Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Hubungan Kejadian Penurunan MAP Intraoperative dengan Kejadian Intraoperative Nausea And Vomiting (IONV) pada Pasien dengan Spinal Anestesi Anjani, Junisa Syafia; Sebayang, Septian Mixrova; Novitasari, Dwi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 5 (2024): Oktober 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i5.4455

Abstract

Hipotensi yang terjadi pada pasien beresiko menyebabkan mual dan muntah diakibatkan adanya blok serabut simpatis preganglionik yang menghambat aktivitas pencernaan sehingga aktivitas serabut saraf simpatis menjadi lebih dominan. Tujuan untuk mengetahui seberapa sering IONV (mual dan muntah intraoperatif) terjadi pada pasien yang menjalani anestesi spinal dan seberapa sering MAP intraoperatif yang lebih rendah terjadi pada individu yang sama. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 65 responden. Penelitian dilakukan pada tanggal 29 Mei – 17 Juni 2024 di RS Khusus Bedah Jatiwinangun Purwokerto. Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi responden berada dalam kelompok usia 36-45 yaitu 30 responden (46,2%) dan dosis obat sebagian besar dengan dosis 15 mg bupivacain yaitu 57 responden (87,7%). Kejadian MAP Intraoperative setelah dilakukan spinal pada pengukuran 5 menit pertama memiliki MAP 60-100 mmHg 45 responden (69,2%), pengukuran 10 menit memiliki MAP 60-100 mmHg 57 responden (87,7%) dan pengukuran setelah 15 menit memiliki MAP 60-100 mmHg 63 responden (96,9%). Pada kejadian IONV sebagian besar responden tidak mengalami IONV sejumlah 48 responden (73,8%), sedangkan yang mengalami IONV sejumlah 17 responden (26,2%). Setelah dilakukan uji bivariat dengan metode spearman rho menunjukkan nilai 0.401 atau p > 0,05 sehingga didapatkan tidak terdapat hubungan antara kejadian penurunan MAP dengan kejadian IONV pada pasien dengan spinal anestesi.
The Combination of Polyhexamethylene Biguanide and Cadexomer Iodine in Healing Chronic Venous Leg Ulcers: A Case Report Burhan, Asmat; Sebayang, Septian Mixrova
Viva Medika Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v16i1.832

Abstract

Chronic Venous Leg Ulcers (CVLUs) are vascular diseases and require complex wound care from a patient, wound, health personnel and dressing factors. Cadexomer Iodine (CI) and Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) are antimicrobial and broad-spectrum wound washing fluids. The uncontrolled infection will complicate wound healing due to bacteria or plankton from the biofilm stage to infection, which causes a long healing time. Purpose: to determine the effectiveness of the combination of Polyhexamethylene biguanide and Cadexomer Iodine on venous leg ulcer wound healing. Methods: This study is a case study using CVLUs as a sample, with pre-test and post-test designs, patients with CVLUs received topical antimicrobial CI and PHMB interventions on wounds for 7 weeks. The sample in this study used one sample with a pre-post treatment design for seven days.. The instrument uses the Bates Jensen Wound Assessment Tool. Results: The combination of CI and PHMB was shown to improve the healing of CVLUs by controlling bacterial infection in wounds. In the 2nd week, the wound was 26cm x 15cm, the slough was reduced, and the red base wound increased. In the 3rd week, the wound was stage 4, and the granulation increase was 75%. In the 7th treatment, the wound size scale increased 7cmx4cm, the wound became stage 2, and a significant increase in epithelialization was 75%. Conclusion: The combination of PHMB and CI has been shown to control infection at the biofilm stage to critical colonization, reduce odour and significantly control infection, and increase granulation and epithelialization in CVLUs
Hubungan Usia dan Durasi Operasi Dengan Waktu Pulih Sadar Pada Pasien Pasca General Anestesi Di Recovery Room Meilani, Krisma Nia; Setyawati, Martyarini Budi; Sebayang, Septian Mixrova; Wibowo, Tophan Heri
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 4 (2025): Volume 12 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i4.19162

