Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

The Difference of Ultra-Processed Food Consumption based on Individual Characteristics and Other Factors among Non-Health Undergraduate Students in Universitas Indonesia in 2023 Adeline Vashtianada; Asih Setiarini; Ratu Ayu Dewi Sartika
Indonesian Journal of Public Health Nutrition (IJPHN) Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/ijphn.v4i1.7393

Abstract

Ultra-processed food/UPF is a product that undergoes a series of industrial techniques and processes, also has low nutritional value. Overconsumption of UPF can increase the risk of overweight and obesity. The purpose of this study is to determine the differences in the proportion of UPF consumption based on individual characteristics, environmental factors, and lifestyle factors among non-health undergraduate students in Universitas Indonesia in 2023. A cross sectional study design conducted on 149 samples. The data was collected using a self-administered online questionnaire. The data was analyzed using univariate and bivariate (chi-square) analyses. The results showed that 50,3% of the students consumed a high level of UPF. The bivariate analysis showed a significant difference in the proportion of UPF consumption based on peer influence and access to UPF.
Hubungan konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian obesitas pada anak dan remaja: A systematic literature review Emiliana, Niti; Setiarini, Asih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.161

Abstract

Background: Sugar-sweetened beverages are any liquid that is sweetened with added sugar in various forms. Sugar-sweetened beverages are a potential risk factor for overweight in children and adolescents. Purpose: To explore and look for scientific evidence of the relationship between consumption of sugar-sweetened beverages and the incidence of obesity in children and adolescents. Method: This research used a systematic literature review which was searched from three database sources, PubMed, Embase, and ScienceDirect. Determining search keywords based on the MeSH Term database. There were 7 journals analyzed based on inclusion criteria; they were international journals, published in the last 5 years, with a population of children and adolescents aged 5–19 years, and focused on the incidence of obesity from the consumption of sugar-sweetened beverages. Result: The serving size and frequency of consumption of sugar-sweetened beverages influence the increase in body weight changes, which have an impact on the incidence of obesity and overweight in children and adolescents. Conclusion: Consumption of sugar-sweetened beverages is associated with an increased incidence of overweight and obesity in children and adolescents. Suggestion: Further research is needed on effective solutions to reduce the consumption of sugar-sweetened beverages and address cases of obesity and overweight in children and adolescents.   Keywords: Adolescents; Children; Obesity; Overweight; Sugar-Sweetened Beverages.   Pendahuluan: Minuman berpemanis adalah segala cairan yang dimaniskan dengan tambahan gula dalam berbagai bentuk. Minuman tersebut menjadi salah satu faktor risiko yang potensial terhadap kejadian kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak dan remaja. Tujuan: Untuk mengeksplorasi dan mencari bukti-bukti ilmiah hubungan konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian obesitas pada anak dan remaja. Metode: Penelitian systematic literature review dengan pencarian menggunakan tiga sumber database yaitu, PubMed, Embase dan ScienceDirect. Penentuan kata kunci pencarian berdasarkan database pada MeSH Term. Terdapat 7 jurnal yang dianalisis berdasarkan kriteria inklusi yaitu jurnal internasional, dipublikasikan pada 5 tahun terakhir, populasi pada anak dan remaja usia 5-19 tahun, serta berfokus pada kejadian obesitas dari faktor konsumsi minuman berpemanis. Hasil: Takaran porsi dan frekuensi konsumsi minuman berpemanis memengaruhi peningkatan perubahan berat badan yang berdampak pada kejadian obesitas dan kelebihan berat badan pada anak dan remaja. Simpulan: Mengonsumsi minuman berpemanis berhubungan dengan kelebihan berat badan dan obesitas pada anak dan remaja. Saran: Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai solusi yang efektif untuk mengurangi konsumsi minuman berpemanis dan menangani kasus obesitas dan kelebihan berat badan pada anak dan remaja.   Kata Kunci: Anak; Kelebihan Berat Badan; Minuman Berpemanis; Obesitas; Remaja.
Peningkatan Pengetahuan Tenaga Kesehatan Tentang Anemia Melalui Pembelajaran Daring: Studi Pendahuluan pada Learning Center PDRC FKM UI Putra, Wahyu Kurnia Yusrin; Setiarini, Asih; Farsia, Latifah; L. Achadi, Endang
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 2s (2025): Special Issue: The 3rd International Conference on Health Sciences 2024
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v14i2s.3719

