Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search
Journal : Koneksi

Tradisi Sebambangan Sebagai Penyelesaian Konflik dalam Keluarga di Masyarakat Lampung (Studi Pada Masyarakat Lampung di Kel. Kuripan, Kec. Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung) Susanti Pusparini; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2449

Abstract

Sebambangan merupakan sebuah tradisi adat Lampung yang mengatur larian gadis oleh bujang ke rumah kerabatnya untuk meminta persetujuan orang tua. Dengan mendatangkan kepala adat dari masing-masing pihak dan dilakukan musyawarah antara kedua keluarga sehingga diambil kesepakatan dan persetujuan antara kedua orang tua tersebut. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui bagaimana konflik yang terjadi setelah melakukan sebambangan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi antarpribadi, teori konflik serta manajemen konflik dalam komunikasi antar pribadi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Informan dalam penelitian ini merupakan masyarakat Lampung biasa dan juga merupakan pasangan yang melakukan sebambangan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara mendalam dengan narasumber, observasi langsung ke wilayah Kuripan dan dokumentasi. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa konflik terjadi sebelum dilakukannya sebambangan. Sebambangan ini dilakukan supaya meredam konflik yang terjadi di dalam keluarga yang melakukan sebambangan.
Makna Wayang Golek si Cepot pada Masyarakat Sunda Milenial dan Generasi Z Andrew Limelta; Sinta Paramita
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6496

Abstract

In 2003 wayang was recognized by UNESCO as a global masterpiece as well as an intangible cultural heritage. Sundanese culture recognizes the legacy of wayang golek originating from the West Java region, and is usually realized through the display of props or puppets as a dualistic depiction of Javanese minds. In puppet show there are characters and characters that are played, but usually people are more familiar with the character of the Cepot who is considered as a entertainer and identity of the Sundanese. The purpose of this study was to see the meaning of the Cepot figure in puppet show art towards millennial Sundanese people and generation Z. The theories used in this study were the theory of communication, puppetry, and the concept of meaning. In this case the data obtained through the results of observations and interviews. The conclusion in this study is that the Sundanese generation of generation millennial and generation Z considers the puppet show as an important art, but no longer as the main consumption. Besides that, there is a loss of elements from the Cepot character in the puppet show, even the Sundanese people consider the Cepot figure only as an entertaining figure.Pada tahun 2003, wayang diakui oleh UNESCO sebagai karya agung dunia sekaligus warisan budaya tak benda. Budaya Sunda mengenal warisan wayang golek yang berasal dari wilayah Jawa Barat, dan biasanya direalisasikan melalui pertunjukan alat peraga atau boneka sebagai penggambaran alam pikiran orang Jawa yang dualistik. Dalam kesenian wayang golek terdapat tokoh dan karakter yang dimainkan, namun biasanya masyarakat lebih mengenal tokoh si Cepot yang dianggap sebagai penghibur dan jati diri orang Sunda. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat makna tokoh si Cepot dalam kesenian wayang golek terhadap masyarakat Sunda milenial dan generasi Z. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, wayang, dan konsep makna. Dalam hal ini data yang diperoleh melalui hasil dari observasi dan wawancara. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa masyarakat Sunda generasi milenial dan generasi Z menganggap kesenian wayang golek sebagai suatu kesenian yang penting, namun bukan lagi sebagai konsumsi utama. Selain itu adanyaunsur dari tokoh si Cepot yang hilang dalam wayang golek. Bahkan masyarakat Sunda menganggap tokoh si Cepot hanya sebagai tokoh penghibur.
Makna Idola Dalam Pandangan Penggemar (Studi Komparasi Interaksi Parasosial Fanboy dan Fangirl ARMY Terhadap BTS) Jeanette Mihardja; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3915

Abstract

Didukung dengan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, budaya popular bisa dengan mudah diakses, terutama K-Pop. BTS merupakan salah satu artis K-Pop paling sukses dan memiliki banyak penggemar di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kehadiran idola seperti BTS secara tidak langsung membuat penggemar membentuk interaksi paarasosial. Interaksi parasosial adalah hubungan kelekatan yang terjalin dengan tokoh yang muncul di media. Penelitian ini membahas perbedaan interaksi parasosial antara penggemar perempuan dan laki-laki terhadap BTS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Subjek penelitian berjumlah enam orang ARMY, tiga orang perempuan (fangirl) dan tiga orang laki-laki (fanboy). Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggemar perempuan menyukai BTS secara emosional (sahabat, saudara dan hubungan romantis), sedangkan penggemar laki-laki menyukai BTS secara rasional (idola, panutan dan kualitas musik). Penggemar perempuan lebih aktif dalam aktivitas komunitas, di sisi lain penggemar laki-laki tidak tertarik untuk menjadi anggota komunitas dan mendukung BTS dengan batasan-batasan tertentu.
Representasi Counter Hegemoni Film Dokumenter: Analisis Semiotika Umberto Eco dalam Film Salam dari Anak-anak Tergenang Risky Anggraini Putri; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2445

