Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Penilaian kualitas hidup penderita karsinoma nasofaring berdasarkan Karnofsky Scale, EORTC QLQ-C30 dan EORTC QLQ-H & N35 Dewi Kurniawati; Frederik George Kuhuwael; Abdul Qadar Punagi
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 2 (2013): Volume 43, No. 2 July - December 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.72 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i2.68

Abstract

Latar belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) berpengaruh terhadap kualitas hidup penderita, baik dari kankernya sendiri, maupun pengobatan serta efek sampingnya. Penilaian kualitas hidup penderita KNF dapat secara unidimensional menggunakan parameter status tampilan Karnofsky Performance Scale (Karnofsky PS) atau multidimensional memakai parameter European Organization For Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire C30 (EORTC QLQ-C30) dan European Organization For Research And Treatment Of Cancer Head and Neck Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC QLQ-H&N35).Tujuan: Menilai kesesuaian hasil skor Karnofsky PS, EORTC QLQ-C30 dan EORTC QLQ-H&N35 dalam menilai kualitas hidup penderita KNF dengan menentukan korelasi antar parameter dan menentukan estimasi skor Karnofsky PS menggunakan skor EORTC QLQ-C30 dan skor EORTC QLQ-H&N35. Menganalisis hubungan antar parameter menurut stadium.Metode: Penelitian adalah observasional analitik dengan pedekatan cross sectional. Populasinya semua kasus KNF yang berobat ke Bagian THT-KL, Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Sampel sebanyak 48 orang dipilih secara purposive. Penilaian kualitas hidup menggunakan parameter Karnofsky PS, EORTC QLQ-C30 dan EORTC QLQ-H&N35. Hasil: Didapati kesesuaian hasil skor dari ketiga parameter, ditandai adanya korelasi bermakna antara skor Karnofsky PS, skor EORTC QLQ-C30 dan skor EORTC QLQ-H&N35. Semakin tinggi skor Karnofsky PS, akan semakin rendah skor EORTC QLQ-C30 dan skor EORTC QLQ-H&N35 maka kualitas hidup penderita KNF semakin baik. Skor EORTC QLQ-C30 dan skor EORTC QLQ-H&N35 dapat mengestimasi skor Karnofsky PS. Terdapat hubungan bermakna antara Karnofsky PS, EORTC QLQ-C30 dan EORTC QLQ-H&N35 menurut stadium (p<0,05). Kesimpulan: DEORTC QLQ-C30 dan EORTC QLQ-H&N35 dapat melengkapi Karnofsky PS dalam penilaian kualitas hidup penderita kanker kepala leher terutama KNF. Kata kunci: Kualitas hidup, KNF, Karnofsky PS, EORTC QLQ-C30, EORTC QLQ-H&N3.
Pendekatan eksternal dan endonasal dengan atau tanpa endoskopi pada mukosil sinus frontal Abdul Qadar Punagi; Ervina Mariani
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 44, No 2 (2014): Volume 44, No. 2 July - December 2014
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.978 KB) | DOI: 10.32637/orli.v44i2.97

