Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

EDUKASI DAN PELATIHAN MANDIRI DETEKSI DINI PREEKLAMSIA MELALUI PEMERIKSAAN MEAN ARTERIAL PRESSURE PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS TALUN CIREBON Medistiana, Serla Medistiana; Sebayang, Septian Mixrova; Ningrum, Ema Wahyu
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v6i3.13622

Abstract

Preeklamsia merupakan gangguan kehamilan yang terkait dengan hipertensi, dengan disertai proteinuria tinggi. Dengan salah satu penyebab terjadinya yaitu iskemik uteroplasenta. MAP sebagai salah satu pencegahannya bisa dilakukan dengan deteksi dini pemeriksaan MAP. Pemeriksaan MAP ini sangat mudah dilakukan dan bisa dilakukan secara mandiri oleh ibu hamil. Pemeriksaan MAP juga sangat penting karena dengan melakukan pemeriksaan secara teratur bagi Ibu hamil untuk mendeteksi dini preeklamsia sejak awal kehamilan sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius dan terjadi HELLP Syndrome. Tujuan Pengabdian kepada Masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan Ibu hamil tentang Preeklamsia dan perhitungan MAP untuk deteksi dini preeklamsia. Metode Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah dengan metode ceramah dan demonstrasi. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat dilakukan di Balai Desa Kecomberan kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Peserta yang hadir berjumlah 26 ibu hamil. Hasil Pengabdian kepada Masyarakat ini terjadi peningkatan pengetahuan preeklamsia dan kemampuan menghitung MAP. Luaran Pengabdian kepada Masyarakat ini berupa booklet dan publikasi jurnal pengabdian kepada Masyarakat.
Faktor yang mempengaruhi hipotermia postoperatif pada pasien pembedahan elektif general anestesi Ibrahim, Rikhap; Sebayang, Septian Mixrova; Yanti, Linda
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v9i1.1190

Abstract

Hipotermia pascaoperasi merupakan masalah klinis yang dapat memperburuk kondisi pasien, memperpanjang masa rawat inap, meningkatkan risiko komplikasi, dan menambah biaya perawatan. Meskipun prevalensinya cukup tinggi, masih terbatas penelitian yang meneliti faktor-faktor penyebabnya, terutama dalam konteks lokal dan operasi elektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kejadian hipotermia pascaoperasi di RSUD Jatiwinangun Purwokerto, ditinjau dari variabel usia, jenis kelamin, lama operasi, indeks massa tubuh (IMT), status fisik ASA, jenis operasi, suhu ruangan, dan waktu transisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum pada periode 2–27 Agustus 2023, dengan teknik total sampling sebanyak 65 pasien. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan pengukuran suhu tubuh di ruang pemulihan. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama operasi, waktu transisi, status ASA, dan jenis operasi memiliki pengaruh yang signifikan dengan kejadian hipotermia (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa keempat faktor tersebut berpengaruh terhadap terjadinya hipotermia pascaoperasi di RSUD Jatiwinangun.
Pengaruh Edukasi Virtual Room Tour Terhadap Kecemasan Pasien Pra Operasi Anestesi Regional Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen Nurillahi, Intan Sebi; Sebayang, Septian Mixrova; Ningrum, Ema Wahyu
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 4 No 1 (2025): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol4.Iss1.1454

