Claim Missing Document
Check
Articles

ADAPTASI SOSIAL BUDAYA ETNIS KARO PASCA REMOBILISASI AKIBAT ERUPSI GUNUNG SINABUNG DIDESA SIGARANG-GARANG KECAMATAN NAMANTERAN Ovfrilda Br Tarigan, Vanny; Puspitawati, Puspitawati
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 12 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i12.2024.5185-5191

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripikan adaptasi sosial budaya masyarakat Karo pasca erupsi Gunung Sinabung di Desa Sigarang-Garang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penelitian ini dilakukan di Desa Sigarang-Garang, Kecamatan Naman Teran. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini mengungkapkan adaptasi sosial budaya masyarakat  Karo di Desa Sigarang-Garang pasca remobilisasi akibat erupsi Gunung Sinabung mencerminkan dampak bencana terhadap kehidupanya. Interaksi sosial terbatas dan hubungan antarwarga terhambat, sementara tradisi seperti Pesta Tahun (gendang guro-guro aron & ngumbah-ngumbahi) dan acara adat kematian (peradaten kematen) mengalami perubahan. Masyarakat berusaha mempertahankan identitas budaya dan tradisinya, meskipun harus menyesuaikan dengan kondisi baru. Adaptasi ini menunjukkan ketahanan komunitas dalam membangun kembali ikatan sosial dan budaya yang terputus.
PERGELARAN PESTA BUDAYA NJUAH-NJUAH SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS ETNIK PAKPAK DI KELURAHAN SIDIKALANG KABUPATEN DAIRI Natalia Manullang, Berliana; Puspitawati, Puspitawati
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 12 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i12.2024.5192-5200

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pagelaran pesta budaya Njuah-njuah di Kelurahan Sidikalang yang dapat merepresentasikan identitas budaya pakpak. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sidikalang Kota Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pesta Budaya Njuah-Njuah merupakan perayaan penting bagi masyarakat Pakpak di Dairi, berfungsi untuk mengekspresikan, melestarikan, dan memperkuat identitas budaya. Acara ini menampilkan tradisi lisan, tarian, lagu, dan seni pertunjukan yang merayakan warisan kultural, seperti legenda Si Beru Leto yang mengajarkan generasi muda untuk menghargai asal-usul mereka. Tarian Era-era dan lagu "Cikala Le Pongpong" menekankan nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap alam. Pertunjukan baju adat, meskipun dimodifikasi, menegaskan identitas etnis Pakpak. Secara keseluruhan, Pesta Njuah-njuah adalah upaya kolektif untuk menjaga dan meneruskan warisan budaya sambil menciptakan rasa kebersamaan dalam komunitas, Pesta Budaya Njuah-njuah di Kabupaten Dairi merupakan perayaan yang tidak hanya merayakan kekayaan budaya, tetapi juga menyampaikan berbagai nilai pendidikan penting. Acara ini mengajarkan pelestarian budaya, toleransi, kreativitas, kesadaran lingkungan, kerja sama, sejarah, kemandirian ekonomi, pengembangan sosial, identitas, dan inovasi. Nilai-nilai ini berkontribusi dalam membentuk karakter individu, meningkatkan kesadaran budaya, dan memperkaya pemahaman serta keterampilan masyarakat, dari generasi muda hingga seluruh peserta acara. Dengan demikian, Pesta Budaya Njuah-njuah berfungsi sebagai media pendidikan yang memperkuat rasa kebersamaan dan identitas komunitas.
Kearifan Lokal Berbasis Mitigasi Bencana sebagai Pengembangan Materi pada Mata Kuliah Kearifan Lokal Budaya Sumatera Utara Febryani, Ayu; Puspitawati, Puspitawati; Malau, Waston; Rulyani, Ayu; Lubis, Dinda Rizky Fadillah
Jurnal Antropologi Sumatera Vol. 21 No. 2 (2024): Jurnal Antropologi Sumatera, Juni 2024
Publisher : Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jas.v21i2.53910

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bentuk kearifan lokal berbasis mitigasi bencana pada kelompok etnik di Kabupaten Karo dan Langkat. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan naturalistik. Pendekatan penelitian ini diterapkan untuk mengamati secara natural aktivitas budaya masyarakat dalam kaitannya dengan kearifan lokal berbasis mitigasi bencana. Hasil penelitian diuraikan bahwa terdapat kearifan lokal berbasis mitigasi bencana di Kabupaten Langkat dan Karo, diantaranya ritual tolak bala, ritual jamu laut, dan pelestarian pohon mangrove di Desa Jaring Halus, dan tradisi sarilala di Desa Tiganderket. Selanjutnya, data temuan disusun dalam pengembangan materi ajar untuk direfleksikan kembali dengan kondisi perkembangan kognitif, sikap, dan perilaku peserta didik dalam memahami upaya menjaga lingkungan secara lokal. Penelitian ini diharapkan menjadi acuan terhadap pengembangan materi ajar pada mata kuliah Kearifan Lokal Budaya Sumatera Utara dan memberikan kontribusi dalam mengembangkan dan menerapkan usaha pencegahan bencana melalui pelestarian kearifan lokal.
Dari Subsisten ke Ekonomi Pasar: Perubahan Mata Pencaharian Masyarakat Dayak Kayan di Desa Miau Baru Angga, Angga; Baiduri, Ratih; Puspitawati, Puspitawati
Jurnal Antropologi Sumatera Vol. 22 No. 1 (2024): Vol 22, No 1 (2024): Jurnal Antropologi Sumatera, Desember 2024
Publisher : Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jas.v22i1.66545

