Claim Missing Document
Check
Articles

Perceived Ability to Practice in Disaster Management among Public Health Nurses in Aceh, Indonesia Putra, Ardia; Petpichetchian, Wongchan; Maneewat, Khomapak
Nurse Media Journal of Nursing Vol 1, No 2 (2011): (DECEMBER 2011)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.893 KB) | DOI: 10.14710/nmjn.v1i2.971

Abstract

Background: The increasing number of disaster events around the world has challenged every country to develop better disaster-management strategies. As a part of healthcare system, public health nurses (PHNs) should be involved in caring for people in disasters. Currently, there is no known study whether PHNs of Aceh, Indonesia, working with community people who are at high risk of confronting natural disasters, are able to perform their roles and functions regarding disaster management. Methods: 252 PHNs from twenty-seven public health centers in Aceh were studied during November to December 2010 to evaluate their perceived ability to practice regarding disaster management at each disaster phase: preparedness, response, and recovery phase. The perceived ability to practice was assessed by using the 30-statement, five-point Likert-scale (0-4) of Public Health Nurses’ Perceived Ability to Practice Regarding Disaster Management Questionnaire (PHNPP-DMQ). The composite scores of each phase and the total score were calculated and transformed to percentage for ease of presentation across disaster phases.Results: Overall, the PHNs’ perceived ability to practice regarding disaster management in Aceh was at a moderate level (M=74.57%, SD=13.27). The highest mean score was for the recovery phase (M=78%), and the lowest mean score was in the preparedness phase (66.15%).Conclusion: The finding of this study evokes challenges to the local government of Aceh province to further prepare PHNs to increase their ability in disaster management.Keywords: Disaster management, practice, public health nurses
Studi Kasus Kejadian Nyaris Cedera (KNC) pada Pasien Risiko Jatuh Adhelna, Shella; Jannah, Noraliyatun; Yusuf, Muhammad; Putra, Ardia; Yullyzar, Yullyzar
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 4 (2024): Agustus 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i4.2658

Abstract

Keselamatan pasien merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan serta menjadi prioritas utama dalam setiap asuhan yang diberikan pada pasien. Pasien jatuh merupakan insiden di rumah sakit yang paling meresahkan dan berdampak pada cedera pasien bahkan kematian dan menjadi adverse event kedua terbanyak dalam perawatan kesehatan setelah kesalahan pengobatan. Studi kasus bertujuan untuk mengobservasi sumber masalah penyebab insiden keselamatan pasien yaitu Kejadian Nyaris Cedera (KNC). Studi kasus ini menggunakan teknik 5 Why Analysis untuk mencari sumber masalah penyebab insiden. Hasil dari 5 Why Analysis dan observasi didapatkan bahwa kurangnyan informasi dan edukasi yang diperoleh keluarga mengenai risiko jatuh pada pasien, belum optimalnya pelaksanaan pengkajian risiko jatuh menggunakan Humpty Dumpty Fall Scale (HDFS) dan belum optimalnya pelaksanaan implementasi risiko tinggi jatuh.
Pelaksanaan Pencegahan Phlebitis di Ruang Penyakit Dalam Wanita Rumah Sakit Pemerintah Aceh Tutdini, Nora; Putra, Ardia; Rachmah, Rachmah; Kamil, Hajjul; Yuswardi, Yuswardi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 4 (2024): Agustus 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i4.2675

