Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH SUHU DAN WAKTU ADSORPSI TERHADAP SIFAT KIMIA-FISIKA MINYAK GORENG BEKAS HASIL PEMURNIAN MENGGUNAKAN ADSORBEN AMPAS PATI AREN DAN BENTONIT Lucia Hermawati Rahayu; Sari Purnavita
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v10i2.1058

Abstract

Penggunaan minyak goreng berulangkali pada temperatur tinggi akan menyebabkan mutu dan nilai gizi makanan yang digoreng menurun sehingga dapat berdampak buruk bagi kesehatan konsumen. Pemurnian minyak goreng bekas perlu dilakukan guna meningkatkan kualitasnya sehingga bisa digunakan kembali secara aman untuk mengolah makanan. Pemurnian minyak goreng bekas secara adsorbsi menggunakan bioadsorben ampas pati aren (APA) dan bentonit (B) pada berbagai variasi suhu dan waktu kontak telah dipelajari. Proses adsorpsi dilakukan dengan mengkontakkkan minyak goreng bekas dan campuran bioadsorben APA-Bentonit dengan rasio 1:1 pada variasi suhu 40°C , 70°C, 100°C, 150°C masing-masing selama 20, 40, 60, 80, dan 100 menit. Minyak setelah adsorbsi kemudian diamati perubahan bilangan asam (BA), bilangan peroksida (PV), dan kejernihan warnanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan BA, PV, dan intensitas warna minyak goreng bekas akibat perlakuan adsorbsi menggunakan bioadsorben ampas pati aren dan bentonit pada rasio 1:1 sangat nyata dipengaruhi oleh suhu dan waktu adsorbsi. Kondisi terbaik untuk menurunkan BA dan PV minyak goreng bekas adalah pada suhu 100°C selama 100 menit, yang mampu menurunkan BA sebesar 49,39 % dan PV sebesar75,76%. Sedangkan kondisi terbaik untuk menurunkan intensitas warna adalah pada suhu 150°C dengan waktu kontak 60 menit dengan besar penurunan intensitas warna mencapai 71,15%. Kata kunci : adsorbsi, ampas pati aren, bentonit, minyak goreng bekas
REKAYASA PROSES PRODUKSI ASAM LAKTAT DARI LIMBAH AMPAS PATI AREN SEBAGAI BAHAN BAKU POLI ASAM LAKTAT Sari Purnavita; Herman Yoseph Sriyana; Sri Hartini
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v10i1.957

Abstract

Proses  pembuatan  asam  laktat    dari  limbah  ampas  pati  aren diawali  dengan  perlakuan pendahuluan hingga diperoleh serbuk ampas pati aren.  Proses  selanjutnya adalah  hidrolisis selama 54  jam  dengan  penambahan  mikrobia  selulotik  dari  ekstrak rayap  sebanyak  40%. Hasil  hidrolisis  adalah  glukosa  dengan kadar  gula  reduksi  sebesar  31,99%.  Fermentasi glukosa  menjadi  asam  laktat  dilakukan  pada  suhu  30oC  dengan  penambahan  Lactobacillus casei sebanyak 10%, 20%, 30% dan waktu inkubasi 10 jam, 12 jam, 14 jam, 16 jam, 18 jam, 20  jam. Berdasarkan  uji  statistik  analisis  varian  disimpulkan  bahwa ada  beda  sangat  nyata antar  perlakuan  kombinasi  jumlah Lactobacillus  casei  dan  waktu  fermentasi.  Kadar  asam laktat tertinggi  diperoleh  pada  penambahan  Lactobacillus  casei sebanyak  30%  dan  waktu fermentasi 20 jam, yaitu sebesar 0,91 g/L.Kata kunci : asam laktat; rayap; lactobacillus casei;  limbah ampas pati aren
Kemasan Menarik dan Internet Marketing untuk Meningkatkan Nilai Jual Emping Garut sebagai Produk Unggulan Kabupaten Sragen Sari Purnavita; Herman Yoseph Sriyana; Tantri Widiastuti
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2018): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v9i1.2260