Abstract

Latar belakang: Mukosil sinus paranasal merupakan lesi yang sifatnya tumbuh lambat dan bertahap. Mukosil ini  biasanya disebabkan oleh obstruksi dari drainase sinus paranasal yang menghambat aliransekret dari sinus. Mukosil sinus paranasal biasanya tidak menunjukkan gejala pada hidung dan sinus, serta sering ditemukan di regio frontoetmoid. Tujuan: Membagi pengalaman dalam penatalaksanaan yang kami lakukan pada beberapa kasus mukosil sinus frontal. Kasus: Tiga kasus mukosil sinus frontal di RSU Wahidin Sudirohusodo Makassar yang ditatalaksana secara bedah dengan pendekatan endoskopik dan eksternal. Penatalaksanaan: Marsupialisasi endoskopik dengan kombinasi pendekatan internal dan eksternal serta identifikasi jalur drenase sinus frontal. Kesimpulan: Penatalaksanaan bedah mukosil sinus frotal dapat dilakukan melalui pendekatan transnasal / endonasal, secara endoskopik dan/atau eksternal.Kata kunci: Mukosil sinus frontal, transnasal, endonasal, endoskopi. ABSTRACTBackground: Paranasal sinus mucoceles are gradually expanding lesion. They usually cause obstruction to the normal drainage channels of paranasal sinuses that leads to accumulation of secretions within the sinus cavity. These patients classically do not presenting nose and sinuses symptoms and 60% of paranasal sinus mucoceles are found in the frontoethmoidal region. Purpose: Sharing experience of the management of frontal sinus mucoceles. Cases: Three cases of frontal sinus mucoceles at WahidinSudirohusodo General Hospital, Makassar which treated by endoscopic and external approach were presented. Management: Endoscopic marsupialitation with combination of internal and external approaches. Conclusion: Endonasal endoscopically management of frontal sinus mucocele with or without external approach is a grave surgical challenge.Keywords: Frontal sinus mucocele, transnasal, endonasal, endocopy.
Perbandingan efektivitas flutikason furoat intranasal dengan dan tanpa loratadin oral pada penderita rinitis alergi Rita Talango; Aminuddin Aminuddin; Abdul Qadar Punagi; Nani Iriani Djufri
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 2 (2011): Volume 41, No. 2 July - December 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.838 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i2.42

Abstract

Background: Allergic rhinitis (RA) is a symptomatic disorder of the nose induced by IgE mediatedinflamation. Corticosteroid alone or in combination with antihistamine have been recommended bythe ARIA-WHO and is often used in the management of RA. Purpose: To compare the effectiveness ofa combination therapy of intranasal fluticasone furoate (IFF) and oral loratadine (LO) with a singletherapy of IFF, based on the levels of eosinophils and clinical symptoms patients with RA. Method: Openclinical trial with 40 of patients divided into two groups 20 patients was given a combination therapyand 20 patients was given only IFF. The level of eosinophils and clinical symptoms were examinedbefore and after therapy. Data were analyzed using the Wilcoxon, Friedman and Mann Whitney tests.Results: Showed decrease in eosinophils level and clinical symptoms were significant (p<0.05) in bothtreatment groups, but there was no significant difference (p>0.05) in the effectiveness between bothtreatments. Conclusion: Therapy with IFF, alone or combined with LO were effective to decrease thelevel of eosinophils and clinical symptoms and there was no difference in efficacy, but still combinationtherapy is better than single therapy. Keywords: allergic rhinitis, intranasal fluticasone furoate, oral loratadine Abstrak :  Latar belakang: Rinitis alergi (RA) merupakan gangguan fungsi hidung, terjadi setelah pajananalergen melalui inflamasi mukosa hidung yang diperantarai IgE0. Penggunaan kortikosteroid baik tunggalmaupun kombinasi dengan antihistamin telah direkomendasikan oleh ARIA-WHO dan sering digunakandalam penatalaksanaan RA. Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas terapi kombinasi flutikason furoatintranasal (FFI) dan loratadin oral (LO) dengan terapi tunggal FFI berdasarkan kadar eosinofil dan gejalaklinis penderita RA. Metode: Uji klinik terbuka pada 40 penderita RA, dibagi menjadi 20 penderita padakelompok pertama diberikan terapi kombinasi FFI dengan LO dan 20 penderita kelompok kedua diberikanterapi tunggal FFI. Pemeriksaan eosinofil dan gejala klinis dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Datadianalisis menggunakan uji Wilcoxon, Friedman dan Mann Whitney. Hasil: Terjadi penurunan kadareosinofil dan gejala klinis secara signifikan (p<0,05) pada kedua kelompok terapi, namun tidak adaperbedaan efektivitas secara signifikan (p>0,05) antara kedua kelompok terapi. Kesimpulan: Terapi FFItunggal maupun dikombinasikan dengan LO efektif menurunkan kadar eosinofil dan gejala klinis sertatidak ada perbedaan efektivitas, namun terapi kombinasi masih lebih baik dibanding terapi tunggal. Kata kunci: rinitis alergi, flutikason furoat intranasal, loratadin oral
Risiko terjadinya rinitis akibat kerja pada pekerja yang terpajan debu terigu Emanuel Quadarusman; Sutji Pratiwi Rahardjo; Abdul Qadar Punagi; Riskiana Djamin
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 1 (2011): Volume 41, No. 1 January - June 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.327 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i1.54

