Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PENGARUH KONSENTRASI DAN KOMBINASI JENIS TEPUNG SEBAGAI BAHAN PENGISI TERHADAP MUTU PETIS DARI AIR REBUSAN RAJUNGAN Syarifah Mumtazah; Romadhon Romadhon; Slamet Suharto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2021.13147

Abstract

Air rebusan rajungan mengandung berbagai zat gizi terlarut dari rajungan. Pemanfaatan air rebusan rajungan salah satunya dengan mengolah menjadi petis. Petis merupakan produk semi padat yang dikentalkan dari hasil samping perebusan ikan atau udang. Proses pembuatan petis perlu ditambahkan bahan pengisi untuk mengurangi bau amis dan mempercepat proses pemasakan. Bahan pengisi tepung terigu merupakan perlakuan yang paling disukai oleh konsumen, namun menghasilkan tekstur yang kurang kental. Penambahan tepung beras dan tapioka diharapkan mampu memperbaiki tekstur dan mutu petis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi dan kombinasi jenis tepung sebagai bahan pengisi terhadap karakteristik petis rajungan. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan perlakuan perbedaan komposisi (tepung terigu dengan tepung beras dan tepung terigu dengan tepung tapioka) dan konsentrasi (5%; 7,5%; 10%) bahan pengisi serta 3 kali pengulangan. Mutu petis rajungan dilihat melalui uji kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar asam glutamat, viskositas, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan petis rajungan dengan penambahan konsentrasi dan kombinasi jenis tepung yang berbeda berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap mutu kimiawi secara keseluruhan dan hedonik pada parameter kenampakan dan tekstur. Perbedaan konsentrasi dan kombinasi jenis tepung mempengaruhi mutu petis dan bahan pengisi terbaik adalah kombinasi tepung terigu dan tepung tapioka konsentrasi 7,5% dengan nilai kadar air 49,31%; kadar abu 1,02%; kadar protein 10,70%; kadar asam glutamat 5,15%; nilai viskositas 5961cP; dan hedonik 6,92.
KARAKTERISTIK PERMEN JELLY DENGAN PENAMBAHAN GELATIN SISIK IKAN YANG BERBEDA Rahma Tika Mufida; Yudhomenggolo Sastro Darmanto; Slamet Suharto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2020.8086

Abstract

Permen jelly adalah produk makanan yang memiliki tekstur kenyal. Tekstur ini terbentuk karena adanya pembentuk gel yaitu gelatin. Limbah sisik ikan dapat dimanfaatkan menjadi gelatin dan diaplikasikan pada produk pangan sebagai pembentuk tekstur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan gelatin sisik ikan terhadap karakteristik permen jelly. Jenis metode penelitian yang digunakan adalah metode experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pada penelitian adalah penambahan gelatin sisik ikan yang berbeda (ikan tawes, bandeng, dan ikan kurisi) sebanyak 14 % dengan tiga kali pengulangan. Data parametrik dianalisis dengan uji Analysis of Varians (ANOVA) dan data non-parametrik dianalisis dengan Uji Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gelatin sisik ikan yang berbeda memiliki perbedaan yang signifikan (P <0,05) dengan nilai kekuatan gel tertinggi adalah 350 ± 5,50 g.cm2, kadar air terendah 15,81 ± 0,17%, kadar abu tertinggi adalah 2,12 ± 0,10 %,,  nilai Aw terendah adalah 0,72 ± 0,11, nilai pH terendah adalah 4,40 ± 0,08, dan nilai hedonik dengan interval 8,0 <μ <8,2.
KARAKTERISTIK MINYAK IKAN MAS (Cyprinus carpio) DARI HASIL DRY RENDERING DENGAN SUHU DAN WAKTU YANG BERBEDA Koko Seviyanto; Slamet Suharto; Apri Dwi Anggo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2022.13236