Abstract

Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan angka anemia yang masih tinggi pada kelompok usia 25-34 tahun (31.4%) dan usia 35-44 tahun (39.6%). Di sisi lain upaya penurunan anemia perlu didasari dengan pemahaman yang komprehensif oleh para tenaga kesehatan mulai dari penyebab, pengobatan dan pencegahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran daring asinkronus dalam peningkatan pengetahuan tenaga Kesehatan tentang anemia. Penelitian ini menggunakan disain pre-post test dengan 42 peserta dari 5 provinsi (Sumatera Selatan, Jawa Barat, NTT, Sulawesi Selatan dan Maluku) yang dipilih secara purposif untuk mengikuti pembelajaran daring asinkronus tentang anemia. Materi pembelajaran terdiri atas 14 topik dalam bentuk video beranimasi dan 1 buku saku yang dapat diakses secara mandiri selama 2 minggu. Uji t-berpasangan digunakan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan pengetahuan setelah menyelesaikan pembelajaran. Hasil analisis pre-post menunjukkan adanya peningkatan rerata skor pengetahuan yang signifikan (p value < 0.05) sebanyak 18 poin. Topik anemia dan anemia defisiensi besi serta topik Multiple Micronutrient Supplement (MMS) menjadi topik dengan peningkatan skor tertinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kedua topik tersebut belum dipahami dengan baik sebelum proses pembelajaran dan terjadi peningkatan pemahaman pada kedua topik tersebut pasca mengikuti pembelajaran.
Effectiveness of Parental Nutrition Education Intervention in Prevention and Handling of Undernutrition in Toddlers: Literature Review Azkia, Bardiatul; Setiarini, Asih
Mandalika Journal of Medical and Health Studies Vol 3 No 2 (2025): Mandalika Journal of Medical and Health Studies
Publisher : Mandalika Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/mjmh.v3i2.276

