Frits O. P. Siregar
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado

Published : 50 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PERANCANGAN TRAUMA HEALING CENTER SULAWESI UTARA: Healing Therapeutic Architecture Biring, Geneviene N. D.; Suryono; Siregar, Frits O. P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 2 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 2, Mei 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan Stress Pascatrauma atau awam dikenal sebagai PTSD. Gangguan mental ini terjadi ketika seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis: perang, kecelakaan, bencana alam, kekerasan, serta perundungan merupakan beberapa penyebab dari PTSD. Dalam Upaya pemulihannya, seorang pengidap PTSD memerlukan penanganan secara khusus, salah satunya tersedia lingkungan yang mendukung yakni rumah yang nyaman, aman, dan orang terdekat yang suportif. Namun, masyarakat Indonesia yang masih tabu dengan isu Kesehatan mental acap kali melabeli seseorang dengan gangguan mental sebagai orang “gila” dan harus dijauhi. Peran seorang arsitek dalam masyarakat diperlukan untuk menanggapi isu ini. Perancangan Trauma Healing Center, dengan Tema Healing Therapeutic Architecture hadir melibatkan desain sebagai media yang menyediakan lingkungan pemulihan korban PTSD. Dirancang untuk menghadirkan lingkungan yang nyaman seperti rumah dan Integrasi bangunan dengan alam sekitar pun diimplementasikan dalam perancangan ini dengan harapan membawa pemulihan bagi korban PTSD. Kata Kunci: PTSD, Trauma, Healing, Therapeutic
AKADEMI PEMADAM KEBAKARAN DI MANADO: Speed and Dynamic Kawengian, Claudia K.; Suryono; Siregar, Frits O. P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 2 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 2, Mei 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia yang meningkat setiap tahun mengakibatkan meningkatnya kepadatan permukiman masyarakat, seperti kawasan perumahan, perkantoran, wadah pendidikan, pembangunan gedung-gedung industri, dan pusat perbelanjaan. Hal ini merupakan factor timbulnya resiko bencana kebakaran akibat penataan bangunan yang padat dan meningkatnya aktivitas penduduk. Kebakaran merupakan suatu ancaman bagi keselamatan manusia, harta benda, dan lingkungan. Untuk mengatasi masalah bahaya kebakaran ini yaitu dengan mengadakan sumber daya manusia untuk dijadikan petugas pemadam kebakaran yang ahli dan teruji. Namun, diketahui bahwa jumlah petugas pemadam kebakaran dari seluruh wilayah Indonesia masih sangat kurang dan belum tersedianya tempat khusus untuk mendidik dan melatih calon-calon petugas pemadam kebakaran. Maka dari itu, sangat dibutuhkan pengadaan wadah pendidikan dan pelatihan khusus pemadam kebakaran untuk yang pertama di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka dihadirkan sebuah Akademi Pemadam Kebakaran yang berlokasi di Kota Manado, Sulawesi Utara. Tema yang digunakan dalam perancangan ini adalah Speed and Dynamic yang berarti cepat dan dinamis, yang dimana ide ini diambil karena mengetahui bahwa pemadam kebakaran identik dengan aktivitasnya yang cepat dan banyaknya pergerakan dalam aktivitas pemadam kebakaran. Penerapan tema ini ada pada bentuk pola sirkulasi di dalam dan luar bangunan, bentuk geometri bangunan, serta fasad bangunannya yang dapat memberikan kesan cepat dan dinamis sehingga melalui visual, pola sirkulasi, dan interior banngunan ini dapat memperlihatkan bahwa fungsi bangunan adalah khusus untuk pemadam kebakaran. Kata Kunci: Akademi, Pemadam Kebakaran, Speed and Dynamic
RE-DESAIN PRESIDENT SHOPPING CENTER DI KOTA MANADO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU Kulas, Bryan E.; Siregar, Frits O. P.; Rondonuwu, Dwight M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 20 No. 1 (2023): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v20i1.52659

