Antonius H. Pudjiadi
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Plasmaferesis Sebagai Terapi Sindrom Guillain-Barre Berat pada Anak Vimaladewi Lukito; Irawan Mangunatmadja; Antonius H. Pudjiadi; Tatang M. Puspandjono
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.448-55

Abstract

Plasmaferesis atau plasma exchange merupakan salah satu pilihan terapi bagi sindrom Guillain-Barreberat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa plasmaferesis dan imunoglobulin intravena (IVIg) sebagaiterapi sindrom Guillain-Barre memiliki efektivitas yang sama, namun penggunaan plasmaferesis padapasien anak lebih jarang dilakukan karena membutuhkan peralatan dan persiapan yang lebih kompleks.Tujuan dari laporan kasus untuk melaporkan terapi sindrom Guillain-Barre berat dengan menggunakanplasmaferesis pada pasien anak. Seorang anak perempuan usia 10 tahun dirawat di RSUPN. Dr. CiptoMangunkusumo dengan diagnosis sindrom Guillain-Barre. Pada hari kedua perawatan pasien mengalamiparalisis otot pernafasan sehingga pernafasan harus dibantu dengan ventilasi mekanik. Faktor ekonomi danketersediaan alat menyebabkan plasmaferesis dipilih sebagai terapi, dibandingkan dengan pengobatan IVIg.Plasmaferesis dilakukan empat kali dalam waktu satu minggu dengan menggunakan fraksi protein. Efeksamping plasmaferesis berupa hipotensi dan sepsis yang ditangani dengan pemberian cairan dan antibiotik.Fungsi motorik pasien berangsur membaik dalam waktu satu minggu. Ventilasi mekanik dilepas setelahduapuluh enam hari dan pasien dipulangkan setelah dua bulan perawatan. Plasmaferesis dan IVIg memilikiefektifitas yang sama sebagai terapi sindrom Guillain-Barre berat. Keputusan untuk memilih salah satu terapitersebut berdasarkan pada keadaan klinis pasien, sistem penunjang, dan kemampuan ekonomi orang tuapasien.
Hiponatremia pada Anak Pasca Tindakan Operasi : Etiologi dan Faktor-faktor yang Berhubungan Angelina Arifin; Antonius H. Pudjiadi; Setyo Handryastuti; Idham Amir; Evita B. Ifran; Mulya R. Karyanti
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.149 KB) | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.63-70

Abstract

Latar belakang. Kejadian hiponatremia pada anak pasca-operasi berkisar antara 20-40%. Hiponatremia yang tidak terdeteksi dapat meningkatkan mortalitas dan menyebabkan luaran neurologis yang buruk. Beberapa mekanisme yang berperan adalah sindrom hormon antidiuretik tidak tepat (SHATT) dan sick cell syndrome (SCS). Tujuan. Mengetahui insidens hiponatremia pada anak pasca-operasi, kemungkinan penyebab yang melatarbelakangi, serta faktor yang berhubungan.Metode. Penelitian potong lintang analitik dilakukan di ruang perawatan intensif terhadap anak berusia 1 bulan sampai 18 tahun yang menjalani tindakan operasi mayor dan masuk ruang perawatan intensif pediatrik RSCM selama bulan Mei sampai Desember 2016.Hasil. Terdapat 65 subyek menjalani operasi mayor, 87,69% dilakukan secara elektif, jenis operasi terbanyak adalah hepato-gastrointestinal (38,46%) dan muskuloskeletal (20,00%). Kadar natrium plasma pasca-operasi turun, kejadian hiponatremia 43,07% dan 26,16% pada 12 dan 24 jam pasca-operasi. Nilai osmolalitas plasma yang normal atau meningkat dan osmolalitas urin >100 mOsm/kg. Sebanyak 70% subyek hiponatremia memiliki natrium urin >30 mEq/L. Faktor yang berhubungan dengan hiponatremia 12 jam pasca-operasi adalah status kegawatdaruratan operasi (p=0,007) dan perdarahan intraoperatif (p=0,024), sedangkan pada 24 jam pasca-operasi hanya status kegawatdaruratan operasi (p=0,001).Kesimpulan. Terdapat 43,07% dan 26,16% subyek yang mengalami hiponatremia pada 12 dan 24 jam pasca-operasi mayor. Sindrom hormon antidiuretik tidak tepat tidak terbukti menjadi penyebab utama terjadinya hiponatremia, dan hiponatremia translokasional pada SCS mungkin berperan. Hiponatremia pasca-operasi berhubungan dengan status kegawatdaruratan operasi dan jumlah perdarahan intraoperatif.
Pedoman Resusitasi Syok Septik “Surviving Sepsis Campaign” Butuh Penyesuaian Antonius Hocky Pudjiadi
Sari Pediatri Vol 21, No 5 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.5.2020.329-32