Abstract

Malnutrition in children is still a public health problem in various countries, especially low- and middle-income countries, especially the problem of undernutrition (wasting, stunting, underweight). Specific nutritional intervention strategies are needed to improve the nutritional status of children under the age of five. This literature review study was conducted to summarize various nutritional education interventions that have been carried out in the last 3 years and their relationship to improving knowledge and nutritional status of toddlers. The literature search was sourced from various electronic databases (ProQuest, Science Direct, and Springer Link). The type of research used in this literature review is experimental research so that the differences in the effects of the nutritional education interventions carried out can be seen. The main results obtained are that nutritional education has an effect on increasing the knowledge of mothers and caregivers of toddlers regarding the necessary nutritional science and also has an effect on the average z-score and even reducing the number of malnutrition. Providing adequate additional food can strengthen the positive impact on improving the nutritional status of toddlers which runs linearly with the provision of nutritional education. Nutrition education also has an effect on increasing knowledge of the importance of monitoring growth and food diversity at the household level which also has an indirect effect on the nutritional status of toddlers. Nutrition education can be done with several methods and nutritional content according to needs and targets. More nutritional education interventions are needed with appropriate adjustments to methods, needs, and targets as an effort to prevent and reduce malnutrition rates in toddlers.
Effect of Local Culture-based Nutrition Education on Compliance with Iron and Folic Acid Supplementation in Female Adolescent Rahmiwati, Anita; Djokosujono, Kusharisupeni; Krianto, Tri; Utari, Diah Mulyawati; Djuwita, Ratna; Setiarini, Asih; Besral, Besral; Purnama, Dadang Hikmah; Dwiriani, Cesilia Meti; Mulyana, Nana
Kesmas Vol. 18, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The non-compliance of female adolescents with the consumption of iron and folic acid supplementation (IFAS) poses a challenge to reducing the incidence of anemia. Therefore, this study aimed to determine the effect of nutrition education using the local culture-based approach on the level of knowledge and attitudes regarding awareness, interest, evaluation, trial, and adoption dimensions, as well as compliance of female adolescents in consuming IFAS. The intervention was conducted using a quantitative quasi-experimental design approach. The sample comprised 68 and 58 senior high school girls in the control and intervention groups. The intervention group received IFAS and local culture-based nutrition education for 12 weeks and followed up after four weeks; while, the control group was given a leaflet and IFAS. Univariate analysis was conducted to analyze the participants’ characteristics; while, bivariate analysis used an independent T-test. The multivariate analysis was carried out using multiple linear and logistic regression analyses. The study showed a statistically significant increase in knowledge and attitudes scores in the intervention group (p-value<0.01) compared to the control group. In conclusion, the compliance with IFAS in the intervention group was 82.8%.
Efektivitas Program Fortifikasi Minyak Goreng dengan Vitamin A terhadap Status Gizi Anak Sekolah di Kota Makasar Achadi, Endang; Arifah, Siti; Muslimatun, Siti; Anggondowati, Trisari; Setiarini, Asih
Kesmas Vol. 4, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, kekurangan Vitamin A masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting seperti terlihat pada balita penderita vitamin A defisiensi subklinis yang tinggi (50%). Hal tersebut akan berpengaruh terhadap berbagai fungsi tubuh yang antara lain meliputi sistem imun, penglihatan, sistem reproduksi dan diferensiasi sel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi konsumsi minyak yang diperkaya vitamin A dalam memperbaiki status vitamin A dan hemoglobin balita. Penelitian dengan disain studi intervensi Before-After ini dilaksanakan pada anak sehat berusia 7-10 tahun yang diberi obat cacing sebelum intervensi dilakukan. Pengukuran serum retinol dan hemoglobin dilakukan sebelum dan 3 bulan setelah intervensi . Minyak yang difortifikasi vitamin A telah disediakan di warung/ toko di sekitar tempat tinggal responden. Untuk meningkatkan demand, penelitian ini dilengkapi dengan pendekatan pemasaran sosial yang dilakukan pihak lain. Secara umum tidak terlihat perubahan status gizi, tetapi prevalensi anemia turun dari 21,8% menjadi 11,6%. Sementara, prevalens vitamin A defisiensi ditemukan lebih rendah pada anak yang mengkonsumsi ³12 minggu (26,6%) daripada yang mengkonsumsi < 12 minggu (42%) . Hasil tersebut dapat dijadikan pertimbangan untuk merekomendasikan agar minyak difortifikasi vitamin A. Vitamin A deficiency (VAD) remains as one of significant public health problems in Indonesia. Around 50% of under five children are suffering from subclinical VAD. Deficiency of vitamin A will affect several important role in the body, such as immune system, vision, reproductive system and cell differentiation. Therefore, guarding Indonesian children to be free from VAD is crucial for their quality as Human Resources. We assessed the impact of the consumption of vitamin A fortified cooking oil on the improvement of vitamin A and hemoglobin status among school children in urban slum area in Makassar City. The study was an intervention design Before-After. Healthy school children 7-10 years were selected from schools and de-wormed before the intervention. Serum retinol and hemoglobin was measured at baseline and at 3 months after. Fortified oil was made available through distribution at shops and accompanied with social marketing. Eventhough overall there was no change in VAD prevalence, the VAD prevalence is lower among children who consumed fortified oil ³12 weeks (26.6%) compared to those who consumed <12 weeks (42%). Prevalence of anemia decreased from 21.8% to 11.6%. We recommended that fortified oil is made mandatory.
Sistem Monitoring Frekuensi Denyut Nadi pada Pelari Menggunakan Metode Photoplethysmographic Setiarini, Asih; Laksana, Mahatma Widya; Winarno, Basuki
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 8 No 6: Desember 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/jtiik.2021863729