Abstract

Pasien yang akan menjalani pembedahan dengan anestesi regional sering kali mengalami kecemasan praoperasi, yang dapat mempengaruhi kondisi fisiologis dan psikologis mereka. Edukasi pasien merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat mengurangi kecemasan. Virtual room tour salah satu metode yang memberikan gambaran yang jelas tentang ruang operasi, proses anestesi, dan alur tindakan yang akan dijalani pasien, sehingga dapat mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan rasa nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi virtual room tour terhadap kecemasan praoperasi pada pasien yang akan menjalani anestesi regional. Metode penelitian pra-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sebanyak 135 responden dengan teknik consecutive sampling. Kuesioner kecemasan yang digunakan the amsterdam preoperative anxiety and information scale (APPAIS). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya penurunan kecemasan yang signifikan setelah diberikan edukasi virtual room tour, dengan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Virtual room tour dalam penelitian ini terbukti dapat menurunkan tingkat kecemasan praoperasi pada pasien yang menjalani anestesi regional. Metode edukasi ini efektif digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis untuk meningkatkan kesiapan mental dan kenyamanan pasien sebelum menjalani prosedur operasi dengan anestesi regional berbasis audio-visual. Implikasi praktis: Penerapan edukasi virtual room tour instalasi bedah sentral dapat menjadi strategi edukatif yang mendukung tenaga kesehatan, khususnya perawat dan dokter anestesi, dalam meningkatkan kesiapan praoperasi serta kondisi mental pasien.
Pengaruh Relaksasi Autogenik Terhadap Tingkat Nyeri Pasien Pascaoperasi Urolithiasis Dengan Spinal Anestesi El Halawah, Futuh; Wibowo, Tophan Heri; Sebayang, Septian Mixrova
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 4 No 2 (2025): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol4.Iss2.1870

Abstract

Postoperative pain is a common problem in urolithiasis patients undergoing spinal anesthesia and may hinder recovery. Autogenic relaxation is a non-pharmacological method that can help reduce pain. This study aimed to examine the effect of autogenic relaxation on postoperative pain levels in urolithiasis patients with spinal anesthesia. A quasi-experimental design with a pretest–posttest control group was applied. A total of 50 respondents were selected using accidental sampling and divided into an intervention group receiving autogenic relaxation and a control group receiving only education. Pain levels were measured using the Numeric Rating Scale (NRS). Results showed a significant reduction in pain in the intervention group (p=0.001), while no significant change was observed in the control group (p=1.000). Between-group analysis after the intervention revealed a significant difference (p=0.001). In conclusion, autogenic relaxation is effective in reducing postoperative pain among urolithiasis patients with spinal anesthesia and may serve as a complementary therapy in postoperative pain management.
Gambaran Nyeri Tenggorokan Pasca Operasi Pada Pasien Anestesi Umum Dengan Intubasi Endotrakeal Di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara Anggi Sofyan, Reza; Sebayang, Septian Mixrova; Wibowo, Tophan Heri
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 4 No 2 (2025): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol4.Iss2.1879

Abstract

Nyeri tenggorokan pasca operasi (Post Operative Sore Throat atau POST) merupakan salah satu komplikasi yang paling umum terjadi setelah tindakan intubasi endotrakeal. POST akan menimbulkan odinofagia, rasa tidak nyaman atau gatal di tenggorokan, disfonia, serta disfagia.   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran nyeri tenggorokan pada pasien anestesi umum dengan intubasi endotrakeal di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2025 dengan Teknik pegambilan sampel total sampling sebanyak 51 responden. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini mendeskripsikan masalah yang terjadi dengan pengumpulan data dilakukan bersamaan secara serentak dalam satu waktu antara faktor risiko dengan efeknya. Hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang mengalami nyeri sedang pada jenis kelamin perempuan 25 responden (49%), usia dewasa (>19-59 tahun) 33 responden (64,7%), ASA II 29 responden (56,9%), ukuran ETT 7.0 sejumlah 18 responden (35,3%), tekanan balon ETT >30cmH20 25 responden (49%), lama terintubasi >60 menit 26 responden (51%). Kesimpulan: secara keseluruhan jenis kelamin, usia, ASA, ukuran ETT, tekanan balon ETT, lama terintubasi mempengaruhi tingkat nyeri tenggorokan pasca operasi dengan intubasi endotrakeal tube.
Gambaran Post Operative Nausea and Vomiting Pada Pasien Sectio Caesarea Dengan Metode Enhanced Recovery Caesarean After Surgery Di RSUD Ajibarang Widiyastuti, Widiyastuti; Sebayang, Septian Mixrova; Hikmanti, Arlyana
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 4 No 2 (2025): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol4.Iss2.1894