Abstract

Surviving sepsis campaign (SSC) mengeluarkan pedoman tata laksana klinis pasien sepsis. Pedoman tata laksana ini dibuat atas dasar ilmu kedokteran berbasis bukti berdasarkan data pasien sepsis dewasa. Dalam panduannya, terdapat target-target tata laksana yang perlu dicapai dalam batas waktu tertentu, termasuk target hemodinamik sebagai panduan resusitasi, seperti jumlah cairan resusitasi, rerata tekanan arteri, dan tekanan vena sentral. Makalah ini bertujuan untuk mengupas permasalahan dari adaptasi target SSC, khususnya pada pasien anak di Indonesia.
Insidens Kandidemia di Paediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Doddy Kurnia Indrawan; Antonius H Pudjiadi; Abdul Latief Latief
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.865 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.182-6

Abstract

Latar belakang. Kandidemia menjadi salah satu masalah di PICU, angka ejadiannya meningkat setiap tahun dengan angka kematian yang tinggi, serta memperpanjang masa rawat di rumah sakit. Sampai saat ini, data insidens kandidemia pada anak masih terbatas.Tujuan. Mengetahui insidens kandidemia di PICU RSCM.Metode. Penelitian retrospektif dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo dengan mencatat data rekam medis pasien kandidemia pada anak periode 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2014. Hasil. Didapatkan 32 kejadian kandidemia dalam kurun waktu pengambilan data. Median usia pasien 12,8 bulan, 57,7% berjenis kelamin laki-laki. Sebagian besar pasien mengalami gizi kurang, 69,2% kasus bedah dan 30,8% non bedah. Penggunaan steroid 11,5%. Selama perawatan di PICU, 96,2% pasien menggunakan ETT, 100% menggunakan kateter vena sentral dan kateter urin. Pasien yang menggunakan antibiotik >15 hari 80,8%. Median skor awal PELOD adalah 12. Median waktu pemberian anti jamur 15,8 hari perawatan di PICU, luaran hidup 65,4%, rerata lama rawat PICU 25,8 hari. Penyakit yang mendasari perawatan di PICU 7,7% infeksi saluran pernapasan, 3,8% infeksi sistem saraf, 19,2% syok sepsis, 3,8% pascabedah kepala leher, 11,5% pasca bedah dada, dan 53,8 pasca bedah abdomen. Rerata lama pemggunaan ETT 10,04 hari, kateter vena sentral 15,65 hari, dan kateter urin 11,15 hari. Jenis kandida terbanyak adalah kandida parapsilosis. Lebih dari dua antibiotik diberikan pada 76,8% pasien sebelum mendapatkan anti jamur.Kesimpulan. Kejadian kandidemia serupa dengan negara berkembang lainnya dan ditemukan meningkat pada pasien dengan status gizi kurang, pasacabedah, penggunaan alat medis invasif, dan penggunaa antibiotik >15 hari.
Validitas Stroke Volume Variation dengan Ultrasonic Cardiac Output Monitor (USCOM) untuk Menilai Fluid Responsiveness I Nyoman Budi Hartawan; Antonius H Pudjiadi; Abdul Latief; Rismala Dewi; Irene Yuniar
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.003 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.367-372

Abstract

Latar belakang. Stroke volume variation (SVV) adalah parameter hemodinamik untuk menilai fluid responsiveness. Pengukuran SVV dapat dilakukan dengan USCOM yang merupakan alat pemantauan hemodinamik non invasif berbasis ekokardiografi Doppler.Tujuan. Mengetahui nilai cut-off point (titik potong optimal) SVV dengan USCOM sebagai prediktor fluid responsiveness pada pasien dengan ventilasi mekanik.Metode. Penelitan dilaksanakan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan menggunakan peningkatan stroke volume (SV) setelah challenge cairan ringer laktat 10 mL/kg berat badan selama 15 menit sebagai indek. Subyek penelitian adalah pasien dengan usia ≥1 bulan dan ≤18 tahun yang menggunakan ventilasi mekanik. Peningkatan nilai SV ≥10% disebut responder dan <10% disebut non responder. Pengukuran SV dengan USCOM dilakukan sebelum dan setelah fluid challenge, dan pengukuran SVV dilakukan sebelum challenge cairan.Hasil. Terdapat 32 subyek ikut serta dalam penelitian. Area under curve (AUC) subyek ventilasi mekanik adalah 76,6% (IK95%:60,1%-93,1%), p<0,05. Titik potong optimal SVV adalah 30%, dengan sensitivitas 72,7% dan spesisifitas 70%.Kesimpulan. Ultrasonic cardiac output monitor (USCOM) memiliki validitas yang baik untuk menilai SVV pada pasien dengan ventilasi mekanik. 
Prevalens dan Faktor Risiko Infeksi Luka Operasi Pasca-bedah Lina Haryanti; Antonius H. Pudjiadi; Evita Kariani B. Ifran; Amir Thayeb; Idham Amir; Badriul Hegar
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.063 KB) | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.207-12

