Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PERSEPSI MAHASISWA PSPPA FMIPA ULM TERHADAP PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER : PERCEPTION OF PSPPA FMIPA ULM STUDENTS TOWARD THE IMPLEMENTATION OF THE PROFESSIONAL PHARMACEUTICAL PRACTICE Herningtyas Nautika Lingga; Difa Intannia
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.438

Abstract

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dalam pendidikan profesi apoteker merupakan elemen mendasar yang membantu mahasiswa untuk mendapatkan lebih banyak keterampilan dan kebiasaan kerja. PKPA juga dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap yang diperlukan untuk praktek kefarmasian. Persepsi mahasiswa diperlukan sebagai salah satu evaluasi terhadap pelaksanaan PKPA. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi mahasiswa program studi pendidikan profesi apoteker terkait pelaksanaan PKPA. Penelitian ini merupakan survey deskriptif dengan rancangan cross sectional melalui survey online dengan menggunakan google form. Subjek penelitian adalah mahasiswa aktif program studi Pendidikan Profesi Apoteker FMIPA ULM angkatan X yang telah selesai melaksanakan PKPA dengan teknik pengambilan sampel berupa total sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total mahasiswa yang terlibat sebanyak 40 orang dengan 80% berjenis kelamin perempuan, 80% mahasiswa tidak pernah memiliki pengalaman bekerja sebelumnya, 27,5% mahasiswa berencana untuk berpraktek di klinik atau rumah sakit, dan 60% mahasiswa memiliki keluarga yang berprofesi tenaga kesehatan. Persepsi mahasiswa terkait pelaksanaan PKPA pada aspek kejelasan maksud dan tujuan PKPA menunjukkan persepsi positif, pada aspek skill dan pengetahuan menunjukkan persepsi positif, terkait preseptor PKPA mahasiswa menunjukkan persepsi positif. Pada aspek instansi PKPA serta struktur PKPA mahasiswa memiliki persepsi ambivalen atau mengarah negatif pada kecukupan ruangan untuk akomodasi saat PKPA, akses bahan referensi baik hardcopy atau sarana elektronik, mendapatkan kewenangan untuk memilih instansi PKPA sendiri, serta kemampuan menyelesaikan semua kegiatan sesuai dengan buku panduan PKPA.
Kesesuaian Penggunaan Obat di Puskesmas Rawat Inap Cempaka Banjarbaru Tahun 2019 Ditinjau dari Indikator Peresepan Menurut WHO Herningtyas Nautika Lingga; Oktaviani Nadia Aulia; Prima Happy Ratnapuri; Jingga Septiandy
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.15491

Abstract

Penggunaan obat rasional sangat penting dalam mendukung ketercapaian kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Ketidakrasionalan penggunaan obat berdampak buruk dan dapat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan obat di Puskesmas Rawat Inap Cempaka Banjarbaru dilihat dari indikator peresepan World Health Organization. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Sampel yang digunakan adalah resep pasien rawat jalan tahun 2019 sebanyak 195 sampel. Hasil dari penelitian ini secara berturut-turut yaitu rata-rata item obat perlembar resep 2,3; persentase peresepan antibiotik 21.02%; persentase penggunaan obat sesuai formularium 82,81%; persentase peresepan obat generik 89,50%; persentase peresepan sediaan injeksi 0%. Kesimpulannya terdapat 3 indikator yang sesuai dengan indikator WHO yaitu persentase peresepan obat generik, persentase persepan antibiotik dan persentase peresepan sediaan injeksi. Kata Kunci: Indikator Peresepan, Indikator WHO 1993, Penggunaan Obat, Puskesmas, Rasionalitas   Rational drug use is very important to achieve quality of life and better public welfare and provide benefits to society from an economic perspective. Irrational drugs use can raise a danger such as unwanted reaction. This study aimed to describe drugs use at Cempaka primary healthcare Banjarbaru based on  prescribing indicators by WHO. This study was observational with descriptive design. Data collection was conducted retrospectively. Sample of this study was outpatient prescription in 2019 as much as 195. Results of this study showed that average number of drugs per encounter was 2,3; percentage of antibiotics was 21,02%; percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 82,81%; percentage of using generic drugs was 89,50%, percentage of injection was 0%. In conclusion, 3 indicators were obtained in accordance with the WHO indicator, namely the percentage of using generic drugs, percentage of antibiotic and percentage of injection.
Gambaran Penerimaan Vaksin COVID-19 di Puskesmas Guntung Payung Satrio Wibowo Rahmatullah; Herningtyas Nautika Lingga; Deni Setiawan; Dita Ayulia Dwi Sandi; Endah Puwarastuti; Ahmad Nazar Winarto; Siti Bahzah
Health Research Journal of Indonesia Vol 1 No 2 (2022): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.255 KB)

