Articles
Pembuatan Dan Pembagian Kompos Dari Limbah Pertanian Dan Peternakan Di Kelurahan Kadidi, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang
jannah, Khuriatul;
Aziz, Abdul;
Junaedi Muhidong;
Abdul Waris;
M.Tahir Sapsal;
Mahmud Achmad
Abdi Techno Jurnal AbdiTechno, Vol. 2, Nomor 1, Januari 2022
Publisher : Departemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/abditechno.v2i1.561
Sejak wabah Covid-19 merebak, kegiatan lebih banyak dilakukan di dalam rumah. Mulai dari pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari seperti olahraga dan sekolah kini dilakukan di dalam rumah. Bahkan, tak sedikit dari mereka mengisi waktu kosongnya dengan hobi baru. Hobi baru yang populer selama pandemi Corona salah satunya yaitu becocok tanam. Dalam bercocok tanam tentunya harus memperhatikan media tanam atau tempat tumbuhnya tanaman. Media tanam yang baik yaitu dengan memberikan dosis pupuk organik dalam medianya. Pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan dapat membantu mendaur ulang limbah-limbah organik. Melalui program kerja ini masyarakat diberikan edukasi berupa brosur mengenai pembuatan pupuk organik dari limbah pertanian dan peternakan. Tujun kegiatan ini yaitu memberikan informasi berupa brosur kepada masyarakat tentang cara mengurangi limbah yang dapat mencemari lingkungan dengan mengkolaborasikan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk kompos, sehingga dapat bermanfaat pada area pertanian yang dapat menyuburkan tanaman. Metode pengabdian ini yaitu dengan menyebarkan brosur dan produk pupuk organik berupa kompos kepada masyarakat. Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik Unhas Gelombang 106 “Penyebaran Brosur Mengenai Manfaat Kompos dan Cara Pembuatannya dari Limbah Pertanian dan Peternakan” ini telah berhasil dilaksanakan. Dimana, hasil luaran yang dicapai yaitu berupa brosur edukasi kepada masyarakat serta produk pupuk kompos.
Edukasi dan Pendampingan Penelitian Mengenai Rantai Nilai Komoditas Bawang Merah di Desa Batu Noni, Kecamatan Anggeraja
Ramadhani, Adhella;
Samsuar, Samsuar;
Junaedi Muhidong;
Husnul Mubarak;
Haerani;
Olly S.Hutabarat
Abdi Techno Jurnal AbdiTechno, Vol. 2, Nomor 1, Januari 2022
Publisher : Departemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/abditechno.v2i1.564
Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan merupakan daerah yang dominasi penduduknya bekerja pada sektor pertanian dengan sektor unggulan komoditi bawang merah. Berdasarkan data dari kementrian pertanian tahun 2020, Kabupaten Enrekang saat ini menempati posisi ke-5 nasional, sebagai daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia setelah Kabupaten Brebes, Nganjuk, Bima dan Solok. Namun potensi unggulan tersebut tidak diimbangi dengan tingkat kesejahteraan petani yang diakibatkan rendahnya posisi tawar petani. Faktor-faktor utama yang mengakibatkan rendahnya posisi tawar petani seperti kurangnya akses serta jaringan pasar, tertutupnya akses informasi harga pasar dan minimnya penguasaan teknologi. Program kerja ini dilaksanakan selama 1 hari dengan menggunakan metode wawancara dan edukasi terhadap petani bawang mengenai masalah yang dihadapi oleh para petani sebagai bentuk pendampingan terhadap penelitian mengenai rantai nilai bawang merah. Hasil dari analisis adalah temuan studi berisi fakta-fakta di lapangan yang bermuara akhir pada sebuah kesimpulan yang merupakan jawaban tujuan kegiatan yaitu menganalisa permasalahan rantai nilai komoditas bawang di Kabupaten Enrekang nilai pemasaran di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Hasil pengabdian ini kemudian akan dilanjutkan sebagai penelitian oleh tim dari Teknik Industri Universitas Hasanuddin sebagai bentuk tindak lanjut dalam merumuskan model rantai nilai yang tepat.
