Claim Missing Document
Check
Articles

Found 96 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Subjektivitas Seksualitas Perempuan Dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami Elianna, Yoana Putri; Sunarto, Dr; Dwiningtyas, Hapsari; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.899 KB)

Abstract

Pada hakikatnya setiap orang diciptakan sebagai subjek yang unik, baik laki-laki maupun perempuan. Namun realita dalam masyarakat patriarki seakan menempatkan lelaki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang subjektivitas seksualitas perempuan, proses terjadinya, serta gagasan dominan dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang (PEPL) karya Ayu Utami. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya teori standpoint; feminis posmodern dan woman writing; teori subjektivitas, identitas, dan seksualitas; teori representasi dan semiotika, serta ideologi.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika naratif yang dikembangkan Algirdas Julien Greimas. Analisis semiotika naratif terdiri atas analisis struktur luar dan analisis struktur dalam yang berisi makna serta manifestasi nilai dalam teks. Analisis struktur luar dilakukan dengan analisis aktansial dan fungsional yang menghasilkan sebuah aktan utama. Sedangkan pada analisis struktur dalam diperoleh hasil bahwa subjektivitas seksualitas perempuan merupakan hasil dari wacana kekuasaan patriarki. Subjektivitas seksualitas adalah adalah sikap yang diambil seseorang, dengan kesadaran penuh, sebagai subjek dalam menentukan peranannya dalam masyarakat. Ciri-ciri subjektivitas seksualitas perempuan adalah merasa telah menempatkan diri sebagai subjek secara sadar, memiliki kepercayaan diri, berani mengambil keputusan (risiko), memiliki suatu kebanggaan tersendiri, memiliki eksistensi di ranah privat dan publik, sehingga posisi perempuan sebagai istri dalam rumah tangga keluarga yang dibangun pun setara dengan suaminya. Ideologi dominan yang melahirkan subjektivitas seksualitas dalam novel adalah patriarkisme, kapitalisme, dan liberalisme. Patriarkisme berperan dalam menciptakan kesadaran tokoh A dalam novel PEPL sebagai perempuan yang teropresi. Kapitalisme memunculkan wacana ‘nilai’ pada suatu hal sehingga diagung-agungkan oleh masyarakat. Kemudian liberalisme menumbuhkan kesadaran tokoh A untuk memperoleh kesetaraan sesuai dengan sesamanya, yakni laki-laki. Ideologi-ideologi tersebut memiliki pengaruh penting untuk tokoh utama dalam novel PEPL untuk secara sadar memilih menjadi subjek. Baik sebagai subjek yang berkuasa maupun subjek yang tertundukkan oleh subjektivitas dominan.Penelitian ini membuka paradigma bahwa perempuan memiliki pilihan dalam hidup. Meskipun sangat sulit untuk mengaktualisasikan kebebasannya, perempuan harus tetap berusaha menjadi subjek atas dirinya sendiri. Kata kunci: subjektivitas, seksualitas, perempuan, woman writing, novel, semiotika naratif
Representasi Kecantikan Perempuan Berhijab pada Akun Instagram Selebgram Hijab (Analisis Wacana Sara Mills) Dina, Nisa Bela; S, Hapsari Dwiningtyas; Gono, Joyo NS; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.571 KB)

Abstract

The aim of this observation is to explain how beauty is being represented through instragram accounts of veiled selebgram. This observation uses three instragram accounts of Indonesian veiled selebgram which comprises stylish veiled selebgram, syar’i veiled selebgram, and niqab selebgram. This thesis is a qualitative observation by using Sara Mills analysis discourse method to examine the text of instagram account of veiled selebgram and to reveal ideologies within. Beauty myth theory and body disciplining by Naomi Wolf is used to unload the myth that enfolds body. The result of this observation shows that beauty myths are still exist, but in a different kind of strategy. Disciplinary in the form of body discipline is done and showed up through body posture, skin, and make up. In the end, veiled women in this text are remain unchained from beauty myth. Religious norm which is compromised with modernity and commercial cannot remove the existing myth.
Pengelolaan Kegiatan Community Relations untuk Penguatan Brand Positioning Telkomsel di Kalangan Remaja Sekolah Menengah Atas kota Semarang Ikhwan, Hendrianto Noor; Naryoso, Agus; Rahmiaji, Lintang Ratri; Lailiyah, Nuriyatul
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.221 KB)

