Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Kepribadian Tokoh Menurut Carl Gustav Jung dalam Novel The Hidden Reality Karya Shannin Kajian Psikologi Sastra Cicik Dwi Nur Atiqoh; Sri Yanuarsih; M. Imron Abadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2706

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepribadian tokoh dalam novel “The Hidden Reality” karya Shannin di tinjau dari kajian psikologi sastra menurut teori dari Carl Gustav Jung. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif (kualitatif). Dalam penilitian ini penulis berusaha mendeskripsikan bagaimana karakter tokoh dan kepribadian tokoh utama yang ada dalam novel “The Hidden Reality” karya Shannin. Untuk mengumpulkan data, digunakan teknik membaca dan mencatat, studi pustaka, serta instrumen penelitian. Data yang terkumpul kemudian dihubungkan dengan teori kepribadian Jung, yang menekankan aspek kesadaran dan ego, ketidaksadaran pribadi dan kompleks, dan arketipe. Peneliti menemukan bahwa novel ini sarat dengan arketipe yang mencerminkan perjalanan tokoh Jefan Halim Adiwijaya dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan mempertimbangkan struktur kepribadian seperti kesadaran dan ego, ketidaksadaran pribadi beserta kompleksnya, serta ketidaksadaran kolektif dan arkhetipe, artikel ini menunjukkan bahwa teori psikoanalisis Jung efektif untuk mengkaji novel "The Hidden Reality". Hal ini berpengaruh pada dinamika kepribadian Jefan, di mana emosi, pemikiran, dan perilakunya sering kali bertentangan dan penuh konflik. Analisis ini mengintegrasikan ringkasan cerita, ulasan novel, serta konsep Jung untuk membentuk pemahaman mendalam terhadap teks.
Gaya Pengontrasan di Kanal Youtube Caveine sebagai Tanggapan Keadaan Sosial-Politik Indonesia: Kajian Stilistika Dhida Meilando Cahyo Rio Utomo; Sri Yanuarsih; Suantoko Suantoko
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2707

Abstract

Fakus penelitian ini adalah gaya pengontrasan menggunakan ilmu stilistika dengan lokusnya pada kanal Youtube Caveine. Data berdasarkan tanggapan Caveine terhadap keadaan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia. Caveine di kenal dalam gaya sindirannya berupa satir terhadap isu keadaan yang dirasa miring sehingga gaya pengontrasan dinilai cocok untuk mengkaji hal tersebut. Menurut Burhan Nurgiyantoro gaya pengontrasan dibagi menjadi lima gaya yaitu (1). hiperbola, (2). litotes, (3). paradoks, (4). ironi, dan (5). sarkasme. Jenis penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatf dengan menganalisis bukti-bukti yang telah dikumpulkan. mencatat dan mencari makna mendalam mengenai ucapan objek penelitian. Menggunakan analisis temantik data dikumpulkan kemudian di kelompokkan berdasarkan kategori tujuan penelitian yakni mencari gaya pengontrasan. Dengan observasi digital, bukti yang dikumpulkan berupa ucapan atau kalimat yang dituturkan oleh pemilik kanal Caveine. Hasil dari penelitian menunjukkan dari kelima gaya pengontrasan yang paling mendominasi adalah gaya ironi dan sarkasme. Caveine seringkali membahas dan menanggapi sesuatu yang bersifat sensitif sehingga bentuk ironi sindiran yang mengarah pada candaan-candaan internet dinilai lebih cocok untuk mencerna isu-isu berat tanpa merasa terbebani sekaligus menjadi wahana hiburan bagi penonton.
Penggunaan Basa Slang dalam Film Pendek Geger Geden Eps133 di Kanal Youtube Woko Chanel Ellisa Eka Nur Septia; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2708

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan fungsi penggunaan bahasa slang dalam film pendek Geger Geden episode 133 di kanal YouTube Woko Channel. Kajian ini menggunakan teori slang Allan & Burridge (2006) yang menjelaskan bahwa slang merupakan ragam bahasa nonformal yang bersifat kreatif, ekspresif, serta digunakan untuk membangun solidaritas dan kedekatan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat melalui pengamatan langsung pada dialog para tokoh dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk slang yang muncul meliputi kata, ungkapan, serta bahasa khas Jawa yang digunakan secara spontan dan nonformal. Fungsi slang dalam film ini yakni untuk menciptakan keakraban antar tokoh, mengekspresikan emosi seperti heran, kesal, dan humor, serta memperkuat karakter dan suasana komedi yang menjadi ciri khas Woko Channel. Bahasa slang dalam dialog juga menggambarkan identitas budaya masyarakat Jawa yang akrab, santai, dan mengikuti era media digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan slang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi strategi untuk membangun kedekatan sosial dan menyampaikan humor secara efektif. Penelitian ini diharapkan dapat berpartisipasi pada pengembangan studi bahasa gaul dalam media digital dan pemahaman dinamika kebahasaan masyarakat masa kini.
Alih Kode dalam Akun Youtube The Humphries Family: Kajian Sosiolinguistik Icha Septiani Firnanda; Sri Yanuarsih; Imron Abadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2709

