Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPTIF BAHASA JERMAN MELALUI MODEL PROJECT-BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA PIXTON Wahyuni, Tri; Suyatno, Suyatno; Ridwan, Agus
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10728

Abstract

ABSTRACT The ability to write descriptive texts in German language learning remains a challenge for students due to limitations in developing ideas, using appropriate vocabulary, and constructing sentences according to grammatical rules. This condition emphasizes the importance of implementing learning strategies that encourage more participatory learning activities, are contextually relevant, and foster students’ creativity. Therefore, this study focused on improving descriptive writing skills in German through the implementation of Project-Based Learning supported by the Pixton digital comic media. This study employed the Classroom Action Research (CAR) method based on the Kemmis and McTaggart model, which was conducted in two learning cycles. Each cycle consisted of planning, action implementation, observation, and reflection stages. The research involved 36 students of class XI-8 at SMAN 1 Driyorejo as the research subjects. Data collection techniques included writing skill tests, observations of learning activities, and documentation of the projects produced by students. The research data were analyzed descriptively using quantitative and qualitative approaches to identify improvements in learning achievement as well as the development of students’ participation during the learning process. The findings demonstrated a progressive improvement in students’ writing skills. The average learning outcomes increased gradually from 53 before the intervention to 68 in the first cycle and 82 in the second cycle. In addition to improving academic achievement, the use of Pixton media also assisted students in organizing ideas more systematically, expanding vocabulary mastery, improving grammatical accuracy, and encouraging active participation throughout the learning process. Thus, this study indicates that the integration of Project-Based Learning and digital visual media can serve as an effective instructional innovation for enhancing German writing skills at the secondary school level. ABSTRAK Kemampuan menulis deskriptif dalam pembelajaran Bahasa Jerman masih menjadi tantangan bagi peserta didik karena keterbatasan dalam mengembangkan ide, menggunakan kosakata secara tepat, serta menyusun struktur kalimat sesuai kaidah bahasa. Kondisi ini menegaskan pentingnya penerapan strategi pembelajaran yang dapat menghadirkan aktivitas belajar secara lebih partisipatif, relevan dengan konteks, serta mampu mengembangkan kreativitas peserta didik. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada upaya peningkatan keterampilan menulis deskriptif dalam Bahasa Jerman melalui implementasi Project-Based Learning yang didukung media komik digital Pixton. Penelitian ini menggunakan metode Classroom Action Research (CAR) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran. Setiap siklus mencakup tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, serta refleksi. Penelitian melibatkan 36 peserta didik kelas XI-8 SMAN 1 Driyorejo sebagai subjek penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan menulis, pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran, dan dokumentasi proyek yang dihasilkan peserta didik. Data penelitian dianalisis secara deskriptif melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mengidentifikasi peningkatan capaian belajar serta perkembangan partisipasi peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Hasil penelitian memperlihatkan adanya peningkatan kemampuan menulis secara progresif. Rata-rata hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan bertahap, dari 53 sebelum tindakan menjadi 68 pada siklus pertama dan 82 pada siklus kedua. Selain berdampak pada peningkatan hasil belajar, penggunaan media Pixton juga membantu peserta didik dalam menyusun ide secara lebih terstruktur, memperluas penguasaan kosakata, meningkatkan ketepatan penggunaan struktur bahasa, serta mendorong partisipasi aktif selama pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa perpaduan antara pembelajaran berbasis proyek dan media visual digital dapat dijadikan inovasi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan menulis Bahasa Jerman pada jenjang sekolah menengah.
Representasi Rasisme dan Seksisme Di Jerman Dalam Pemberitaan Deutsche Welle Melalui Analisis Wacana Kritis Model Siegfried Jäger Clarissa Winda Pramesti; Agus Ridwan
Prawara: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7 No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jpbsi.2026.7.1.19923

