Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Pelatihan Cek Gula Darah Dengan Menggunakan Metode ABA (Aplikasi Berbasis Android) sebagai Upaya Preventif Kejadian Diabetes Mellitus Pada Kader Kesehatan di Kelurahan Langensari Suwanti, Suwanti; Mawardika, Tina; Wachid, Abdul
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 3 No. 2 (2021): Indonesian Journal of Community Empowerment November
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.261 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v3i2.1214

Abstract

The number of elderly people in Indonesia will continue to increase and it is estimated that in 2050 it will reach 21.4%. Along with increasing age, physiological functions decrease so that non-communicable diseases such as DM are common, this can also occur in pregnant women because of the same structure of insulin and estrogen. About 1.3 million people died from Diabetes Mellitus. In 2030 it is estimated that Diabetes Mellitus ranks 7th cause of death in the world. Indonesia in 2030 will have 21.3 million people with DM (4th largest in the world. In Indonesia the mortality rate and amputation rate are still high at 16% and 25% respectively. Efforts to reduce life-threatening things are needed to control/ checking blood sugar levels routinely so that the incidence of elevated sugar levels can be detected early. Based on interviews the Kader have never received socialization of an android-based application (ABA). This application is to assist prevention efforts. This training is to improve the knowledge and skills of Kader in measuring blood sugar independently using the ABA method. The activity was carried out in January 2020 through the stages of measuring data on the knowledge and skills of Kader in measuring blood sugar independently before and after providing education, delivering material about Diabetes Mellitus and operating procedures for blood sugar checks with the Android-Based Application method. After training, there was an increase in the knowledge and skills of the Kader in measuring blood sugar independently by checking blood sugar using the ABA Application method. Training is useful for Kader as an effort to prevent the incidence of Diabetes Mellitus in Langensari Village, East Ungaran, Semarang Regency.ABSTRAK Jumlah lansia di Indonesia akan terus meningkat dan diperkirakan pada tahun 2050 mencapai angka 21,4%. Seiring dengan bertambahnya usia ,fungsi fisiologis mengalami penurunan sehingga penyakit tidak menular seperti DM banyak terjadi, ini bisa juga terjadi pada ibu hamil karena struktur insulin dan esterogen yang sama. Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat Diabetes Melitus. Pada tahun 2030 diperkirakan Diabetes Melitus menempati urutan ke-7 penyebab kematian dunia. Indonesia pada tahun 2030 akan memiliki penyandang DM sebanyak 21,3 juta jiwa ( ke-4 terbesar didunia. Di Indonesia angka kematian dan angka amputasi masih tinggi masing-masing sebesar 16% dan 25%. Upaya menurunkan hal yang mengancam kehidupan maka diperlukan pengontrolan/ pengecekan kadar gula darah rutin agar bisa terdeteksi lebih dini kejadian peningkatan kadar gula. Berdasarkan wawancara para kader belum pernah mendapatkan sosialisasi aplikasi berbasis android(ABA). Aplikasi ini untuk membantu upaya pencegaha. Pelatihan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para kader dalam pengukuran GDS secara mandiri dengan menggunakan metode ABA. Kegiatan telah dilaksanakan pada bulan Januari 2020 melalui tahapan pengukuran data pengetahuan dan ketrampilan para kader dalam pengukuran GDS secara mandiri sebelum dan sesudah pemberian edukasi, penyampaian materi tentang Diabetes Mellitus dan cara pengoperasian (SOP) cek gula darah dengan metode Aplikasi Berbasis Android (ABA. Setelah dilakukan penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan para kader dalam pengukuran GDS secara mandiri cek gula darah dengan metode Aplikasi ABA. Pelatihan bermanfaat bagi para kader kesehatan sebagai upaya preventif kejadian Diabetes Mellitus diKelurahan Langen Sari, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Edukasi tentang Pencegahan Stunting pada 1000 Hari Kehidupan Balita melalui Pemanfaatan Tanaman Herbal di Desa Kemetul Pujiastuti, Anasthasia; Rissa Laila Vifta; Tina Mawardika
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2024
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v6i1.3143

