Claim Missing Document
Check
Articles

Perasan Daun Kemangi (Ocimum sanctum) dan Daun Kersen (Muntingia calabura) pada Berbagai Konsentrasi terhadap Mortalitas Larva Aedes aegypti K., Sarinah Basri; Nurfadillah, Ayu Rofia
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2025): Afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afiasi.v10i3.551

Abstract

Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global, dengan Aedes aegypti sebagai vektor utamanya. Penggunaan insektisida kimia secara terus-menerus menimbulkan resistensi dan dampak lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian vektor yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas perasan daun kemangi (Ocimum sanctum) dan daun kersen (Muntingia calabura) pada berbagai konsentrasi terhadap mortalitas larva Aedes aegypti. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental laboratorik dengan empat perlakuan (25%, 50%, 75%, dan kontrol negatif) yang diulang tiga kali, masing-masing terdiri atas 20 larva instar III. Pengamatan dilakukan pada jam ke-6, 12, 18, dan 24, kemudian data dianalisis menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan daun kemangi lebih efektif dibandingkan daun kersen dalam menyebabkan kematian larva Aedes aegypti. Pada konsentrasi 75%, kemangi mencapai tingkat mortalitas sebesar 85% (kategori efektif), sedangkan kersen hanya mencapai 73% (kategori cukup efektif). Analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi perasan daun kemangi tidak berpengaruh signifikan terhadap mortalitas larva (ρ=0,350; p>0,05), sementara pada daun kersen terdapat pengaruh yang signifikan (ρ=0,046; p<0,05), terutama antara konsentrasi 25% dan 75%. Disimpulkan bahwa perasan daun kemangi memiliki efektivitas larvasida yang lebih tinggi, namun pengaruh konsentrasi lebih nyata pada daun kersen. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan metode ekstraksi yang lebih optimal, menambah variasi waktu paparan, serta menguji dampak terhadap organisme non-target sebelum diterapkan di lapangan.
The Relationship Between Nutritional Status, Physical Activity and Menstrual Duration with the Incidence of Anemia in Adolescent Girls at SMA Negeri 1 Boliyohuto Nikmawati Palilati; Sunarto Kadir; Ayu Rofia Nurfadillah
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) Vol. 7 No. 2: April 2025 - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v7i2.7037

Abstract

Anemia occurs due to various causes, such as iron deficiency, folic acid deficiency, vitamin B12 and protein. Anemia is directly caused by insufficient production/quality of red blood cells and blood loss either acutely or chronically. The formulation of the problem is whether there is a relationship between nutritional status, physical activity and the length of menstruation with the incidence of anemia in adolescent girls at SMA Negeri 1 Boliyohuto. This study aims to analyze the relationship between nutritional status, physical activity and menstrual duration with the incidence of anemia in adolescent girls at SMA Negeri 1 Boliyohuto. The type of research is observational analysis with a research design using Cross Sectional. The population is active students in grade XI at SMA Negeri 1 Boliyohuto with a purposive sampling technique totaling 124 students. Data analysis uses Spearman Correlation. The results of the analysis of nutritional status in adolescent girls were the most common nutritional status, which was 63 students (50.8%). The most physical activity in adolescent girls was moderate physical activity as many as 82 students (66.1%). The duration of menstruation in adolescent girls was 70 students (56.5%). The results of Spearman's Correlation analysis for nutritional status were obtained with a p-value of 0.000 (p value < 0.005) with a value of r = 0.437, a physical activity p-value of 0.010 (p value < 0.005) with a value of r = -0.230 and a duration of menstruation with a p-value of 0.020 (p value < 0.005) with a value of r = 0.209. The conclusion was that there was a relationship between nutritional status, physical activity, and the duration of menstruation with the incidence of anemia in adolescent girls at SMA Negeri 1 Boliyohuto. It is hoped that this research can increase the knowledge of adolescent girls about the relationship between nutritional status, physical activity and menstrual duration and have a positive impact.
Test the difference in the effectiveness of squeezing left leaves (Chromolaena odorata) and soursop leaves (Annona muricata L.) Against the Mortality of Hair Lice (Pediculus Humanus Capitis) Anak Agung Ratih Eka Putri; Laksmyn Kadir; Tri Septian Maksum; Sarinah Basri K; Ayu Rofia Nurfadillah
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) - July 20
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v8i3.9904

