Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Healthy Elderly in Pandemic: Physical Activities During The Covid-19 Pandemic Angkit Kinasih; Theresia P.E Sanubari; Hidayat Hidayat
Jurnal Kesehatan Komunitas Vol 7 No 2 (2021): Journal of Community Health
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The elderly experience a decline in health due to decreased body functions caused by increasing age. Covid-19 has spread since March 2020 has led to the emergence of restrictions on activities, namely PSBB. These conditions lead to various changes related to efforts to overcome health problems. The purpose of this study is to explore physical activity by paying attention to social and environmental conditions during the Covid-19 pandemic in the elderly in Kebumen Village, Banyubiru District. The research used a descriptive qualitative research method. The data used structured interviews with 4 elderly people in Banyubiru District, Kebumen Village who were disabled at the Banyubiru Health Center. The participants involved elderly with inclusion criteria of women aged 55 - 61 years, physically and mentally healthy, often doing physical activities, domiciled in Kebumen Village, Banyubiru District. The study was conducted in February - July 2020 in Kebumen Village, Kebumen Village, Banyubiru District, Semarang Regency. The results showed that most of the participants experienced changes in physical activity due to the PSBB. The elderly must adapt to conditions during a pandemic that causes a reduction in the quality and quantity of physical, social, and environmental activities. Gathering activities that are not useful are not carried out by the elderly group even though they are useful for maintaining their health.
GAMBARAN AKTIVITAS FISIK SISWA DENGAN IMT KATEGORI GEMUK DI SEKOLAH DASAR DESA BUTUH Arya Mahendra Aji Nugroho; Angkit Kinasih; Sanfia Tesabela Messakh
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 8 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Agustus
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.002 KB)

Abstract

Kegemukan menjadi masalah global di semua negara, kegemukan dapat menyerang semua orang. Prevalensi kegemukan pada anak usia 6-12 tahun mengalami peningkatan sangat tinggi, hal ini akibat ketidakseimbangan antara konsumsi energi yang tinggi dibandingkan dengan aktivitas fisiknya. Untuk mengatasinya kegemukan ini diharuskan sering beraktivitas fisik dan pengecekan berat badan dengan mengukur Indeks Massa Tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aktivitas fisik siswa dengan kategori IMT gemuk di desa Butuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif dengan menghitung IMT dan mengukur aktivitas fisik dengan instrumen The Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C) yang dimodifikasi. Dalam penelitian ini ditemukan total populasi 259 siswa, 25 siswa mengalami kegemukan dengan presentase intensitas aktivitas fisik 4% sangat ringan, 36% ringan, 48% sedang, 8% berat, 4% sangat berat. Disimpulkan bahwa aktivitas fisik siswa SD Butuh cukup baik dengan kategori sedang, dibandingkan siswa lainnya yang rendah aktivitas fisiknya.
PENGARUH AKTIVITAS FISIK DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA HIPERTENSI DI PANTI WREDHA MARIA SUDARSIH AMBARAWA Tabita Ma Windri; Angkit Kinasih; Thresia Pratiwi Elingsetyo Sanubari
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 3 No 11 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi November
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.716 KB)

Abstract

Lansia rentan mengalami penyakit yang berhubungan dengan proses menua salah satunya hipertensi. Dalam penelitian Xu et al. (2016), mengatakan bahwa orang dengan hipertensi memiliki kualitas hidup yang buruk dari pada orang yang tidak mengalami hipertensi. Aktivitas fisik diduga berhubungan dengan kualitas hidup pada lansia hipertensi. Dengan melakukan aktivitas fisik, lansia dapat mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatannya. Tujuan penelitian untuk mengetahui perubahan pemberian senam lansia untuk peningkatan kualitas hidup lansia di Panti Wredha Maria Sudarsih Ambarawa yang menderita hipertensi. Metode penelitiannya: instrument pengumpulan data menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF dari WHOQOL Group. Kusioner kualitas hidup pada lansia penderita hipertensi akan dilakukan 2 kali yaitu sehari sebelum dan sesudah kegiatan aktivitas fisik selama 2 minggu. Data lainnya adalah tekanan darah sebelum senam dan sesudah senam untuk mengetahui perubahan tekanan darah. Hasil penelitin terdapat pengaruh aktivitas fisik dengan kualitas hidup lansia pada domain kesehatan fisik dengan didukungnya data tensi tekanan darah yang mengalami penururan.
Hubungan Aktivitas Fisik dan Obesitas terhadap Peak Expiratory Flow pada Siswa SMAN 1 Candiroto Temanggung Jawa Tengah Angkit Kinasih; Dhanang Puspita; Naftalione Efata Kristnanda - UKSW Salatiga
Indonesian Journal on Medical Science Vol 5 No 1 (2018): IJMS 2018
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.822 KB)

