Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Optimalisasi Manajemen Persediaan Cat Interior dan Thinner di CV. PSA Alsandi Afrio Prasenda; Gusti Adriansyah; Ika Widya Ardhyani
Journal of Industrial View Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jiv.v7i2.16102

Abstract

PSA company experiences problems in controlling raw material inventory which is still far from optimal in determining the amount of zincromate grey, zincromate red and thinner that must be ordered to meet unstable demand, this is indicated by frequent overstock and understock of materials used in the container repair process, especially in the context of painting and the high frequency of ordering the materials produced. Long-term inventory is not sustainable, such as clean interior painting, so it can result in quite high inventory costs if it continues. The processing of this research compares the two methods based on the parameters of ordering frequency, total cost per order (TIC per order) and total cost per period (TIC per period). The results of data processing show that the EOQ method has a higher ordering frequency but produces lower costs. The average cost achieved reaches 10% for each type of raw material, with the highest savings of Rp. 1,978,740 for zincromate grey. The results of the analysis show that the application of the Min-Max method has the advantage of lower order quantities, the EOQ method has proven to be more efficient in inventory control and overall cost savings.   Perusahaan CV. PSA mengalami permasalahan dalam pengendalian persediaan bahan baku masih jauh dari optimal dalam manentukan jumlah bahan zincromate grey, zincromate red dan thinner yang harus dipesan untuk memenuhi permintaan yang tidak stabil, hal ini ditunjukkan dengan sering adanya kelebihan stok (overstock) dan kekurangan stok (understock) dari bahan-bahan yang digunakan dalam proses perbaikan petikemas khususnya konteks pengecatan serta tingginya frekuensi pemesanan bahan-bahan yang dihasilkan. Persediaan barang yang lama tidak berkelanjutan, sepeti pengecatan interior yang bersih, sehingga dapat mengakibatkan biaya persediaan yang cukup tinggi jika terus berlanjut. Pengolahan penelitian ini membandingkan kedua metode berdasarkan parameter frekuensi pemesanan, total biaya per pesanan (TIC per order) dan total biaya per periode (TIC per period). Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa metode EOQ memiliki frekuensi pemesanan yang lebih tinggi tetapi menghasilkan biaya yang lebih rendah. Rata-rata biaya yang dicapai mencapai 10% pada setiap jenis bahan baku, dengan penghematan tertinggi sebesar Rp.1.978.740 pada bahan zincromate grey. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan menggunkan metode Min-Max memiliki keunggulan dalam jumlah pemesanan yang lebih sedikit, metode EOQ terbukti lebih efisien dalam pengendalian persediaan dan penghematan biaya secara menyeluruh.  
Analisis Pengendalian Kualitas Cacat Produk Kertas CME 150 GSM Menggunakan Pendekatan Six Sigma di PT. SYK Rachman, Arif Dwi; Ardhyani, Ika Widya
Jurnal SENOPATI : Sustainability, Ergonomics, Optimization, and Application of Industrial Engineering Vol 7, No 2 (2026): Jurnal SENOPATI Vol 7, No 2 (in progress)
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.senopati.2026.v7i2.8138

Abstract

PT SYK merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai jenis kertas, salah satunya kertas CME yang memiliki permintaan tinggi di pasar. Pada tahun 2024, tercatat tingkat cacat sebesar 4,57% dalam produksi kertas CME 150 gsm, jauh di atas ambang batas standar perusahaan sebesar 0,5%. Penelitian ini menggunakan pendekatan Six Sigma dengan metode DMAI ( Define, Measure, Analyze, Improve ) untuk mengidentifikasi penyebab utama cacat dan merumuskan solusi perbaikan. Analisis dilakukan melalui alat bantu seperti Histogram, Diagram Pareto, Peta Kendali, metode 5-Mengapa, dan FMEA. Ditemukan bahwa cacat yang paling dominan adalah Ring Crush Low (RCL), yang disebabkan oleh faktor manusia dan mesin. Solusi yang diusulkan mencakup peningkatan pengendalian proses berbasis data, pemeliharaan mesin secara berkala, serta peningkatan kompetensi operator. Diharapkan upaya ini dapat menurunkan tingkat cacat RCL, meningkatkan nilai sigma proses, dan memperbaiki kualitas produk secara keseluruhan.Kata kunci: DMAI, FMEA, Quality, Six Sigma, 5-Whys