Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

KARAKTERISTIK KOMBUCHA KULIT BUAH KOPI ARABIKA (Coffea arabica L.) DENGAN BERBAGAI VARIAN RASA Base, Nurul Hidayah; N Noena, Raymond Arief
Jurnal Kesehatan Yamasi Makassar Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : Akademi Farmasi Yamasi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59060/jurkes.v8i2.347

Abstract

Arabica coffee fruit skin (Cofea arabica L.) known as cascara is coffee waste which contains polyphenolic compounds which are antioxidants, which can be processed into processed products that are healthy for health, such as kombucha drinks as a result of fermentation from the symbiotic Scooby culture. This research aims to determine how to make and characterize the physical quality of Arabica coffee fruit skin kombucha with various flavor variants. This research is an experimental laboratory research by making kombucha tea from Arabica coffee fruit skin powder which is brewed in hot water, stored for 14 days. Adding sugar and Scoby, then physical quality characterization was carried out after being given flavor variants, namely original (F1), Strawberry (F2), Lemon (F3), Ginger (4) and Cinnamon (5). Kombucha tea Arabica coffee fruit skin has organoleptic characteristics with yellow (F1, F3, F4), red (F2), brownish yellow (F5); The distinctive aroma of each formula corresponds to the aroma of the additional ingredients provided; Sour taste (F1, F3, F4), slightly sweet sour (F2), sweet (F5). pH 3-4 and alcohol content of 0.3% (F1) and 0% (F2, F3, F4, F5). Kombucha tea made from Arabica coffee fruit skin has typical organoleptic characteristics, pH < 4.5 and alcohol content < 0.5%.
Kajian Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Untuk Penyakit Hipertensi Di Kelurahan Bontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa Base, Nurul Hidayah; Yusriyani, Yusriyani; Hardianti, Siti
Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP) Vol 2, No 1 (2022): February 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jecp.v2i1.341

Abstract

Tumbuhan obat merupakan seluruh spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat sebagai obat. Tumbuhan obat tersebut dikelompokkan menjadi tiga yaitu tumbuhan obat tradisional, tumbuhan obat modern, dan tumbuhan obat potensial. Kajian etnofarmakologi tumbuhan obat dalam pengobatan penyakit hipertensi dilakukan untuk mengkaji informasi tentang pemanfaatan tumbuhan obat meliputi nama tumbuhan, bagian Tumbuhan yang digunakan, cara pengolahan dan penggunaannya berdasarkan kebiasaan masyarakat di kelurahan Bontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Penelitian dilakukan dengan metode Snowball sampling dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.  Informasi yang diperoleh selanjutnya dikaji dengan metode literasi untuk mendapatkan informasi ilmiah dari hasil penelitian maupun dari rujukan buku dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis tumbuhan obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit hipertensi yang terdiri dari 46,15% daun, 38,64% buah, 7,69% akar, dan 7,69% umbi.  Rata-rata tumbuhan obat diolah dengan cara direbus menggunakan air mendidih kemudian dikonsumsi dengan cara diminum dan 84,6% merasakan gejala penyakit berkurang setelah penggunaan tumbuhan obat secara rutin.Medicinal plants are all plant species that are known or believed to have medicinal properties. The medicinal plants are grouped into three, namely traditional medicinal plants, modern medicinal plants, and potential medicinal plants. An ethnopharmacology study of medicinal plants in the treatment of hypertension was carried out to examine information about the use of medicinal plants including the name of the plant, the part of the plant used, how to process and use it based on the habits of the people in the Bontonompo village, Bontonompo district, Gowa regency. The research was conducted using the Snowball sampling method using observation, interviews, and documentation techniques. The information obtained is then reviewed using the literacy method to obtain scientific information from research results as well as from reference books and regulations set by the government. The results showed that there were 13 types of medicinal plants used in the treatment of hypertension, consisting of 46.15% leaves, 38.64% fruit, 7.69% roots, and 7.69% tubers. On average, medicinal plants are processed by boiling using boiling water and then consumed by drinking and 84.6% feel the symptoms of the disease are reduced after using medicinal plants regularly.
Karakterisasi Mutu Fisik Teh Celup Kulit Buah Kopi Arabika (Coffea arabica L): Karakterisasi Mutu Fisik Teh Celup Kulit Buah Kopi Arabika (Coffea arabica L) Base, Nurul Hidayah
Jurnal Kesehatan Yamasi Makassar Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Akademi Farmasi Yamasi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59060/jurkes.v9i1.376

