Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengawasan BP2MI Dalam Upaya Mewujudkan PMI Yang Bermartabat Azril Nurachmat, Ridwandani; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Rayhan, Ahmad
Lentera: Multidisciplinary Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Lentera: Multidisciplinary Studies
Publisher : Publikasiku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/lentera.v3i2.145

Abstract

Pekerja Migran Indonesia (PMI) memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, terutama melalui kontribusi remitansi. Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi PMI, seperti eksploitasi, perlakuan tidak adil, dan lemahnya perlindungan hukum. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) memiliki mandat untuk mengawasi dan melindungi PMI agar mereka dapat bekerja secara bermartabat dan memperoleh hak-hak yang layak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengawasan BP2MI dalam melindungi PMI berdasarkan regulasi yang berlaku. Metode yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan analisis terhadap peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintah, serta studi literatur terkait perlindungan pekerja migran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun BP2MI memiliki kewenangan luas dalam pengawasan dan perlindungan PMI, masih terdapat kendala dalam implementasi kebijakan. Permasalahan utama meliputi kurangnya sosialisasi terkait prosedur penempatan PMI, lemahnya koordinasi antar lembaga, serta masih tingginya jumlah PMI yang bekerja secara non-prosedural. Selain itu, masih banyak PMI yang kurang mendapatkan pelatihan keterampilan dan informasi tentang hak-haknya sebelum bekerja di luar negeri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa BP2MI perlu memperkuat pengawasan, meningkatkan program pelatihan bagi calon PMI, serta memperbaiki sistem penempatan untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi. Implikasi dari penelitian ini mengarah pada rekomendasi kebijakan yang lebih efektif dalam melindungi hak-hak PMI, termasuk penguatan koordinasi antarinstansi dan peningkatan kualitas SDM PMI agar dapat bersaing di pasar kerja global.
Kewenangan Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang dalam Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Sekali Pakai Khoirunnisa, Salsabila; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Rayhan, Ahmad
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 4: Juni 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i4.9468

Abstract

Penggunaan kantong plastik yang tidak dikurangi menyebabkan peningkatan volume sampah di TPA Cilowong sebesar 2,5% per bulan dan berdampak pada perubahan iklim. Berdasarkan Permen LHK No. 75 Tahun 2019, plastik termasuk bahan yang sulit terurai dan tidak dapat didaur ulang. Penelitian ini membahas pelaksanaan dan hambatan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang dalam mengurangi kantong plastik sekali pakai. Metode yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pengurangan plastik oleh DLH belum optimal karena keterbatasan anggaran, kurangnya pengawasan, konflik sosial terkait TPA Cilowong, minimnya investasi swasta, sulitnya sosialisasi karena kurangnya regulasi, serta rendahnya pemahaman DLH terhadap isu plastik. Hal ini menunjukkan bahwa konsep negara kesejahteraan belum sepenuhnya tercermin dalam pengelolaan sampah plastik di Kota Serang.
Kewenangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Serang Dalam Perlindungan Hukum Bagi Korban Bencana Alam Ilmi, Nurhasanatul; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Nurikah , Nurikah
Equality : Jurnal Hukum dan Keadilan Vol 2 No 2 (2025): Penegakan Integritas dan Kepastian Hukum dalam Kelembagaan dan Profesi Hukum di I
Publisher : Yayasan Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/equality-jlj.v2i2.304