Abstract

Background: Occupational rhinitis (OR) may decrease quality of life and productivity, but there is still little information about occupational rhinitis in flour industries. Purpose: To know the influence of atopic history, working duration, work placement and face-mask use in the incidence of occupational rhinitis in wheat flour workers of PT. X in Makassar. Methods: A cross-sectional study on workers in production and packing sections of flour factory X had been conducted. Result: Prevalence of occupational rhinitis in that factory was about 50.7%, and there was a significant relationship between atopic history and work placement with OR incidence (p<0.05). Conclusion: There was a significant relationship between atopic  history and work placement with OR incidence, but relationship between OR with working duration and face-mask use could not be established. It was shown that in atopic workers, longer working duration and un-routine use of face-mask increased the risk of OR incidence twice higher. Keywords: occupational rhinitis, flour dust, face mask   Abstrak :  Latar belakang: Rinitis akibat kerja (RAK) dapat mempengaruhi kualitas hidup pekerja, menghilangkan banyak waktu kerja dan dapat menurunkan produktivitas, namun masih sedikit informasi yang dimiliki mengenai epidemiologi pada industri terigu. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh riwayat atopi, lama bekerja, bagian kerja dan penggunaan masker terhadap kejadian rinitis akibat kerja pada pekerja pabrik terigu X di Makassar. Metode: Suatu studi potong lintang pada pekerja bagian produksi dan pengepakan di pabrik terigu X. Hasil: Didapatkan angka kejadian RAK pada pekerja pabrik adalah 50,7%, dan terdapat hubungan yang bermakna antara atopi dan tempat kerja dengan kejadian RAK (p<0,05). Kesimpulan: Faktor atopi dan tempat kerja dapat mempengaruhi angka kejadian RAK, sedangkan hubungan antara RAK dengan lama kerja dan penggunaan masker belum dapat dibuktikan. Didapati bahwa pada pekerja dengan riwayat penyakit atopi semakin lama masa kerja dan dengan penggunaan masker tidak rutin dapat meningkatkan risiko dua kali lebih tinggi untuk terkena RAK. Kata kunci: rinitis akibat kerja, debu terigu, masker
Validitas metode rinohigrometri sebagai indikator sumbatan hidung Rachmawati Djalal; Abdul Qadar Punagi; Andi Baso Sulaiman; Fadjar Perkasa
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 2 (2011): Volume 41, No. 2 July - December 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.833 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i2.49

