Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Campur Kode pada Akun Youtube Najwa Shihab dalam Podcast Catatan Najwa Bersama Agnes Monica Siti Khasanah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2177

Abstract

Campur kode merupakan penggunaan dua bahasa bahkan lebih alam satu tuturan. Penelitian ini menganalisis campur kode dalam podcast Catatan Najwa Shihab bersama Agnes Monica dalam kanal YouTube Najwa Shihab. Campur kode dalam percakapan sehari-hari sering terjadi, terutama podcast Najwa Shihab bersama Agnes Monica. Seorang penutur memakai dialek bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Tujuan penelitian berfokus menemukan bentuk campur kode dan leksikon campur kode podcast tersebut. Metode menggunakan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data teknik simak dan catat. Teknik analisis data menggunakan analisis konten tematik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa campur kode banyak digunakan dalam bentuk kata, frasa, dan klausa, termasuk kosakata dan frasa seperti literally, male, female, strong minded women, women entrepreneur, excellent bold, they have potential, feminist, empowering women, equality women, action, speak up, my character, progressive, you look beautiful, society, take a risk, dan multitasking. Leksikon campur kode yang ditemukan mencakup kosakata bahasa Inggris yang disisipkan dalam kalimat bahasa Indonesia. Faktor utama yang melatarbelakangi penggunaan campur kode meliputi keringkasan, ketiadaan padanan yang sesuai dalam bahasa Indonesia, serta kebutuhan untuk memberikan penekanan makna. Dengan demikian, penggunaan campur kode tidak hanya berfungsi sebagai strategi komunikasi, sekaligus mencerminkan gaya bahasa modern yang relevan dengan wacana global.
Pelanggaran Maksim Kesepakatan atas Eksistensi Polisi pada Kolom Komentar Unggahan Akun Instagram @bangsamahardika Afthoniya Nurin Nadhifa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2210

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk ketidaksantunan berbahasa pada kolom komentar unggahan akun instagram Bangsamahardika, khususnya pelanggaran maksim kesepakatan berdasarkan teori kesantunan Leech. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi digital terhadap komentar pada lima unggahan instagram Bangsamahardika dalam periode 1-10 Desember 2024. Data yang terkumpul dicatat dan dianalisis menggunakan teori pragmatik untuk memahami konteks dan makna komentar tidak santun yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama pelanggaran maksim kesepakatan, yaitu terkait identitas, fungsi, dan tindakan polisi. Pertama, identitas polisi yang berseragam cokelat sering menjadi objek kritik dan satire, seperti penyebutan “partai cokelat”, yang mencerminkan keraguan masyarakat terhadap netralitas institusi. Kedua, fungsi polisi sebagai pelindung, pengayom, dan penegak hukum dipertanyakan melalui komentar yang mengindikasikan penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran etika. Ketiga, tindakan polisi yang dianggap represif atau menggunakan kekerasan berlebihan menimbulkan komentar negatif yang merusak citra institusi kepolisian. Pelanggaran ini mencerminkan kesenjangan antara peran ideal polisi dan eksprektasi masyarakat, yang diperburuk oleh kurangnya komunikasi efektif, budaya kerja yang belum mendukung integritas, serta ketidakpercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman tentang maksim kesepakatan dalam menjaga komunikasi yang sopan di media sosial. Sebagai rekomendasi, institusi kepolisian perlu meningkatkan pendidikan etika dan profesionalisme, sementara masyarakat dapat memberikan kritik yang lebih konstruktif. Media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk membangun transparansi dan citra positif melalui keterlibatan aktif polisi dengan masyarakat. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kepercayaan publik terhadap polisi dapat dipulihkan dan kualitas diskusi di media sosial meningkat.
Bahasa Gaul Konten Youtube Jessica Jane Firdausi Nunzula; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2224