Abstract

Latar belakang. Infeksi luka operasi (ILO) merupakan salah satu komplikasi pasca-bedah abdomen yang dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan biaya pengobatan. Diperlukan data prevalens ILO pasca-bedah abdomen pada anak di RSCM dan faktor risiko yang memengaruhinya.Tujuan. Mengetahui prevalens dan karakteristik ILO serta hubungan antara usia, jenis kelamin, status nutrisi, skor PELOD, skor ASA, jenis operasi, kategori luka operasi, dan lama operasi dengan ILO pasca-bedah abdomen pada anak.Metode. Data penelitian dari rekam medis tahun 2009-2011 pada anak pasca-bedah abdomen dengan besar sampel 180 subjek. Analisis statistik dengan uji Chi-square/Fisher dan regresi logistik.Hasil. Prevalens ILO pasca-bedah abdomen pada anak di RSCM selama tiga tahun 7,2%. Infeksi luka operasi merupakan 23,6% dari total infeksi nosokomial pasca-bedah abdomen di RSCM. Enam dari 13 subjek dengan ILO mengalami sepsis dan 2 di antaranya meninggal karena sepsis. Tiga jenis ILO, yaitu ILO insisional superfisial (9 subjek), ILO insisional dalam (2 subjek), dan ILO organ (2 subjek). Terdapat hubungan bermakna antara jenis operasi cito dengan ILO (p=0,007, RO 4,72;95%IK 1,54-14,42). Sedangkan variabel lainnya tidak berhubungan bermakna.Kesimpulan. Jenis operasi cito merupakan faktor risiko ILO pasca-bedah abdomen pada anak di RSCM Jakarta. Perlu penelitian prospektif dengan sampel yang lebih besar.
Faktor Risiko yang Berperan pada Mortalitas Sepsis Desy Dewi Saraswati; Antonius H. Pudjiadi; Mulyadi M. Djer; Bambang Supriyatno; Damayanti R. Syarif; Nia Kurniati
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.655 KB) | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.281-8

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama kematian bayi dan anak. Status imun pejamu dan malnutrisi merupakan faktor penting yang menentukan luaran pada sepsis. Skor pediatric logistic organ dysfunction (PELOD) adalah sistem skoring disfungsi organ pada sakit kritis, untuk memprediksi mortalitas pasien sepsis.Tujuan. Mengetahui faktor risiko usia, status gizi, dan skor PELOD terhadap mortalitas sepsis.Metode. Retrospektif analitik berupa data rekam medis pasien berusia 1 bulan – 18 tahun di PICU RSCM bulan Apri1- Agustus 2011 dengan diagnosis sepsis menurut kriteria konsensus sepsis internasional.Hasil. Sembilanpuluh dua dari 209 pasien mengalami sepsis, 22 (23,9%) di antaranya meninggal. Median usia subjek 15 (rentang 2-192) bulan dengan sebaran terbanyak pada kelompok usia 1 bulan – 1 tahun (62%). Sebagian besar subjek (57,61%) memiliki status gizi kurang. Fokus infeksi tersering adalah infeksi saraf pusat dan gastrointestinal, masing-masing 32 (34,77%) subjek. Gizi buruk (p<0,001; OR 26,88;IK95% 4,74-152,61) dan skor PELOD ≥20 (p<0,001; OR 78,8;IK95%14,23-436,36) merupakan faktor risiko yang secara independen berperan terhadap mortalitas sepsis pada anak.Kesimpulan. Gizi buruk dan skor PELOD ≥20 berperan terhadap mortalitas sepsis pada anak. Usia <5 tahun tidak terbukti sebagai faktor risiko mortalitas sepsis pada anak.
Resusitasi Cairan: dari Dasar Fisiologis hingga Aplikasi Klinis Antonius H Pudjiadi
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.409-16

