Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

HUBUNGAN POSISI DUDUK, DURASI DUDUK, DAN JENIS TEMPAT DUDUK TERHADAP KELUHAN LOW BACK PAIN (LBP) SAAT KULIAH ONLINE PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN Tifani, Annisa; Setiawan, Muhammad Riza; Faizin, Chamim
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 10 (2023): volume 10 Nomor 10
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i10.9289

Abstract

Abstrak: Hubungan Posisi Duduk, Durasi Duduk, dan Jenis Tempat Duduk terhadap Keluhan Low Back Pain (LBP) saat Kuliah Online pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Di era Covid-19 banyak upaya dan kebijakan baru diterapkan untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 di Indonesia. Upaya dan kebijakan baru tersebut menimbulkan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan di Indonesia. Salah satunya sektor pendidikan. Dengan menggunakan sistem pembelajaran daring, muncul berbagai keluhan yang dirasakan oleh mahasiswa, khususnya lower back pain (LBP) yang menyebabkan ketidaknyamanan dan kesakitan pada tubuh sehingga dapat mengganggu konsentrasi mahasiswa selama proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan posisi LBP saat kuliah online pada mahasiswa Fakultas Kedokteran. Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan rancangan Cross Sectional. Sampel yang digunakan dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dengan pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dari 139 sampel.  Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara posisi duduk dengan terjadinya keluhan LBP  (ρ value=0,020). Adanya hubungan yang signifikan antara durasi duduk dengan terjadinya keluhan low back pain (ρ value=0,000). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara jenis tempat duduk dengan terjadinya keluhan low back pain (ρ value=0,356). Terdapat hubungan antara posisi duduk, durasi duduk terhadap keluhan LBP dan tidak terdapat hubungan antara jenis tempat duduk terhadap keluhan LBP saat kuliah online pada mahasiswa Fakultas Kedokteran.
The Relationship Between Work Duration and Carpal Tunnel Syndrome in Cigarette Rolling Workers Firdaus, Fisabili; Prihatin, Murwani Yekti; Romadhoni, Romadhoni; Setiawan, Muhammad Riza
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 9 No. 4 (2023): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v9i4.607

Abstract

Aims: This study aimed to identify the correlation between the length and the period of Work correlated with the incidence of carpal tunnel syndrome among cigarette rolling workers at the Breadfruit Factory. Methods: This is an analytic observational study with a cross-sectional method. It utilizes the sample selection method of purposive sampling. The information collection tool consists of questions covering personal information, length of service, and physical examination sheets. Statistical test implemented with Chi-square. Results: The number of cigarette rolling workers used as the sample for this study was 103 people. The statistical test results applying chi-square work duration obtained p-value = 0.005 (p ≤0.05), a p-value of 0.000 (p ≤0.05) was obtained for years of service, indicating a correlation between length of Work and working time with the possible occurrence of Carpal Tunnel Syndrome (CTS) in workers. Conclusion: There is a significant correlation between length of Work and duration of Work on the emergence of CTS symptoms. As a form of prevention, occupational health and safety nurses can provide adequate education to cigarette companies to pay attention to employee conditions and the possibility of health problems occurring for their employees.
Hubungan Postur Kerja, Masa Kerja, dan Durasi Kerja dengan Kejadian Low Back Pain pada Pekerja Wanita di Pabrik Bulu Mata Artifisial Puspitaningrum, Annisa Dwi; Setiawan, Muhammad Riza; Romadhoni, Romadhoni
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 5, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.5.1.2023.24-29

