Lutfiyani Lutfiyani
Department Of Primary School Teacher Education, STAI-YAPTIP (Sekolah Tinggi Agama Islam-Yayasan Perguruan Tinggi Islam Pasaman), Sumatera Barat

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENDIDIKAN KARAKTER DIBENTUK DARI FITRAH MANUSIA Lutfiyani Lutfiyani
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v5i1.26

Abstract

Artikel ini akan membahas pendidikan karakter dari pemahaman hadis Nabi. Manusia dalam Islam digambarkan sebagai makhluk dengan segala karakter. Manusia memiliki sifat ilahiah dalam dirinya, disamping juga sifat watak binatang. Pendidikan karakter sangat penting untuk menghasilkan generasi yang unggul dan berkualitas. Maraknya kerusuhan pelajar di sejumlah daerah di Indonesia sangat memprihatinkan. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi mendorong setiap orang berpikir tentang pentingnya pendidikan karakter. Karakter pada anak harus dibentuk sejak dini. Agar mereka tumbuh sebagai manusia yang memiliki pemahaman agama yang luas, mendalam dan memiliki karakter yang Islami. Kata Kunci: Pendidikan, Karakter, Akhlak, Fitrah,
Multikultural Education’s Concept and It’s Value In The Qur’an Amul Husni Fadlan; L Lutfiyani; Nur Edi Prabha Susila Yahya
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 7th University Research Colloquium 2018: Bidang Pendidikan, Humaniora dan Agama
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.855 KB)

Abstract

Basically, Multikultural’s education is not contradict with theteaching of Islam especially Qur’an which becomes the source of law inIslam. The diversity is actually becomes the rich of intelectual’s wealthfor reviewed. As it is in some verses of Qur’an which explains aboutthat. Hoefully with the existence of multikultural’s education, everyindividual or group should be expected to receive and appreciate manydifferences, they live together with peace and prosperous. This writingwill discuss about the multikultural’s education concept and theeducation’s value in the Qur’an. Therefore, the writer try to find theinformation to replied that problems, through the study exegis ofinterpretation the verses in Qur’an which is relevant the problems. Thisstudy has some goals, aimed to anaylyze: 1. The multikultural’seducation concept based on the thought of some education’s expert, 2.To know the multikultural’s education vales which can be found inQur’an, 3. Multikultural’s education urgency in contemporary Islamiceducation, nowadays. From the end of study, it can be conclude that:multikultural’s education is not contradict with the teaching of Islam.More over the multikultural’s education are also found in Qur’an. Forexample are learning to live in the diversity, buliding the mutual trustand mutual understanding, mutual respect, openminded in thinking,appreciation and interdependency, confilct’s resolution andreconciliation.
MANAJEMEN PENDIDIKAN AKHLAK Sriwardona; Lutfiyani Lutfiyani; Yulda Dina Septiana; Yenni Yenni; Salman Salman; Nofrizal Nofrizal
TARBIYA ISLAMIA : Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 13 No. 1 (2023)
Publisher : Education for Islamic Studies Department, Islamic University of Majapahit (Universitas Islam Majapahit) Mojokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36815/tarbiya.v13i1.2481

Abstract

Students of SMKN 1 Pasaman are multicultural because they have a variety of educational backgrounds, languages, religions, ethnicities and cultures. The diversity of students is not something that prevents the school from fostering the morals of its students. The principal of SMKN 1 Pasaman fosters the morals of multicultural students through the management of moral education. This research is interesting to study with the aim of describing the management of moral education for multicultural students that accumulates in planning, organizing, implementing, controlling, and evaluating moral education. This qualitative research uses a descriptive method with data collection techniques of observation, interviews and documentation, the data collected is analyzed and tested for validity through triangulation. The results of his research that 1) moral education is carried out through careful planning and written in the RPP, 2) it is organized that all parties have an obligation to foster the morals of multicultural students, 3) implementation of moral education for multicultural students a) carried out by the homeroom teacher directly b) moral development by the homeroom teacher with the subject teacher, c) moral development in collaboration with the homeroom teacher and the counseling teacher, d) student moral development with school leaders, e) coaching student morals with parents, 4) control and supervision are also carried out directly and indirectly, systematic 5) evaluation of moral education begins with guidance, direction, guidance, sanctions and cooperation
Nilai-Nilai Pendidikan Pada Lirik Ronggeng di Pasaman Barat Iswandi iswandi; Taufik Hidayat; Rahmadi Rahmadi; Lutfiyani Lutfiyani; Juliwis Kardi; Yulda Dina Septiana; Yenni Yenni
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 001 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam (Article In Progress Special Issue 20
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i001.5412

