Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search
Journal : SPASIAL

ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN SEKITAR JALAN LINGKAR KOTA MANADO Malau, Febri Irwandi; Mononimbar, Windy; Rate, Johanes Van
SPASIAL Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan Pemanfaatan ruang merupakan faktor dominan yang mengarahkan dan membentuk struktur suatu kota. Perubahan ini akan mengakibatkan peningkatan produktivitas guna lahan dalam bentuk alih fungsi maupun peningkatan intensitas ruang. Perkembangan ruang di kawasan perkotaan tersebut, cenderung mengalami perubahan fungsi kawasan dari kawasan tidak terbangun menjadi kawasan terbangun. Masalah yang terjadi akibat dari perubahan tersebut, mengakibatkan daya dukung lahan dan kelestarian lingkungan hidup di masa yang akan datang mengalami gangguan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kesesuian pemanfaatan ruang dengan arahan perencanaan yang ada di kawasan sekitar jalan lingkar Kota Manado. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan analisis spasial/keruangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan bantuan perangkat lunak/software Arcmap 10.3. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bentuk struktur ruang di kawasan sekitar jalan lingkar Kota Manado mendekati konsep konsentris dan pola ruangnya terdiri atas fungsi lindung 302,28 Ha (13,43%) dan fungsi budidaya 1948,60 (86,57%), untuk kesesuaian struktur ruang sudah sesuai dengan arahan perencanaan yang ada karena sudah mampu melayani masyarakat yang ada di kawasan sekitar jalan lingkar, sedangkan pola ruang belum sesuai dengan arahan perencanaan yang ada karena terdapat ketidaksesuaian yaitu sebagai fungsi lindung 104,91 Ha (4,66%) dan fungsi budidaya 633,18 Ha (28,13%).                                                      Kata Kunci : Jalan Lingkar, Kota Manado, Pemanfaatan Ruang 
ANALISIS KAWASAN MINAPOLITAN DANAU TONDANO DI KABUPATEN MINAHASA Kuhu, Raine Amelia; Wuisang, Cynthia E. V.; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minapolitan merupakan konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan. Terwujudnya kawasan Minapolitan itu sendiri dilihat dari ketersediaan prasarana dan sarana pendukung kawasan. Selain dari ketersediaan prasarana dan sarana, penggunaan lahan/ ruang baik pada perairan maupun pada daerah sempadan harus diperhatikan sesuai dengan standart fisik yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait. Kecamatan Kakas dan Eris, Kabupaten Minahasa, merupakan lokasi yang sudah ditetapkan dalam surat penetapan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan pemerintah kabupaten dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Minahasa tahun 2014-2034 untuk dijadikan sebagai Kawasan Minapolitan Danau Tondano. Proses pengambilan data dilakukan dalam bentuk wawancara kepada para petani ikan selaku responden, untuk mengetahui ketersediaan prasana dan sarana pendukung kawasan Minapolitan. Sedangkan, untuk penggunaan lahan/ ruang baik pada daerah perairan maupun sempadan, data diolah berdasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Minahasa, juga peta citra Kecamatan Eris dan Kakas yang kemudian diolah menggunakan sowftware ArcGis 10.3 untuk melihat luasan penggunaan ruang pada perairan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis spasial. Berdasarkan hasil identifikasi kawasan serta analisis yang dilakukan dengan mengacu pada standart fisik pembangunan, ketersediaan prasarana dan sarana pendukung di Kecamatan Eris dan Kakas tidak memadai. Juga, tidak adanya perhatian tentang limbah terkait aktivitas masyarakat seperti proses pembudidayaan dan permukiman masyarakat yang berada pada sempadan danau. Aktivitas masyarakat tersebut menimbulkan masalah terkait pertumbuhan hama dan pencemaran pada danau yang meningkat dengan pesat. Dengan tidak adanya perhatian pembangunan fisik terkait daerah sekitar ekosistem danau, akan membuat fungsi, kualitas dan kelestariannya menurun. Kata Kunci : Kawasan Minapolitan, Prasarana Sarana, Penggunaan Lahan, Danau Tondano