Abstract

Telkomsel merupakan operator selular terbesar di Indonesia, dengan jumlah pengguna mencapai 131,5 juta pada akhir tahun 2013. Dalam perkembangannya, industri operator selular memiliki persaingan bisnis yang ketat. Segmen remaja merupakan market potensial yang diperebutkan oleh berbagai operator selular. Sehingga dibutuhkan pendekatan pada remaja melalui kegiatan community relations yang baik dan sesuai dengan remaja agar terbentuk brand positioning perusahaan yang kuat.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perencanaan strategis kegiatan community relations Telkomsel untuk penguatan brand positioningdi kalangan remaja SMA. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam (indept Interview) dengan beberapa orang atau narasumber yang memiliki wewenang dalam melaksanakan kegiatan community relations PT Telkomsel.Hasil penelitian ini menunjukkan perencanaan strategis yang dilakukan Telkomsel divisi Youth and Community dalam mengelola kegiatan community relations untuk penguatan brand positioning di kalangan remaja SMA di kota Semarang melalui tahapan analisis, penyusunan tujuan, identifikasi dan segmentasi sasaran, perumusan pesan, strategi, taktik, ketepatan waktu, sumberdaya, evaluasi dan review. Dengan fokus strategi dan taktik yang digunakan adalah pendekatan event/group yang ditunjukkan melalui berbagai macam kegiatan dan sponsorship untuk segmen remaja.Perusahaan harus menjaga konsistensi pendekatan-pendekatan yang dilakukan pada segmen remaja agar terbentuk brand positioning Telkomsel yang baik dan tidak hanya bersifat sementara. Sehingga hubungan baik antara perusahaan dan komunitas selalu terjaga.Kata kunci : Community Relations, Perencanaan Strategis, Brand Positioning.
Identifying the Motivational Factors Influence The Consumption of Buying Items in Game Defences of The Anchient 2 Putri, Rieda Anindita; Setyabudi, Djoko; Purbaningrum, Dwi; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.633 KB)

