Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Layanan bimbingan karir dalam pengambilan keputusan karir siswa Khoirunnisa, Hinggil; Lestari, Melina
Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 10, No 1 (2024): Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1202424241

Abstract

Perngambilan keputusan karir menjadi salah satu permasalahan yang sering terjadi pada peserta didik di SMA. Pada umumnya karir yang akan diambil oleh peserta didik menjadi salah satu tantangan karena kurangnya informasi karir dan tekanan dari Lingkungan. Salah satu layanan bimbingan dan konseling yaitu layanan bimbingan karir, maka dari itu guru BK dituntut untuk memberikan layanan bimbingan karir kepada Peserta Didik agar peserta didik dapat mengetahui pengambilan keputusan karirnya sesuai dengan minat dan bakat dalam dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengambilan keputusan karir siswa kelas XI SMA PGRI 1 Jakarta yang diberikan oleh guru BK melalui Layanan Bimbingan Karir. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode naratif,  penelitian ini menggunakan wawancara terstruktur dan terbuka. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 9 orang terdiri dari 1 Guru BK dan 8 Peserta didik kelas XI. Dengan menggunakan teknik analisis data NVIVO 14 dengan fitur Word Cloud dan project map. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peserta didik sudah sesuai pada pengambilan keputusan karirnya namun beberapa peserta didik masih ragu dengan pilihan karirnya karena beberapa peserta didik mendapatkan tekanan dari lingkungan khususnya Orang Tua. Peran Guru BK di SMA PGRI 1 Jakarta ini sebagai pembimbing siswa dalam mengenal diri, memfasilitasi perkembangan dan pertumbuhan, penyesuaian diri, serta pengembangan potensi dan minat secara optimal. Sehingga Guru BK dapat membantu siswa melalui layanan bimbingan karir untuk pengambilan keputusan karir.
ANALISIS NOVEL “PUDARNYA PESONA CLEOPATRA” DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESIAPAN MENIKAH Zahra, Sabina Kaila; Lestari, Melina; Azizah, Rona; Sabila, Najwaa; Maharani, Annisa; Ashadi, Aurellia Nafish
Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jmbkan.v10i2.13982

Abstract

This study analyzes the novel "Pudarnya Pesona Cleopatra" by Habiburrahman El Shirazy and its implications for marital readiness. The literature review method was used with primary data sources being the novel and secondary data sources being related articles. The research findings indicate that psychological aspects such as inner conflict and emotional growth of the main character in the novel have significant implications for the readers' readiness for marriage. The data collection method used was content analysis, and the research provides a deeper understanding of the intrinsic elements and moral values contained in the novel. The novel depicts aspects of marital readiness according to Blood of (Rahmawati, 2021a), such as emotional maturity, physical readiness, social maturity, healthy emotions, and role model readiness. Through the novel analysis, it is evident that the main character in the novel demonstrates readiness in these aspects. There are concrete examples in the text that demonstrate aspects of role model readiness, such as responsibility, understanding of the role after marriage, and the ability to perform tasks according to the role, involving the character Raihana in the story
ANALISIS KESIAPAN MENIKAH PADA GENERASI Z (STUDI NARATIF DALAM PERSPEKTIF BIMBINGAN DAN KONSELING PRANIKAH) Pratiwi, Leoni Agustia; Lestari, Melina; Inayah, Inayah; Firdaus, Fuad Fahmi; Pramadya, Nabilla Yulfa; Syafriza, Eriyan Tri
Jurnal Ilmiah Bening : Belajar Bimbingan dan Konseling Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bening.v8i2.46868

