Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Unequal Value Capture in Non-TimberForest Product Chains with Evidence fromPine Resin Processing in Rural Indonesia Zakiyah, Andi Mawaddah; Pratiwi, Rini; Astina, Astina; Utami A, Widyanti
Jurnal Wasian Vol. 13 No. 01 (2026): June
Publisher : Forestry Department, University of Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62142/h3q6w153

Abstract

This study examines unequal value capture within the pine resin value chain as a locally important non-timber forest product (NTFP) in rural Indonesia (Sasaka Village, West Sulawesi Province). Using a quantitative descriptive approach, data were collected through field observations, interviews, and a census of 33 active resin tappers, complemented by information from intermediaries and processing industries. The analysis identifies three main marketing channels involving farmers, intermediaries, and a processing industry that transforms raw resin into higher-value products, namely rosin (gondorukem) and turpentine. Results show that both marketing and profit margins are highly uneven across the value chain. While farmers receive a stable price of IDR 10,000/kg, the processing industry captures the largest share of value, with margins reaching IDR 13,000/kg for rosin and IDR 63,000/kg for turpentine. Profit margins are similarly concentrated at the industrial level, particularly for turpentine (IDR 60,288/kg), reflecting economies of scale, processing capacity, and access to export markets. These findings demonstrate clear unequal value capture within the pine resin value chain, where upstream actors receive a relatively small share of the total economic benefits despite their critical role in production. This pattern indicates structural inefficiencies and imbalances in the marketing system. Strengthening farmer bargaining power, improving access to processing technologies, and promoting more equitable market linkages are essential to enhance inclusiveness and ensure the long-term sustainability of NTFP-based livelihoods.
Strategi Mitigasi Filariasis Berbasis Integrasi Model Prediksi Ekologi, Analisis Molekuler PCR, dan Manajemen Lingkungan Lahan Basah di Kabupaten Banyuasin Diefani, Ilham; Pratiwi, Rini
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 8, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v8i1.11690

Abstract

Latar Belakang: Filariasis masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai wilayah tropis, termasuk Kabupaten Banyuasin. Kompleksitas vektor, kondisi lingkungan lahan basah, serta keterbatasan deteksi dini menyebabkan sulitnya pengendalian penyakit ini secara optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi mitigasi filariasis berbasis integrasi pendekatan ekologi spasial, deteksi molekuler, dan pengelolaan lingkungan. Metode: Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dengan pemodelan MaxEnt untuk prediksi distribusi vektor berbasis variabel biofisik, serta teknik PCR untuk deteksi molekuler infeksi filarial pada nyamuk. Data lingkungan diperoleh melalui interpretasi citra satelit dan pengukuran lapangan, sedangkan pengelolaan lahan basah dievaluasi melalui analisis kondisi habitat vektor. Hasil: Hasil integrasi menunjukkan bahwa kombinasi faktor kelembaban, indeks vegetasi, dan kedekatan dengan genangan air merupakan prediktor utama keberadaan Mansonia spp. Deteksi molekuler mengonfirmasi adanya infeksi filarial pada nyamuk dari lokasi dengan prediksi tinggi oleh model spasial. Intervensi berbasis ekologi lokal terbukti mampu menurunkan kepadatan vektor.Kesimpulan: Pendekatan integratif antara model ekologi, deteksi molekuler, dan intervensi lingkungan memberikan kerangka kerja yang lebih adaptif dan presisi dalam upaya mitigasi filariasis. Strategi ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengendalian penyakit berbasis ekosistem di daerah endemis
Perbedaan Efektivitas Mengunyah Buah Pir (Pyrus) Dan Buah Jeruk (Citrus sinensis) Terhadap Debris Indeks Dan Ph Saliva Angkar, Salsabila Lutfiah; Pratiwi, Rini; Aldila, Sari; Seno Aji, Nur Rahman Ahmad
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v28i1.63582

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Saliva plays a crucial role in maintaining oral pH balance and influencing debris accumulation on tooth surfaces. Chewing fibrous fruits can stimulate salivary flow and provide a mechanical cleansing effect, which may contribute to changes in the debris index and salivary pH. Pears (Pyrus) contain catechins and dietary fiber (3.1 g per 100 g), while oranges (Citrus sinensis) are rich in vitamins and flavonoids that may support oral health. This study aimed to analyze the effectiveness of chewing pears and oranges on changes in the debris index and salivary pH. Methods: A quasi-experimental study with a two-group pretest–posttest design was conducted among 59 children aged 9–11 years at SD Negeri 39 Cakke. Participants were randomly allocated to two nearly equal groups: the pear-chewing group (n=30) and the orange-chewing group (n=29). The debris index was assessed using standard debris index criteria, and salivary pH was measured using pH paper before and after the intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test and the Mann–Whitney U test, with a significance level set at p<0.05. Results: Significant differences were observed in the mean debris index and salivary pH values before and after chewing pears and oranges (p<0.05). However, no significant differences were found between the two groups regarding changes in the debris index and salivary pH (p>0.05). Conclusion: Chewing pears and oranges demonstrated comparable effectiveness in reducing the debris index and altering salivary pH.Perbedaan efektivitas mengunyah buah pir (pyrus) dan buah jeruk (citrus sinensis) terhadap indeks debris dan pH saliva: studi kuasi-eksperimentalPendahuluan: Saliva merupakan cairan mulut yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan pH rongga mulut dan memengaruhi pembentukan debris pada permukaan gigi. Aktivitas mengunyah buah berserat dapat memengaruhi debris indeks dan pH saliva melalui rangsangan produksi saliva serta efek pembersihan mekanis. Buah pir (Pyrus) mengandung senyawa katekin serta serat sebesar 3,1 g per 100 g buah, sedangkan buah jeruk (Citrus sinensis) kaya akan vitamin dan flavonoid yang berpotensi mendukung kesehatan rongga mulut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan efektivitas mengunyah buah pir dan buah jeruk terhadap perubahan indeks debris dan pH saliva. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental dengan rancangan Two Group Pretest Posttest Design. Subjek penelitian adalah 59 anak usia 9–11 tahun di SD Negeri 39 Cakke yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok mengunyah buah pir (n=30) dan kelompok mengunyah buah jeruk (n=29). Debris indeks diukur menggunakan indeks debris, sedangkan pH saliva diukur menggunakan kertas pH sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney dengan nilai signifikansi p<0,05. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan signifikan rerata debris indeks dan pH saliva sebelum dan sesudah mengunyah buah pir maupun buah jeruk (p<0,05). Namun, uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok terhadap debris indeks dan pH saliva (p>0,05). Simpulan: Buah pir dan buah jeruk memiliki efektivitas yang sama dalam menurunkan indeks debris dan menyebabkan perubahan pH saliva setelah dikunyah.