Abstract

Abstract: Obesity is a world health problem caused by abnormalities or diseases by the accumulation of fat tissue in an excessive body. The maximum expiratory velocity of a person can achieve in liters per minute (L / min) or liters per second (L / sec). Body Mass Index (BMI) affects maximum expiratory velocity. A person with BMI 18.5-24.9 (normal category) has low vital pulmonary capacity compare to a person with BMI >25 (obesity category) who has vital lung capacity. Research aim was to determine the relationship between obesity and maximum expiratory velocity among students in SMA Negeri 1 Candiroto Temanggung. The study was conducted on 66 respondents aged 15-18 years. Research measurement for maximum expiratory velocity used spirometer while body mass index used weight divide to height (meters). Result showed there was a positive relationship between body mass index and maximum expiratory velocity. Majority respondents showed body mass index and maximum expiratory velocity results above average. Conclusion was daily routine physical activity affects body mass index and maximum expiratory velocity. Vital capacity of the lungs of obesity people who did daily routine physical activity had better than who did not do daily routine physical activity. Daily routine physical activity takes effect of body mass index, maximum expiratory velocity and keep healthy body.Keywords: body mass index, cardio respiration, physical activity, obesity, maximum expiratory velocity Abstrak: Obesitas merupakan masalah kesehatan dunia disebabkan suatu kelainan atau penyakit ditandaii oleh penimbunan jaringan lemak di tubuh secara berlebihan. PEF adalah kecepatan arus puncak ekspirasi maksimal yang bisa dicapai oleh seseorang, dinyatakan dalam  liter per menit (L/menit) atau liter per detik (L/detik). IMT sangat berpengaruh pada PEF dikarenakan IMT yang >25 kategori obesitas akan memiliki kapasitas vital paru-paru yang sangat rendah dibandingan yang memiliki IMT 18,5-24,9 kategori normal yang memiliki kapasitas vital paru-paru yang besar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan obesitas terhadap PEF pada siswa di SMA Negeri 1 Candiroto Temanggung. Penelitian dilakukan pada 66 partisipan siswa SMA Negeri 1 Candiroto Temanggung usia 15–18 tahun, hasil dari IMT dengan presentase BB/ TB2 (m) yang hasilnya >25 dan pengukuran PEF dengan spirometer. Peningkatan IMT dengan peningkatan fungsi paru pada pemeriksaan spirometri bahwa IMT menunjukan hubungan yang positif dengan PEF. Hasil grafik dilihat dari beberapa sampel yang IMT dan PEF tinggi diatas rata-rata. Kesimpulannya aktivitas fisik dengan rutin memengaruhi IMT dan PEF dikarenakan hasil kapasitas vital orang obesitas yang rutin melakukan aktivitas fisik akan lebih baik dibandingan yang tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali. Rutin melakukan aktivitas fisik berpengaruh pada IMT, PEF dan menjaga tubuh tetap sehat, terjauh dari penyakitKata kunci : Aktivitas fisik, IMT, Kardiorespirasi, Obesitas, PEF.
Keefektifan Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Selama Masa Pandemi Covid-19 Di SMA Kristen 1 Salatiga Kinasih, Angkit; Wibowo, Cahyo; Telaumbanua, Observasi S. J
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.438 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v6i11.4596

Abstract

Corona Virus telah banyak mengubah tatanan kehidupan masyarakat di dunia termasuk Indonesia, perubahan terjadi secara tiba-tiba dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan sekaligus memberi dampak yang sangat besar pada semua bidang, salah satunya adalah bidang Pendidikan. Pendidikan di Indonesia terhambat tidak berjalan secara normal sebagaimana biasanya, sehingga mengharuskan sistem pelaksanaan pembelajaran di sekolah dari tatap muka menjadi jarak jauh (online). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis keefektifan pelaksanaan pembelajaran daring pada pembelajaran PJOK yang telah dilaksanakan di SMA Kristen 1 Salatiga selama pandemi Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif berupa pendekatan deskriptif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner online. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 180 peserta didik kelas (X) SMA Kristen 1 Salatiga. Dan jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 37 peserta didik di SMA Kristen 1 Salatiga. Adapun hasil analisis yang diperoleh dalam penelitian ini bahwa pelaksanaan pembelajaran PJOK di SMA Kristen 1 Salatiga selama masa pandemik Covid-19 dapat berjalan efektif. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif yang menunjukkan nilai rata sebesar 29,76 responden menjawab “ya”. Skor rata-rata tersebut jauh lebih besar dari para responden yang menjawab tidak dengan skor rata-rata hanya 7,24
Hubungan Antara Aktivitas Fisik dengan Kekambuhan ISPA Pada Anak Usia Sekolah di Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang Sinsyeba Tomatala; Angkit Kinasih; Maria Dyah Kurniasari; Fiane De Fretes
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 6 No 1 (2019): JANUARY 2019
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/jkry.v6i1.289

