I Gusti Lanang Sidiartha
Department Of Child Health, Medical Faculty, Udayana University

Published : 60 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Nilai Prediktif Persepsi Maternal Terhadap Status Nutrisi Anak Usia 0-2 Tahun Putu Satya Pratiwi; Ni Made Chandra Mayasari; Ni Luh Putu Ariastuti; I Gusti Lanang Sidiartha
Sari Pediatri Vol 21, No 6 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.6.2020.352-7

Abstract

Latar belakang. Ibu merupakan subjek pertama yang mengenali permasalahan kesehatan anak sehingga persepsi maternal yang baik terkait permasalahan gizi anak, memungkinkan identifikasi dini dan tatalaksana yang sesuai.Tujuan. Studi ini bermaksud untuk menilai sejauh mana ketepatan persepsi ibu akan keadaan malnutrisi pada anak.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong-lintang analitik yang melibatkan sebanyak 84 ibu yang memiliki anak berusia 0 hingga 2 tahun di wilayah kerja Puskesmas IV Denpasar Selatan.Hasil. Rerata usia ibu adalah 28,27 tahun, sebanyak 55,9% merupakan lulusan SMA/sederajat, dan 65,5% tidak bekerja. Rerata usia anak adalah 7,98 bulan, 57,1% anak laki-laki. Prevalensi anak dengan status gizi kurang, gizi lebih dan stunting masing-masing sebesar 8,3%, 9,5% dan 7,1%. Nilai prediktif positif dan negatif persepsi ibu terhadap status nutrisi anak gizi kurang, gizi lebih, dan stunting berturut-turut adalah 25%, 20%, 0% dan 93,4%, 94,9% dan 92,1%.Kesimpulan. Persepsi ibu dalam mengeksklusi gangguan nutrisional pada anak lebih bisa diyakini oleh klinisi, dibandingkan dalam mengidentifikasi. Inadekuasi persepsi ibu dalam mengidentifikasi kejadian malnutrisi masih cukup jamak, menyebabkan pentingnya partisipasi aktif dari penyedia layanan kesehatan dalam mengidentifikasi dan menangani malnutrisi pada anak.
Hubungan antara Status Nutrisi dengan Derajat Keparahan Pneumonia pada Pasien Anak di RSUP Sanglah Artawan Artawan; Putu Siadi Purniti; I G Lanang Sidiartha
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.418-22

Abstract

Latar belakang. Pneumonia masih menjadi masalah kesehatan global, khususnya di negara berkembang. Morbiditas dan mortalitasakibat pneumonia cukup tinggi pada anak berusia di bawah 5 tahun.Tujuan. Mencari hubungan status gizi dengan derajat keparahan pasein pneumonia anak yang dirawat di RSUP SanglahMetode. Penelitian cross sectional yang dilakukan di Sub-Bagian Respirologi Bagian/ SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/ RSUPSanglah pada bulan Januari sampai dengan Desember 2014Hasil. Total subyek adalah 114 dengan laki-laki lebih banyak dibanding perempuan (58,8% vs 41,2%). Usia yang paling sering 0-6bulan 35,1% dengan status nutrisi baik 56,11%, diagnosis yang paling banyak adalah pneumonia berat 76,3%. Analisis bivariatmenunjukan terdapat hubungan antara status gizi dengan derajat keparahan pneumonia, dengan nilai p=0,02 dan PR IK95% 2,176(1,094 s/d 4,329).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara status gizi dengan derajat keparahan pneumonia pada anak.
Mortalitas Asidosis Metabolik Laktat dan Non-laktat di Unit Perawatan Intensif Pediatrik RSUP Sanglah Romy Windiyanto; Suparyatha I B Gd; Sidiartha IGL; Budi Hartawan I N
Sari Pediatri Vol 13, No 5 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.5.2012.351-6