Abstract

Pemanfaatan ikan mas (Cyprinus carpio) selama ini hanya sekedar pada dagingnya saja sedangkan isi perut atau jeroan ikan mas belum dimanfaatkan dan biasanya hanya dibuang. Jeroan ikan mas memiliki kandungan minyak ikan yang dapat dimanfaatkan. Minyak ikan merupakan asupan minyak esensial yang mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Pemanfaatan minyak ikan dapat dilakukan memalui proses ekstraksi. Salah satu metode ekstraksi minyak ikan yang sering digunakan yaitu dry rendering. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap. Tahap I menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan suhu (40oC, 60oC, 80oC, dan 100oC) dan waktu (2 jam, 3 jam, dan 4 jam) yang berbeda. Hasil dari tahap I diketahui bahwa waktu dry rendering selama 2 jam memberikan hasil yang paling optimal. Parameter uji tahap I meliputi nilai rendemen (11,05%), citra warna (R:148, G:109, B:14), dan organoleptik (8,53<µ<8,86). Penelitian kemudian dilanjutkan pada tahap II dengan menerapkan waktu dry rendering optimal pada tahap I. Rancangan percobaan pada tahap II menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan suhu 40oC, 60oC, dan 80oC selama 2 jam. Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskal-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Berdasarkan tahap I dan tahap II dry rendering minyak ikan mas optimal pada suhu 80oC selama 2 jam dengan slip melting point (35,13oC), warna hunlab (L:60,86, a:-5,31, b:17,6), angka iod (6,76%), angka peroksida (8,63%), kadar air (0,86%), dan angka asam lemak bebas (1,44%).
PENGARUH LAMA PERENDAMAN ASAM KLORIDA TERHADAP KEKUATAN GEL GELATIN TERIPANG HITAM (Holothuria leucospilota) Viola Niraputri; Romadhon Romadhon; Slamet Suharto
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 20, No 1 (2021): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v20i1.1326

Abstract

ABSTRAKTeripang memiliki potensi sebagai gelatin karena mengandung protein kolagen sekitar 70% dalam tubuhnya yang terdiri dari kulit dan daging tebal. Protein teripang dihasilkan dari dinding tubuh yang kaya akan glisin, asam glutamat dan arginin, glisin merupakan asam amino yang dominan yang terdapat pada gelatin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama perendaman terhadap kekuatan gel gelatin Teripang hitam (Holothuria leucospilota) dan Perlakuan terbaik dalam pembuatan gelatin Teripang Hitam (Holothuria leucospilota) menggunakan proses asam. Teripang  Hitam (Holothuria leucospilota) diperoleh dari perairan Pulau Panjang Jepara, bahan lain yang digunakan yaitu asam klorida (HCl), dan aquades. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu perendaman selama 36, 42 dan 48 jam dengan tiga kali ulangan. Data parametrik dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut BNJ. Hasil penelitian menunjukan bahwa gelatin dengan lama perendaman yang berbeda menunjukan pengaruh nyata terhadap rendemen, viskositas, kekuatan gel, kadar air, kadar protein dan kadar abu namun tidak terhadap pH. Perlakuan terbaik yaitu pada perendaman asam selama 48 jam dengan rendemen 2,85 ± 0,19%, pH 4,08 ± 0,02, viskositas 3,7 ± 0,11cP, kekuatan gel 675,52 ± 19,1 bloom, kadar air 10.35 ± 0,13%, kadar protein 84.8 ± 0,15%,  kadar abu 1,68 ± 0,23%, dan gugus fungsi dengan serapan amida A 3280 cm-1, amida I 1632 cm-1, amida II 1526 cm-1, amida III 1232 cm-1. Kesimpulan penelitian ini adalah lama waktu perendaman yang berbeda memberikan pengaruh terhadap kekuatan gel gelatin Teripang Hitam (Holothuria leucospilota) dan perlakuan terbaik yaitu perendaman 48 jam. Kata kunci: FTIR (Fourrier Transform Infra-Red), Gelatin, HCl, Lama perendaman asam, Teripang Hitam (Holothuria leucospilota). ABSTRACTSea cucumbers have the potential to be gelatin because they contain high collagen protein around 70% in their body which consists of thick skin and meat. Sea cucumber protein is produced from the body wall which is rich in glycine, glutamic acid, and arginine. Glycine is the dominant amino acid found in gelatin. The purpose of this study was to determine the effect of soaking time on the gel strength of the black sea cucumber gelatin (Holothuria leucospilota) and the best treatment in making black sea cucumber gelatin (Holothuria leucospilota) using the acid process. Black sea cucumber (Holothuria leucospilota) is obtained from the waters of Panjang Island Jepara, other materials used are hydrochloric acid (HCl) and aquades. The experimental design used in this study used a completely randomized design (CRD) with three treatments namely soaking for 36, 42, and 48 hours with three replications. Parametric data were analyzed by ANOVA and HSD follow-up tests. The results showed that gelatin with different soaking times had a significant effect on yield, viscosity, gel strength, moisture content, protein content and ash content but had no effect on pH. The best treatment was acid soaking for 48 hours with yield 2.85 ± 0.19%, pH 4.08 ± 0.02, viscosity 3.7 ± 0.11 cP, gel strength 675.52 ± 19.1 bloom, water 10.35 ± 0.13%, protein content 84.8 ± 0.15%, ash content 1.68 ± \0.23%, and functional groups with amide A 3280 cm-1 absorption, amide I 1632 cm-1, amide II 1526 cm-1, amide III 1232 cm-1. The conclusion of this study is different soaking time gave an effect on the gel strength of the black sea cucumber gelatin (Holothuria leucospilota) and the best treatment is soaking for 48 hours. Keywords: Acid soaking time, Black Sea Cucumber (Holothuria leucospilota), FTIR (Fourrier Transform Infra-Red), Gelatin, HCl.
KARAKTERISTIK KERUPUK CUMI-CUMI (Loligo sp.) DENGAN BEDA SUHU OVEN PENGERINGAN DAN KETEBALAN KERUPUK Rika Amelia; Sumardianto Sumardianto; Slamet Suharto
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 19, No 1 (2020): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v19i1.1067