Abstract

Caesarean delivery has complications, one of which is Post Operative Nausea and Vomiting (PONV). Over time, new methods have been applied to reduce PONV complications, using the Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) method. This study aims to describe the occurrence of Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) in patients undergoing Caesarean Section (CS) delivery at Ajibarang Regional General Hospital. The research design is a descriptive study with a cross-sectional approach, involving 83 patients selected by purposive sampling according to inclusion criteria. The research instrument used the RINVR observation sheet, and data were collected from primary and secondary sources, then analyzed univariately. The results showed that the majority of patients were aged 26-35 years (45.8%), had no history of PONV or motion sickness (69.9%), fasted less than 6 hours (91.6%), and most patients underwent surgery lasting 1 hour (62.7%). Additionally, most patients experienced PONV symptoms that were mild (10.8%), with no moderate, severe, or very severe symptoms found. This study concludes that the application of the ERACS method at Ajibarang Regional General Hospital is proven effective in minimizing the incidence and severity of PONV in CS patients, with most patients experiencing no PONV or only mild symptoms (10.8%).
Network Meta-Analysis of Wound Dressings and Their Effectiveness in Promoting Healing Burhan, Asmat; Susanti, Indah; Silva, Vanessa A Breu Da; Kumar, Vijay; Kim Chi, Do Thi; Hidayat, Riski; Sebayang, Septian Mixrova; Hamka, Hamka
Nurse Media Journal of Nursing Vol 15, No 2 (2025): (August 2025) [In Progress]
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nmjn.v15i2.67063

Abstract

Background: Chronic and acute wounds affect millions of individuals worldwide, placing a substantial burden on patients and healthcare systems. Previous evaluations have often focused on limited types of dressings or specific wound conditions. Therefore, a comprehensive network meta-analysis is essential for comparing various interventions, bridging knowledge gaps, improving healing outcomes, and addressing clinical and economic challenges.Purpose: This study assessed the comparative effectiveness and safety of advanced wound dressings in promoting healing.Methods: This network meta-analysis, registered with PROSPERO (CRD42023433268), systematically searched PubMed, ProQuest, Scopus, CINAHL, ScienceDirect, Springer Nature, Wiley, Cochrane Library, and Taylor & Francis from January 2012 to December 2022. Eight reviewers independently assessed and extracted data from randomized controlled trials evaluating different dressings, including placebo, alginate, collagen, gamat, honey, hyaluronic acid, hydrocolloid, hydrogel, mebo, platelet-rich plasma, povidone-iodine, and silver sulfadiazine. Data were synthesized using a random-effects network meta-analysis with SUCRA rankings. Study quality was evaluated using Cochrane RoB2, and certainty of evidence was assessed through CINeMA.Results: This review included 38 RCTs with a total of 4,049 patients. The largest placebo group comprised 1,628 participants, while the smallest group was mebo with 10 participants. Heterogeneity and consistency analysis showed negligible variation (χ²=1.757, p=0.78). Alginate dressings were the most effective in reducing wound size compared to placebo (OR 0.64; 95% CI 0.38–1.08; SUCRA probability 0.73), whereas hyaluronic acid dressings were the least effective (OR 0.22; 95% CI 0.06–0.79; SUCRA probability 0.08).Conclusion: Alginate was identified as the most effective primary dressing for wound healing, while hyaluronic acid dressings were the least effective. However, clinical practitioners should carefully weigh the benefits and limitations of each dressing type before selecting the most appropriate treatment for patients.
Gambaran Derajat dan Lama Kejadian Shivering pada Pasca Anestesi Umum di Ruang Pemulihan Dewi, Ony Sandra; Sebayang, Septian Mixrova; Firdaus, Eza Kemal
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 3 (2024): Juni 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i3.2608

