Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Media Matrasain

KETERSEDIAAN PRASARANA DAN SARANA PERMUKIMAN DI KECAMATAN SONDER Lefrando J. Rumagit; Judy O. Waani; Michael M. Rengkung
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37063

Abstract

Sonder sub-district is one of the districts that is included as a district growth center, namely the local activity center (PKL) in the 2014-2034 RTRW of Minahasa. As for the RTRW direction in article 5 paragraph 2 letter g, regarding increasing the availability and quality of infrastructure services and supporting facilities for urban and rural activities. This study will identify and analyze the availability of infrastructure and facilities for settlements in Sonder District based on SNI 03-1733-2004 supported by other existing standards. The analysis method used is descriptive qualitative method in identifying data by obtaining primary data through field observations, taking documentation, and interviews with sub-district and village governments, as well as quantitative descriptive methods in analyzing data, as well as spatial analysis methods to determine the distribution of infrastructure and settlement facilities. also as an analysis of the service radius of the facility. The results of the discussion show that there are some inadequate infrastructure and facilities such as road infrastructure and solid waste infrastructure. where road infrastructure, traffic lane widths are not up to standard, and solid waste infrastructure, TPS and local TPA are not yet available, so most people still throw garbage in any place, such as drainage, and rivers. For facilities, educational facilities still require an additional 6 units for kindergarten, and 1 unit for senior high schools.
Analisis Strategi Pengembangan Kawasan Transit Oriented Development di Kota Manado Rawis, Gloria Mariane; Rogi, Octavianus H. A.; Rengkung, Michael M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas yang meningkat menyebabkan perkembangan transportasi di Kota Manado, namun juga memicu kemacetan. Sebagai solusi, penerapan konsep TOD merupakan pendekatan alternatif dalam mengatasi permasalahan transportasi, tujuan utama TOD adalah menciptakan kawasan yang terintegrasi dan efisien yang menggabungkan berbagai fungsi (mixed-use), memiliki tingkat kepadatan yang tinggi, serta mendukung mobilitas pejalan kaki. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskripstif kuantitatif dengan proses analisis spasial yang dilakukan pada lima lokasi potensial zona TOD di Kota Manado yakni zona Malalayang, Zona Pusat Kota, zona Tuminting, zona Paal Dua dan zona Kota Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua zona potensial belum memenuhi standar ideal baik variabel design, diversity maupun density, dengan zona Pusat Kota (PPK) sebagai yang paling mendekati kriteria TOD terutama pada aspek desain jalur pedestrian dan keberagaman fungsi lahan, sementara zona Malalayang, Tuminting, Paal Dua, dan Kota Baru masih mengalami kekurangan signifikan dalam fasilitas pedestrian, kepadatan bangunan, serta integrasi moda transportasi. Analisis gap mengungkap perlunya peningkatan eksisting variabel penyusun TOD, dengan prioritas pengembangan berdasarkan metode AHP berturut-turut pada Pusat Kota (skor 0,332), Malalayang (skor 0,287), Paal Dua (skor 0,277), Kota Baru (skor 0,193), dan Tuminting (skor 0,182), di mana zona dengan kesiapan rendah membutuhkan perencanaan pengadaan awal yang lebih besar dari pemerintah dan pemangku kepentingan agar mencapai standar dari pengembangan kawasan TOD.Population growth and increased activity have driven transportation development in Manado City but have also led to traffic congestion. As a solution, the implementation of the Transit Oriented Development (TOD) concept offers an alternative approach to addressing transportation problems. The primary goal of TOD is to create integrated and efficient areas that combine various functions (mixed-use), have high density levels, and support pedestrian mobility. This study employs a quantitative descriptive analysis method combined with spatial analysis conducted across five potential TOD zones in Manado City: Malalayang, Pusat Kota, Tuminting, Paal Dua, and Kota Baru. The results indicate that nearly all potential zones have yet to meet the ideal standards in terms of design, diversity, and density variables. The Pusat Kota zone (PPK) is closest to the TOD criteria, particularly regarding pedestrian pathway design and land use diversity, while Malalayang, Tuminting, Paal Dua, and Kota Baru still face significant deficiencies in pedestrian facilities, building density, and transportation mode integration. Gap analysis reveals the need to improve the existing TOD components, with development priorities based on the Analytical Hierarchy Process (AHP) scores in the following order: Pusat Kota (0.332), Malalayang (0.287), Paal Dua (0.277), Kota Baru (0.193), and Tuminting (0.182). Zones with lower readiness require more extensive initial planning and support from the government to receive TOD development standards
ANALISIS KARAKTERISTIK LANSEKAP BUDAYA DI KECAMATAN SANGALLA KABUPATEN TANA TORAJA Tandi, Sri Septyani; Rengkung, Michael M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Sangalla merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakter lansekap budaya yang telah ada secara turun-menurun. Lokasi yang strategis berbatasan langsung dengan Kota Makale, hanya berjarak tempuh sekitar 7 km dari Kota Makale Kabupaten Tana Toraja. Di Kecamatan Sangalla sendiri terdapat berbagai elemen budaya toraja, seperti tongkonan (rumah adat), alang (lumbung padi), kuburan batu dan tradisi adat rambu solo' (upacara kematian) yang sudah turun-temurun. Kecamatan Sangalla menyimpan kekayaan budaya yang tak kalah menarik dengan Kete’ Kesu kawasan wisata budaya yang sudah dikenal. Salah satu kekhasan yang dimiliki Kecamatan Sangalla adalah keberadaan situs pemakaman bayi di dalam pohon (baby grave) serta memiliki sebuah museum lokal yang menyimpan berbagai peninggalan yang menggambarkan kehidupan puang di masa lalu. Apabila tidak dikelola secara optimal, maka kualitas karakter lansekap budaya yang dimiliki oleh Kecamatan Sangalla ini akan mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik lansekap budaya yang ada di Kecamatan Sangalla, menganalisis kekuatan dan peluang yang dapat mempengaruhi keberlanjutan lansekap budaya serta memberikan rekomendasi pengelolaan untuk pelestarian lansekap budaya di Kecamatan Sangalla. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan analisis spasial untuk mengidentifikasi karakteristik lansekap budaya di Kecamatan Sangalla dan analisis SWOT untuk menganalisis kekuatan dan peluang untuk pengelolaan pelestarian lansekap budaya ABSTRACT Sangalla Sub-district is one of the sub-districts in Tana Toraja Regency that possesses a cultural landscape character inherited through generations. Strategically located, it directly borders Makale City and is only about 7 kilometers away from the capital of Tana Toraja Regency. Sangalla is home to various Torajan cultural elements such as tongkonan (traditional houses), alang (rice barns), stone graves, and the traditional Rambu Solo' (funeral ceremony), all of which have been passed down over time. The sub-district holds cultural richness that is no less significant than Kete’ Kesu, a well-known cultural tourism area. One of Sangalla’s unique features is the presence of baby graves placed inside trees, as well as a local museum that houses various relics representing the historical life of the Torajan nobles (puang). If not managed properly, the cultural landscape character of Sangalla Sub-district is at risk of degradation. This study aims to identify the characteristics of the cultural landscape in Sangalla, analyze the strengths and opportunities that support its sustainability, and provide management recommendations for its preservation. The methods used in this study include descriptive qualitative and spatial analysis to identify the cultural landscape characteristics, and SWOT analysis to assess the strengths and opportunities for the sustainable management of the cultural landscape.