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KORIDOR JALAN BOULEVARD AMURANG Langoy, Rilly Algi O.; Mononimbar, Windy; Hanny, Poli
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan lahan di suatu wilayah selalu terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas penduduk di suatu tempat berdampak pada meningkatnya perubahan penggunaan lahan. Salah satu contoh yang terjadi yaitu perubahan di sepanjang koridor jalan Boulevard Amurang. Amurang merupakan salah satu kota yang berkembang dengan jumlah penduduk yang setiap harinya meningkat serta memiliki berbagai macam kegiatan perkotaan yang bervariasi yang menyebabkan kebutuhan akan ruang juga meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan dan mengkaji faktor ? faktor apa yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di koridor Jalan Boulevard Amurang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan metode deskriptif dan menggunakan analisis SIG (Sistem Informasi Geografi). Perubahan penggunaan lahan di koridor Jalan Boulevard Amurang meliputi perubahan luas lahan dan fungsi lahan serta fungsi bangunan. Perubahan tersebut cenderung meningkat setiap tahunnya perubahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun sebesar 7.39 ha atau sebesar 18.27%. Jenis perubahan fungsi lahan yang terjadi yaitu perubahan fungsi dari tanah kosong menjadi perdagangan jasa, hunian menjadi perdagangan jasa, hunian menjadi perdagangan jasa sekaligus hunian, dan perdagangan jasa menjadi perdagangan jasa lainnya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Koridor boulevard adalah penduduk, aksesibiltas, prasarana dan sarana, daya dukung lahan, ekonomi.Kata Kunci: Amurang, Koridor Jalan, Perubahan Penggunaan Lahan
EVALUASI TINGKAT KEKUMUHAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA TOMOHON Kamuh, Amelia; Mononimbar, Windy; Poli, Hanny
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Tomohon pada tahun 2016 teridentifikasi memiliki kawasan permukiman kumuh yakni sebesar 3,89 ha yang terbagi atas 8 kawasan yakni lingkungan II Kayawu, lingkungan II Kampung Jawa, lingkungan III Talete 1 dengan kategori Kumuh Sedang, dan lingkungan II Tinoor 1, lingkungan II Tinoor 2, lingkungan III Tondangow, lingkungan III Pangolombian, lingkungan II Lahendong dengan kategori Kumuh Berat. Hal ini telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Walikota Kota Tomohon Nomor 271 Tahun 2016 Tentang Penetapan Lokasi Kawasan Permukiman Kumuh. Namun dalam perkembangannya pada tahun 2019 ini diduga telah terjadi perubahan tingkat kekumuhan oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi tingkat kekumuhan dan kondisi aspek permukiman. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis skoring dengan 7 indikator yaitu kondisi bangunan, kondisi jalan, kondisi air minum, kondisi drainase, kondisi air limbah, kondisi persampahan, dan kondisi proteksi kebakaran untuk menghasilkan penilaian tingkat kekumuhan pada 8 kawasan permukiman kumuh yang ada di Kota Tomohon  pada tahun 2019. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi diketahui bahwa seluruh 8 kawasan lingkungan kumuh di Kota Tomohon mengalami penurunan tingkat kekumuhan dari sedang dan berat menjadi ringan. Penurunan tingkat kekumuhan ini didorong oleh beberapa faktor seperti program-program dari pemerintah yaitu bedah rumah/RTLH, rehabilitasi jalan lingkungan, pembuatan drainase, dan pembuatan sumber air bersih serta tingginya peran dan partisipasi masyarakat dalam menata lingkungan permukiman kumuh. Adapun aspek permukiman yang mengalami peningkatan signifikan sehingga memberikan dampak terhadap tingkat kekumuhan terdapat pada aspek prasarana permukiman yaitu jalan lingkungan, drainase lingkungan, sumber air bersih dan pengelolaan air limbah. Kata Kunci: Evaluasi, Kota Tomohon, Permukiman Kumuh, Tingkat Kekumuhan