Abstract

Background: The narrowing of nasal cavity due to nasal mucosa changes or other factors may leadsto nasal obstruction. Symptoms of nasal obstruction can be classified from mild to severe and in somecases total obstruction may occur. Purpose: The objective of the research was to determine the validity of rhinohygrometric method as nasal obstruction indicator. The complaint of nasal obstruction depicted theexistence of abnormalities either anatomically, physiologically or pathologically. The evaluation of   thenasal obstruction was based on anamnesis, physical examination and also supporting examination forthe measurement of the nasal patency. Method: An analytic study had been carried out on the diagnostic test for determining sensitivity and specificity values of rhinohygrometeric method as nasal obstruction indicator compared with peak nasal inspiratory flow (PNIF) as the basic standard on subjects who hadnasal obstruction and subjects who did not have nasal obstruction. Results: In the research, the valuesof cutting off point rhinohygrometeric method are 3 cm and 4 cm on the length and width, while thevalue of basic standard of PNIF cutting off point is 80 liter/minute. Sensitivity and specificity methodof rhinohygrometeric on the length were 87.8% and 100% while on the width were 95.1% and 89.8%.Conclusion: Rhinohigrometeric method has validity as indicator of nasal obstruction.  Keywords: rhinohygrometeric method, nasal obstruction, cutting off point, sensitivity and specificity Abstrak :  Latar belakang: Setiap penyempitan rongga hidung baik akibat proses perubahan pada mukosahidung ataupun penyebab yang lain akan mengakibatkan timbulnya gejala sumbatan hidung. Gejalasumbatan hidung dapat bersifat ringan sampai berat bahkan dapat terjadi sumbatan total. Tujuan: Untukmenentukan validitas metode rinohigrometri sebagai indikator sumbatan hidung. Metode: Penelitian inimenggunakan studi analitik terhadap uji diagnostik untuk menentukan nilai sensitivitas dan spesifisitasmetode rinohigrometri sebagai indikator sumbatan hidung dibandingkan dengan peak nasal inspiratoryflow (PNIF) sebagai standar baku pada subjek yang mengalami sumbatan hidung dan subjek yang tidakmengalami sumbatan hidung. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa telah ditetapkan nilai titik potongmetode rinohigrometri adalah 3 cm dan 4 cm pada sisi panjang dan lebar, sedangkan nilai titik potongstandar baku PNIF adalah 80 liter/menit. Sensitivitas dan spesifisitas metode rinohigrometri padasisi panjang adalah 87,8% dan 100%, sedangkan pada sisi lebar adalah 95,1% dan 89,8%. Kesimpulan:Metode rinohigrometri memiliki validitas sebagai indikator sumbatan hidung. Kata kunci: metode rinohigrometri, sumbatan hidung, titik potong, sensitivitas, spesifisitas
Hubungan tipe deviasi septum nasi klasifikasi Mladina dengan kejadian rinosinusitis dan fungsi tuba Eustachius Tanty Tanagi Toluhula; Abdul Qadar Punagi; Muhammad Fadjar Perkasa
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 2 (2013): Volume 43, No. 2 July - December 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.376 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i2.69

Abstract

Latar belakang: Deviasi septum nasi yang mengubah aliran udara dalam rongga hidung dapat mempengaruhi fungsi drainase dan ventilasi sinus paranasal dan tuba Eustachius. Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tipe deviasi septum nasi menurut klasifikasi Mladina dengan kejadian rinosinusitis dan fungsi tuba Eustachius. Metode: Penelitian dengan desain cross sectional ini melibatkan 70 penderita deviasi septum nasi. Dilakukan pemeriksaan nasoendoskopik untuk menentukan tipe deviasi septum berdasarkan klasifikasi Mladina,pemeriksaan CT Scan sinus paranasal potongan koronal untuk menentukan adanya rinosinusitis dan timpanometri untuk menentukan fungsi tuba Eustachius. Data dianalisis menggunakan uji chi square likelihood ratio. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe deviasi septum nasi yang paling banyak ditemukan adalah tipe 5 yaitu dengan orientasi horisontal (38,6%). Kejadian rinosinusitis pada penderita deviasi septum nasi sebanyak 54 kasus (77,1%), tipe timpanogram pada penderita deviasi septum nasi yang terbanyak adalah tipe A (82,9%), sedangkan tipe B (1,4%), tipe C (4,3%) dan mayoritas mengalami gangguan fungsi tuba Eustachius (62,9%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p>0,05 yang berarti tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara tipe deviasi septum nasi menurut klasifikasi Mladina dengan kejadian rinosinusitis dan fungsi tuba Eustachius. Kesimpulan: Walau tidakterdapat hubungan yang bermakna antara tipe deviasi septum nasi dengan klasifikasi Mladina namun dari segi jumlah lebih banyak ditemukan rinosinusitis dan gangguan fungsi tuba Eustachius pada penderita deviasi septum nasi. Kata kunci: Deviasi septum, klasifikasi Mladina, rinosinusitis, fungsi tuba Eustachius.
Analisis pedigree gangguan pendengaran dan ketulian pada penduduk dusun Sepang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat Muhammad Fadjar Perkasa; Abdul Qadar Punagi; Khaeruddin K
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 1 (2012): Volume 42, No. 1 January - June 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.808 KB) | DOI: 10.32637/orli.v42i1.32