Abstract

Pendahuluan: Puskesmas merupakan salah satu tempat yang menyelenggarakan kesehatan masyarakat dan perseorangan tingkat dasar yang berperan dalam melakukan prevensi (pencegahan), deteksi, dan responsif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masa pandemi. Tujuan: Mendeskripsikan penerimaan pengunjung Puskesmas Guntung Payung terhadap vaksin Covid-19. Metode: Penelitian merupakan deskriptif kuantitatif dengan jenis cross sectional. Sampel penelitian adalah masyarakat yang berkunjung ke Puskesmas Guntung Payung dengan kriteria (usia 18-65 tahun) mau mengikuti penelitian. Jumlah sampel sebanyak 85 orang. Data dikumpulkan melalui formulir dengan google form yang disebarkan menggunakan Whatsapp pada 4 Agustus-14 Agustus 2021. Hasil: Pernyataan terhadap penerimaan Vaksin Covid-19 (12 pernyataan), sebanyak 1 pernyataan mendapatkan jawaban negatif, diantaranya: Vaksin Covid-19 dapat menimbulkan efek samping (64,6%), Untuk 5 pernyataan positif diantaranya : vaksin Covid-19 dirasa aman untuk dipergunakan (74,4%), vaksin dirasa dapat menurunkan angka paparan Virus Corona (69,5%), manusia tidak setuju kalau virus hilang dengan sendirinya (40,2%), responden setuju jika hanya perlu berserah diri pada Tuhan agar Covid-19 segera berlalu (52,4%), responden banyak yang tidak setuju kalau Covid-19 adalah produk propaganda, konspirasi, HOAKS bertujuan untuk meguntungkan pihak-pihak tertentu (56,1%). Simpulan: Hasil ini menggambarkan bahwa pendidikan tentang vaksinasi perlu diintensivekan mengingat tingkat penerimaan (Receiving/Attending) merupakan hasil dari tingkat pengetahuan.
Promosi Kesehatan Pencegahan dan Pengobatan Skabies pada Pasien di Puskesmas Guntung Manggis Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Novia Novia; Herningtyas Nautika Lingga; Satrio Wibowo Rahmatullah; Difa Intannia; Fanli Yudi Anwar
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 3 No 4 (2023): JAMSI - Juli 2023
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.799

Abstract

Skabies merupakan salah satu penyakit infeksi kulit bersifat menular yang disebabkan oleh tungau betina Sarcoptes scabiei varieta hominis kelas Arachnida. Skabies dapat menjadi penyakit yang bersifat kronis ataupun berat jika terjadi komplikasi yang berbahaya. Komplikasi dapat terjadi dari lesi skabies yang digaruk karna terasa sangat gatal dan tidak nyaman sehingga menimbulkan infeksi kulit. Pengobatan skabies disertai isolasi kontak sangat penting apabila telah terjadi penularan skabies. Skabies dapat menular terutama dari kontak fisik langsung maupun secara tidak langsung seperti, melalui pakaian, handuk dan perlengkapan tidur. Jumlah penderita skabies di Puskesmas Guntung Manggis masih cukup banyak, sehingga perlu dilakukan kegiatan promosi kesehatan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait pencegahan dan pengobatan skabies. Kegiatan promosi kesehatan dilakukan menggunakan metode ceramah dengan sasaran pasien yang datang ke Puskesmas Guntung Manggis. Kegiatan dilakukan di ruang tunggu puskesmas dan sebagai bahan evaluasi dilakukan pre-postest. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan sebesar 29%, yaitu nilai rata-rata pretest sebesar 66% dan postest 95%. Kesimpulan kegiatan promosi kesehatan yaitu terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait pencegahan dan pengobatan skabies untuk mengoptimalkan terapi.
Potentially Inappropriate Medications (PIMs) dan Potentially Prescribing Omissions (PPOs) pada Pasien Geriatri Rawat Inap Tuti Misrina; Difa Intannia; Herningtyas Nautika Lingga; Satrio Wibowo Rahmatullah
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.17039