ANALISIS KAWASAN MINAPOLITAN DANAU TONDANO DI KABUPATEN MINAHASA Kuhu, Raine Amelia; Wuisang, Cynthia E.V.; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minapolitan merupakan konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan. Terwujudnya kawasan Minapolitan itu sendiri dilihat dari ketersediaan prasarana dan sarana pendukung kawasan. Selain dari ketersediaan prasarana dan sarana, penggunaan lahan/ ruang baik pada perairan maupun pada daerah sempadan harus diperhatikan sesuai dengan standart fisik yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait. Kecamatan Kakas dan Eris, Kabupaten Minahasa, merupakan lokasi yang sudah ditetapkan dalam surat penetapan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan pemerintah kabupaten dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Minahasa tahun 2014-2034 untuk dijadikan sebagai Kawasan Minapolitan Danau Tondano. Proses pengambilan data dilakukan dalam bentuk wawancara kepada para petani ikan selaku responden, untuk mengetahui ketersediaan prasana dan sarana pendukung kawasan Minapolitan. Sedangkan, untuk penggunaan lahan/ ruang baik pada daerah perairan maupun sempadan, data diolah berdasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Minahasa, juga peta citra Kecamatan Eris dan Kakas yang kemudian diolah menggunakan sowftware ArcGis 10.3 untuk melihat luasan penggunaan ruang pada perairan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis spasial. Berdasarkan hasil identifikasi kawasan serta analisis yang dilakukan dengan mengacu pada standart fisik pembangunan, ketersediaan prasarana dan sarana pendukung di Kecamatan Eris dan Kakas tidak memadai. Juga, tidak adanya perhatian tentang limbah terkait aktivitas masyarakat seperti proses pembudidayaan dan permukiman masyarakat yang berada pada sempadan danau. Aktivitas masyarakat tersebut menimbulkan masalah terkait pertumbuhan hama dan pencemaran pada danau yang meningkat dengan pesat. Dengan tidak adanya perhatian pembangunan fisik terkait daerah sekitar ekosistem danau, akan membuat fungsi, kualitas dan kelestariannya menurun.Kata kunci: Kawasan Minapolitan, Prasarana Sarana, Penggunaan Lahan, Danau Tondano
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN SORONG Da Costa, Alarico; Mononimbar, Windy; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Distrik Aimas di Kabupaten Sorong merupakan salah satu Distrik yang kondisi lahannya harus diperhatikan karena merupakan wilayah yang makin berkembang salah satunya adalah permukiman. Kondisi fisik lahan di Distrik Aimas sangat bervariasi mulai dari morfologi bergunung dan kemiringan lereng yang curam oleh karena itu perlu dianalisis kemampuan dan kesesuaian lahan untuk pengembangan permukiman yang ada di Distrik Aimas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan analisis spasial dengan bantuan SIG (Sistem Informasi Geografis). Analisis data menggunakan pedoman Permen PU No.20/PRT/M/2007 tentang teknik analisis fisik dan lingkungan, ekonomi serta sosial budaya dalam penyusunan tata ruang. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik superimpose/overlay (tumpang tindih) dan analisis skoring untuk pemberian nilai setiap parameter. Tahap analisis ini ialah menggabungkan setiap parameter SKL untuk mendapatkan satuan kemampuan lahan setelah mengetahui daya dukung suatu lahan, selanjutnya digabungkan berdasarkan aspek kesesuaian lahan untuk mendapatkan arahan yang sesuai untuk permukiman. Dari hasil analisis yang dilakukan pada aspek arahan tata ruang pertanian, arahan rasio penutupan, arahan ketinggian bangunan, arahan pemanfaatan air baku, dan perkiraan daya tampung lahan bahwa kesesuaian lahan permukiman di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, memiliki 4 kelas kesesuaian lahan permukiman yaitu Kelas N2, Kelas N1, Kelas S2, Kelas S1. Kelas N2 yakni lahan tidak sesuai untuk permukiman dan tidak ada permukiman, Kelas N1 yakni lahan tidak sesuai untuk permukiman tetapi pada saat ini sudah ada permukiman, Kelas S2 yakni lahan sesuai untuk permukiman tetapi tidak ada permukiman dan Kelas S1 yakni lahan sesuai untuk permukiman dan pada saat ini sudah terbangun permukiman. Kelas kesesuaian lahan yang mendominasi di Distrik Aimas adalah Kelas N2.Kata Kunci: Kabupaten Sorong, kesesuaian lahan, permukiman.
STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KECAMATAN AIRMADIDI DAN KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Laipi, Cornelia Inri; Rondonuwu, Dwight; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata yang merupakan industri besar yang dapat berkontribusi untuk meningkatkan pendapatan daerah maupun Negara. Hal telsebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi-potensi wisata dan pengembangan fasilitas infrastrukturnya. Daerah yang memiliki potensi wisata seperti Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara harus dikembangkan dan dimanfaatkan agar terlihat signifikan bagi para wisatawan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi-potensi wisata, dan menganalisis strategi pengembangan pariwisata. Metode penelitian ini dilakukan dengan random sampling dan  analisis SWOT yang mengacu pada teori pariwisata yaitu 3A (Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas/Fasilitas). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa potensi-potensi pariwisata yang ada Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat cukup beragam, terdiri dari daya tarik wisata alam, budaya dan buatan, seperti Gunung Klabat, Arung Jeram Sawangan, peninggalan warisan budaya Waruga, Mata Air Tumatenden, Goa Jepang, Monumen Walanda Maramis, River Park Sawangan, Raewaya Hills, Hutan Kota Kuwil, Hutan Kota Kenangan, dan Kaki Dian. Namun pengelolaan pada sejumlah lokasi wisata tersebut kurang baik misalnya fasilitas yang belum ada seperti toilet, tempat sampah, akses jalan yang masih berbatu dan berlubang serta belum adanya transportasi yang dikhususkan untuk ke lokasi wisata. Melalui analisis SWOT yang dilakukan maka dapat dirumuskan strategi pengembangan pariwisata di Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat, yakni membangun infrastruktur pendukung pariwisata dengan pengawasan dan pemeliharaan terhadap fasilitas-fasilitas wisata yang sudah tersedia, peningkatkan kerjasama dengan pihak investor untuk mengembangkan potensi –potensi wisata yang ada di Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara.Kata Kunci : Strategi Pengembangan, Pariwisata, Analisis SWOT, Minahasa Utara
STUDI KELAYAKAN KAWASAN PERKOTAAN RATAHAN SEBAGAI KOTA RAMAH ANAK Poludu, Ruth Wahyuni; Syafriny, Reny; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan Kota Ramah Anak akan memberikan kontribusi bagi kesejahteraan anak, khususnya masyarakat yang tinggal dan menetap di suatu wilayah. Kontribusi yang diberikan misalnya anak mampu memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan budaya, serta yang terpenting anak mendapatkan hak-haknya dalam menggunakan fasilitas-fasilitas umum. Konsep ini belum sepenuhnya diterapkan di berbagai kota di Indonesia salah satunya di Kawasan Perkotaan Ratahan yang merupakan pusat kegiatan Kabupaten Minahasa Tenggara. Hal ini berdasarkan pengamatan awal bahwa secara makro ketersediaan prasarana dan sarana belum layak untuk mendukung konsep kota ramah anak sementara di Kabupaten Minahasa Tenggara telah mendapatkan penghargaan kategori Pratama sebagai kabupaten ramah anak. Oleh karena itu maka dilakukan penelitian yang bertujuan pertama untuk mengetahui persepsi anak tentang lingkungan tempat tinggal yang diinginkan, kedua untuk mengidentifikasi kondisi prasarana dan sarana sebagai penunjang kota ramah anak, ketiga untuk mengetahui kelayakan Kawasan Perkotaan Ratahan sebagai kota ramah anak dari segi persepsi anak dan kondisi eksisting yang diuraikan secara deskriptif. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan observasi kondisi Kawasan Perkotaan Ratahan dan wawancara kepada anak yang merupakan responden melalui gambar. Hasilnya adalah sebagian besar anak berpersepsi bahwa lingkungan tempat tinggal bersama teman dengan adanya taman bermain di sekolah dan di lingkungan sekitar rumah merupakan keinginan mereka sementara di Kawasan Perkotaan Ratahan belum tersedia bermain, sebaran sekolah sebagian besar belum ramah anak serta jalan yang ada juga belum ramah anak sehingga dapat dikatakan persepsi anak belum diikutsertakan dalam menunjang kota ramah anak di Kawasan Perkotaan Ratahan.Kata kunci: Kawasan perkotaan, kota ramah anak, studi kelayakan.