Abstract

Kemetul Village is one of the villages located in Susukan District, Semarang Regency. Based on the results of a survey from target partners, it is known that residents of Kemetul Village have never received information about stunting, causes and dangers. Target partners have never received education about the importance of preventing stunting during the 1000 days of a toddler's life and the use of herbal plants to improve toddler nutrition. This community service program was carried out using educational methods for housewives in Kemetul Village, Susukan District, Semarang Regency. The number of participants who took part in educational activities was 30 participants consisting of housewives and several elderly people. The percentage of participants' evaluation results before being given education fell into the category of less understanding at 56.6%, quite understanding 26.6%, good understanding 16.6% and very good 0%. Participants' understanding increased after being given education, namely being included in the very good category at 53.3%, good at 43.3%, fair at 3.3% and poor at 0%. Based on the participant understanding questionnaire, it was found that after being given education there was an increase in participants' understanding of stunting by 96.6%.   ABSTRAK                 Desa Kemetul merupakan salah satu Desa yang terletak di Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Berdasarkan hasil survey kepada mitra sasaran diketahui warga Desa Kemetul belum pernah mendapatkan informasi terkait stunting, penyebab dan bahayanya. Mitra sasaran belum pernah mendapatkan edukasi tentang pentingnya pencegahan stunting pada 1000 hari kehidupan Balita serta pemanfaatan tanaman herbal untuk meningkatkan gizi balita. Pelaksanaan kegiatan pengabdiaan kepada masyarakat ini dilakukan dengan metode edukasi pada ibu rumah tangga di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan edukasi yaitu 30 peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga dan beberapa lansia. Persentase hasil evaluasi peserta sebelum diberikan edukasi masuk dalam kategori kurang paham sebanyak 56,6%, cukup paham 26,6%, pemahaman yang baik 16,6% dan sangat baik 0%. Pemahaman peserta mengalami peningkatan setelah diberikan edukasi yaitu termasuk dalam kategori sangat baik sebesar 53,3%, baik 43,3%, cukup 3,3% dan kurang sebanyak 0%. Berdasarkan kuesioner pemahaman peserta diketahui bahwa setelah diberikan edukasi terdapat peningkatan pemahaman tentang penyakit stunting sebesar 96,6%.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Seksualitas terhadap Sexual Self Efficacy for Female (SSEF) pada Calon Pengantin Riski Wulan Guritno; Mawardika, Tina
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2024): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2024
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sexual Self Efficacy for Females (SSEF) is a sexual predictor, it can also be interpreted as a person’s belief in the potential quality of having sexual relations. Insufficient or low knowledge about sexuality can influence a woman’s failure or lack of confidence in sexual self-efficacy for Female (SSEF). The aim of this research is to determine the influence of providing health education about sexuality on sexual self-efficacy for Female in prospective brides and grooms in KUA Bawen District. This research uses quantitative Nonequivalent with control group design. The population of this study was all 34 prospective brides who had registered in January who were divided into a control group and an intervention group. This research sample used Total Sampling using Mann Whitney analysis. Obtained a value of p(Value) (0.01) < α (0.05). This means that there is an influence of sexual health education on the sexual self-efficacy for females (SSEF) of prospective brides in KUA Kecamatan Bawen . The results of this research can add information for prospective brides in preparation for marriage to face Sexual Self-Efficacy for Females (SSEF) through Sexuality Health Education.   ABSTRAK                 Pengetahuan tentang seksualitas dapat mempengaruhi kegagalan atau ketidak yakinan seorang wanita tentang sexual self efficacy for female. Tujuan penelitian adalah Mengetahui adanya Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Tentang Seksualitas Terhadap Seksual Self Effecasy For Female Pada Calon Pengantin Wanita di KUA Kecamatan Bawen. Penelitian ini menggunakan kuantitatif  berbentuk Nonequivalent with control group design with control group desain. Populasi penelitian ini adalah seluruh Calon Pengantin Wanita yang telah mendaftar dibulan Januari berjumlah 34 yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok intrvensi. Sempel penelitian ini mengunakan Total Sampling dengan menggunakan analisa Mann Whitney. Diperoleh nilai p(Value) (0,01) < α (0,05) Artinya Ada Pengaruh Pendidikan Kesehatan Seksualitas Terhadap Seksual Self Efficacy For Female (SSEF) Calon Pengantin Wanita di KUA Kecamatan Bawen.Hasil penelitian ini dapat menambah informasi bagi Calon Pengantin Wanita dalam persiapan pernikahan untuk menghadapi Seksual Self Efficacy For Female (SSEF) melalui Pedidikan Kesehatan Seksualitas.
Studi Komparasi Pengetahuan dan Sikap tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi Sesudah Pemberian Edukasi Menggunakan Media Audiovisual dengan Booklet Print: Comparative Study of Knowledge and Attitudes regarding Menstrual Hygiene Management After Providing Education Using Audiovisual Media with Printed Booklets Aniroh, Umi; Tina Mawardika
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 7 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v7i1.3212