Abstract

Tumbuh dan kembang anak mencakup 2 peristiwa yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Sistem kekebalan tubuh yang dipengaruhi oleh aktivitas fisik digunakan untuk melawan penyakit infeksius. Salah satu contoh penyakit infeksius adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pada tahun 2012, di Jawa Tengah angka kematian bayi, 80% dan anak usia 6- 12 tahun 23% disebabkan oleh ISPA pneumonia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah yang berada di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah sebanyak 62 orang yang memiliki riwayat pernah menderita ISPA di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Data primer diambil dengan menggunakan instrumen kuesioner PAQ-C untuk mengukur aktivitas fisik. Berdasarkan hasil uji korelasi dengan menggunakan uji Spearman, dapat diketahui adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan ISPA dimana nilai p-value 0,107 hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikasinya 0,01 yang berarti ada hubungan antara aktivitas fisik dengan ISPA tetapi hubungannya lemah. Selain itu, didapatkan juga nilai koefisien korelasi 0,206, nilai tersebut adalah positif sehingga menunjukan bahwa, semakin tinggi responden dengan riwayat ISPA melakukan aktivitas fisik, maka semakin tinggi resiko responden mengalami kekambuhan ISPA.
Hubungan Kebiasaan Sarapan Dengan Kemampuan Mengikuti Mata Pelajaran Penjas Siswa Kelas 4-6 Angkit Kinasih; Angga Wahid Saputra
JSH: Journal of Sport and Health Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/jsh.v4i2.3520

Abstract

Anak usia sekolah adalah salah satu aset yang berharga bagi bangsa, karena anak sekolah memasuki fase pertumbuhan dan perkembagan, maka diperlukan asupan makan yang bergizi cukup. Gizi anak akan tercukupi bila melakukan sarapan pagi untuk mendapatkan energi dan tubuh menjadi lebih bugar. Tujuan penelitian ini yaitu ingin mengetahui hubungan sarapan dengan kemampuan mengikuti mata pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) di SDN Polobogo. Metode yang digunakan kuantitatif korelasional. Responden penelitian ini adalah siswa kelas 4-6. Pemilihan reponden penelitian menggunakan tekhnik purposive sampling. Hasil penelitian ini adalah kebiasaan sarapan pagi diperoleh 73,3% anak selalu sarapan, 20% anak sering sarapan dan 6,67% anak jarang sarapan. Pada nilai penjas diperoleh hasil 100% dengan kriteria baik, dan tidak adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan pagi dengan prestasi belajar anak berdasarkan hasil uji korelasi. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sarapan pagi bukan satu-satunya yang mempengaruhi prestasi belajar anak. Kemampuan mengikuti mapel penjas anak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor internal (faktor jasmani dan psikologi) dan eksternal (faktor sosial, faktor kebudayaan, faktor lingkungan fisik). 
Challenges encountered by novice divers in their initial four open water dives of certification programs Kukuh Pambuka Putra; Bonifacius Arbanto; Angkit Kinasih; Muchamad Arif Al Ardha
Journal Of Sport Education (JOPE) Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jope.5.2.91-102