Abstract

Game is one form of implementation of the technological advances in the realm ofcommunication media. The game can be used as a medium conveys messages and allow forfeedback from the message. Game is also designed as a means of entertainment to fill inspare time made universal. DotA2 is multiplayer game with the highest user in Indonesia.The game is themed multiplayer online battle arena video games, with the format of threedimensional(3D). In addition to playing the game, players can buy items that are in the gameas a complementary game. Player purchase with virtual money and buy in a virtual store.Amount DotA2 spent in the virtual shop is amazing. In fact, the goods they purchase invirtual shop could not be held and owned real, whereas money spent not a little.This study aims to determine the motivating factors that influence purchasingbehavior items in the game Defense of the Ancients 2. This quantitative explorative studycollecting primary data from 100 people with a research instrument questionnaire. Analysisof the data used is the technique of factor analysis. A total of 12 factors have been tested withKMO and Bartlett's Test unknown value is 0.963 with 0.000 significance. Then through acalculation model of Principal Component Analysis (PCA) obtained two groups of factorsthat includes 12 factors tested, in other words, all factors tested escaped. All of these factorscontributed 77.346 per cent of the purchase motivation in Game DotA2 items.Personal Interest Factor is the most powerful motivating factor. These factors areknown to contribute as much as 65.745%. This factor is labeled Personal Interest Factorbecause it consists of motivated interest in the items on DotA2, the ease of access to thevirtual shop DotA2, and feelings of pleasure that is in the player when transacting in thevirtual shop. The fourth main variables of the next factor is the decoration, benefits,relatedness, and fun including the Pleasure Factor which is a form of interest because it givespleasure.
Pengaruh Interaksi Peer Group dan Self-esteem Terhadap Preferensi Pemakaian Krim Pemutih Kulit Pada Remaja Perempuan Hanna Oliviati, Nur; Ratri Rahmiaji, Lintang
Interaksi Online Vol 9, No 3: Juli 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peer group interaction and self-esteem play an important role in the lives of adolescents because adolescence is a time of transition and identity exploration. Teenagers frequently want to be recognized by their peers during this time period. Furthermore, adolescents are said to be preoccupied with their appearance. One of the things that teenage girls can do to achieve this recognition is to use a skin whitening cream. The goal of this study was to see how peer group interactions affected preferences for skin whitening cream usage, as well as how self-esteem affected preferences for skin whitening cream usage in adolescent girls. Non-probability sampling was used, with a total sample of 100 respondents being adolescent girls aged 15 to 21 years in Semarang City who used skin care products. Based on hypothesis testing using simple regression analysis, it is revealed that: first, the significance value of the peer interaction variable (X1) is 0.000 (0.05), indicating that peer group interaction and self-esteem have a significant influence on usage preferences. skin whitening cream in adolescent girls, where the direction is positive, implying that the higher the adolescent's preference for using skin whitening cream, the higher the adolescent's preference for using skin whitening cream. Then the self-esteem variable has a value of 0.000 (0.05). That is, the self-esteem variable (X2) has a significant negative effect on the preference for skin whitening cream (Y), indicating that the higher the self-esteem, the lower the adolescent's preference for using skin whitening cream. Suggestions for future research include the ability to conduct research with other independent variables that may affect the preference for using skin whitening creams besides peer group and self-esteem in order to gain more knowledge about preferences for using skin whitening creams.
PENGARUH DAYA TARIK BRAND AMBASSADOR DAN INTENSITAS KOMUNIKASI ELECTRONIC WORD OF MOUTH TERHADAP MINAT BERTRANSAKSI DI LAZADA Septiana Hadiwinoto, Jessica; Ratri Rahmiaji, Lintang; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of online shopping is now increasingly widespread and much in demand by the public. Various e-commerce are present in Indonesia and compete to be number one. In addition, the Hallyu/Korean Wave phenomenon emerged which made ecommerce attract brand ambassadors from South Korea to represent their brand. Lazada as one of the e-commerce sites in Indonesia also applies this strategy, for the first time Lazada uses a brand ambassador which is expected to increase interest in transacting on Lazada. In addition, data shows that 24% of the public get information about e-commerce through word of mouth communication, which at this time can also occur through internet intermediaries or called electronic word of mouth. This study aims to determine the effect of brand ambassador attractiveness and the intensity of electronic word of mouth communication on interest in transacting at Lazada. The theory used in this research is Source Attractiveness theory and Buyer Information Environment theory. The test is done by simple regression test with nonprobability sampling technique. The sample used was 50 people aged 18-25 years, knowing Lazada's brand ambassadors, had talked about Lazada online. The results showed that the attractiveness of the brand ambassador (X1) on the interest in transacting at Lazada (Y) had a significance value of 0.025 which means that it shows effect. Then, the intensity of electronic word of mouth (X2) communication on interest in transacting at Lazada (Y) has a significance value of 0.006 which means it also shows an effect
Representasi Standardisasi Kecantikan Wanita dalam Film “I Feel Pretty (2018)” Ginting, Stefany; Sunarto, Sunarto; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 10, No 2: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film ialah salah satu media massa yang mengantarkan pesan secara langsung ataupun tidak langsung kepada khalayak luas. Standardisasi terhadap tubuh wanita menghadirkan beberapa kelompok yang tidak sesuai dengan standar kecantikan di lingkungan menjadi kelompok yang termajinalkan, padahal kecantikan merupakan rekaan kelompok patriarki dan hal ini menunjukkan bahwa wanita adalah kaum yang didominasi oleh pria. Penelitin ini memiliki tujuan untuk menguraikan representasi standardisasi kecantikan yang ditampilkan dalam film I Feel Pretty 2018. Penelian ini merupakan penelitian dengan menggunakan paradigma kritis, yang mengggunakan teori kebungkaman (Muted Group Theory) dan juga Feminisme Eksistensial. Subjek pada penelitian ini adalah adegan pada film I Feel Pretty (2018) yang menunjukan standarisasi kecantikan wanita dengan observasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis data Semiotika dari Roland Barthes yaitu menggunakan Analisis Naratif Struktural (structural analysis of narrative) dengan leksia dan 5 kode pembacaan. Film I Feel Pretty (2018) menguraikan bahwa wanita menghadapi sebuah persoalan mengenai ukuran dan bentuk tubuh secara fisik yang dijadikan sebuah standar kecantikan. Dimana, standar ini sudah ada sejak dahulu kala. Cita-cita untuk menggapai standar kecantikan begitu meresap sehingga tertanam dalam diri banyak wanita, yang dihantui oleh visi ideal tentang tubuh mereka sendiri, fantasi tentang bagaimana penampilan mereka setelah menjalani diet ekstrem, berolahraga atau prosedur kosmetik. Hasil dari penelitian ini juga menghasilkan bahwa film I Feel Pretty (2018) membentuk mitos berupa sebuah penyangkalan terhadap standar kecantikan dengan cara meningkatkan kualitas diri sendiri. Sikap itu menempatkan tanggung jawab pada setiap wanita untuk meningkatkan harga diri mereka alih-alih mengkritik standar kecantikan masyarakat. Tetapi untuk menyangkal standar kecantikan ini wanita masih dihadapkan dengan batasan yang dihadirkan oleh budaya patriarki dan kapitalisme.
Produksi Program Acara Berita Feature “Harmoni Islam” di Cakra Semarang TV sebagai Produser Muhammad Imaduddin; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata; Hedi Pudjo Santosa; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.212 KB)