Abstract

Adolescent girls are at risk of health problems, especially in their reproductive health, due to poor menstrual hygiene habits as a result of insufficient knowledge and negative attitudes about menstrual hygiene management. There are many ways to increase knowledge and change attitudes to be more positive, including providing health education through audiovisual media and booklets, but related to the ease of access and interest of young women in obtaining information, it is necessary to evaluate the effectiveness of the two methods which is more efficient in increasing knowledge and promoting positive attitudes regarding menstrual hygiene management in adolescent girls.  This study aims to determine the comparison of audiovisual media and booklets on the knowledge and attitudes of adolescent girls  regarding menstrual hygiene management at An Nur Ungaran Middle School.  This quasi-experimental research uses a two group pretest and posttest design. The sample in this study amounted to 38 respondents consisting of 19 respondents in the audiovisual group and 19 respondents in the booklet group. The sampling technique uses total sampling. The research instrument uses a questionnaire regarding knowledge and attitudes about menstrual hygiene management which has been tested for validity and reliability. The data was analyzed univariately to determine the frequency distribution of the variables and bivariate analysis using the paired to t-test and the independent sample t-test.  There is a difference in the average increase in knowledge in the audiovisual and booklet groups, namely 3.002 with a p-value of 0.001 < α (0.05) and there is a difference in the average increase in attitudes in the audiovisual and booklet groups, namely 1.092 with a p-value of 0.001 < α (0 .05) so it can be concluded that there is a significant difference in attitude improvement between the two groups.  Interventions using audiovisual media and booklets are able to increase the knowledge and attitudes of adolescent girls regarding menstrual hygiene management, but using audiovisual media is more effective than booklets.   It is hoped that audiovisual media will be chosen as a medium in health education in conveying information about menstrual hygiene management to adolescent girls.   Abstrak Remaja puteri memiliki risiko terjadi gangguan kesehatan terutama pada kesehatan reproduksinya  karena kebiasaan menjaga kebersihan saat  menstruasi yang  buruk sebagai akibat dari pengetahuan  yang kurang dan sikap negatif tentang manajemen kebersihan menstruasi . Banyak cara untuk meningkatkan pengetahuan  serta merubah sikap menjadi lebih positif, diantaranya dengan memberikan pendidikan kesehatan melalui media audiovisual dan booklet,  namun terkait  dengan kemudahan akses serta minat   remaja puteri  dalam memperoleh informasi, perlu   mengevaluasi efektivitas kedua metode mana yang lebih efisien dalam meningkatkan pengetahuan dan mempromosikan sikap positif terkait  manajemen kebersihan menstruasi pada remaja putri.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan media audiovisual  dan booklet terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang manajemen  kebersihan  menstruasi di SMP An Nur Ungaran.   Penelitian quasi experiment ini menggunakan rancangan two group pretest and posttest. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 38 responden yang terdiri dari 19 responden kelompok audiovisual  dan 19 responden kelompok booklet.  Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling.  Instrumen penelitian menggunakan  kuesioner tentang pengetahuan dan sikap manajemen kebersihan menstruasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya.  Data dianalisis secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dari variabel dan analisis bivariat menggunakan uji  paired sampe t-test dan uji independent sample t-test.   menunjukkan ada perbedaan rerata peningkatan pengetahuan pada kelompok audiovisual dan booklet yaitu 3,002 dengan p-value 0,001 < α (0,05)  dan ada perbedaan rerata peningkatan sikap pada kelompok audiovisual dan booklet yaitu 1,092 dengan p-value 0,001 < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan selisih peningkatan sikap yang bermakna antara kedua kelompok. Intervensi menggunakan media audiovisual maupun booklet mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang manajemen kebersihan menstruasi, namun lebih efektif  menggunakan media audiovisual dibandingkan dengan booklet.  Diharapkan media audiovisual lebih dipilih sebagai  media  dalam  pendidikan kesehatan dalam menyampaikan informasi tentang manajemen kebersihan menstruasi pada remaja putri.
Gerakan Tanggap Sehat Reproduksi (RATASEKSI) pada Masa Remaja sebagai Upaya Pencegahan Stunting Mawardika, Tina; Umi Aniroh; Fiktina Vifri Ismiriyam; Luluk Sri Nurhaliza; Ulvi Nabila Azzahra; Novelia Rahmaningtyas
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 6 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2024
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v6i2.3337