Abstract

Bahasa sebagai alat penting untuk komunikasi berfungsi untuk mencerminkan kerangka sosial bagi orang yang menggunakannya. Peneliti mencoba menjelaskan fenomena bahasa yang terjadi yaitu alih kode pada kanal YouTube The Humphries Family dengan tujuan untuk mengetahui 1) Bentuk-bentuk alih kode, 2) Memahami faktor-faktor penyebabnya. Fokus penelitian adalah dua video video (vlog) yang diunggah pada akun YouTube tersebut dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan sosiolinguistik. Untuk teknik pengumpulan data peneliti menyimak video di akun YouTube yang akan dianalisis dan kemudian mencatat topik yang akan dikaji. Data menunjukkan ada dua jenis alih kode ditemukan pada dua video yang menjadi fokus penelitian, yakni alih kode eksternal (ke luar) dan alih kode internal (ke dalam) alih kode internal beserta faktor penyebabnya yang diidentifikasi menurut teori soewito. Alih kode internal ditemukan sebanyak empat data, sedangkan alih kode eksternal menemukan enam data. Adapun faktor yang mempengaruhi yakni, faktor penutur, lawan tutur, hadirnya penutur ketiga, dan untuk membangkitkan rasa humor.
Variasi Bahasa Sosiolek dalam Film Pendek Ke Jogja di Kanal Youtube Paniradya Kaistimewan Irfan Abdullah Azam; Sri Yanuarsih; Yunita Suryani
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2710

Abstract

Penelitian ini membahas variasi bahasa sosiolek yang muncul dalam film pendek Ke Jogja di kanal YouTube Paniradya Kaistimewan. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk sosiolek yang digunakan para tokoh serta mengungkap faktor sosial yang melatarbelakangi pemakaiannya. Kajian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan berlandaskan teori sosiolinguistik menurut Chaer dan Agustina (2014). Data diperoleh melalui metode simak dan catat terhadap dialog-dialog yang terdapat dalam film, kemudian dianalisis berdasarkan konteks sosial dan latar penuturnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima bentuk variasi bahasa sosiolek dalam film tersebut, yakni akrolek, basilek, slang, kolokial dan jargon. Setiap bentuk memiliki fungsi sosial yang berbeda. Akrolek menggambarkan kesopanan dalam berbahasa, sementara slang dan kolokial menunjukkan keakraban dan spontanitas. Basilek memperlihatkan identitas lokal dan kedekatan budaya masyarakat kelas bawah, sedangkan jargon mencerminkan pengaruh modernisasi serta kemampuan tokoh-tokohnya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menariknya, tidak ditemukan bentuk bahasa argot, ken dan vulgar dalam film. Hal ini menandakan bahwa seluruh tokoh berkomunikasi tanpa menggunakan istilah rahasia, serta tetap menjaga etika dan kesantunan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa bahasa dalam film pendek Ke Jogja tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi cerminan identitas sosial, budaya, dan nilai-nilai kesopanan masyarakat Jawa yang terus bertahan di tengah arus perubahan zaman.
Ambiguitas Makna Kata Cinta dalam Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy Kajian Semantik Mariatul Qiftiyah; Sri Yanuarsih; Suantoko Suantoko
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2711

Abstract

Ambiguitas merupakan aspek bahasa yang menarik untuk dikaji, terutama dalam karya sastra yang sarat nilai makna. Kajian ini bertujuan untuk menelaah ambiguitas makna kata cinta dalam novel religius karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul Ayat-Ayat Cinta melalui kajian semantik, khususnya bagaimana kata cinta menghadirkan berbagai makna dalam konteks linguistik, sosial, dan religius. Teori semantik digunakan untuk memahami variasi makna yang muncul dari penggunaan kata cinta dalam dialog, narasi, dan interaksi tokoh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa analisis dokumen, menganalisis kutipan-kutipan yang relevan dari novel. Analisis data dilakukan melalui identifikasi bentuk ambiguitas leksikal, gramatikal, dan kontekstual, serta interpretasi makna berdasarkan konteks penggunaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata cinta memiliki makna ganda yang kompleks: sebagai dorongan emosional dan romantis, sebagai rasa empati dan solidaritas sosial, serta sebagai komitmen moral dan spiritual terhadap Tuhan dan sesama. Ambiguitas ini memperkaya pengalaman membaca, sekaligus menampilkan strategi estetik pengarang dalam menyampaikan nilai moral dan religius. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang kompleksitas makna bahasa dalam karya sastra dan pentingnya konteks dalam interpretasi makna kata.
Analisis Wacana Kritis Program 'Lapor Pak' Episode Roasting Kiki Saputri Terhadap Gubernur Anies Baswedan Pada Kanal Youtube Novita Fitrianingsih; Sri Yanuarsih; Yunita Suryani
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2713