Abstract

AbstrakCumi-cumi (Loligo sp.) merupakan organisme yang luas sebarannya dan mengandung gizi yang tinggi, sehingga dapat digunakan dalam pembuatan kerupuk.Kerupuk dengan penambahan cumi–cumi diharapkan dapat memenuhi kualitas kerupuk. Proses pengeringan kerupuk perlu adanya alternatif pengeringan lain yang dapat memberikan kualitas kerupuk lebih baik dan higienis dengan menggunakan metode pengeringan oven dan ketebalan kerupuk akan mempengaruhi karakteristik kerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan suhu oven dan ketebalan kerupuk yang berbeda serta mengetahui metode perlakuan terbaik untuk mendapatkan karakteristik kerupuk cumi. Metode penelitian yang digunakan yaitu experimentallaboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan perbedaan suhu oven dan ketebalan kerupuk A (suhu 50 oC :  2 mm), B (suhu 50 oC :  4 mm), C (suhu 60 oC :  2 mm), D (suhu 60 oC :  4 mm) dengan tiga kali ulangan. Parameter uji meliputi kadar air, kadar protein, kemekaran, kerenyahan dan hedonik. Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskall-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney. Data parametrik dianalisis  menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji hedonik terbaik pada perlakuan suhu 60 oC ketebalan 2 mm (7,00 7,30). Kadar air 9,74-10,98%; kadar protein 9,70-10,11%; kemekaran kerupuk 74,21-171,99%; kerenyahan kerupuk 1200,42-4300,92 gf dan rendemen cumi-cumi 59,05%. Kerupuk cumi termasuk kerupuk grade II menurut SNI No. (8272: 2016) yaitu dengan kadar protein 9,70-10,11%.Kata kunci: Cumi-cumi (Loligo sp.), Kerupuk, Ketebalan, Suhu.AbstractSquid (Loligo sp.) is an organism that is widely spread and contains high nutrition, so it can be used in making crackers. The process of drying crackers that can use the oven drying method and the thickness of the crackers will affect the characteristics of the crackers. This study aims to determine the effect of the use of oven temperature and thickness of different crackers and determine the best treatment method to get the characteristics of squid crackers. The method used was experimental laboratories by using Completely Randomized Design (CRD) by treating the difference in oven temperature and cracker thickness for A (temperature 50 oC :2 mm), B (temperature 50 oC :  4 mm), C (temperature 60 oC :  2 mm), D (temperature 60 oC : 4 mm) three replication. Test parameters include moisture content, protein content, linier expansion, crispness and hedonic. Nonparametric data was analyzed by Kruskall-Wallis test and followed by using Mann-Whitney test. Parametric data were analyzed by ANOVA and further analyzed using Tukey HSD test. The results showed that best value of test hedonic (7,00 7,30). Moisture content 9,74-10,98%, protein content 9,70-10,11%, linier expansion 74,21-171,99%, crispness 1200,42-4300,92 gf and yield of  squid 59,05%. Squid crackers including grade II crackers according SNI No. (8272: 2016) with protein content 9,70-10,11%.Key words :Crackers, Squid (Loligo sp.), Temperature, Thickness
PREDIKSI POTENSI BIOLOGIS KOMPONEN KIMIA HASIL SAMPING HIDROLISAT LEMI RAJUNGAN MENGGUNAKAN PASS ONLINE Sarrah Nadhifah Azmy; Putut Har Riyadi; Fronthea Swastawati; Slamet Suharto
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 20, No 2 (2021): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v20i2.1518