Abstract

This descriptive qualitative study aims to uncover the representation of racism and sexism in the news article "Deutschland: Rassismus und Sexismus nehmen zu" on the Deutsche Welle (DW) website. Utilizing Siegfried Jäger’s Critical Discourse Analysis (CDA), the research dissects the text through five primary dimensions: institutional framework, textual surface, linguistic-rhetorical means, ideological statements, and interpretation. The analysis of the institutional framework reveals that DW frames these issues as urgent social problems, aligning with their core values of freedom and equality. Regarding the textual surface, information is organized systematically and coherently. Through rhetorical tools and ideological statements, the study finds that specific word choices and sentence constructions depict racism and sexism as serious threats that undermine democracy and fuel national concern. Ideologically, the discourse demands a stronger state role to drive structural change. The interpretation phase confirms that racism and sexism are not merely individual issues but systemic problems weakening the social fabric. The study concludes that DW’s representation is not neutral; the media outlet actively shapes public opinion by highlighting gender inequality in the workplace and criticizing the state's inadequate response. Ultimately, DW positions itself as an observer advocating for reform and stronger protection for vulnerable groups in Germany.
POLA FREKUENSI DAN INTENSITAS KALIMAT TANYA BAHASA JERMAN SEBAGAI PENENTU PERBEDAAN KARAKTERISTIK SUARA GENDER PADA BRANDED CONTENT EDEKA Yoanita Aprilia Asokawati; Agus Ridwan
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 11 No 2 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v11i2.2859

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola frekuensi dan intensitas kalimat tanya dari dua gender yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Kalimat tanya yang diperoleh melalui sumber data branded content berbahasa Jerman yang terdapat pada kanal resmi EDEKA. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan campuran antara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan instrumental, yang memanfaatkan PRAAT untuk menganalisis frekuensi fundamental dan intensitas pada suara kedua gender tersebut. Data dipilih melalui purposive sampling berdasarkan adanya kalimat tanya, kejelasan vokal, dan perbedaan gender penutur rekaman video EDEKA. Nilai frekuensi fundamental pada laki-laki umumnya sebesar sekitar 120 Hz dan nilai frekuensi fundamental pada perempuan sebesar sekitar 210 Hz. Pada hasil analisis, terdapat penutur laki-laki memiliki nilai frekuensi dengan rerata di bawah 150 Hz, sedangkan penutur perempuan memperoleh nilai frekuensi fundamental dengan rerata di atas 200 Hz. Meskipun demikian, nilai intensitas rerata antara penutur laki-laki tidak berbeda jauh dengan intensitas penutur perempuan. Dengan hasil tersebut penelitian ini dapat mengindikasikan adanya perbedaan pola linguistik antara kedua gender tersebut. Studi ini memberikan wawasan baru tentang kajian fonetik dalam analisis prosodi khususnya pada pengukuran frekuensi dan intensitas pada kalimat tanya bahasa Jerman dalam konteks branded content berbahasa Jerman.
SATUAN LINGUAL PENGISI GATRA DEPAN (VORFELD) BAHASA JERMAN PADA BUKU NETZWERK NEU B1 Muhammad Dzamir Abrar Abidin; Agus Ridwan
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.47626

Abstract

Penelitian ini mengkaji satuan lingual pengisi gatra depan (Vorfeld) dalam kalimat deklaratif bahasa Jerman pada buku Netzwerk Neu B1. Permasalahan penelitian berfokus pada distribusi konstituen di posisi Vorfeld serta status gramatikalnya berdasarkan teori valensi verba bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan bentuk kelas kata (Wortklassen) yang menduduki posisi Vorfeld serta menentukan statusnya sebagai argumen (Ergänzung) atau adjung (Angabe). Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa teks bacaan formal dalam buku Netzwerk Neu B1. Data dikumpulkan melalui teknik simak catat dan dianalisis menggunakan teori Verbvalenz dan Wortklassen dari Engel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi Vorfeld memiliki fleksibilitas sintaktis yang tinggi, tetapi tetap terikat pada aturan topologi dan valensi bahasa Jerman. Satuan lingual yang mengisi Vorfeld ditemukan berstatus sebagai argumen wajib maupun adjung opsional. Dari segi kelas kata, Vorfeld didominasi oleh nomina, frasa nomina, dan pronomina yang berfungsi sebagai argumen, sedangkan adverbia, adjektiva, dan frasa preposisional cenderung berfungsi sebagai adjung. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penempatan konstituen non-subjek pada Vorfeld memicu mekanisme inversi guna mempertahankan posisi verba finit pada urutan kedua (Verbzweitstellung). Dengan demikian, distribusi satuan lingual pada Vorfeld tidak bersifat acak, melainkan ditentukan oleh relasi valensi verba dan struktur topologi kalimat. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sintaksis bahasa Jerman melalui integrasi teori valensi dan topologi kalimat pada teks bahasa Jerman tingkat menengah serta memberikan implikasi praktis bagi pembelajaran sintaksis bahasa Jerman.