Claim Missing Document
Check
Articles

Tradisi Lokal Penguat Etos Kerja di Daerah Industri Kreatif (Studi Kasus di Mantingan Jepara dan Trusmi Cirebon) Sri Indrahti; Siti Maziyah; Alamsyah Alamsyah
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 4 (2018): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.529 KB) | DOI: 10.14710/anuva.2.4.451-466

Abstract

Penulisan artikel ini bertujuan untuk menggali faktor apakah yang  dapat menumbuhkan etos kerja pada dua daerah penelitian ini, di Desa Mantingan Jepara dan di Desa Trusmi Cirebon, sehingga dua daerah penelitian ini memiliki industri kreatif yang khas dalam waktu yang cukup lama. Desa Mantingan Jepara dikenal dengan industri ukirnya dan Desa Trusmi Cirebon dikenal dengan industri batiknya. Penulisan artikel ini dimulai dengan melakukan pengumpulan data yang meliputi pengumpulan sumber primer dan  sekunder seperti kajian pustaka, observasi, partisipatoris, dan dept interview dengan informan dari berbagai elemen. Semua data yang telah dikumpulkan melalui berbagai pendekatan di atas selanjutnya akan diklasifikasikan, dihubung-hubungkan atau diakumulasikan antara data satu dengan yang lainnya, dikaitkan antara sumber primer dengan sumber-sumber pustaka atau sumber sekunder, sebagai suatu bentuk interpretasi dan disintesakan dalam rangka mendapatkan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor yang menyebabkan kuatnya etos kerja pada dua daerah penelitian tersebut, yaitu adanya peran tokoh lokal yang dikeramatkan serta menumbuhkan tradisi yang dapat meningkatkan etos kerja sehingga ciri khas industri kreatif desa masih lestari hingga sekarang. Tradisi yang dimaksud adalah ganti luwur makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin, upacara memayu di Trusmi, serta ziarah, tahlilan, dan manaqiban.
Implikasi Prasasti dan Kekuasaan Pada Masa Jawa Kuna Siti Maziyah
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 2 (2018): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.169 KB) | DOI: 10.14710/anuva.2.2.177-192

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implikasi prasasti dan kekuasaan raja di Jawa Kuna. Artikel ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan arkeologi. Dimulai dengan mengumpulkan prasasti-prasasti pada abad IX hingga abad XV, menerjemahkannya, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prasasti dapat berguna untuk menunjukkan kekuasaan raja, terutama pemberian anugerah raja kepada rakyatnya untuk mendapat loyalitas mereka.
Kintelan: Kuliner Tradisi Masyarakat Desa Tegalsambi dan Upaya Pelestariannya Siti Maziyah; Sri Indrahti
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 2 (2019): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.156 KB) | DOI: 10.14710/anuva.3.2.191-198

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara membangun penguatan identitas lokal masyarakat Desa Tegalsambi Kabupaten Jepara melalui kuliner tradisi pada upacara tradisi Perang Obor. Kuliner yang dimaksud adalah kintelan, yang hanya muncul pada setiap upacara tradisi itu. Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara kepada pejabat terkait, perangkat desa dan masyarakat Desa Tegalsambi. Hasil wawancara kemudian dianalisis untuk diambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat upaya dari pemerintah daerah setempat untuk menjadikan kintelan sebagai identitas lokal masyarakat Desa Tegalsambi. Oleh karena itu selalu diupayakan agar kuliner tradisi ini tidak hanya muncul pada saat upacara tradisi Perang Obor saja, akan tetapi kuliner ini selalu dijadikan sebagai salah satu kudapan yang istimewa yang selalu muncul pada setiap acara penting di Desa Tegalsambi.
Pasang Surut Kesenian Kesenian Emprak Jepara 1950-2020 Alamsyah Alamsyah; Siti Maziyah
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5, No 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.034 KB) | DOI: 10.14710/anuva.5.1.151-164