Abstract

Pernikahan sebagai langkah penting dalam kehidupan, memiliki beragam implikasi dari segi spiritualitas dan tujuan membentuk keluarga harmonis. Kesiapan sebelum menikah menjadi fokus penting, terutama pada generasi muda yang dihadapkan pada keputusan kompleks tentang ikatan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami tingkat kesiapan menikah di kalangan mahasiswa, khususnya pada program studi bimbingan dan konseling di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Studi pendekatan dengan metode naratif dilakukan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang aspek-aspek yang mempengaruhi kesiapan menikah, seperti kondisi fisik, mental, emosional, kebutuhan, motif, tujuan, keterampilan, pengetahuan, dan pengertian lain yang telah dipelajari. Melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, data dikumpulkan dari 12 responden yaitu 3 orang laki – laki mahasiswa bimbingan dan konseling dan 9 orang perempuan mahasiswa bimbingan dan konseling dengan metode purposive sampling. Teknik triangulasi digunakan untuk memastikan validitas data. Integrasi pemahaman kesejahteraan fisik, mental, dan emosional diharapkan dapat mendukung pencapaian kesiapan menikah yang optimal dalam konteks mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Dengan adanya penelitian ini, dapat diketahui bahwa kesiapan mahasiswa untuk menikah dipengaruhi oleh tiga aspek utama: kondisi fisik, mental, dan emosional; kebutuhan, motif, dan tujuan; serta keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman. Berdasarkan penelitian, para mahasiswa bimbingan dan konseling ternyata belum sepenuhnya mempersiapkan diri untuk menghadapi pernikahan. Secara fisik, mereka cenderung lebih fokus pada penampilan fisik yang ideal dan menghadapi tantangan kesehatan seperti asma yang dapat memengaruhi kesiapan mereka dalam menjalani pernikahan. Dari sisi emosional dan mental, masih terdapat kebutuhan untuk belajar mengelola emosi agar dapat memahami pasangan dengan lebih baik. Beberapa mahasiswa bahkan enggan terlibat dalam hubungan romantis karena mereka menganggap bahwa percintaan pada usia saat ini bisa menimbulkan stres tambahan, terutama saat masih menekuni dunia perkuliahan yang menuntut pikiran dan tenaga yang besar. Meskipun mayoritas mahasiswa yang diwawancarai memiliki tujuan yang jelas, motivasi, dan kebutuhan untuk menikah guna membentuk keluarga yang harmonis serta meningkatkan praktik ibadah, namun pengetahuan mereka tentang pernikahan masih belum sepenuhnya terperinci. Mereka telah mengambil mata kuliah bimbingan pra nikah, yang memberikan sejumlah pemahaman, namun masih diperlukan peningkatan dalam pemahaman menyeluruh. Selain itu, meskipun mereka memiliki beberapa keterampilan terkait pernikahan, terutama dalam menghadapi berbagai permasalahan yang sering terjadi di dalam rumah tangga, namun masih ada ruang untuk pengembangan lebih lanjut.
Gambaran Konsentrasi Belajar Siswa Slow Learner pada Salah Satu SMK Negeri di Jakarta Ardana, Nadilla; Lestari, Melina
Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus Vol. 8 No. 2 (2024): JPKK
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jpkk.v8i2.932

Abstract

Siswa slow learner memiliki kendala dalam pembelajaran, diantaranya adanya gangguan konsentrasi dan perhatian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis gambaran konsentrasi belajar pada siswa slow learner di SMK. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualtitatif dengan metode naratif. Peneliti melakukan wawancara semi terstruktur pada 5 orang siswa slow learner dari kelas 10 dan 11, dan 5 orang guru, pertanyaan berdasarkan gangguan konsentrasi dalam smith 2014. Analisa data menggunakan Nvivo 14 dengan fitur word cloud dan project map. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi belajar pada siswa slow learner. Siswa slow learner memiliki kesulitan duduk dengan tenang dengan berpindah-pindah tempat duduk, terburu-buru dalam mengerjakan aktivitas praktek, sering berbicara berlebihan, sering barganti-ganti aktivitas, siswa slow learner hanya beraktivitas di dalam kelas, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan perhatian, siswa slow learner sering di gangguin teman, Siswa slow learner mempunya kesulitan menjawab pertanyaan dari guru dan teman, siswa slow learner jarang mengerjakan tugas di sekolah, tidak memeperhatikan penjelasan guru di kelas.
Analisis Aspek Perkembangan Remaja terhadap Prokrastinasi Akademik Siswa di SMAN 92 Jakarta Aprilia, Sekar; Lestari, Melina
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 14, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v14i3.10138