Abstract

 (English)To achieve an Open Water Diver (OWD) license, a diver is required to complete a minimum of four open water dives, which are typically carried out during the certification exam for open water diving. These initial dives are known to present challenges and difficulties for divers. The present study aims to identify the specific issues that arise during the first four open water dives in the training and certification of Open Water Divers. A total of ten participants who had undergone OWD certification training between September 2-5, 2022, in Karimunjawa waters, were selected to participate in the study. The participants consisted of three male and seven female divers, aged between 19-23 years old. The study identified a range of challenges experienced by the participants, including five physiological issues, seven equipment-related technical problems, and thirteen issues related to material mastery. Almost all participants reported encountering some form of difficulty during their first four open water dives. However, the severity of these issues was generally mild, and they did not significantly impede the diving process. The findings of this study suggest that novice divers are likely to encounter difficulties during their initial open water dives. Nevertheless, these issues can be addressed through experience and training. The study highlights the importance of developing strategies and interventions that aim to reduce the occurrence of these issues and enhance the overall safety and effectiveness of open water diving certification programs(Indonesian)Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan spesifik yang muncul selama empat penyelaman perairan terbuka pertama dalam pelatihan dan sertifikasi Penyelam Perairan Terbuka. Sebanyak sepuluh peserta yang telah menjalani pelatihan sertifikasi OWD pada tanggal 2-5 September 2022 di perairan Karimunjawa dipilih untuk mengikuti penelitian. Pesertanya terdiri dari tiga penyelam laki-laki dan tujuh penyelam perempuan, berusia antara 19-23 tahun. Studi ini mengidentifikasi berbagai tantangan yang dialami oleh para peserta, termasuk lima masalah fisiologis, tujuh masalah teknis terkait peralatan, dan tiga belas masalah terkait penguasaan materi. Hampir semua peserta melaporkan mengalami beberapa kesulitan selama empat penyelaman perairan terbuka pertama mereka. Namun, tingkat keparahan masalah ini umumnya ringan, dan tidak menghambat proses penyelaman secara signifikan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penyelam pemula kemungkinan besar akan menghadapi kesulitan selama penyelaman awal di perairan terbuka. Namun permasalahan ini dapat diatasi melalui pengalaman dan pelatihan. Studi ini menyoroti pentingnya mengembangkan strategi dan intervensi yang bertujuan untuk mengurangi terjadinya masalah-masalah ini dan meningkatkan keselamatan dan efektivitas program sertifikasi penyelaman perairan terbuka secara keseluruhanCopyright © The Author (s) 2023Journal of Sport Education (JOPE) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Keterkaitan Antara Kejadian ISPA, Indeks Massa Tubuh (IMT), Dan Prestasi Akademis Pada Siswa Sekolah Dasar di Manokwari: Relationship Between the Incidence of Acute Respiratory Infections (ARI), Body Mass Index (BMI), and Academic Achievement in Elementary School Students in Manokwari Florensya Gohao; Arwyn Weynand Nusawakan; Angkit Kinasih
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i4.485

Abstract

Pada tahun 2013-2015 angka kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada balita dan anak usia sekolah dasar (? 15 tahun) di Indonesia mencapai yang tertinggi yakni sebanyak 82%. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keterkaitan antara kejadian ISPA, Indeks Massa Tubuh, dan prestasi akademis pada siswa sekolah dasar di Manokwari. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian study cross sectional, pada siswa SD di Manokwari dengan jumlah responden sebanyak 72 anak. Identifikasi kejadian ISPA dengam cara menanyakan riwayat gejala ISPA, penilaian status gizi dengan pengukuran antropometeri IMT/U, dan prestasi akademis menggunakan nilai raport (laporan pendidikan). Data dianalisis menggunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 39 anak yang mengalami ISPA, 10 anak yang memiliki status gizi kurang, dan 48 anak memiliki prestasi akademis yang cukup. Berdasarakan hasil uji korelasi tidak terdapat hubungan antara ISPA dengan prestasi akdemis (p = 0,882) maupun status gizi dengan prestasi akademis (p = 0,514). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat keterkaitan antara kejadian ISPA dan status gizi dengan prestasi akademis pada siswa sekolah dasar di Manokwari sehingga kemungkinan terdapat factor lain diluar penelitian ini yang juga mempengaruhinya.
GEJALA DEPRESI PADA REMAJA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Desi, Desi; Felita, Aris; Kinasih, Angkit
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 8, No 1 (2020): EDITION MARCH 2020
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.408 KB) | DOI: 10.33366/jc.v8i1.1144

Abstract

Depression is a mental disorder that is common in the world. Depression can cause difficulty concentrating, affecting once social functioning, and adjusting difficulty, and can even lead to suicidal behavior for individuals who have severe depression. Adolescence is a period of development, and during this period, adolescents often experience a period of identity and ambiguous crisis. This crisis identity causes adolescents to become unstable, aggressive, the conflict between attitudes and behavior, emotional and sensitive shakiness, too fast, and rash to take extreme actions. The purpose of this study was to identify depressive symptoms in adolescents in high school. Quantitative research with this survey approach involves students from SMA NEGRI 1 SALATIGA who were chosen randomly (random sampling). Determination of sample size using the Slovin formula with an error tolerance of 0.05. A total of 175 participants consisted of grades 10 and 11, consisting of 75 male students and 100 female students. The results of the study showed that 24% of male students were identified with symptoms of depression while females, there were as many as 40% identified as depressive symptoms. The limitation of this study is that it only uses one variable, showing the percentage of depressive symptoms in early adolescents.