Abstract

Kulit buah kopi arabika (Coffea arabica L.) merupakan bagian terluar dari buah kopi yang mengandung senyawa polifenol yang dapat menangkal radikal bebas dan memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, namun belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kulit buah kopi arabika dapat dibuat dalam sediaan teh celup herbal dan mengetahui karakterisasi mutu fisiknya berdasarkan keadaan air seduhan, pH, kadar air dan kadar ekstrak dalam air. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan melakukan pembuatan teh celup herbal kulit buah kopi arabika yang selanjutnya dilakukan karaketrisasi mutu fisik dengan mengacu pada SNI (3836 : 2013). Hasil pengujian karakteristik mutu fisik teh celup herbal kulit buah kopi arabika menunjukkan bahwa keadaan air seduhan berwarna merah kecoklatan, berbau khas aromatik dan tidak berasa. pH sebesar 4 (persyaratan pH 3,7-6,1), kadar air sebesar 7,7 % (< 8%), dan kadar ekstrak dalam air sebesar 36 % (> 32 %). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kulit buah kopi arabika dapat dibuat menjadi teh celup herbal dengan karakterisasi mutu fisik yang sesuai dengan syarat mutu fisik teh kering dalam kemasan.
PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN PADA ACARA HAJATAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN MALLEKANA KELURAHAN TETTIKENRARAE, KECAMATAN MARIO RIWAWO, KABUPATEN SOPPENG: Application Of Health Protocols At The Community Celebration Event In The Mallekana Neighborhood, Tettikenrarae Sub-District, Mario Riwawo District, Soppeng Regency Raymond Arief; Base, Nurul Hidayah
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT YAMASI Vol. 1 No. 1 (2022): Jurnal Pengabdian Masyarakat Yamasi
Publisher : Akademi Farmasi Yamasi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.995 KB) | DOI: 10.59060/jpmy.v1i1.187

Abstract

The very fluctuating increase in Covid-19 cases has made the implementation of healthprotocols more active. The government has issued a Policy for the Enforcement of Community ActivityRestrictions (PPKM) on a micro basis from February 9 to 22, 2021. The wedding celebration is a placethat has great potential to increase the spread of Covid-19 in the community. The application of Healthprotocols during the Covid-19 pandemic is very important to prevent the transmission of Covid-19,especially at bridal celebrations. The implementation of the Health protocol to the community is carriedout to get used to implementing the 3M (Wearing masks, Keeping distance, and Washing hands withsoap). The socialization begins by providing information orally or by distributing information leaflets toinvited guests on the night of Mappacci and on the day of the Marriage Contract, directing them to washtheir hands properly using hand soap and or prepare hand sanitizers, distributing masks, and adjustingthe distance between chairs so that social distancing is maintained. stay awake. The implementation ofthe health protocol at the wedding ceremony was supported by the Soppeng district government, with acircular from the National Disaster Management Agency for the Soppeng Regency Covid-19 Task Force.In general, the people in the Mallekana neighborhood were able to implement the 3M health protocolswell, although a small portion of them still had a crowd at the time of the marriage ceremony. However,after being given verbal warnings, the community can obediently keep their distance and adhere to theprotocols conveyed
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus) SEBAGAI MINUMAN FERMENTASI YANG MENYEHATKAN Base, Nurul Hidayah; A. Tenriugi Daeng Pine; Yusriyani; Raymond Arief N Noena; Taufiq
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT YAMASI Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Yamasi
Publisher : Akademi Farmasi Yamasi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1280.972 KB) | DOI: 10.59060/jpmy.v2i1.279

