Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Jurnal Mechanical

Water Hammer Press Untuk Pengurangan Kadar Air Komoditas Onggok Yudi Eka Risano
JURNAL MECHANICAL Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber daya agrikultur yang besar yang dimiliki Provinsi Lampung, khususnya singkong yang menjadi bahan baku tepung tapioka. Ampas dari produksi tepung tapioka ini disebut onggok. Onggok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat nyamuk bakar, pupuk, pembuatan saus, dan campuran kerupuk, serta pakan ternak. Sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, industri-industri tersebut memberikan onggok tersebut secara gratis atau dijual sangat murah dalam kondisi basah. Untuk meningkatkan nilai ekonomi dari onggok, para petani melakukan pengelolahan onggok secara tradisional dengan cara menjemur onggok menggunakan panas matahari di hamparan tanah lapang. Proses pengeringan ini sangat tergantung pada faktor cuaca. Jika hujan, kualitas onggok menjadi menurun dan kadar air menjadi tidak terkontrol serta warnanya menjadi kecokelatan yang menyebabkan harga onggok jatuh. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sebelum dikeringkan ada baiknya onggok yang memiliki kadar air 81-85% tersebut diturunkan kadar airnya hingga 20-25%. Penurunan kadar air tersebut dapat dilakukan dengan cara penempaan. Proses pengempaan dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu: screw press, injection press dan filter press. Bagaimanapun harga Screw press sangat mahal dan memerlukan daya listrik besar serta perawatan yang mahal. Meskipun menggunakan generator tetap membutuhkan bahan bakar yang akan memberatkan petani. Injection press dan Filter press juga harganya mahal dan memerlukan daya listrik besar serta perawatannya mahal.Salah satu proses penempaan yang ramah lingkungan dan hemat energi serta ekonomis untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pengeringan onggok ini dapat dilakukan dengan menggunakan energi air jatuh yang menekan hammer sehingga dinamakan water hammer press. Keunggulan Water hammer press  ini ramah lingkungan, mudah dibuat, peralatannya murah, tidak membutuhkan biaya bahan bakar, serta perawatannya mudah dan murah. Teknologi Water Hammer Press ini mampu mereduksi kadar air onggok hingga onggok berkadar air sebesar 52% dengan kuantitas air umpan sebesar 60 liter dan onggok umpan sebesar 5 Kg serta ketinggian air jatuh umpan yang digunakan pada pengujian water hammer press ini sebesar 3 (tiga) meter.Kata kunci :  Onggok singkong, Kadar air, Water Hammer Press
PENGARUH JUMLAH SEL PADA HYDROGEN GENERATOR TERHADAP PENGHEMATAN BAHAN BAKAR Yudi Eka Risano
JURNAL MECHANICAL Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSemakin banyaknya kendaraan bermotor menyebabkan semakin sedikitnya cadangan minyakbumi dan pencemaran udara. Salah satu solusi dari permasalahan di atas, dengan cara pemakaianhydrogen generator yang merupakan alat untuk menghemat bahan bakar yang bekerja dengan caramemisahkan senyawa kimia antara gas hidrogen (????2 ) dan oksigen (????2 ) dari molekul air ( ????2???? )dengan menggunakan arus listrik (elektrolisis).Proses pembentukan gas hydrogen dan oksigen terjadi dengan cara menggunakan 2 elektrodaatau lebih, yang dialiri arus listrik searah. Pada elektroda positif akan terbentuk hydrogen,sedangkan pada elektroda negatif akan terbentuk oksigen. Jumlah dan kecepatan gas hidrogen ( ????2 )dan oksigen ( ????2 ) yang dihasilkan sangat dipengaruhi antara lain oleh penggunaan katalisator danbesarnya arus listrik yang digunakan. Hydrogen generator yang paling sederhana terdiri dari tabungelektrolisis, sel, dan sistem kelistrikan. Pengujian prestasi hydrogen generator pada mesin dilakukandengan cara mencatat waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan 50 ml bensin pada saat tanpamemakai hydrogen generator, dan saat memakai hydrogen generator.