Abstract

ABSTRAK Pusat perbelanjaan / Shopping center merupakan aktivitas komersill yang direncanakan, dikembangkan, dimiliki dan dioperasikan dalam satu unit bisnis. Kota manado sempat mempunyai pusat perbelanjaan yang sempat popularrdi tahun 1990- an, yaitu President Shopping Center. Melihat kondisi bangunan saat ini, fasilitas utama atau pendukung, dan peruntukannya, President Shopping Center tidak lagi memenuhi syarat sebagai pusat perbelanjaan di kota Manado dannsekitarnya. Tujuan dari me- redesain President Shopping Center di Kota Manado merupakan mendesain ulang President Shopping Center menjadi lebih menarik dan aman dari yang ada saat ini dengannmemperhatikan kawasan sekitar. President Shopping Center dirancang Kembali dengan metoda pendekatan Arsitektur Hijau dengan konsep ruang terbuka hijau yang bisa membagikan rasa kenyamanan yang lebih dalam melaksanakan aktivitas berbelanja. Kata Kunci: Re-Desain, President Shopping Center, Manado, Arsitektur Hijau ABSTRACT Shopping center / Shopping center is a commercial activity that is planned, developed, owned and operated in one business unit. Manado City once had a shopping center that was popular in the 1990s, namely President Shopping Center. Looking at the current condition of the building, main or supporting facilities, and its designation, President Shopping Center no longer qualifies as a shopping center in the city of Manado and its surroundings The purpose of redesigning the President Shopping Center in Manado City is to redesign the President Shopping Center to be more attractive and safer than the current one by paying attention to the surrounding area. President Shopping Center is redesigned with a Green Architecture approach method with the concept of green open space that can share a sense of more comfort in carrying out shopping activities KeyWords: Re-Design, President Shopping Center, Manado, Green Architecture
EVALUASI KOTA TOMOHON SEBAGAI KOTA LAYAK ANAK Rasuh, Krisensia Shela; Waani, Judy O.; Siregar, Frits O. P.
MEDIA MATRASAIN Vol. 20 No. 2 (2023): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v20i2.52691

Abstract

ABSTRAK Penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan hingga menempati posisi ke empat dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Penduduk Indonesia membentuk kelompok umur, dimana berkisar 1/3 dari total jumlah penduduk Indonesia ialah kelompok anak (0-18 tahun). Merujuk pada isu tersebut, pemerintah Indonesia mencentuskan kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) untuk menunjang tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa. Kota Tomohon sebagai wilayah penelitian juga telah merealisasikan kebijakan tersebut dari tahun 2017 sampai saat ini. Namun berdasarkan pengamatan awal, peneliti menemukan terdapat beberapa isu yang menunjukan bahwa penyelenggaraan kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak di Kota Tomohon belum optimal. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketercapaian penyelenggaraan KLA pada setiap kecamatan di Kota Tomohon dan mengevaluasi kualitas penyelenggaraan Kota Layak Anak di Kota Tomohon. Metode yang digunakan adalah metode survey dan observasi, juga wawancara, kuesioner dan dokumentasi lapangan. Sedangkan untuk analisis datanya menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendapatkan temuan bahwa ketercapaian penyelenggaraan KLA di setiap kecamatan belum merata. Kecamatan yang paling unggul ialah Kecamatan Tomohon Timur dengan nilai ketercapaian ialah 92,72% dan Kecamatan Tomohon Selatan menduduki posisi terakhir dengan nilai 36,56%. Temuan berikutnya ialah kualitas penyelenggaraan KLA di Kota Tomohon sudah tergolong baik dilihat ditinjau dari 6 variabel yang ditetapkan. Kata Kunci: Kota Layak Anak, Evaluasi, Capaian, Kualitas, Kota Tomohon ABSTRACT Indonesia's population continues to increase so that it occupies the fourth position with the largest population in the world. The population included in the group of children (0-18 years) ranges from 1/3 of the total population of Indonesia. Referring to this issue, the Indonesian government initiated a Child-Friendly City (CFC) policy to support the growth and development of children as the next generation of the nation. Tomohon City as a research area has realized this policy from 2017 until now. However, based on initial observations, researchers found several issues indicating that the implementation of Child-Friendly City policies in Tomohon City was not optimal. Therefore, this study aims to identify the achievement of CFC implementation in each sub-district in Tomohon City and evaluate the quality of implementing Child-Friendly Cities in Tomohon City. The methods used are survey and observation methods, as well as interviews, questionnaires and field documentation. As for data analysis, it uses qualitative descriptive analysis techniques This research finds that the achievement of KLA implementation in each sub-district has not been evenly distributed. The most superior subdistrict is East Tomohon District with an achievement score of 92.72% and South Tomohon District occupies the last position with a score of 36.56%. The next finding is that the quality of CFC implementation in Tomohon City is considered good in terms of the 6 variables determined. Keywords: Child-Friendly City, Evaluation, Achievement, Quality, Tomohon City
Identifikasi Karakteristik Pola Spasial Bentang Lahan di Kawasan Pesisir Kota Manado Raintung, Livya Ekaristy; Rondonuwu, Dwight Mooddy; Siregar, Frits O. P.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i2.59296