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan mata pencaharian masyarakat Dayak Kayan dari subsisten ke ekonomi pasar serta dampaknya pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menemukan bawah pada masa-masa awal menetap di Miau Baru, mata pencaharian masyarakat Dayak Kayan adalah bertani ladang dan cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Program pembangunan desa tertinggal oleh pemerintah kemudian datang dengan upaya mencetak lebih banyak sawah basah bagi masyarakat. Selanjutnya pembukaan lahan hutan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit memberikan kesempatan kerjasama bagi masyarakat lewat koperasi plasma. Masyarakat mulai mengalih fungsikan ladang mereka untuk ditanami sawit. Berubahnya  mata pencaharian dari petani ladang ke petani sawah serta beralih fungsinya ladang pada perkebunan sawit mengubah orientasi mata pencaharian yang semula subsisten menjadi komersil. Selain itu akses terhadap pendidikan juga berdampak pada diversifikasi mata pencaharian. Pembangunan yang berorientasi pada peningkatan ekonomi warga ini berdampak pada relasi sosial dan struktur dalam adat, beberapa telah hilang dan sebagian lainnya mengalami penyesuaian.
PERAN SEKOLAH ADAT SIHAPORAS DALAM PEMELIHARAAN WARISAN BUDAYA OMPU MAMONTANG LAUT AMBARITA DI KABUPATEN SIMALUNGUN K. Panjaitan, Burju; Puspitawati, Puspitawati
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 5 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i5.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran Sekolah Adat Sihaporas dalam pemeliharaan warisan budaya Ompu Mamontang Laut Ambarita di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi. Sekolah Adat Sihaporas, yang didirikan pada tahun 2020 oleh komunitas masyarakat adat di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, menjadi ruang pendidikan alternatif berbasis nilai-nilai tradisional. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa sekolah adat berfungsi sebagai institusi kultural yang mentransmisikan nilai, norma, dan praktik budaya secara turun-temurun. Ritual adat seperti Ulaon Hu Pattar Debata dan Raga-raga Na Bolak Parsilaonan diajarkan secara kontekstual untuk memperkuat identitas kultural generasi muda. Kurikulum khas yang mencakup manortor, tarombo, serta bahasa dan permainan tradisional dirancang untuk menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab terhadap warisan leluhur. Di tengah arus globalisasi yang berpotensi mengikis budaya lokal, Sekolah Adat Sihaporas berperan sebagai benteng pertahanan nilai-nilai adat, sekaligus menjadi simbol perjuangan masyarakat dalam mempertahankan eksistensi dan jati diri budaya mereka.
Peran Si’o dalam Perkawinan Adat Nias di Desa Marindal 1 Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang Parera, Geby; Puspitawati Puspitawati
JURNAL RISET RUMPUN ILMU PENDIDIKAN Vol. 4 No. 3 (2025): Desember : JURRIPEN : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Pendidikan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurripen.v4i3.6939

Abstract

This research is entitled "The Role of Si'o in Nias Traditional Marriage in Marindal I Village, Patumbak District, Deli Sedang Regency". The purpose of this research is to describe the duties and roles carried out by a Si'o in a series of Nias traditional marriage processions in Marindal 1 Village, and to identify and analyze the obstacles or challenges faced by a Si'o in carrying out his duties in the Nias traditional marriage procession in Marindal 1 Village. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the study show that Si'o plays a central role as a traditional figure who is responsible for bridging communication between two families. Si'o is not just an ordinary spokesperson, but an official representative of the family, especially from the male side, who has full responsibility to convey intentions, organize the handover of traditional symbols, and ensure that all stages of the traditional procession run in an orderly, sacred, and in accordance with the rules that have been passed down from generation to generation. To ensure the continued role of the Si'o in the future, efforts to preserve traditional customs are needed through several key steps, such as involving the younger generation in every traditional ceremony and utilizing modern technology, such as video documentation and digital media. This research utilizes Max Weber's leadership theory, specifically traditional leadership styles. The role of the Si'o is a concrete form of authority derived from cultural legitimacy. This research aims to understand the dynamics of wedding traditions in Nias. By examining the role of the Si'o, this research provides new insights into how customs adapt to the modern context and their impact on cultural identity.
Tradisi Mangain dalam Perkawinan Antara Etnik Batak Toba dengan Etnik Karo Menurut Masyarakat di Desa Pintu Angin Kecamatan Laubaleng Kabupaten Karo Tiara Stepany Br Manurung; Puspitawati Puspitawati
JURNAL RISET RUMPUN ILMU PENDIDIKAN Vol. 4 No. 3 (2025): Desember : JURRIPEN : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Pendidikan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurripen.v4i3.6987