Abstract

Film adalah media dalam penyampaian sebuah pesan. Kekuatan dan kemampuan film menjangkau segmen sosial, lantas membuat para ahli berpendapat bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayak. Film produksi Satu Lensa pada tahun 2015 yang berjudul “Salam dari Anak-anak Tergenang” termasuk salah satu film yang memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayak. Film ini memiliki representasi counter hegemoni. Counter hegemoni menjadi bagian penting dalam pemikiran kajian budaya karena hal ini menunjukan bahwa khalayak tidak selamanya diam dan menurut. Dengan kata lain, sebagai anggota khalayak, tidak bodoh dan submasif. Dalam menganalisis hasil representasi counter hegemoni yang terdapat pada film ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian Semiotika Umberto Eco dengan empat batas-batas politisnya. Dari tujuh belas scene, penulis menemukan enam scene yang memiliki representasi counter hegemoni.
Eksploitasi Loyalitas Penggemar Dalam Pembelian Album K-Pop Maria Veronica; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3920

Abstract

Penelitian ini membahas tentang eksploitasi yang dilakukan oleh agensi-agensi idola di Korea Selatan terhadap loyalitas penggemar K-Pop dalam hal pembelian album. Hal ini berlaku bagi penggemar musik K-Pop yang mengalami kemajuan teknologi yang dapat mempermudah penyebaran budaya populer sehingga menimbulkan perilaku konsumtif akan hal-hal yang berhubungan dengan idolanya. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi massa, media massa, media baru, budaya populer, loyalitas penggemar dan eksploitasi dalam konteks budaya popular. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi. Eksploitasi loyalitas penggemar dilakukan oleh agensi-agensi di Korea Selatan dengan cara mengeluarkan dan menjual album dengan beragam versi sehingga menarik minat beli penggemar. Penggemar ini sendiri menyadari bahwa dirinya telah tereksploitasi tetapi keputusan mereka dalam membeli dan mengoleksi album dalam jumlah banyak dikarenakan adanya konsep diri yang timbul karena munculnya identitas sebagai seorang penggemar. Mereka juga mempunyai rasa kepuasaan diri sendiri ketika sudah membeli album dan sebagai bentuk untuk menghargai karya-karya dari idolanya.
Komunikasi Virtual dalam Game Online (Studi Kasus dalam Game Mobile Legends) Caroline Vinci Wijaya; Sinta Paramita
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6222

Abstract

Penelitian ini mengangkat mengenai komunikasi virtual dalam game online. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana komunikasi virtual yang ada di dalam game Mobile Legends. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian menggunakan metode wawancara dengan lima informan pemain game Mobile Legends. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara, observasi dan studi pustaka. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah konsep dasar komunikasi virtual menurut Werner J. Severin dan James W. Tankard yakni dunia maya, komunitas maya, chat rooms, MUD&Bot, interaktivitas, hypertext dan multimedia. Hasilnya, terjadi komunikasi virtual dalam game Mobile Legends yaitu dunia maya, komunitas maya, chat rooms, MUD&Bot, interaktivitas, dan multimedia karena adanya interaksi dan komunikasi yang dilakukan di dalam game Mobile Legends secara online dan menggunakan jaringan internet. Komunikasi virtual sangat mempengaruhi efektivitas dalam berkomunikasi dan dengan adanya sarana yang disediakan oleh Mobile Legends pemain dapat berkomunikasi tanpa harus bertatap muka langsung.
Makna Pesan dalam Tari Tradisional (Analisis Deskriptif Kualitatif Makna Pesan dalam Kesenian Tari Piring) Siti Fathonah; Sinta Paramita; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6151

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tentang makna pesan yang terdapat pada setiap gerakan yang ditunjukkan oleh penari serta makna pesan yang ingin disampaikan dalam kesenian Tari Piring. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Solok yang berdomisili di Jakarta yakni, Duta Pariwisata Minangkabau, Director Sanggar Syofyani, pelatih atau penari yang berstatus aktif, serta masyarakat Solok yang mengetahui kesenian tari piring. Hasil yang didapat dalam penelitian yaitu gerakan- gerakan pada kesenian Tari Piring merupakan hasil adaptasi dari kegiatan masyarakat Minangkabau pada saat itu sebagai petani dan pesilat, serta makna pesan yang ingin ditunjukkan pada kesenian Tari Piring adalah karakteristik dari masyarakat Minangkabau sendiri yakni sifat gotong royong, bekerja keras, kebersamaan, dan keberanian. Properti piring yang digunakan melambangkan suatu kesejaheraan dan kemakmuran. Pakaian yang digunakan dalam Kesenian Tari Piring melambangkan suatu jati diri masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai adab, serta syariat agama islam.
Interaksi Sosial Antar Etnis Tionghoa dan Etnis Jawa di Kawasan Petak Sembilan Kevin Kurniawan; Sinta Paramita
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2020

