Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pemeriksaan hewan kurban di Kota Manokwari, zona hijau wabah penyakit mulut dan kuku: Inspection of sacrificial animal in Manokwari City, green zone of outbreak of foot and mouth disease Priyo Sambodo; Isti Widayati; Dwi Nurhayati; Alnita Baaka; Purwaningsih; John A. Palulungan; Rizki Arizona; Noviyanti; Noveling Inriani; Elfira K. Suawa; Sientje D. Rumetor; Muhammad J. Wajo
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2022): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v3i3.316

Abstract

ABSTRACT  This activity aims to determine the health status of the sacrificial animals in the Manokwari City Region with the status of a green zone for the FMD outbreak based on antemortem and postmortem examinations. The activity was carried out on 93 Bali Cattle which were divided into 6 mosques in Manokwari Regency. The examination consists of antemortem and postmortem examination by inspection, palpation and incision. The data obtained were analyzed descriptively and presented in percentages and figures. In 2021-2022, there will be no cattle traffic entering the West Papua Region. The percentage of BCS of sacrificial animals slaughtered this year is as follows: #2: 8.82%; #3: 11.76%; #4: 64.71; #5: 14.71%. Body temperature: 36.10oC – 37.50oC. The locomotion, facial expressions, respiration, eye mucosa and anus condition as well as muzzle and mouth conditions, hoof conditions and body surfaces in all the sacrificial animals did not change. Carcasses and organs did not change or were normal, except for the liver (32.53% had fasciolosis) and the rumen (35.09% had paramphistomosis) and there were no symptoms of FMD. Conclusion: all sacrificial animals deserve to be slaughtered and their meat consumed, except for some of the liver and rumen and not infected with FMD.  Keywords: Fasciolosis; Manokwari; Paramphistomosis; PMK; Sacrificial   ABSTRAK  Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui status kesehatan hewan kurban di Wilayah Kota Manokwari yang berstatus zona hijau wabah PMK berdasarkan pemeriksaan antemortem dan postmortem. Kegiatan dilakukan pada 93 ekor Sapi Bali yang terbagi di 6 masjid di Kabupaten Manokwari. Pemeriksaan terdiri atas pemeriksaan antemortem dan postmortem dengan cara inspeksi, palpasi dan sayatan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam persen dan gambar. Pada tahun 2021-2022, tidak ada lalu lintas ternak sapi masuk ke Wilayah Papua Barat. Persentase BCS hewan kurban yang disembelih pada tahun ini adalah sebagai berikut: #2: 8,82%; #3: 11,76%; #4: 64,71; #5: 14,71%. Suhu tubuh: 36,10oC – 37,50 oC. Alat gerak, ekspresi muka, pernafasan, mukosa mata dan keadaan anus serta kondisi moncong dan mulut, kondisi tracak dan permukaan tubuh pada semua hewan kurban tidak terdapat perubahan. Karkas dan organ-organ tidak mengalami perubahan atau normal, kecuali pada organ hati (32,53% mengalami fasciolosis) dan rumen (35,09% mengalami paramphistomosis) serta tidak terdapat gejala PMK. Kesimpulan: seluruh hewan kurban layak dipotong dan dikonsumsi dagingnya, kecuali sebagian hati dan rumen serta tidak terjangkit PMK. Kata kunci: Fasciolosis; Kurban; Manokwari; Paramphistomosis; PMK
Proses Penyembelihan dan Waktu Mati Sempurna Sapi Bali sebagai Hewan Kurban di Kabupaten Manokwari Priyo Sambodo; Isti Widayati; Dwi Nurhayati; Alnita Baaka; Purwaningsih .; John A Palulungan; Rizki Arizona; Noviyanti .; Noveling Inriani; Elfira K Suawa; Sientje D Rumetor; Muhammad J Wajo
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek kesejahteraan hewan berdasarkan tata cara pemisahan dan handling sapi ketika akan disembelih, berapa lama waktu maksimal sapi Bali yang disembelih mati sempurna dan indikator kematian apa yang paling lama hilang setelah sapi disembelih. Penelitian ini dilakukan pada 57 ekor sapi Bali yang disembelih di 5 masjid di Kabupaten Manokwari yang menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban. Pengamatan tata cara pemisahan dan handling sapi dilakukan dengan observasi. Waktu henti darah memancar dihitung sejak awal darah memancar sampai tidak lagi memancar. Indikator kematian lain (refleks pupil, refleks kornea, pernafasan ritmik, tonus rahang, tonus lidah, refleks ekor, refleks anus, dan refleks tracak) dihitung setelah waktu henti darah memancar diperoleh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data henti darah memancar dihitung rerata dan simpangan bakunya, sedangkan indikator lain disajikan dengan range tiap menit dalam tabel. Pemisahan antara lokasi penempatan dengan penyembelihan dan penggunaan kandang jepit modifikasi untuk handling telah dilakukan disebagian besar lokasi pengamatan. Waktu henti darah memancar pada penelitian ini adalah 2,93 menit. Refleks kornea dan tonus lidah merupakan indikator tercepat yang hilang, yaitu 4-5 menit setelah darah berhenti memancar, kemudian berturut-turut diikuti dengan pernafasan ritmik dan tonus rahang, yaitu masing-masing 5-6 menit serta refleks ekor dan refleks tracak, yaitu 6-7 menit. Refleks anus merupakan indikator terlama yang hilang, yaitu 7-8 menit setelah darah berhenti memancar. Kesimpulan: sebagain besar masjid telah memperhatikan kesejahteraan hewan berdasarkan lokasi dan tata cara penyembelihan. Sapi Bali sebagai hewan kurban di Kabupaten Manokwari mengalami mati sempurna pada menit ke 13,93 dan indikator kematian terakhir yang hilang adalah refleks anus.
Nugget daging kelinci sebagai alternatif protein hewani masyarakat Sekitar Cagar Alam Pegunungan Arfak: Rabbit meat nuggets as an alternative animal protein for Communities Around The Arfak Mountain Reserve Hotlan Manik; Fransiska R. V. Sitanggang; Freddy Pattiselanno; John Arnold Palulungan; Alnita Baaka; Angelina N. Tethool; Evi W. Saragih; Noviyanti Noviyanti; Noveling Inriani; Muhammad Junaidi; Merlyn N. Lekitoo
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v4i2.381