Abstract

Academic procrastination is a common issue among teenagers and students and can have negative effects on their academic performance and mental health. At the same time, adolescent development involves significant physical, emotional, and social changes that can impact how students manage their time and academic responsibilities. Therefore, it is important to understand how specific aspects of adolescent development contribute to academic procrastination. This research uses a qualitative approach with a narrative method. The participants in this study are students from SMAN 92 Jakarta. The aim of this research is to determine whether aspects of adolescent development influence academic procrastination. The study uses interview guidelines as a tool for data collection. After gathering data from the field, the researcher will analyze it using an interactive model by Miles & Huberman, involving data reduction, data presentation, and drawing conclusions/verification. The results of this study indicate that respondents’ perspectives on delaying the start of tasks include (1) lack of understanding of the task; (2) intention to complete the task; and (3) underestimating the task. Students often fulfill their obligations as learners by completing assignments, earning grades, or honing their skills when given daily tasks. Enjoyable activities for students include engaging in non-learning-related activities and preferring to study or work on tasks in groups.
Bagaimana Fenomena ‘Marriage is Scary’ dalam Pandangan Perempuan Generasi Z? Lestari, Melina; Aimma, Sandhian Lasti; Cahyadi, Shafa Fajriandini; Putri, Khaila Alfiory Lestari Legowo; Mustofa, Mona Maimun
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 10, No 2 (2024): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v10i2.17187