Abstract

Jepara mempunyai berbagai kesenian lokal yang salah satunya adalah emprak. Kesenian ini berada di bagian utara Kabupaten Jepara yaitu di Kecamatan Bangsri dan Pakisaji. Bentuk kesenian seperti teater ini memadukan antara cerita, instrumentalia Jawa dan tembang. Keberadaan kesenian emprak dapat dilacak dari cerita lisan masyarakat yang percaya bahwa keberadaan kesenian ini diperkirakan pada masa Wali Songo. Kesenian emprak dipandang sebagai bentuk akulturasi antara budaya lokal dengan budaya luar Jepara serta menjadi salah satu media dakwah. Dalam perkembangannya, kesenian ini mengalami pasang surut. Pada 1950-1999, emprak berkembang pesat. Perkembangan tersebut ditandai dengan adanya berbagai  inovasi, baik dalam bentuk tarian, kostum, mengakomodir tambahan peralatan, dan mengkombinasi pementasan dengan organ dan lagu dangdut. Melalui kreativitas tersebut, emprak menjadi populer dan banyak melakukan pementasan di masyarakat Jepara. Pada periode tersebut, emprak mengalami masa keemasan. Memasuki tahun 2000-an, emprak mulai mengalami penurunan. Hal ini disebabkan adanya persaingan pementasan hiburan seperti organ tunggal, hadirnya banyak televisi swasta, dan kompetisi dengan kesenian tradisional yang lain. Pada saat itu, hiburan organ tunggal ini sangat disukai oleh msayarakat dengan biaya yang jauh lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pementasan emprak. Kesulitan yang lain adalah kesenian ini masih tergantung pada pelaku seni yang sudah senior. Regenerasi belum berjalan dengan baik. Pada tahun 2020 ini dipandang  sebagai puncak kemunduran kesenian emprak. Hal ini disebabkan adanya  pandemi Covid 19 yang melarang pementasan. Akibatnya para pemain kesenian lebih memfokuskan pada profesi yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dinamika Alat Tangkap Nelayan di Jepara dalam Dimensi Budaya Sri Indrahti; Siti Maziyah
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 4 (2019): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.919 KB) | DOI: 10.14710/anuva.3.4.461-469

Abstract

Mata pencaharian merupakan salah satu unsur budaya yang menarik untuk dikaji. Mengingat, dengan mempelajari ragam mata pencaharian, manusia akan diajak juga mempelajari perjalanan budaya suatu masyarakat, berkaitan dengan cara hidup dan bertahan serta jenis peralatan dan hasil-hasil budaya yang menyertainya. Mencari ikan merupakan salah satu mata pencaharian di Jepara yang menyebabkan munculnya perlengkapan alat tangkap yang berbeda antara tempat satu dengan lainnya. Tulisan kali ini menyoroti masalah alat tangkap nelayan berdasarkan historis dan budayanya. Bagaimana sejarah alat tangkap nelayan di Jawa? Budaya apa sajakah yang melatarbelakangi dan ditimbulkan oleh alat tangkap nelayan itu? Mengapa alat tangkap ini masih lestari hingga sekarang? Penelitian ini dilakukan beberapa tahap. Pertama, dimulai dengan mencari berbagai alat tangkap nelayan berdasarkan studi pustaka yang menyimpan informasi tersebut. Kedua, dilakukan penelitian lapangan di Jepara untuk mengetahui kesinambungan budaya berkaitan dengan temuan alat tangkap nelayan. Ketiga, digali lebih lanjut budaya yang melatarbelakangi dan ditimbulkan oleh alat tangkap nelayan. Keempat, dianalisis mengapa alat tangkap nelayan ini masih lestari hingga sekarang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam alat tangkap yang digunakan disesuaikan dengan kondisi alam lingkungan tempat ikan berada, sehingga tidak semua alat tangkap ditemukan di setiap daerah. Berdasarkan berbagai jenis alat tangkap dapat menunjukkan bahwa mencari ikan itu merupakan pekerjaan sambilan atau pekerjaan utama. Pada masyarakat yang pekerjaan utamanya mencari ikan, maka muncullah budaya yang berkaitan dengan alat tangkapnya.
Pendekatan Nilai-Nilai Budaya dalam Pelatihan Efektivitas Usaha pada Anggota Koperasi Dumas Pasar Srondol UMKM Srondol Semarang Sri Indrahti; Siti Maziyah; Alamsyah Alamsyah
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4, No 1 (2020): Maret
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.075 KB) | DOI: 10.14710/anuva.4.1.133-139