ANALISIS TINGKAT LAHAN KRITIS BERBASIS SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) (STUDI KASUS: KECAMATAN AMURANG, KECAMATAN AMURANG TIMUR, KECAMATAN AMURANG BARAT, DAN KECAMATAN TUMPAAN) Tuhehay, Krisandi; Gosal, Pierre H.; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan kritis merupakan tanah yang mengalami atau dalam proses kerusakan kimia, fisik, dan biologi yang dapat mengganggu atau kehilangan fungsinya di dalam lingkungan. Kondisi ini dapat merusak tata air dan lingkungan sekitarnya. Dampak dari lahan kritis adalah penurunanan tingkat kesuburan tanah, berkurangnya ketersediaan sumber air pada musim kemarau serta banjir pada musim hujan. Seperti diketahui pada tahun 2018 hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah tempat di Kabupaten Minahasa Selatan. Dari aspek penggunaan lahan daerahnya merupakan dominasi penggunaan lahan berupa kebun campuran dan tegalan/ladang, penggunaan lahan seperti ini merupakan penggunaan lahan yang kurang baik apabila pengelolaanya tidak didasarkan pada kaidah-kaidah konservasi tanah maka lahan dapat menjadi rusak dan cenderung akan berubah menjadi lahan agak kritis atau kritis.  Penyebab utama lahan kritis pada daerah penelitian adalah karena aktivitas pertanian yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian lahan. Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode skoring dapat digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai pengelolaan lahan secara tepat untuk menghindari kerusakan ekosistem yang ada. Peta tingkat lahan kritis dihasilkan dari overlay peta kemiringan lereng, penutupan tajuk, bahaya erosi, dan manajemen lahan yang sesuai dengan peraturan Departemen Kehutanan No. P.4/V-SET/2013. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahuilah persebaran tingkat lahan kritis yang ada di Kecamatan Amurang terdapat tingkat potensial kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang meliputi Kelurahan Bitung, Buyungon, Kilometer tiga, Lewet, Ranoketang tua, dan Uwuran satu. Kecamatan Amurang Barat terdapat tingkat agak kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang Barat meliputi Kelurahan Elusan, Kapitu, Kawangkoan bawah, Pondos, Desa rumoong bawah, Teep, Tewasen, Wakan, dan Rumoong bawah. Kecamatan Amurang Timur terdapat tingkat potensial kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang Timur meliputi Kelurahan Kota Menara, Lopana, Malenos baru, Maliku, Pinaling, Pondang, Ranomea, dan Ritey. Sedangkan untuk Kecamatan Tumpaan terdapat tingkat potensil kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Tumpaan meliputi Kelurahan Lelema, Matani, Matani satu, Munte Popontolen, Tangkuney, Tumpaan, Tumpaan baru, Tumpaan satu, dan Tumpaan dua.Melalui data persebaran lahan kritis, maka dipetakan wilayah mana saja yang perlu diperbaiki atau dapat disebut rehabilitasi lahan.Kata kunci:  Sistem Informasi Geografis, Tingkat Lahan Kritis
PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN MODOINDING Mpila, Gerald P; Gosal, Pierre H; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Provinsi Sulawesi Utara memiliki salah satu wilayah yang memiliki potensi agrowisata yakni Kecamatan Modoinding yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan yang meliputi hamparan tanaman hortikultura Kawasan Agropolitan Modoinding dan Bukit Doa Kakenturan. Namun potensi agrowisata yang dimiliki Kecamatan Modoinding ini belum sepenuhnya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan menganalisa potensi dan permasalahan serta strategi