Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Multifactorial Risk Assessment: LDL Level, Fasting Blood Glucose, Uric Acid, Triglycerides, and TG/HDL Ratio as Predictors of Framingham Risk Score for Hard Coronary Heart Disease Priyana, Andria; Santoso, Alexander Halim; Jap, Ayleen Nathalie; Andersan, Jonathan; Warsito, Jonathan Hadi
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v4i2.5056

Abstract

. The Framingham Risk Score (FRS) assesses coronary heart disease (CHD) risk and predicts acute coronary events. Metabolic markers like LDL cholesterol, fasting blood glucose, uric acid, triglycerides, and TG/HDL ratio play critical roles in atherosclerosis and cardiovascular risk. Elevated LDL cholesterol, fasting blood glucose, and uric acid contribute to plaque formation, inflammation, and vascular damage, while high triglycerides and low HDL cholesterol exacerbate atherogenesis. This study explores the relationship between these markers and FRS to enhance CHD risk prediction and support targeted cardiovascular interventions. This study analyzed LDL cholesterol, fasting blood glucose, uric acid, triglycerides, and TG/HDL ratio with Framingham Risk Score in 85 participants, excluding those with incomplete data or chronic illnesses. The analysis found significant correlations between metabolic parameters and the 10-year myocardial infarction risk. LDL cholesterol, triglycerides, and uric acid showed moderate positive associations with cardiovascular outcomes, while the triglyceride-to-HDL ratio and fasting blood glucose had weaker but significant correlations. These findings highlight lipid profiles and metabolic markers as key contributors to cardiovascular risk. This study highlights significant correlations between LDL cholesterol, fasting blood glucose, uric acid, triglycerides, and the triglyceride/HDL ratio with 10-year cardiovascular risk. These findings emphasize the importance of lipid profiles, glycemic control, and metabolic markers in predicting coronary outcomes and guiding targeted preventive interventions for improved cardiovascular risk management.
PERDARAHAN ILIOPSOAS PADA PASIEN COVID-19 DALAM TERAPI ANTIKOAGULAN Priyana, Andria
Ebers Papyrus Vol. 27 No. 1 (2021): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v27i1.12161

Abstract

Background: Giving anticoagulants to Covid-19 patients is included in one of the standard protocols for Covid-19 therapy. The focus on anticoagulation to prevent thrombotic events often creates a “double-edged sword” with the risk of bleeding, which is also potentially fatal. We present a rare but fatal case of iliopsoas hemorrhage.Case: A Covid-19 patient, 70 years old male, received anticoagulant therapy with unfractionated heparin instead of enoxaparine (LMWH) due to high D-dimer. As the D-dimer value improves, massive and continuous left iliopsoas hemorrhage appears which causes hemodynamic disturbances. Fluid resuscitation, vasopressors, and transfusions were administered following a CT scan of the abdomen. Follow-up CT angiography could not locate the source of the bleeding. Surgery or percutaneous intervention cannot be performed. The patient eventually died.Conclusion: The incidence of bleeding on anticoagulant therapy is low, especially iliopsoas bleeding. Given the massive anticoagulant therapy in almost all Covid-19 patients, as well as the pathogenesis of Covid-19 that interferes with vascular conditions and the coagulation system, the incidence of bleeding risk may increase. This needs to be a concern and anticipation of comprehensive management.
Hubungan Lokasi Infark Miokard Dengan Lama Rawat Inap pada Pasien St-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) dengan Komorbid Hipertensi di RSUP Haji Adam Malik Medan Hutapea, Amanda Putri Berlian; Priyana, Andria
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i2.15206

Abstract

Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) merupakan penyakit kardiovaskular yang paling sering terjadi dan menjadi salah satu sindrom koroner akut (ACS) yang terparah .Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko sindroma koroner akut . Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) merupakan sindrom klinis yang ditandai dengan gejala khas iskemia miokardium , elevasi segmen ST pada elektrokardiogram serta peningkatan biomarker nekrosis otot jantung. Di masa sekarang, 5- 6% penderita STEMI memerlukan rawat inap, dan 7-18% berujung kematian dalam kurun satu tahun.Lama rawat inap merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan besarnya jumlah biaya yang dikenakan selama penanganan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lokasi infark miokard dengan lama rawat inap pada pasien ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) disertai komorbid Hipertensi di RSUP. Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini observasional analitik dengan pendekatan desain potong lintang (cross-sectional). Pengumpulan data berupa rekam medis pasien stemi dengan komorbid hipertensi. Sampel penelitian berjumlah 97 data. Hasil penelitian ini dianalisis dengan uji chi square menunjukan terdapat hubungan antara lokasi infark (p value =0,000), derajat hipertensi (p value=0,001) dengan lama rawat inap pada pasien stemi dengan komorbid hipertensi dan koefisien kontigensi didapatkan hubungan antara lokasi infark dengan lama rawat inap dengan nilai siginifikan sebesar 0,000 < alpha 0,05. Oleh sebab itu disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lokasi infark miokard dengan lama rawat inap pasien STEMI dengan komorbid hipertensi.
STUDI POTONG LINTANG RETROSPEKTIF PENURUNAN eGFR TERKAIT WARFARIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DENGAN FIBRILASI ATRIUM Suros, Angel Sharon; Priyana, Andria
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35846