Abstract

Geriatri merupakan kelompok usia yang rentan terhadap efek samping penggunaan obat. Pemberian obat pada pasien geriatri komplek dan memerlukan banyak pertimbangan karena perubahan komposisi dan fungsi tubuh, komorbiditas, gangguan sensorik dan kognitif, serta polifarmasi. Identifikasi terhadap Potentially Inappropriate Medications (PIMs) dan PPOs (Potentially Prescribing Omissions) penting dilakukan untuk peningkatan kualitas pengobatan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi persentase pasien dan mendeskripsikan jenis golongan obat terbanyak pada kejadian PIMs dan PPOs berdasarkan STOPP START Criteria versi 2. Jenis penelitian ini adalah non-eksperimental metode deskriptif secara retrospektif dengan jumlah 49 sampel pasien geriatrik rawat inap kelas 3 (Januari-Agustus 2022) di RS X Banjarmasin. Data yang diperoleh diidentifkasi menggunakan STOPP START Criteria versi 2 dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Microsoft excel 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pasien teridentifikasi PIMs yaitu 20 pasien (41%) dengan jumlah 1 PIMs pada 17 pasien (35%) dan ≥ 2 PIMs pada 3 pasien (6%). Jenis golongan obat paling banyak dalam kejadian PIMs adalah loop diuretik (furosemid). Persentase pasien teridentifikasi PPOs yaitu 35 pasien (71%) dengan jumlah 1 PPOs. Jenis golongan obat yang termasuk dalam kejadian PPOs pada penelitian ini adalah statin (atorvastatin). Kesimpulan penelitian ini ditemukan bahwa persentase kejadian PPOs lebih tinggi dibandingkan dengan persentase kejadian PIMs. Kata Kunci: Banjarmasin, PIMs, PPOs, STOPP START Kriteria Versi 2, Lansia    Geriatrics is an age group that is vulnerable to the side effects of drug use. Drug administration in geriatric patients is complex and requires a lot of consideration due to changes in body composition and function, comorbidities, sensory and cognitive disorders, and polypharmacy, so that assistance with Potentially Inappropriate Medications (PIMs) and PPOs (Potentially Prescription Omissions) is important to improve the quality of treatment. The purpose of this study was to identify the proportion of patients and describe the most common types of drug classes in the incidence of PIM and PPO based on the STOPP START Criteria version 2. The method used was descriptive retrospectively with a total sample of 49 geriatric patients inpatient class 3 (January-August) 2022) at RS X Banjarmasin. The data obtained were identified using STOPP START Criteria version 2 and analyzed using Microsoft Excel 2021. The results showed that the proportion of patients identified as PIMs was 20 patients (41%) with a total of 1 PIMs in 17 patients (35%) and ≥ 2 PIMs in 3 patients (6%). The most common type of drug class in the incidence of PIMs is loop diuretics (furosemide). The percentage of patients identified as PPOs was 35 patients (71%) with 1 PPOs. The most common type of drug class in the incidence of PPOs is statins (atorvastatin). The conclusion of this study was found that the proportion of incident PPOs was higher than the proportion of incident PIMs. 
Penyuluhan tentang DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) di SMPN 31 Banjarmasin Anisa Desriyanti; Nor Aida; Difa Intannia; Satrio Wibowo Rahmatullah; Herningtyas Nautika Lingga
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 1, No 4 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v1i4.10934