Abstract

Legal protection provided by the Regional Disaster Management Agency is not given equally in receiving assistance in terms of logistical assistance and infrastructure repair. Article 8 paragraph (1) of Serang City Regional Regulation Number 16 of 2011 concerning Disaster Management, BPBD is responsible for disaster management. The problem identification of this research is how the implementation of the authority of the BPBD of Serang City in efforts to protect the law for victims of natural disasters through post-disaster rehabilitation and reconstruction and how the obstacles to the implementation of the BPBD's authority in efforts to protect the law for victims of natural disasters through post-disaster rehabilitation and reconstruction. The theory of this research is the theory of authority and the theory of legal protection. This research uses empirical juridical research methods with qualitative data analysis. The results showed that Disaster Management by BPBD has not been carried out optimally due to the inequality of receiving assistance in logistics and infrastructure assistance. The National Disaster Management Agency provides mandated authority to BPBD based on Serang City Regional Regulation Number 16 of 2011 concerning Disaster Management. Legal protection provided by the Regional Disaster Management Agency is not given equally in receiving assistance in terms of logistical assistance and repair Preventive legal protection by BPBD is provided through prevention such as conducting disaster-related socialization, disseminating disaster information and implementation, enforcing regional spatial plans through the PERKIM Office related to development and repressive legal protection by handling rehabilitation, namely logistical assistance and reconstruction, namely rebuilding facilities and infrastructure. The obstacles are lack of participation from related agencies, overlapping administration, lack of information and understanding of the community, and budget limitations. This research shows that the implementation of post-disaster rehabilitation and reconstruction by BPBD is not given equally to the provision of logistical assistance and infrastructure.
KONSTRUKSI SOSIAL HAMBATAN IMPLEMENTASI PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN JAMINAN HALAL PANGAN LOKAL DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN: PENELITIAN SOSIAL LEGAL TERHADAP INOVASI MAKANAN HALAL DI PROVINSI BANTEN Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Sariyah, Sariyah
International Journal Mathla’ul Anwar of Halal Issues Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Mathla’ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/ijma.202332.86

Abstract

The community's participation in the implementation of halal product assurance regulates in Articles 53, 54, and 55 of the JPH Law. However, its fact is under expectations. This paper aims to determine the obstacles in implementing the community's participation in local halal food assurance based on halal product assurance regulations in Banten province and the efforts made by the government to protect Muslim consumers. The study used socio-legal research methods with an abductive approach and qualitative data analysis, then data collection done by using in-depth interviews and related legal materials. The results showed the existence of four obstacles in the implementation of community participation in local halal food assurance based on halal product assurance regulations in Banten province, namely, the willingness to obtain halal raw materials for local food is limited, the processing process of local food products is less professional, the packaging of local food products is less attractive, the sale of halal local food products is still traditional and less desirable and weak public knowledge of consumer rights. The tripartite government efforts are essential to collaborate, namely the government (BPJPH), civil society, and business actors.
The Dynamics of Tamil-Indian Community in Pre-Independence Indonesia: The Case of Deli Hindu Sabba in Medan Maler, Wani; Mudzakkir, Moh.; Ikomatussuniah
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 1 (2023): Edisi Jurnal Vol. 19 No.1 Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v19i1.4507

Abstract

This study traces the formation, development and decline of the Deli Hindu Sabba organization in the city of Medan, North Sumatra, Indonesia. This article examines the emergence of Indian Tamil community organizations in the pre-independence period of Indonesia. This paper uses historical research methods to reconstruct events in the past. Data obtained through literature study from various documents. The data obtained were processed using critical methods to determine the authenticity and validity of the data obtained. The analytical method used is descriptive narrative to describe the chronology of events and aspects that affect the course of events. The study found that the Deli Hindu Sabba organization had its ups and downs: it was founded in 1913 and had developed since, but it stopped conducting activities in 1918 until Kumarasamy took over this organization in 1928. After that, Kumarasamy was pivotal role in the development and activities of this organisation. These activities included providing free education with Tamil language guidance, Indian Boy Scout and Mother Paguthi to empower Tamil community in Medan. Besides that, various arts and sports activities were also carried out. However, the organization suffered a setback in 1942 when former chairman of organization converted into Buddhism, making the organization lacked the important figures that could become its spearhead. In addition, it is the same year of the Japanese occupation which had banned all organizations in Indonesia during that time. Keywords:Tamil-Indian Community; Deli Hindu Sabba; Formation; Development; Decline
Efektivitas Penghentian Sengketa Informasi Publik yang Tidak Dilakukan dengan Itikad Baik di Komisi Informasi Provinsi Banten Odi Salsabilla Kirana Fitri Sudrajat; Ikomatussuniah Ikomatussuniah; Rila Kusumaningsih
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): JURRISH: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrish.v5i1.6969

