Claim Missing Document
Check
Articles

Respons Pertumbuhan Bibit Setek Teh (Camellia Sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gmb 7 pada Berbagai Interval Penyiraman Erdiansyah Rezamela; Santi Rosniawaty; Cucu Suherman
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29192

Abstract

Cekaman kekeringan pada bibit teh dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat hingga kematian tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan bibit teh terhadap cekaman kekeringan dan mencari interval penyiraman yang ideal bagi pertumbuhan bibit teh. Penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung Jawa Barat berada pada ketinggian ±1.350 m di atas permukaan laut (dpl) mulai Januari sampai Maret 2020. Bibit setek teh klon GMB 7 umur 6 bulan diberi perlakuan penyiraman dengan interval 0, 1, 3, 5, 7 dan 9 hari ditambah perlakuan tanpa penyiraman dan aplikasi kitosan sebagai anti-transpirant. Hasil yang didapat setelah hari ke-57, interval penyiraman 7 hari sekali memberikan pengaruh nyata dan respons tertinggi terhadap luas daun, indeks luas daun dan bobot kering tajuk, namun tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang. Penyiraman pada semua interval yang berbeda dan perlakuan kitosan menunjukkan nilai jumlah daun, root shoot ratio dan pengurangan daun yang lebih tinggi dibanding tanpa penyiraman. Berdasarkan analisis regresi non linear, kecenderungan penurunan root shoot ratio, bobot kering tajuk, jumlah dan luas daun mulai terjadi setelah mencapai titik optimumnya pada interval penyiraman 6 hari sekali. Oleh karena itu, penyiraman 6 hari sekali merupakan interval ideal untuk mempertahankan pertumbuhan bibit teh klon GMB7 pada kondisi cekaman kekeringan saat proses adaptasi.
Respons Pertumbuhan dan Fisiologi Beberapa Varietas Tebu (Saccharum officinarum L.) Asal Kultur Jaringan yang Diberi Cekaman Genangan Air Mochamad Arief Soleh; Santi Rosniawaty; Erza Febrilla Sofiani
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.263 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.24976

Abstract

Tanaman tebu merupakan komoditas utama penghasil gula. Produksi tebu dipengaruhi oleh faktor abiotik yaitu air. Sebaran curah hujan yang tidak merata akibat pemanasan global berpotensi terjadinya penggenangan di areal pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons sifat-sifat pertumbuhan dan fisiologis bibit tebu asal kultur jaringan yang diberikan cekaman genangan air. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan, 4 ulangan dan setiap plot terdiri dari 3 tanaman. Perlakuan terdiri dari 4 jenis varietas yang berbeda yaitu PSJT 941, PS 862, PSJK 922 dan Kidang Kencana pada kondisi normal dan penggenangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat respons pertumbuhan dan fisiologi yang berbeda dari setiap varietas yang diuji. Varietas yang menunjukkan respons terbaik adalah PSJT 941 pada parameter tinggi tanaman yaitu 161,7 cm; varietas PS 862 pada parameter jumlah anakan 3,75 buah, bobot kering tajuk yaitu 38,68 g dan akar 48,70 g; varietas PSJK 922 pada konduktansi stomata (ks)yaitu 261,6 mmol H2O·m-2·s-1; dan varietas Kidang Kencana pada fv/fm yaitu 0,723.
Pengaruh Dosis dan Cara Pemberian Pupuk Anorganik terhadap Pertumbuhan Kakao (Theobroma cacao L.) Belum Menghasilkan Klon Sulawesi 1 Ester Miranda Lbn.Tobing; Santi Rosniawaty; Mochamad Arief Soleh
Agrikultura Vol 30, No 2 (2019): Agustus, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.1 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i2.22920