Abstract

Lirik-lirik pada lagu ronggeng di Pasaman Barat sangat erat dengan nilai-nilai Pendidikan. Nilai-nilai tersebut meliput nilai etika dan moral, kejujuran, kasih sayang yang merupakan inti dari nilai Pendidikan. Lebih lanjut, pendidikan merupakan proses dalam memanusiakan manusia. Maka nilai-nilai karakter itu merupakan unsur-unsur penting dalam proses pelaksanaan pendidikan tersebut. Lirik-lirik lagu ronggeng ini terutama lagu cincin ijo dan anak balam, pada dasarnya yang sudah dihafal oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat sudah mampu memahami makna yang terkandung dalam lirik-lirik tersebut. Dengan demikian, secara langsung maupun tidak langsung, maka lagu-lagu ronggeng tersebut telah mampu membangun dan membimbing karakter masyarakat. Lagu ronggeng di samping menjadi hiburan, juga menjadi pesan-pesan dalam membina karakter masyarakat.
PROFESI PENDIDIK DALAM PERSFEKTIF HADITS Lutfiyani Lutfiyani; Finni Elvia Roza
Jurnal Al-Karim : Jurnal Pendidikan, Psikologi dan Studi Islam Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Al-Karim - Maret 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam YAPTIP Chadijah Ismail Pasaman Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.586 KB) | DOI: 10.70820/staiyaptippasamanbarat.v7i1.21

Abstract

Kajian profesi guru dalam persfektif hadits menjadi hal yangmenarik dalam ajaran Islam disebabkan penghargaan Islam yang sangattinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan itu sehinggamenempatkan kedudukan guru setingkat dibawah Nabi dan Rasul,dalam beberapa riwayat hadis mereka mendapat julukan warâtsatual-anbiyâ (pewaris para nabi), dan diibaratkan keunggulan merekadibandingkan dengan yang lain, seperti bulan purnama di tengahtengah bintang.Tujuan dari penulisan kajian ini adalah untuk mengetahui tentangbagaimana profesi guru dalam persfektif hadits, dari penjelasan dalamkajian ini diharapkan dapat gambaran tentang yang jelas tentang profesiguru dalam persfektif hadits.Jenis penelitian ini bersifat kepustakaan (library research). Yaknipenelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasidengan bantuan macam-macam material yang terdapat di ruangperpustakaan, misalnya berupa; buku-buku, majalah, naskah-naskah,catatan, kisah sejarah, dokumen-dokumen, dan lain-lain.Hasil penelitian bahwa tugas pendidik dalam hadis tidak hanyasebagai pengajar, yaitu guru bukan sekedar memberikan ilmu ataupengalihan ilmu kepada peserta didiknya, akan tetapi guru sebagaipendidik, yaitu guru berkewajiban menanamkan nilai-nilai kebajikanseperti akhlak, etika, moral dan lain sebagainya. Sedangkan etikaguru menurut hadis yaitu guru sebagai teladan/idola, sumber inspirasiserta menanamkan sifat-sifat mulia yang lain agar peserta didik menjadiinsan kamil.
POLA PEMBINAANAN KARAKTER DI PONDOK PESANTREN SUBULUSSALAM KABUPATEN PASAMAN BARAT salman; Lutfiyani; Dwi Siswanti
Jurnal Al-Karim : Jurnal Pendidikan, Psikologi dan Studi Islam Vol. 6 No. II (2021): Jurnal Al Karim : September 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam YAPTIP Chadijah Ismail Pasaman Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.711 KB) | DOI: 10.70820/staiyaptippasamanbarat.v6iII.62