Abstract

ABSTRACT  Sigim and Sinaytousi Village communities are indigenous Papuans who live in buffer zones adjacent to Arfak Mountains Nature Reserve (CAPA). People with low of education, especially the economy, encourage community members close to the CAPA area to exploit forests to obtain animal food through poaching. Efforts to solve the problem using participative sociocultural approaches with transfer methods of science and technology, in the form of training and assistance in the production and processing of rabbit as an alternative animal protein. (2) Group partners have been able to implement a good rabbit breeding system through increased management and population capability through natural breeding systems, (3) nugget products rabbit meat has been accepted by the villagers. The activity is expected to be able to socialize the group's partners to the village area around the buffer area of arfak mountain nature reserve.  Keywords: Meat; Nuggets; Protein; Rabbit   ABSTRAK Masyarakat Kampung Sigim dan Sinaytousi merupakan suku asli Papua yang mendiami daerah penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak (CAPA). Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah terutama ekonomi sehingga mendorong anggota masyarakat yang berdekatan dengan areal CAPA untuk mengeksploitasi hutan untuk mendapatkan pangan hewani melalui perburuan liar. Upaya pemecahan masalah tersebut menggunakan pendekatan sosiokultural partisipatif dengan metode transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, berupa pelatihan dan pendampingan dalam produksi dan pengolahan hasil ternak kelinci sebagai alternatif protein hewani. Hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut diantaranya adalah (1) Mitra kelompok telah mampu memproduksi nugget daging kelinci secara mandiri (2) Mitra kelompok telah mampu menerapkan sistim beternak kelinci yang baik melaui peningkatan kemampuan manajemen dan populasi melalui sistim perkawinan alami, (3) Produk nugget daging kelinci telah diterima oleh masyarakat kampung. Kegiatan diharapkan mampu disosialisasikan mitra kelompok ke daerah kampung sekitar kawasan penyangga cagar alam pegunungan arfak. Kata kunci: Daging; Kelinci; Nugget; Protein
Pendugaan Bobot Badan Melalui Ukuran Shank pada Ayam Kampung yang Dipelihara Secara Tradisional di Manokwari N Zurahmah; M A Mu'in; J A Palulungan
PETERPAN (Jurnal Peternakan Terapan) Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/peterpan.v5i2.3047