Abstract

Televisi memiliki peran penting bagi sarana edukasi dan hiburan bagi masyarakat. Persaingan antar televisi saat pada bulan Ramadhan terbilang cukup ketat. Stasiun televisi menjadikan momentum Ramadhan dengan membuat berbagai macam program dengan balutan Islami namun minim makna.Harmoni Islam sebagai sebuah program news feature hadir sebagai alternatif tayangan pada bulan Ramadhan. Harmoni Islam mengangkat topik-topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dibahas dengan bahasa yang ringan namun tidak meninggalkan esensi.Pada program Harmoni Islam. produser bertugas untuk merencanakan topik apa yang akan diangkat, membuat rencana kerja, membuat anggaran produksi, membuat perijinan, hingga membuat agenda wawancara kepada narasumber. Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan di Cakra Semarang TV setiap hari selama Bulan Ramadhan mulai dari tanggal 28 Juni 2014sampai 27 Juli 2014 pukul 17.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan masyarakat mendapatkan tayangan yang mendidik mengedukasi dan menambah informasi khalayak mengenai serba-serba Islam sehingga meningkatkan ibadah di Bulan Ramadhan dan menambah wawasanKata kunci : News Feature, jurnalistik, program acara, Islam
Kampanye Public Relations Untuk Penguatan Positioning Batik Jayakarta Melalui Event Batik Fashion Week 2014 Yulistra Ivo Azhari; Agus Naryoso; Lintang Ratri Rahmiaji; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.7 KB)