Abstract

Phlebitis merupakan salah satu jenis infeksi yang paling umum terjadi pada pasien rawat inap yang terpasang kateter vena. Akibat yang dapat ditimbulkan oleh phlebitis diantaranya meningkatkan hari rawat, peningkatan biaya, menambah lama terapi, dan juga dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pencegahan phlebitis di ruang rawat inap penyakit dalam Pemerintah Aceh. Penelitian ini menyertakan 17 perawat pelaksanan dengan menggunakan lembar checklist observasi yang berisi 18 pertanyaan terkait dengan pencegahan phlebitis dirumah sakit. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental Sampling dan menggunakan analisa data statistik deskriptif. Hasil studi kasus diruang rawat didapatkan bahwa pencegahan phlebitis yang dilakukan perawat berada pada kategori kurang baik (88,2%). Perawat melakukan hand hygiene dengan baik sebanyak (82,4%) dan perawat melakukan preparasi kulit dengan kategori kurang baik (70,6%). Perawat tidak melakukan dressing dengan kategori kurang baik (58,8%), ketegori kurang baik pada perawatan catheter (76,5%). Dan perawat tidak menggunakan perawatan alat yang tepat sebanyak (52,9%). Diharapkan untuk meminimalisir risiko kejadian phlebitis perlu diadakan pelatihan atau workshop agar dapat mengurangi resiko kejadian phlebitis.
Pelaksanaan Komunikasi SBAR saat Handover di Ruang Rawat Inap Naza, Ahlon; Yuswardi, Yuswardi; Putra, Ardia; Mayasari, Putri; Maurissa, Andara
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 5 (2024): Oktober 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i5.3009

Abstract

Komunikasi SBAR (Situation, Background, Assesment, dan Recommendation) merupakan keselamatan sasaran teknik komunikasi efektif yang disarankan oleh sasaran keselamatan pasien (IPSG) selama perawatan pasien. Komunikasi SBAR dapat diterapkan dalam transfer informasi antar professional Kesehatan termasuk saat handover. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penerapan komunikasi SBAR pada handover di Ruang Rawat Inap RSUD dr. Zainoel Abidin. Teknik dalam pengumpulan data menggunakan observasi dengan jumlah 78 proses komunikasi SBAR di Ruang rawat Inap. Data diambil menggunakan lembar observasi SBAR dari Kemenkes, 2022 dan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil dari studi ini didapatkan bahwa komunikasi SBAR secara keseluruhan optimal sebanyak 54 kali (69,2%). Secara detail tahap situation pada kategori optimal yaitu 68 kali (87,2%), tahap background dalam kategori optimal yaitu 68 kali (87,2%), tahap assesment dalam kategori optimal yaitu 65 kali (83,3%), dan pada tahap recommendation dalam kategori optimal yaitu 67 kali (85,9%). Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan teknik komunikasi SBAR oleh perawat dapat diintegrasikan dengan semua disiplin ilmu dalam satu format sehingga dapat meningkatkan keselamatan pasien.
Scooping Review: Pelayanan Kesehatan Syariah Rizkina, Nadia; Jannah, Noraliyatun; Yusuf, Muhammad; Putra, Ardia; Mayasari, Putri
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 5 (2024): Oktober 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i5.3106

Abstract

Pelayanan Kesehatan Syariah menjadi sorotan dalam konteks populasi Muslim yang besar di Indonesia. Meskipun permintaan akan pelayanan ini meningkat, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hanya sekitar 3% dari rumah sakit telah bersertifikasi syariah. Sebuah scooping review terhadap artikel-artikel yang ditemukan dari Research Gate, Science Direct, dan Google Scholar antara 2019 hingga 2022 dengan kata kunci yang digunakan meliputi "Shariah-based healthcare services", "Islamic values in healthcare" untuk memastikan cakupan yang luas dari literatur yang relevan dan mengungkapkan bahwa 10 artikel terpilih menunjukkan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan syariah. Studi literatur menyoroti karakteristik pelayanan berbasis syariah, termasuk penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, serta menerapkan prinsip-prinsip Rabbaniyah, Akhlaqiyah, Waqi’iyah, dan Insaniyyah. Nilai-nilai Islam tercermin dalam pelayanan kesehatan, dengan penggunaan produk halal, suasana Islami, dan kesesuaian dengan prinsip syariah sebagai fokus utama. Penerapan nilai-nilai Islam dalam praktik pelayanan kesehatan meliputi sikap ramah, empati, perhatian, dan keikhlasan dalam melayani pasien, serta pengingat akan ibadah shalat. Pelayanan kesehatan syariah memberikan gambaran yang jelas tentang pentingnya implementasi nilai-nilai Islam dalam meningkatkan kepuasan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Dalam kesimpulan, pelayanan kesehatan syariah memiliki potensi untuk memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan keyakinan Muslim. Penelitian lebih lanjut dan upaya peningkatan sertifikasi syariah di rumah sakit dapat memperluas cakupan pelayanan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Pengetahuan dan Penerapan SOP Pemberian Obat High Alert oleh Perawat Nisa, Khairun; Putra, Ardia; Yusuf, Muhammad; Mayasari, Putri; Maurissa, Andara
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 6 (2024): Desember 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i6.4307