Abstract

Tanaman kakao banyak dibudidayakan di Indonesia, khususnya di perkebunan rakyat. Produksi kakao di Indonesia masih di bawah potensi hasil kakao secara umum. Peningkatan produksi perlu dilakukan, salah satunya dengan melakukan pemberian pupuk anorganik. Keefektifan penyerapan unsur hara oleh tanaman tergantung pada beberapa faktor, diantaranya dosis pupuk dan cara aplikasi pupuk yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis dan cara pemberian pupuk anorganik yang memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan tanaman kakao belum menghasilkan. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada bulan Desember 2018 sampai bulan April 2019. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan sembilan perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan terdiri dari dosis dan cara pemberian pupuk anorganik, dengan dosis pupuk meliputi: tanpa pemupukan; pupuk tunggal dengan satu taraf, yaitu 45 g/tanaman urea, 60 g/tanaman SP-36, 35 g/tanaman KCl; dan pupuk majemuk tablet NPKMg (20:10:10:2) dengan tiga taraf, yaitu 30 g/tanaman, 60 g/tanaman, 90 g/tanaman, sedangkan cara pemberian pupuk meliputi: disebar dan ditabur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis dan cara pemberian pupuk anorganik berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kakao belum menghasilkan terutama pada parameter luas daun, indeks klorofil daun, jumlah flush, dan panjang flush. Pemberian 90 g/tanaman pupuk majemuk tablet NPKMg (20:10:10:2) dengan cara ditabur mampu meningkatkan pertumbuhan kakao belum menghasilkan.Kata Kunci: Kakao belum menghasilkan, Pupuk anorganik, Dosis, Cara pemberian
Respons Pertumbuhan Tanaman Kopi Robusta (Coffea robusta L.) Tercekam Aluminium di Lahan Reklamasi Bekas Tambang Batubara Bervegetasi Sengon (Periode El Nino) Heru Rizka Santosa; Cucu Cucu Suherman; Santi Rosniawaty
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.384 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10871

Abstract

ABSTRACTResponse on plant growth of Robusta coffee (Coffea robusta L.) to aluminum stress in reclamation of coal mines vegetated sengon (El Nino period)Reclamation of coal mines commonly has low fertility rates with high aluminum saturation. Aluminum stress could be negative impact on plants that are not tolerant, can cause toxicity and inhibition of plant growth. This research in order to determine the effect of aluminum stress on plant growth of robusta coffee in reclamation of coal mines vegetated sengon. Stress aluminum effect on plant growth of Robusta coffee in reclamation is shown on parameter of plant height, stem diameter, leaf area, shoot dry weight, root length are lower than Robusta coffee plants in nurseries (control), and parameter of volume root, root dry weight are higher than the control. The content of aluminum (Al) in leaves of coffee plant in reclamation (117.7 ppm) is higher than control (26.1 ppm). Based on roots observation do not shown symptom of inhibition or toxicity of aluminum stress, and result of analysis of Al content in the roots is 25 ppm belongs to category is low( < 60 ppm), then the Robusta coffee plant belongs to the category tolerant to aluminum stress in reclamation of coal mines vegetated sengon.Keywords: Coffee, Stress, Aluminum (Al), Roots, ReclamationABSTRAKLahan reklamasi bekas tambang batubara umumnya memiliki tingkat kesuburan rendah dengan kejenuhan aluminium tinggi. Cekaman aluminium berdampak negatif bagi tanaman yang tidak toleran dan dapat menimbulkan toksisitas sehingga mengakibatkan penghambatan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman aluminium terhadap pertumbuhan tanaman kopi robusta pada lahan reklamasi bekas tambang batubara bervegetasi sengon. Hasil penelitian memperlihatkan cekaman aluminium di lahan reklamasi bekas tambang batubara bervegetasi sengon berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kopi Robusta, yang ditunjukkan pada parameter tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, bobot kering pupus, panjang akar yang lebih rendah dibandingkan tanaman kopi Robusta di nurseri (kontrol), dan parameter volume akar, bobot kering akar yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Kandungan aluminium (Al) di daun pada lahan reklamasi lebih tinggi (117,7 ppm) dibandingkan kontrol (26,1 ppm). Berdasarkan pengamatan akar pada tanaman kopi di lahan reklamasi, tidak terlihat gejala penghambatan atau toksisitas akibat cekaman Al, dan hasil pengujian kandungan Al di akar adalah 25 ppm, termasuk kategori rendah (< 60 ppm), maka tanaman kopi Robusta termasuk kategori toleran terhadap cekaman aluminium yang terdapat di lahan reklamsi bekas tambang batubara bervegetasi sengon.Kata kunci : Kopi, Cekaman, Aluminium (Al), Akar, Lahan reklamasi
RESPON TANAMAN TEH (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) KLON GAMBUNG 7 TERHADAP PUPUK P DAN KOMPOS BIOAKTIF Intan Ratna Dewi; Santi Rosniawaty; Mira Ariyanti
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gambung 7 terhadap Pupuk P dan Kompos bioaktif bioaktif.Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Lembang Kabupaten Bandung.Ketinggian tempat 1.200 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah Andisols.  Percobaan dilaksanakan  pada bulan Mei hingga Oktober 2007. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak kelompok dengan sebelas perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuannya adalah sebagai berikut : A = 100% dosis rekomendasi pupuk SP-36, tanpa kompos bioaktif;  B =75%  dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ; C = 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  50 g kompos bioaktif /polibag; D =  75% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g kompos bioaktif /polibag ; E  = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ; F = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan  50 g  kompos bioaktif / polibag ; G = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g  kompos bioaktif / polibag ; H = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ;  I = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan  50 g  kompos bioaktif / polibag ; J = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g  kompos bioaktif / polibag ; K = 100% kompos bioaktifHasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pupuk P dan kompos bioaktif  memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah daun tanaman teh umur 12 msp dan bobot kering tanaman. Perlakuan tidak memberikan perbedaan yang nyata pada tinggi tunas, diamater batang dan nisbah pupus akar. Pertumbuhan terbaik  diperoleh dari perlakuan kombinasi 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  50 g kompos bioaktif /polibag ; dan 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  75 g kompos bioaktif /polibag. Kata kunci : Pupuk P, kompos bioaktif, tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gambung 7
Aplikasi Sitokinin untuk Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Teh di Dataran Rendah Santi Rosniawaty; Intan Ratna Dewi Anjarsari; Rija Sudirja
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v5n1.2018.p31-38