Abstract

Artikel ini mencoba mengkaji bagaimana perilaku usaha UMKM dengan keberagaman jenis usaha dalam lingkungan budaya di Kota Semarang. Para pelaku usaha UMKM diberikan pemberdayaan oleh Pemerintah melalui pelatihan dengan tujuan menciptakan kemandirian usaha dengan menonjolkan potensi berwirausaha UMKM. Para pelaku wirausaha memberikan peluang di sektor ekonomi dan lapangan pekerjaan untuk mengentaskan kemiskinan. Tidak hanya dalam perekonomian, para pelaku usaha UMKM memberikan prinsip yang diterapkan dalam berwirausaha seperti kerja keras, kesabaran dalam usaha, mengutamakan kualitas produk, dan mengajarkan cara berbagi kepada orang lain. Prinsip tersebutlah yang membawa perilaku budaya dalam semangat kewirausahaan UMKM. Metode yang digunakan dalam pemerolehan sumber pada artikel ini melalui sumber primer dengan melakukan wawancara dengan pelaku usaha UMKM, dan sumber sekunder melalui buku, jurnal publikasi, peraturan pemerintah, serta berita online. Penelitian ini juga memberikan manfaat bahwa usaha UMKM tidak hanya berpusat dalam permasalahan sektor ekonomi, melainkan juga lingkungan budaya yang menjadi prinsip dari pelaku usaha UMKM.Kebiasaan yang sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, perlu dilakukan pendataan, didiskripsikan kemudian dilakukan analisa sehingga hal-hal yang positip dapat tetap dipertahankan, kemudian hal-hal yang dapat mengakibatkan kerugian dalam usaha bisa lebih dukurangi dan bila perlu dihilangkan, Kerja secara efektif yang diinginkan akan tercapai melalui pembenahan secara administratif disertai pendekatan budaya.
Bubur India di Masjid Jami’ Pekojan Semarang: Kuliner Sebagai Sarana Islamisasi Siti Maziyah; Alamsyah Alamsyah; Sutejo Kuwat Widodo
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5, No 2 (2021): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.479 KB) | DOI: 10.14710/anuva.5.2.341-352

Abstract

Semarang merupakan salah kota pelabuhan pada masa lalu. Jejaknya terlihat pada beberapa kampung yang mengindikasikan bahwa kampung itu dihuni oleh salah satu etnis pendatang. Salah satunya adalah Kampung Pekojan, tempat tinggalnya kaum Koja, yaitu sekelompok masyarakat India Muslim yang berasal dari Gujarat. Hal menarik pada kampung ini terjadi pada setiap bulan Ramadhan, yaitu selalu disajikannya bubur India di Masjid Jami’ Pekojan sebagai menu utama untuk berbuka puasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui asal-usul dan tujuan disajikannya kuliner ini di Masjid Jami’ Pekojan.  Mengapa kuliner ini menjadi menu utama untuk berbuka puasa di Masjid Jami’ Pekojan Semarang? Siapakah yang terlibat dalam penyiapannya, serta siapakah yang diperkenankan untuk menikmati kuliner ini? Untuk menjawab permasalahan di atas digunakan beberapa metode penelitian. Pertama, digunakan studi pustaka untuk mengetahui lebih lanjut berkaitan dengan Masjid Jami’ Pekojan Semarang beserta warisan budaya kulinernya yang khas itu. Selanjutnya dilakukan observasi untuk mengetahui cara pembuatannya serta wawancara terhadap tak’mir Masjid Jami’ Pekojan yang berkaitan dengan sejarah bubur India, orang-orang yang bertugas untuk menyiapkannya, serta orang-orang yang diperkenankan untuk menikmati kuliner itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pembuatan bubur India di Masjid Jami’ Pekojan Semarang telah dilakukan selama 100 tahun lebih bersamaan dengan pembangunan masjid itu. Salah satu tujuan disajikannya bubur India disajikan sebagai menu berbuka puasa  di Masjid Jami’ Pekojan Semarang adalah untuk menarik dan merekatkan masyarakat Islam pada masjid tersebut sebagai salah satu warisan budaya yang dibangun oleh masyarakat Koja di Semarang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bubur India merupakan sarana rekayasa budaya untuk Islamisasi di Semarang.
UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DEMAK DENGAN PELATIHAN MEMBATIK MENGGUNAKAN MOTIF LOKAL DEMAK Siti Maziyah; Sri Indrahti; Alamsyah Alamsyah
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2022): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.6.1.98-102

