Claim Missing Document
Check
Articles

Network Meta-Analysis of Wound Dressings and Their Effectiveness in Promoting Healing Burhan, Asmat; Susanti, Indah; Silva, Vanessa A Breu Da; Kumar, Vijay; Kim Chi, Do Thi; Hidayat, Riski; Sebayang, Septian Mixrova; Hamka, Hamka
Nurse Media Journal of Nursing Vol 15, No 2 (2025): (August 2025) [In Progress]
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nmjn.v15i2.67063

Abstract

Background: Chronic and acute wounds affect millions of individuals worldwide, placing a substantial burden on patients and healthcare systems. Previous evaluations have often focused on limited types of dressings or specific wound conditions. Therefore, a comprehensive network meta-analysis is essential for comparing various interventions, bridging knowledge gaps, improving healing outcomes, and addressing clinical and economic challenges.Purpose: This study assessed the comparative effectiveness and safety of advanced wound dressings in promoting healing.Methods: This network meta-analysis, registered with PROSPERO (CRD42023433268), systematically searched PubMed, ProQuest, Scopus, CINAHL, ScienceDirect, Springer Nature, Wiley, Cochrane Library, and Taylor & Francis from January 2012 to December 2022. Eight reviewers independently assessed and extracted data from randomized controlled trials evaluating different dressings, including placebo, alginate, collagen, gamat, honey, hyaluronic acid, hydrocolloid, hydrogel, mebo, platelet-rich plasma, povidone-iodine, and silver sulfadiazine. Data were synthesized using a random-effects network meta-analysis with SUCRA rankings. Study quality was evaluated using Cochrane RoB2, and certainty of evidence was assessed through CINeMA.Results: This review included 38 RCTs with a total of 4,049 patients. The largest placebo group comprised 1,628 participants, while the smallest group was mebo with 10 participants. Heterogeneity and consistency analysis showed negligible variation (χ²=1.757, p=0.78). Alginate dressings were the most effective in reducing wound size compared to placebo (OR 0.64; 95% CI 0.38–1.08; SUCRA probability 0.73), whereas hyaluronic acid dressings were the least effective (OR 0.22; 95% CI 0.06–0.79; SUCRA probability 0.08).Conclusion: Alginate was identified as the most effective primary dressing for wound healing, while hyaluronic acid dressings were the least effective. However, clinical practitioners should carefully weigh the benefits and limitations of each dressing type before selecting the most appropriate treatment for patients.
Implementasi Aromaterapi Lavender Terhadap Intensitas Nyeri pada Pasien Post Sectio Caesarea Setiani, Imas; Setyawati, Ns. Martyarini Budi; Sebayang, Septian Mixrova
Jurnal Inovasi Global Vol. 2 No. 8 (2024): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v2i8.152

Abstract

Sectio caesarea (SC) dapat menyebabkan nyeri akut dan meningkatkan hormon stres, yang berdampak pada takikardia, hipertensi, perubahan respon imun, serta aktivitas sehari - hari, sehingga meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasca operasi. Untuk mengatasi nyeri ini, terapi farmakologi dan non farmakologi, termasuk aromaterapi lavender dapat digunakan. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengimplementasikan aromaterapi lavender guna mengurangi nyeri pada pasien post SC. Metode yang digunakan meliputi beberapa tahapan: Pre-implementasi: mengukur intensitas nyeri menggunakan Visual Analog Scale (VAS) untuk mendapatkan data awal. Implementasi: memberikan aromaterapi lavender dengan menggunakan diffuser. Lavender essential oil sebanyak 5 tetes dicampur dengan 200 ml air dan dihubungkan ke listrik. Pasien diminta untuk menghirup aroma lavender selama 10-15 menit. Post-implementasi: melakukan observasi ulang dan pengukuran intensitas nyeri setelah pemberian aromaterapi, menggunakan VAS.  Evaluasi: membandingkan intensitas nyeri sebelum dan setelah pemberian aromaterapi untuk menilai efektivitas intervensi. Hasil pengabdian masyarakat yang dilakukan di RSUD 45 Kuningan menunjukkan hasil yaitu dari 30 peserta, sebelum implementasi, 26 peserta (86,7%) mengalami nyeri sedang dan 4 peserta (13,3%) mengalami nyeri berat. Setelah implementasi aromaterapi lavender, 17 peserta (56,7%) mengalami penurunan menjadi nyeri sedang, dan 13 peserta (43,3%) mengalami nyeri ringan. Hasil ini menunjukkan bahwa aromaterapi lavender dapat diaplikasikan dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien post SC.
Hubungan Status Perokok dengan Saturasi Oksigen pada Pasien Intra Operasi dengan General Anestesi Inhalasi NH, Fikri Rizal; Sebayang, Septian Mixrova; Yudono, Danang Tri
Jurnal Inovasi Global Vol. 2 No. 9 (2024): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v2i9.176