Abstract

Penelitian ini menyoroti penggunaan bahasa gaul dalam konten YouTube Jessica Jane yang diunggah pada periode September hingga Desember 2024. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa gaul yang muncul serta faktor-faktor yang memengaruhi pemilihannya. Metode yang digunakan ialah simak dan catat, yaitu dengan mengamati setiap video dan mencatat secara cermat berbagai bentuk bahasa gaul yang ditemukan guna memperoleh data yang akurat dan mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jessica Jane memanfaatkan tiga bentuk utama bahasa gaul, yaitu abreviasi, slang, dan serapan bahasa asing. Bentuk abreviasi seperti BTW, KO, dan vid digunakan untuk menyampaikan pesan secara singkat, padat, dan efisien, sehingga dapat mempermudah pemahaman audiens terhadap isi komunikasi yang disampaikan. Selain itu, serapan dari bahasa Inggris, Jepang, dan Melayu seperti style, jom, update, dan itadakimasu memberikan kesan modern, kreatif, menarik, serta memperlihatkan pengaruh budaya global pada gaya komunikasi. Adapun penggunaan slang seperti gue, lu, gila, muantep, menghadirkan nuansa akrab, santai, ekspresif, dan menghibur bagi penonton yang sebagian besar berasal dari kalangan muda. Variasi pemakaian bahasa ini mencerminkan pola komunikasi generasi muda yang dipengaruhi oleh faktor usia, lingkungan, kebiasaan digital, tren media sosial, dan interaksi lintas budaya. Temuan penelitian menegaskan bahwa media sosial, khususnya YouTube, menjadi ruang percampuran bahasa lokal dan global yang terus berkembang mengikuti arus budaya populer, gaya hidup anak muda masa kini, serta dinamika kreativitas berbahasa di era digital.
Gaya bahasa personifikasi dalam lirik lagu ”Mahameru” karya Dewa 19 Syadeka Nisa Hanifah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2246

Abstract

Penelitian ini membahas penerapan gaya bahasa personifikasi dalam lirik lagu Mahameru yang dipopulerkan oleh grup musik Dewa 19, dengan tujuan memahami bagaimana elemen kebahasaan tersebut membentuk nuansa puitis dan memperkuat penyampaian makna dalam lagu. Personifikasi sebagai perangkat stilistika memungkinkan objek-objek nonmanusia digambarkan seolah memiliki perilaku, emosi, atau kemampuan layaknya manusia. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini berfokus pada analisis mendalam terhadap struktur lirik yang mengandung penggambaran simbolik alam dan unsur tak hidup lainnya. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, di mana setiap bait dianalisis untuk menemukan ekspresi personifikasi dan interpretasi maknanya. Teori personifikasi digunakan sebagai landasan untuk memahami bagaimana lirik menghidupkan suasana alam dan mengarahkan pendengar pada perenungan emosional. Hasil kajian menunjukkan bahwa personifikasi dalam lagu ini tidak sekadar memperindah bahasa, tetapi juga memperkaya makna tematik lagu yang berkaitan dengan keteguhan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam. Personifikasi berperan sebagai jembatan antara ekspresi personal dan kekayaan imajinasi yang ditawarkan melalui teks lagu. Kepekaan terhadap penggunaan gaya bahasa ini juga membuka ruang bagi apresiasi yang lebih mendalam terhadap karya musik sebagai bentuk sastra populer. Dengan demikian, lirik lagu Mahameru menunjukkan bahwa penggunaan gaya bahasa personifikasi memiliki peran penting dalam membentuk kekuatan ekspresif dan estetika dalam karya musik populer.
Kesantunan Berbahasa Leech dalam Film Sekawan Limo Karya Bayu Skak Khoirun Nisa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2281