Sosialisasi Pembuatan Dan Penggunaan Tempat Pengering Sederhana
asmilawati, asmilawati;
Azis, Abdul;
Mursalim;
Muhidong, Junaedi;
Waris;
Sapsal, Tahir
Abdi Techno Jurnal AbdiTechno, Vol. 3, Nomor 2, Juli 2023
Publisher : Departemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/abditechno.v3i2.993
Kelurahan Campaga memiliki potensi yang besar didalam perkebunan dan pangan. Komoditi perkebunan yang besar di kelurahan Campaga yaitu cengkeh, kakao dan kopi. Salah satu tanaman komoditi pangan yang besar di kelurahan Campaga yaitu padi. Pengeringan termasuk salah satu proses penting dalam pasca panen untuk mempertahankan kualitas hasil pertanian, dengan melakukan pengeringan kadar air biji-bijian akan berkurang dan mencegah pertumbuhan jamur sehingga dapat disimpan lebih lama. Tujuan dari program kerja ini yaitu sebagai alternatif dalam proses pengeringan biji-bijian khususnya gabah bagi petani di kelurahan Campaga. Program kerja ini diharapkan dapat membantu masyarakat kelurahan Campaga mempermudah dalam proses pengeringan hasil perkebunannya. Metode pelaksanaan program kerja yang dilakukan, yaitu tahapan persiapan yang mencakup kegiatan pembelian bahan-bahan yang dibutuhkan dan juga persiapan alat-alat yang akan digunakan dalam pembuatan, tahapan pembuatan dimana merangkai bahan-bahan yang sudah disiapkan menjadi tempat pengering sederhana, tahapan pelaksanaan yaitu sosialisasi tentang manfaat tempat pengering gabah sederhana. Adapun sasaran dari kegiatan ini yaitu masyarakat kelurahan Campaga khususnya ibu rumah tangga. Hasil yang didapatkan yaitu respon positif dari masyarakat kelurahan Campaga. Adapun respon positif dari masyarakat yaitu ibu-ibu yang mau menerima tempat pengering sederhana yang telah dibuat untuk mencoba mengeringkan gabahnya atau hasil perkebunan lainnya. Kesimpulannya yaitu Hasil pelaksanaan pengabdian masyarakat melalui program kerja Perancangan dan Pembuatan Tempat Pengering Gabah Sederhana di Kelurahan Campaga sebagai bentuk perkenalan kepada masyarakat dan pelaksanaan program kerja memenuhi indikator keberhasilan serta mendapat respon positif dari masyarakat kelurahan Campaga.
Sosialisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Rumah Untuk Budidaya Sayuran Organik Di Kelurahan Campaga Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng
daniatanti, farisna;
Azis, Abdul;
Mursalim;
Waris;
Muhidong, Junaedi
Abdi Techno Jurnal AbdiTechno, Vol. 3, Nomor 2, Juli 2023
Publisher : Departemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/abditechno.v3i2.994
Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng merupakan salah satu kelurahan yang diperuntukan untuk kawasan pertanian dan pariwisata. Masyarakat di Kelurahan Campaga umumnya memiliki pekarangan yang cukup luas, namun sebagian besar tidak dimanfaatkan dan dibiarkan terbengkalai. Pemanfaatan lahan pekarangan rumah yang paling cocok adalah dengan ditanami sayuran. Konsumsi sayuran harus dilakukan setiap hari karena sayuran sangat penting bagi kesehatan tubuh manusia. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi pangan sehat, menyebabkan berbagai produk sayuran organik semakin diminati walaupun harganya lebih mahal. Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha untuk mendapatkan sayuran yang sehat dengan harga yang murah. Salah satu usaha yang dapat dilakukan masyarakat adalah dengan menanam sendiri di pekarangan rumah. Menanam sayuran bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun pengetahuan bagaimana menamam sayuran yang baik di lahan sempit seperti pekarangan rumah belum banyak diketahui. Oleh karena itu dilakukan kegiatan pengabdian dengan tujuan untuk memberikan edukasi tentang pemanfaatan lahan pekarangan rumah serta cara budidaya sayuran organik. Kegiatan ini dilakukan dengan metode sosialisasi dari rumah ke rumah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian ini terlaksana dengan baik dan mendapat respon positif dari masyarakat setempat. Masyarakat cukup antusias dan tertarik serta memahami edukasi yang disampaikan dalam kegiatan.