Abstract

Background. Pedigree Analysis of hearing loss and deafness in the population of Sepang hamlet, Tenggelang village, Luyo district, Polewali Mandar regency, West Sulawesi. Purpose: To determine the inheritance pattern of hearing loss and deafness in the population of Sepang Hamlet. Methods:  Explorative study was conducted among 167 people using pure tone audiometry Interacoustics AD229  type, impedance audiometry Madsen Electronics Zodiac type 901 and Otoread Interacoustics TEOAE. Pedigree of the subjects were made and  analyzed.   Results: The result of Chi-square goodness of fit showed that the test of conformity with the notion of inheritance pattern of hearing loss and deafness were autosomal dominant, obtain the results of χ²= 6.721>χ² = 3.84 and p value =0,01<0,05, with df = 1, while assuming conformance testing inheritance pattern of hearing loss and deafness were autosomal recessive, obtain the results of χ ² =0,628 < χ²tabeltabel=3.84 and p value= 0.428>0.05 with df = 1. Conclusion: The inheritancepattern of hearing loss and deafness in familial marriage in the population of Sepang hamlet, Tenggelang village, Luyo district, Polewali Mandar regency, West Sulawesi was found to be  autosomal recessive transmission.   Keywords: pedigree analysis, familal marriage, hearing loss, deafness, Polewali Mandar, West Sulawesi.   Abstrak :  Latar Belakang: Gangguan pendengaran dan ketulian ditemukan pada penduduk Dusun Sepang, Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat yang mempunyai adat perkawinan keluarga. Tujuan: Analisis pedigree ini bertujuan menentukan pola pewarisan gangguan pendengaran dan ketulian pada penduduk dusun tersebut. Metode: Jenis penelitian ini adalah studi eksploratif dengan jumlah subjek sebanyak 167 orang. Pemeriksaan yang dilakukan adalah audiometri nada murni menggunakan audiometer merk Interacoustics tipe AD229, Audiometer impedans merk Madsen Electronics tipe Zodiac 901 dan TEOAE merk Interacoustics tipe Otoread. Subjek dibuatkan pedigree dan dianalisis. Hasil: Uji statistik chi-square test goodness of fit menunjukkan bahwa uji kesesuaian dengan anggapan pola pewarisan gangguan pendengaran dan ketulian secara autosomal dominan didapatkan nilai χ²  hasil=6,721 > χ² = 3,84 dan nilai p= 0,01<0,05 dengan df = 1, sedangkan uji kesesuaian dengan anggapan pola pewarisan gangguan pendengaran dan ketulian secara autosomal resesif didapatkan nilai  χ²  hasil=0,628 <χ²tabeltabel =3,84 dan nilai p=0,428>0,05 dengan df =1. Kesimpulan: Pola pewarisan gangguan pendengaran dan ketulian pada perkawinan keluarga pada penduduk dusun Sepang, Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo, Kabupaten polewali Mandar Sulawesi Barat terjadi melalui transmisi autosomal resesif. Kata Kunci : analisis pedigree, perkawinan keluarga, gangguan pendengaran, ketulian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat
ACTIVITY OF SUPEROXIDE DISMUTASE ENZYME IN EARLY AND ADVANCED STAGES OF NASOPHARYNGEAL CARCINOMA Gunterus Evans; Abdul Kadir; Riskiana Djamin; Abdul Qadar Punagi; Sutji P. Rahardjo; Mochammad Hatta
INTERNATIONAL JOURNAL OF NASOPHARYNGEAL CARCINOMA Vol. 1 No. 03 (2019): International Journal of Nasopharyngeal Carcinoma
Publisher : TALENTA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/ijnpc.v1i03.2055

Abstract

Introduction:Nasopharyngeal cancer (NPC) ranks - fourth among all cancers in Indonesia. Objective:This study aimed to determine the levels of SOD in patients with NPC. Material and methods : This was a cross sectional study of analytic observational, using consecutive sampling, with 45 patients with NPC and 15 controls. Results: Average of SOD enzyme levels were higher in the NPC patient group (± 1877.87224 1137.119495) compared with the control group (± 441.42120 320.355669) (p <0.05). SOD enzyme levels were higher in advanced stage ± 2060.67363 1179.147923 compared with early stage ± 1338.86685 680.958439 (p <0.05). Conclusion: The level of SOD enzyme in patients with nasopharyngeal cancer is higher than in the control group, and the level is higher in the advanced stage group than in the early stage group.
The Role of HLA-A2 Expression, CYP2E1 Gene Polymorphisms, and Nitrosamine Levels of Nasopharyngeal Carcinoma Patients in Makassar Nani Iriani Djufri; Irawan Yusuf; Sutji Pratiwi Rahardjo; Abdul Qadar Punagi
INTERNATIONAL JOURNAL OF NASOPHARYNGEAL CARCINOMA Vol. 2 No. 03 (2020): International Journal of Nasopharyngeal Carcinoma
Publisher : TALENTA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/ijnpc.v2i03.4401

