Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pengawasan BP2MI Dalam Upaya Mewujudkan PMI Yang Bermartabat Azril Nurachmat, Ridwandani; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Rayhan, Ahmad
Lentera: Multidisciplinary Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Lentera: Multidisciplinary Studies
Publisher : Publikasiku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/lentera.v3i2.145

Abstract

Pekerja Migran Indonesia (PMI) memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, terutama melalui kontribusi remitansi. Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi PMI, seperti eksploitasi, perlakuan tidak adil, dan lemahnya perlindungan hukum. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) memiliki mandat untuk mengawasi dan melindungi PMI agar mereka dapat bekerja secara bermartabat dan memperoleh hak-hak yang layak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengawasan BP2MI dalam melindungi PMI berdasarkan regulasi yang berlaku. Metode yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan analisis terhadap peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintah, serta studi literatur terkait perlindungan pekerja migran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun BP2MI memiliki kewenangan luas dalam pengawasan dan perlindungan PMI, masih terdapat kendala dalam implementasi kebijakan. Permasalahan utama meliputi kurangnya sosialisasi terkait prosedur penempatan PMI, lemahnya koordinasi antar lembaga, serta masih tingginya jumlah PMI yang bekerja secara non-prosedural. Selain itu, masih banyak PMI yang kurang mendapatkan pelatihan keterampilan dan informasi tentang hak-haknya sebelum bekerja di luar negeri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa BP2MI perlu memperkuat pengawasan, meningkatkan program pelatihan bagi calon PMI, serta memperbaiki sistem penempatan untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi. Implikasi dari penelitian ini mengarah pada rekomendasi kebijakan yang lebih efektif dalam melindungi hak-hak PMI, termasuk penguatan koordinasi antarinstansi dan peningkatan kualitas SDM PMI agar dapat bersaing di pasar kerja global.
Kewenangan Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang dalam Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Sekali Pakai Khoirunnisa, Salsabila; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Rayhan, Ahmad
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 4: Juni 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i4.9468

Abstract

Penggunaan kantong plastik yang tidak dikurangi menyebabkan peningkatan volume sampah di TPA Cilowong sebesar 2,5% per bulan dan berdampak pada perubahan iklim. Berdasarkan Permen LHK No. 75 Tahun 2019, plastik termasuk bahan yang sulit terurai dan tidak dapat didaur ulang. Penelitian ini membahas pelaksanaan dan hambatan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang dalam mengurangi kantong plastik sekali pakai. Metode yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pengurangan plastik oleh DLH belum optimal karena keterbatasan anggaran, kurangnya pengawasan, konflik sosial terkait TPA Cilowong, minimnya investasi swasta, sulitnya sosialisasi karena kurangnya regulasi, serta rendahnya pemahaman DLH terhadap isu plastik. Hal ini menunjukkan bahwa konsep negara kesejahteraan belum sepenuhnya tercermin dalam pengelolaan sampah plastik di Kota Serang.
Kewenangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Serang Dalam Perlindungan Hukum Bagi Korban Bencana Alam Ilmi, Nurhasanatul; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Nurikah , Nurikah
Equality : Jurnal Hukum dan Keadilan Vol 2 No 2 (2025): Penegakan Integritas dan Kepastian Hukum dalam Kelembagaan dan Profesi Hukum di I
Publisher : Yayasan Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/equality-jlj.v2i2.304