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi dari pengamatan awal melihatKarakter Siswa Melalui Pola Pembinaan Di Pondok PesantrenSubulussalam Kabupaten Pasaman Barat. Masih banyak santri yangterdapat tidak displin, tidak bertanggung jawab dan tidak jujur. Dilingkungan pesantren yang berbeda dari lingkungan yang ada disekolah umum yang mana lingkungan yang sudah mampumembentuk karakter siswa dengan rutinitas dan kewajiban yangharus dijalani. Sehinggan didalam pembentukan karakter tersebutpeneliti berindisiatif untuk melakukan penelitian tentang polapembinaan karakter yang dilakukan di Pondok PesantrenSubulussalam.Penelitian ini bertujuan: Untuk mendeskripsikan PolaPengajaran Pembinaan Karakter Yang Diterapkan Di PondokPesantren Subulussalam Kabupaten Pasaman Barat, Peran Gurudalam Pembinaan Karakter Di Pondok Pesantren SubulussalamKabupaten Pasaman Barat dan Peran Guru dalam PembinaanKarakter Di Pondok Pesantren Subulussalam Kabupaten PasamanBaratHasil penelitian ditemukan ini adalah 1.) Pola pengajarandalam pembinaan karakter siswa/i di pesantren subulussalammenunjukkan bahwa, proses pembelajaran di kelas terlihat berjalankondusif dan aktif dimana siswa antusias dalam mendengarkanmateri Pendidikan Agama Islam yang diajarkan oleh guru.Kemudian saya mengambil gambar kegiatan belajar mengajartersebut. 2.) Pola keteladannan yang dilakukan dalam membinakarakter siswa/i ialah dilakukan melalui keteladanan ketika prosespembelajaran berlangsung dan juga dilakukan keteladanan kepadasiswa/i ketika kegiaatan diluar pembelajaran. Setiap akan memulaipembelajaran siswa terlebih dahulu membaca doa bersama-sama,membaca surat-surat pendek sebelum selanjutnya menghafalkannya.Kegiatan tersebut sesuai dengan jadwal yang sudah di setujuipesantren subulussalam. 3.) Pola Pembinaan karakter yangdilakukan di pondok pesantren subulussalam yang berperan dalamhal itu ialah setiap akan memulai pembelajaran siswa terlebih dahulumembaca doa bersama-sama, membaca surat-surat pendek sebelumselanjutnya menghafalkannya. Kegiatan tersebut sesuai denganjadwal yang sudah di setujui pesantren subulussalam.
MENGGUNAKAN BAHASA, PENAMPILAN, GERAK DAN WAKTU SELANG DALAM PEMBELAJARAN Suaibatul Aslamiyah Nasution; Heria Nengsih; Marzuki Marzuki; Lutfiyani Lutfiyani
Jurnal Al-Karim : Jurnal Pendidikan, Psikologi dan Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2023): Jurnal Al Karim : Maret 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam YAPTIP Chadijah Ismail Pasaman Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.091 KB) | DOI: 10.70820/staiyaptippasamanbarat.v8i1.198

Abstract

Mengajar adalah satu pekerjaan profesional yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilainilai. Sebagaimana halnya pekerjaan profesional yang lain, pekerjaan seorang guru menuntut keahlian tersendiri sehingga tidak setiap orang mampu melakukan pekerjaan tersebut sebagaimana mestinya. Ada seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Perangkat kemampuan tersebut disebut kompetensi guru. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, seorang guru dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian, dan sosial. Keterampilan dasar mengajar (teaching skill) adalah kemampuan atau keterampilan yang khusus (most spesific instructional behaviours) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan professional
KONSEP PEMBINAAN PROFESINALISME GURU Sukma Aini; Abdul Rahman; Lutfiyani Lutfiyani
Jurnal Al-Karim : Jurnal Pendidikan, Psikologi dan Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2023): Jurnal Al Karim : September 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam YAPTIP Chadijah Ismail Pasaman Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70820/staiyaptippasamanbarat.v8i2.246