Abstract

An Nur Middle School is one of the junior high schools located in Gogik Village, East Ungaran District, Semarang Regency. Based on the results of the survey that we have conducted on partners, namely young women, they have never received information related to stunting, its causes and dangers. Young women have never received education about the importance of preventing stunting. Young women are the main target because they are the ones who will give birth to a healthy and stunting-free generation, young women must have knowledge and understanding of the causes and prevention of stunting. The implementation of this activity was carried out using the education method for young women at An Nur Ungaran Middle School. The number of young women who participated in the education activity was 37 respondents. The method of implementing this community service activity began with an assessment using a questionnaire before education was carried out (pre-test), then providing education about the Healthy Reproductive Response Movement as an effort to prevent stunting and ending with an evaluation in the form of an assessment with a questionnaire (post-test). The results of the percentage of respondent evaluations before being given education were in the category of less understanding as much as 34.93.6%, quite understanding 25.89%, good understanding 32.76% and very good 6.92%. Participants' understanding increased after being given education, which was included in the very good category of 39.05%, good 55.93%, sufficient 3.61% and lacking 1.41%. Based on the participant's understanding questionnaire, it was found that after being given education there was an increase in understanding of the material given by 95.4%.   ABSTRAK SMP An Nur merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama yang terletak di Desa Gogik Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. Berdasarkan hasil survey yang telah kami lakukan terhadap mitra yaitu remaja putri  belum pernah mendapatkan informasi terkait stunting, penyebab dan bahayanya. Remaja putri belum pernah mendapatkan edukasi tentang pentingnya pencegahan stunting. Remaja putri menjadi sasaran utama karena mereka yang akan melahirkan generasi yang sehat dan bebas stunting, remaja putri harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang penyebab dan pencegahan terjadinya stunting. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan remaja tentang cara pencegahan stunting sejak dini. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan metode edukasi terhadap remaja putri di SMP An Nur Ungaran. Jumlah remaja putri yang mengikuti kegiatan edukasi yaitu 37 responden. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian Masyarakat ini diawali dengan memberikan penilaian menggunakan kuesioner sebelum dilakukan edukasi (pre test), selanjutnya pemberian edukasi gerakan tanggap sehat reproduksi serta diakhiri dengan evaluasi berupa penilaian dengan kuesioner (post test). Hasil persentase evaluasi responden sebelum diberikan edukasi masuk dalam kategori kurang paham sebanyak 34,93,6%, cukup paham 25,89%, pemahaman yang baik 32,76% dan sangat baik 6,92%. Pemahaman peserta mengalami peningkatan setelah diberikan edukasi yaitu termasuk dalam kategori sangat baik sebesar 39,05%, baik 55,93%, cukup 3,61% dan kurang sebanyak 1,41%. Berdasarkan kuesioner pemahaman peserta diketahui bahwa setelah diberikan edukasi terdapat peningkatan pemahaman tentang materi yang diberikan sebesar 95,4%. Kesimpulan dari kegiatan ini ada pengaruh pemberian edukasi kesehatan Gerakan Tanggap Sehat Reproduksi (RATASEKSI) pada Masa Remaja sebagai Upaya Pencehagan STUNTING (p value < α), (0,02 < 0,05)
Gambaran Fear of Childbirth Ibu Hamil dalam Menghadapi Persalinan di Puskesmas Lerep Ungaran Hasya Maylana Putri; Mawardika, Tina
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v8i1.3983

