Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi TRIAD KRR sebagai Strategi Peningkatan Kapasitas Santri dalam Mencegah Perilaku Berisiko Ninuk Angelia; Nunik Angelia; Kris Linggardini; Cindy Rozza Bella
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.23093

Abstract

Remaja Indonesia saat ini tengah mengalami perubahan sosial masyarakat modern yang begitu pesat, dimana terjadi perubahan norma, nilai, dan gaya hidup. Keadaan ini beresiko meningkatkan kerentanan remaja terhadap berbagai macam permasalahan, salah satunya adalah TRIAD Kesehatan Reproduksi Remaja (TRIAD KRR). Pemanfaatan layanan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia cenderung rendah. Hal ini menjadi salah satu penyebab rendahnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi remaja. Pondok pesantren berperan penting dalam pembinaan akhlak remaja, namun masih menghadapi tantangan dalam kesehatan reproduksi santri. Keterbatasan akses informasi yang komprehensif dan sesuai nilai keagamaan menyebabkan rendahnya pengetahuan dan sikap santri terhadap perilaku sehat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas santri Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh dalam memahami dan mencegah permasalahan TRIAD. Sasaran kegiatan ini adalah santri remaja usia 15–19 sebanyak 54 santri. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam satu kali pertemuan yang diawali dengan pre-test, dilanjutkan dengan penyampaian materi edukasi TRIAD Kesehatan Reproduksi Remaja (TRIAD KRR), diskusi interaktif, dan post-test. Rerata skor pengetahuan sebelum edukasi sebesar 82,62 meningkat menjadi 95,75 setelah edukasi. Meskipun peningkatan tersebut belum menunjukkan perbedaan yang signifikan, hasil ini mengindikasikan adanya peningkatan pemahaman santri setelah mengikuti kegiatan edukasi partisipatif. Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan bahwa metode edukasi partisipatif TRIAD KRR dapat diterapkan dengan baik di lingkungan pondok pesantren dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan santri. Namun demikian, diperlukan pengembangan program edukasi yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan, serta penguatan layanan pendampingan atau konseling kesehatan reproduksi yang ramah santri untuk menghasilkan perubahan pengetahuan dan sikap yang lebih optimal.
Gambaran Quality of Nursing Work Life Puskesmas Rawat Inap dan Puskesmas Rawat Jalan Nunik Angelia; Ninuk Angelia; Kris Linggardini
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 4 (2025): Agustus 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i4.16

Abstract

Kualitas kehidupan kerja perawat (Quality of Nursing Work Life/QNWL) merupakan indikator penting untuk menjaga kesejahteraan perawat dan mutu pelayanan kesehatan. QNWL mencakup keseimbangan kehidupan kerja, desain pekerjaan, dukungan organisasi, dan persepsi profesi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan QNWL perawat di Puskesmas Rawat Inap dan Rawat Jalan Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan sampel 150 perawat (73 rawat inap, 77 rawat jalan) yang dipilih secara simple random sampling. Instrumen penelitian adalah kuesioner QNWL yang terdiri dari 41 item meliputi empat dimensi: work-life home-life, work design, work context, dan work world. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan QNWL perawat secara keseluruhan berada pada kategori baik. Dimensi dengan skor tertinggi adalah work context (83,6% rawat inap; 80,5% rawat jalan), mencerminkan dukungan organisasi, komunikasi, dan supervisi yang optimal. Sebaliknya, dimensi dengan skor terendah adalah work design (57,1% rawat inap; 50,6% rawat jalan), yang menunjukkan kendala pengaturan beban kerja dan keterbatasan otonomi. Karakteristik seperti usia, lama kerja, dan status kepegawaian berpengaruh terhadap persepsi QNWL. Temuan ini menekankan perlunya pengaturan beban kerja, pelatihan berkelanjutan, fleksibilitas jadwal, dan kompensasi yang adil untuk meningkatkan QNWL, sehingga mendukung retensi perawat dan kualitas layanan kesehatan primer.
Overview of Social Interaction and Quality of Life of the Elderly in Pasinggangan Village, Banyumas Eva Nurhayati; Kris Linggardini
Proceedings Series on Health & Medical Sciences Vol. 9 (2026): Proceeding of the 1st Holistic Healthcare Delivery through Community-Based Approaches
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pshms.v9i1.2227

Abstract

The elderly population is vulnerable to a decline in social interaction and quality of life due to physical, psychological, and social changes associated with the aging process. Maintaining social engagement is essential to support well-being and life satisfaction among older adults. This study used a descriptive quantitative design with a survey approach. The research was conducted in Pasinggangan Village, Banyumas Regency, involving 52 elderly respondents selected using random sampling based on the Slovin formula. Data were collected using questionnaires measuring social interaction and quality of life and analyzed using univariate descriptive statistics. The majority of respondents were aged 60–74 years (75%) and female (76.9%), with hypertension being the most common health condition (21.2%). Most elderly respondents demonstrated good social interaction (73.1%), while 23.1% had moderate interaction and 3.8% had poor interaction. Regarding quality of life, 82.7% had moderate quality of life, 15.4% good, and 1.9% poor. The findings indicate that most elderly individuals in Pasinggangan Village have relatively active social interaction and a moderately good quality of life. Strengthening social support and community engagement is essential to improve elderly well-being.
Beyond The Pandemic: Enhancing Community Participation for Sustainable Health Crisis Management Purwito, Dedy; Linggardini, Kris
IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices) Vol. 10 No. 1 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ijnp.v10i1.26299

Abstract

Background: Many countries have been criticized for their slow recovery from the pandemic, partly due to the weak implementation of COVID-19 policies at the community level. Although governments developed response frameworks, these often remained ineffective without strong public participation. The key gap lies in the limited evidence on how structured community participation, particularly through participatory action research (PAR), can be integrated into village-level Covid-19 management. Objective: This study aimed to examine how community participation can improve community knowledge, strengthen their role as change agents, and enhance community-based management of health problems, with the involvement of community leaders, village governments, and primary health care providers. Methods: An action research design with online and offline stages was employed in the study. The researchers explored community perceptions of COVID-19, prevention practices, and local management efforts. Content analysis of existing community resources was conducted to identify feasible monitoring strategies. Results: 18 participants were involved in three phases: action planning, a 3-month intervention, and a 3-month evaluation. The intervention resulted in increased understanding and adherence to COVID-19 management, improved community capability to promote behavioral change, and strengthened implementation of local health problem management. Conclusion: The findings show that active community participation, supported by government programs and health workers, plays a critical role in improving community health outcomes and strengthening village-level pandemic response.