Abstract

Batik Jayakarta merupakan salah pilihan untuk fashion batik di kota Semarang. Batik Jayakarta melakukan pendekatan promosi yang baik untuk masyarakat Kota Semarang. Promosi melalui media baru telah ditekuni oleh Batik Jayakarta seperti adlips di lampu merah, mini baliho yang bekerja sama dengan pos polisi, dan mencari endorse untuk memasarkan produknya. Namun, pemasaran ini belum menyentuh segmentasi anak muda. Minat anak muda untuk mengunjungi toko batik dan minat menggunakan batik masih rendah. Maka, laporan karya bidang ini disusun untuk meningkatkan brand awareness Batik Jayakarta dan meningkatkan minat anak muda memakai batik.Karya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasive serta penerapan teori -teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya. Melalui penyelenggaraan serangkaian event “Batik Fashion Week 2014”. Acara ini dinilai efektif untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap Batik Jayakarta. Roadsho w diselenggarakan di berbagai sekolah dan universitas di kota Semarang. Acara puncak “Batik Fashion Week” diselenggarakan di kawasan Kota Lama Semarang dengan bekerjasama dengan para desainer batik dan komunitas - komunitas yang ada di Jawa Tengah.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkan riset pasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak 16% dari yang semula 30% menjadi 46%. Sedangkan minat untuk memakai batik juga meningkat sebesar 15 % dari yang semula 20% menjadi 35%. Dengan demikian, rangkaian kampanye PR melalui event ini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal.Karya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspek akademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untuk memperkaya pengetahuan akan penerapan strategi persuasive dan penerapan teori kampanye PR dalam pencapaian tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktis memberikan pengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yang efektif sesuai dengan target audiens serta tujuan komunikasinya.Keywords : fashion, batik, skripsi, event
Fenomena Selfie Kalangan Remaja Perempuan di Instagram Puji Purwati; Hedi Pudjo Santosa; Lintang Ratri Rahmiaji; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.953 KB)