Abstract

Fear of Childbirth (FOC) is the fear that pregnant women experience in the face of childbirth, which can be influenced by factors such as previous childbirth experience, lack of knowledge, lack of family support, and inadequate preparation. This fear can affect maternal health and the labor process. This study aims to describe the level of fear of pregnant women in facing childbirth at Puskesmas Lerep, Ungaran. Quantitative research with descriptive analytic design. Population 150 pregnant women, sample 109 pregnant women. Data were collected through univariate analysis with frequency distribution. Most respondents (81.7%) were 20-35 years old, the majority were in the third trimester (37.6%), and 75.2% had the last education of SMA / SMK. High fear level was found in 40.4% of respondents, 28.4% had moderate fear, and 31.2% had low fear. Factors such as lack of information, previous labor experience, and social support played a role in the level of fear. The level of fear of pregnant women in facing labor is still quite high. It is expected that health centers provide further education, psychological counseling, and optimal assistance by health workers to reduce maternal anxiety before childbirth. Abstrak Fear of Childbirth (FOC) adalah ketakutan yang dialami ibu hamil dalam menghadapi persalinan, yang dapat dipengaruhi oleh faktor seperti pengalaman persalinan sebelumnya, kurangnya pengetahuan, kurangnya dukungan keluarga, dan persiapan yang belum memadai. Ketakutan ini dapat memengaruhi kesehatan ibu dan proses persalinan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tingkat ketakutan ibu hamil dalam menghadapi persalinan di Puskesmas Lerep, Ungaran. Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Populasi 150 ibu hamil, sampel 109 ibu hamil. Data dikumpulkan melalui analisis univariat dengan distribusi frekuensi. Sebagian besar responden (81,7%) berusia 20-35 tahun, mayoritas berada pada trimester tiga (37,6%), dan 75,2% memiliki pendidikan terakhir SMA/SMK. Tingkat ketakutan tinggi ditemukan pada 40,4% responden, 28,4% memiliki ketakutan sedang, dan 31,2% ketakutan rendah. Faktor seperti kurangnya informasi, pengalaman persalinan sebelumnya, dan dukungan sosial berperan dalam tingkat ketakutan. Tingkat ketakutan ibu hamil dalam menghadapi persalinan masih cukup tinggi. Diharapkan puskesmas memberikan edukasi lebih lanjut, konseling psikologis, dan pendampingan optimal oleh tenaga kesehatan untuk mengurangi kecemasan ibu menjelang persalinan.
Optimalisasi Self Efficacy dan Edukasi Pemanfaatan Pil Cantik sebagai Langkah Cegah Stunting (LAJANG GENTING) Mawardika, Tina; Umi Aniroh; Fiktina Vifri Ismiriyam; Khilvy Salsabila Az-Zahra; Alivia Desi Rahmawati; Dinda Hapsari
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.3730