Abstract

Setiap pembedahan akan dilakukan anestesi dengan tahapan pre anestesi, intra anestesi dan yang terakhir pasca anestesi. Periode pemulihan pasca anestesi dikenal sebagai waktu dengan risiko tinggi untuk terjadinya komplikasi dan salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah menjalani anestesi berupa kejadian shivering. Mengetahui Gambaran Derajat dan lama kejadian Shivering pada pasca Anestesi Umum di Ruang Pemulihan RSAU dr. M. Salamun. Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Teknik sampling dengan Total Sampling. Adapun jumlah sampel sebanyak 40 orang dan dilakukan analisis kepada seluruh sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pemberian kuesioner kepada seluruh sampel yang akan dilakukan tindakan anestesi umum. Usia responden paling banyak dengan kategori dewasa awal sejumlah 13 pasien (32,5%), Jenis kelamin responden paling banyak adalah perempuan sejumlah 28 pasien (70%), Indek masa tubuh mayoritas dengan kategori normal sejumlah 25 pasien (62,5%) dan lama operasi mayoritas dengan kategori sedang 1-2 jam sejumlah 28 pasien (70%). Pasien anestesi umum mengalami shivering sejumlah 16 pasien (40%) dan Kejadian shivering mayoritas pada menit ke 10 sejumlah 8 pasien (20%)
Gambaran Kejadian Mual dan Muntah Post Operatif Tonsilectomy dengan General Anestesi Novitasari, Dwi; Hidayanti, Silvi; Sebayang, Septian Mixrova
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 6 (2024): Desember 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i6.3553

Abstract

Tonsilektomi merupakan prosedur pembedahan dengan anestesi umum. Oleh karena itu, komplikasi yang mungkin terjadi adalah kombinasi dari komplikasi bedah dan anestesi. Muntah pasca operasi merupakan kejadian yang sangat umum terjadi pada tonsilektomi. Jika profilaksis antiemetik tidak digunakan pada anak-anak, kejadiannya berkisar antara 23 hingga 73%. Tujuan : Untuk menggambarkan mual dan muntah setelah tonsilektomi dengan anestesi umum. Metode : Penelitian dengan metode observasional kuantitatif serta desain deskriptif. Populasi penelitian adalah pasien pasca tonsilektomi dengan anestesi umum, besar sampel 32 pasien, metode pengambilan sampel total sampling, lembar observasi berupa Gordon score, kemudian distribusi frekuensi dan tabulasi silang untuk mengetahui kejadian PONV. Hasil: Pada karakteristik usia yang mengalami PONV mayoritas usia 5-15 tahun sebanyak 10 responden (31,3%). Pada jenis kelamin yang mengalami PONV terbanyak adalah perempuan sebanyak 13 responden (40,6%). Mayoritas yang mengalami PONV bukan perokok sebanyak 19 responden (59,4%). Pada penggunaan opioid, sebanyak 20 responden (62,5%) mengalami PONV. Kesimpulannya pasien post operasi tonsilektomi dengan anestesi umum didapatkan sebanyak 12 dari 32 responden (37,5%) tidak merasakan PONV.
Pengaruh Pemberian Aromaterapi Jahe terhadap Mual Muntah pada Pasien Post Operasi Herzigova, Jennifer Phoebe; Sebayang, Septian Mixrova; Novitasari, Dwi; Yantoro, Awal Tunis; Yulianto, Dwi Agus
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 6 (2024): Desember 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i6.3682

Abstract

Mual serta muntah setelah operasi (PONV) yaitu masalah pada pasien setelah operasi, dengan kejadian lebih dari 30% di antara 230 juta orang operasi setiap tahunnya di seluruh dunia. Mual muntah dapat memicu stres pasien. Salah satu pengobatan non-obat yang dapat diberikan oleh ahli anestesi profesional untuk menurunkan tingkat mual serta muntah yaitu aromaterapi jahe. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektivitas aromaterapi jahe terhadap mual dan muntah pada pasien setelah operasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Sampel sebanyak 33 responden dan teknik pengambilan data menggunakan total sampling. Penelitian dilakukan pada 17 Mei hingga 8 Juni 2024 di RS Bedah Khusus Jatiwinangun Purwokerto. Lembar observasi menggunakan nausea, vomiting, and retching index (INVR) serta dilanjutkan dengan analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian sebelum penerapan aromaterapi jahe sebanyak 29 responden (87,9%) mengalami gejala mual dan muntah sedang. Setelah menggunakan aromaterapi jahe, sebagian besar responden sebanyak 31 responden (93,9%) mengalami gejala mual dan muntah ringan. Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa aromaterapi jahe berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar PONV, serta nilai signifikansi sebesar 0,001 dan p value kurang dari 0,05.