Abstract

This study aims to find an estimator of body weight by means of shank length and shank circumference in adult Kampung chickens reared traditionally. A total of 173 adult Kampung chickens (79 males and 94 females), aged 1 year belonging to several breeders in Prafi District, Manokwari Regency, were used as material for this study. Best Subsets Regression analysis was used to find the best body weight estimation model for this research chicken. The results showed that shank length (PSJ) was the best estimator of body weight (BBJ) for adult male Kampung chickens through the formula: BBJ = 0.363 PSJ – 1.67, because it had the best accuracy rate (highest R2 and lowest C-p and s) compared to the formula others available. For adult female Kampung chickens, shank length (PSB) and shank circumference (LSB) are the best estimators of body weight (BBB) for adult female Kampung chickens using the formula: BBB = 0.205 PSB + 0.127 LSB - 0.864, because it has the best level of accuracy (R2 highest and C-p and lowest s) compared to other available formulas. These formulas are very well applied to Kampung chicken farms that are kept traditionally in an area in order to choose good male candidates and prospective brooders for that area.
Measurement of Efficiency Levels in Open House System Broiler Breeders in Malang Regency, Indonesia Stepanus Pakage; Budi Hartono; Bambang Ali Nugroho; Deny Anjelus Iyai; Alnita Baaka; Agustinus Gatot Murwanto; John Arnold Palulungan; Irba Unggul Warsono; Trisiwi Wahyu Widayati; Isti Widayati; Dwi Nurhayati; Noviyanti; Rizky Arizona; Purwaningsih; Elfira Kariane Suawa; Muhammad Affan Mu’in; Mohammad Jen Wajo; Sangle Y Randa; Djonly Woran
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. 33 No. 2 (2023): August 2023
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2023.033.02.08

Abstract

Broiler farming in Malang Regency, East Java, Indonesia, has experienced rapid growth, significantly contributing to the regional economy. In this region, the open cage system is among the broiler cage systems that are commonly used. Therefore, this study aims to analyze 1) factors affecting growth, 2) factors causing technical inefficiency, and 3) technical, allocative, and economic efficiency. The results showed that factors such as day-old chicks (DOC), feed, and drugs positively affected broilers' development. However, there was a variation in the level of technical efficiency of 0.047 due to inefficient sources, which included the age of breeders, education level, work experience, number of family members, and employment status. Despite the variation in efficiency levels, the average breeder demonstrated high technical, allocative, and economic efficiency with values of 0.93, 0.99, and 0.92, respectively. This performance indicated that the average breeders had yet to reach peak efficiency but were categorized as high-efficiency. To further enhance productivity, broiler farming required additional DOC feed and adequate training for broiler breeders to maximize productivity and resource utilization. Based on these results, recommendations were made to provide loans to broiler farms with simple terms and conditions, specifically for purchasing DOC, feed, labor, medicines, and fuel.
Dynamics of goat population and production in Papua and West Papua Provinces: Correlation and regression analysis (2000-2023) Wajo, Mohamad Jen; Koibur, Johan F.; Iyai, Deni A.; Pakage, Stepanus; Pattiselanno, Freddy; Palulungan, John Arnold
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 15 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v15i1.509

