dan keterampilan profesional akhir setelah proses pengajaran menggunakan model problem based learning yang dipadu dengan cooperative learning. Hasil Uji t-tes didapat hasil Sig. (2-tailed) 0.001 artinya terdapat perbedaan yang signifikan pula pada keterampilan dasar mengajar awal dan akhir setelah proses pengajaran tersebut. Hasil perhitungan gain pada keterampilan professional mahasiswa dan keterampilan dasar mengajar diinterpretasikan meningkat dengan kategori peningkatan sedang, artinya keterampilan mahasiswa calon guru dapat terlatih ketika mereka melakukan pembelajaran menggunakan model problem based learning yang dipadu dengan cooperative learning, diantaranya 73 % mahasiswa calon guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sangat baik, 60 % mahasiswa dapat mengevaluasi dengan sangat baik, 80% mahasiswa calon guru sudah dapat menguasai kemampuan sosial budaya yang baik. 80 % mahasiswa menguasai keterampilan dalam mengajar kelompok kecil dengan baik. Kata Kunci: Keterampilan profesional, keterampilan dasar mengajar, problem based learning, cooperative learning. 
PENGARUH SUBTITUSI EKSTRAK KEDELAI TERHADAP KARAKTERISTIK SELULOSA BAKTERI Acetobacter xylinum DALAM PEMBUATAN NATA DE SWEET POTATO Nur Azizah Basalamah; Ilah Nurlaelah; Handayani Handayani
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 10, No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v10i01.805

Abstract

Sweet potato white ac varieties is a sweet potato endemic of Kuningan, but the conventional way of processing causes sweet potato is less desirable by consument. High carbohydrate content in sweet potato makes it potentially to be the main ingredient of making nata. Nata is a bacterial cellulose were made from glucose by Acetobacter xylinum bacteria. The manufacturing process of nata uses ZA as an additional source of nitrogen. However, the use of ZA raises concerns about its safety for food. The high content of protein in soy extract has the potential to replace ZA in making nata. The purpose of this study was to determine the effect of soybean extract as a source of nitrogen to the characteristics of nata de sweet potato. In this study there are seven treatments and two controls, namely F1 (68.6 ml). F2 (73.6 ml), F3 (78, 6 ml), F4 (83.6 ml), F5 (88.6 ml), F6 (93.6 ml), and F7 (98.6 ml). The data obtained were thickness of nata de sweet potato analyzed by anova test and BNT test and organoleptic data to know the level of consumer preference. The results showed that there was a significant effect on the nata de sweet potato characteristic shown by Fcount Ftable, that is 75 3,71 ith the significance level of 0.01. The use of soybean extract at F4 treatment (83.6 ml) is the thickest and most likely by the panelists. The use of soy extract of 83.6 ml can replace the use of ZA in making nata.Keyword : Soybean, Bacterial Cellulose, Nata de sweet potato
POTENSI UBI JALAR (Ipomoea batatas L) UNTUK FORTIFIKASI PEMBUATAN SIRUP YANG BERCITARASA Dina Astriana; Abdul Muis; Ilah Nurlaelah
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v7i2.812

Abstract

This research is motivated by a number of sweet potato production in Kuningan abundant, but the utilization of sweet potato Brass less desirable for society. In addition there is also a problem of other issues behind this research that most commercially available syrup made from fruits. Thus the number of sweet potato production in Kuningan then made a new innovation in the manufacture of syrup by using materials of sweet potato. It aims to raise local knowledge Regency Brass and provide new information for the public in using sweet potatoes. This study aims to determine whether fortification of white flour sweet potato AC brass affect the manufacture of flavored syrup so preferred by consumers and to determine how the composition of white sweet potato flour brass AC most optimal to produce the flavored syrup is preferred by consumers. This research method using a completely randomized design (CRD). Techniques of data analysis in this research is by using test oragnoleptik (flavor, aroma, viscosity and color). Analysis of the data using statistical and testing using test nonparametri friedman. Objects in this study dalah syrup and subjects in this study were the panelists, the panelists as many as 30 people. Based on the results of data processing by using the friedman test the flavor, aroma, viscosity and color of the results obtained from the four formulations of sweet potato flour resulting in a different effect on the taste, aroma, viscosity and color. In terms of flavor formulations are preferred by the panelists at the F2 formulation with the composition of sweet potato flour 50 grams, for terms of scent formulation preferred by panelists yatu contained in the formulation F4 with as much as 100 grams of flour composition, in terms of viscosity formulations are preferred by panelists yatu contained in the formulation F4 with as much as 100 grams of flour composition, and for terms of color formulations are preferred by the panelists at the F1 formulsai composition of sweet potato flour as much as 25 grams. Hypothesis testing is done by using test friedman, of all treatments showed all of which produce data that count x2 x2 table from, and it states that H0 is rejected and Hi is accepted. So for the first conclusion is that there is an effect on sweet potato flour fortification AC white brass to manufacture flavored syrup so favored by consumers, and to the conclusion that the second is the use of air conditioning composition of sweet potato flour 50 grams white brass produce optimal syrup and bercitrasa so favored by consumers. Keywords: Potential sweet potato, fortification and syrup
PENGARUH LIMBAH CAIR TAHU TERHADAP PERTUMBUHAN KANGKUNG DARAT (IPOMOEA REPTANS POIR) SECARA HIDROPONIK PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA Yanti Siti Rohmah; Ilah Nurlaelah; Agus Prianto
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v8i2.828