Abstract

Pulih sadar dari anestesi umum adalah ketika pemberian obat dihentikan setelah pembedahan dan tubuh mengalami pemulihan dengan hantaran neuromuskular, refleks protektif jalan napas serta kesadaran telah kembali. Menurut studi prospektif terhadap 18.000 pasien di ruang pemulihan, 24% mengalami masalah anestesi dan yang paling sering terjadi adalah pulih sadar terlambat. Mengetahui korelasi antara usia dan waktu pulih sadar serta durasi operasi dan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani aestesi umuma dalah tujuan dari penelitian ini. Sedangkan metode pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian korelasional menggunakan cross sectional. Hasil korelasi menggunakan uji spearman rank untuk variabel usia dan waktu pulih sadar menunjukkan terdapatnya hubungan dengan p value (0,002) dengan koefisien korelasi (0,386) dan hasil korelasi untuk variabel durasi operasi dengan waktu pulih sadar juga menunjukkan terdapatnya hubungan dengan p value (0,004) dengan koefisien korelasi (0,357).
Perbedaan Tingkat Kecemasan Pre-Sectio Caesarea Pada Pasien Primigravida Dan Multigravida Putri, Farah Davanda; Sebayang, Septian Mixrova; Novitasari, Dwi
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2025): Volume 12 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i1.17644

Abstract

Kecemasan pada masa sebelum operasi caesar merupakan masalah psikologis yang umum terjadi dan dapat memengaruhi pengalaman persalinan serta hasil kesehatan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perbedaan tingkat kecemasan pre-sectio caesarea pada pasien primigravida dan multigravida.Penelitian ini melibatkan 44 responden yang terdiri dari 22 pasien primigravida dan 22 pasien multigravida di salah satu rumah sakit di Indonesia. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan adalah kuesioner State-Trait Anxiety Inventory-S (STAI-S), yang dirancang untuk mengukur kecemasan situasional pada saat tertentu. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik Mann-Whitney U untuk membandingkan tingkat kecemasan antara kedua kelompok. Hasil analisis menunjukkan nilai p-value sebesar 0,066 (p > 0,05), yang mengindikasikan bahwa tidak ada perbedaan secara statistik dalam tingkat kecemasan pre-sectio caesarea antara pasien primigravida dan multigravida. Meskipun demikian, hasil ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk dukungan sosial, pengalaman masa lalu, dan faktor psikologis lainnya yang tidak diukur dalam penelitian ini. Dengan demikian, penelitian ini menyarankan perlunya intervensi yang dipersonalisasi untuk mengelola kecemasan pada pasien yang akan menjalani sectio caesarea, terlepas dari status kehamilannya.
Recognition In Asean Free Trade Nisa, Lailatul; Sebayang, Septian Mixrova; Siwi, Adiratna Sekar
Al Makki Health Informatics Journal Vol. 1 No. 1 (2023): Al Makki Health Informatics Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/hij.v1i1.1

Abstract

Palliative care is aimed at the patient's recovery process in accepting the illness he is suffering from, and palliative care is to reduce the suffering experienced by the patient. This study aimed to determine nurses' level of knowledge and caring behavior in palliative care. This type of research is quantitative with a cross-sectional approach. The sampling technique uses convenience sampling. The sample of this study is nurses finding 63. The measuring instruments used in this study are Palliative Care Quiz For Nursing (PCQN) and Caring Behaviors Inventory (CBI). Statistical analysis using Spearman rank correlation test. The study results obtained a 2-tailed Sig value of 0.000 (p-value> 0.005), thus indicating a relationship between knowledge and nurse behavior. This research is expected to illustrate Nurse's nursing behavior in providing care to palliative patients.
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN PRE OPERASI DENGAN SPINAL ANESTESI DI RSUD DR. SOEDIRMAN KEBUMEN Saputra, Jihan; Yudono, Danang Tri; Novitasari, Dwi; Sebayang, Septian Mixrova
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 9 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11178627