Abstract

AbstrakLemi adalah salah satu limbah rajungan yang berwarna kekuningan dan mengandung protein yang cukup tinggi. Salah satu pemanfaatan limbah yang potensial adalah hidrolisat protein. Enzim yang dipilih adalah enzim alcalase karena dinilai mampu menghidrolisis protein bahkan yang telah terdenaturasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi biologis senyawa metabolit sekunder dari hasil samping hidrolisat lemi rajungan. Metode Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS) digunakan untuk mengetahui profil senyawa metabolit sekunder, sedangkan prediksi potensi biologis menggunakan Prediction of Activity Spectra for Biologically Active Substances (PASS) 0nline. Hasil samping hidrolisat lemi rajungan yang dianalisis dengan GC-MS menghasilkan 21 senyawa dengan kandungan terbesar adalah 4-(2-aminoethyl)-Phenol (8,12%). Berdasarkan PASS Online, sebagian besar komponen kimia tersebut mempunyai potensi biologis sebagai antibakteri (dengan nilai Pa lebih dari 0,7). Analisis potensi biologis pada hasil samping hidrolisat protein dengan PASS Online menunjukkan adanya 14 potensi dengan mayoritas sebagai phobic disorders treatment. Hal ini menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya yaitu in vitro dan in vivo. Kata kunci: Lemi Rajungan, GC-MS, PASS Online,AbstractMustard is one of the blue swimming crab wastes which is yellowish in color and contains high protein. One of the potential waste utilizations is protein hydrolysate. The enzyme chosen was alcalase enzyme because it was considered capable of hydrolyzing even denatured proteins. This study aimed to determine the biological potential of the chemical components of the by-product of the hydrolyzate of crab mustards. The Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) method was used to determine the profile of the chemical elements of the by-products of the crab mustard's hydrolyzate. In contrast, the prediction of biological potential used the Prediction of Activity Spectra for Biologically Active Substances (PASS) 0nline. The by-products of crab mustard's hydrolyzate analyzed using GC-MS yielded 21 compounds, with the largest content being 4-(2-aminoethyl)-Phenol (8,12%). Based on PASS Online, most of these chemical components have biological potential as antibacterial (with a Pa value of more than 0.7). Analysis of the biological potential of protein hydrolyzate by-products with PASS Online showed 14 possibilities, with the majority being phobic disorders treatment. It was the basis for further research, namely in vitro and in vivo. Keywords: Blue Swimming Crab Mustard, GC-MS, PASS Online
PENGARUH PENAMBAHAN JENIS GULA YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS PETIS DARI CAIRAN PEMINDANGAN IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) Sasti Nuriza Ramandhani; Tri Winarni Agustini; Slamet Suharto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2022.13199