Abstract

Fenomena selfie merupakan fenomena yang lahir dari perkembangan teknologi yang semakin pesat. Selfie adalah seni foto diri yang biasanya dilakukan sendirian atau bersama orang lain dengan menggunakan kamera yang ada pada handphone dan gadget canggih lainnya, kemudian diupload ke situs – situs jejaring sosial. studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi untuk memberikan penjelasan tentang pengalaman remaja perempuan dalam aktivitas selfie di Instagram serta untuk mengetahui konsep diri mengenai penampilan fisik yang terbentuk dalam diri masing – masing remaja perempuan, karena penelitian ini juga melibatkan isu – isu kecantikan perempuan dengan konsep cantik putih, tinggi, dan langsing yang selama ini media massa ciptakan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Interaksi Simbolik karya dari George Herbert Mead dan Herbert Blumer dengan didukung oleh Teori Media Baru dan Teori Mitos Kecantikan Perempuan karya Naomi Wolf.Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja perempuan berlomba – lomba untuk terlihat cantik melalui sebuah foto selfie yang mereka upload di media sosial Instagram, dan mereka juga memiliki pose – pose selfie favorit yang sering digunakan saat selfie, yang mana pose – pose tersebut adalah pose – pose selfie yang dipercaya mampu mendongkrak kecantikan fisik yang mereka miliki. Remaja perempuan pelaku selfie memiliki alasan yang beragam mengapa mereka menyukai selfie, tetapi alasan dan motivasi yang paling krusial adalah karena mereka ingin menunjukkan penampilan fisik yang dimilikinya. Selfie menjadi kebutuhan dalam diri remaja perempuan, sehingga mereka cenderung menghiraukan penilaian orang lain terhadap foto selfie yang dihasilkan, dalam arti penilaian orang lain akan foto selfie-nya tidak memberikan pengaruh yang besar bagi remaja perempuan dalam menilai dirinya sendiri, karena remaja perempuan menilai diri mereka berdasarkan dengan pemahaman mereka atas diri mereka sendiri bukan hanya karena penilaian dari orang lain.Adapun hal menarik yang membuktikan bahwa remaja perempuan yang tidak dinilai cantik secara sosial, justru mereka lebih percaya diri mengenai kecantikan atau penampilan fisik mereka, sehingga konsep diri mereka cenderung positif. Dari fenomena selfie, konsep diri positif dapat terlihat pada aktivitas mereka saat sebelum upload selfie, yaitu mereka tidak memanipulasi foto selfie-nya secara berlebihan, karena mereka dapat menerima diri apa adanya, sedangkan untuk remaja perempuan yang sering dinilai cantik secara sosial, justru dia memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah, dan konsep diri yang negatif. Dari fenomena selfie, konsep diri negatif pada diri remaja perempuan ditunjukkan dari aktivitasnya dalam melakukan selfie, yang mana dia selalu berusaha untuk memanipulasi foto selfie-nya secara berlebihan dengan cara merubah bentuk – bentuk wajah dan tubuhnya pada foto selfie-nya tersebut.
Co-Authors ABDURRAHIM DJALINS, RAZI Abimanyu Satriyo Wicaksono Ade Armando Adi Nugroho Adi Nugroho Afi Sultan Ramadhan, Muhammad Afiati Tsalitsati, Afiati Afra Widyawiratih Arini Afra, Adeela Afrilia Wening Anindya Agus Naryoso Agustina Rahmawati Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Akmalia Rasyid, Alifa Alya Azma Fazira Alya Nur Hana Amrina, Afrilla Anastasya Yuca Venina Andre Ghozali Putra Riyadi Anike Puspita Yunita Anissa Meiriam Swastinastiti Antika Yolanza Apriyani, Tiara Arbi Azka Wildan, Arbi Azka Arham Syarif, Muhamad Arlinda Nurul Nugraharini Arum Sawitri Wahyuningtias Azalea Puspa Sessarina Azif, Zahra Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Bambang Sadono Bambang Sadono Bayu Satwika, Jonathan Bayu Widagdo, Muhammad Bethania Swasti Akmarani Chela Merchela Funay Dafa H.D, Krisna Desynta Kurnia Hapsari Dhea Ayu Fairuzha Djoko Setyabudi DR Sunarto Dwi Purbaningrum, Dwi Estadista Herdini, Reyna Faiz Syarafullana, Mirwa Farhan Haritz, Abdullah Fitri Damayanti Frans Agung Prabowo Freshia Trinanda Hamid Geralda Mewengkang, Rafaela Ginting, Stefany Hanifah Widyadhana, Nastiti Hanna Oliviati, Nur Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasan Hendratmoko Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrianto Noor Ikhwan Herusna Yoda Sumbara I Nyoman Winata Iffah Shofiyah Ariefah Indra Pratama Isti Prabandari, Ayu Josinita Endah Juniarlin Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Juwita Veronica Kaisya Ukima Tiara Anugrahani Keke Meidyluana Sitalaksmi Kristiawan Agma Bima Setyanto Liza Margaret, Liza M Bayu Widagdo Maria Gabrielle P., Maria Marisa Arum Larasati Mayangsari Cantika Mutiara Mellisa Indah Purnamasari Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Imaduddin Naabigha, Tsaabitah Nanda Dwitiya Swastha Nisa Bela Dina, Nisa Bela Nisa Safitri, Aiko Nisrina Aulianovanda, Althafa NUR CAHYANINGSIH, DEWI Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurul Hasfi Nurul Syifa, Salsa Octari Ambarita, Angelica Oki Riski Karlisna Osa Patra Rikastana Pehulisa, Karin Primada Qurrota Ayun Puji Purwati Qonita Andini, Annisa Raghabendra, Octova Rakanita Oktaviani Hadi Saputri Rezeki Amalia, Annisa Rieda Anindita Putri, Rieda Anindita Rimadhani Putri Budiana Rizka Rahmawati Rizki Rengganu Suri Perdana Rony Kristanto Setiawan S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Safira Nurin Aghnia Septiana Hadiwinoto, Jessica Siska Ratih Dewanti Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Surya Mutumanikam, Gempita Tandiyo Pradekso Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Titiek Hendriama Titiek Hendriama, Titiek Tri Fajariani Fauzia Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Vivi Yolanda Wafda Afina Dianastuti Warapsari, Dhyayi Wimala Wimardana Wiwid Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yoana Putri Elianna Yohanes Erik Wibawa Yoshita Rindha Anggraini Yulistra Ivo Azhari Yunni Wulan Ndari Yunusiah, Septia