Abstract

Dampak yang mungkin timbul pada pasien perokok adalah penurunan kadar oksigen dalam aliran darah. Kondisi ini dapat mempengaruhi jalannya prosedur anestesi dan pembedahan karena kestabilan hemodinamik, termasuk pentingnya menjaga tingkat saturasi oksigen dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status perokok dengan saturasi oksigen pada pasien intra operasi dengan general anastesi inhalasi di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan desain penelitian Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang akan menjalani operasi dengan tindakan general anestesi inhalasi, sampel dalam penelitian ini diambil dengan cara consecutive sampling 69 sampel. Analisa data menggunakan uji Chi square, p-value 0,00 (p-value<0,050. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh responden dengan status merokok terdapat 36 orang (52,2%) dengan saturasi <95% dan 3 orang (4,3%) dengan saturasi oksigen ≥95%, responden dengan status tidak merokok diperoleh hasil 1 orang (1,4%) dengan saturasi oksigen <95% dan 29 orang (42%) dengan saturasi oksigen ≥95%,. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian Distribusi karakteristik responden tertinggi berdasarkan usia terdapat pada usia 20-44 tahun sebanyak 42 responden (60,9%), berdasarkan jenis kelamin tertinggi pada responden laki-laki sebanyak 39 responden (56,5%), berdasarkan jenis tindakan GA tertinggi pada GA ETT sebanyak 33 responden (47,8%), berdasarkan responden yang memiliki riwayat merokok sebanyak 39 responden (56,5%), berdasarkan saturasi oksigen intra operasi tertinggi pada nilai <95% sebanyak 37 responden (53,6).
Gambaran Derajat dan Lama Kejadian Shivering pada Pasca Anestesi Umum di Ruang Pemulihan Dewi, Ony Sandra; Sebayang, Septian Mixrova; Firdaus, Eza Kemal
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 3 (2024): Juni 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i3.2608

Abstract

Setiap pembedahan akan dilakukan anestesi dengan tahapan pre anestesi, intra anestesi dan yang terakhir pasca anestesi. Periode pemulihan pasca anestesi dikenal sebagai waktu dengan risiko tinggi untuk terjadinya komplikasi dan salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah menjalani anestesi berupa kejadian shivering. Mengetahui Gambaran Derajat dan lama kejadian Shivering pada pasca Anestesi Umum di Ruang Pemulihan RSAU dr. M. Salamun. Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Teknik sampling dengan Total Sampling. Adapun jumlah sampel sebanyak 40 orang dan dilakukan analisis kepada seluruh sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pemberian kuesioner kepada seluruh sampel yang akan dilakukan tindakan anestesi umum. Usia responden paling banyak dengan kategori dewasa awal sejumlah 13 pasien (32,5%), Jenis kelamin responden paling banyak adalah perempuan sejumlah 28 pasien (70%), Indek masa tubuh mayoritas dengan kategori normal sejumlah 25 pasien (62,5%) dan lama operasi mayoritas dengan kategori sedang 1-2 jam sejumlah 28 pasien (70%). Pasien anestesi umum mengalami shivering sejumlah 16 pasien (40%) dan Kejadian shivering mayoritas pada menit ke 10 sejumlah 8 pasien (20%)
Gambaran Kejadian Mual dan Muntah Post Operatif Tonsilectomy dengan General Anestesi Novitasari, Dwi; Hidayanti, Silvi; Sebayang, Septian Mixrova
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 6 (2024): Desember 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i6.3553