Abstract

An Nur Junior High School is located in Gogik Village, East Ungaran District, Semarang Regency. According to a survey we conducted, adolescent girls—our primary focus group—have not previously received information regarding self-awareness (self-efficacy) in stunting prevention, nor have they been educated on the use of iron supplements, commonly referred to as “beautiful pills,” as a preventive measure. These young women have yet to be exposed to educational efforts aimed at utilizing beautiful pills to reduce the risk of stunting.Adolescent girls were chosen as the main target group because they represent future mothers who will bear the next generation, making it crucial that they are equipped with the knowledge and understanding necessary to prevent stunting. Community involvement is essential to effectively implement and promote the use of beautiful pills among this demographic.This initiative was carried out through an educational approach involving 35 female students from An Nur Junior High School. Prior to the educational session, an assessment of participants' understanding showed that 35.47% had low awareness, 28.54% had a moderate level of understanding, 30.12% demonstrated good understanding, and only 5.87% fell into the very good category. After the educational intervention, there was a marked improvement: 40.14% of participants reached the excellent category, 52.01% showed good understanding, 5.33% were categorized as sufficient, and only 2.62% remained with low understanding. Based on the post-education questionnaire, overall comprehension of the material increased by 97.48%.   ABSTRAK SMP An Nur merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama yang berlokasi di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Berdasarkan survei yang telah kami lakukan terhadap mitra sasaran, yaitu remaja putri, diketahui bahwa mereka belum pernah memperoleh informasi mengenai kesadaran diri (self-efficacy) dalam mencegah stunting serta pemanfaatan pil tambah darah (dikenal juga sebagai pil cantik) sebagai salah satu langkah pencegahan stunting. Hingga saat ini, edukasi mengenai penggunaan pil cantik sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting belum pernah diberikan kepada mereka. Remaja putri menjadi kelompok sasaran utama karena di masa depan mereka akan berperan sebagai ibu yang melahirkan generasi penerus, sehingga penting bagi mereka untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai mengenai penyebab serta langkah-langkah pencegahan stunting. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan dukungan dari masyarakat dalam mengimplementasikan penggunaan pil cantik secara efektif di kalangan remaja putri. Kegiatan ini dilaksanakan melalui metode edukasi yang menyasar remaja putri di SMP An Nur Ungaran, dengan jumlah peserta sebanyak 35 orang. Hasil evaluasi sebelum dilakukan edukasi menunjukkan bahwa pemahaman peserta masih rendah, dengan rincian: 35,47% tergolong kurang paham, 28,54% cukup paham, 30,12% memahami dengan baik, dan hanya 5,87% yang sangat paham. Setelah dilakukan edukasi, terjadi peningkatan signifikan, di mana 40,14% peserta masuk dalam kategori sangat baik, 52,01% baik, 5,33% cukup, dan hanya 2,62% yang masih kurang. Berdasarkan kuesioner evaluasi, terjadi peningkatan pemahaman peserta terhadap materi edukasi sebesar 97,48%.
SMART GenRe: Sehat Menjaga Reproduksi, Tahu Resiko dan Edukasi pada Remaja Mawardika, Tina; Umi Aniroh; Agung Wibowo; Alivia Desi Rahmawati; Ahmad Ali Rohman
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4408

Abstract

SMK Negeri 2 Salatiga is a vocational high school located in Dukuh Sidomukti, Salatiga, Central Java. A preliminary survey conducted among students revealed that they had never received information related to reproductive health, particularly regarding potential risks and strategies to maintain reproductive organ health. Adolescents are a vulnerable group with respect to reproductive health issues due to limited knowledge, environmental influences, and high curiosity. Insufficient accurate information may lead to risky sexual behavior, unintended pregnancies, sexually transmitted infections (STIs), and psychosocial problems. Evaluation of the activity was carried out using a pre-test and post-test method to measure the improvement of adolescents’ knowledge regarding reproductive health. In addition, observations were conducted to assess participants’ activeness during the educational sessions, and a satisfaction questionnaire was administered to evaluate the effectiveness of the activity and participants’ responses toward the SMART GenRe program. This community service activity aimed to improve adolescents’ knowledge, awareness, and skills in maintaining reproductive health through interactive education and participatory approaches. The program was implemented through health education sessions, group discussions, and case simulations. A total of 59 female students participated in the activity. Prior to the intervention, evaluation results showed that most respondents were in the “poor understanding” category (37.42%), followed by “fair” (26.59%), “good” (28.13%), and “very good” (7.86%). After the intervention, a significant improvement was observed, with the majority of participants categorized as “very good” (35.09%) and “good” (57.07%), while the “fair” category decreased to 6.29% and “poor” to only 1.66%. Based on questionnaire results, it was evident that the educational program improved participants’ understanding of the importance of maintaining reproductive organs, recognizing the risks of sexual behavior, and making healthy and responsible decisions. The overall effectiveness of the intervention was 96.23%. This activity is expected to serve as a sustainable intervention model for preventing adolescent reproductive health problems.   ABSTRAK SMK Negri 2 Salatiga merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan yang terletak di Dukuh Sidomukti Salatiga Jawa Tengah. Berdasarkan hasil survey yang telah kami lakukan terhadap mitra yaitu remaja yang bersekolah di SMK tersebut  belum pernah mendapatkan informasi terkait Kesehatan Reproduksi khususnya resiko yang ditimbulkan dan cara menjaga kesehatan organ reproduksi. Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi karena keterbatasan pengetahuan, pengaruh lingkungan, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Minimnya informasi yang benar dapat menimbulkan risiko perilaku seksual berisiko, kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual (IMS), hingga gangguan psikososial Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi melalui edukasi interaktif dan pendekatan partisipatif. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi. Selain itu, dilakukan observasi terhadap keaktifan peserta selama sesi edukasi dan pengisian kuesioner kepuasan untuk menilai efektivitas kegiatan dan respon peserta terhadap program SMART GenRe. Metode kegiatan dilakukan dalam bentuk penyuluhan, diskusi kelompok, serta simulasi kasus. Jumlah remaja putri yang mengikuti kegiatan edukasi yaitu 59 responden. Sebelum pelaksanaan edukasi, hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemahaman responden masih didominasi kategori kurang paham sebesar 37,42%, diikuti oleh cukup paham 26,59%, pemahaman baik 28,13%, dan sangat baik hanya 7,86%. Setelah intervensi edukasi diberikan, terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Mayoritas peserta berada pada kategori sangat baik sebesar 35,09% dan baik sebesar 57,07%, sementara kategori cukup menurun menjadi 6,29% dan kurang tinggal 1,66%. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner, diketahui adanya perbaikan pemahaman peserta setelah diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga organ reproduksi, memahami risiko perilaku seksual, serta mampu mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab  yang diberikan sebesar 96,23%.  Kegiatan ini diharapkan menjadi model intervensi berkelanjutan dalam upaya pencegahan masalah kesehatan reproduksi remaja.
Strategi Digital Kreatif VIRGIN (Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi) dalam Penguatan Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja Tina Mawardika; Umi Aniroh; Puji Purwaningsih; Fiktina Vifri Ismiriyam; Tutik Yuliyanti; Putra Aditya; Evagus Malinda
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2026
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v8i1.4910