Abstract

This study investigates the trends in goat population and meat production in Papua and West Papua from 2000 to 2023, analyzing the relationship between population growth, production output, and key management factors. Using secondary data from official sources such as the Central Statistics Agency (BPS) and the Department of Animal Husbandry, the study employs descriptive analysis, Pearson correlation, and both linear and non-linear regression models. The results indicate a significant positive correlation between goat population and meat production, particularly in Papua, where a cubic regression model explained 61.9% of the variability in production. In contrast, West Papua showed a weaker relationship with more fluctuations in production trends. The study underscores the importance of sustainable management practices, including feed quality and health care, to optimize goat production. These findings provide insights into improving goat farming in these regions through targeted interventions and policy alignment with national agricultural strategies. 
Sifat Kuantitatif Ayam Joper yang Dipelihara Kelompok Peternak “Papua Mandiri” di Kabupaten Manokwari Propinsi Papua Barat Rahayu, Bernaddeta Wahyuni Irianti; Manik, Hotlan; Palulungan, John; Tethool, Angelina Novita
Jambura Journal of Animal Science Vol 6, No 1 (2023): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v6i1.22365

Abstract

Sifat kuantitatif yang dimiliki oleh ayam Joper seperti ukuran tubuh merupakan salah satu parameter penting dalam prog pemuliaan ternak khususnya untuk mengetahui tingkat pertumbuhannya.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas ayam yang telah dipelihara selama dua bulan, menggunakan hubungan antara bobot badan dengan ukuran-ukuran tubuh ayam Joper.  Penelitian menggunakan metode deskripsi dengan teknik observasi. Data yang diukur berupa ukuran kuantitatif. Sampel ayam ditentukan secara purposif sampling pada kedua lokasi penelitian sebanyak 66 ekor.  Data yang diperoleh dianalisa secara tabulasi dan korelasi regresi dengan menggunakan SPSS versi 25. Bobot badan ayam Joper umur 2 bulan menggambarkan nilai yang cukup baik, karena memenuhi standar bobot badan ayam, yaitu 1015,5 g. Bobot badan ayam jantan adalah 1113,94 g dan betina dalah 916,36 g. Nilai korelasi pearson dan R square tertinggi adalah korelasi dan regresi panjang kaki terhadap bobot badan, sehingga ukuran panjang kaki dapat digunakan untuk menduga bobot badan ayam Joper pada usia 2 bulan. 
Peran juleha dalam pemantauan qurban di Masjid Darul Ulum Amban Manowari: The role of certified halal slaughterers (Juleha) in monitoring qurban slaughter at Darul Ulum Mosque, Amban, Manokwari Wajo, Mohamad Jen; Widayati , Trisiwi W.; Widayati, Isti; Nurhayati, Dwi; Tethool, Angelina N.; Baaka, Alnita; Purwaningsih, Purwaningsih; Noviyanti, Noviyanti; Inriani, Noveling; Arizona, Rizki; Palulungan, John A.; Sumpe, Iriani; Rumetor, Sientje D.; Saragih , Evi W.; Lekitoo, Merlyn N.; Manik, Hotlan
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i2.549