Abstract

Vectors such as head lice (Pediculus humanus capitis) play a role as the cause of Pediculosis capitis which is still a public health problem. Therefore, effective control efforts are needed using safe natural materials such as kirinyuh leaves (Chromolaena odorata) and soursop leaves (Annona muricata L.) which contains active compounds that have the potential to be a hair lice killer. The purpose of this study is to distinguish the effectiveness of squeezing kirinyuh leaves and soursop leaves on hair lice mortality. The type of research uses a quasi-experimental design with a complete random design (RAL). The sample consisted of 190 adult stage head lice. Hair lice were given a pinch of kirinyuh leaves and soursop leaves with concentrations of 32%, 40%, and 48% with 3 repetitions and observed for 30 minutes. Data analysis was conducted using the ANOVA, Kruskal-Wallis and Mann-Whitney One-Way tests. The results showed that the highest mortality of head lice in left leaves was at a concentration of 48% of 90%, and the highest mortality of head lice in soursop leaves was at a concentration of 48% of 80%. In conclusion, there was no difference in the effectiveness of squeezing left leaves and soursop leaves on hair lice mortality (p-value = 0.100). The public is advised to use the juice of kirinyuh leaves and soursop leaves as environmentally friendly head lice control.
Hubungan Pajanan Debu Kayu dengan Kapasitas Fungsi Paru pada Pekerja di Bagian Pengamplasan Industri Meubel Kota Gorontalo: Relationship between Wood Dust Exposure and Lung Function Capacity in Workers in the Sanding Section of the Furniture Industry in Gorontalo City Moh Fauzan Talamoa; Irwan; Ayu Rofia Nurfadillah
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 5: Mei 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i5.7362

Abstract

Pekerja di industri meubel, khususnya di bagian pengamplasan, memiliki risiko tinggi terhadap gangguan kesehatan akibat paparan debu kayu. Proses pengamplasan menghasilkan partikel debu halus yang mudah terhirup dan dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian adalah seluruh pekerja pengamplasan dari 44 industri meubel di Kota Gorontalo, berjumlah 44 orang yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran fungsi paru menggunakan spirometer, pengukuran konsentrasi debu dengan alat Aerosol Mass Monitor, serta wawancara terstruktur. Hasil menunjukkan 48,9% responden memiliki gangguan fungsi paru sedang, sementara sisanya menunjukkan kapasitas paru normal. Analisis statistik mengungkapkan hubungan signifikan antara usia (p=0,035), lama kerja (p=0,001), masa kerja (p=0,002), penggunaan APD (p=0,010), dan konsentrasi debu (p=0,005) dengan gangguan fungsi paru. Namun, perilaku merokok tidak menunjukkan hubungan signifikan (p>0,05). Simpulan penelitian ini menekankan pentingnya pengendalian pajanan debu kayu melalui peningkatan ventilasi dan penggunaan APD yang konsisten. Edukasi kesehatan bagi pekerja dan pengawasan oleh pihak manajemen industri juga diperlukan untuk menurunkan risiko gangguan fungsi paru. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan risiko kesehatan kerja di industri meubel.
Efektivitas Tanaman Biji Kelor (Moringa Oleifera) Sebagai Koagulan Alami Dalam Menurunkan Kekeruhan Di Air Kolam Renang Lombongo: The Effectiveness of Moringa Oleifera Seeds as a Natural Coagulant in Reducing Turbidity in Lombongo Swimming Pool Water Dhea Oktaviany Daud; Laksmyn Kadir; Ayu Rofia Nurfadillah
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i5.9752