Abstract

Latar Belakang: Low back pain (LBP) menjadi masalah tersering di seluruh dunia, dan menjadi penyebab utama penyakit akibat kerja yang dapat menim-bulkan kecacatan. Low back pain sering dikenal dengan nyeri punggung bawah. Prevalensi LBP didominasi oleh perempuan. Postur keja, masa kerja, dan durasi kerja mengakibatkan terjadinya LBP. Hubungan antara postur kerja, masa kerja, dan durasi kerja dengan kejadian LBP pada pekerja wanita pabrik bulu mata artifisial dianalisis sebagai tujuan penelitian ini.Metode: Penelitian ini ialah penelitian observasional analitik melalui pendekatan cross sectional dengan teknik total sampling. Sampel merupakan pekerja wanita pabrik bulu mata artifisial PT. X kabupaten Purbalingga yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Penilaian LBP dilakukan dengan kuesioner Nordic body map, sedangkan penilaian postur kerja menggunakan RULA. Uji statistik menggunakan uji kolerasi Rank Spearman.Hasil: Hasil analisis didapat postur kerja signifikan berhubungan dengan LBP (p=0,000; r=0,758), masa kerja signifikan berhubungan dengan LBP (p=0,000; r=0,604), dan durasi kerja signifikan berhubungan dengan LBP (p=0,000; r=0,557).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara postur kerja, masa kerja dan durasi kerja dengan kejadian LBP pada pekerja wanita di pabrik bulu mata artifisial.
Hubungan Gerakan Berulang dan Posisi Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Pekerja Fillet Ikan di Kota Tegal Dwilago, Ibro Tanderi; Anggraini, Merry Tiyas; Setiawan, Muhammad Riza
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 4, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.4.2.2022.90-97

Abstract

Latar Belakang: Musculoskeletal Disorders (MSD) dikeluhkan apabila otot menerima beban statis secara terus menerus dan berulang dalam waktu yang lama serta posisi kerja tidak ergonomis maka dapat menimbulkan keluhan muskuloskeletal. Pekerja fillet ikan bekerja dalam posisi duduk yang lama dalam memfillet ikan yakni sekitar 4-8 jam perhari dan secara ber-kesinambungan melakukan gerakan berulang saat memfillet ikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan gerakan berulang dan posisi,kerja,dengan keluhan Musculoskeletal Disorders pada pekerja fillet ikan di Kota Tegal.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasi analitik cross sectional. Responden penelitian sebanyak 38 pekerja, diolah dengan uji fisher’s exact. Kuesioner penelitian berupa lembar RULA untuk pengukuran posisi kerja, kuesioner NBM untuk penilaian keluhan MSD.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara keluhan MSD dengan posisi kerja (p=0,002, RP=1,083) dan tidak ada hubungan antara keluhan MSD dengan gerakan berulang (p= 0,081, RP=1,235). Terdapat 34 responden (89,5%) yang mengeluhkan MSD, diantaranya 26 responden (89,7%) mempunyai posisi kerja kurang baik dan 17 responden (81%) melakukan gerakan berulang >30x/menit saat memfillet ikan.Kesimpulan: Posisi kerja kurang baik 1 kali lebih besar mengalami MSD dibandingkan posisi kerja cukup baik yang mana posisi kerja menjadi faktor resiko keluhan MSD. Gerakan berulang >30 kali permenit 1 kali lebih besar mengalami MSD dibandingkan yang melakukan gerakan berulang ≤30 kali permenit pada pekerja fillet ikan di Kota Tegal yang mana gerakan berulang menjadi faktor resiko keluhan MSD.
Hubungan Shift Kerja dan Sleep Hygiene dengan Kejadian Insomnia pada Perawat RSUD Bumiayu Sabila, Shelma Assyifa; Widayati, Ratih; Setiawan, Muhammad Riza
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 5, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.5.1.2023.12-17

Abstract

Latar Belakang: Insomnia merupakan salah satu dari bahaya akibat pelaksanaan shift kerja dikarenakan tidak sesuainya proses irama sirkadian dengan waktu yang diperlukan oleh seorang pekerja untuk tidur. Sleep hygiene merupakan seperangkat modifikasi dan identifikasi sikap, perilaku, dan lingkungan seseorang yang dapat memberi pengaruh terhadap kualitas tidur. Penerapan perilaku Sleep hygiene yang benar dan baik dapat memberikan kualitas tidur yang baik dan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan shift kerja dan sleep hygiene dengan kejadian insomnia pada perawat RSUD Bumiayu.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik kuantitatif melalui rancangan cross sectional. Sampel penelitian adalah perawat RSUD Bumiayu, sebanyak 93 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Shift kerja dan sleep hygiene digunakan sebagai variabel bebas dan insomnia sebagai variabel terikat. Proses analisis penelitian ini menggunakan uji chi square.Hasil: Hasil analisis data antara shift kerja dengan insomnia didapatkan p value = 0,282 (p > 0,05), dan analisis data antara sleep hygiene dengan insomnia didapatkan p value = 0,048 (p < 0,05).Kesimpulan: Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara shift kerja dengan kejadian insomnia pada perawat RSUD Bumiayu. Namun, ada hubungan antara sleep hygiene dengan kejadian insomnia pada perawat RSUD Bumiayu.
Karakteristik Alat Pelindung Diri dengan Kejadian Burnout pada Perawat Selama Pandemi COVID-19 Basuki, Rochman; Setiawan, Muhammad Riza; Prayogo, Indra Kunto
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 5, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.5.1.2023.18-23