Abstract

Obat merupakan bahan atau paduan bahan yang digunakan untuk menyembuhkan, memelihara, dan meningkatkan kesehatan. Jika dalam penggunaan suatu obat tidak tepat, maka dapat berisiko membahayakan penggunanya. Salah satu upaya untuk menghindari terjadinya penggunaan obat yang salah atau penyalahgunaan obat dapat dilakukan promosi kesehatan DAGUSIBU yang merupakan singkatan dari (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) obat dengan tepat yang merupakan program gerakan keluarga sadar obat. Kegiatan promosi kesehatan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat yang tepat pada siswa SMPN 31 Banjarmasin. Metode yang digunakan yaitu ceramah disertai dengan pemberian leaflet berisi materi DAGUSIBU. Sebagai bahan evaluasi dilakukan pretes, diskusi, tanya jawab dan postes. Hasil kegiatan promosi kesehatan diketahui nilai rata-rata pretes siswa adalah 65,33 dan nilai rata-rata postes siswa adalah 95. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan siswa mengenai DAGUSIBU sebanyak 45,41% setelah diberikan promosi kesehatan. Kata Kunci: Leaflet, Obat, Promosi Kesehatan, Siswa  Medicine is a substance i that is necessary for maintaining and enhancing health, but when taken improperly, it can be harmful to the user. DAGUSIBU (Get, Use, Save, Dispose of) drugs safely and correctly, a drug awareness family movement program, is one strategy to prevent inappropriate or overuse of drugs. In order to improve students' awareness of how to get, use, store, and dispose of medications, health promotion activities were conducted at SMPN 31 Banjarmasin. The approach employed was a lecture combined with the distribution of pamphlets providing DAGUSIBU information. Pre-test, discussion, question-and-answer, and post-test exercises were used as evaluation tools. The outcomes of the health promotion activities revealed that the typical student pretest score was 65.33 and the typical student posttest score was 95. Thus, it can be said that after receiving health promotion, students' understanding of DAGUSIBU increased by 45.41%.
Penyuluhan Cegah Efek Samping Dengan Cerdas Dan Bijak Menggunakan Obat Tradisional Di Komplek Wengga Trikora Rt 42 Rw 007 Kelurahan Guntung Manggis Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Syifa Auliani; Herningtyas Nautika Lingga; Satrio Wibowo Rahmatullah; Difa Intannia; Fanli Yudi Anwar
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 1, No 2 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v1i2.9672

Abstract

Obat tradisional merupakan obat yang berasal dari bahan herbal yang sangat banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai upaya pemeliharaan kesehatan. Obat tradisional atau herbal di Indonesia terbagi atas 3 jenis antara lain  fitofarmaka, obat herbal terstandar (OHT), dan jamu. Sebagian masyarakat yang tidak mengetahui apa saja jenis obat tradisional, bagaimana cara memilih, membedakan dan memperoleh dengan benar sediaan obat tradisional yang legal ataupun ilegal, serta informasi apa saja yang perlu diketahui sebelum membeli sediaan obat tradisional tersebut. Penyuluhan ini bertujuan untuk memberikan tambahan informasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara mencegah efek samping dengan cerdas dan bijak dalam memanfaatkan obat tradisional yang aman, efektif dan berkualitas guna meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menghindari munculnya penyakit berbahaya di kemudian hari. Metode yang dilakukan berupa penyuluhan dan pembagian leaflet. Hasil kegiatan penyuluhan dievaluasi melalui kehadiran masyarat, pre-test dan post-test. Kegiatan dihadiri sebanyak 15 orang. Berdasarkan hasil pada sesi pre-test dan post-test terkait definisi obat tradisional tidak terdapat selisih. Pertanyaan tentang pengelompokkan OT terdapat peningkatan sebesar 33,4% dan 40%. Pernyataan terkait bahan kimia obat pada obat tradisional pengetahuan peserta meningkat setelah mendapatkan informasi penyuluhan sebesar 13,3% dan 73,3%. Kata Kunci: BKO, Efek samping, Penggunaan, Obat Tradisional.Traditional medicine is medicine derived from herbal ingredients which are very widely used by the people of Indonesia as an effort to maintain health. Traditional or herbal medicine in Indonesia is divided into 3 types, namely phytopharmaca, standardized herbal medicine (OHT), and herbal medicine. Some people do not know what types of traditional medicines are, how to choose, differentiate and correctly obtain traditional medicinal preparations that are legal or illegal, as well as what information needs to be known before purchasing these traditional medicinal preparations. This counseling aims to provide additional information to the public about how to prevent side effects intelligently and wisely in utilizing safe, effective and quality traditional medicines to improve health and prevent and avoid the emergence of dangerous diseases in the future. The method used is in the form of counseling and distribution of leaflets. The results of extension activities were evaluated through community attendance, pre-test and post-test. The event was attended by 15 people. Based on the results of the pre-test and post-test sessions related to the definition of traditional medicine, there is no difference. There was an increase in questions about grouping OT by 33.4% and 40%. Statements related to medicinal chemicals in traditional medicine increased the participants' knowledge after receiving counseling information by 13.3% and 73.3%.
Promosi Kesehatan “Bijak Menggunakan Antibiotik” pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura 2 Rizka Aulia Norsafitri; Radha Eka Mulia; Herningtyas Nautika Lingga; Dinna Fitria Kumala
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 1, No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v1i1.8842