Abstract

ABSTRACT  This community service activity aimed to improve the technical compliance of qurban animal slaughter based on halal principles and animal welfare standards at Darul Ulum Mosque, Amban Village, West Manokwari District, Manokwari Regency. A case study approach with participatory techniques was employed, involving certified Halal Slaughterers (Juleha), qurban committees, university students, and experts. The activities covered antemortem inspection, slaughtering, postmortem examination, and meat distribution. The results showed that the slaughtering process was conducted in accordance with Islamic Sharia principles, ensuring the proper severance of the three main channels efficiently and swiftly. Postmortem inspection revealed parasitic infestations (fasciola hepatica and parampistomon) in several organs, which were handled appropriately following established protocols. Improvements are still needed in animal holding facilities, particularly regarding feed, water supply, and sanitation prior to slaughter. This program significantly enhanced the technical capacity of Juleha and the qurban committee, strengthening the implementation of halalan thayyiban and animal welfare principles at the mosque community level. Keywords: Animal welfare; halal slaughter; Juleha; postmortem inspection; qurban   ABSTRAK Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan teknis penyembelihan hewan qurban sesuai prinsip halal dan kesejahteraan hewan (animal welfare) di Masjid Darul Ulum, Kelurahan Amban, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik partisipatif, melibatkan Juru Sembelih Halal (Juleha), panitia qurban, mahasiswa, dan tenaga ahli. Kegiatan dimulai dari pemeriksaan antemortem, penyembelihan, pemeriksaan postmortem, hingga distribusi daging. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh proses penyembelihan telah dilakukan sesuai prinsip syariat Islam, dengan memastikan pemotongan tiga saluran utama secara cepat dan efisien. Pemeriksaan postmortem menemukan infestasi parasit (fasciola hepatica dan parampistomon) pada beberapa organ, yang ditangani sesuai protokol. Faktor sanitasi dan ketersediaan pakan serta air di penampungan ternak sebelum pemotongan masih perlu ditingkatkan. Kegiatan ini berkontribusi nyata dalam meningkatkan kapasitas teknis Juleha dan panitia qurban serta memperkuat implementasi prinsip halalan thayyiban dan animal welfare di tingkat komunitas masjid. Kata kunci: Juleha; kesejahteraan hewan; pemeriksaan postmortem; penyembelihan halal; qurban
Evaluation of the Sensory Quality of Beef Jerky Using Celery Leaf Extract as a Source of Natural Nitrite Arizona, Rizki; Palulungan, John Arnold; Ollong, Abdul Rahman; Saragih, Evi Warintan
JAS Vol. 10 No. 3 (2025): Journal of Animal Science (JAS) - Juli 2025
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains dan Kesehatan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dendeng is processed through salting and drying to extend its shelf life and develop a distinctive flavor. Synthetic nitrite in its processing plays a vital role in maintaining the red color and texture, inhibiting the growth of pathogenic microbes. However, the health risks due to the formation of carcinogenic nitrosamine compounds from the reaction of nitrite with amines in meat drive the search for safer natural alternatives. Celery leaves (Apium graveolens) are a potential candidate due to their natural nitrate content (1,496 ppm) that can be converted into nitrite through the activity of the enzyme nitrate reductase. Celery leaves also contain antioxidants that support product quality during storage. This study aims to evaluate the effectiveness of celery leaves as a substitute for synthetic nitrites in beef jerky, particularly in terms of sensory acceptance. This study is expected to serve as a foundation for developing healthier, more natural processed meat products and reducing dependence on synthetic chemicals. This study uses non-parametric analysis, specifically the Kruskal-Wallis Hedonic test followed by the Mann-Whitney test in a spider web model with four treatments of celery leaves, including P0 (control/without celery leaves), P1 (16g celery leaves), P2 (32g celery leaves), and P3 (48g celery leaves). The analysis results show that using celery leaves as a natural curing agent significantly affects color, tenderness, and flavor. The addition of celery leaves up to 16 grams has the best effect.
Kontes Ternak sebagai strategi peningkatan minat peternak OAP terhadap sapi Bali: Livestock contest as a strategy to increase Indigenous Papuan farmers’ interest in Bali cattle Sumpe, Iriani; Seseray , Daniel Y.; Widayati , Trisiwi W.; Tethool , Angelina; Sawen, Diana; Monim , Hanike; Lekitoo , Merlyn N.; Palulungan, John A.; Wajo , Mohamad Jen; Haryati, Stefani F.; Rahayu, Bernadetta W. I.
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i4.608