Abstract

Latar Belakang: Burnout merupakan suatu sindrom psikologi yang meliputi kelelahan fisik maupun emosional, sinisme, dan penurunan produktifitas di tempat kerja. Faktor yang dapat menyebabkan burnout pada tenaga kesehatan, perawat dan dokter saat pandemi COVID-19, diantaranya alat pelindung diri (APD) yang tidak memadai. Karakteristik dari alat pelindung diri yang mempengaruhi kejadian burnout pada tenaga kesehatan khususnya pada perawat saat pandemi COVID-19 diantaranya jenis alat yang digunakan, ketersediaan (availability), dan kenyamanan (comfortability) dari alat pelindung diri tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik alat pelindung diri dengan kejadian burnout pada perawat selama pandemi COVID-19.Metode: Penelitian observasional dengan metode cross sectional dengan total sampling. Data menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang dikimkan melalui link google form. Sampel penelitian ini yaitu perawat di Rumah Sakit Charlie Hospital dengan jumlah 32 sampel. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square.Hasil: Mayoritas responden memakai jenis APD yang mengganggu interaksi sosial sebanyak 28 responden (87,5%), merasa ketersediaan APD memadai sebanyak 24 responden (75%), merasa nyaman saat memakai APD sebanyak 19 responden (59,4%), dan responden mengalami burnout ringan sebanyak 28 (87,5%). Ketersediaan APD signifikan berhubungan dengan kejadian burnout (p=0,039) sedangkan jenis APD (p= 0,431) dan kenyamanan APD (p=0,279) tidak signifikan berhubungan dengan burnout.Kesimpulan: Ketersediaan APD berhubungan dengan kejadian burnout pada perawat selama pandemi COVID-19
Analysis of Risk Factors for Acute Myocardial Infarction Arlindyo, Muhammad Vieraldo Berly; Faizin, Chamim; Noviasari, Nina Anggraeni; Setiawan, Muhammad Riza
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Volume 10 No.2 November 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v10i2.18092

Abstract

Cardiovascular disease is the most common cause of death in the world. One part of cardiovascular disease is acute myocardial infarction. There are risk factors that have the potential such as age, gender, genetics, hypertension, smoking, dyslipidemia, and diabetes mellitus. This study aims to analyse the risk factors associated with acute myocardial infarction. This study was conducted in October 2023, using an analytical observational study type and cross-sectional design. This study used medical record data from AMI patients from June 2022 - June 2023. The study sample was respondents diagnosed with acute myocardial infarction at ROEMANI Hospital taken through total sampling. Inclusion was 60 and exclusion was 14 respondents. Data analysis uses the chi-square The results showed that those who had a significant relationship with the incidence of acute myocardial infarction included hypertension (p = 0.001), diabetes mellitus (p = 0.022), smoking (p = 0.045), and those who did not dyslipidemia (p=0.639). In conclusion, there is a significant relationship between hypertension, diabetes mellitus, and the incidence of acute myocardial infarction. At the same time, dyslipidemia does not have a significant relationship with the incidence of acute myocardial infarction.
Analisis Dukungan Keluarga Dengan Self Esteem pada Pasien DM Tipe 2 dengan Ulcus Diabeticum Shaniago, Arthur Bagas; Anggraini, Merry Tiyas; Setiawan, Muhammad Riza
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 9 (2024): Volume 11 Nomor 9
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i9.15810