Abstract

Tanaman garut termasuk dalam jenis umbi-umbian yang banyak ditanam oleh masyarakat yang tinggal di Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen. Di Kabupaten Sragen terdapat beberapa industri rumah tangga emping garut, dua di antaranya yang memiliki motivasi sangat besar untuk berkembang adalah UKM emping garut “Sumber Rejeki” dan UKM emping garut “Fadilah”. Permasalahan kedua UKM adalah keterbatasan inovasi rasa emping garut, kemasan sangat sederhana, dan sistem pemasaran masih tradisional sehingga sehingga omzet penjualan dan nilai jual produk masih rendah. Untuk meningkatkan omzet penjualan dapat dilakukan dengan perbaikan inovasi dan teknologi pengemasan, teknologi seasoning dengan bumbu tabur, dan memperluas pemasaran dengan media internet. Produk emping garut yang dikemas secara menarik, inovasi produk emping garut aneka rasa, dan pemasaran dengan media internet melalui blogspot dapat menenbus pemasaran secara luas baik di toko-toko besar, harga jual produk meningkat 50%,dan omzet penjualan meningkat 100%.
Produksi Sandal Dan Tas Eceng Gondok Di Kelompok Usaha ?óÔé¼?ôRenita?óÔé¼?Ø Dan ?óÔé¼?ôSekar Melati?óÔé¼?Ø Sari Purnavita; Sri Sutanti; Poedji Haryanto
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2016): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v7i1.1044

Abstract

Di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang terdapat beberapa kelompok usaha yang membuat produk kerajinan eceng gondok, dua diantaranya adalah kelompok usaha Renita dan kelompok usaha Sekar Melati. Permasalahan yang dialami oleh kelompok usaha Renita adalah produk sandal eceng gondok yang diproduksi belum dapat menembus pasar kelas menengah keatas sehingga keuntungannya kecil. Rendahnya kualitas sandal dikarenakan teknologi produksinya ?é?ámasih ?é?ásederhana ?é?ádan?é?á tanpa ?é?ápengemas. ?é?áSedangkan, ?é?ápermasalahan yang ?é?ádialami ?é?áoleh?é?á kelompok?é?á usaha ?é?áSekar?é?á Melati ?é?áadalah ?é?áteknologi?é?á pemutihan eceng gondok yang dilakukan dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida belum bisa memberikan tampilan warna putih atau krem seperti yang diinginkan konsumen dan kurang ramah lingkungan, pembuatan tas masih dilakukan secara manual atau dijahit dengan tangan (tanpa menggunakan mesin jahit yang sesuai), dan penyimpanan produk belum diperhatikan (diletakkan bertumpuk begitu saja secara terbuka). Pemecahan masalah yang dilakukan pada kelompok usaha Renita adalah meningkatkan kualitas kerajinan sandal dengan menggunakan pisau pola spon dan mesin amplas serta memberikan kemasan untuk setiap pasang sandal. Sedangkan pada kelompok usaha Sekar melati dilakukan teknologi pemutihan bahan eceng gondok dengan bahan yang ramah lingkungan yaitu sodium meta bisulfit, teknologi pembuatan tas yang lebih berkualitas, dan manajemen penyimpanan produk kerajinan eceng gondok. Kata Kunci: eceng gondok, pisau pola sandal, pemutihan, sodium meta bisulfit
PEMBUATAN KERTAS SENI DARI ECENG GONDOK DI KWT SEKAR MELATI DAN I BONI Sari Purnavita; Sri Sutanti; Poedji Haryanto
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 8, No 1 (2017): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v8i1.1372

Abstract

Kecamatan Banyubiru merupukan Kecamatan yang terletak dekat dengan Danau Rawa Pening dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan yang lain. Di Kecamatan Banyubiru ada beberapa Kelompok Tani Wanita, dua di antaranya adalah KWT "Sekar Melati" dan "I" Boni. KWT "Sekar Melati" yang terletak di Dusun Sukondono, Desa Kebumen dan KWT "I" Boni terletak di Dusun Desa Rowokasum, Rowoboni. Kegiatan kedua kelompok tani wanita tersebut masih terbatas sebagai pencari eceng air, pengering eceng gondok, kolektor, dan pengayam eceng (produk setengah jadi untuk kerajinan) dan belum mampu mengolah eceng gondok menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga pendapatan anggota KWT masih rendah. Dalam program IbM ini dilakukan beberapa kegiatan: (1) persiapan peralatan, (2) proses konseling pembuatan kertas dari enceng gondok, (3) Workshop Enterpreneurshi, (4) pembuatan kertas pelatihan, dan 5) monitoring.
PEMBUATAN BENANG OPERASI DARI ECENG GONDOK Sari Purnavita; Lucia Hermawati Rahayu; Sri Sutanti
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 7, No 2 (2018): Bioma
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v7i2.2854