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip kesantunan berbahasa dalam film Sekawan Limo karya Bayu Skak berdasarkan teori kesantunan Geoffrey Leech (1983). Film ini dipilih karena merepresentasikan penggunaan bahasa Jawa yang kental serta nilai-nilai budaya lokal, sehingga berpotensi menjadi media pelestarian norma sosial dan strategi kesantunan dalam komunikasi. Teori Leech mencakup enam maksim kesantunan, yaitu maksim kebijaksanaan, kedermawanan, pujian, kesederhanaan, kesepakatan, dan simpati. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kerangka analisis pragmatik. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat terhadap tuturan para tokoh dalam film, kemudian dianalisis berdasarkan makna kontekstual dan fungsi pragmatik dari setiap ujaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh maksim kesantunan muncul dalam dialog para tokoh, dengan maksim pujian dan simpati sebagai maksim yang paling dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi kesantunan digunakan untuk memperkuat ikatan sosial, mengekspresikan empati, dan menjaga keharmonisan interaksi antar tokoh. Bahasa yang digunakan secara santun dan kontekstual turut memperkuat pesan moral serta penggambaran karakter dalam film. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Sekawan Limo tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana efektif untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan kesantunan berbahasa. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian pragmatik serta mendorong pemanfaatan film sebagai media pembelajaran nilai-nilai sosial dan linguistik.
Metafora Bahasa Arsitektur dalam Narasi Novel Hello Karya Tere Liye Nisfi Arba` Indah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2291

Abstract

Analisis ini berjudul “Metafora Bahasa Arsitektur dalam Narasi Novel Hello Karya Tere Liye” bertujuan menganalisis makna serta fungsi metafora bahasa arsitektur dalam membangun narasi serta pengalaman estetik pembaca. Kajian ini berlandaskan teori metafora konseptual dari George Lakoff dan Mark Johnson (1980), memandang metafora sebagai sistem konseptual yang menghubungkan hal konkret dengan konsep abstrak. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dengan teknik baca-catat terhadap novel Hello karya Tere Liye untuk menemukan kutipan yang mengandung metafora arsitektur, kemudian dianalisis berdasarkan kategori metafora ontologis, orientasional, dan struktural. Hasil analisis menunjukkan enam belas data metafora bahasa arsitektur, meliputi delapan metafora ontologis, dua metafora orientasional, serta enam metafora struktural. Metafora ontologis menjadi bentuk paling dominan karena menggambarkan elemen bangunan—seperti rumah, jendela, dan ruang—sebagai simbol kenangan, identitas, juga emosi tokoh. Metafora orientasional berfungsi menegaskan konsep ruang dan arah (tinggi–rendah, keteraturan) untuk menggambarkan relasi sosial dan keseimbangan batin. Sementara itu, metafora struktural memperlihatkan hubungan antara konsep arsitektur (pondasi, tiang, renovasi) dengan perjalanan hidup serta pemulihan diri tokoh.
Humor Sarkasme Sebagai Kritik Sosial Dalam Acara Lapor Pak! Trans7 Manda Aprilia; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2316

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi bagaimana sarkasme dimanfaatkan sebagai sarana dalam menyampaikan pesan kritis terhadap berbagai isu sosial dan pemerintahan di Indonesia melalui acara komedi Lapor Pak! yang ditayangkan di Trans7. Humor sarkasme dipandang sebagai gaya komunikasi yang menyampaikan sindiran dengan cara lucu, ironis, dan mengandung makna tersembunyi di balik kelucuannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis), di mana data berupa tuturan, dialog, serta konteks komunikasi dari beberapa episode Lapor Pak! yang diunggah di kanal YouTube resmi Trans7 dianalisis untuk mengungkap bentuk dan fungsi sarkasme yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor sarkastik dalam acara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai media penyampai kritik sosial terhadap berbagai persoalan masyarakat Indonesia, seperti ketidakadilan hukum, birokrasi yang tidak efisien, penyalahgunaan kekuasaan, hingga perilaku pejabat publik yang tidak profesional. Melalui permainan bahasa, ironi, dan dialog yang cerdas, para pemain berhasil menyampaikan pesan reflektif yang mendorong penonton untuk berpikir lebih kritis terhadap realitas kehidupan sosial dan politik. Selain berperan sebagai tontonan komedi, Lapor Pak! juga memiliki nilai edukatif dan reflektif karena mampu menumbuhkan kesadaran sosial di tengah masyarakat. Penggunaan sarkasme dalam acara ini membuat kritik terasa lebih ringan, menghibur, namun tetap mengena, sehingga Lapor Pak! dapat dipandang sebagai contoh nyata pemanfaatan bahasa dan humor secara kreatif untuk menyampaikan kritik sosial yang konstruktif dan bermakna di media massa modern
Satire Kepada Pejabat Pada Progam Tv Lapor Pak Trans 7 Amanda Zahrotul Azaria; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2380

