Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Indigenous Biologi

MORFOMETRI BUNGA DAN POTENSI PENGEMBANGAN UMBI SUWEG (Amorphophallus campanulatus) DI PULAU TIMOR Hanas, Dicky Frengky
Indigenous Biologi : Jurnal Pendidikan dan Sains Biologi Vol 6 No 2 (2023): Indigenous Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Kristen Artha Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33323/indigenous.v6i2.415

Abstract

Suweg merupakan tumbuhan genus Amorphophallus yang termasuk dalam kekayaan keanekaragaman hayati tanaman berbunga dan berumbi dengan kekhasannya yang terletak pada fase hidup dan juga keunikan bentuk, warna dan ukuran bunga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan morfologi bunga dan potensi umbi suweg. Eksplorasi dan pengamatan langsung dilakukan untuk mendeskripsikan morfologi dan morfometri bunga serta wawancara dan telaah pustaka untuk mengetahui pemanfaataan dan potensi umbi suweg. Bunga suweg yang ditemukan didominasi campuran warna hijau kekuningan, kuning dan ungu kecoklatan. Memiliki tinggi ±20 cm dari permukaan tanah dengan diameter kemekaran bunga ±25 cm. Bagian-bagian bunga secara langsung dapat diamati dengan jelas yang menjadi kekhasan kelompok tanaman ini yaitu spadix/appendix, spathe dan alat kelamin bunga. Kelompok tanaman yang menghasilkan umbi ini diketahui memiliki banyak manfaat sehingga sangat berpotensi untuk dapat dikembangkan. Umbi suweg sangat direkomendasikan sebagai pangan alternatif sumber karbohidrat pengganti beras. Dalam industri pengolahan pangan, tepung umbi suweg memiliki sifat fisik dan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan aneka olahan pangan. Di Nusa Tenggara Timur khususnya Pulau Timor, umbi suweg belum mendapat perhatian dan pengelolaan yang baik dalam hal sumber pangan maupun dalam sistem pertanian.
Perlakuan Sakarifikasi Fisik, Stratifikasi Suhu, H2SO4, dan Giberelin terhadap Pematahan Dormansi dan Perkecambahan Biji Lontar (Borassus flabillifer L.) Tnunay, Ite Morina Yostianti; Hanas, Dicky Frengky; Mata, Meri Helsiana
INDIGENOUS BIOLOGI : JURNAL PENDIDIKAN DAN SAINS BIOLOGI Vol 7 No 1 (2024): INDIGENOUS BIOLOGI : JURNAL PENDIDIKAN DAN SAINS BIOLOGI
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Kristen Artha Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33323/indigenous.v7i1.586

Abstract

Lontar termasuk anggota tumbuhan palem-paleman multi fungsi karena hampir seluruh bagiannya telah diketahui dapat dimanfaatkan. Bagi beberapa kelompok etnis masyarakat, tumbuhan ini tergolong sangat penting berdasarkan indeks kepentingan budaya, walaupun begitu pemanfaatan lontar masih mengandalkan tumbuhan yang tumbuh secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan yang efektif terhadap perkecambahan biji lontar. Metode uji perkecambahan menggunakan perlakuan sakarifikasi, stratifikasi suhu, H2SO4 dan giberelin dengan tiga taraf uji pada setiap perlakuan, menggunakan biji lontar matang fisiologis dengan berat 70-170 g. Perlakuan sakarifikasi meliputi pengurangan sabut benih dengan metode pengamplasan, pembuatan goresan dengan cutter sepanjang punggung benih dan pembuatan goresan di sekitar titik tumbuh benih. Pemberian perlakuan stratifikasi suhu dilakukan dengan merendam benih pada suhu kamar 25°C, 50°C, dan 75°C selama 24 jam dan kemudian dibiarkan dingin. Perendaman benih dengan H2SO4 dilakukan pada tiga konsentrasi berbeda yaitu 25%, 50%, dan 75% selama masing-masing 10 menit. Perendamana dengan giberelin menggunakan tiga konsentrasi yakni 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm selama 24 jam. Jumlah biji lontar yang berkecambah bervariasi pada tiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji lontar mulai berkecambah pada hari kedua setelah tanam. Presentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan sakarifikasi yakni 32-36%. Sedangkan presentase tertinggi biji yang berkecambah dengan normal terdapat pada perlakuan sakarifikasi yang dilakukan pada sekitar titik tumbuh dan juga pada perlakuan giberelin 100 ppm masing-masing sebesar 24%.