Abstract

Standar Operasional Prosedur adalah tata cara atau tahapan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Penerapan Standar Operasional Prosedur dalam seluruh tindakan keperawatan ialah upaya perawat untuk mengurangi kesalahan pengobatan. Studi kasus ini merupakan studi deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui penerapan SOP pemberian obat high alert di Ruang Rawat Rumah Sakit Umum Pemerintah Aceh. Teknik dalam pengumpulan data menggunakan Total Sampling dengan jumlah 27 perawat di Ruang Rawat Rumah Sakit Umum Pemerintah Aceh. Data diambil menggunakan lembar kuesioner pengetahuan, lembar observasi dan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil dari studi ini didapatkan pengetahuan perawat tentang keamanan obat high alert seluruh responden (27 orang/100,0%) berada dalam kategori Baik. Dan serta hasil observasi penerapan SOP pemberian obat high alert secara keseluruhan sebanyak 23 (84,32%) sudah dilakukan dengan optimal. Pada medication error tahap benar obat dalam kategori optimal yaitu 25 (92,5%), medication error tahap benar dosis dalam kategori optimal yaitu 27 (100,0%), medication error tahap benar waktu dalam kategori optimal yaitu 20 (74,0%), medication error tahap benar pasien dalam kategori optimal yaitu 27 (100,0%), medication error tahap rute pemberian obat dalam kategori optimal yaitu 27 (100,0%), medication error tahap dokumentasi obat dalam kategori optimal yaitu 27 (100,0%).
PENGKAJIAN DAN PENCEGAHAN RISIKO JATUH DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT: SUATU STUDI KASUS Funna, Desya Amalia; Jannah, Noraliyatun; Putra, Ardia
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan Vol 8, No 4 (2024)
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejadian jatuh menjadi hal yang mengkhawatirkan untuk semua pasien rawat inap di rumah sakit dan menjadi kejadian tidak diinginkan kedua terbanyak dalam perawatan kesehatan setelah kesalahan pengobatan. Keberhasilan pencegahan risiko jatuh di ruangan dipengaruhi oleh pemahaman yang dimiliki perawat, pendidikan yang ditempuh, motivasi perawat, serta sarana yang tersedia. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pengkajian dan pencegahan risiko jatuh di ruang rawat inap rumah sakit. Sampel pada studi kasus ini berjumlah 13 orang perawat dan 15 pasien. Studi kasus ini menggunakan kusioner mengenai implementasi pengkajian risiko jatuh dan lembar observasi implementasi tindakan pencegahan risiko jatuh sesuai dengan Standar dan Prosedur Operasional (SPO) yang ada. Hasil kuesioner dan observasi didapatkan bahwa sebagian perawat telah melaksanakan pengkajian risiko jatuh dengan baik (76,9%) namun 3 dari 13 perawat tidak melakukan penilaian ulang pada pasien risiko rendah jatuh bila terjadi perubahan kondisi, sebagian besar perawat telah melaksanakan tindakan pencegahan umum risiko jatuh dengan baik (80%), dan sebagian besar perawat kurang baik dalam melaksanakan tindakan pencegahan risiko tinggi jatuh (50%). Disarankan kepada kepala ruangan untuk selalu mengevaluasi keselamatan pasien dalam mencegah risiko jatuh dan memberikan pengarahan dengan melakukan diskusi secara interaktif.