Abstract

Tonsilektomi merupakan prosedur pembedahan dengan anestesi umum. Oleh karena itu, komplikasi yang mungkin terjadi adalah kombinasi dari komplikasi bedah dan anestesi. Muntah pasca operasi merupakan kejadian yang sangat umum terjadi pada tonsilektomi. Jika profilaksis antiemetik tidak digunakan pada anak-anak, kejadiannya berkisar antara 23 hingga 73%. Tujuan : Untuk menggambarkan mual dan muntah setelah tonsilektomi dengan anestesi umum. Metode : Penelitian dengan metode observasional kuantitatif serta desain deskriptif. Populasi penelitian adalah pasien pasca tonsilektomi dengan anestesi umum, besar sampel 32 pasien, metode pengambilan sampel total sampling, lembar observasi berupa Gordon score, kemudian distribusi frekuensi dan tabulasi silang untuk mengetahui kejadian PONV. Hasil: Pada karakteristik usia yang mengalami PONV mayoritas usia 5-15 tahun sebanyak 10 responden (31,3%). Pada jenis kelamin yang mengalami PONV terbanyak adalah perempuan sebanyak 13 responden (40,6%). Mayoritas yang mengalami PONV bukan perokok sebanyak 19 responden (59,4%). Pada penggunaan opioid, sebanyak 20 responden (62,5%) mengalami PONV. Kesimpulannya pasien post operasi tonsilektomi dengan anestesi umum didapatkan sebanyak 12 dari 32 responden (37,5%) tidak merasakan PONV.
Pengaruh Pemberian Aromaterapi Jahe terhadap Mual Muntah pada Pasien Post Operasi Herzigova, Jennifer Phoebe; Sebayang, Septian Mixrova; Novitasari, Dwi; Yantoro, Awal Tunis; Yulianto, Dwi Agus
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 6 (2024): Desember 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i6.3682

Abstract

Mual serta muntah setelah operasi (PONV) yaitu masalah pada pasien setelah operasi, dengan kejadian lebih dari 30% di antara 230 juta orang operasi setiap tahunnya di seluruh dunia. Mual muntah dapat memicu stres pasien. Salah satu pengobatan non-obat yang dapat diberikan oleh ahli anestesi profesional untuk menurunkan tingkat mual serta muntah yaitu aromaterapi jahe. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektivitas aromaterapi jahe terhadap mual dan muntah pada pasien setelah operasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Sampel sebanyak 33 responden dan teknik pengambilan data menggunakan total sampling. Penelitian dilakukan pada 17 Mei hingga 8 Juni 2024 di RS Bedah Khusus Jatiwinangun Purwokerto. Lembar observasi menggunakan nausea, vomiting, and retching index (INVR) serta dilanjutkan dengan analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian sebelum penerapan aromaterapi jahe sebanyak 29 responden (87,9%) mengalami gejala mual dan muntah sedang. Setelah menggunakan aromaterapi jahe, sebagian besar responden sebanyak 31 responden (93,9%) mengalami gejala mual dan muntah ringan. Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa aromaterapi jahe berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar PONV, serta nilai signifikansi sebesar 0,001 dan p value kurang dari 0,05.
Hubungan Kejadian Penurunan MAP Intraoperative dengan Kejadian Intraoperative Nausea And Vomiting (IONV) pada Pasien dengan Spinal Anestesi Anjani, Junisa Syafia; Sebayang, Septian Mixrova; Novitasari, Dwi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 5 (2024): Oktober 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i5.4455

Abstract

Hipotensi yang terjadi pada pasien beresiko menyebabkan mual dan muntah diakibatkan adanya blok serabut simpatis preganglionik yang menghambat aktivitas pencernaan sehingga aktivitas serabut saraf simpatis menjadi lebih dominan. Tujuan untuk mengetahui seberapa sering IONV (mual dan muntah intraoperatif) terjadi pada pasien yang menjalani anestesi spinal dan seberapa sering MAP intraoperatif yang lebih rendah terjadi pada individu yang sama. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 65 responden. Penelitian dilakukan pada tanggal 29 Mei – 17 Juni 2024 di RS Khusus Bedah Jatiwinangun Purwokerto. Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi responden berada dalam kelompok usia 36-45 yaitu 30 responden (46,2%) dan dosis obat sebagian besar dengan dosis 15 mg bupivacain yaitu 57 responden (87,7%). Kejadian MAP Intraoperative setelah dilakukan spinal pada pengukuran 5 menit pertama memiliki MAP 60-100 mmHg 45 responden (69,2%), pengukuran 10 menit memiliki MAP 60-100 mmHg 57 responden (87,7%) dan pengukuran setelah 15 menit memiliki MAP 60-100 mmHg 63 responden (96,9%). Pada kejadian IONV sebagian besar responden tidak mengalami IONV sejumlah 48 responden (73,8%), sedangkan yang mengalami IONV sejumlah 17 responden (26,2%). Setelah dilakukan uji bivariat dengan metode spearman rho menunjukkan nilai 0.401 atau p > 0,05 sehingga didapatkan tidak terdapat hubungan antara kejadian penurunan MAP dengan kejadian IONV pada pasien dengan spinal anestesi.
The Combination of Polyhexamethylene Biguanide and Cadexomer Iodine in Healing Chronic Venous Leg Ulcers: A Case Report Burhan, Asmat; Sebayang, Septian Mixrova
Viva Medika Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v16i1.832