Abstract

Latar belakang. Hiperlaktasemia terjadi pada pasien sakit berat disebabkan karena peningkatan produksi laktat dan hambatan pengeluaran laktat. Konsentrasi laktat serum >5 mmol/L disertai pH darah <7,35 disebut asidosis laktat. Prognosis asidosis metabolik laktat lebih buruk dibandingkan asidosis metabolik non-laktat meskipun kadar asidosis lebih ringan. Tujuan. Membandingkan angka mortalitas pasien asidosis metabolik laktat dan non-laktat yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Pediatrik RSUP Sanglah, serta mengetahui peran beberapa parameter laboratotium. Metode. Rancangan penelitian kohort prospektif dengan pembanding internal. Pasien yang mengalami asidosis metabolik, dianalisis dan angka mortalitas dibandingkan antara asidosis metabolik laktat dan asidosis metabolik non-laktat. Risiko relatif dihitung untuk mencari hubungan antara asidosis metabolik laktat dengan mortalitas. Hubungan antara beberapa variabel independen terhadap variabel dependen dilakukan analisis multivariat regresi logistik.Hasil. Di antara 80 pasien, terdapat perbedaan bermakna mortalitas kelompok asidosis metabolik laktat (p= 0,025; RR= 2,81; IK 95% 1,129-6,991). Kadar laktat (p: 0.007; IK 95% 0.037-0.121) dan pH darah (p: 0.013; IK 95% -2.264- -0.361) menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap mortalitas. Kadar laktat >10 mmol/L dan pH darah <7,1 memperlihatkan mortalitas 100%Kesimpulan. Asidosis metabolik laktat memiliki risiko relatif 2,81 terhadap mortalitas, kadar laktat dan pH darah memiliki hubungan dengan kejadian mortalitas. Terdapat perbedaan proporsi mortalitas pada kadar laktat >10 mmol/L dan pH darah <7,1.
Faktor Risiko pada Lama Rawat dan Luaran Pasien Perawatan di Unit Perawatan Intensif Anak RSUP Sanglah Denpasar Silvia Sudarmadji; Dyah Kanya Wati; Lanang Sidiartha
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.653 KB) | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.455-62

Abstract

Latar belakang. Penelitian yang menelaah hubungan faktor risiko jenis kelamin, usia, status gizi, pemakaian jenis terapi oksigen, danpemberian sedini mungkin nutrisi enteral terhadap lama rawat dan luaran perawatan UPIA belum banyak dilakukan.Tujuan. Menilai pengaruh faktor risiko jenis kelamin, usia, status gizi, pemakaian jenis terapi oksigen, pemberian nutrisi enteral diniterhadap lama rawat dan luaran mortalitas pasien.Metode. Penelitian analitik observasional dengan rancang kohort prospektif dilakukan selama periode Mei sampai Juli 2015 terhadap81 pasien usia 1 bulan sampai 12 tahun di rawat di UPIA RSUP Sanglah, Denpasar.Hasil. Terdapat 59,3% pasien laki-laki, 65,4% berusia <5 tahun, berstatus gizi buruk 6,2%, pemakaian jenis terapi oksigen nasalkanula 51,9% dan 60,5% pemberian nutrisi enteral <48 jam. Faktor risiko status gizi dan pemakaian jenis terapi oksigen berbedabermakna (p<0,05) terhadap lama perawatan UPIA. Usia <5 tahun (RR 2,818; IK95% 0,897-8,854), pemakaian jenis terapi oksigen(p<0,001), terutama jenis intubasi (RR 6,000; IK95% 2,775-12,972) dan pemberian nutrisi enteral ≥48 jam (RR 0,003; IK95%1,406-7,830) merupakan faktor risiko terhadap luaran perawatan UPIA, tetapi hanya faktor risiko pengunaan terapi oksigen, terutamajenis intubasi berperan dan berisiko luaran meninggal 16,576 kali terhadap pasien (RR:16,576; IK95% 2,688-102,225).Kesimpulan. Faktor risiko status gizi dan pemakaian alat oksigenasi memperpanjang durasi lama rawat. Usia <5 tahun, pemakaianalat oksigenasi, dan waktu asupan nutrisi ≥48 jam terbukti meningkatkan faktor risiko mortalitas
Obesitas Sebagai Faktor Risiko Sindrom Syok Dengue Elmy S; BNP Arhana; IKG Suandi; IGL Sidiartha
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.238-43

