Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Veteriner

Respons Adaptif Kambing Perah Sapera Dara Terhadap Stres Panas Akibat Perubahan Kuantitas Pakan Fitra Aji Pamungkas; Bagus Priyo Purwanto; Wasmen Manalu; Ahmad Yani; Riasari Gail Sianturi
Jurnal Veteriner Vol 22 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.094 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.2.216

Abstract

This study aimed to evaluate the adaptive response of young sapera dairy goats on heat stress due to changes in feed quantities. Four young sapera dara dairy goats was kept in individual cages measuring 1.6 × 1.0 m2. Feeding in the form of concentrate and silage, respectively 800 g/day (A), 500 g/day (B), 200 g/day (C), and without feeding (D). The study design used Latin squares 4x4 with observed parameters including environmental conditions, physiological and haematological responses. The results showed that the air temperature, humidity, and wind speed in the cage were 20.94-31.59 °C, 47.19-99.20 %, and 1.81-2.02 m/ sec, respectively. Physiological and haematological responses of the four groups indicated that skin temperature, respiratory rate, and haematological parameters did not show significant differences (P>0.05), while body and rectal temperature, and heart rate showed differences (P<0.05) only at several points of observation, especially between groups A and D. In general, the rectal temperature and heart rate of 38.5-39.3 °C and 72.0-99.5 times per minute were still within the normal range. The physiological and haematological response values of group D that were lower than another groups indicated that reducing feed intake would reduce the metabolic heat generated in an effort to maintain the body’s thermal balance and the adaptive response of goats. This indicates that the young sapera dairy goat has the adaptive ability to heat stress due to changes in feed quantity.
Performa Produksi Sapi Bali Berbasis Agroekosistem di Pulau Timor Fellyanus Habaora; Asnath Maria Fuah; Luki Abdullah; Rudy Priyanto; Ahmad Yani; Bagus Priyo Purwanto
Jurnal Veteriner Vol 21 No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.372 KB)

Abstract

Pulau Timor merupakan daerah produksi sapi Bali di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi lahan adalah tipe kering sehingga pembatas utama produktivitas sapi adalah pakan. Manajemen pemeliharaan ternak masih tradisional sehingga input dari peternakan pun rendah. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa agroekosistem memengaruhi produktivitas ternak. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian tentang performans produksi sapi Bali berbasis agroekosistem sejak bulan Januari-Desember 2018. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui performans produksi sapi Bali di empat agroekosistem di Pulau Timor, yaitu agroekosistem padang rumput, pertanian, perkebunan, dan hutan. Lokasi penelitian dipilih secara purposive yang mewakili agroekosistem padang rumput, pertanian, perkebunan, hutan. Penentuan responden adalah 5-10% dari jumlah peternak pada setiap agroekosistem yang memiliki sapi Bali >10 ekor. Responden diwawancarai menggunakan daftar kuisioner yang telah disiapkan. Disamping wawancara, juga dilakukan observasi ke lapangan untuk pengukuran performans produksi sapi Bali. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan performa produksi sapi Bali di agroekosistem padang rumput dan agroekosistem perkebunan lebih baik dibandingkan ternak sapi Bali di agroekosistem pertanian dan hutan pada rentang umur 3,5-3,9 tahun. Ukuran badan terpanjang dihasilkan oleh sapi-sapi yang dipelihara pada agroekosistem hutan, sedangkan ukuran lingkar dada terbesar ditampilkan oleh sapi-sapi yang berada di agroekosistem padang rumput, dan ukuran pundak tertinggi dicapai oleh sapi-sapi yang berada di agroekosistem hutan. Secara umum nilai skor kondisi tubuh (SKT) tubuh sapi Bali pada empat agroekosistem menunjukkan kondisi tubuh yang cukup gemuk sampai dengan gemuk. Dengan demikian performa produksi sapi Bali di Pulau Timor sangat dipengaruhi oleh agroekosistem.
Evaluasi Kesesuaian Lingkungan Berdasarkan Penampilan Produksi Empat Bangsa Sapi pada Ketinggian Berbeda di Provinsi Lampung Nandari Dyah Suretno; Bagus Priyo Purwanto; Rudy Priyanto; Iman Supriyatna
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.949 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.478