Abstract

Air kolam renang yang bersumber dari alam tanpa pengolahan kimia seperti kaporit memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi dan berpotensi menjadi media penyebaran penyakit kulit seperti dermatitis.Salah satu alternatif menurunkan kekeruhan air ramah lingkungan adalah biji kelor (Moringa oleifera), yang mengandung senyawa aktif berfungsi sebagai koagulan alami.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas serbuk biji kelor dalam menurunkan kekeruhan air kolam renang Lombongo di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango. Jenis penelitian eksperimental dengan pendekatan true eksperimen, di mana sampel dibagi secara acak ke dalam kelompok perlakuan dan kontrol. Sampel penelitian adalah sebagian air kolam renang lombongo di Kecamatan Suwawa lalu diberikan perlakuan dengan tiga variasi dosis serbuk biji kelor (0,15 gram, 0,30 gram, dan 0,45 gram per 1 liter air), masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Walls. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk biji kelor efektif dalam menurunkan kekeruhan air kolam renang. Penurunan tertinggi terjadi pada dosis 0,15 gram dengan persentase penurunan sebesar 91,89%, sedangkan penurunan terendah terjadi pada dosis 0,45 gram dengan persentase 73,15%. Berdasarkan uji Kruskal-Wallis diperoleh nilai P value = 0,113 > 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan efektivitas tanaman biji kelor (Moringa oleifera) dosis 0,15 gram, 0,30 gram, 0,45 gram dalam menurunkan kekeruhan pada air kolam renang Lombongo. Disarankan untuk dapat membudidayakan dan memanfaatkan tanaman biji kelor dalam meningkatkan kualitas air.
Analisis Kelimpahan dan Karakteristik Mikroplastik dalam Air Minum Kemasan di Kota Gorontalo, Indonesia Tiara Nurfadilla Utia; Herlina Jusuf; Ayu Rofia Nurfadillah
Jurnal Promotif Preventif Vol 9 No 3 (2026): Juni 2026: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v9i3.2657

Abstract

Air minum dalam kemasan (AMDK) merupakan sumber utama air minum masyarakat perkotaan, termasuk di Kota Gorontalo, karena kepraktisan dan kemudahan akses. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan mikroplastik pada AMDK yang beredar di Kota Gorontalo, meliputi konsentrasi atau kelimpahan, bentuk, warna, dan ukuran mikroplastik. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan metode filtrasi dan identifikasi visual menggunakan mikroskop stereo dengan total sampel yang digunakan sebanyak 5 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel AMDK (100%) terkontaminasi mikroplastik dengan kelimpahan berkisar antara 0,010–0,030 partikel/mL dan rata-rata 0,019 partikel/mL. Mikroplastik yang ditemukan didominasi oleh bentuk serat (line) dan fragmen, dengan warna hitam dan biru sebagai warna yang paling domSebagian besar partikel mikroplastik memiliki ukuran kurang dari 500 µm. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa AMDK yang beredar di Kota Goroinan. ntalo telah terkontaminasi mikroplastik dengan tingkat kelimpahan yang bervariasi antar merek, sehingga berpotensi menjadi jalur paparan mikroplastik bagi masyarakat.
Hubungan Kebiasaan Minum Kopi dengan Kadar Gula Darah Puasa pada Mahasiswa Kesehatan Masyarakat: Studi Cross-Sectional Muammar Aqil Inayatullah; Ayu Rofia Nurfadillah; Sunarto Kadir
Jurnal Promotif Preventif Vol 9 No 3 (2026): Juni 2026: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v9i3.2717

Abstract

Kopi merupakan salah satu minuman yang banyak dikonsumsi mahasiswa dan telah menjadi bagian dari gaya hidup. Kandungan kafein serta senyawa bioaktif dalam kopi diduga dapat memengaruhi metabolisme glukosa dan kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan minum kopi dengan kadar gula darah pada mahasiswa angkatan 2022 Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional melalui pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 175 mahasiswa, dengan sampel sebanyak 122 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan gula darah puasa menggunakan glukometer, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi minum kopi dengan kadar gula darah (p=0,000). Sebaliknya, cara penyajian kopi (p=0,547) dan waktu konsumsi kopi (p=0,666) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kadar gula darah. Sebagian besar responden mengonsumsi kopi 1–2 kali per minggu dan memiliki kadar gula darah normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi konsumsi kopi berhubungan dengan kadar gula darah puasa mahasiswa, sedangkan cara penyajian dan waktu konsumsi kopi tidak berhubungan secara signifikan. Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar edukasi mengenai pola konsumsi kopi yang sehat pada mahasiswa.
FACTORS ASSOCIATED WITH SYMPTOMS OF GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE AMONG MEDICAL STUDENTS OF UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO Andi Nurmala Putri Arkani; Laksmyn Kadir; Ayu Rofia Nurfadillah
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 3 No. 1 (2026): Vol. 3 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v3i1.1974