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hydrogen generator dapat menghemat bahan bakardimana pada pengujian yang telah dilakukan penghematan maksimum saat menggunakan 4 pelatelektroda, yaitu sebesar 18,85 %, dan daya listrik rata-rata yang digunakan 198,3 watt. Dari hasilpengujian tersebut didapat konfigurasi jumlah pelat elektroda yang efektif yaitu, menggunakan 4pelat dengan gap 1-1.5mm, untuk campuran 1560ml air dengan 2,5 gram soda kue.Kata kunci : bahan bakar, Hydrogen generator, daya listrik
Review Dan Analisa Karakteristik Dan Penyebab Kerusakan Sudu Turbin Gas Yudi Eka Risano
JURNAL MECHANICAL Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The present study concerns the review and the analysis of malfunctions characteristic and the reasons of moving blade damage. Such malfunctions are breakage of moving blade in excessive temperature conditions, increasing vibration, little cyclic weariness from frequent heat exchange at start-up and shut-down, and erosive deterioration and highly temperature corrosion. The type of damage can be divided on static, fatigue, thermal fatigue, corrosion and erosive.Keywords: gas turbine, moving blade, pressure, temperature, defect.
Pengaruh Jarak Pemasangan Secondary Cabin Roof (SCR) Terhadap Temperatur Kabin Mobil Yudi Eka Risano
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak SCR atau Secondary Cabin Roof  merupakan aksesoris tambahan pada mobil berupa atap kabin sekunder yang dipasang diatas atap utama mobil. SCR ini dirancang dengan maksud mengurangi panas yang masuk ke dalam kabin karena sinar matahari ketika sebuah mobil sedang diparkir ditempat terbuka ataupun sedang berjalan, sehingga akan membantu meringankan kerja ac mobil ketika ac dihidupkan. Telah dilakukan pengujian jarak pemasangan (mounting distance) SCR terhadap atap kabin utama, hal ini untuk mengetahui jarak pemasangan yang terbaik.Penelitian dilakukan dengan memberikan margin atau jarak pemasangan sebesar 2 cm, 5 cm dan 7 cm. Proses pengujian dilakukan dengan menjemur mobil di terik matahari selama 1 jam, kemudian mulai diukur temperatur di dalam kabin mobil setiap selang waktu 2 menit untuk setiap variasi margin pemasangan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak pemasangan terbaik ditinjau dari sisi besarnya penurunan temperatur kabin adalah dengan jarak pemasangan 7 cm, yaitu sekitar  6 0C tanpa ac mobil dihidupkan.Kata kunci : atap kabin sekunder, jarak pemasangan, temperatur.
Perancangan Heat Exchanger pada Binary Power Plant Kapasitas 100 KW yang Memanfaatkan Uap Sisa PLTP Ulu Belu Ahmad Yudi Eka Risano; Ahmad Suudi; Rendy Dwi A.P.
JURNAL MECHANICAL Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v6.i2.201508

Abstract

Binary power plant adalah sistem pembangkitan listrik kedua yang mana fluida panas bumi dimanfaatkan sebagai sumber panas utama pada alat penukar panas. Tujuan dari penelitian ini yaitu merencanakan heat exchanger pada binary power plant kapasitas 100 KW, menghitung dan menentukan dimensi-dimensi tiap komponen dari heat exchanger, mengetahui besar longitudinalstress, circumferential stress dan thermal stress yang terjadi pada heat exchanger. Hasil dari perencanaan yang telah dilakukan menunjukan bahwa dimensi dari heat exchanger yaitu berdiameter 0,5 m, panjang 3,6 m, dan tebal dinding yaitu 9,5 x 10-3 m. Tegangan total yang paling besar yaitu tegangan total arah circumferential yang terjadi pada komponen shell dengan nilai sebesar 163,5 Mpa. Tegangan-tegangan yang terjadi pada tiap komponen lebih kecil dibandingkan nilai tegangan ijin material pada nilai SF 1,5 yang direncanakan. Kata kunci :Binary power plant, Circumferential stress, Heat exchanger, Longitudinal stress, Thermal stress.