Abstract

Warfarin merupakan antikoagulan yang banyak digunakan pada pasien fibrilasi atrium (AF) untuk mencegah kejadian tromboemboli, termasuk stroke iskemik. Namun, terapi ini berpotensi menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang dikenal sebagai warfarin-related nephropathy (WRN). Beberapa penelitian retrospektif sebelumnya menunjukkan hubungan antara penggunaan warfarin dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR), namun bukti yang tersedia masih terbatas, terutama di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi hubungan antara penggunaan warfarin dan perubahan fungsi ginjal pada pasien dengan stroke iskemik dan AF. Metode Penelitian ini menggunakan desain potong lintang retrospektif dengan menelusuri rekam medis pasien stroke iskemik dengan AF di RSUD Cengkareng selama Januari–Desember 2024. Pengumpulan data menggunakan teknik toal sampling, dari 32 data awal, 29 pasien memenuhi kriteria inklusi. Fungsi ginjal dinilai berdasarkan selisih eGFR awal dan akhir dengan jarak minimal 3 bulan. Uji normalitas dilakukan dengan Shapiro-Wilk dan uji bivariat menggunakan Mann-Whitney (α = 0,05). Hasil Sebanyak 13 pasien (44,8%) menggunakan warfarin dan 16 pasien (55,2%) tidak. Kelompok warfarin mengalami penurunan median eGFR sebesar –9,20 mL/min/1,73 m², sedangkan kelompok non-warfarin menunjukkan peningkatan median sebesar +9,90 mL/min/1,73 m². Perbedaan median eGFR antara kedua kelompok signifikan (p = 0,020). Kesimpulan Pemberian warfarin berhubungan signifikan dengan penurunan fungsi ginjal pada pasien stroke iskemik dan AF. Temuan ini menguatkan perlunya pemantauan fungsi ginjal secara berkala serta mempertimbangkan alternatif terapi seperti NOAC pada pasien dengan risiko tinggi.
Management of Acute Coronary Syndrome Indonesia: Insight from One ACS Multicenter Registry Juzar, Dafsah Arifa; Muzakkir, Akhtar Fajar; Ilhami, Yose Ramda; Taufiq, Nahar; Astiawati, Tri; R A, I Made Junior; Pramudyo, Miftah; Priyana, Andria; Hakim, Afdhalun; Anjarwani, Setyasih; Endang, Jusup; Widyantoro, Bambang
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol 46 No 4 (2025): October - December, 2025
Publisher : The Indonesian Heart Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30701/ijc.2005

Abstract

In “Management of Acute Coronary Syndrome in Indonesia: Insight from One ACS Multicenter Registry” (Indonesian Journal of Cardiology, 43(2), 45-55. https://doi.org/10.30701/ijc.1406), there is an error noted. An error has been found in the PDF version of this article. The DOI printed in the PDF is incorrect. The correct DOI is https://doi.org/10.30701/ijc.1406. The error occurs only in the PDF; the DOI listed in the article metadata is already correct. The publisher apologizes for any inconvenience caused by this error.DOI of original article: https://doi.org/10.30701/ijc.1406
Smoking as a Risk Factor for Arrhythmia in Cengkareng General Hospital, Jakarta, Indonesia, during 2020-2024 Sutantyo, Princyelova Estevan; Priyana, Andria
JUXTA: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga Vol. 17 No. 1 (2026): JANUARY 2026 (IN-PROGRESS ISSUE)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/juxta.V17I12026.90-95