Penerapan Mesin Pemotong Padi (Power rice cutter) pada Kelompok Tani Padi Di Kelurahan Banyorang Kabupaten Bantaeng
Salim, Iqbal;
Rizal, Muhammad;
Azis, Abdul;
Achmad, Mahmud;
Gemala Hardinasinta;
Husnul Mubarak;
Mursalim;
Junaedi Muhidong;
Salengke;
Ahmad Munir;
Sitti Nur Faridah;
Abdul Waris;
Daniel Useng;
Suhardi;
Diyah Yumeina;
Olly Sanny Hutabarat;
Haerani;
Muhammad Tahir Sapsal;
Intan Febriana;
Hartono;
Anugrah Feri Hermanto;
Dedianto Pasomba
Abdi Techno Jurnal AbdiTechno, Vol. 4, Nomor 2, Juli 2024
Publisher : Departemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/abditechno.v4i2.1361
Pemotongan padi saat panen secara manual dengan sabit menyebab tingkat kehilangan mendekati 5%. Sekitar 1000 ha persawahan yang ada di kecamatan Tompobulu berada pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut (mdpl) dengan petakan-petakan kecil (<0,15 ha) dan berpola sawah terassering. Masalah utama yang dihadapi petani di kecamatan Tompobulu kabupaten Bantaeng dalam penanganan panen padi adalah tingginya susut (losses) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Permasalahan tersebut berakibat adanya kecenderungan tidak memberikan insentif kepada petani untuk memperbaiki tingkat pendapatannya. Padi atau gabah yang kadar airnya tinggi mempunyai sifat mudah rusak dan akan mengalami susut pada saat penanganan panen. Menurut BPS (2021) angka produksi gabah sebesar 75 juta ton GKG (Gabah Kering Giling) sesungguhnya dapat lebih tinggi lagi apabila dilakukan penanganan yang baik pada saat panen (2). Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS, 2021) menunjukkan bahwa susut hasil panen padi di Indonesia saat ini masih cukup tinggi, yaitu 9,5% yang terjadi pada saat panen dan 4,8% saat perontokan (2). Penanganan panen yang baik dan tepat dapat menekan susut dan menghasilkan kualitas gabah/beras yang tinggi sehingga dapat meningkatkan harga jual gabah/beras petani. Teknologi penekanan kehilangan hasil yang dipilih untuk diterapkan harus teknologi yang sesuai dengan spesifik lokasi. Secara umum metode atau teknologi untuk menekan kehilangan hasil panen dapat ditempuh dengan sistem panen beregu, yang dilengkapi dengan unit alat pemotong dan perontok dengan penerapan proses yang baik. Pada daerah dengan pemilikan lahan sempit, penerapan teknologi yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pengembangan sistem panen yang dilengkapi dengan mesin pemotong padi (power rice cutter) dan perontok padi atau Power Thresher.
Cacao Pod Husk Briquette: Pengelolaan Limbah Kulit Cacao Sebagai Bahan Baku Pembuatan Briket
Nursusilowati, Indah;
Iqbal, Iqbal;
Mursalim, Mursalim;
Muhidong, Junaedi;
Waris, Abdul;
Useng, Daniel
Abdi Techno Jurnal AbdiTechno, Vol. 5, Nomor 1, Januari 2025
Publisher : Departemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/abditechno.vi.1747
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan suatu kegiatan pengabdian masyarakat dengan mengaplikasikan teori-teori yang diperoleh di bangku perkuliahan yang diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan hasil observasi di Kecamatan Gantarangkeke banyak masyarakat yang bekerja sebagai petani cacao. Tetapi masih belum bisa mengelola limbah kulit cacao dan dimanfaatakan.Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan untuk mengurangi penumpukan limbah kulit cacao ini ialah memenfaatkan limbah kulit cacao sebagai bahan baku pembuatan briket. Tujuan dilakukannya program kerja Cacao Pod Husk Briquette: Pengelolaan limbah kulit cacao menjadi bahan baku briket yaitu untuk memberikan pengetahuan kepada para petani cara memanfaatkan limbah kulit cacao menjadi briket dan cara pembuatannya sehingga limbah kulit cacao lebih bermanfaat untuk para petani dan masyarakat. Program kerja ini telah terlaksana dengan baik dan hadirnya program kerja pembuatan produk briket dan mensosialisasikan produk dan proses pembuatan briket ini sangat memberikan dampak yang sangat besar sehingga memberikan pengetahuan baru dan limbah tersebut sudah memiliki nilai guna baru yang menguntukan bagi para petani dan masyarakat sekitar.
Dimensional Changes of Red Dragon Fruit (Hylocereus Polyrhizuz) Slices During the Drying Process
Putri Sejagat, Laradita;
Muhidong, Junaedi;
Salim, Iqbal;
Yumeina, Diyah
Salaga Journal Volume 01, No. 1, June 2023
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/salaga.v1i1.1106
Dragon fruit is one of the fruits with a fairly high water content which causes an increase in water activity and accelerates the growth rate of microorganisms. research was conducted to determine the shrinkage that occurs in the fruit. Two different sample sizes were used in this study. Both were cylindrical in shape with a diameter of 2.5 cm and different lengths. 3 cm (Sample A) and 1.5 cm (Sample D). The number of samples used for sample A and sample D was 5 pieces each. Measurements of weight and dimensions (sample length and diameter) were repeated every 15 minutes during the drying time at 45 ºC. Once the sample weight was constant, the material was put back into the oven at 105 ºC for 72 hours. After 72 hours, the sample was weighed and measured to determine the dry weight of the sample. Based on the study of the pattern of changes in the dimensions of red dragon fruit during the drying process, it can be concluded that the pattern of changes in volume ratio to KAbb is a linear pattern with an R2 value of 0.9946. The pattern of changes in volume ratio to KAbb is polynomial degree 2 and 3, but the R2 value is greater for degree 3, so degree 3 is more suitable for estimating the volume ratio of KAbb.values.