Abstract

Legal protection provided by the Regional Disaster Management Agency is not given equally in receiving assistance in terms of logistical assistance and infrastructure repair. Article 8 paragraph (1) of Serang City Regional Regulation Number 16 of 2011 concerning Disaster Management, BPBD is responsible for disaster management. The problem identification of this research is how the implementation of the authority of the BPBD of Serang City in efforts to protect the law for victims of natural disasters through post-disaster rehabilitation and reconstruction and how the obstacles to the implementation of the BPBD's authority in efforts to protect the law for victims of natural disasters through post-disaster rehabilitation and reconstruction. The theory of this research is the theory of authority and the theory of legal protection. This research uses empirical juridical research methods with qualitative data analysis. The results showed that Disaster Management by BPBD has not been carried out optimally due to the inequality of receiving assistance in logistics and infrastructure assistance. The National Disaster Management Agency provides mandated authority to BPBD based on Serang City Regional Regulation Number 16 of 2011 concerning Disaster Management. Legal protection provided by the Regional Disaster Management Agency is not given equally in receiving assistance in terms of logistical assistance and repair Preventive legal protection by BPBD is provided through prevention such as conducting disaster-related socialization, disseminating disaster information and implementation, enforcing regional spatial plans through the PERKIM Office related to development and repressive legal protection by handling rehabilitation, namely logistical assistance and reconstruction, namely rebuilding facilities and infrastructure. The obstacles are lack of participation from related agencies, overlapping administration, lack of information and understanding of the community, and budget limitations. This research shows that the implementation of post-disaster rehabilitation and reconstruction by BPBD is not given equally to the provision of logistical assistance and infrastructure.
KONSTRUKSI SOSIAL HAMBATAN IMPLEMENTASI PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN JAMINAN HALAL PANGAN LOKAL DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN: PENELITIAN SOSIAL LEGAL TERHADAP INOVASI MAKANAN HALAL DI PROVINSI BANTEN Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Sariyah, Sariyah
International Journal Mathla’ul Anwar of Halal Issues Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Mathla’ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/ijma.202332.86

Abstract

The community's participation in the implementation of halal product assurance regulates in Articles 53, 54, and 55 of the JPH Law. However, its fact is under expectations. This paper aims to determine the obstacles in implementing the community's participation in local halal food assurance based on halal product assurance regulations in Banten province and the efforts made by the government to protect Muslim consumers. The study used socio-legal research methods with an abductive approach and qualitative data analysis, then data collection done by using in-depth interviews and related legal materials. The results showed the existence of four obstacles in the implementation of community participation in local halal food assurance based on halal product assurance regulations in Banten province, namely, the willingness to obtain halal raw materials for local food is limited, the processing process of local food products is less professional, the packaging of local food products is less attractive, the sale of halal local food products is still traditional and less desirable and weak public knowledge of consumer rights. The tripartite government efforts are essential to collaborate, namely the government (BPJPH), civil society, and business actors.
The Dynamics of Tamil-Indian Community in Pre-Independence Indonesia: The Case of Deli Hindu Sabba in Medan Maler, Wani; Mudzakkir, Moh.; Ikomatussuniah
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 1 (2023): Edisi Jurnal Vol. 19 No.1 Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v19i1.4507

Abstract

This study traces the formation, development and decline of the Deli Hindu Sabba organization in the city of Medan, North Sumatra, Indonesia. This article examines the emergence of Indian Tamil community organizations in the pre-independence period of Indonesia. This paper uses historical research methods to reconstruct events in the past. Data obtained through literature study from various documents. The data obtained were processed using critical methods to determine the authenticity and validity of the data obtained. The analytical method used is descriptive narrative to describe the chronology of events and aspects that affect the course of events. The study found that the Deli Hindu Sabba organization had its ups and downs: it was founded in 1913 and had developed since, but it stopped conducting activities in 1918 until Kumarasamy took over this organization in 1928. After that, Kumarasamy was pivotal role in the development and activities of this organisation. These activities included providing free education with Tamil language guidance, Indian Boy Scout and Mother Paguthi to empower Tamil community in Medan. Besides that, various arts and sports activities were also carried out. However, the organization suffered a setback in 1942 when former chairman of organization converted into Buddhism, making the organization lacked the important figures that could become its spearhead. In addition, it is the same year of the Japanese occupation which had banned all organizations in Indonesia during that time. Keywords:Tamil-Indian Community; Deli Hindu Sabba; Formation; Development; Decline
Efektivitas Penghentian Sengketa Informasi Publik yang Tidak Dilakukan dengan Itikad Baik di Komisi Informasi Provinsi Banten Odi Salsabilla Kirana Fitri Sudrajat; Ikomatussuniah Ikomatussuniah; Rila Kusumaningsih
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): JURRISH: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrish.v5i1.6969

