Koes Yuliadi
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

The Pangasuah (Shaman permeates) Strategy to Evoke Hysteria in the Rantak Kudo Performance Ediantes, Ediantes; Prasetya, Hanggar Budi; Yuliadi, Koes; Pranoto, Iwan; Sawitri, Rahmarni
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i3.14194

Abstract

Strategi pangasuah (dukun meresap) dalam membangkitkan histeria merupakan upaya melestarikan kesenian tradisional pertunjukan Rantak Kudo. Strategi pangasuah dalam Rantak Kudo tradisional Kerinci menjadi rujukan penting agar tidak hilang dan tergerus dalam perkembangan seni pertunjukan Rantak Kudo modern. Strategi yang dilakukan para pangasuah dalam membangkitkan histeria diharapkan dapat menjadi pedoman bagi Rantak Kudo modern. Kehadiran Rantak Kudo tradisional sangat penting bagi masyarakat karena berfungsi sebagai sarana penyembuhan spiritual masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dan data diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan kelompok pangasuah dan Rantak Kudo. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pangasuah berperan penting dalam membangkitkan histeria yang ada dalam adat Rantak Kudo. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang digunakan oleh pangasuah dalam menciptakan suasana histeris ditentukan oleh (1) syair cerita Rantak Kudo, (2) karakter pangasuah, dan (3) pementasan Pementasan Rantak Kudo. Strategi-strategi tersebut secara signifikan memengaruhi pelestarian histeria dalam seni pertunjukan tradisional Rantak Kudo.
PERANCANGAN SKENARIO FILM PAKSA BERBASIS KASUS KEKERASAN INSES DI MEDIA DARING Wulandari, Iis; Yuliadi, Koes; Lephen, Purwanto
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 22, No 1: Maret 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v22i1.13896

Abstract

Kekerasan inses menjadi fenomena yang mengkhawatirkan, dimana pelaku dan korban memiliki hubungan darah. Diantara berbagai jenis kekerasan, inses adalah yang paling sulit untuk diidentifikasi dan dilaporkan. Faktor lainnya karena stigma dalam masyarakat, yang masih menganggap tabu kekerasan inses untuk dibicarakan di ruang publik. Pendekatan perancangan skenario film Paksa menggunakan beberapa pendekatan antara lain: analisis wacana, dan kreativitas. Pendekatan analisis wacana digunakan untuk mengubah berita menjadi wacana yang dapat dimaknai serta untuk mengetahui lebih jelas pola-pola kekerasan inses. Setelah berita dianalisis, tahap selanjutnya menggali kreativitas untuk mengubah fakta menjadi karya fiksi. Kreativitas adalah keahlian seseorang dalam menciptakan bentuk baru dari karya sebelumnya. Setelah ide muncul, metode untuk mengolahnya menggunakan metode transformasi distorsi. Transformasi distorsi, adalah sebuah metode dimana pencipta bebas dalam menstransformasikan fakta tersebut. Setelah data dan fakta diolah, maka tahap terakhir perancangan skenario film. Penciptan skenario film menggunakan struktur tiga babak dan in medias res. Paksa menceritakan seorang penyintas kekerasan inses yang berjuang menyelamatkan muridnya. Perjuangannya tidak mudah karena peristiwa terjadi di lingkungan masyarakat yang masih tabu dengan kekerasan inses serta kontruksi sosial yang begitu kuat memagari pemikiran masyarakat desa. Diharapkan karya skenario film menjadi media edukasi dan advokasi untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai kekerasan inses.
Workaholic sebagai Inspirasi Penciptaan Skenario Film Pendek Haru Biru Zuhri, Wan Luthfia Nur; Yuliadi, Koes; Dhani, Kurnia Rahmad
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12533