Abstract

Latar belakang. Beberapa peneliti melaporkan bahwa anak obese memiliki risiko mengalami SSD (sindrom syok dengue) lebih tinggi dibandingkan anak non-obese, walaupun hal ini masih kontroversial.Tujuan. Mengetahui risiko SSD pada anak obese dibandingkan dengan anak non-obese.Metode. Rancangan kasus kontrol telah dilakukan terhadap 51 anak SSD sebagai kasus dan 51 anak DBD (demam berdarah dengue) non syok sebagai kontrol. Data diambil dari rekam medik pasien anak berumur kurang dari 12 tahun dengan DBD dan SSD dan dirawat inap di bagian anak, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar periode tanggal 1 Januari sampai 31 Juli 2008. Obese dan non-obese ditentukan berdasarkan pengukuran berat badan per tinggi badan. Risiko ditentukan dengan menghitung rasio odds dan analisis multivariat dilakukan terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap SSD. Tingkat kemaknaan yang diinginkan apabila p<0,05 dan interval kepercayaan 95%.Hasil. Rerata umur subjek pada kasus (7,5±2,5) tahun, kontrol (7,7±2,9) tahun (p=0,767). Jenis kelamin laki-laki 26 (51%), kontrol 27 orang (52,9 %)(p=0,843). Infeksi sekunder 84,3% dan 64,7% pada kontrol (p=0,693). Pasien obese yang mengalami SSD 78,9% pada non-obese 43,4% (p=0,005), rasio odds 4,9 (IK 95% 1,5–16,0). Pada analisis multivariat, didapatkan hanya status gizi yang bermakna berpengaruh terhadap terjadinya SSD dengan p=0,009.Kesimpulan. Obesitas adalah faktor risiko terjadinya syok pada DBD. Risiko SSD pada anak obese 4,9 kali lebih besar dibandingkan dengan anak non-obese.
Pencegahan Osteoporosis dengan Suplementasi Kalsium dan Vitamin D pada Penggunaan Kortikosteroid Jangka Panjang Ayu Setyorini; IKG Suandi; I Gst Lanang Sidiartha; Wayan Bikin Suryawan
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.32-8

Abstract

Osteoporosis merupakan salah satu efek samping tersering pada penggunaan kortikosteroid jangka panjang, namun masih sedikit mendapat perhatian. Kortikosteroid dapat menginduksi osteoporosis dalam 6-12 bulan pertama pemakaian melalui mekanisme langsung maupun tidak langsung. Osteoporosis harus selalu dipikirkan pada anak yang menggunakan kortikosteroid jangka panjang dengan fraktur setelah trauma minimal atau tanpa trauma, nyeri tulang kronik, dan gambaran radiografi menunjukkan penipisan tulang. Efek samping ini dapat dihindari dengan pembatasan dosis kortikosteroid pada dosis minimal yang masih efektif dan mempertahankan nutrisi yang berperan dalam pembentukan tulang seperti kalsium, vitmin D, protein, dan magnesium. Suplementasi kalsium dan vitamin D memiliki efek moderat terhadap penipisan masa tulang, perlu dipertimbangkan pada penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
Gambaran Enzim Transaminase pada Anak Obesitas Vegetarian I Ketut Adi Wirawan; IGN Sanjaya; PG Karyana; IGL Sidiartha
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.231 KB) | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.289-93

Abstract

Latar belakang. Seperempat anak dengan obesitas disertai dengan peningkatan enzim transaminase, yaitu alanin tranferase (ALT), dan aspartat transferase (AST). Diet vegetarian saat ini mulai banyak diminati, salah satu tujuannya adalah untuk mencegah obesitas, walaupun obesitas besitas dapat terjadi pada anak-anak vegetarian dan non-vegetarian.Tujuan. Mengetahui dan membandingkan rerata kadar enzim transaminase pada anak obesitas dari komunitas vegetarian dengan anak bukan vegetarian.Metode. Desain penelitian potong lintang dengan subjek anak obesitas diet vegetarian dan non vegetarian. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh anak obesitas. Populasi terjangkau adalah anak dengan obesitas dengan diet vegetarian dan non-vegetarian di Denpasar pada periode Januari sampai Februari 2010.Hasil. Di antara 44 subjek penelitian, 22 anak obesitas pada kelompok diet vegetarian, dan 22 anak obesitas non vegetarian. Rentang usia antara usia 4 tahun sampai 14 tahun. Kejadian obesitas lebih banyak pada anak laki-laki dan berpendidikan sekolah dasar. Tidak ada perbedaan rerata IMT, tekanan darah sistolik dan diastolik antara kedua kelompok. Dari gambaran enzim transaminase didapatkan perbedaan bermakna (p=0,017) pada kadar ALT antara kedua kelompok. Proporsi peningkatan kadar ALT lebih banyak kejadiannya pada anak obesitas non vegetarian (40,9%), dibandingkan anak obesitas vegetarian (27,3%), tetapi tidak bermakna secara statistik.Kesimpulan. Anak obesitas dengan diit vegetarian mempunyai rerata kadar ALT yang lebih rendah daripada anak obesitas non vegetarian.
Insidens Malnutrisi Rawat Inap pada Anak Balita di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar I Gusti Lanang Sidiartha
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.381-85

