Claim Missing Document
Check
Articles

KOMPOSIT BIOPLASTIK BERBAHAN KOLANG – KALING DAN POLIVINYL ALKOHOL Dyah Ayu Febi K; Sari Purnavita; Mumpuni Asih P
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v5i2.3816

Abstract

PEMBUATAN PLASTIK BIODEGRADABLE DARI PATI AREN DENGAN PENAMBAHAN ALOE VERA Sari Purnavita; Wahyu Tri Utami
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v3i2.2488

Abstract

Plastik biodegradable merupakan plastik yang mudah terdegradasi atau terurai pada kondisi dan waktu tertentu yang dipengaruhi mikroorganisme berbeda dengan plastik sintetis yang tidak dapat di urai mikroorganisme.Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh jumlah aloevera dan lama pencampuran pada proses pembuatan plastik biodegradable yang optimum terhadap karakteristik plastik. Variabel bebas yang digunakan yaitu lama waktu pencampuran saat proses ( 8 menit, 10 menit, 15 menit ) dan jumlah aloevera terhadap pati Aren ( 1%, 3%, 5%, 7%, 9% ). Variabel tetap penelitian ini yaitu tahapan proses, suhu (80oC), jumlah pati aren (5 gram), jumlah gliserol (1 ml), jumlah pelarut (75ml), jumlah PVA (2,5gram) dan kecepatan pengadukan (225rpm). Variabel terikat penelitian ini yaitu karakteristik plastik meliputi sifat mekanik (biodegradasi, ketahanan terhadap air dan ketahanan terhadap mikroba) dan fisik (ketebalan dan morfologi permukaan).Proses produksi plastik biodegradable dari pati aren  dan aloevera akan dilakukan secara dua tahap yaitu 1) Pembuatan gel aloevera dan 2) Pembuatan plastik biodegradable. Kata kunci: Aloevera, Pati Aren, Plastik Biodegradable
PEMBUATAN VERNIS BERBAHAN GONDORUKEM YANG DIMODIFIKASI GLISEROL DAN PADUAN LINSEED OIL DENGAN MINYAK BIJI KARET MENGGUNAKAN METODE ESTERIFIKASI TANPA KATALIS Sri Sutanti; Sari Purnavita; Herman Yoseph Sriyana
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v2i1.1743

Abstract

Pembuatan vernis dari gondorukem, perlu dilakukan modifikasi guna mengatasi kelemahan yang dimiliki gondorukem. Penelitian kali ini merupakan proses modifikasi gondorukem dengan menggunakan gliserol dan paduan linseed oil dengan minyak biji karet. Tujuan penelitian adalah mendapatkan rasio terbaik dari kedua minyak yang digunakan.Rasio minyak biji karet terhadap linseed oil dalam penelitian ini yaitu: 0% : 100%; 10% : 90%; 20% : 80%; 30%, : 70%; 40% : 60%; 50% : 50%;  60% : 40%; 70% : 30%; 80% : 20%; 90% : 10% dan 100% : 0%. Proses pembuatan vernis dilakukan dengan menggunakan metode esterifikasi tanpa katalis pada suhu 230oC – 250oC selama 4 jam. Selama proses dilakukan pengadukan menggunakan pengaduk mekanik. Vernis yang dihasilkan kemudian diaplikasikan pada panel kayu menggunakan spray gun.Vernis yang dihasilkan dianalisa kadar gliserol bebas, dan bilangan asam, sedangkan hasil aplikasinya dianalisa drying time, gloss level,daya rekat, hardness, serta pengamatan warna secara organoleptis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio 50% : 50% dan 60% : 40% menghasilkan vernis dengan karakter yang hampir sama dan lebih baik dibandingkan dengan rasio yang lain. Kata kunci: esterifikasi, gondorukem, linseed oil, minyak biji karet, vernis. 
PENGARUH PENAMBAHAN BEESWAX DAN GLISEROL TERHADAP KARAKTERISTIK POLIBLEND GLUKOMANAN – POLIVINIL ALKOHOL (PVA) Sari Purnavita; Ayu Anggraeni
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v4i2.3023