Abstract

Haru Biru adalah karya naskah skenario yang diangkat dari fenomena orang-orang workaholic. Workaholisme sebagai sumber ide penciptaan karya diangkat berdasarkan semakin banyaknya orang yang gila kerja hingga mengabaikan kehidupan dan kesehatan pribadi maupun kehidupa sosialnya. Penulisan naskah skenario ini menggunakan pendekatan struktur tiga babak sebagai kerangka teoritik dalam pengembangan narasi. Naskah ini bercerita tentang tokoh bernama Biru yang gila kerja hingga jatuh sakit dan tidak dapat melanjutkan karirnya, hingga akhirnya memilih untuk bunuh diri karena depresi. Proses penulisan ini menghasilkan satu naskah film pendek lengkap yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk film pendek yang terdiri dari total 15 scene dengan 8 halaman dengan durasi 15 menit. Workaholic as Inspiration for Creating the Scenario for the Short Film Haru BiruHaru Biru is a screenplay that explores the phenomenon of workaholism. The story is inspired by the increasing number of people obsessed with work that neglect their personal and social lives. The screenplay uses a three-act structure as a theoretical framework for narrative development. The script tells the story of a character named Biru, who is a workaholic and eventually falls ill and is unable to continue his career, leading him to choose suicide due to depression. The writing resulted in 15 scenes and an eight-page script, then adapted into a 15-minute short film.
Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Sebagai Ide Penciptaan Skenario Film "-repeat." Abdi, Jeanchristy Humaniora; Wibowo, Philipus Nugroho Hari; Yuliadi, Koes
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12293

Abstract

“-repeat.” adalah sebuah skenario film yang tercipta berdasar pada pengalaman nyata pengidap post-traumatic stress disorder (PTSD) tentang bagaimana mereka melihat dunia, bagaimana mereka menjalani hidup, dan apa yang akan mereka lakukan ketika mengalami reka ulang memori traumatis masa lalu. Skenario film ini memiliki 2 (dua) capaian kriteria seperti yang disampaikan oleh Seno Gumira Adjidarma dalam buku Layar Kata (2002), yaitu 1) kriteria fungsional, berarti sebuah skenario dapat dijadikan blueprint dalam sebuah produksi film; 2) kriteria substansial, dapat mengandung esensi atau pembelajaran yang dapat disampaikan pada khalayak ramai. Penciptaan ini disandarkan pada perspektif psikologis menggunakan pendekatan Psikoanalisis oleh Sigmund Freud. Selain itu, digunakan juga pendekatan berupa screenplay dan cinematography, dan intertekstualitas. Dengan metode proses kreatif oleh John Livingston Lowes, penulis membangun konsep awal penciptaan skenario dan menyelesaikannya dalam bentuk skenario film yang utuh. Skenario film ini diberi judul “-repeat.”, apabila diterjemahkan menjadi ‘mengulang’. Hal ini pun seiringan dengan salah satu gejala yang dimiliki oleh para pengidap post-traumatic stress disorder (PTSD) yaitu situasi dimana penderita penyakit merasa terjebak dalam trauma dan mengalami reka ulang memori traumatis. Dengan mengangkat tema psikologi, penulis menuang harapan dengan penciptaan ini dapat dimulai sebuah langkah awal bagi masyarakat luas untuk dapat memahami betapa pentingnya menjaga kesehatan jiwa.
Penciptaan Naskah Drama Harta Nami Nauli berdasarkan Cerita Rakyat Asal Usul Pohon Haminjon di Provinsi Sumatera Utara Siregar, Faried Noor; Arisona, Nanang; Yuliadi, Koes
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12375