Abstract

Operating thread needs in Indonesia to increase, but until now to supply the needs of operating threads absorbed (can be integrated with the body) still depends on imported products that are expensive. To reduce Indonesia's dependence on biomaterials imports in the field of biomedicine, it can be done through the engineering of operating yarn production absorbed from Indonesia's natural resources. Poly Lactic Acid (PLA) is a polymer that is widely applied as a biomaterial in biomedical fields such as operating threads. In this research, absorbable suture was made from poly lactic acid poly polymer blend from water hyacinth with natural glucomannan polymer of iles-iles. The aim of the study was to study: 1) the effect of polymerization reaction time on PLA yields and 2) the effect of poly lactic acid-glucomannan composition on the mechanical properties of operating threads. Making PLA using the ring opening polymerization method and making yarn using the wet spinning method. The independent variables at the manufacturing stage of the PLA polymer are reaction time = 60, 90, 120, and 150 minutes, while for the variable at the stage of operation yarn making is the ratio between the PLA period: glucomannan = (1: 3); (1: 2); ( 1: 1); (2: 1); (3: 1). The results showed that: 1) reaction time had a very significant effect on yield PLA and 2) different composition of poly lactic acid - glucomannan gave different tensile strength and tensile elongation values. Keywords: water hyacinth, poly lactic acid, glucomannan, operating thread
KAJIAN KETAHANAN BIOPLASTIK PATI JAGUNG DENGAN VARIASI BERAT DAN SUHU PELARUTAN POLIVINIL ALKOHOL Sari Purnavita; Viviana Chintya Dewi
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 2, No 1 (2021): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.478 KB) | DOI: 10.56444/cjce.v2i1.1918

Abstract

AbstrakBioplastik merupakan teknologi kemasan yang terus dikembangkan untuk mengganti plastik sintesis yang  bersifat non – biodegradable. Polivinil alkohol (PVA) adalah salah satu bahan baku yang biasa digunakan dalam pembuatan bioplastik, sebab PVA memiliki sifat dapat membentuk film yang baik, tidak beracun, biodegradable, dan biokompatibel. Akan tetapi PVA memiliki kelemahan bersifat hidrofilik sehingga ketahanan terhadap air rendah. Oleh karena itu pada penelitian ini dikaji penggunaan PVA dalam pembuatan bioplastik pati jagung terhadap ketahanan air, biodegradasi serta morfologi bioplastik pati jagung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan variabel berat PVA yang ditambahkan (0; 1; 1,5; 2; 2,5; 3 gram) dan suhu pelarutan PVA (60oC; 70oC; 80oC). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah penambahan PVA dan suhu pelarutan PVA mempengaruhi ketahanan bioplastik. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh ketahanan air terbaik yaitu 50% pada penambahan 2 gram PVA dan suhu pelarutan 70oC, biodegradasi terbaik selama 5 hari pada penambahan ≤2 gram PVA dengan suhu pelarutan 70oC dan morfologi terbaik pada penambahan ≥ 2,5 gram PVA dengan suhu pelarutan 70oC . Sehingga dari penelitian ini dapat disarankan untuk penggunaan PVA dalam pembuatan bioplastik yang memiliki kandungan amilopektin tinggi maksimal 2 gram dengan suhu pelarutan 70oCKata kunci : Biodegradasi; Bioplastik; Ketahanan air; Pati jagung; Polivinil alkohol
BIOADSORBEN DARI SERBUK LIMBAH PELEPAH PISANG KEPOK KUNING UNTUK PENYISIHAN LOGAM KROM (Cr VI) Geraldus Chandra Waskita Nugraha; Lucia Hermawati Rahayu; Sari Purnavita
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 3, No 1 (2022): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.749 KB) | DOI: 10.56444/cjce.v3i1.3048

Abstract

Air sungai sering tercemar oleh komponen-komponen anorganik, di antaranya berbagai logam berat yang berbahaya. Logam berat yang sering mencemari lingkungan salah satunya kromium Cr (VI), yang dapat menyebabkan kanker karena bersifat karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan adsorbsi dari limbah pelepah pisang kepok sebagai adsorben logam Cr (VI). Pelepah pisang dipilih karena mengandung selulose yang dapat digunakan sebagai bioadsorben melalui perlakuan awal menggunakan HCl (delignifikasi). Proses adsorbsi dilakukan dengan mengkontakan serbuk pelepah pisang kepok delignifikasi dengan larutan Cr (VI) 50 ppm pada variabel pH (5, 6, 7, 8, 9) dan waktu adsorbsi (30, 60, 90 menit). Filtrat hasil adsorbsi diukur kadar Cr (VI) untuk menentukan kapasitas adsorbsi dari bioadsorben. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelepah pisang kepok delignifikasi mampu mereduksi ion Cr (VI), dimana penyerapan terbaik pada pH 7 dan waktu adsorbsi 90 menit dengan kapasitas adsorbsi  sebesar 22,405 mg Cr/g adsorben.
PENGAMBILAN GALAKTOMANAN DARI BUAH NIPAH DENGAN METODE EKSTRAKSI Sari Purnavita; Putri Wulandari
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 1, No 2 (2020): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.433 KB) | DOI: 10.56444/cjce.v1i2.1518