Abstract

Lari merupakan olahraga yang efektif untuk membakar kalori. Namun, olahraga ini mempunyai dampak negatif bagi pelari yang mampu memicu serangan jantung sehingga dibutuhkan alat kesehatan untuk mendeteksi frekuensi denyut nadi saat berlari. Tujuan penelitian ini merancang sistem monitoring frekuensi denyut nadi secara real time pada pelari dengan menggunakan easily plugin pulse sensor berbasis photoplethysmographic. Sensor tersebut terdiri atas transmitter dan receiver infrared yang dipasang pada ujung jari tengah yang mana melalui jaringan kulit mampu mendeteksi volume darah. Fitur buzzer digunakan sebagai alarm jika denyut jantung mencapai 170 Beat Per Minute (BPM). Alat ini juga dilengkapi dengan aplikasi Android yang memudahkan pihak lain memonitoring keadaan denyut nadi pelari. Bluetooth HC-05 sebagai modul komunikasi data antara Arduino dan Android. Alat yang dirancang memiliki error maksimum sebesar 0,73% berdasarkan data percobaan dari 5 partisipan. Berdasarkan hasil pengujian, sistem monitoring frekuensi denyut nadi secara real time mampu mendeteksi serangan jantung saat berlari dan adanya fitur data logger digunakan untuk rekap medis keadaan frekuensi denyut jantung saat berlari tanpa menggunakan aplikasi smartphone Android. AbstractRunning is the most popular workout around the world, because the most accessible, the cheapest and organized sport. However, running is dangerous in people suffering from heart disease. Hence, the medical device to detect heart failure for runners is required. In this paper, a monitoring system and data logger for detecting heart pulse by using easily plugin pulse sensor heart beat and its implementation for runners is newly proposed. The proposed method of sensor to detect the heart beat by using Photoplesthymograph principle. The sensor consists of transmitter and receiver infrared through to skin tissue to detect the blood volume. Different to previous work, the proposed device can be real time to monitor runners while running and have alarm when their heart beat reach 170 BPM. This device is also equipped with an Android application that facilitate other parties to monitor the runner’s heart beat. By using OMRON HEM-7203 as comparison devices, the rate error of measurement result is 0,086% within 5 participans. The proposed device is suitable for heart pulse monitoring system for runners in real time to reduce the heart attack while running.
HUBUNGAN RIWAYAT INISIASI MENYUSU DINI DAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI 0-23 BULAN DI SUMATERA UTARA: ANALISIS DATA SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA (SDKI) 2017 Khairina, Kandita Iman; Setiarini, Asih
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v3i2.1926

Abstract

Latar Belakang: Diare masih menjadi masalah kesehatan terutama pada anak di negara berkembang. Menurut WHO, diare menduduki peringkat kedua penyebab kematian balita di dunia. Prevalensi diare pada anak balita di Sumatera Utara merupakan salah satu prevalensi yang tertinggi di Indonesia sebesar 14,6% di tahun 2018. Inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI eksklusif merupakan faktor protektif dari diare pada anak. IMD di Sumatera Utara tahun 2018 hanya sebesar 39,91% dan cakupan ASI eksklusif di Sumatera Utara tahun 2019 40,66% dan masih di bawah target Renstra Dinas Kesehatan Sumatera Utara. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk melihat hubungan dari riwayat menyusu dini dan ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi 0-23 bulan di Sumatera Utara. Metode: Penelitian deskriptif ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data sekunder dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel studi ini adalah bayi berusia 0-23 bulan yang lahir dari ibu berusia 15-49 tahun di Sumatera Utara yang terdata dalam SDKI. Total 312 sampel didapat. Hasil: Hasil dari studi ini menemukan proporsi diare pada bayi 0-23 bulan di Sumatera Utara sebesar 22.1%, inisiasi menyusu dini 12,8%, dan ASI eksklusif 27,9%. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara riwayat inisiasi menyusu dini dengan kejadian diare (p = 0.172) dan dari analisis diperoleh nilai OR = 2.154, artinya bayi yang tidak inisiasi menyusu dini memiliki odds 2.154 kali lebih tinggi untuk terkena diare. Hasil studi juga menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara riwayat ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi 0-23 bulan (p= 1.000). Kesimpulan: Tidak ada hubungan bermakna antara riwayat inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif dengan kejadian diare.
Determinants of stunting among children aged 6–59 months in Banten Province: A cross-sectional analysis of the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (INSS) Arifianti, Dian Isnaini; Sudiarti, Trini; Triyanti, Triyanti; Setiarini, Asih; Djokosujono, Kusharisupeni
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).365-377