Abstract

Poliblend glukomanan–PVA dengan penambahan beeswax dan gliserol berpotensi menjadi alternatif bahan pengemas biodegradable. Pada penelitian ini, gliserol dan beeswax ditambahkan pada poliblend glukomanan–PVA rasio 1:2, diikuti pemanasan suhu 80oC selama 30 menit.. Tujuan dari penambahan beeswax dan gliserol adalah untuk memperbaiki karakteristik poliblend yang dihasilkan. Oleh karena itu, pada penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan beeswax (0g;0.03g;0.06g;0.09g;0.12g) dan gliserol (5ml,10 ml,15ml) terhadap karakteristik film kemasan meliputi ketebalan, kuat tarik, kemuluran, laju transmisi uap air, presentase kelarutan dalam air dan morfologi. Dari hasil penelitian diperoleh ketebalan film kemasan terbaik pada penambahan beeswax 0.12 gram dan gliserol 15 ml. untuk hasil uji kuat tarik dan persen elongasi terbaik pada penambahan beeswax 0.06 gram dan gliserol 5ml. Pada uji permeabilitas uap air hasil terbaik diperoleh pada penambahan beeswax 0,12 gram dan gliserol 5ml, untuk hasil presentase kelarutan dalam air terbaik diperoleh pada penambahan beeswax 0.12 gram dan 5 ml gliserol. Kata kunci : Film kemasan, beeswax, gliserol, poliblend, glukomanan, PVA
Polymerization of Poly Methyl Methacrylate Using Emulsion Method and H2O2 as Initiator Sari Purnavita; Cyrilla Oktaviananda; Sri Sutanti; Herman Yoseph Sriyana; Antonius Prihanto; Antonio Mafeli
Journal of Chemical Process and Material Technology Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.67 KB) | DOI: 10.36499/jcpmt.v1i2.6642

Abstract

This study aims to study the effect of the amount of initiator (H2O2) on the viscosity of the Polymethyl Methacrylate (PMMA) emulsion and the solids content. The treatment of independent variables is H2O2 by 1%, 2%, 3%, and 4%. This research procedure was carried out in a two-stage process. The first stage is the process to separate the inhibitor contained in the methyl methacrylate monomer by adding a 1 N concentration of NaOH solution, stirring until evenly distributed, then put into a separating funnel to separate pure methyl methacrylate from the inhibitor dissolved in alkaline solution. The second stage is the polymerization reaction process using the emulsion method. Dissolve the poly vinyl alcohol in hot water at 70oC, put the poly vinyl alcohol solution into a three-neck flask, which is equipped with a stirrer and a hot plate heater, add the initiator and up to 60oC, then add the methyl methacrylate monomer with stirring and heating at room temperature 100oC for 1 hour. The resulting product is a thick poly methyl methacrylate emulsion, has a milky white color, and has good adhesion. Furthermore, the viscosity test was carried out using ford cup number 4 and the solids content test. The results showed that the more initiators added, the higher the viscosity and the higher the solids content.
PEMBUATAN SABUN MANDI PADAT BERBASIS MINYAK SAWIT BEKAS DENGAN AROMA SEREH Rahel - Margareta; Sari Purnavita; Lucia Hermawati
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v7i2.6440

Abstract

Sabun merupakan sediaan pembersih kulit yang dibuat daari proses saponifikasi dengan mereaksikan minyak, lemak, wax, rosin, atau asam lemak dengan basa. Alkali yang digunakan adalah NaOH karena NaOH adalah jenis alkali yang larut dalam air yang dapat membentuk produk menjadi sabun yang keras. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji konsentrasi larutan NaOH yang digunakan dan kualitas minyak sawit bekas penggorengan terhadap karakteristik sabun padat yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan dua variabel bebas yaitu variabel bebas pertama adalah konsentrasi larutan NaOH (25g, 27,5g, 30g, 32,5g, dan 35g). Variabel bebas kedua adalah kualitas minyak sawit bekas penggorengan (1 kali, 2 kali, 3 kali, 4 kali, dan 5 kali penggorengan). Hasil penelitian terbaik diperoleh pada perlakuan minyak dengan kualitas penggorengan 3 kali dengan jumlah kadar air maksimal 15%. 
Ekstraksi Galaktomanan dari Kolang-Kaling Sari Purnavita; Cyrilla Oktaviananda; Natasya Devina Aurelia Purba
Prosiding Seminar Sains Nasional dan Teknologi Vol 12, No 1 (2022): VOL 12, NO 1 (2022): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/psnst.v12i1.7365