Abstract

AbstrakNipah (Nypa fruticans W) merupakan tumbuhan dari suku palma (Arecaceae) yang tumbuh dikawasan hutan mangrove. Pemanfaatan nipah di Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan khususnya buah nipah. Daging buah nipah mengandung galaktomanan yang merupakan polisakarida dengan rantai penyusun manosa dan galaktosa. Galaktomanan banyak digunakan pada berbagai industri makanan dan obat – obatan. Selain itu galaktomanan memiliki sifat antioksidan dan antimikroba untuk pelapisan bahan makanan Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari kondisi optimum rasio jumlah bahan pengendap dengan bahan baku serbuk nipah (35:1; 30:1; 25:1; 20:1) dan waktu ekstraksi (2 jam dan 3 jam) terhadap yield galaktomanan. Variabel tetap yang digunakan adalah jenis agen pengendap (metanol), konsentrasi pengendap (95%), rasio pelarut dengan jumlah serbuk nipah, suhu ekstraksi (50OC), dan kecepatan pengadukan. Prosedur kerja dilakukan dengan menghancurkan buah nipah menggunakan blender kemudian dijemur hingga kering dan dihaluskan. Serbuk nipah selanjutnya diekstraksi menggunakan air pada suhu 50OC dengan variabel waktu tertentu. Larutan hasil ekstrasi selanjutnya disaring dan ditambahkan metanol untuk memisahkan galaktomanan dengan air kemudian hasil dikeringkan. Hasil ekstraksi ini kemudian diuji FTIR dimana menunjukkan adanya karakteristik ikatan eter ( CH2 -O- CH2) yang muncul pada 875,04 cm1. Dari gugus yang terindentifikasi dapat disimpulkan bahwa senyawa hasil isolasi merupakan senyawa galaktomanan. Pengujian analisa luff shocrll menunjukan adanya endapan merah yang berarti memiliki kandungan galaktomanan. Uji statistik menunjukkan bahwa kombinasi kedua perlakuan berpengaruh nyata terhadap yield yang dihasilkan. Hasil kombinasi perlakuan terbaik didapatkan pada rasio agen pengendap : serbuk buah Nipah 20 :1  dan waktu pencampuran 2 jam, hasil yield tertinggi yaitu sebesar 31,25%. 
FORMULASI VERNIS POLIESTER BERBASIS GONDORUKEM - ASAM LAKTAT DAN GLISEROL DENGAN KATALIS SnCl2 Sari Purnavita; Sri Sutanti; Ronny Windhu Sudrajat
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v2i1.1742

Abstract

Vernis poliester berbahan asam karboksilat dan gliserol dapat diaplikasikan pada pelapisan bahan dasar kayu terutama pada industri mebel untuk meningkatkan ketahanan terhadap cuaca. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan poliester dari dua jenis asam karboksilat (gondorukem dan asam laktat) dan jenis polialkohol yang digunakan adalah gliserol serta penambahan minyak biji rami. Penambahan asam laktat bertujuan untuk mempermudah pembentukan film. Untuk mempercepat reaksi ditambahkan katalis jenis SnCl2. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh rasio gondorukem dan asam laktat terhadap jumlah poliester dan mempelajari pengaruh jumlah katalis terhadap jumlah poliester yang dihasilkan. Permbuatan poliester diawali dengan mereaksikan minyak linseed dengan gliserol terlebih dahulu pada suhu 255oC disertai dengan pengadukan selama 3 jam. Selanjutnya suhu diturunkan menjadi 200oC dan dilakukan penambahan asam laktat dan gondorukem. Lalu dipanaskan kembali suhu 255oC selama 1 jam. Parameter yang diamati adalah jumah poliester yang dihasilkan dan waktu pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio (%b/%b) gondorukem dan asam laktat yang berbeda serta jumlah katalis yang berbeda memberikan pengaruh terhadap jumlah poliester yang dihasilkan dan berpengaruh pula terhadap waktu pengeringan poliester pada saat diaplikasikan sebagai vernis pada substrat kayu. Hasil  penelitian   menunjukkan  bahwa  vernis  poliester dari gondorukem : asam lakat dan gliserol dengan katalis SnCl2 terbaik diperoleh pada  rasio  (%b/%b) gondorukem : asam laktat sebesar 50 : 50 dan jumlah katalis sebesar 0,050%. Karakteristik vernis poliester memiliki bilangan asam 62,12, yield 72,28%, dan drying time 32 jam. Kata kunci : vernis, poliester, gondorukem, asam laktat, gliserol, minyak biji rami, SnCl2