Abstract

Antibiotik merupakan obat yang sering diresepkan dalam pelayanan kesehatan terutama untuk pengobatan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Ketidaktepatan dalam menggunakan antibiotik dapat mengakibatkan munculnya masalah lain seperti peningkatan terjadinya efek samping dan kejadian resistensi. Banyaknya kesalahan dalam menggunakan antibiotik oleh masyarakat disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat di lingkungan kerja Puskesmas Martapura 2 tentang penggunaan antibiotik. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan cara penyuluhan menggunakan leaflet dan merupakan pengabdian masyarakat deskriptif menggunakan kuisioner sebagai instrumen. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 30 responden yang merupakan masyarakat di lingkungan kerja Puskesmas Martapura 2. Hasil yang diperoleh menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan setelah diberikan edukasi tentang penggunaan antibiotik secara bijak. Kata Kunci: Antibiotik, Edukasi, Leaflet, Masyarakat, Penyuluhan  Antibiotics are drugs that are often prescribed in health services, especially for treatment of infectious diseases caused by bacteria. Inappropriate use of antibiotics can lead to the emergence of other problems such as an increase in the occurrence of side effects and the incidence of resistance. The high use of antibiotics that are not appropriate in the community is caused by a lack of public knowledge regarding antibiotics. This community service aims to educate the community in Martapura 2 Community Health Center work environment about the use of antibiotics. This community service is carried out by means of counseling using leaflets and is a description of community service using an instrument in the form of a questionnaire. The number of respondents in this service is 30 respondents who are people in the working environment of the Martapura Health Center 2. The results obtained from this service are an increase in public knowledge about the wise use of antibiotics after being given education
PRO INSTING (Program Indonesia Bebas Stunting) Melalui Edukasi pada TP-PKK dan Anggota Karang Taruna di Landasan Ulin Tengah Satrio Wibowo Rahmatullah; Prima Happy Ratnapuri; Dita Ayulia Dwi Sandi; Herningtyas Nautika Lingga; Difa Intannia; Hayatun Izma; Linda Wahyuni; Nasya Hafizah; Angelina Ayu Dela; Damayanti Rumondang Butar Butar; Daniel Wisnugroho
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 1, No 3 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v1i3.10228

