Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : isamic communication journal

Deradicalization da'wah: Religious rehabilitation efforts for former terrorism convicts Rozi, Fachrur; Supena, Ilyas; Riyadi, Agus
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.23317

Abstract

Terrorist acts that often claim religious grounds have become a significant threat to national stability. Based on data from the National Counterterrorism Agency (BNPT), Indonesia, terrorist attacks not only cause casualties but also have an impact on public perception of Islam. This study aims to understand why radical ideology often persists among former terrorist convicts and how deradicalization preaching plays a role in their rehabilitation. This descriptive qualitative study uses a sociological approach, using data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that radical ideology persists due to limited social support, non-holistic deradicalization programs, ideological backgrounds, and social stigma. External factors such as the lack of special programs, limited officer training, and inconsistent funding also contribute. Deradicalization preaching plays a crucial role by teaching peaceful religious values, empowering socially and economically, reducing social stigma, and involving families and communities. For effective rehabilitation, deradicalization preaching must be holistic, involve various parties, and consider cultural, social, and economic aspects to address the root causes of radicalization. ***** Aksi terorisme yang sering mengklaim landasan agama telah menjadi ancaman besar terhadap stabilitas nasional. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Indonesia, serangan teror tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak pada persepsi publik terhadap Islam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami mengapa faham radikal sering kali tetap bertahan di kalangan mantan narapidana terorisme dan bagaimana dakwah deradikalisasi berperan dalam rehabilitasi mereka. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis, menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faham radikal tetap bertahan disebabkan oleh dukungan sosial yang terbatas, program deradikalisasi yang tidak holistik, serta latar belakang ideologi dan stigma sosial. Faktor eksternal seperti kurangnya program khusus, keterbatasan pelatihan petugas, dan pendanaan yang tidak konsisten juga berkontribusi. Dakwah deradikalisasi memainkan peran krusial dengan mengajarkan nilai-nilai agama yang damai, memberdayakan secara sosial dan ekonomi, mengurangi stigma sosial, dan melibatkan keluarga serta komunitas. Untuk rehabilitasi yang efektif, dakwah deradikalisasi harus holistik dan melibatkan berbagai pihak, serta mempertimbangkan aspek budaya, sosial, dan ekonomi untuk mengatasi akar penyebab radikalisasi secara menyeluruh.
Deradicalization da'wah: Religious rehabilitation efforts for former terrorism convicts Rozi, Fachrur; Supena, Ilyas; Riyadi, Agus
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.23317

Abstract

Terrorist acts that often claim religious grounds have become a significant threat to national stability. Based on data from the National Counterterrorism Agency (BNPT), Indonesia, terrorist attacks not only cause casualties but also have an impact on public perception of Islam. This study aims to understand why radical ideology often persists among former terrorist convicts and how deradicalization preaching plays a role in their rehabilitation. This descriptive qualitative study uses a sociological approach, using data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that radical ideology persists due to limited social support, non-holistic deradicalization programs, ideological backgrounds, and social stigma. External factors such as the lack of special programs, limited officer training, and inconsistent funding also contribute. Deradicalization preaching plays a crucial role by teaching peaceful religious values, empowering socially and economically, reducing social stigma, and involving families and communities. For effective rehabilitation, deradicalization preaching must be holistic, involve various parties, and consider cultural, social, and economic aspects to address the root causes of radicalization. ***** Aksi terorisme yang sering mengklaim landasan agama telah menjadi ancaman besar terhadap stabilitas nasional. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Indonesia, serangan teror tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak pada persepsi publik terhadap Islam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami mengapa faham radikal sering kali tetap bertahan di kalangan mantan narapidana terorisme dan bagaimana dakwah deradikalisasi berperan dalam rehabilitasi mereka. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis, menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faham radikal tetap bertahan disebabkan oleh dukungan sosial yang terbatas, program deradikalisasi yang tidak holistik, serta latar belakang ideologi dan stigma sosial. Faktor eksternal seperti kurangnya program khusus, keterbatasan pelatihan petugas, dan pendanaan yang tidak konsisten juga berkontribusi. Dakwah deradikalisasi memainkan peran krusial dengan mengajarkan nilai-nilai agama yang damai, memberdayakan secara sosial dan ekonomi, mengurangi stigma sosial, dan melibatkan keluarga serta komunitas. Untuk rehabilitasi yang efektif, dakwah deradikalisasi harus holistik dan melibatkan berbagai pihak, serta mempertimbangkan aspek budaya, sosial, dan ekonomi untuk mengatasi akar penyebab radikalisasi secara menyeluruh.
Mediatizing religion and extremism: Muslim women terrorist networks on social media Ilyas Supena; M. Mudhofi M. Mudhofi; Ulin Nihayah; Farida Rachmawati
Islamic Communication Journal Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2026.11.1.29685

Abstract

This research aims to examine the role of social media in connecting the phenomenon of Muslim women with the community of terrorism networks in the digital space. Phenomenological and interview approaches were used to analyze the linkages between social media, Muslim women, and terrorism networks. The findings of the study show that social media not only functions as a communication tool, but has developed into a new religious living space for Muslim women who form identities, social networks of terrorist communities, and religious authorities digitally. The media acts as a channel that connects individuals with radical propaganda directly. Language that packages extreme messages in a persuasive and authentic format, often combining religious postulates with symbolic visuals. The environment that creates online communities also reinforces radical identities and allows participants to become active content producers. This study contributes to the literature on digital religion by demonstrating that social media not only mediates religious expression but also actively reshapes religious authority and social relations within online radicalization networks. ***** Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran media sosial dalam menghubungkan fenomena perempuan Muslim dengan komunitas jaringan terorisme di ruang digital. Pendekatan fenomenologis dan wawancara digunakan untuk menganalisis keterkaitan antara media sosial, perempuan Muslim, dan jaringan terorisme. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang kehidupan keagamaan baru bagi perempuan Muslim dalam membentuk identitas, jaringan sosial komunitas teroris, serta otoritas keagamaan secara digital. Media ini berperan sebagai saluran yang menghubungkan individu secara langsung dengan propaganda radikal. Bahasa yang mengemas pesan-pesan ekstrem dalam format yang persuasif dan autentik, sering kali memadukan dalil-dalil agama dengan visual yang sarat simbol. Lingkungan yang membentuk komunitas daring ini juga memperkuat identitas radikal serta memungkinkan para partisipan menjadi produsen konten yang aktif. Studi ini berkontribusi pada literatur agama digital dengan menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memediasi ekspresi keagamaan, tetapi juga secara aktif membentuk ulang otoritas keagamaan dan relasi sosial dalam jaringan radikalisasi daring.