Abstract

Pelatihan membatik menggunakan motif lokal Demak dilaksanakan dengan tujuan untuk memberdayakan masyarakat, agar masyarakat dapat memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan kreatif yang dapat menambah pendapatan bagi rumah tangganya. Selain itu, penggunaan motif lokal Demak diharapkan agar masyarakat dapat memahami dan mengenali wilayahnya sendiri berdasarkan ikon-ikon yang terdapat di Demak yang berkaitan dengan bangunan kuna, legenda, lingkungan alam,  sumber daya alam, serta apapun yang berkaitan dengan Demak. Selama ini para pembatik di Demak telah berusaha menuangkan ikon-ikon itu pada motif batiknya. Harapannya dengan adanya pelatihan ini akan membukakan kreatifitas masyarakat untuk lebih mengeksplor potensi dirinya dalam berkreasi terhadap motif batik Demak. Dengan demikian maka batik Demak akan menjadi lebih beragam dan dapat menarik bagi masyarakat setempat serta masyarakat di luar Demak.Kata kunci: Demak, pemberdayaan masyarakat, pelatihan membatik, motif lokalBatik training using local Demak motifs is carried out with the aim of empowering the community, so that people can use their free time with creative activities that can increase income for their households. In addition, by using local Demak motifs, it is hoped that the community will be able to understand and recognize their own territory based on the icons found in Demak relating to ancient buildings, legends, the natural environment, natural resources, and anything related to Demak. So far, the batik makers in Demak have tried to pour these icons into their batik motifs. It is hoped that this training will open up the creativity of the community to further explore their potential in being creative with Demak batik motifs. Thus, Demak batik will become more diverse and can be attractive to the local community as well as people outside Demak.Keywords: Demak, community empowerment, batik training, local motifs
Analysing the Presence of Enslaved Black People in Ancient Java Society Siti Maziyah
Journal of Maritime Studies and National Integration Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmsni.v6i1.14010

Abstract

Since the 7th century, Java has been one of the trading centres of Southeast Asia. It is recorded in an inscription in Java which contains several terms that indicate the presence of foreigners in old Javanese society, including enslaved Black people. The research questions posed include: Who are they? How did they get to Java? What was their role in Javanese society? The data used for this research are inscriptions, Chinese news sources, and contemporary literary texts. Its information was analysed and classified to determine its origin and presence in Java. The results showed that there were several enslaved Black people in Java. Based on the term used to describe them, they came from East Africa and Papua. Implicitly, the brief information shows that the existence of enslaved Black people in Java was linked to the trade conducted by Persians and people from East Indonesia. It shows that work in Java from the 7th century AD to the 15th century AD was performed with various nations. The king used the existence of enslaved Black people in Java as a way to gain spiritual "strength" from their skin colour, which was different from the Javanese society. Its belief continued until the time of the Islamic Mataram Kingdom with the presence of the Palawija courtiers, a group of disabled people who were considered a sign of the king's greatness.
IMPLIKASI KULINER SESAJI DAN DHANYANG DALAM UPACARA TRADISI DI JEPARA Sri Indrahti; Siti Maziyah; Alamsyah Alamsyah; Yanuar Yoga Prasetyawan
Berkala Arkeologi Vol 39 No 1 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.733 KB) | DOI: 10.30883/jba.v39i1.327

Abstract

The article describes the culinary imp lic ation of offerings and d hanyang in 5 (five) villages in Jepara in the form of traditional ceremonies of Jembul Tulakan, Hari Jadi Kota Jepara, Sedekah Laut, Perang Obor, and Pesta Baratan. Only three out of five ceremonies were present ing culinary offerings as a representation of the dhanyang presence. The objective of this study is to reveal the existence of culinary offerings and d hanyang both by their food types and the intended dh anyang. This study was using a qualitative method which includes the collection of primary and secondary sources through literature study, observation, participants, structured interviews, indepth interviews, and Focus Group Discussion. The approaches which were used are anthropological and hermeneutical approaches. The study reveals a symbolic meaning from the presence of various culinaries presented to dhanyang and wishes expressed implicitly or explicitly in the ceremony. The wishes include the requests of safety, kindness, protection, etc. Recently, these wishes have shifted which caused by better knowledge, belief, and social experience of the performers towards their religion. Public belief in the power of d hanyang still exists even though it is not dominant.