Abstract

Each cattle breed can grow optimally at suitable environmental condition. bali cattle has better thermoregulation ability in incompaing with ongole crossbreed cattle in lowland. Simental or limousin cattle is from temperate zone with cold temperature area and intensive breeding management. Based on those considerations, this research aimed was to investigate the production performance of bali cattle, ongole crossbreed, limousine crossbreed and simental crossbreed cattle at different altitudes and seasons in Lampung Province. Research used adult female cattle consisting of 82 bali cattle, 138 ongole crossbreed cattle, 54 limousin crossbreed cattle and 32 simental crossbreed cattle. The observed variables as production response were body height, chest size and Body Condition Score (BCS). Data was then analyzed using Randomized Complete Design. Based on body size (height and chest circumference) and BCS, it can be concluded that the Bali cattle suitable to be developed in the lowlands, ongole crossbreed cows in the highlands, limousine crossbreed in the lowlands and simmental crossbreed suitable to be developed in both the lowlands and highlands. ABSTRAK Sapi bali mempunyai kemampuan termoregulasi yang lebih baik dibandingkan dengan sapi peranakan ongole di dataran rendah. Sapi simental atau limousin terbiasa hidup di daerah dengan suhu udara yang dingin dan tatalaksana pemeliharaan intensif. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan produksi sapi bali, sapi peranakan ongole, sapi peranakan limousin, dan peranakan simental pada beberapa ketinggian tempat dan musim yang berbeda di Provinsi Lampung. Materi yang digunakan adalah sapi betina dewasa: yaitu sapi bali 82 ekor, sapi peranakan ongole 138 ekor, sapi peranakan limousin 54 ekor, dan sapi peranakan simental 32 ekor. Peubah yang diamati untuk respons produksi adalah tinggi badan, lingkar dada, dan Body Condition Score (BCS). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan ukuran tubuh (tinggi dan lingkar dada) serta BCS, sapi bali cocok dikembangkan di dataran rendah. Sapi PO mempunyai ukuran tubuh sama pada ketiga ketinggian tempat namun BCS terbaiknya di dataran tinggi. Sapi peranakan limousin ternyata penampilan produksi terbaiknya baik musim hujan maupun musim kemarau di dataran rendah. Sementara sapi peranakan simental cocok dikembangkan di dataran rendah dan dataran tinggi.
Co-Authors Afgani, Nawangsari Aulia Afgani, Nawangsari Aulya Afton Atabany Agustin, Adinda Dwina Ahmad Yani Ahmad Yani Ahmad Yani ahmad yani Alfiyyah Yasmin, Fairuz Andi Febrisiantosa Andila, Rizkhy Ervanda Anggraeni Efrika Cahyawati Anneke Anggraeni Arfiani Arfiani Asnath Maria Fuah Asnath Maria Fuah, Asnath Maria Awaliyah, Izatullah Rizky Ayuningtyas, Gilang Azhar Amir Dela Harini Dela Heraini Desi Ratnasari Diana Dwi Retno Hapsari, Dwi Retno Elma Rohlyharni Epi Taufik Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fit Rayani, Tera Fitra Aji Pamungkas Fitra Aji Pamungkas Fitra Aji Pamungkas Habaora, Fellyanus Hakim, Annisa Haryanto, Gito Imam Sanusi, Imam Iman Supriyatna Irma Isnafia Arief Jefirstson Richset Riwukore Jefirstson Richset Riwukore Jefirstson Richset Riwukore Jefirstson Richset Riwukore Joni Setiawan Khairunisa, Luthfi Khoirunnisa, Luthfi Leonard Dharmawan Lia Budimulyati Salman Luis Marnisah Luki Abdullah Muadz Abdurrahman Muhammad Dimas Rachmawanto Nahrowi Nahrowi Nandari Dyah Suretno Nurfitriani, Dini Pangestu, Puguh Pisa Daswita Pria Sembada Priyambodo, Danang Pudji Muljono Rarah Ratih Adjie Maheswari Rarah Ratih Adjie Maheswari Rayani, Tera Fit Riasari Gail Sianturi Riasari Gail Sianturi Riasari Gail Sianturi Rinaldy Irsyad, Brian Riwukore, Jefirstson Richset Rudy Priyanto Salundik Saragih, Elma Rohlyharni Suryahadi Suryahadi (Suryahadi) Suryahadi Suryahadi Suryahadi Suryahadi Wasmen Manalu Yantyati Widyastuti Yohanes Susanto Yoshi Lia Anggrayni