Abstract

Chronic Venous Leg Ulcers (CVLUs) are vascular diseases and require complex wound care from a patient, wound, health personnel and dressing factors. Cadexomer Iodine (CI) and Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) are antimicrobial and broad-spectrum wound washing fluids. The uncontrolled infection will complicate wound healing due to bacteria or plankton from the biofilm stage to infection, which causes a long healing time. Purpose: to determine the effectiveness of the combination of Polyhexamethylene biguanide and Cadexomer Iodine on venous leg ulcer wound healing. Methods: This study is a case study using CVLUs as a sample, with pre-test and post-test designs, patients with CVLUs received topical antimicrobial CI and PHMB interventions on wounds for 7 weeks. The sample in this study used one sample with a pre-post treatment design for seven days.. The instrument uses the Bates Jensen Wound Assessment Tool. Results: The combination of CI and PHMB was shown to improve the healing of CVLUs by controlling bacterial infection in wounds. In the 2nd week, the wound was 26cm x 15cm, the slough was reduced, and the red base wound increased. In the 3rd week, the wound was stage 4, and the granulation increase was 75%. In the 7th treatment, the wound size scale increased 7cmx4cm, the wound became stage 2, and a significant increase in epithelialization was 75%. Conclusion: The combination of PHMB and CI has been shown to control infection at the biofilm stage to critical colonization, reduce odour and significantly control infection, and increase granulation and epithelialization in CVLUs
The Effect of Providing Education on Anxiety In Patients with Acute Myocardial Infarction (AMI) at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital Tyas, Bekti Kusumaning; Siwi, Adiratna Sekar; Sebayang, Septian Mixrova
Viva Medika Vol 16 No 4 (2023)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v16i4.1234

Abstract

Acute Myocardial Infarction (AMI) is one of the cardiac diseases that can arise when blood flow in the coronary artery is restricted, depriving the heart muscle of oxygen. Anxiety is a common mental health problem in Acute Myocardial Infarction (AMI) patients. One of the many treatments for anxiety that is accessible is using educational programs. Prevention, medical care, and lifestyle modifications like nutrition, stress reduction, exercise, and quitting smoking are all covered in the health education offered. This study aims to determine whether providing educational programs has an effect on individuals with acute myocardial infarction (AMI) in terms of anxiety. With a sample size of 44 participants, both intervention and control groups received education in the form of a 5-minute video as part of the study's Quasy Experimental Nonequivalent Control Group research design. The State Trait Anxiety Inventory (STAI), a questionnaire comprising 40 statement questions, was the instrument employed in this investigation. The findings of this study indicate that there is an impact of educational programs on anxiety in acute myocardial infarction (AMI) patients (P=0.042 0.05).
Hubungan Usia dan Durasi Operasi Dengan Waktu Pulih Sadar Pada Pasien Pasca General Anestesi Di Recovery Room Meilani, Krisma Nia; Setyawati, Martyarini Budi; Sebayang, Septian Mixrova; Wibowo, Tophan Heri
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 4 (2025): Volume 12 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i4.19162

Abstract

Pulih sadar dari anestesi umum adalah ketika pemberian obat dihentikan setelah pembedahan dan tubuh mengalami pemulihan dengan hantaran neuromuskular, refleks protektif jalan napas serta kesadaran telah kembali. Menurut studi prospektif terhadap 18.000 pasien di ruang pemulihan, 24% mengalami masalah anestesi dan yang paling sering terjadi adalah pulih sadar terlambat. Mengetahui korelasi antara usia dan waktu pulih sadar serta durasi operasi dan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani aestesi umuma dalah tujuan dari penelitian ini. Sedangkan metode pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian korelasional menggunakan cross sectional. Hasil korelasi menggunakan uji spearman rank untuk variabel usia dan waktu pulih sadar menunjukkan terdapatnya hubungan dengan p value (0,002) dengan koefisien korelasi (0,386) dan hasil korelasi untuk variabel durasi operasi dengan waktu pulih sadar juga menunjukkan terdapatnya hubungan dengan p value (0,004) dengan koefisien korelasi (0,357).