Abstract

Disgestion is a very important process for the health and well-being of the body, if it s not properly managed, it can increase the risk of more serious health problems, one of which is Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Risk factors that may contribute to the development of GERD include poor dietary pattern, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and academic stress. This study employs an analytical and approach using a quantitative method with a cross-sectional design. The population and sample consisted of 106 students selected using purposive sampling. Data analysis was conducted using a univariate and bivariate analyses. The chi-square test result showed that dietary pattern, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and academic stress had a significant association with GERD symptoms, with p-values < 0,05. It is recommended that students pay attention to dietary patterns, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and manage stress properly to achieve better health. For the Faculty of Medicine, it is recommended that education be provided regarding the importance of maintaining stundent health, particularly in relation to dietary patterns, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and stress management. Future researchers are encouraged to further develop follow-up studies on factors associated with GERD symptoms.
Analysis Of Protein, Fat and Carbohydrate Nutrients in F100-Based Processed Cookies with Corn Flour Substitution for Malnourished Toddlers Shannaz Dea Puspita Lengkong; Sunarto Kadir; Ayu Rofia Nurfadillah
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) April 202
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v8i2.10518

Abstract

Nutrient intake is an important factor for the growth and development of toddlers, one of the causes of malnutrition in toddlers is a suboptimal feeding pattern. Problem formulation, what is the content of protein, fat, and carbohydrates and how the panelists received based on organoleptic tests on processed F100-based cookies with 10%, 20%, and 30% corn flour substitution for malnourished toddlers. The purpose of the study was to determine the content of protein, fat, and carbohydrates as well as the acceptance of panelists based on organoleptic tests on processed F100-based cookies with 10%, 20% and 30% corn flour substitution for malnourished toddlers. This type of research is quantitative by using laboratory experiments to analyze protein, fat, and carbohydrate levels. The research design used was a 1-factorial Complete Random Design (RAL) with 3 treatments (10%, 20%, and 30%). The research panelists consisted of 20 students of Public Health specializing in nutrition to determine the level of organoleptic acceptance of cookies. Data were analyzed using univariate analysis. The results of the nutrient analysis research obtained protein content of 8.29%, 9.12%, and 9.58% for each treatment, fat content of 10.10%, 11.15%, and 12.25% for each treatment and carbohydrate content of 76.12%, 73.82%, and 71.83% for each treatment. The results of organoleptic tests showed that the entire cookie formulation was well received by the panelists, especially at 30% substitution.In conclusion, the nutritional content of corn flour substitution cookies can be an alternative in meeting the nutritional needs of toddlers per day. The suggestion for the next researcher is to conduct several follow-up tests to determine the content of micronutrients (vitamins and minerals).
Uji Efektivitas Daya Serap Tanaman Kangkung Air Dalam Menurunkan Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) Pada Limbah Cair Pabrik Tahu Ayula Tilango Kabupaten Bone Bolango: Effectiveness Test of Water Spinach Absorption Capacity in Reducing Chemical Oxygen Demand (COD) Levels in Liquid Waste from the Ayula Tilango Tofu Factory in Bone Bolango Regency Siti Faujia Kango; Herlina Jusuf; Ayu Rofia Nurfadillah
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.10370

Abstract

Limbah cair yang dihasilkan dari proses pembuatan tahu mengandung bahan organik tinggi yang dapat meningkatkan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) sehingga mencemari lingkungan perairan. Salah satu upaya pengolahan limbah secara alami adalah fitoremediasi menggunakan tanaman air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas tanaman kangkung air (Ipomoea aquatica) dalam menurunkan kadar COD pada limbah cair pabrik tahu Ayula Tilango Kabupaten Bone Bolango. Jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperimen) dengan rancangan One Group Pretest–Posttest Design menggunakan variasi jumlah rumpun tanaman sebanyak 10, 15, dan 20 rumpun, masing-masing dengan tiga kali replikasi dan waktu kontak selama 1×24 jam. Parameter yang diamati meliputi suhu, pH, dan kadar COD sebelum serta sesudah perlakuan. Analisis data menggunakan One-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman kangkung air belum efektif menurunkan kadar COD. Nilai signifikansi uji ANOVA sebesar p = 0,823 (p > 0,05) menunjukkan tidak terdapat perbedaan antarperlakuan. Faktor penyebab antara lain pH limbah yang tinggi (9,42), waktu kontak singkat (1 hari), dan pembusukan tanaman akibat kepadatan biomassa. Kesimpulannya, kangkung air belum mampu menurunkan kadar COD secara signifikan. Disarankan penelitian selanjutnya memperpanjang waktu kontak dan menambah parameter pendukung.