Abstract

Peningkatan tekanan darah yang terjadi sebelum operasi dapat menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh, Perubahan tekanan darah pada pemberian anestesi spinal dapat terjadi karena beberapa faktor seperti status psikologis pasien. Status psikologis pasien dalam hal ini berkaitan dengan kecemasan pasien. Kecemasan akan mengakibatkan hiperaktivitas saraf simpatis. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan tekanan darah pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi di RSUD dr. Soedirman Kebumen. Penelitian ini menggunakan desain survei studi korelasional dan cross sectional sebagai pendekatannya. Pasien operasi dengan spinal dan general anestesi di RSUD dr. Soedirman Kebumen sebanyak 116 responden dijadikan sebagai responden menggunakan teknik consecutive sampling. Alat yang digunakan untuk mendapatkan data yaitu lembar kuesioner. Analisis dilakukan dengan spearman rank. Penelitian ini menunjukkan karakteristik pasien pre operasi paling banyak responden memiliki usia kategori dewasa awal (26-35 tahun) (39.7%), memiliki jenis kelamin laki-laki (52.6%), dan memiliki status gizi normal (59.5%). Kecemasan pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi memiliki rata-rata skor kecemasan adalah 22.37. Tekanan darah pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi memiliki rata-rata tekanan darah sistolik adalah 143.28 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 88.59 mmHg. Hasil uji spearman rank didapatkan nilai p value 0.000 dan 0.001 < 0.05. Kesimpulan ada hubungan kecemasan dengan tekanan darah pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi di RSUD dr. Soedirman Kebumen.
GAMBARAN KEJADIAN SHIVERING POST SPINAL ANESTESI PADA PASIEN BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILACAP Fauzan, Dipa Hilmi; Sebayang, Septian Mixrova; Burhan, Asmat; Suhendro, Suhendro
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 9 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11173343

Abstract

Anestesi spinal memicu vasodilatasi yang memfasilitasi pusat tubuh untuk meredistribusi panas ke perifer serta memicu ambang shivering. Kejadian shivering menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien. Hal ini menimbulkan peningkatan laju metabolisme menjadi lebih dari 40% dan meningkatkan intensitas nyeri pada daerah luka akibat tarikan luka operasi. Selain itu, dapat juga menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen yang signifikan (hingga 40%), peningkatan produksi CO2 (hiperkarbia), meningkatkan hipoksemia arteri, asidosis laktat, dan dapat menyebabkan gangguan irama jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian shivering pasca spinal anestesi pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif. Pendekatannya yaitu cross sectional. Sampel berjumlah 32 sampel dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Hasil penelitian didapatkan bahwa usia yang paling dominan yaitu usia 46-55 tahun (50%), lama operasi yang paling dominan dengan kategori cepat (68,8%) dan IMT yang paling dominan dengan kategori normal (68,8%). Kejadian shivering pasca spinal anestesi yang paling dominan dengan kategori tidak shivering (59,4%). Berdasarkan karakteristik sebagian besar tidak mengalami shivering dengan usia 46-55 tahun (34,4%), berdasarkan lama operasi dengan shivering yang paling dominan tidak mengalami shivering dengan lama operasi cepat (53,1%), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian shivering sebagian besar dengan IMT normal (46,9%). Kesimpulan didapatkan bahwa karakteristik usia, lama operasi dan IMT pasien tidak mengalami shivering.
GAMBARAN SUHU TUBUH PASIEN POST ANESTESI BERDASARKAN JENIS ANESTESI PASIEN DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA Ramadani, Putri Ayu; Sebayang, Septian Mixrova; Wibowo, Tophan Heri; Suryani, Roro Lintang
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 9 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11180865