Abstract

Pengolahan makanan dan minuman dari buah-buahan pada umumnya hanya memanfaatkan daging buah saja dan membuang kulit buahnya begitu saja sehingga menjadi sampah yang tidak dibutuhkan lagi. Salah satu limbah kulit buah yang tidak dimanfaatkan adalah kulit buah nanas (Ananas comosus). Kulit buah nanas memiliki kandungan senyawa kimia yang bermanfaat untuk kesehatan seperti bromelin, flavonoid, tannin, oxalate, dan pitat, dimana kandungan senyawa kulit buah ini memiliki aktivitas antibakteri yang lebih kuat terhadap gram positif. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan pemanfaatkan Kulit buah nanas menjadi bentuk sediaan minuman fermentasi yang bersifat probiotik sehingga dapat menjaga kondisi usus yang sehat yang dikenal dengan nama “Tepache” dengan rasa yang enak dan segar di mulut serta aman bagi Kesehatan. Kegiatan PkM yang dilakukan dengan memberi edukasi kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan tentang pemanfaatan limbah kulit buah nanas sebagai minuman fermentasi yang menyehatkan dapat diterima oleh masyarakat di Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Patallassang Kabupaten Takalar. Antusisme masyarakat dibuktikan dengan meningkatnya pemahaman masyarakat dan adanya keinginan masyarakat untuk memanfaatkan kulit buah nanas yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah buangan.
PELATIHAN PEMBUATAN SABUN CUCI PIRING DAN SABUN CUCI PAKAIAN DI DAERAH BONTONOMPO KABUPATEN GOWA Yusriyani; Thahir, Zakiah; A. Tenriugi Daeng Pine; Karim, Harningsih; Agust Dwi Djajanti; Base, Nurul Hidayah; Basir, Hernawati; Sukirawati; Noena, Raymond Arief N; Maulana, Maulana Zulkarnain Imansyah
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT YAMASI Vol. 2 No. 2 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Yamasi
Publisher : Akademi Farmasi Yamasi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59060/jpmy.v2i2.308

Abstract

Kegiatan pembuatan sabun cair cuci piring dan sabun cuci pakaian merupakan hal yang menarik bagi masyarakat karena dapat menambah pengetahuan mengenai cara pembuatan sabun. Sabun cuci piring merupakan bahan yang telah menjadi kebutuhan sehari-hari terutama bagi ibu-ibu rumah tangga. Mahalnya produk sabun cuci piring di pasaran dapat diatasi dengan pembuatan sabun cuci piring sendiri dengan kualitas yang cukup baik dan lebih ekonomis yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk dijual. Dengan adanya sabun pembersih yang dibuat sendiri. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli sabun pembersih pasaran karena sabun yang dibuat lebih murah dan produk sabun yang dihasilkan lebih banyak. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi dan pelatihan pembuatan sabun cuci piring dan sabun cuci pakaian yang aman digunakan kepada masyarakat daerah Katangka Kabupaten Gowa. Metode yang dilakukan pada kegiatan ini berupa penyuluhan dan pemberian tutorial pembuatan sabun cuci piring yang disimak langsung oleh peserta yang hadir. Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan pengabdian ini sebanyak 39 orang yang keseluruhannya adalah warga Desa Katangka Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Kegiatan ini memberikan hasil berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat mengenai pembuatan produk sabun cuci piring dan sabun cuci pakaian yang aman digunakan. Kegiatan ini berjalan dengan lancar sesuai dengan yang direncanakan. Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan yang dapat menambah keterampilan dan sekaligus menciptakan wirausaha baru dan mandiri dan menjadikanya sebagai peluang bisnis. Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pelatihan pembuatan sabun cuci piring dan sabun cuci pakaian dapat menambah pengetahuan dan edukasi masyarakat Desa Katangka Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa dalam pembuatan produk sabun cuci yang aman.
EDUKASI PENGGUNAAN KOSMETIK TRADISIONAL YANG AMAN DI KALANGAN REMAJA SMK Base, Nurul Hidayah; A Tenriugi Daeng Pine; Sukirawati; Raymond Arief N. Noena
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT YAMASI Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Yamasi
Publisher : Akademi Farmasi Yamasi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59060/jpmy.v3i2.356