Abstract

Naskah drama ini bertujuan mengangkat legenda asal usul pohon kemenyan (haminjon) di Provinsi Sumatera Utara sebagai inspirasi utama. Legenda tersebut menciptakan konstruksi sosial masyarakat petani kemenyan, membentuk pola perilaku, dan memberikan makna dalam menjaga hutan adat. Fenomena ini menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan naskah drama panggung berjudul "Harta Nami Nauli." Penulis akan menerapkan teori resepsi yang dikemukakan iser untuk membahas konteks dalam legenda asal usul pohon kemenyan. Penciptaan naskah drama ini juga mengadopsi pendekatan alur dramatik Aristoteles, dengan tahap permulaan, jalinan kejadian, puncak laku, dan penutup yang menggambarkan perjuangan kelompok dalam mempertahankan keberlanjutan hutan adat mereka. "Harta Nami Nauli" menjadi simbol kekayaan pengetahuan warisan leluhur dan komitmen masyarakat untuk menjaga harmoni dengan alam. Naskah drama ini mencoba menggambarkan bagaimana kearifan lokal dan nilai-nilai leluhur dapat menjadi panduan hidup dalam menghadapi tantangan modernisasi. The Creation of the Drama Script Harta Nami Nauli Based on the Folklore of the Origin of the Haminjon Tree in North Sumatra ProvinceThis drama script aims to explore the legend of the origin of the agarwood tree (kemenyan) in North Sumatra Province as its main inspiration. The legend shapes the social construction of kemenyan farmers, influencing behavioral patterns and imbuing meaning in the preservation of traditional forests. This phenomenon serves as the primary source of inspiration for the creation of a stage drama script titled "Harta Nami Nauli." The writer will apply Iser's reception theory to delve into the context of the legend of the kemenyan tree. The creation of this drama script also adopts Aristotle's dramatic structure approach, encompassing the beginning, plot development, climax, and conclusion, illustrating the group's struggle to maintain the sustainability of their ancestral forest. "Harta Nami Nauli" symbolizes the wealth of ancestral knowledge and the community's commitment to maintaining harmony with nature. The drama script endeavors to portray how local wisdom and ancestral values can serve as life guides in facing the challenges of modernization.
DARI ARCA KE ARJA: ADAPTASI PANJI DALAM PERTUNJUKAN ARJA DI BALI Yuliadi, Koes
Berkala Arkeologi Vol. 33 No. 1 (2013)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v33i1.9

Abstract

Panji stories that were spread throughout Indonesia and Southeast Asia were not only known as old literature. Panji stories were also sculpted as the reliefs on temples in East Java. The existence of the text shows the historical facts that form the basis for the emergence of the Panji stories. Panji figure could be a manifestation of the life of kings in the past. The presence of papyrus, relief, and also stage performance that tell the story of Panji showed that there is a correlation among literature, relief, and performance, in the realm of art creation. Are Panji stories stay preserved as part of the development of art in Indonesia? Arja performances in Bali could describe how Panji stories can still be traced. Arja's performance used Panji stories as a source. Now Arja is existence can still be seen through its variety of plays. However, this does not make the panji story disappear in the Arja's performance. This issue will be addressed as a consequence of the adaptation of the revolving art. Not only in the present, but in the past a pattern of adaptation that can transpose works from different disciplines has already emerged. Panji stories can be known through papyrus, relief, and performances. Today it is still going without being recognized.
MELAMPAUI PENGULANGAN: KREATIVITAS ANGKI PURBANDONO DALAM PANDANGAN DELEUZE Mocodompis, Jeannete Lauren; Yuliadi, Koes
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.14999

Abstract

Karya seni kontemporer seringkali dipahami sebagai hasil dari pengulangan, namun dalam perjalanan kreatif Angki Purbandono, pengulangan tersebut melampaui batas teknis dan membuka kemungkinan baru yang tak terduga. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kreativitas Angki Purbandono melalui lensa teori difference and repetition oleh Gilles Deleuze, serta konsep rhizomatic thinking yang dikembangkan bersama Félix Guattari. Fokus utama artikel ini adalah bagaimana proses kreatif dengan teknik-teknik fotografi eksperimental seperti photogram, scanography, dan montase stiker yang digunakan Angki Purbandono melampaui sekadar pengulangan teknis untuk menciptakan karya seni yang terus berkembang dan tak terbatas. Kreativitas Angki Purbandono, yang dipicu oleh pengalaman residensi di berbagai negara dan fleksibilitas dalam berkolaborasi lintas disiplin, mencerminkan prinsip rhizomatic yang menolak struktur hierarkis dan memungkinkan terbentuknya jaringan kreatif yang dinamins. Dalam konteks ini, karya-karya Angki Purbandono bukan sekedar variasi atau pengulangan, melainkan hasil dari eksplorasi tanpa batas yang membentuk jalur-jalur baru dalam seni visual kontemporer. Kata Kunci: Angki Purbandono, Difference and Repetition, Rhizomatic Thinking