Abstract

Highlights: No significant association was found between smoking habits and arrhythmia, despite a slightly elevated prevalence ratio. Ventricular extrasystole constituted the predominant subtype of arrhythmia observed in the study population.   Abstract Introduction: Arrhythmia is a cardiac rhythm disorder associated with stroke, heart failure, and sudden death. Smoking is an established cardiovascular risk factor, yet its relationship with arrhythmia remains insufficiently explored in Indonesia. This study aimed to examine the association between smoking habits and arrhythmia among patients at Cengkareng General Hospital, Jakarta, Indonesia. Methods: A cross-sectional study was conducted at Cengkareng General Hospital, Jakarta, Indonesia, including 140 patients aged ≥18 years old diagnosed with arrhythmia. Data were analyzed using the International Business Machines Corporation (IBM) Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) version 25. Results: Of all participants, 59.3% were males and 20.7% were smokers. Arrhythmia was detected in 95.7% of cases, with ventricular extrasystole (VES) being most frequent (65%). Statistical analysis demonstrated no significant association between smoking and arrhythmia, although smokers exhibited a marginally higher risk (Probability/Pr=1.011). Hypertension, diabetes mellitus (DM), renal dysfunction, and medication use were also identified as contributing factors. Conclusion: Although smoking was not significantly associated with arrhythmia, it showed a tendency to increase risk. Ventricular extrasystole was the predominant arrhythmia observed in this cohort.
Skrining Tekanan Darah Berbasis Komunitas sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Jantung Koroner di Kota Bambu, Jakarta Barat: Community-Based Blood Pressure Screening as a Preventive Strategy Against Coronary Heart Disease in Kota Bambu, West Jakarta Priyana, Andria; Santoso, Alexander; Daniel Goh; Muhammad Fikri Dzakwan; Rifandra Rifqi Adi Hendrianto
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.112

Abstract

Pendahuluan: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian utama di dunia dengan hipertensi sebagai faktor risiko penting. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini menghambat pencegahan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan mendukung deteksi dini hipertensi di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat. Metode: Pada kegiatan ini digunakan pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA). Tahap Plan dilakukan melalui koordinasi dengan kader dan penyusunan materi edukasi. Tahap Do berupa penyuluhan interaktif mengenai pencegahan PJK dan pemeriksaan tekanan darah dengan tensimeter digital. Tahap Check mencakup analisis hasil pemeriksaan serta evaluasi pemahaman melalui pre-test dan post-test. Tahap Action dilakukan dengan rujukan ke fasilitas kesehatan bagi peserta yang teridentifikasi hipertensi. Hasil: Kegiatan melibatkan 168 peserta dengan rata-rata usia 49,1 tahun. Berdasarkan klasifikasi ACC/AHA 2025, 46,4% berada pada kategori normal, sementara hipertensi grade I dan II masing-masing 26,2% dan 22,6%. Diskusi: Proporsi hipertensi yang cukup tinggi, sejalan dengan pola risiko di masyarakat perkotaan akibat gaya hidup sedentari, konsumsi garam berlebih, dan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini, edukasi pola hidup sehat, dan integrasi skrining rutin ke dalam layanan kesehatan primer Kesimpulan: Program ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan PJK serta menemukan kasus hipertensi yang memerlukan tindak lanjut, sehingga skrining komunitas layak diteruskan secara berkesinambungan.
EKLAMPSIA POSTPARTUM DENGAN VENTRICULAR BIGEMINI DAN VT RUN PASCA SEKSIO SESAREA : SEBUAH LAPORAN KASUS LANGKA Renata, Apta; Purwiandari, Hervyasti; Priyana, Andria
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55991

Abstract

Eklampsia postpartum merupakan komplikasi obstetri berat yang dapat menyebabkan keterlibatan multiorgan, termasuk sistem kardiovaskular. Laporan kasus ini menyajikan seorang perempuan P1A0 pasca seksio sesarea yang mengalami eklampsia postpartum disertai aritmia ventrikel berupa ventricular extrasystole (VES) dengan pola bigemini dan episode ventricular tachycardia non-sustained. Pasien datang dengan kejang yang didahului gejala neurologis prodromal, tanpa ditemukan kelainan struktural otak pada pemeriksaan pencitraan. Evaluasi elektrokardiografi serial menunjukkan adanya progresivitas iritabilitas miokard, yang kemudian membaik setelah pemberian amiodaron intravena. Pemeriksaan ekokardiografi mengungkapkan hipertrofi ventrikel kiri konsentrik dengan disfungsi diastolik, tanpa gangguan fungsi sistolik yang bermakna. Temuan ini menunjukkan adanya keterlibatan kardiovaskular yang signifikan pada kondisi eklampsia postpartum. Mekanisme terjadinya aritmia ventrikel pada kasus ini diduga bersifat multifaktorial, meliputi disfungsi endotel sistemik, perubahan hemodinamik yang abrupt pada periode postpartum, peningkatan aktivitas simpatis, serta gangguan elektrolit seperti hipokalemia dan hipokalsemia relatif. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan kondisi proaritmogenik yang meningkatkan risiko terjadinya aktivitas ektopik ventrikel dan takiaritmia. Kasus ini menekankan pentingnya pemantauan komprehensif, termasuk evaluasi kardiovaskular dan pemantauan irama jantung secara kontinu, pada pasien eklampsia postpartum. Deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang berpotensi mengancam nyawa.