Abstract

Kosmetik yang beredar di masyarakat dapat berupa kosmetik tradisional dan kosmetik berbahan senyawa kimia. Produk kosmetik ini digunakan untuk merawat dan melindungi kulit dari senyawa yang berbahaya serta untuk memperbaiki penampilan kulit. Bahan alami yang sering digunakan adalah minyak nabati. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya remaja agar mereka tidak tergiur dengan klaim khasiat produk kosmetik yang berlebihan dan dapat merusak kesehatan kulit. Diharapkan dengan kegiatan pengabdian berupa edukasi ini dapat memberikan pencerahan dan pengetahuan kepada remaja, khususnya pada siswa SMK Farmasi Yamasi Makassar bahwa penggunaan kosmetik tradisional juga harus tepat bahan dan khasiatnya. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini berupa penyuluhan yang bertujuan meningkatkan pemahaman serta kesadaran remaja SMK Farmasi Yamasi Makassar agar tepat dalam memilih dan menggunakan kosmetik tradisional yang beredar di pasaran. Kegiatan PKM ini mula-mula dilakukan dengan pemaparan materi mengenai kosmetik secara umum dan penggolongannya berdasarkan bahan baku yang digunakan dalam pembuatannya. Selanjutnya dipaparkan juga mengenai peraturan yang mengatur tentang kosmetik tradisional di Indonesia serta jenis-jenis kosmetik tradisional yang ada di pasaran dan bagaimana pemakaiannya. Di akhir kegiatan, siswa SMK diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mengisi kuisioner setelah pemaparan materi. Berdasarkan hasil kuisioner diketahui adanya peningkatan pengetahuan remaja meningkat menjadi rata-rata 83,53%.
Potential of Coffee Fruit Waste as Main Product of Benteng Alla Utara Village, Enrekang Regency Base, Nurul Hidayah; Usman, Musrayani; As’ad, Ihwana; Asbar; Noena, Raymond Arief N.
Indonesian Journal of Community Services Cel Vol. 1 No. 3 (2022): Indonesian Journal of Community Services Cel
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.611 KB) | DOI: 10.70110/ijcsc.v1i3.25

Abstract

Farmers in Enrekang Regency, especially in Benteng Alla Utara Village, generally manage coffee plantations as their source of livelihood. The type of coffee produced is Arabica Kalosi Enrekang which is known to have a taste and aroma favored by coffee connoisseurs. Coffee beans are produced to meet the needs of foreign exports in quite large quantities. Processed waste of coffee cherries in the form of coffee pod skins is a waste of production residue that is not utilized optimally by the community. Dried coffee berry skin waste known as cascara has the potential to be developed into health drink and cosmetic dosage forms. Products designed based on the innovative development of local natural ingredients and the needs of the community in general are in the form of herbal teas, syrups, fermented drinks, face masks, creams and body soaps. Products that utilize coffee pod waste can become the superior product of the Enrekang area which can be produced by empowering the community through MSMEs and continuing to prioritize local local wisdom. Superior products can be created by increasing people's skills through product manufacturing training by taking into account standardized product quality parameters with the aim of obtaining safe and quality products.
Virtual Tour: Supporting Tourism Promotion in Benteng Alla’ South Sulawesi As’ad, Ihwana; Dewantara, Andi Harpeni; Najirah; Usman, Musrayani; Base, Nurul Hidayah
Indonesian Journal of Community Services Cel Vol. 1 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Community Services Cel
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.847 KB) | DOI: 10.70110/ijcsc.v1i2.27

Abstract

Benteng Alla is one of the historical sites that needs to be developed as an international tourist destination. It is located in Benteng Alla Utara Village, Baroko District, Enrekang Regency, South Sulawesi. This historical heritage has a beautiful panorama, historical value, and strategic location to visit as a tourist destination. Virtual tourism as an online interactive system is one of promotion strategies that could attract tourists to visit or even provide them some information needed before visiting Benteng Alla. The collection data in this community service employed observation, interviews, and documentation techniques. The document process was carried out by taking picture and videos that highlight the main sites and access to the location of Benteng Alla. These documentation footages then edited and packaged into a virtual tour video which could be widely accessed through YouTube platform. This online tour video is a digital media supporting virtual tours to promote Benteng Alla tourist destination nationally and internationally.