Abstract

Stunting adalah sebuah permasalahan kekurangan gizi kronis yang diakibatkan karena kurangnya asupan gizi dalam rentang waktu yang cukup lama, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak yaitu berupa tinggi badan anak yang lebih pendek daripada anak seusianya. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 menunjukkan bahwa kasus stunting di Kalimantan Selatan sebanyak 24,6% dengan prevalensi di Banjarbaru sebesar 17.3% serta terdapat 16 kasus di Landasan Ulin Tengah. Tujuan kegiatan ini adalah untuk melakukan pemberdayaan kader TP.PKK dan karang taruna, serta pemberian Paket Edukasi Stunting (PENTING) yang nantinya dapat digunakan untuk edukasi terkait stunting kepada masyarakat di Kelurahan Landasan Ulin Tengah secara berkesinambungan. Kegiatan ini berawal dari persiapan pembuatan paket edukasi stunting, kemudian sosialisasi melalui kegiatan ceramah dan diskusi kepada kader TP.PKK dan Karang Taruna, serta penyerahan paket edukasi stunting kepada kader. Sebelum ada penurunan angka stunting, melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan membentuk kader stunting di kelurahan Landasan Ulin Tengah, sehingga nanti kader mampu mengedukasi masyarakat khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan yang memiliki anak (0-6 tahun) serta mampu menurunkan angka stunting di kelurahan Landasan Ulin Tengah melalui Paket Edukasi Stunting (PENTING) di masyarakat.Kata Kunci: Stunting, Edukasi, Sosialisasi, Kader Stunting is a chronic malnutrition problem caused by lack of nutritional intake over a long period of time, causing growth disorders in children, namely in the form of children's height that is shorter than their age. Based on the results of the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey, it shows that stunting cases in South Kalimantan are 24.6% with a prevalence in Banjarbaru of 17.3% and there are 16 cases in Landasan Ulin Tengah. The purpose of this activity is to empower TP cadres. PKK and cadet reefs, as well as the provision of Stunting Education Packages (PENTING) which can later be used for stunting-related education to the community in Landasan Ulin Tengah Village on an ongoing basis. This activity began with the preparation of making stunting education packages, then socialization through lectures and discussions to TP cadres. PKK and Karang Taruna, as well as the delivery of stunting education packages to cadres. Before there is a decrease in stunting rates, through this activity, it is hoped that it can increase understanding and form stunting cadres in Landasan Ulin Tengah sub-district, so that later cadres will be able to educate the community, especially pregnant women, breastfeeding women, and those with children (0-6 years) and be able to reduce stunting rates in Landasan Ulin Tengah sub-district through the Stunting Education Package (PENTING) in the community.
Edukasi Narkoba Kepada Kader dan Karang Taruna di Kelurahan Landasan Ulin Tengah Hayatun Izma; Difa Intannia; Herningtyas Nautika Lingga; Alya Zainah; Bayu Wiratama; Fitriana Rahmi; Laode Muhammad Indra Kesuma; Nahdiya Nahdiya
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 1, No 3 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v1i3.10191

Abstract

Penyalahgunaan narkoba semakin marak dan hingga kini masih menjadi permasalahan nasional yang belum teratasi. Pengguna narkoba berasal dari berbagai jenjang status sosial ekonomi mulai dari menengah bawah hingga menengah atas, tidak hanya orang dewasa namun sekarang menyebar hingga tingkat remaja dan anak-anak. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba memerlukan dukungan dari semua lapisan Masyarakat. Kader dan karang taruna merupakan orang-orang terdekat dengan Masyarakat dan berperan penting dalam peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan Masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai narkoba kepada kader dan karang taruna agar dapat memberikan edukasi kepada masyarakat lainnya, sehingga pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba di Masyarakat dapat berjalan. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan yaitu pretest, penyampaian materi dengan metode ceramah menggunakan media powerpoint, dilanjutkan sesi diskusi dan posttest. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan melalui kuisioner pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dari 84,6% menjadi 86,9%.Kata Kunci: Kaderisasi, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba, MasyarakatDrug abuse is increasingly widespread and is still a national problem that cannot resolved optimally. Drug users range from lower to middle economic levels to upper socio-economic status, not only adults but also teenagers and children. Drug prevention and eradication efforts require support from all levels of society. Cadres and Karang Taruna are the people closest to the community and play a leading role in improving the quality of health and welfare of the community. The activity aims to provide drug education to cadres and Karang Taruna so that they can provide education to other communities so drug prevention and eradication can occur in society. The activities were a pretest, Provide education using lecture method with PowerPoint Presentation, a discussion session, and a posttest. Based on evaluations through pretest and posttest, it showed an increase in participants knowledge from 84.6% to 86.9%.