Performance Evaluation of a No-Husk Corn Sheller: A Case Study at Benteng Tellue Workshop
Ramadhan, Syahrul;
Muhammad Tahir Sapsal;
Junaedi Muhidong
Salaga Journal Volume. 02, No 1, June 2024
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/salaga.v2i1.1743
The post-harvest handling of corn involves threshing, the process of separating kernels from the cob. A corn shelling machine without husking offers advantages for both sellers and buyers by allowing manual sorting of good and damaged kernels before threshing. This study evaluates the performance of a no-husk corn sheller used in the Amali District, Bone Regency. Key parameters analyzed include fuel consumption, shelling capacity, percentage of damaged kernels, and cleanliness level at three different rotational speeds (500, 600, and 700 rpm). The results indicate that increasing the rotational speed leads to higher fuel consumption and improved shelling capacity. However, the percentage of damaged kernels decreases with higher speeds, achieving an average damage rate of 0.049%. Additionally, the cleanliness level of the shelled corn reaches an average of 98%, confirming the machine’s efficiency. These findings suggest that optimizing the rotational speed enhances both productivity and output quality, making the no-husk corn sheller a viable tool for post-harvest processing.
Color Changes in Chili (Capsicum frutescens L.) During Thin-Layer Drying
Musdalifah, Nuzlul;
Muhidong, Junaedi;
Supratomo, Supratomo
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29165/ajarcde.v9i2.722
This study investigates the effects of hot water blanching and air velocity on the color stability of chilli (Capsicum frutescens L.) during thin-layer drying. The objective was to determine optimal pre-treatment and drying conditions that preserve visual quality and enhance drying efficiency. A controlled laboratory-scale dryer was used, applying blanching at 90°C for 3 minutes and air velocities of 1.0 m/s and 1.5 m/s. Color parameters (L*, a*, b*), total color change (?E*), and hue angle shift (?H*) were measured periodically. Statistical analysis was conducted using ANOVA and Tukey HSD tests. The results show that blanching significantly improved color retention and reduced enzymatic browning. Higher air velocity accelerated drying and enhanced uniformity, with the combination of blanching and 1.5 m/s airflow yielding the best outcomes in terms of color stability and drying time. Interaction effects between blanching and airflow were synergistic, contributing to improved product quality. These findings align with previous studies and reinforce the importance of integrated drying strategies. In conclusion, the study demonstrates that combining blanching with optimized airflow enhances drying kinetics and preserves the visual quality of chili. These insights are valuable for small-scale processors and contribute to the development of efficient postharvest technologies. Future research should explore nutrient retention, aroma profiles, and advanced modeling of drying behavior. Contribution to Sustainable Development Goals (SDGs):SDG2: Zero HungerSDG 4: Quality EducationSDG 9: Industry, Innovation, and InfrastructureSDG 12: Responsible Consumption and Production
Changes in Coconut Water Quality (Cocos nucifera L) During the Storage Process
Andini, Nurlisa;
Muhidong, Junaedi;
Haerani;
Intan Permata Hati, Febriana
Salaga Journal Volume 02, No. 2, December 2024
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian Universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70124/salaga.v2i2.1786
Coconut water (Cocos nucifera L.) is a natural beverage widely recognized for its high nutritional and health benefits. It contains essential electrolytes such as potassium, magnesium, and calcium, along with various vitamins and antioxidants; however, the quality deteriorates over time during storage. This study compares changes in the quality of young and mature coconut water stored at cold and ambient temperatures over a specific period of time. The research method includes measuring turbidity levels, pH, and total dissolved solids (TDS). The results indicate that both young and mature coconut water experience degradation in quality during storage, although at different rates. Storage at ambient temperature leads to a more rapid decline in quality than cold storage for both maturity types. Additionally, microbial growth is more frequently detected in coconut water stored at ambient temperature, particularly in mature coconut water. This study summarises that the quality of young and mature coconut water is influenced by storage temperature, with mature coconut water deteriorating at a higher rate. These findings can be recommended for storing coconut water at cold temperatures and consuming it shortly after opening it.