Abstract

ABSTRACT  A livestock contest is a strategic approach that can encourage improvements in maintenance quality and motivate farmers in developing their livestock. This activity was carried out in Sorong Regency, Southwest Papua, involving 30 Indigenous Papuan (OAP) farmers with a total of 50 Bali cattle. After administrative selection and health checks, 34 cattle were assessed based on morphometric parameters, Body Condition Score (BCS), estimated body weight, and maintenance management. The results showed significant variation in livestock performance and the level of adoption of maintenance practices. Farmers’ involvement in the measurement process provided direct educational experiences and increased awareness of the importance of data-based management and livestock breeding selection to improve productivity. In addition to identifying livestock individuals with superior genetic potential, the contest also encouraged a shift in farmers’ mindset toward sustainable livestock development. This model is recommended as a replicable approach for regions with similar socio-economic conditions.  Keywords: Bali cattle; husbandry management; Indigenous Papuan; livestock contest; selective breeding   ABSTRAK  Kontes ternak merupakan pendekatan strategis yang dapat mendorong peningkatan kualitas pemeliharaan dan motivasi peternak dalam mengembangkan ternaknya. Kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, melibatkan 30 peternak Orang Asli Papua (OAP) dengan total 50 ekor sapi Bali. Setelah seleksi administratif dan pemeriksaan kesehatan, 34 ekor sapi dinilai berdasarkan parameter morfometrik, Body Condition Score (BCS), estimasi bobot badan, dan manajemen pemeliharaan. Hasil menunjukkan variasi signifikan dalam performa ternak dan tingkat adopsi praktik pemeliharaan. Keterlibatan peternak dalam proses pengukuran menciptakan pengalaman edukatif langsung dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya manajemen -pemeliharaan dan seleksi bibit ternak untuk meningkatkan produktivitas ternak. Selain mengidentifikasi individu ternak berpotensi genetik unggul, kontes ini juga mendorong perubahan pola pikir peternak ke arah pengembangan ternak berkelanjutan. Model ini direkomendasikan sebagai pendekatan replikatif untuk wilayah dengan kondisi sosial-ekonomi serupa. Kata kunci: kontes ternak; manajemen pemeliharaan; Orang Asli Papua; pemuliaan selektif; sapi Bali
Co-Authors Abdul Rahman Ollong Agustinus Gatot Murwanto Ahimsa Kandi Sariri Aisyah Bauw Alnita Baaka Alnita Baaka Andoyo Supriyantono Angelina N. Tethool Angelina N. Tethool Antomina Estefina Koibur Arizona, Rizki B. A. Nugroho B. Hartono Bambang Ali Nugroho Bernaddeta Wahyuni Irianti Rahayu, Bernaddeta Wahyuni Irianti Budi Hartono Budi Santoso Chrysostomus, H. Y. D. A. Iyai D. Nurhayati Daniel Y. Seseray Denny Iyai Deny Anjelus Iyai Deny Anjelus Iyai Desni Saragih Diana Sawen Djonly Woran Djonly Woran Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati, Dwi Elfira Kariane Suawa Evi W. Saragih Frandz Rumbiak Pawere Frandz Rumbiak Pawere Fransiska R. V. Sitanggang Freddy Pattiselanno Hans Mamboai Haryati, Stefani F. Hotlan Manik Hotlan Manik Inriani, Noveling Irba Unggul Warsono Irba Unggul Warsono Iriani Sumpe Isti Widayati Isti Widayati Isti Widayati Iyai, Deni A. Johan F. Koibur Karubaba, Soleman M. Lekitoo , Merlyn N. Lekitoo, Marlyn N Ludfia Windyasmara, Ludfia M A Mu'in Makarius Bajari Maria Arim Maya Novi Mohamad Jen Wajo Mohammad Jen Wajo Monim , Hanike Mubarokah, Wida W. Muhammad Affan Mu’in Muhammad J Wajo Muhammad J. Wajo Muhammad Junaidi Mulyadi Mulyadi Murwanto, A. Gatot N Zurahmah Noveling Inriani Noviyanti Noviyanti Noviyanti . Noviyanti Noviyanti Noviyanti Noviyanti Noviyanti Noviyanti, Noviyanti Priyo Sambodo Priyo Sambodo Purwaningsih Purwaningsih Purwaningsih Purwaningsih - Purwaningsih . Purwaningsih Purwaningsih Rahayu, Bernadetta W. I. Randa, Sangle Yohannes Rinetha Stella Suabey Rizki Arizona Rizky Arizona Rizky Arizona S. Pakage Sangle Y Randa Sangle Yohannes Randa Saragih , Evi W. Sembiring, Rinawati Seseray , Daniel Y. Sientje D Rumetor Sientje D. Rumetor Siti Halimatus Saadiyah Stepanus R. Pakage dan B.W. Irianti Tethool , Angelina Tethool, Angelina Novita Trisiwi Wahyu Widayati Trisiwi Wahyu Widayati Wida W. Mubarokah Widayati , Trisiwi W. Widayati, Isti Widayati, Trisiwi W. Yafed Muyan Yafed Syufi Z. Fanani