Abstract

ABSTRAKPetis merupakan salah satu jenis bumbu masakan yang diperoleh dari hasil pengentalan air rebusan ikan yang dipanaskan selama waktu tertentu hingga kandungan air berkurang. Petis ikan yang dihasilkan dari cairan pemindangan cenderung memiliki rasa asin karena kadar garam tinggi. Penambahan jenis gula berbeda dalam proses pembuatan petis diharapkan dapat mengurangi rasa asin pada petis dan memenuhi kriteria organoleptik yang disukai konsumen. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh jenis gula terhadap karakteristik kimia, hedonik petis dan memperoleh informasi jenis gula terbaik dalam pembuatan petis serta disukai oleh konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan (gula pasir, gula cair glukosa, dan gula cair fruktosa) dengan 3 kali pengulangan. Parameter uji yang dilakukan yaitu kadar air, kadar protein, kadar garam, asam glutamat, aw dan sensori. Data parametrik (kadar air, kadar protein, kadar garam, asam glutamat dan aw) dianalisa menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut BNJ, sedangkan data nonparametrik (hedonik) menggunakan uji Kruskal Wallis dan uji lanjut Mann Whitney. Hasil uji hedonik  menunjukkan bahwa petis dengan penambahan gula cair fruktosa memiliki nilai tertinggi yaitu 7,05<µ<7,44. Penambahan jenis gula berbeda memberikan pengaruh nyata (P≤0,05) terhadap kadar air, kadar asam glutamat serta hedonik (rasa dan tekstur). Perlakuan terbaik yaitu pada penambahan gula cair fruktosa dengan nilai kadar air 24,59%; kadar protein 8,74%; kadar garam 3,89%; kadar asam glutamat 3,52%; nilai aw 0,5, nilai hedonik kenampakan (6,8), aroma (6,83), rasa (7,6) dan tekstur (7,76).
PENGARUH EDIBLE COATING BERBASIS GELATIN-ALGINAT TERHADAP KEMUNDURAN MUTU BAKSO IKAN LELE (Clarias sp.) PADA PENYIMPANAN SUHU RUANG Khusnul Chotimah; Eko Nurcahya Dewi; Slamet Suharto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2022.13508

Abstract

Penggunaan Edible coating yang bersifat antimikroba berpotensi mencegah kontaminasi patogen dan memperbaiki mutu pangan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formula edible coating berbasis gelatin-alginat dengan konsentrasi terbaik, dan mengetahui pengaruh aplikasi formula edible coating terhadap umur simpan produk dan mutu bakso ikan setelah dicoating. Bahan yang digunakan yaitu gelatin ikan, alginat dan bakso ikan lele. Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental laboratories dengan rancangan percobaan Rancangan factorial split plot terbagi oleh waktu. Parameter yang diamati adalah uji viskositas, total fenol, dan uji hedonic, pengamatan visual (lendir), uji TVBN, serta uji TPC. Data dianalisis menggunakan Analisa sidik ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan, data diuji dengan uji lanjut BNJ. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa edible coating gelatin-alginat dengan konsentrasi terbaik adalah edible coating gelatin dengan penambahan alginat 1,5% dengan kadar fenol 102,2±0,67, nilai viskositas 14150±753,28 cP dan nilai hedonik dengan selang kepercayaan 6,72<µ<7,04.  Aplikasi edible coating  gelatin-alginat efektif untuk dapat meningkatkan mutu pada bakso ikan selama penyimpanan selama 24 jam pada suhu ruang dibandingkan dengan kontrol. Hal ini dapat disimpulkan dari nilai organoleptik dengan nilai selang kepercayaan 95% yakni 6,37<µ<6,65. Nilai TVBN dan TPC mengalami penurunan paling rendah yakni 22,21±1,16 mgN% dan 4,61±0,31 log koloni/g. dan penampakan visual (lendir) bakso ikan lele masih lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
PENGARUH APLIKASI ASAP CAIR PADA EDIBLE COATING KARAGENAN TERHADAP UMUR SIMPAN PRODUK BAKSO IKAN TENGGIRI (Scomberomus Commerson) Livia Ayu Nanda; Putut Har Riyadi; Slamet Suharto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2023.14866