Abstract

Public information disclosure is a manifestation of open and accountable government which is the basis for publik information requests. Everyone has the right to obtain public information through the mechanism of requesting information from public bodies. The problem that arises is that some information requessts are not made in good faith thereby failing to reflect the purpose of public information disclosure as a means of monitoring government performance. To adress this issue there is a mechanism to terminate the resolution of such information disputes in accordance with applicable laws and regulations. This study aims to determine the effectiveness of terminating informastion disputes that are not conducted in good faith and the obstacles in its implementation. The results of the study indicate that the termination of informastion disputes that are not conducted in good faith is not yet effective due to factors that influence the effectiveness of the law in society not being fulfilled including legal factors, societal factors, and cultural factors. The obstacles faced in the implementation of the termination of public information disputes that are not conducted in good faith include legal enforcement mechanism, public information management, and understanding of public information transparency. The effectiveness of a law is determined by the overall elements supporting its enforcement so it is hoped that the implementation of the termination of publik information disputes does not violate human rights and citizens’ rights.
Kewenangan Dinas Lingkungan Hidup Dalam Penanggulangan Pencemaran Udara Di Kota Cilegon Berdasarkan Asas Keberlanjutan Dalam Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Adha Kumara Cahya; Ikomatussuniah; Ahmad Rayhan
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 12 (2025): Menulis - Desember
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i12.910

Abstract

lingkungan sekitar. Pasal 13 ayat (4) Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 10 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah wajib melakukan pemantauan kualitas lingkungan hidup di daerah untuk mengetahui kecenderungan kualitas lingkungan hidup. Identifikasi masalah, yaitu bagaimana pelaksanaan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dalam penanggulangan pencemaran udara di Kota Cilegon berdasarkan asas keberlanjutan dalam Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 10 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah dan apa saja kendala pelaksanaan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dalam penanggulangan pencemaran udara di Kota Cilegon. Teori yang digunakan, yaitu teori kewenangan dan penegakan hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis empiris dengan spesifikasi penelitian kualitatif deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dinas Lingkungan Hidup melaksanakan penanggulangan pencemaran udara berdasarkan kewenangan delegasi Pasal 41 Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 10 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah dengan melakukan pembinaan, penegakan hukum berupa pengawasan dan pemberian sanksi, konsultasi serta pendampingan teknis terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan, namun menghadapi hambatan pada terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki. Hambatan yang dihadapi memerlukan perbaikan pada dua elemen, yaitu struktur hukum memerlukan penguatan melalui peningkatan alokasi anggaran yang memadai. Budaya hukum perlu ditegakkan secara konsisten untuk mendorong kepercayaan masyarakat terhadap Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon melalui edukasi dan sosialisasi terkait status lingkungan hidup, prosedur pengaduan secara berkala, pemberian informasi peringatan pencemaran, serta optimalisasi pengembangan sistem informasi lingkungan yang terpadu, terkoordinasi dan dipublikasikan.
IMPLEMENTASI MODEL PENTAHELIX OLEH DISPORAPAR KOTA CILEGON TERHADAP PENGEMBANGAN OBJEK WISATA DAERAH SITU RAWA ARUM DALAM MENGOPTIMALKAN ASAS PARTISIPATIF Syafira Nabila Salim; ⁠Ikomatussuniah; ⁠Ferina Ardhi Cahyani
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 2 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Februari
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/afqrwj29

Abstract

Situ Rawa Arum merupakan salah satu objek wisata daerah di Kota Cilegon yang memiliki potensi alam. Pengelolaannya berada di bawah pendelegasian kewenangan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Cilegon (Disporapar) sebagai instansi yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan sektor pariwisata daerah. Dalam rangka mengoptimalkan asas partisipatif sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, diperlukan strategi kolaboratif melalui model Pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model Pentahelix dalam melakukan pengembangan objek wisata daeran serta implementasinya oleh Disporapar Kota Cilegon dalam mengoptimalkan asas partisipatif terhadap pengembangan Situ Rawa Arum. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif analitis melalui studi kepustakaan dan penelitian lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh unsur Pentahelix telah terlibat dalam pengelolaan, namun implementasinya belum optimal dan menyeluruh karena keterbatasan anggaran serta belum tersusunnya RIPPDA Kota Cilegon. Kondisi tersebut berdampak pada belum terintegrasinya kolaborasi secara sistematis sehingga optimalisasi asas partisipatif belum sepenuhnya terwujud berkelanjutan.
Implementasi Penugasan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan Banten Utara Dalam Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik Untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Muhamad Lutfi; Ikomatussuniah; Ahmad Rayhan
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2026): July : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i3.1475