Abstract

Kolang kaling atau (Arenga Pinnata Merr) diperoleh dari tanaman aren. Kandungan galaktomanan pada kolang kaling  sebesar 4,58 %. Sedangkan komponen yang terdapat pada hasil ekstraksi kolang kaling diantaranya protein, galaktomanan, serat kasar dan lemak .  Galaktomanan  adalah  heteropolisakarida  yang  terdiri  dari  rantai  manosa dan galaktosa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari kondisi optimum  rasio jumlah bahan pengendap (350ml, 300ml,  250ml,  200ml) dan waktu ekstraksi (2 jam dan 3 jam) terhadap yield galaktomanan. Percobaan ini dilakukan dengan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua kali ulangan. Variabel tetap yang digunakan adalah jenis bahan pengendap (metanol), konsentrasi pengendap (96%), rasio pelarut dengan jumlah serbuk kolang-kaling, dan suhu ekstraksi (50 oC). Anilisis galaktomanan hasil ekstraksi menunjukkan positif adanya galaktomanan, kadar serat kasar optimal yaitu 8,05%, interperasi spektrum infra merah menunjukan adanya serapan vibrasi –OH, -CH, -CH alifatik dan –C-O pada panjang gelombang yang sesuai. Berdasarkan analisis galaktomanan dengan uji Luff Schroll dan uji FTIR dapat disimpulkan bahwa senyawa hasil esktraksi galaktomanan yaitu merupakan senyawa galaktomanan, dan ekstraksi galaktomanan mampu membentuk film.
PENGARUH WAKTU PEMASAKAN DAN PERSENTASE PVAc TERHADAP KUALITAS KERTAS DARI MAHKOTA NANAS Cyrilla Oktaviananda; Sari Purnavita; Salsabila Devinta Ayunindhia
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v8i2.8098

Abstract

Buah nanas yang diolah pada berbagai industri pengolahan nanas akan menghasilkan mahkota nanas sebagai limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu cara untuk memanfaatkan mahkota nanas agar memberikan nilai tambah adalah dengan mempersiapkannya sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan kertas. Sebagai tindak lanjut dari penelitian terdahulu, pada penelitian ini dilakukan pembuatan kertas dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pemasakan dan pengaruh persentase PVAc terhadap gramatur, indeks tarik, dan indeks sobek kertas yang dihasilkan. Proses pembuatan kertas dari mahkota nanas diawali dengan memasak mahkota nanas dalam larutan NaOH 10% dengan variasi waktu pemasakan 20, 30, 60, 90, dan 120 menit. Setelah itu, campuran ditambahkan PVAc sebagai perekat dengan variasi jumlah PVAc 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%. Campuran yang telah homogen selanjutnya dicetak menggunakan cetakan kayu. Karakteristik kertas yang diuji meliputi gramatur, indeks tarik, dan indeks sobek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gramatur kertas menurun seiring lamanya waktu pemasakan karena selulosa dan lignin dalam mahkota nanas terdegradasi. Gramatur kertas yang memenuhi SNI 8218:2015 adalah kertas dengan waktu pemasakan 30, 60, 90, dan 120 menit. Indeks tarik dan indeks sobek kertas terbaik diperoleh pada waktu pemasakan pulp selama 90 menit. Pada semua perlakuan variasi persentase PVAc, nilai gramatur yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu kertas menurut SNI. Berbeda dengan nilai gramatur, indeks tarik dan indeks sobek pada variasi ini tidak memenuhi persyaratan mutu kertas.
Pengaruh Jumlah Pengemulsi pada Pembuatan Cat Emulsi Berbasis Bahan Alami Kasein dari Susu Sapi Sari Purnavita; Cyrilla Oktaviananda; Elisa Rinihapsari; Priyo Wibowo; Yosef Bintang Satya Primahendra
METANA Vol 19, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/metana.v19i1.52473