Abstract

Satire merupakan gaya bahasa atau genre sastra yang menggunakan humor, ironi, atau ejekan untuk mengkritik kebodohan atau kejahatan seseorang atau masyarakat. Penelitian ini menganalisis penggunaan satire kepada pejabat dalam program TV Lapor Pak TRANS 7 melalui pendekatan pragmatik. Penelitian menggunakan teori satire Horatian, Juvenalian, dan Menippean untuk memahami pemanfaatan humor sebagai media kritik sosial. Data dikumpulkan melalui observasi dan teknik simak-catat pada tayangan program bulan November 2022. Teknik analisis konten dan pragmatik diterapkan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menginterpretasi jenis-jenis satire. Hasil penelitian menunjukkan satire Juvenalian paling dominan dengan 9 kemunculan, diikuti satire Horatian (4 kali) dan Menippean (2 kali). Satire Juvenalian digunakan untuk menyampaikan kritik tajam terhadap isu sosial dan kebijakan pemerintah. Sebaliknya, satire Horatian menonjolkan sindiran ringan dan menghibur. Satire Menippean, meskipun jarang, memberikan kritik filosofis terhadap norma sosial tertentu. Keseluruhan temuan menegaskan bahwa satire dalam media televisi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan refleksi sosial.
Perempuan dalam Bayangan Kolonialisme: Analisis Feminisme Poskolonial dalam Novel Cantik Itu Luka Amanda Zahrotul Azaria; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2613

Abstract

Konstruksi kehidupan perempuan yang hidup dalam bayangan kolonialisme pada novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, didasarkan pada pentingnya sastra pascakolonial sebagai medium dekonstruksi sejarah dari sudut pandang subaltern. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif berpendekatan Feminisme Poskolonial, data berupa dialog dan narasi dianalisis untuk mengidentifikasi persilangan opresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opresi terhadap perempuan hadir secara berlapis sebagai hasil dari interseksionalitas kekuasaan kolonial dan patriarki, yang menjadikan tubuh Dewi Ayu sebagai objek eksploitasi dan warisan kekerasan struktural. Kendati demikian, kesimpulan utama menegaskan bahwa subjek perempuan memanifestasikan berbagai bentuk agensi dan perlawanan (misalnya agensi negatif dan dekolonisasi estetika) untuk merebut kembali otonomi dan mendefinisikan realitas mereka sendiri dari narasi dominan yang opresif.
Perubahan Kosakata Gen-Z dalam Konten Tiktok sebagai Bentuk Kreativitas Berbahasa di Era Digital Amella Anandita; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2705

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena perubahan kosakata yang digunakan oleh Generasi Z dalam konten TikTok sebagai wujud kreativitas berbahasa di era digital. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bentuk perubahan kosakata serta memahami fungsi sosial dan konteks penggunaannya dalam interaksi digital. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data primer berupa kosakata dari video, caption, dan komentar TikTok, serta data sekunder dari literatur berbagai literatur yang mendukung analisis penelitian, seperti jurnal ilmiah, buku, artikel, dan penelitian terdahulu yang membahas perubahan bahasa dan kreativitas berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen Z menciptakan dan memodifikasi kosakata melalui proses pemendekan, akronim, penyerapan bahasa asing, serta plesetan, seperti stecu, yapping, asbun, clingy, kalcer, cringe, flexing, dan fomo, yang berfungsi sebagai alat komunikasi sekaligus sarana ekspresi identitas, humor, kritik sosial, dan pembentukan kedekatan kelompok. Temuan ini menegaskan bahwa kreativitas berbahasa Gen Z merupakan respons terhadap kebutuhan komunikasi cepat, dinamis, dan kontekstual di era digital, serta mencerminkan keterkaitan erat antara bahasa, budaya populer, dan teknologi.