Abstract

Public information disclosure is a manifestation of open and accountable government which is the basis for publik information requests. Everyone has the right to obtain public information through the mechanism of requesting information from public bodies. The problem that arises is that some information requessts are not made in good faith thereby failing to reflect the purpose of public information disclosure as a means of monitoring government performance. To adress this issue there is a mechanism to terminate the resolution of such information disputes in accordance with applicable laws and regulations. This study aims to determine the effectiveness of terminating informastion disputes that are not conducted in good faith and the obstacles in its implementation. The results of the study indicate that the termination of informastion disputes that are not conducted in good faith is not yet effective due to factors that influence the effectiveness of the law in society not being fulfilled including legal factors, societal factors, and cultural factors. The obstacles faced in the implementation of the termination of public information disputes that are not conducted in good faith include legal enforcement mechanism, public information management, and understanding of public information transparency. The effectiveness of a law is determined by the overall elements supporting its enforcement so it is hoped that the implementation of the termination of publik information disputes does not violate human rights and citizens’ rights.
KEWENANGAN DINAS SUMBER DAYA AIR DALAM PELAKSANAAN PROGRAM REVITALISASI TANGKI SEPTIK RUMAH TANGGA DI KELURAHAN RAMBUTAN JAKARTA TIMUR BERDASARKAN PERATURAN GUBERNUR DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 19 TAHUN 2024 TENTANG REVITALISASI TANGKI SEPTIK Setiawan, Muhammad Rafli; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Cahyani, Ferina Ardhi
DEDIKASI : Jurnal Ilmiah Sosial, Hukum, Budaya Vol 26, No 2 (2025): DEDIKASI
Publisher : Prodi Ilmu Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/ddk.v26i2.9210

Abstract

Masalah air limbah domestik, khususnya di kota besar padat penduduk merupakan isu yang krusial dan selalu menarik perhatian banyak pihak saat ini. Air limbah domestik yang tidak disalurkan dengan benar berperan besar dalam pencemaran air bersih yang nantinya berdampak pada kualitas kehidupan dan kesehatan masyarakat. Pemerintah DKI Jakarta selaku pengatur seluk-beluk dari pemerintahan memiliki kewajiban dalam pengelolaan dan pengembangan sistem air limbah domestik untuk memenuhi hak dasar masyarakat yaitu memiliki sanitasi yang layak. Upaya yang dilakukan salah satunnya dengan revitalisasi tangki septik yang merupakan kegiatan untuk menyediakan tangki septik rumah tangga yang berkualitas, berfungsi dengan baik dan memenuhi baku mutu yang dilakukan dalam bentuk pembangunan ataupun perbaikan. Teori yang digunakan yaitu teori kewenangan dan teori pengawasan. Metode penelitian yaitu yuridis empiris. Spesifikasi penelitian yaitu deskripstif analitis. Sumber data yaitu data primer ditunjang oleh data sekunder. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan Bidang Pengelolaan Air Limbah Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaksanakan RTS rumah tangga dengan memberikan delegasi kepada DSDA Provinsi DKI Jakarta melalui ketentuan diatur dalam Lampiran VII Peraturan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 57 Tahun 2022. DSDA Provinsi DKI Jakarta telah melakukan perencanaan, pembangunan, dan perbaikan tangki septik dengan dibantu Perumda Paljaya. Pelaksanaan program RTS belum optimal, DSDA Provinsi DKI Jakarta menghadapi empat hambatan, dengan hambatan paling utama adalah ketidakberlanjutan pelaksanaan program RTS pada Tahun 2024. Adanya pengkajian ulang dari Peraturan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta menjadi alasan belum terlaksananya program RTS ditahun 2024.
Kewenangan Dinas Lingkungan Hidup Dalam Penanggulangan Pencemaran Udara Di Kota Cilegon Berdasarkan Asas Keberlanjutan Dalam Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Adha Kumara Cahya; Ikomatussuniah; Ahmad Rayhan
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 12 (2025): Menulis - Desember
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i12.910