Abstract

Mengajar merupakan suatu profesi yang memerlukan keterampilan khusus dan tidak dapat dilakukan apabila seseorang tidak terlatih dalam bidang pendidikan. Guru yang profesional memegang peranan penting dalam menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan siswa yang lebih baik. Pendidikan abad 21 menekankan pada kualitas guru yang profesional untuk menciptakan pendidikan yang lebih berkualitas dan peserta didik yang lebih berkualitas. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk memberikan langkah-langkah strategis dalam mengembangkan guru profesional. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian bibliografi dan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan penelitian bibliografi dari penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan. Hasil dari penelitian ini, yaitu: 1) indikator keberhasilan guru yang profesional dapat dilihat dari kualitas proses maupun dapatmenguasaihasil belajar dari peserta didik yang merupakan tanggung jawab dari seorang guru; 2) guru harus menguasai kompetensi keguruan; dan 3) terdapat berbagai upaya dalam meningkatkan profesionalisme guru. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Lutfiyani Lutfiyani; Syofrianisda Syofrianisda; Nurnia Tresna; Widia Ramadhani
Jurnal Al-Karim : Jurnal Pendidikan, Psikologi dan Studi Islam Vol. 9 No. 2 (2024): Jurnal Al Karim Edisi September 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam YAPTIP Chadijah Ismail Pasaman Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70820/staiyaptippasamanbarat.v9i2.393

Abstract

Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media utama untuk mengintegrasikan pengetahuan baru. Pembelajaran Berbasis Proyek adalah pendekatan pembelajaran yang inovatif, menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan kompleks. Yang guna nya untuk membantu siswa dalam investigasi pemecahan masalah, mengembangkan keterampilan berpikir, dan menghasilkan produk nyata yang bermakna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa. Penerapan model pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan hasil belajar siswa, siswa menjadi aktif dengan diterapkannya model pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini menggunakan metode library research yang mana sumber acuan nya dari buku-buku atau jurnal-jurnal yang bisa di pertanggung jawabkan ke absahan nya.
Development Trends of Multicultural Education for the Sustainable Development Goals (SDGs): Bibliometric Analysis of the Scopus Database (2010-2024) Muhammad Abdur Rozaq; Toni Ardi Rafsanjani; Lutfiyani; Deki Wibowo; Septina Rahmawati; Devy Aufia Abshor; Muhammad Maga Sule
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 25 No. 02 (2024): Profetika Jurnal Studi Islam 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v25i02.7326

Abstract

Objective: This study aims to analyze the research trends in multicultural education indexed in the Scopus database (2010–2024) using a bibliometric approach. The research specifically addresses gaps in the systematic mapping of global research patterns, thematic and geographical distribution, and international collaboration in multicultural education literature. Theoretical framework: The theoretical framework of this study is grounded in critical multicultural education theory, which emphasizes inclusivity, equity, and cultural responsiveness in educational systems. By linking this framework to the Sustainable Development Goals (SDGs)—particularly SDG 4 (Quality Education) and SDG 10 (Reduced Inequalities)—this research underscores the role of multicultural education in achieving global sustainability objectives. Literature Review: A review of existing literature highlights extensive qualitative discussions but reveals a lack of quantitative bibliometric analysis in mapping research developments in this field. Methods: This study employs bibliometric analysis to examine annual publication trends, emerging themes, patterns of international collaboration, and geographical distribution. The research identifies leading authors, influential institutions, and key journals that contribute to the advancement of multicultural education literature. Results: The findings indicate a significant increase in research publications over the past decade, with growing international collaboration among scholars. However, disparities remain in the geographical distribution of research, with certain regions being underrepresented. Additionally, key themes such as intercultural dialogue, curriculum development, and inclusive pedagogy have gained prominence, reflecting the evolving academic discourse in multicultural education. Implications: This study has practical and theoretical implications. Theoretically, it enriches the literature by providing empirical data on global research trends. Practically, it offers strategic insights for policymakers, educators, and researchers in formulating effective policies and pedagogical strategies that integrate multicultural values into education. Novelty: The novelty of this research lies in its systematic bibliometric analysis, which provides a comprehensive mapping of multicultural education scholarship about the SDGs. This study serves as a foundational reference for future research and policy development aimed at building a more just, peaceful, and inclusive global society.