pengembangan Kawasan Agrowisata di Kecamatan Modoinding dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Hasil dari penelitian, selain potensi perkebunan, Kecamatan Modoinding juga memiliki potensi alam dan potensi budaya yang dapat di kembangkan menjadi daya tarik objek wisata yang mendukung pengembangan kawasan agrowisata, sedangkan kendalanya adalah kurangnya fasilitas penunjang wisata, kondisi objek wisata yang tidak terawat, terbatasnya informasi kawasan agrowisata dan belum maksimalnya pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat lokal. Oleh karena itu, prioritas strategi pengembangan kawasan agrowisata di Kecamatan Modoinding berdasarkan analisis SWOT adalah peningkatan sumber daya manusia dalam menegelola agrowisata, kerjama pemerintah dan masyarakat, peningkatan aksesabilitas, penyediaan fasilitas wisatawan, pengembangan ekonomi, dan meningkatkan promosi kawasan agrowisata. Selanjutnya arahan pengembangan Kawsasan Agrowisata di Kecamatan Modoinding berdasarkan konsep 4A (atraction, accesability, amenities, ancillary) yakni pengembangan atraksi sesuai potensi lokal desa, penyediaan prasarana dan sarana transportasi, penyediaan, perbaikan dan pengoptimalan fasilitas wisata, pembentukan kelompok sadar wisata, dan promosi melalui sarana periklanan dan penyelenggaraaan ivent-ivent khusus.Kata Kunci : Pengembangan, Kawasan Agrowisata, Kecamatan Modoinding
Co-Authors . Pierre H. Gosal Adrianus Liem Ali, Sadam Alvin J. Tinangon Amanda Sembel Annastasia Gadis Pradiptasari, Annastasia Gadis Azzahra Putri Utami Celine Claudia Ticoalu Christian I. Kiroh Claudia S. Punuh, Claudia S. Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Cynthia E.V. Wuisang Da Costa, Alarico Dapas, Gisella A Dowes D. C. Larungkondo Dwight M Rondonuwu, Dwight M Elvira Florensia Metekohy, Elvira Florensia Esli D. Takumansang Faizah Mastutie Farly R. Sangkoy Fela Warouw Fela Warouw Franklin J.C Papia Franklin, Papia J. Fredrik T. Andries Frits O. P. Siregar Gabriela I. Sarira, Gabriela I. Sarira Gryzella L. Tangkau Hanny Poli Hanny Poli Hendra C. Supit, Hendra C. Hendriek H. Karongkong Indah Cipta Gobel Indah Cipta Gobel, Indah Cipta Indradjaja Makainas Ingerid L. Moniaga Inri I. Tilaar Joseph, Alfa A. Josua Rifaldo Sangkoy Judy O Waani Julianus A. R. Sondakh Julianus A. R. Sondakh Kamuh, Amelia Kevin T. S. Laotongan Kezia G. Wowiling Kolanus, Marchall Kuhu, Raine Amelia Kuhu, Raine Amelia Laipi, Cornelia Inri Langoy, Rilly Algi O. Lawene, Chilfy Lewina Linda Tondobala Linda Tondobala Malau, Febri Irwandi Mandang, Velline N.V. Marchall Kolanus Mariani R.G.O Sakul Mario Y. Maturbongs Meliza Mamangkey, Meliza Mirah, Edbert M Mpila, Gerald P Mursid, Azzahra Ngangi, Reddy Silvano Ngion, Renaldy Miracle Olivia O. Dondokambey Ondang, Ixnando J. Papia J.C. Franklin Papia, Franklin J.C Pierre H Gosal, Pierre H Pierre H. Gosal Poli Hanny, Poli Poludu, Ruth Wahyuni Rachmat Prijadi Rachmat Prijadi Ramlan Balahanti Rate, Johanes Van Raymond Ch. Tarore Reny Syafriny Reynaldo Tampinongkol Richard A. Nelwan, Richard A. Rimer P. A. Walelang Rondonuwu, Dwight Sadam Ali Sangkoy, Farly R. Sangkoy, Josua Rifaldo Sonny Tilaar Sonny Tilaar Soputan, Pricilia F. F. Surijadi Supardjo Suryono MT Tambajong, Josal Tampinongkol, Reynaldo Tangkau, Gryzella L. Tesalonika M. Wungow Ticoalu, Celine Claudia Tuhehay, Krisandi Tumembouw, Eunike D. K. Umi Muliya, Umi Utami, Azzahra Putri Verry Lahamendu, Verry Vicky H. Makarau Vicky H. Makarau Welang, Cindy P Wiarni, Suci Zekry N Mamahit, Zekry N