Abstract

Kasus yang sering terjadi setelah post anestesi di ruang recovery room salah satunya adalah penurunan suhu tubuh atau hipotermi. Salah satu penyebab terjadinya penurunan suhu tubuh post anestesi adalah jenis anestesi yang digunakan. Oleh karena itu faktor agen anestesi menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan agar dapat dikendalikan dalam penggunaannya sehingga dapat meminimalisir efek samping yang ditimbulkan terhadap pasien. Tujuan Mengetahui gambaran suhu tubuh pasien post anestesi berdasarkan jenis anestesi pasien di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif retrospektif. Sampel pada penelitian ini meliputi 64 responden post anestesi. Hasil Penelitian ini menemukan sebagian besar mayoritas responden mengalami penurunan suhu tubuh atau hipotermi sebanyak 45 responden (70,3%), adapun karakteristik pasien meliputi usia sebanyak 33 responden (51,6%) usia dewasa awal, jenis kelamin laki-laki sebanyak 38 responden (59,4%), ASA I sebanyak 42 responden (65,7%), dan anestesi regional sebanyak 34 responden (53,1%). Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan gambaran suhu tubuh post anestesi sebagian besar mengalami penurunan suhu tubuh atau hipotermi sebanyak (70.3%) responden. Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan penelitian lebih kompleks membahas tentang aspek aspek gambaran yang terjadi pada pasien post anestesi.
Gambaran Tingkat Kepuasan Pasien pada Pelayanan Anestesi Umum di Kamar Operasi RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Harahap, Flora Juliyanti; Sebayang, Septian Mixrova; Triana, Noor Yunida; Suandika, Made
Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing Vol 7 No 2 (2023): Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing
Publisher : STIKES Bina Usada Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36474/caring.v7i2.298

Abstract

Latar belakang: Kepuasan pasien merupakan konsep kompleks yang sangat bergantung pada penilaian subjektif. Kepuasan pasien sangat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. kualitas berkaitan erat dengan kepuasan pasien kualitas pelayanan yang bermutu dan efektif di suatu rumah sakit meliputi pelayanan yang nyaman, petugas yang ramah, dan komunikasi yang baik. Tingkat kepuasan pasien berupa alat ukur yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan suatu instansi Kesehatan, seperti kepuasan dan ketidakpuasan pasien yang merupakan penilaian setiap pasien. Tujuan penelitian: Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien pada pelayanan anestesi umum di kamar operasi RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Metedologi: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan observarsional deksriptif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 140 anestesi umum dengan tekhnik Purpose Sampling. Hasil: Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa nilai perempuan sejumlah 112 orang (80%), usia sebagian besar remaja awal (26-45) tahun sejumlah 67 orang (47.9%), dan pendidikan sebagian besar sekolah menengah pertama sejumlah 85 orang (60.7%). Tingkat kepuasan responden anestesi umum dalam kategori puas sejumlah 111 orang (79.3%). Kesimpulan: Hasil penelitian ini dapat disimpulkan rata-rata pasien puas sejumlah 111 orang (79.3%) pada pelayanan anestesi umum di kamar operasi RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga sedangkan pasien tidak puas sejumlah 29 orang (20.7%).
Manajemen Perianestesi Subarachnoid Block Pada Pasien ORIF Fraktur Femur Dextra: Studi Kasus Abdurrahman, Muhammad Farhan; Agniansyah, Kakha; Delfiando, Dicky; Larasati, Putri; Susanto, Amin; Sebayang, Septian Mixrova
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Femoral fracture is a major orthopedic injury requiring operative management to prevent complications and restore limb function. Anesthetic technique plays a crucial role in the success of surgical intervention. This case report employed a descriptive observational method with a case study approach on a 36-year-old male patient with a complete fracture of the middle third of the right femur who underwent Open Reduction and Internal Fixation (ORIF). Data were collected from medical records, physical examination, laboratory tests, radiological findings, as well as intraoperative and post-anesthesia monitoring. Anesthetic management was performed using spinal anesthesia with 15 mg of intrathecal bupivacaine, supported by multimodal analgesia and fluid therapy to maintain hemodynamic stability. During surgery, the patient remained stable, although shivering occurred and was successfully managed with intravenous pethidine and external warming. Post-anesthesia, the patient demonstrated gradual motor recovery, stable vital signs, and no serious complications. In conclusion, spinal anesthesia proved effective in providing adequate analgesia, maintaining hemodynamic stability, and reducing intraoperative complications in patients undergoing ORIF for femoral fracture. This case highlights the importance of selecting an appropriate anesthetic technique, close monitoring, and prompt intervention to ensure patient safety and favorable clinical outcomes