Abstract

Adolescents are a vulnerable group in relation to reproductive health issues due to limited knowledge and exposure to unfiltered digital content. Innovative digital-based educational media are therefore needed to enhance reproductive health literacy while simultaneously promoting safe and creative digital literacy. The main objective is to enhance knowledge, promote healthy digital literacy skills, and strengthen the ability of teachers and students to use and critically evaluate digital information in a wise, safe, and responsible manner. This community service program was implemented at SMA Negeri 2 Ungaran and SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa through reproductive health education using VIRGIN (Innovative Animated Video on Reproductive Health), healthy digital literacy workshops with hands-on content analysis, and teacher mentoring in the use of animated videos as learning media. Program evaluation was conducted by assessing students’ knowledge before and after the intervention, as well as measuring improvements in participants’ and teachers’ capacities. The results demonstrated a significant increase in students’ knowledge following the VIRGIN-based educational intervention, with a p-value < α (0.03 < 0.05). The healthy digital literacy workshops were effective, with more than 80% of participants showing improved understanding and 78–85% demonstrating the ability to analyze digital content safely. Teacher mentoring enhanced pedagogical and digital competencies in approximately 85% of teachers, while 80–88% became more creative and confident in utilizing animated videos.Animated video–based reproductive health education integrated with healthy digital literacy is recommended for sustainable implementation and expansion to other educational institutions as a preventive strategy to empower adolescents to become informed, healthy, and digitally responsible individuals.              ABSTRAK Remaja merupakan kelompok rentan terhadap permasalahan kesehatan reproduksi akibat keterbatasan pengetahuan dan paparan konten digital yang tidak terfilter. Inovasi media edukasi berbasis digital diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan reproduksi sekaligus literasi digital secara aman dan kreatif. Tujuan utama darai kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan literasi digital sehat, serta kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan dan menyaring informasi digital secara bijak, aman, dan bertanggung jawab. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Ungaran dan SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa melalui pemberian edukasi kesehatan reproduksi menggunakan VIRGIN (Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi), workshop literasi digital sehat dengan praktik analisis konten, serta pendampingan guru dalam pemanfaatan video animasi sebagai media pembelajaran yang diikuti 70 siswa. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan siswa sebelum dan sesudah intervensi serta penilaian peningkatan kapasitas peserta dan guru. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa secara signifikan setelah edukasi VIRGIN dengan nilai p < α (0,03 < 0,05). Workshop literasi digital sehat terbukti efektif, dengan lebih dari 80% peserta mengalami peningkatan pemahaman dan 78–85% mampu menganalisis konten digital secara aman. Pendampingan guru meningkatkan kompetensi pedagogik dan digital pada sekitar 85% guru, serta mendorong 80–88% guru menjadi lebih kreatif dan percaya diri dalam menggunakan video animasi. Program edukasi kesehatan reproduksi berbasis video animasi dan literasi digital sehat direkomendasikan untuk diimplementasikan secara berkelanjutan dan diperluas ke satuan pendidikan lain sebagai strategi preventif dalam membentuk remaja yang cerdas, sehat, dan bijak dalam memanfaatkan media digital.
Penerapan Si PERI EMA Sebagai Strategi Edukasi Preventif Anemia Pada Remaja Putri di SMP An Nur Ungaran Umi Aniroh; Tina Mawardika
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v9i1.4738