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan zat gizi kronik dan infeksi berulang yang berdampak jangka panjang. Data SSGI 2021 menunjukkan stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten karena prevalensinya masih tinggi (24,5%).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten.Metode: Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 1.643 balita 6-59 bulan menggunakan data SSGI 2021. Variabel independen adalah faktor anak (umur, jenis kelamin, berat lahir, panjang lahir, keragaman pangan); faktor ibu (pendidikan ibu, pekerjaan ibu); faktor kerawanan pangan; faktor kesehatan lingkungan (kepemilikan jamban), faktor penyakit infeksi (riwayat ISPA, diare, pneumonia, TBC); faktor pelayanan kesehatan (pemberian vitamin A pengobatan balita sakit di fasilitas kesehatan). Analisis menggunakan univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik ganda).Hasil: Proporsi stunting sebesar 22,7%. Determinan stunting balita 6-59 bulan adalah jenis kelamin (AOR 1,351; CI 95% 1,047 – 1,744); pendidikan ibu (AOR 1,484; CI 95% 1,103 – 1,998); panjang lahir (AOR 2,094; CI 95% 1,512 – 2,899); kerawanan pangan (AOR 1,629; CI 95% 1,131 – 2,347).Kesimpulan: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten dengan faktor dominan yaitu panjang lahir pendek (AOR 2.09). Keluarga bayi dengan panjang lahir pendek, khususnya ibu perlu mendapatkan pendampingan (termasuk program gizi dan kesehatan) dan informasi pencegahan stunting sebagai upaya mengejar ketertinggalan agar bayi panjang lahir pendek dapat tumbuh dan memiliki panjang badan normal pada tahun-tahun berikutnya. Pemantauan kesehatan secara rutin bayi PBL pendek juga dianjurkan.KATA KUNCI: balita; determinan; panjang lahir; stuntingABSTRACTBackground:  Stunting is a growth failure due to chronic malnutrition and recurrent infections long-term impacts. In Banten Province, the prevalence remains high at 24.5%Objectives:  To identify determinants of stunting among toddlers aged 6-59 months in Banten.Methods :  The cross-sectional study analyzed 1.643 toddlers aged 6-59 months using INSS 2021 data. Independent variables included child factors (age, sex, birth weight, birth length, dietary diversity); maternal factors (education, occupation); food insecurity; environmental health factors (latrine ownership), infectious disease (ARI, diarrhea, pneumonia, tuberculosis); health services (vitamin A, treatment in health facilities). Data were analyzed using univariate, chi-square, and multiple logistic regression.Results: Stunting prevalence was 22.7%. Significant determinants were male gender (AOR 1.351; 95% CI 1.047 – 1.744); low maternal education (AOR 1.484; 95% CI 1.103 – 1.998); short birth length (AOR 2.094; 95% CI 1.512 – 2.899); and food insecurity (AOR 1.629; 95% CI 1.131 – 2.347).Conclusions:  Stunting remains a public health issue in Banten. The most dominant determinant is short birth length (AOR 2.09). Families of infants with Short Birth Length should receive targeted assistance through nutrition and health programs, education on stunting prevention, and monthly growth monitoring to support catch up growth.KEYWORD: birth length; determinant; stunting; toddler
Tinjauan Sistematis: Hubungan Kelahiran Prematur dengan Kejadian Stunting di Dunia Yuni Syahfitri; Asih Setiarini
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.18262

Abstract

ABSTRACT Preterm birth is a leading cause of neonatal morbidity and mortality, often resulting in malnutrition and stunting. This study aims to review the relationship between preterm birth and stunting in children under five years old globally. This systematic review follows the PRISMA method, sourcing articles published from 2015 to 2024 in online databases such as PubMed, ProQuest, and Scopus. Four articles were selected for analysis. The results indicate that preterm birth significantly increases the risk of stunting, highlighting the importance of comprehensive interventions, particularly in antenatal care and maternal nutrition. These findings contribute to improving maternal and child health through better management of preterm births. Keywords: Preterm Birth, Premature, Stunting, Growth Failure.  ABSTRAK Kelahiran prematur merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal, yang sering kali mengakibatkan malnutrisi dan stunting. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau hubungan antara kelahiran prematur dan kejadian stunting pada anak usia di bawah lima tahun secara global. Tinjauan sistematis ini mengikuti metode PRISMA dan melibatkan pencarian artikel yang dipublikasikan dalam database online, seperti PubMed, ProQuest, dan Scopus, dari tahun 2015 hingga 2024. Dari hasil pencarian, empat artikel dipilih untuk dianalisis. Hasil menunjukkan bahwa kelahiran prematur secara signifikan meningkatkan risiko stunting, yang menggarisbawahi pentingnya intervensi komprehensif, terutama dalam perawatan antenatal dan zat gizi ibu hamil. Temuan ini berkontribusi pada upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui manajemen yang lebih baik terhadap kelahiran prematur. Kata Kunci: Kelahiran Prematur, Prematur, Stunting, Pertumbuhan Terhambat.