Abstract

lingkungan sekitar. Pasal 13 ayat (4) Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 10 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah wajib melakukan pemantauan kualitas lingkungan hidup di daerah untuk mengetahui kecenderungan kualitas lingkungan hidup. Identifikasi masalah, yaitu bagaimana pelaksanaan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dalam penanggulangan pencemaran udara di Kota Cilegon berdasarkan asas keberlanjutan dalam Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 10 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah dan apa saja kendala pelaksanaan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dalam penanggulangan pencemaran udara di Kota Cilegon. Teori yang digunakan, yaitu teori kewenangan dan penegakan hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis empiris dengan spesifikasi penelitian kualitatif deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dinas Lingkungan Hidup melaksanakan penanggulangan pencemaran udara berdasarkan kewenangan delegasi Pasal 41 Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 10 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah dengan melakukan pembinaan, penegakan hukum berupa pengawasan dan pemberian sanksi, konsultasi serta pendampingan teknis terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan, namun menghadapi hambatan pada terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki. Hambatan yang dihadapi memerlukan perbaikan pada dua elemen, yaitu struktur hukum memerlukan penguatan melalui peningkatan alokasi anggaran yang memadai. Budaya hukum perlu ditegakkan secara konsisten untuk mendorong kepercayaan masyarakat terhadap Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon melalui edukasi dan sosialisasi terkait status lingkungan hidup, prosedur pengaduan secara berkala, pemberian informasi peringatan pencemaran, serta optimalisasi pengembangan sistem informasi lingkungan yang terpadu, terkoordinasi dan dipublikasikan.
IMPLEMENTASI MODEL PENTAHELIX OLEH DISPORAPAR KOTA CILEGON TERHADAP PENGEMBANGAN OBJEK WISATA DAERAH SITU RAWA ARUM DALAM MENGOPTIMALKAN ASAS PARTISIPATIF Syafira Nabila Salim; ⁠Ikomatussuniah; ⁠Ferina Ardhi Cahyani
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 2 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Februari
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/afqrwj29

Abstract

Situ Rawa Arum merupakan salah satu objek wisata daerah di Kota Cilegon yang memiliki potensi alam. Pengelolaannya berada di bawah pendelegasian kewenangan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Cilegon (Disporapar) sebagai instansi yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan sektor pariwisata daerah. Dalam rangka mengoptimalkan asas partisipatif sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, diperlukan strategi kolaboratif melalui model Pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model Pentahelix dalam melakukan pengembangan objek wisata daeran serta implementasinya oleh Disporapar Kota Cilegon dalam mengoptimalkan asas partisipatif terhadap pengembangan Situ Rawa Arum. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif analitis melalui studi kepustakaan dan penelitian lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh unsur Pentahelix telah terlibat dalam pengelolaan, namun implementasinya belum optimal dan menyeluruh karena keterbatasan anggaran serta belum tersusunnya RIPPDA Kota Cilegon. Kondisi tersebut berdampak pada belum terintegrasinya kolaborasi secara sistematis sehingga optimalisasi asas partisipatif belum sepenuhnya terwujud berkelanjutan.
Pemberdayaan Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Desa Wisata  Cikolelet Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Serang Nomor 8 Tahun 2014 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Serang Tahun 2014-2025 Sultan Cesar Khadafi; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Ahmad Lanang Citrawan
Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry Vol 1 No 3 (2026): March: Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/k822zd38

Abstract

This study examines local community empowerment in the development of Cikolelet Tourism Village in Serang Regency based on Regional Regulation Number 8 of 2014 concerning the Master Plan for Tourism Development of Serang Regency 2014–2025. The development of tourism villages is intended to optimize cultural potential and local wisdom in order to enhance the economic and social welfare of the community, as well as to serve as a strategy for poverty alleviation through job creation and the strengthening of micro, small, and medium enterprises (MSMEs). The research focuses on the implementation of local community empowerment and the obstacles encountered in the development of the tourism village. This study employs the Theory of Development Law and the Welfare State Theory, using a juridical-empirical method with a descriptive qualitative approach. The findings indicate that community empowerment has been carried out through institutional establishment, basic tourism training, and community involvement in activities based on local potential. However, its implementation has not yet been optimal due to uneven community participation. Major constraints include limited funding, weak intersectoral coordination, low levels of community participation, and limited access to information and technology, which ultimately hinder the optimal development of community capacity.