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi merupakan salah satu masalah serius di bidang kesehatan anak balita baik dinegara maju maupun negara sedang berkembang karena angka kesakitan dan kematian masih tinggi.Tujuan. Mengetahui insidens malnutrisi rawat inap pada anak balita dan menganalisis hubungannyadengan berbagai faktor seperti jenis kelamin, umur, jenis penyakit, tipe malnutrisi dan lama rawat.Metode. Penelitian kohort retrospektif dikerjakan terhadap 103 anak balita rawat inap di Bangsal AnakRSUP Sanglah bulan Nopember 2006 sampai Januari 2007. Malnutrisi rawat inap ditentukan denganmenghitung selisih nilai Z-score BB/TB saat masuk rumah sakit dan saat pulang dengan cut off point 0,5SD. Hubungan dengan jenis kelamin, umur, jenis penyakit, tipe malnutrisi dan lama rawat diuji denganuji kai-kuadrat dengan tingkat kemaknaan p <0,05.Hasil. Diantara 103 anak balita 66% laki-laki dan 34% perempuan, 44,6% berumur <12 bulan, 24,3%dengan diagnosis diare, dan lama rawat antara 2–29 hari. Insidens malnutrisi rawat inap dijumpai pada 31dari 103 anak (30,1%). Insidens malnutrisi rawat inap pada anak dengan lama rawat 8-29 hari 58,8% danlama rawat 2-7 hari 15,9%, secara statistik bermakna (p=0,000; RR 3,69; IK95% 2,00; 6,79). Hubunganmalnutrisi rawat inap dengan jenis kelamin, umur, jenis penyakit, dan tipe malnutrisi tidak bermakna(masing-masing nilai p >0,05).Kesimpulan. Insidens malnutrisi rawat inap di RSUP Sanglah 30,1%, risiko malnutrisi rawat inapmeningkat 3,69 kali apabila anak dirawat lebih dari seminggu
Prevalensi Gangguan Serum Elektrolit pada Anak Usia Bawah Lima Tahun dengan Gizi Buruk di Rumah Sakit Ngoerah Sidiartha, I Gusti Lanang; Pratiwi, I Gusti Ayu Putu Eka; Sindhughosa, Wega Upendra; Sidiartha, I Gusti Ayu Dian Noviyani
Sari Pediatri Vol 26, No 6 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.6.2025.364-9