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan bahasa dalam tayangan “Lapor Pak” episode roasting Kiki Saputri terhadap Gubernur Anies Baswedan di kanal YouTube dengan perspektif analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk. Fokus penelitian diarahkan pada pemanfaatan humor sebagai sarana penyampaian kritik sosial dan pembentukan citra politik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data berupa transkrip tuturan yang diperoleh melalui teknik simak dan catat. Analisis dilakukan pada tiga dimensi utama, yaitu struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Temuan menunjukkan bahwa Kiki Saputri menggunakan strategi bahasa berupa satire, ironi, dan permainan kata untuk menyalurkan pesan kritis tanpa menimbulkan konfrontasi. Humor berfungsi tidak sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media reflektif yang menegosiasikan relasi kekuasaan dan membentuk opini publik secara halus. Tayangan ini menggambarkan bagaimana media hiburan mampu menjadi ruang diskursif bagi penyampaian pandangan politik dan sosial melalui bahasa yang cerdas dan komunikatif.
Kesantunan Berbahasa dalam Film “Miracle In Cell No 7” Karya Hanung Bramantyo: Kajian Pragmatik Siti Mahmudah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2714

Abstract

Kesantunan berbahasa sebagai latarbelakang penelitian merupakan ketertarikan peneliti dengan fenomena kebahasaan, dengan memiliki tujuan menyelidiki bagaimana prinsip kesantunan Geoffrey Leech diterapkan dalam tuturan dialog film "Miracle in Cell No 7" karya Hanung Bramantyo. Peneliti menggunakan metode pragmatik dan deskriptif kualitatif. Analisis berfokus pada tiga maksim Leech: (1) Maksim Simpati, (2) Maksim Kedermawanan, dan (3) Maksim Penghargaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para tokoh secara konsisten mengikuti Prinsip Kesantunan Leech, melalui ucapan yang bermakna, penuh kasih sayang, dan pengorbanan. Dengan menciptakan ikatan emosional, kekompakan menjadi bukti nyata, seperti ditunjukkan oleh upaya kolektif para narapidana, empati tulus Kepala Penjara terhadap Dodo untuk membantunya mengurangi penderitaan yang alami. Selain itu, melalui pujian dan sanjungan ganda, Maksim Penghargaan digunakan untuk menegaskan dan mempertahankan citra Dodo sebagai ayah yang baik. Puncak kesantunan adalah Maksim Kedermawanan, ditunjukkan melalui tindakan pengorbanan yang berisiko tinggi, seperti berbagi makanan dan merencanakan pelarian, di mana secara tidak sadar mengorbankan dirinya sendiri untuk kepentingan orang lain. Menunjukkan bahwa film mengangkat nilai moral tertinggi, yaitu altruisme murni. Secara keseluruhan, penelitian menemukan bahwa kesantunan berbahasa dalam film dengan jelas menyampaikan pesan moral kemanusiaan tentang betapa pentingnya empati, pengorbanan, dan penggunaan bahasa yang baik untuk membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal yang kuat dan penting di masyarakat.
DISFEMIA DALAM KOLOM KOMENTAR AKUN INSTAGRAM LUCINTA LUNA Imarotul Khoiriyah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 10 No. 4 (2025): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v10i4.1922

Abstract

The social media comment column is an indirect interaction between netizens and public figures who are active on social media. Everyone is free to express their opinion in the comments column they write, but there are some comments that contain elements of dysphemia. The aim of this research is to find out the language policies in Indonesian netizens' social media and to analyze the presence of elements of dysphemia in the comments written by these netizens. Dysphemia is an attempt to change a good meaning into a bad, rude and mocking meaning. This aims to bring down the victim and is an expression of someone's hatred, annoyance and dislike. Dysphemia is closely related to language politeness in terms of aspects of social media policy. There are 3 forms of dysphemia that will be analyzed in this article, namely, 1) Dysphemia in the form of physical insults, 2) Dysphemia in the form of gender insults, 3) Dysphemia in the form of praising to put down. Research data was taken over a certain period of time directly from the comments column of Lucinta Luna's Instagram account using quantitative descriptive methods with advanced note-taking techniques.
TINDAK TUTUR ESKPRESIF DALAM FILM SEKAWAN LIMO KARYA BAYU SKAK (KAJIAN PRAGMATIK) Dista Melanise; I Wayan Letreng; Sri Yanuarsih
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 10 No. 4 (2025): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v10i4.1927

Abstract

Speech acts are part of the study of pragmatics, which discusses how utterances not only convey information but also act as social actions. One such form is expressive speech acts, which are utterances used to express the speaker’s feelings or attitudes toward a situation. Film, as a communication medium that combines visual and verbal elements, is a relevant tool for analyzing language use in real life contexts. This study examines the forms of expressive speech acts in Bayu Skak’s film Sekawan Limo, which tells the story of five friends Bagas, Lenni, Juna, Dicky, and Andrew as they experience a terrifying experience while climbing Mount Madyopuro and debunking local myths. The method used is descriptive qualitative, with data collection techniques including documentation, literature review, reading, and recording techniques. The primary data consists of dialogues between characters containing three types of expressive speech acts: sarcasm, mockery, and complaint. The results show that these six forms appear in various conversational contexts, reflecting the emotional expressions and social relationships between characters, which are communicatively represented in the film.