Abstract

This research aims to examine the views of Generation Z women regarding the "marriage is scary" phenomenon, which reflects their concerns about marriage. The approach in this research is qualitative with a narrative method. Researchers interviewed 10 students from the Guidance and Counseling study program at Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA as a respondent. Researchers asked about the meaning of marriage, issues that make them worry about marriage and their views on the "marriage is scary" phenomenon.  The results of the research show that Generation Z women have a positive view of marriage, namely as a commitment that is full of challenges and concerns about violence that may occur and the increasingly widespread patriarchal culture. Apart from that, generation Z women also value marriage as a forum for personal growth and mutually supportive relationships. The worries they have in a marriage originate from both within themselves and outside themselves. The increasingly growing phenomenon of "Marriage is scary" strengthens their worries and increasingly encourages them to be more selective in finding a partner and to be more mentally prepared to move toward marriage. The implication for premarital guidance and counseling is that preventive services are needed that can resolve concerns about problems in marriage. _____________________________________________________________Penilitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan perempuan generasi Z mengenai fenomena “marriege is scary” yang mencerminkan apa saja kekhawatiran mereka dalam pernikahan. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode naratif. Peneliti mewawancarai 10 mahasiswi program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA sebagai responden. Peneliti  menanyakan makna pernikahan, isu yang membuat mereka khawatir akan pernikahan dan pandangan mereka tentang fenomena “marriage is scary”.  Hasil dari penilitian menunjukkan bahwa pandangan positif perempuan generasi Z terhadap pernikahan, yaitu sebagai komitmen yang penuh dengan tantangan dan kekhawatiran terhadap kekerasan yang mungkin akan terjadi serta budaya patriarki yang kian meluas. Selain dari itu perempuan generasi Z juga menghargai pernikahan sebagai wadah untuk pertumbuhan pribadi dan hubungan yang saling mendukung. Kekahawatiran dalam sebuah pernikahan yang dimiliki baik yang bersumber dari dalam diri dan luar diri mereka. Fenomena yang kian berkembang soal “marriage is scary” memperkuat rasa khawatir mereka dan makin mendorong mereka untuk lebih memilih dalam mencari pasangan juga lebih memantapkan mental untuk menuju jenjang pernikahan. Implikasi pada bimbingan dan konseling pranikah adalah diperlukannya layanan preventif yang dapat menyelesaikan kekhawatiran akan permasalahan dalam pernikahan.
STRES, STRESOR DAN COPING STRES DALAM PERSPEKTIF ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI MASA PANDEMI COVID 19 Melina Lestari; Kodariyah Nurhayat; Sisca Nurul Fadila
Jurnal Riset Pendidikan Dasar Dan Karakter Vol 4 No 1 (2022): JURNAL RISET PENDIDIKAN DASAR DAN KARAKTER
Publisher : LP2M Universitas Adzkia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres adalah respon individu untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan yang sedang berlangsung didalam lingkungannya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui gambaran makna stres bagi anak;(2) untuk mengetahui hal yang biasanya membuat anak merasa stress; dan (3) untuk mengetahui aktifitas apayang biasanya dilakukan anak untuk mengurangi stress. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatifdengan metode naratif. Partisipan dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah dasar yang mengikutiBimbingan Belajar Bunga Bangsa yang terletak di daerah Cililitan, Kramatjati Jakarta Timur. Penelitian inimenggunakan pedoman wawancara berbagai alat bantu dalam pengumpulan data. Setelah mendapatkan datadari lapangan, peneliti akan menganalisis dengan menggunakan model interaktif dari Milles & Hubermandengan tahapan reduksi data, display data, dan simpulan berupa gambar. Hasil dari penelitian ini adalah 1)makna stres bagi anak usia sekolah dasar di masa pandemi adalah masalah, tidak nyaman, banyak pikiran,pikiran yang berat, berfikir terus, rasa takut mempengaruhi sifat, emosi tidak stabil, terlalu frustasi, perasaanburuk, marah berlebih, pusing, beban pikiran, terlalu marah; 2) sedangkan hal yang membuat mereka stress(stressor) adalah mengerjakan tugas, waktu pengumpulan tugas yang cepat, dibandingkan dengan saudara atauteman, capek, banyak tugas, pelajaran, sulit memahami pelajaran, proses belajar, ada sesuatu yang membuatkesal, mengiyakan tugas yang diberikan guru, banyak hal yang dipikirkan dan orangtua; dan 3) mereka jugasudah memahami hal yang dapat mengurangi stres yang dirasakan, yaitu bermain, jajan, shopping, menontontelevisi, memainkan telepon genggam, membaca buku cerita, mendengarkan music, menggambar, menghindarikerumunan, melukis, solat, tidur, minum air putih, berdiam diri di kamar, melakukan hobi, melakukan hal baru,dan menghirup udara segar.
Eksplorasi Kesiapan Pernikahan Pada Mahasiswa Ditinjau Dari Aspek Perkembangan Lestari, Melina; Hafizha, Luna; Alfiana, Tisya Hamidah; Ramandhanti, Wa Ode Siti Gifarani
TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 8, No 3 (2025): TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Pusat Kajian Bimbingan dan Konseling FIPPS Unindra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26539/teraputik.833545

Abstract

Persiapan pernikahan melibatkan berbagai aspek penting yang saling terkait, termasuk fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, moral, dan kesadaran beragama. Dalam hal fisik, calon pasangan perlu menjaga kesehatan dan kebugaran untuk dapat menjalani hari bahagia dengan maksimal. Aspek kognitif meliputi pemahaman dan pengetahuan mengenai pernikahan serta tanggung jawab yang menyertainya. Kemampuan berbahasa pun sangat krusial untuk komunikasi yang efektif antara pasangan dan keluarga. Dari sudut pandang sosial, dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga dan teman, memiliki peran dalam menciptakan suasana yang positif. Stabilitas emosi dan kesiapan mental sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan yang mungkin akan muncul. Selain itu, aspek moral dan kesadaran beragama menyediakan dasar etika dan spiritual yang kuat, membantu pasangan dalam membangun hubungan yang harmonis dan saling menghormati. Dengan mempersiapkan semua aspek ini secara menyeluruh, calon pasangan dapat memasuki pernikahan dengan lebih siap dan percaya diri.
Fenomena Beauty Privilege di Kalangan Gen Z Heriyani, Eka; Lestari, Melina; Gahana, Nibras Mutiara; Azizah, Miwa Nur; Handayani, Varas Kayla; Aisy, Nabila Rihadatul
TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 8, No 3 (2025): TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Pusat Kajian Bimbingan dan Konseling FIPPS Unindra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26539/teraputik.833522