Abstract

Self esteem dipahami sebagai sikap individu terkait cara menghargai dan menilai dirinya sendiri, memainkan peran penting dalam cara pasien menyikapi penyakit  dan menghadapi tantangan yang timbul. Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan Ulcus Diabeticum sering mengalami penurunan self-esteem karena penyakit ini dianggap sebagai beban seumur hidup, yang mempengaruhi interaksi sosial dan kepercayaan diri. Dukungan keluarga sangat penting untuk meningkatkan self-esteem, karena membantu pasien menghadapi tantangan psikologis dan emosional. Penelitian memiliki tujuan menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dan self-esteem pada 68 pasien di Klinik Perawatan Luka Diabetes Rumat Semarang, metode deskriptif analitik menerapkan pendekatan cross sectional serta consecutive sampling. Instrumen digunakan adalah kuesioner Dukungan Keluarga dan Rosenberg Self-Esteem. Hasil menunjukkan 97,1% responden mendapat dukungan keluarga tinggi, dan 95,6% memiliki self-esteem tinggi. Uji bivariat menunjukkan korelasi signifikan (p 0,001) antara dukungan keluarga tinggi serta self-esteem tinggi pada pasien DM Tipe 2 dengan ulkus diabetikum di Klinik Perawatan Luka Diabetes Rumat Semarang.
Hubungan Tingkat Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Telinga Dengan Noise Induced Hearing Loss Pada Pekerja Dyno Test Aguston, Moch Levin Rabah; Martono, Wahyu Budi; Setiawan, Muhammad Riza
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 8 (2025): Volume 12 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i8.18944

Abstract

Dyno test merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kapasitas maksimal kendaraan. Proses pengoperasiannya menghasilkan kebisingan yang tinggi dan berisiko menyebabkan gangguan pendengaran. Salah satu upaya pencegahan gangguan pendengaran akibat bising adalah kepatuhan dalam menggunakan alat pelindung telinga (APT). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan APT dalam mencegah noise-induced hearing loss (NIHL). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional). Teknik pengambilan sampel total digunakan, dengan jumlah responden sebanyak 45 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk menilai tingkat kepatuhan penggunaan APT dan pemeriksaan audiometri nada murni untuk mendeteksi gangguan pendengaran. Hasil penelitian menunjukkan nilai p sebesar 0,001, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan penggunaan APT dengan kejadian NIHL. Temuan ini mengonfirmasi bahwa kepatuhan yang tinggi terhadap penggunaan APT berhubungan dengan risiko NIHL yang lebih rendah. Oleh karena itu, penggunaan APT merupakan langkah preventif yang efektif dalam mencegah gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan.
Occupational Risk of Knee Osteoarthritis Among Pedicab Operators: A Cross-Sectional Study in Indonesia Harahap, Rudiansyah; Setiawan, Muhammad Riza; Fatharani, Lukman Faishal; Putri, Hayyin Assofa Amina
Journal of Public Health and Pharmacy Vol. 5 No. 3: NOVEMBER 2025
Publisher : Pusat Pengembangan Teknologi Informasi dan Jurnal Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jphp.v5i3.6734

Abstract

Introduction: Osteoarthritis is a joint disease with multifactorial causes, particularly among pedicab operators. Movements such as pushing, pedaling, and lifting often cause damage to cartilage, ligaments, and synovial tissues. This study evaluates the risk of knee OA (Osteoarthritis) from the perspective of pedicab operators, a profession whose health is often neglected, by assessing work duration, length of work, footwear usage, and work posture. Methods: This cross-sectional study was carried out on 50 pedicab operators based on inclusion and exclusion criteria. The demographic questionnaire used to assess work duration, length of work, footwear usage, and type of road. The posture was evaluated using the REBA Worksheet by measuring the angles of the neck, legs, body, wrists, upper arms, and lower arms. The risk of developing knee osteoarthritis was assessed using KOOS questionnaire. The data obtained was analyzed using SPSS version 26 and Graphpad. Results: 48.3% are aged 45–50 years, with 69% having a work posture with a moderate risk level. 51.7% of pedicab operators were at risk for Knee OA. Data analysis found that there was a relationship between work posture (p = 0.01) and length of work (0.000) with the risk of OA, and there is a significant difference between OA scores for those wearing sandals compared to shoes. Conclusion: The pedicab drivres have a risk of developing knee osteoarthritis through their length of work, footwear and work posture. This study stands out due to its biomechanical assessment, providing a detailed analysis of the factors contributing to the risk. The practical implications of this research underscore the importance of incorporating these findings into occupational health policies to enhance the well-being of pedicab operators and mitigate the risk of work-related musculoskeletal disorders. Furthermore, the study contributes to the broader discourse on occupational health, highlighting the need for targeted interventions and policy changes to protect workers in physically demanding jobs.