Abstract

Resusitasi cairan merupakan langkah penting tatalaksana renjatan pada anak. Kebutuhan resusitasi cairan sangat individual. Pemberian cairan yang tidak tepat dapat membahayakan  pasien. Tinjauan pustaka ini akan membahas fisiologi dasar sistem hemodinamik, khususnya dalam kaitannya dengan resusitasi cairan. Berbagai protokol pemberian resusitasi cairan akan dibahas secara teknik, serta masalahnya pada penggunaannya dalam klinis.
Hubungan antara Kadar High Density Lipoprotein dengan Derajat Sepsis Berdasarkan Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction Emi Yulianti; Antonius H. Pudjiadi; Mardjanis Said; E.M. Dady Suyoko; Hindra Irawan Satari; Pramita Gayatri
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.041 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.116-21

Abstract

Latar belakang. Sepsis masih merupakan penyebab kematian terbesar di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Peran high density lipoprotein(HDL) pada keadaan sepsis mengikat dan menetralisir lipopolisakarida (LPS), menghambat adhesi molekul dalam kaskade inflamasi, dan sebagai antioksidan.Tujuan. Mengetahui profil HDL pada anak sepsis serta mengetahui hubungan kadar HDL dengan derajat sepsis berdasarkan skor pediatric logistic organ dysfunction (PELOD). Metode.Studi potong lintang pada anak sepsis di PICU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) usia 1 bulan- 18 tahun antara April-Agustus 2011.Hasil. Didapatkan 34 subjek, dengan sebaran terbanyak pada kelompok usia <2 tahun (19/34). Terdapat hubungan antara kematian dengan skor PELOD >20 (p=0,000). Lima dari 7 pasien dengan skor PELOD >20 ditemukan mempunyai kadar HDL rendah (p=1). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara kematian dengan kadar HDL (p=0,248). Terdapat korelasi lemah berbanding terbalik antara kadar HDL dengan skoring PELOD tetapi tidak bermakna secara statistik (r =-0,304, p = 0,080)Kesimpulan. Pasien sepsis dengan skor PELOD tinggi cenderung memiliki kadar HDL rendah.
Fungsi Adrenal pada Sepsis di Unit Perawatan Intensif Pediatrik R. Irma Rachmawati; Dwi Putro Widodo; Bambang Tridjaja AAP; Antonius H. Pudjiadi
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.821 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.426-32

Abstract

Latar belakang. Insufisiensi adrenal sering dijumpai pada pasien syok septik dan berhubungan dengankejadian syok refrakter katekolamin dan peningkatan mortalitas.Tujuan. Mengetahui profil fungsi adrenal pada anak yang menderita sepsis di Unit Perawatan IntensifPediatrik RSCM.Metode. Penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Semua subjek menjalani uji stimulasikortikotropin dosis standar. Insufisiensi adrenal (IA) ditegakkan jika respons peningkatan kortisol terhadapuji (􀀧 maks) 􀁤9 μg/dl dan dikelompokkan menjadi absolut (IAA) jika kortisol pra-uji t0 <20 μg/dl danrelatif (IAR) jika t0 􀁴20 μg/dl.Hasil. Tiga puluh anak sepsis (18 laki-laki) diikutsertakan dalam penelitian. usia median adalah 29 (1-153)bulan dan median skor PELOD 12,5 (0-33). Insufisiensi adrenal dijumpai pada 8 (26,7%) pasien (2 IAA and6 IAR), lebih sering pada perempuan (p=0,003), serta cenderung lebih sering pada syok septik (p=0,682).Median t0 32,75 (4,23-378) μg/dl, t30-60 48,20 (16,70-387) μg/dl, dan 􀀧 maks 15,40 (0,90-60,80) μg/dl. Kadar t0 dan t30-60 lebih tinggi pada kelompok syok septik (p=0,03 dan p=0,01) namun tidak berbedaantara subjek dengan dan tanpa IA. Terdapat kecenderungan korelasi positif antara skor PELOD dengant0 dan t30-60 (r=0,7; dan r=0,6; p􀁤0,001). Hipotensi sistolik dijumpai pada seluruh subjek dengan IA dansyok refrakter katekolamin cenderung lebih sering pada kelompok IA (p=0,67). Mortalitas 36,7%, tidakberbeda antara subjek dengan dan tanpa IA.Kesimpulan. Insufisiensi adrenal sering dijumpai pada yang menderita anak sepsis dan harus dipertimbangkanpada kondisi syok septik. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menentukan efektivitas terapi steroid.