Abstract

This study examines the stages of the mangain tradition in marriages between the Toba Batak and Karo ethnic groups in Pintu Angin Village and examines the importance of clans (marga) within the Toba Batak ethnic group. This study employed a qualitative descriptive approach, with data collection techniques including interviews, observation, and documentation. The results of this study demonstrate that the mangain tradition must be applied to marriages between the Toba Batak and Karo ethnic groups. For the Toba Batak community, clans are a vital identity, and interethnic marriages clearly hold a place within the Toba Batak traditional institution, the Dalihan Na Tolu structure. However, the mangain tradition also serves as a gateway for people outside the Toba Batak ethnic group to join the Toba Batak community. Furthermore, the Pintu Angin Village community supports this tradition as a cultural heritage that must be upheld. The mangain process is also seen as maintaining the dignity of Toba Batak customs and demonstrating mutual respect between ethnic groups.
Community Knowledge System about Karo Oil as Traditional Medicine on Ujung Labuhan Village, Namorambe, Deli Serdang Br Aritonang, Desi Anggryani; Puspitawati, Puspitawati
Jurnal EduHealth Vol. 14 No. 04 (2023): Jurnal eduHealt, 2023, December
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is the result of a study on Karo Oil as a traditional medicine, this article explains what ingredients are used in the manufacture of Karo oil, and how to make Karo Oil as well as the benefits of Karo Oil for the health of the body. This research was conducted on Jl. Ujung Labuhan, Namorambe, Deli Serdang. The type of research used is qualitative research using an ethnographic approach. Based on the results of the study, it is known that the ingredients used in the manufacture of this karo oil are ginger, pepper, kencur, shallots, and garlic.
Analysis of Local Wisdom of Mendale Village Fisherman Communities in the Fishing Process Puspitawati, Puspitawati; Pei Ze (Taiwan), Ivan Loo
JURNAL GEOGRAFI Vol. 15 No. 2 (2023): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v15i2.45997

Abstract

Local knowledge is knowledge owned by a community in the form of information that is people's knowledge. As a country with diverse cultures, Indonesia has a variety of local knowledge which has become an icon of the community, used in maintaining natural conditions and survival. One of the community's local knowledge areas is the process of fishing in the Gayo community. The Gayo ethnic group is a native of Central Aceh District, located in the Gayo highlands. Local knowledge possessed by the community is inseparable from global influences that continue to grow. Global forces will shape culture, modify value systems, and affect social identity. This research was conducted in Mendale Village, Kebayakan District, Central Aceh District. This study aims to analyze local and global knowledge and find out the acculturation of people in fishing. The research method used is a qualitative method with a new ethnographic approach. Data collection techniques are interviews, observation, and documentation studies. The results of interviews and observations were analyzed thematically and grouped under the same theme. Each theme is discussed in detail and then interpreted to obtain data that can provide answers to research problems. The research results show that local knowledge of fishing is a culture passed down from generation to generation. Local fishing knowledge cannot be applied in all catches, only used in fishing in the lake. Existing local knowledge is mixed with global knowledge so that local knowledge of fishing is not the same as the culture left by fishermen in the past.Keywords: Local Knowledge, Gayo, Community Fishing, Acculturation
PATUNG PANGULUBALANG FOLK BELIEF ETNIK BATAK TOBA DI HUTA SIALLAGAN KABUPATEN SAMOSIR Angelina Simamora, Katrina; Puspitawati, Puspitawati
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 5 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i5.2024.1940-1943

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kepercayaan masyarakat beretnik Batak Toba di Huta Huta Siallagan terhadap patung primitif yang disebut dengan patung pangulubalang. Metode penelitian yg digunakan untuk mengungkapkan pembahasan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memberi penjelasan secara mendalam tentang objek penelitian. Sementara pendekatan deskriptif bertujuan untuk menggambarkan suatu fenomena sosial tentang objek penelitian secara holistik. Fenomena sosial yang akan digambarkan dalam penelitian ini yaitu mengenai bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap adanya patung pangulubalang dengan sejarahnya yang unik. Patung pangulubalang adalah salah satu jenis patung primitif yang berasal dari daerah Batak. Patung ini dibuat dengan tujuan yang di perkirakan sebagai perwira untuk menjaga perkampungan. Patung ini diyakini memiliki kekuatan supranatural dengan berbagai kemampuannya sebagai patung penjaga. Bentuk patung pangulubalang sangan amat beragam mulai dari bentuk yang menyerupai panglima perang sampai ada juga yang dibuat menyerupai hewan. Kepercayaan masyarakat etnik Batak Toba di Huta Siallagan terhadap patung pangulubalang ini menjadi salah satu alasan penting dilakukan penelitian ini. Hasil dan pembahasan yang ditemukan, bahwasanya nenek moyang orang Batak dahulu memang mempercayai adanya patung pangulubalang. Namun, seiring berjalan nya waktu sampai orang Batak mengenal adanya agama, kepercayaan terhadap patung pangulubalang pun semakin memudar, apalagi di jaman sekarang.