Abstract

Teh (Camellia sinensis [L.] O. Kuntze) merupakan salah satu komoditas primadona Jawa Barat. Upaya ekstensifikasi teh di dataran rendah dan lahan suboptimal diyakini dapat berkontribusi nyata terhadap perbaikan kesejahteraan petani. Perbedaan suhu di dataran rendah dengan di dataran tinggi akan berpengaruh pada metabolisme tanaman teh. Secara kultur teknis, untuk membentuk perdu dengan percabangan ideal, perlu dilakukan centering (pemangkasan). Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pemberian sitokinin terhadap pertumbuhan tanaman teh setelah centering di dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, mulai bulan November 2016 sampai Juni 2017, dengan bahan tanaman teh berumur 10 bulan setelah tanam. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang 4 kali, dengan perlakuan perbedaan konsentrasi sitokinin. Sitokinin yang digunakan berasal dari air kelapa, dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 75%, serta benzil amino purin (BAP) dengan konsentrasi 60 ppm, 90 ppm, dan 120 ppm, serta kontrol (tanpa sitokinin). Hasil penelitian menunjukkan pemberian sitokinin yang berasal dari air kelapa atau berupa BAP pada tanaman teh setelah centering hanya efektif hingga 3 bulan setelah aplikasi. Pada 1 dan 3 bulan setelah aplikasi, pemberian air kelapa 50% atau BAP 60 ppm meningkatkan pertambahan diameter batang, jumlah daun, panjang tunas, dan jumlah tunas. Oleh karena itu, air kelapa 50% atau BAP 60 ppm dapat dijadikan sumber sitokinin untuk tanaman teh di dataran rendah setelah centering.
Pengaruh Air Kelapa dan BAP terhadap Tanaman Teh Klon GMB 7 setelah Centering Ke-2 SYLVIA PUSPA HARJANTI; SANTI ROSNIAWATY; MIRA ARIYANTI; YUDITHIA MAXISELLY
Agrotrop : Journal on Agriculture Science Vol 8 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.411 KB) | DOI: 10.24843/AJoAS.2018.v08.i02.p01