Abstract

Indonesia merupakan negera multikultural sehingga rentan konflik antaretnis. Dalam menghindari konflik antaretnis diperlukan tingkat toleransi untuk menjaga kerukunan antaretnis. Petak Sembilan merupakan salah satu kawasan yang dapat memelihara kerukunan antaretnis karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Petak Sembilan merupakan kawasan dengan mayoritas warga beretnis Tionghoa. Namun,i Petak Sembilan juga memiliki warga dari etnis selain Tionghoa salah satunya adalah etnis Jawa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep komunikasi antarbudaya, interaksi sosial oleh Gillin dan Gillin. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus, dengan tujuan untuk mencari bentuk interaksi sosial sehingga kerukunan dapat terus terjalin dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan hasil penelitian bahwa bentuk interaksi sosial yang dianut oleh warga Petak Sembilan, khususnya yang warga etnis Tionghoa dan Jawa mengarah pada bentuk interaksi sosial proses asosiatif. Warga Petak Sembilan saling hidup rukun antarkelompok etnis walaupun terdapat perbedaan nilai yang dianut oleh masing-masing etnis. Tingginya tingkat toleransi menjadikan warga Petak Sembilan hidup rukun satu sama lain.
Analisis Self Disclosure Penari Waacking Dalam Komunitas Waacking Dance (Studi Kasus Acara Battle Dance Grand Finals All Asia Waacking Festival 2018 di Bali) Gabriel Joshua Natanael; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3907

Abstract

Pada era modern saat ini, tarian sangat berkembang dan dikenal dalam ruang lingkup masyarakat di Indonesia sebagai cara untuk menunjukan emosi, berinteraksi sosial, olahraga, dan mengekspresikan ide-ide atau bercerita mengenai apa yang kita inginkan. Salah satunya adalah Waacking, tarian yang terbentuk di klub homoseksual yang terletak di kota Los Angeles dimana mereka berkumpul bersama dan menyembunyikan identitas asli mereka dari publik. Melalui ini mereka menemukan jati diri mereka dan dapat melakukan pengungkapan diri untuk melarikan diri dari asumsi dan prejudis masyarakat mengenai kaum homoseksual. Penelitian ini bertujuan mengetahui, memahami, dan memberikan gambaran bagaimana pengungkapan diri para penari waacking dalam komunitas tarian waacking. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi, dan teori penetrasi sosial yang berfokus kepada pengungkapan diri. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengungkapan diri relatif penting dilakukan oleh penari waacking untuk mendapatkan, rasa saling berbagi satu sama lainnya, pengertian antara sesama penari waacking dan juga kenyamanan. Tarian waacking tidak hanya menjadi sebuah tarian, tapi juga menjadi bentuk pengungkapan diri bagi para pelakunya.
Ujaran Kebencian sebagai Salah Satu Bentuk Komunikasi Entertainment Cahya Anna Versari; Sinta Paramita
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.1970

Abstract

Selebriti selalu menjadi pusat perhatian dan pengamatan publik secara luas. Namun tidak jarang selebriti mempunyai haters yang seringkali menebar ujaran kebencian sebagai bentuk komunikasi untuk mengeskpresikan perasaaan, pendapat, dan kritik. Media yang digunakan adalah media sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ujaran kebencian dalam komunikasi entertainment. Sejumlah konsep yang digunakan dalam penelitian ini yaitu komunikasi, komunikasi entertainment dan selebriti, media baru dan media sosial, ujaran kebencian, dan haters. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Data diperoleh melalui hasil observasi dan wawancara lima narasumber, yaitu Mulan Jameela, dan masyarakat umum. Hasil penelitian ini ingin menunjukkan bagaimana siklus ujaran kebencian dapat terjadi sebagai salah satu bentuk komunikasi entertainment yang digunakan pada dunia hiburan. Di dalamnya mencakup kehidupan seperti selebriti, tokoh atau publik figur. Hasil penelitian ini menemukan siklus model ujaran kebencian sebagai salah satu bentuk komunikasi entertainment.