Abstract

Anemia prevention is crucial because this condition of hemoglobin deficiency has serious impacts on health and productivity, such as chronic fatigue, decreased concentration and academic achievement, and weakened immune systems. In adolescent girls and pregnant women, anemia increases the risk of childbirth complications, premature births, low birth weight (LBW), and stunting. Anemia in adolescent girls remains a serious public health problem in Indonesia. Preventive efforts through health education are crucial, particularly with engaging media approaches such as animated videos. The aim is to determine the effectiveness of anemia risk prevention education (Si PERI EMA) on adolescent girls' knowledge of anemia risk prevention. This study used a quasi-experimental pretest–posttest with a control group design. The sample consisted of 30 respondents, divided into 15 respondents in the intervention group, who received a 10-minute animated video about Anemia Risk Prevention in Adolescent Girls, and 15 respondents in the control group. Data were analyzed descriptively (mean and SD), using paired sample t-tests to compare pretest and posttest results within each group, and independent sample t-tests to compare posttest results between groups. The average knowledge score increased significantly in the intervention group from 10.164 to 12.401, while in the control group the increase was insignificant from 9.283 to 9.342, with a p-value of 0.001 < α (0.05). Therefore, it can be concluded that education on anemia risk prevention using animated audiovisual media is effective in increasing knowledge among female students at An Nur Ungaran Middle School. Regular education about anemia using animated video media can be widely used in schools as part of adolescent health education programs.   Abstrak Pencegahan anemia sangat penting karena kondisi kekurangan hemoglobin ini berdampak serius pada kesehatan dan produktivitas, seperti kelelahan kronis, penurunan konsentrasi dan prestasi belajar, dan daya tahan tubuh lemah. Pada remaja putri dan ibu hamil, anemia meningkatkan risiko komplikasi persalinan, bayi prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), serta stunting. Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia.  Upaya pencegahan melalui pendidikan kesehatan sangat penting, terutama dengan pendekatan media yang menarik seperti video animasi dengan tujuan mengetahui efektifitas edukasi pencegahan risiko anemia  (Si PERI EMA) terhadap pengetahuan pencegahan risiko anemia pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan quasi-experimental pretest–posttest with control group design. Sampel terdiri dari 30 responden, yang terbagi menjadi  15 responden  pada kelompok intervensi yang diberikan perlakuan berupa pemberian  edukasi melalui video animasi berdurasi ±10 menit tentang Pencegahan Risiko Anemia pada Remaja Puteri  dan 15 responden untuk kelompok kontrol. Data dianalisis secara deskriptif  (mean dan SD) dan Paired Sample T-Test untuk membandingkan pretest dan posttest dalam masing-masing kelompok, dan Independent Sample T-Test untuk membandingkan hasil posttest antar kelompok. Rata-rata skor pengetahuan meningkat signifikan pada kelompok intervensi dari 10,164 menjadi 12,401, sedangkan pada kelompok kontrol peningkatan tidak signifikan dari 9,283 menjadi 9,342 dan nilai p-value (0,001) < α (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa edukasi   tentang pencegahan risiko anemia dengan media audiovisual  animasi efektif untuk meningkatkan pengetahuan pada siswi SMP An Nur Ungaran. Edukasi tentang anemia secara teratur menggunakan media video animasi dapat digunakan secara luas di sekolah-sekolah sebagai bagian dari program edukasi kesehatan remaja.