Abstract

The Effect of Coconut Water and Bap on Tea Plant Clone Gmb 7 After 2nd Centering. Tea plants as one of the leading commodities in Indonesia demanding high productivity. Clone GMB 7 and maintenance such as the formation of the area of plucking by 1st centering and 2nd centering on the immature plant can be done to improve the productivity of tea. Centering that plays a role in stimulating bud formation can be enhanced by the addition of Plant Growth Regulator (PGR) derived from natural ingredients such as coconut water and synthetic ingredients such as Benzyl Amino Purine (BAP). This research was conducted to determine the effect of BAP concentration and coconut water on tea plants after the 2nd centering. The research was conducted from July 2017 to September 2017 at Ciparanje Field Station, Padjadjaran University. The experimental design used was Randomized Block Design with 7 treatments repeated 4 times. The treatment used were: control (without PGR); 25% coconut water; 50% coconut water; 75% coconut water; 60 ppm BAP; 90 ppm BAP; and 120 ppm BAP. The best result are shown by 50% coconut water on the ratio of leaves number, the ratio of bud number, and the bud length.
Perubahan Biokimia dan Indikator Vigor Benih Kakao pada Lima Taraf Lamanya Penyimpanan Iing Sobari; Sumadi Sumadi; Santi Rosniawaty; Edi Wardiana
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 7, No 3 (2020): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v7n3.2020.p163-178

Abstract

Selama masa penyimpanan, benih kakao mengalami berbagai proses yang akan berpengaruh terhadap kandungan cadangan makanannya dan akan berdampak terhadap kapasitas perkecambahan dan vigor benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan biokimia dan vigor benih kakao setelah disimpan maksimum 4 minggu dengan selang waktu 1 minggu. Percobaan dilakukan di Laboratorium Terpadu dan rumah kaca Balittri, Sukabumi, Jawa Barat, mulai bulan Oktober sampai Desember 2019. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak lengkap dengan lima taraf perlakuan lamanya waktu penyimpanan benih yang diulang lima kali. Kelima perlakuan tersebut yaitu:(a) benih tanpa disimpan,(b) benih disimpan 1 minggu, (c) benih disimpan 2 minggu, (d) benih disimpan 3 minggu, dan (e) benih disimpan 4 minggu. Parameter yang diamati selama penyimpanan adalah perubahan biokimia benih dan banyaknya benih yang berkecambah, sedangkan selama perkecambahan adalah indikator vigor benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan benih kakao selama 1-4 minggu menyebabkan penurunan kandungan lemak benih, sedangkan asam lemak bebas, protein, dan persentase benih berkecambah meningkat. Sampai umur 21 hari setelah semai, penyimpanan benih meningkatkan daya hantar listrik, tetapi menurunkan kecepatan tumbuh, potensi tumbuh maksimum, viabilitas, dan panjang hipokotil. Benih yang disimpan selama satu minggu masih memiliki vigor yang baik (viabilitas 80%), sedangkan benih yang disimpan selama 2-4 minggu menurun tingkat vigornya (viabilitas maksimum sekitar 54,4%).
AKUMULASI BAHAN KERING DAN INDEKS KLOROFIL BIBIT KAKAO AKIBAT APLIKASI AIR KELAPA DENGAN KONSENTRASI BERBEDA Santi Rosniawaty; Cucu Suherman; Mochamad Arief Sholeh; Rija Sudirja; Dimas Nur Annisa
Jurnal Agroekoteknologi Vol 13, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jur.agroekotetek.v13i1.12158

Abstract

Cocoa seedling are plant material to be planted in the field, superior seedling can produce maximum cocoa pods. Good cacao seeds can be produced from superior cultivar, one of the superior cultivar was the ICCRI 08H cultivar. Fertilization was required so that the cocoa seeds can grow perfectly. The fertilizer was used usually inorganic fertilizers, there was an alternative to fertilizing using coconut water. The purpose of this study was to see the results of photosynthesis reflected in the dry weight due to coconut water in various concentrations. The research was conducted at the Experimental Garden of the Ciparanje Faculty of Agriculture, Jatinangor in October 2018 until March 2019. The experiment used a randomized block design (RBD). The treatments used were several concentrations of coconut water and their combination with inorganic fertilizers. The results showed that the dry weight accumulation of cocoa seedlings was influenced by various concentrations of coconut water, but had no effect on the chlorophyll index. The concentration of coconut water of 50% is the optimum concentration for better dry matter accumulation of cocoa seedlings and can be an alternative fertilizer for cocoa seedlings. 
RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN KOMBINASI KULTIVAR JARAK PAGAR DENGAN DOSIS MIKORIZA TERBAIK DAN KONSENTRASI SITOKININ DI DATARAN MEDIUM Kovertina Rakhmi Indriana; Cucu Suherman; Santi Rosniawaty; Sumadi Sumadi
Jurnal Agroekoteknologi Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jur.agroekotetek.v12i1.8776