Abstract

Latar belakang. Gizi buruk pada anak bawah lima tahun (balita) masih menjadi beban di negara berkembang. Anak balita gizi buruk perlu menjalani pemeriksaan lengkap secara klinis dan laboratoris untuk mengidentifikasi ada tidaknya tanda bahaya atau komplikasinya. Tujuan. Untuk mengetahui prevalens gangguan serum elektrolit anak balita dengan gizi buruk dan karakteristiknya.Metode. Penetilian retrospektif dengan rancangan cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien. Kriteria gizi buruk adalah berat menurut panjang atau tinggi badan < -3 SD menurut standar WHO. Hubungan antara variabel diuji dengan uji chi-square.Hasil. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria adalah 94 pasien, terdiri dari 56 laki (59,6%) dan 38 perempuan (40,4%), 22,3% usia dibawah 6 bulan dan 77,7% usia 6 bulan keatas. Prevalensi hiponatremia, hipokalemia, hipokalsemia dan hipokloridemia masing-masing 64,9%, 26,6%, 52,1% dan 60,6%. Gangguan elektrolit kalium signifikans lebih tinggi pada usia dibawah 6 bulan (p=0,011), sedangkan gangguan elektrolit kalsium signifikans lebih tinggi pada usia 6-59 bulan (p=042).Kesimpulan. Anak balita dengan gizi buruk mayoritas mengalami hiponatremia dan hipokalsemia. Gangguan kalium signifikans lebih tinggi pada anak gizi buruk usia dibawah 6 bulan, sedangkan gangguan kalsium signifikans lebih tinggi pada usia 6-59 bulan.
Co-Authors AA Raka Karsana Adnyana, I Gusti Agung Ngurah Sugitha Ahmad Syafiq Anak Agung Ngurah Ketut Putra Widnyana Anak Agung Ratna Purnama Santhi Anggareni, Komang Tria Aria Kekalih Arimbawa * Artawan Artawan Ayu Putri Satyawati Ayu Setyorini Mestika Mayangsari Ayu Shintia Shanti Bagus Ngurah Putu Arhana Bambang Supriyatno BNP Arhana Chaliza Adnan Damayanti Rusli Sjarif Desak Ayu Sri Cinthya Uttari Dewa Nyoman Wirawan Dewa Nyoman Wirawan, Dewa Nyoman Dewi Sutriani Mahalini Dian Sulistya Ekaputri Dini Mutia Hasanah Doddy Kurnia Indrawan Dyah Kanya Wati Dyah Kanya Wati Eka Gunawijaya Elmy S Endy Paryanto Prawirohartono Gusti Ayu Putu Nilawati Hanzelina Hanzelina Hartono Gunardi Hendra Santoso Hendy Hendy I Gusti Agung Ngurah Sugitha Adnyana I Gusti Agung Trisna Windiani I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi I Gusti Ngurah Made Suwarba I Gusti Ngurah Sanjaya Putra I Ketut Adi Wirawan I Kompiang Gede Suandi I Made Arimbawa I Nyoman Ali Suandana I Nyoman Budi Hartawan I Putu Gede Karyana I Wayan Bikin Suryawan I Wayan Dharma Artana I Wayan Dharma Artana, I Wayan Dharma I Wayan Gustawan ID Ayu Eka Cahyani Ida Bagus Gede Suparyatha Ida Bagus Subanada Ida Bagus Subanada IGN Sanjaya IKG Suandi IKG Suandi IKG Suandi Ina Susianti Timan Kadek Dedy Sudiawan Kadek Tresna Adhi Kadek Wini Mardewi Kartika Yantie, Ni Putu Veny Katharina Yosephin Lakonawa Ketut Ariawati Ketut Dewi Kumara Wati Ketut Suarta Komang Ayu Witarini Kompiang Gede Suandi Lakonawa, Katharina Yosephin Luh Gede Yuliadewi NS M Kardana Made Michel Kresnayasa Made Ratna Dewi Made Suadnyani Pasek Made Yos Darmayasa Ni Luh Putu Ariastuti Ni Luh Putu Maharani Ni Luh Putu Sudiasih Ni Luh Putu Surya Candra Eka Pertiwi Ni Luh Sri Apsari Ni Made Chandra Mayasari Ni Made Dwiyathi Utami Ni Nyoman Kanta Karmani Ni Nyoman Metriani Nesa Ni Putu Andina Kluniari Ni Putu Ayu Wulan Noviyanti Ni Putu Eka Suwitri Ni Putu Lia Juliantini Ni Putu Siadi Purniti Ni Putu Yunik Novayanti Novita Tjiang Noviyanti, Ni Putu Ayu Wulan NP Veny Kartika Yantie P Suwendra Putu Austin Widyasari Wijaya Putu Ayu Widyanti Putu Diah Vedaswari Putu Gede Karyana, Putu Gede Putu Mas Vina Paramitha Cempaka Putu Satya Pratiwi Putu Vivi Paryati Rini Andriani Romy Widianto, Romy Romy Windiyanto Sawitri, Anak Agung Sagung Setiyawan, I Made Karma Sidiartha, I Gusti Ayu Dian Noviyani Silvia Sudarmadji Sindhughosa, Wega Upendra Sudaryat S Sudiasih, Ni Luh Putu Suryadi Limardi Suwitri, Ni Putu Eka Tjiang, Novita W Retayasa Wanami Putri, Ni Made Wini Jayesthiwi Yuliana Yuliana