Abstract

Limbah cair tahu mengandung bahan-bahan organik yang masih sangat tinggi seperti karbohidrat, protein, lemak, kalium dan sebagainya. Sebagian besar limbah cair tahu langsung dibuang tanpa adanya proses pengolahan lebih lanjut sehingga menimbulkan pencemaran, untuk itu diperlukan suatu pengolahan terhadap limbah cair tahu, salah satunya diolah menjadi larutan nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah cair tahu terhadap pertumbuhan kangkung darat (Ipomoea reptans Poir) secara hidroponik pada konsentrasi yang berbeda. Penelitian tahap pertama merupakan penelitian deskriptif, yaitu uji kandungan unsur nitrogen (N), fosfat (P) dan kalium (K) pada limbah cair tahu dan tahap kedua merupakan penelitian eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi limbah cair tahu diantaranya 0% (kontrol negatif), 25%, 50%, 75%, 100% dan AB Mix (kontrol positif) dengan tiga parameter, yaitu tinggi batang, jumlah daun dan berat basah tanaman. Disamping itu, dilakukan pengukuran terhadap kondisi lingkungan abiotik yang meliputi pH, suhu dan kelembapan. Analisis data pada tahap pertama dilakukan secara deskriptif dan analisis data tahap kedua menggunakan RAL dan dilanjutkan dengan uji Wilayah Berganda Duncan (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan kandungan unsur NPK pada limbah cair tahu yaitu N 0,011% pada kategori sangat rendah, P 0,037% pada kategori sangat tinggi dan K 0,052% pada kategori tinggi. Dari semua perlakuan yang menggunakan limbah cair tahu menunjukkan konsentrasi 100% memberikan hasil terbaik untuk pertumbuhan kangkung darat (Ipomoea reptans Poir) pada parameter tinggi batang, jumlah daun dan berat basah tanaman.Kata Kunci: Limbah Cair Tahu, Kangkung Darat  (Ipomea reptans Poir), Hidroponik
ANALISIS PROFIL KEMAMPUAN BERARGUMENTASI GURU DAN MAHASISWA CALON GURU DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI MENGGUNAKAN MODEL TOULMIN’S ARGUMEN PATTERN (TAP) DAN UPAYA PERBAIKANNYA Ina Setiawati; Ilah Nurlaelah
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 9, No 01 (2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v9i01.512

Abstract

Berdasarkan hasil observasi di lapangan diketahui bahwa kemampuan berargumentasi mahasiswa  calon guru dalam pembelajaran microteaching belum banyak berkembang, seperti yang dipaparkan oleh Nurlaelah et al. (2014), diketahui rendahnya profil berargumentasi mahasiswa calon guru ditunjukkan oleh rendahnya keterampilan dasar mengajar yaitu memberi penguatan konsep (30%) dan keterampilan profesional pada indicator penguasaan materi (30%) secara umum mahasiswa calon guru masih kurang mampu dalam merespon solusi pemecahan permasalahan dari siswa ketika pembelajaran microteaching.  Hal ini bukan kesalahan para guru sepenuhnya, namun dapat menjadi salah satu kegagalan dari pendidikan sebelumnya yang pernah guru dapatkan yaitu LPTK. Tujuan umum penelitian ini adalah menganalisis profil kemampuan berargumentasi guru dan mahasiswa calon guru dalam pembelajaran biologi dan upaya perbaikan yang dapat dilakukan LPTK, target penelitian ini meliputi mendapatkan informasi kemampuan berargumentasi guru dan mahasiswa calon guru dalam pembelajaran biologi serta mengupayakan perbaikan terhadap kualitas kemampuan berargumentasi pada mahasiswa calon guru di LPTK khususnya di FKIP Universitas Kuningan. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik clusstering, dimana data diperoleh dengan menggunakan rubric argumentasi  dan argumentasi partisipan di petakan menggunakan model Toulmin’s Argumen Pattern (TAP) kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian umumnya kemampuan partisipan berada pada level 2 yaitu mampu men­gungkapkan klaim dengan alasan (warrant) tetapi masih jarang yang mengungkapkan dukungan (backing) terhadap klaimnya, dan belum ada sanggahan. terdapat sekitar 10 % guru dan 17 % mahasiswa calon guru yang mencapai level 3 kemampuan argumentasinya, sedangkan hanya sekitar 6% mahasiswa calon guru yang mencapai level 4. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam perbaikan kemampuan berargumentasi pada mahasiswa calon guru, salah satunya program IDEAS, inovasi kurikulum, strategi pembelajaran yang berfokus  bagaimana argumen  dimodelkan, serta penggunaan masalah/isu socioscientific  dalam pembelajaran. Kata kunci: profil keterampilanan berargumentasi, model Toulmin’s Argumen Pattern (TAP)
PENERAPAN MODEL SINEKTIK UNTUK MEMINIMALISIR KONSEP ABSTRAK MATERI SISTEM SARAF SERTA PENGARUHNYA TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS XI IPA DI SMA NEGERI 1 CILIMUS Nita Nurokhmah; Ilah Nurlaelah; Ina Setiawati
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v8i2.834