Abstract

The current condition is a lot of the transfer of agricultural land functions into housing and industry. Utilization of marginal land is one of the important solutions to be done. One type of marginal soil is inceptisol, with limiting factors for low soil chemical fertility, especially the element P. The element P can become available for plants with the help of AMF. To reveal the performance of plant growth through the combination of three Jatropha cultivars with the best dose of arbuscular mycorrhizal fungi and cytokinin concentrations on plant photosynthesis results in two different locations. The experiment starts from January 2019 until June 2019 at an altitude of 0-50 meters above sea level (lowlands) and altitudes from 750 to 850 meters above sea level. The combined trial evaluated jatropha cultivar and the best arbuscular mycorrhizal fungi dose and repeated cytokinin concentrations three times. The results of the experimentshowed that there was a significant effect on each treatment and the interaction between the treatments with the best results was the concentration of cytokinin 400 mg L-1 for plant height growth variables, and the concentration of cytokinin 300 mg L-1 for the variable chlorophyll content of leaves, number of leaves, whereas cytokinin concentration 100 mg L-1 for stomatal conduction activity.
Co-Authors Abdul Halim luthfi Abdul Halim Luthfi Ade Ismail Ade Ismail Ade Setiawan Adhani, Rafika Meidya Agus Wahyudin Agus Wahyudin Ai Yanti Rismayanti Al Adawiah, Alin Robiah Al- Adawiah, Alin Robial Albert Franscyscus Alin Robial Al- Adawiah Anni Yuniarti Arkan Azis Kusuma Asmi Maulina Bahjatien, Isnaini Dzatie Benny Joy Benny Joy Bisri Alvi Dalpen Nilmawati Cucu Suherman Dimas Nur Annisa Dimas Nur Annisa Istiqomah Edi Wardiana Emma Trinurani Emma Trinurani Sofyan Erdiansyah Rezamela Erika Wahyuni Saragih Erni Suminar Erza Febrilla Sofiani Esnakelga Bernadetha Keliat Ester Miranda Lbn.Tobing Fetrina Oktavia Fetrina Oktavia Firma, Farin Gelsbrata Furqan Mubarak Djula H. Afrianto H. Afrianto, H. Hana Alfianita Utami Hanni Kristi Bintang Hendi Hidayat Hendi Hidayat, Hendi Heru Rizka Santosa Iing Sobari Indah Ayuningsari Indah Ayuningsari, Indah Indriana, Kovertina Rakhmi Intan Ratna Dewi Anjarsari Intan Ratna Dewi Anjarsari M. Arief Sholeh Mahfud Arifin Masruri, Muhammad Kholil Meidya Adhani, Rafika Mira - Ariyanti Mira Ariyanti Mochamad Arief Sholeh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh Mochamad Arief Soleh, Mochamad Arief Mochammad Arief Soleh Muhamad Eza Suprapto Muhamad Rizky Permana Muhammad Rizki Fauzan Nadia Nuraniya Kamaluddin Nadiyah Mia Audina Nadiyah Mia Audina, Nadiyah Mia Nadiyah, Farah Panggabeaan, Johannes Yesse Pujawati Suryatmana Putri, Noviani Qurrohman, Budy Frasetya Taufik Rachmad Akbar Rachman Achmad Indrawan Ramadhan, Ilmi Rani Ros Ratna Dewi Anjarsari, Intan Rhendika Indra Yunianto Rija Sudirja Rina Devnita Rumaisha Alif Putri Qa Ruminta Ruminta Sandrawati, Apong Silfiya Amaliyana Saefas Silfiya Amaliyana Saefas, Silfiya Amaliyana Soleh, Mochamad Arief Solihin, Muhammad Amir Sri Muji Rahayu Sukmayana, Dodi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Syamsiyah Syaher Syamsiyah Syamsiyah SYARIFUL MUBAROK Syfani Fitria Syfani Fitria SYLVIA PUSPA HARJANTI Tommy Ario Sirait Utari Madani Jayyidah Yudhitia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly YUDITHIA MAXISELLY Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly, Yudithia Yuliati Machfud