Abstract

Ikan tenggiri merupakan salah satu jenis ikan pelagis dan merupakan ikan dengan kandungan proteinnya yang tinggi yang bagus untuk pertumbuhan. Karagenan berasal dari ganggang merah dan merupakan campuran kompleks dari berbagai polisakarida yang memberikan perlindungan efektif terhadap oksidasi lemak. Edible coating adalah lapisan tipis yang melapisi dan dibentuk langsung pada permukaan suatu bahan makanan bertindak sebagai pengawet. Asap cair merupakan kondensat hasil pembakaran bahan baku yang mengandung senyawa antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan asap cair pada edible coating karagenan terhadap lama umur simpan bakso ikan tenggiri dan mengetahui mutu bakso ikan selama penyimpanan melalui nilai pH, nilai organoleptik, nilai TPC, nilai TBA, dan warna. Aplikasi edible coating pada bakso ikan tenggiri menggunakan metode pencelupan, bakso disimpan dingin ±5°C selama 6 hari. Metode penelitian yang digunakan adalah laboratorium eksperimental dengan rancangan percobaan Split Plot in Time. Hasil uji pH terbaik pada penyimpanan hari ke-6 yaitu 6,067. Hasil uji organoleptik mendapatkan selang kepercayaan pada penyimpanan hari ke-6 7,9  < μ < 8,24. Nilai TPC pada hari terakhir penyimpanan adalah 2,903 log koloni/gram yang masih sesuai dengan SNI 7266:2017. Nilai TBA mengalami kenaikan lebih lambat dibandingkan dengan kedua sampel lainnya. Nilai uji warna L* sebesar 28,92; a* sebesar 0,18; dan b* sebesar 3,87.
PENGARUH LAMA EKSTRAKSI MENGGUNAKAN NaOH TERHADAP KARAKTERISTIK NANOKALSIUM DARI TULANG SOTONG (Sepia sp.) Sufiani, Nurfitri Lutfiah; Kurniasih, Retno Ayu; Suharto, Slamet
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 6 No. 1 (2022): JFMR on April
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2022.006.01.15

Abstract

Peningkatan proporsi kalsium pada nanokalsium tulang sotong dapat dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan NaOH. Proses ekstraksi dengan menggunakan NaOH akan melarutkan protein dan lemak sehingga proporsi kalsium pada bahan akan meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh perbedaan lama ekstraksi menggunakan NaOH terhadap karakteristik nanokalsium tulang sotong, mengetahui ukuran partikel dari nanokalsium tulang sotong dan menentukan lama ekstraksi dalam mendapatkan nanokalsium tulang sotong dengan rasio kalsium dan fosfor terbaik. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan data diolah menggunakan SPSS 16. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk melihat perlakuan mana yang berbeda. Perlakuan penelitian adalah lama esktraksi menggunakan NaOH 1 jam, 2 jam, dan 3 jam. Parameter yang diujikan adalah rendemen, kadar kalsium, kadar fosfor, derajat putih, kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar abu  dan ukuran partikel. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin lama esktraksi (hingga 3 jam) dapat meningkatkan nilai rendemen, kadar kalsium, kadar fosfor, derajat putih dan kadar abu, tetapi menurunkan nilai kadar protein dan kadar lemak (p<0,05). Nanokalsium tulang sotong dengan lama esktraksi 1 jam, 2 jam dan 3 jam memiliki rata-rata ukuran partikel berturut-turut 665,5; 686,8; dan 616,4 nm. Berdasarkan hasil penelitian dengan kesimpulan bahwa rasio kalsium dan fosfor tertinggi dihasilkan melalui lama ekstraksi dengan menggunakan NaOH selama 3 jam dengan perbandingan 148:1.Â