Abstract

Latar belakang dari penelitian ini adalah masih rendahnya keterampilan berpikir kreatif siswa serta persepsi siswa yang menganggap bahwa konsep biologi merupakan konsep yang bersifat abstrak. Hal tersebut dikarenakan proses pembelajaran masih bersifat teacher centered learning dan rendahnya motivasi belajar siswa sehingga siswa masih merasa kesulitan dalam memahami materi biologi serta keterampilan berpikir siswa yang kurang terlatih khususnya keterampilan berpikir kreatifnya. Keterampilan berpikir kreatif  merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model sinektik dalam meminimalisir konsep abstrak materi sistem saraf serta pengaruhnya terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Cilimus. Penelitian ini merupakan penelitian experimental. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan desain posttest only control design. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Cilimus Tahun Ajaran 2015/2016 sebanyak 5 kelas. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel penelitian yang digunakan yaitu kelas XI IPA 3 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 1 sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dengan menggunakan tes essay, lembar observasi model sinektik dan angket. Uji hipotesis dengan menggunakan uji t didapatkan p 0,05 yaitu 0,000 0,05 yang artinya penerapan model sinektik dapat meminimalisir konsep abstrak materi sistem saraf serta berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Cilimus.Kata Kunci :  Model Sinektik, Keterampilan Berpikir Kreatif, Konsep Abstrak
Minat Siswa Terhadap Jurusan Biologi Yang Berhubungan Dengan Aktifitas Sains Siswa Di Dalam Ekstrakurikuler Biologi Elin Herliani; Ilah Nurlaelah; Agus Prianto
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v11i2.1829

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat siswa terhadap jurusan biologi yang berhubungan dengan aktifitas sains siswa di dalam ekstrakurikuler Biologi di Kabupaten Kuningan. Jenis penelitian ini adalah Deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di sekolah yang memiliki ekstrakurikuler biologi yang berjalan tiap semester yaitu SMA Negeri 1 Luragung dan SMA Negeri 2 Kuningan. Pengambilan data dilakukan pada siswa yang aktif dalam ekstrakurikuler Biologi dimana siswa yang mengikuti ekstrakurikuler biologi memiliki dasar ketertarikan lebih pada biologi. Teknik pengambilan data yaitu Kuisioner (Angket Best-Wors Scaling Pernyataan positif dan negatif diketahui 7 faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penolakan siswa. Observasi (Lembar Observasi) untuk menilai aktifitas sains (praktikum) yang dilakukan oleh siswadikatahui bahwa persetase setiap aspek berkisar antara 76%-91% yang berarti bahwa sebagian siswa hampir seluruhnya siswa dapat melaksanakan praktikum. dan Wawancara (wawancara semi terstruktur) untuk pelengkap data menunjukan bahwa siswa secara umum merasa bersemangat saat mengikuti pelajaran biologi akan tetapi aktifitas sains bukan menjadi faktor utama siswa memilih jurusan biologi. Pengujian hubungan minat dengan aktifitas sains menggunakan Korelasi Produk moment Pearson menunjukan hasil koreasi -0,17 Yang berarti bahwa hubungan tersebut negatif tapi hubungan tersebut sedikit dan tidak berarti.Kata Kunci : Minat Jurusan, Aktifitas sains, Ekstrakurikuler Biologi
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS Lutfhi Nurrauf; Ilah Nurlaelah; Ina Setiawati
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v10i2.1250

Abstract

Rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa pada kegiatan pembelajaran diakibatkan penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat sehingga kurang merangsang siswa untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran inquiry training terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada materi sistem pertahanan tubuh di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Subang. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Untuk memperoleh data, digunakan instrumen berupa tes uraian melalui Pretest dan Postest, serta menggunakan lembar observasi guru. Populasi penelitian ini seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Subang semester II tahun ajaran 2015/2016. Sampel yang digunakan 60 siswa, yakni sebanyak 31 siswa dari kelas X1 IPA 1 sebagai kelompok eksperimen dan sebanyak 29 siswa dari kelas XI IPA 2 sebagai kelompok kontrol. Pengambilan sample dilakukan dengan teknik Cluster Random Sampling. Uji hipotesis menggunakan uji statistik parametrik, menggunakan uji t independen untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inquiry training terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Dari analisis data dapat disimpulkan bahwa: terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen yang menggunakan model inquiry training dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini didukung juga dengan hasil n-gain yang menyatakan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen sebesar 0.3 (sedang) dan kelas kontrol sebesar 0.1 (rendah). Maka model pembelajaran inquiry training berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Peningkatan tersebut dikarenakan pada setiap fase model inquiry training memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. Kata Kunci : Model inquiry training, keterampilan berpikir kritis siswa