Abstract

Pasal 24 dan 25 Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2023, PT PLN (Persero) diwajibkan menyediakan infrastruktur pengisian listrik bagi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Dalam praktiknya, terdapat kesenjangan antara kewajiban normatif dan implementasi di wilayah PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Banten Utara. Identifikasi masalah penelitian ini: (1) bagaimana implementasi penugasan PT PLN (Persero) UP3 Banten Utara dalam penyediaan infrastruktur pengisian listrik untuk KBLBB berdasarkan peraturan tersebut; dan (2) apa saja faktor pendukung dan penghambatnya. Dalam penelitian ini digunakan teori efektivitas hukum dan teori negara kesejahteraan sebagai pisau analisis, dengan metode yuridis empiris dan pendekatan deskriptif analitis melalui wawancara dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan implementasi penugasan belum sepenuhnya efektif ditinjau dari efektivitas hukum. Secara formal, 22 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) telah terpasang, mekanisme perencanaan teknis telah dijalankan, dan skema kerja sama dengan pihak swasta telah dilaksanakan. Namun, dari aspek substansi hukum, regulasi tidak memuat standar distribusi berbasis wilayah maupun indikator keberhasilan yang terukur. Dari aspek struktur hukum, birokrasi persetujuan anggaran yang terpusat dan ketiadaan jalur koordinasi dengan pemerintah daerah menghambat percepatan pembangunan SPKLU. Dari aspek sarana dan budaya hukum, keterbatasan kapasitas teknis jaringan distribusi serta rendahnya adopsi kendaraan listrik menyebabkan infrastruktur yang tersedia belum dimanfaatkan optimal. Teridentifikasi lima faktor pendukung, yaitu regulasi yang jelas, kapasitas kelembagaan UP3, ketersediaan jaringan distribusi, digitalisasi sebagai modernisasi dan skema kerja sama swasta, serta lima faktor penghambat meliputi ketimpangan distribusi SPKLU, hambatan birokrasi, keterbatasan teknis jaringan, kendala operasional digital, dan rendahnya adopsi kendaraan listrik.
The Role of the Pati Regency Youth, Sports, and Tourism Office in Empowering Bakaran Wetan Tourism Village to Increase Local Own-Source Revenue under Pati Regent Regulation Number 28 of 2022 on Tourism Village Empowerment Ipang Danareo; Ikomatussuniah Ikomatussuniah; Ahmad Rayhan
Anthroposia: Journal of Social and Human Development Vol. 1 No. 1 (2026): March: Anthroposia: Journal of Social and Human Development
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/v9hznq20

Abstract

Tourism village empowerment has become a strategic regional policy for increasing Local Own-Source Revenue (LOR) through the utilization of local cultural assets. Bakaran Wetan Tourism Village in Pati Regency is developed under Pati Regent Regulation Number 28 of 2022, yet its implementation remains constrained by limited funding, weak institutional coordination, declining tourist interest, and the tourism sector's modest contribution to regional revenue. This study analyzes the implementation, constraints, and optimization strategies of the Pati Regency Youth, Sports, and Tourism Office (DINPORAPAR) in empowering Bakaran Wetan Tourism Village. An empirical juridical approach with qualitative methods was employed using semi-structured interviews with government officials, Batik Bakaran artisans, local residents, and tourists, supported by legal and documentary analysis. The findings show that DINPORAPAR has implemented tourism village assessment, institutional guidance, tourism promotion, batik training, and community-based cultural development as unilateral governmental legal actions. Policy implementation remains constrained by weak inter-agency coordination and limited tourism funding. Batik training and digital marketing effectively strengthen community capacity while preserving cultural authenticity, whereas batik printing assistance is less effective because it overlooks the traditional identity of hand-drawn Batik Bakaran.