Abstract

The purpose of this research is to find out how the influence of the Beauty privilege trend among gen Z on female students in one of the private high schools in Jakarta. This research uses a qualitative method through a descriptive study approach, where the existing data is obtained in real terms and in accordance with the situation and conditions when the research is conducted. Of the many students available, sampling was taken totaling 5 female students using the interview method. The results showed that the negative effects of beauty privilege made female students less confident. Based on the results of the research, the counseling teacher will help students to become confident again by making routine language month activities. In addition, BK teachers can also conduct individual counseling to these students and help increase their self-confidence again.
Bagaimana Fenomena ‘Marriage is Scary’ dalam Pandangan Perempuan Generasi Z? Lestari, Melina; Aimma, Sandhian Lasti; Cahyadi, Shafa Fajriandini; Putri, Khaila Alfiory Lestari Legowo; Mustofa, Mona Maimun
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 10, No 2 (2024): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v10i2.17187

Abstract

This research aims to examine the views of Generation Z women regarding the "marriage is scary" phenomenon, which reflects their concerns about marriage. The approach in this research is qualitative with a narrative method. Researchers interviewed 10 students from the Guidance and Counseling study program at Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA as a respondent. Researchers asked about the meaning of marriage, issues that make them worry about marriage and their views on the "marriage is scary" phenomenon.  The results of the research show that Generation Z women have a positive view of marriage, namely as a commitment that is full of challenges and concerns about violence that may occur and the increasingly widespread patriarchal culture. Apart from that, generation Z women also value marriage as a forum for personal growth and mutually supportive relationships. The worries they have in a marriage originate from both within themselves and outside themselves. The increasingly growing phenomenon of "Marriage is scary" strengthens their worries and increasingly encourages them to be more selective in finding a partner and to be more mentally prepared to move toward marriage. The implication for premarital guidance and counseling is that preventive services are needed that can resolve concerns about problems in marriage. _____________________________________________________________Penilitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan perempuan generasi Z mengenai fenomena “marriege is scary” yang mencerminkan apa saja kekhawatiran mereka dalam pernikahan. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode naratif. Peneliti mewawancarai 10 mahasiswi program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA sebagai responden. Peneliti  menanyakan makna pernikahan, isu yang membuat mereka khawatir akan pernikahan dan pandangan mereka tentang fenomena “marriage is scary”.  Hasil dari penilitian menunjukkan bahwa pandangan positif perempuan generasi Z terhadap pernikahan, yaitu sebagai komitmen yang penuh dengan tantangan dan kekhawatiran terhadap kekerasan yang mungkin akan terjadi serta budaya patriarki yang kian meluas. Selain dari itu perempuan generasi Z juga menghargai pernikahan sebagai wadah untuk pertumbuhan pribadi dan hubungan yang saling mendukung. Kekahawatiran dalam sebuah pernikahan yang dimiliki baik yang bersumber dari dalam diri dan luar diri mereka. Fenomena yang kian berkembang soal “marriage is scary” memperkuat rasa khawatir mereka dan makin mendorong mereka untuk lebih memilih dalam mencari pasangan juga lebih memantapkan mental untuk menuju jenjang pernikahan. Implikasi pada bimbingan dan konseling pranikah adalah diperlukannya layanan preventif yang dapat menyelesaikan kekhawatiran akan permasalahan dalam pernikahan.