Abstract

Produksi susu sapi yang melimpah tidak diikuti dengan permintaan yang tinggi dari  masyarakat sehingga banyak produk susu sapi yang tidak termanfaatkan. Susu sapi yang masih segar maupun yang sudah rusak memiliki kandungan kasein yang cukup tinggi. Kasein termasuk polimer alami sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan utama pada pembuatan cat emulsi. Pada pembuatan cat emulsi, faktor yang harus diperhatikan adalah kestabilan emulsi. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah pengemulsi (1 gram, 2 gram, 3 gram, dan 4 gram) yang digunakan terhadap karakteristik cat yang meliputi ukuran partikel, waktu kering, viskositas, daya rekat, dan kekerasan. Hasil uji statistik (Uji F) menunjukkan bahwa jumlah pengemulsi memiliki pengaruh terhadap karakteristik cat yang meliputi ukuran partikel, waktu kering, viskositas, daya rekat, dan kekerasan. Hasil penelitian dengan menggunakan uji statistik (Uji F) menunjukkan bahwa jumlah pengemulsi berpengaruh nyata terhadap karakteristik viskositas, ukuran partikel, waktu kering, dan tingkat kekerasan, serta jumlah pengemulsi berpengaruh sangat nyata terhadap karakteristik daya rekat cat. Cat emulsi berbasis kasein dan kapur tohor dengan penambahan bahan pengemulsi CMC sebanyak 4 gram memiliki kualitas yang terbaik, yaitu nilai kekerasan 4 H, daya rekat 97,5%, waktu kering 38,5 menit, ukuran partikel 8,75 mikron, dan viskositas 450 d.Pa.s.   The abundant cow's milk production is not followed by high demand from the public so that many cow's milk products are not utilized. Cow's milk that is still fresh or that has been spoiled has a fairly high casein content. Casein is a natural polymer so it can be used as the main ingredient in the manufacture of emulsion paints. The factor that must be considered in the manufacture of emulsion paint is the stability of the emulsion, thus this study aims to determine the effect of the amount of emulsifier (1 gram, 2 gram, 3 gram, and 4 gram) used on the paint characteristics which include particle size, dry time, viscosity, adhesion, and hardness. Statistical test results (Test F) showed that the amount of emulsifier has an influence on the characteristics of the paint which includes particle size, drying time, viscosity, adhesion, and hardness. The results of the study using statistical tests (Test F) showed that the amount of emulsifier had a significant effect on the characteristics of viscosity, particle size, dry time, and level of hardness, and the amount of emulsifier had a very significant effect on the characteristics of paint adhesion. Casein and quicklime based emulsion paint with the addition of 4 grams of CMC emulsifier has the best quality, namely 4 H hardness, 97.5% adhesion, 38.5 minutes dry time, 8.75 micron particle size, and 450 viscosity. d.Pa.s.
Manufacture Bioplastic Composite made of Corn Starter and Poly Vinyl Alcohol with the Addition of Beeswax Ramadhan, Aditya Prian; Purnavita, Sari; Rahayu, Lucia Hermawati
Rekayasa : Jurnal Penerapan Teknologi dan Pembelajaran Vol 20, No 1 (2022): July 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/rekayasa.v20i1.37275

Abstract

Bioplastics are environmentally friendly plastics that naturally can be easily degraded. One of the natural ingredients that can be used is corn starch. This study aims to study the effect of heating temperature and the addition of beeswax on the characteristics of bioplastics. This study used two independent variables. This study used the heating temperature of the material at 60-80 °C and the addition of beeswax up to 2% of the total weight. The amount of poly vinyl alcohol and corn starch was dissolved in water and further to the plasticizer in glycerol with heating time. The characteristics to be obtained are the properties of bioplastics that have been synthesized against water resistance, tensile strength, and elongation tests. The lowest heating temperature of 60 °C had a minor water absorption of 42.85%. At a heating temperature of 65 °C, it gives the highest tensile strength and elongation, respectively, 5.15 Mpa and 29.39%. The addition of beeswax affects water resistance, tensile strength, elongation, and biodegradation values. Water resistance will be higher with the addition of beeswax. In addition to 2 g of beeswax, bioplastics have the highest tensile strength value, and elongation was obtained, respectively, 9.55 Mpa and 31.54%.