Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Multifactorial Risk Assessment: LDL Level, Fasting Blood Glucose, Uric Acid, Triglycerides, and TG/HDL Ratio as Predictors of Framingham Risk Score for Hard Coronary Heart Disease Priyana, Andria; Santoso, Alexander Halim; Jap, Ayleen Nathalie; Andersan, Jonathan; Warsito, Jonathan Hadi
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v4i2.5056

Abstract

. The Framingham Risk Score (FRS) assesses coronary heart disease (CHD) risk and predicts acute coronary events. Metabolic markers like LDL cholesterol, fasting blood glucose, uric acid, triglycerides, and TG/HDL ratio play critical roles in atherosclerosis and cardiovascular risk. Elevated LDL cholesterol, fasting blood glucose, and uric acid contribute to plaque formation, inflammation, and vascular damage, while high triglycerides and low HDL cholesterol exacerbate atherogenesis. This study explores the relationship between these markers and FRS to enhance CHD risk prediction and support targeted cardiovascular interventions. This study analyzed LDL cholesterol, fasting blood glucose, uric acid, triglycerides, and TG/HDL ratio with Framingham Risk Score in 85 participants, excluding those with incomplete data or chronic illnesses. The analysis found significant correlations between metabolic parameters and the 10-year myocardial infarction risk. LDL cholesterol, triglycerides, and uric acid showed moderate positive associations with cardiovascular outcomes, while the triglyceride-to-HDL ratio and fasting blood glucose had weaker but significant correlations. These findings highlight lipid profiles and metabolic markers as key contributors to cardiovascular risk. This study highlights significant correlations between LDL cholesterol, fasting blood glucose, uric acid, triglycerides, and the triglyceride/HDL ratio with 10-year cardiovascular risk. These findings emphasize the importance of lipid profiles, glycemic control, and metabolic markers in predicting coronary outcomes and guiding targeted preventive interventions for improved cardiovascular risk management.
PERDARAHAN ILIOPSOAS PADA PASIEN COVID-19 DALAM TERAPI ANTIKOAGULAN Priyana, Andria
Ebers Papyrus Vol. 27 No. 1 (2021): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v27i1.12161

Abstract

Background: Giving anticoagulants to Covid-19 patients is included in one of the standard protocols for Covid-19 therapy. The focus on anticoagulation to prevent thrombotic events often creates a “double-edged sword” with the risk of bleeding, which is also potentially fatal. We present a rare but fatal case of iliopsoas hemorrhage.Case: A Covid-19 patient, 70 years old male, received anticoagulant therapy with unfractionated heparin instead of enoxaparine (LMWH) due to high D-dimer. As the D-dimer value improves, massive and continuous left iliopsoas hemorrhage appears which causes hemodynamic disturbances. Fluid resuscitation, vasopressors, and transfusions were administered following a CT scan of the abdomen. Follow-up CT angiography could not locate the source of the bleeding. Surgery or percutaneous intervention cannot be performed. The patient eventually died.Conclusion: The incidence of bleeding on anticoagulant therapy is low, especially iliopsoas bleeding. Given the massive anticoagulant therapy in almost all Covid-19 patients, as well as the pathogenesis of Covid-19 that interferes with vascular conditions and the coagulation system, the incidence of bleeding risk may increase. This needs to be a concern and anticipation of comprehensive management.
Hubungan Lokasi Infark Miokard Dengan Lama Rawat Inap pada Pasien St-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) dengan Komorbid Hipertensi di RSUP Haji Adam Malik Medan Hutapea, Amanda Putri Berlian; Priyana, Andria
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i2.15206

Abstract

Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) merupakan penyakit kardiovaskular yang paling sering terjadi dan menjadi salah satu sindrom koroner akut (ACS) yang terparah .Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko sindroma koroner akut . Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) merupakan sindrom klinis yang ditandai dengan gejala khas iskemia miokardium , elevasi segmen ST pada elektrokardiogram serta peningkatan biomarker nekrosis otot jantung. Di masa sekarang, 5- 6% penderita STEMI memerlukan rawat inap, dan 7-18% berujung kematian dalam kurun satu tahun.Lama rawat inap merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan besarnya jumlah biaya yang dikenakan selama penanganan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lokasi infark miokard dengan lama rawat inap pada pasien ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) disertai komorbid Hipertensi di RSUP. Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini observasional analitik dengan pendekatan desain potong lintang (cross-sectional). Pengumpulan data berupa rekam medis pasien stemi dengan komorbid hipertensi. Sampel penelitian berjumlah 97 data. Hasil penelitian ini dianalisis dengan uji chi square menunjukan terdapat hubungan antara lokasi infark (p value =0,000), derajat hipertensi (p value=0,001) dengan lama rawat inap pada pasien stemi dengan komorbid hipertensi dan koefisien kontigensi didapatkan hubungan antara lokasi infark dengan lama rawat inap dengan nilai siginifikan sebesar 0,000 < alpha 0,05. Oleh sebab itu disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lokasi infark miokard dengan lama rawat inap pasien STEMI dengan komorbid hipertensi.
STUDI POTONG LINTANG RETROSPEKTIF PENURUNAN eGFR TERKAIT WARFARIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DENGAN FIBRILASI ATRIUM Suros, Angel Sharon; Priyana, Andria
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35846

Abstract

Warfarin merupakan antikoagulan yang banyak digunakan pada pasien fibrilasi atrium (AF) untuk mencegah kejadian tromboemboli, termasuk stroke iskemik. Namun, terapi ini berpotensi menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang dikenal sebagai warfarin-related nephropathy (WRN). Beberapa penelitian retrospektif sebelumnya menunjukkan hubungan antara penggunaan warfarin dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR), namun bukti yang tersedia masih terbatas, terutama di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi hubungan antara penggunaan warfarin dan perubahan fungsi ginjal pada pasien dengan stroke iskemik dan AF. Metode Penelitian ini menggunakan desain potong lintang retrospektif dengan menelusuri rekam medis pasien stroke iskemik dengan AF di RSUD Cengkareng selama Januari–Desember 2024. Pengumpulan data menggunakan teknik toal sampling, dari 32 data awal, 29 pasien memenuhi kriteria inklusi. Fungsi ginjal dinilai berdasarkan selisih eGFR awal dan akhir dengan jarak minimal 3 bulan. Uji normalitas dilakukan dengan Shapiro-Wilk dan uji bivariat menggunakan Mann-Whitney (α = 0,05). Hasil Sebanyak 13 pasien (44,8%) menggunakan warfarin dan 16 pasien (55,2%) tidak. Kelompok warfarin mengalami penurunan median eGFR sebesar –9,20 mL/min/1,73 m², sedangkan kelompok non-warfarin menunjukkan peningkatan median sebesar +9,90 mL/min/1,73 m². Perbedaan median eGFR antara kedua kelompok signifikan (p = 0,020). Kesimpulan Pemberian warfarin berhubungan signifikan dengan penurunan fungsi ginjal pada pasien stroke iskemik dan AF. Temuan ini menguatkan perlunya pemantauan fungsi ginjal secara berkala serta mempertimbangkan alternatif terapi seperti NOAC pada pasien dengan risiko tinggi.