Abstract

Introduction: Nasopharyngeal carcinoma is caused by several factors such as infections of Epstein Barr Virus (EBV), it has also been exaggerated by the genetic factors such as, HLA-A2, and environmental factors such as nitrosamines and the presence of polymorphisms of CYP2E1 gene that activates nitrosamines as pro oncogenes. Objective: To analyse the relationship between HLA-A2 expression, gene polymorphisms of CYP2E1 and nitrosamine levels in patients with nasopharyngeal carcinoma in Makassar. Methods: This research is analytic observational with cross-sectional design. Examination of HLA-A2 expression with immunohistochemical methods was conducted, along with genotyping CYP2E1 gene with Polymerase Chain Reaction (PCR) and Restriction Fragment Length Polymorphism (RLFP), and levels of nitrosamines with LCMS (Liquid Chromatography-Mass Spectrometry). There are 70 samples with NPC, with clinical stadium according to AJCC 2010.  Data were also analyzed with SPSS 20 statistical tests and chi-square. Results: There is no significant result found within the expression of HLA-A2 with a clinical stage of Nasopharyngeal Carcinoma (P =0.554). Therefore, there is no significant correlation between the CYP2E1 gene polymorphism with the clinical stage of Nasopharyngeal Carcinoma (P=0.088). Furthermore, there is no significant correlation found between the levels of nitrosamines with clinical stage (P=0.079) and there was no significant relationship between CYP2E1 gene polymorphism and levels of nitrosamines with clinical stage. Moreover, there was no significant relation between the expression of HLA-A2, CYP2E1 gene polymorphism and levels of nitrosamines with a history of smoking. Conclusion: There was no statistically significant correlation between the expression of HLA-A2, CYP2E1 gene polymorphism and levels of nitrosamines to the clinical stage of Nasopharyngeal Carcinoma. However, if the CT genotype and levels of nitrosamines were detected in the samples obtained, then they have an increased progression of 7.2 times greater compared to patients who only had the CT genotype or only detectable levels of nitrosamines.
Efek Pemberian Vitamin D Terhadap Penderita Rinitis Alergi Hasbullah, Ayu Ameliyah; Rahardjo, Sutji P; Punagi, Abdul Qadar; Savitri, Eka; Hamid, Firdaus
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 22 No. 1 (2022): ECOSYSTEM Vol. 22 No 1, Januari - April Tahun 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v22i1.1521

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin D terhadap perubahan kadar kalsiferol serum dan perubahan gejala klinis terhadap penderita rinitis alergi. Penelitian ini menggunakan uji klinis (clinical trials) terhadap 40 orang penderita rinitis alergi, dimana 20 pasien menggunakan kortikosteroid intranasal sebagai terapi dengan tambahan vitamin D, dan 20 pasien sebagai kontrol. Pengukuran kadar kalsiferol serum, pengukuran derajat rinitis alergi menurut ARIA, dan pengukuran total nasal symptom score (TNSS) dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Data kemudian di analisis menggunakan uji-t berpasangan, uji chi-square, dan uji Wilcoxon ranks. Hasil penelitian didapatkan perbedaan bermakna kadar kalsiferol serum antara sebelum perlakuan dan setelah pemberian terapi tambahan vitamin D. Terdapat juga penurunan skor TNSS dan derajat rinitis alergi secara bermakna (p < 0,001) pada kelompok yang diberikan perlakuan berupa terapi tambahan vitamin D. Kemaknaan klinik adalah pemberian terapi tambahan vitamin D akan memperbaiki kadar kalsiferol serum, skor TNSS, dan derajat rinitis alergi jika dibandingkan dengan pemberian terapi standart saja.