Abstract

AbstrakWilayah pesisir Kota Manado merupakan zona transisi daratan dan perairan dengan karakteristik bentang lahan yang unik, mencakup bentang lahan alami dan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola spasial bentang lahan di kawasan pesisir menggunakan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola bentang lahan di kawasan pesisir Kota Manado berongga dan berlekuk-lekuk, dipengaruhi oleh aktivitas reklamasi pantai. Kondisi saat ini didominasi oleh bentang lahan buatan, dengan garis pantai terpanjang sebesar 7,4 km yang berada di segmen 3 (meliputi Kelurahan Titiwungen Utara, Titiwungen Selatan, Wenang Utara, Wenang Selatan, dan Calaca) yang mendukung aktivitas perdagangan dan jasa. Sementara itu, bentang lahan alami dengan panjang garis pantai sebesar 1,37 km ditemukan di segmen 1 (meliputi Kelurahan Malalayang 2, Malalayang 1, dan Malalayang 1 Timur) dengan fungsi tradisional seperti parkir perahu nelayan. Topografi kawasan berupa dataran rendah (0–12 mdpl) dengan kemiringan lereng (0–15%), didominasi lahan untuk permukiman, perdagangan, dan jasa. Studi ini memberikan pemahaman tentang pola spasial bentang lahan untuk mendukung pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.Kata kunci: Bentang lahan; Reklamasi; Pesisir; Pola spasial; Manado AbstractThe coastal area of Manado City is a land and water transition zone with unique landscape characteristics, including natural and artificial landscapes. This research aims to identify spatial patterns of landforms in coastal areas using Geographic Information System (GIS)-based spatial analysis and qualitative descriptive analysis. The results showed that the landscape pattern in the coastal area of Manado City is hollow and indented, influenced by coastal reclamation activities. The current condition is dominated by artificial landscapes, with the longest coastline of 7.4 km located in segment 3 (covering North Titiwungen, South Titiwungen, North Wenang, South Wenang and Calaca villages) which supports trade and service activities. Meanwhile, a natural landscape with a coastline length of 1.37 km is found in segment 1 (covering Malalayang 2, Malalayang 1, and Malalayang 1 East villages) with traditional functions such as parking for fishing boats. The topography of the area is lowland (0-12m above sea level) with slopes (0-15%), dominated by land for settlements, trade and services. This study provides an understanding of the spatial pattern of landscapes to support sustainable coastal management.Keyword: Landform; Reclamation; Coastal; Spatial patterns; Manado.
APARTEMEN DI BITUNG “FRACTAL GEOMETRY” Hasang, Stenly; Siregar, Frits O. P.; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.10031

Abstract

Kota Bitung merupakan salah satu kota yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai Kota Pelabuhan, Bitung menjadi pintu masuk bagi para wisatawan dan perdagangan barang dan jasa di wilayah Indonesia timur. Seiring waktu berjalan, pembangunan kota Bitung terus berkembang. Di bidang ekonomi, Bitung mengalami peningkatan yang cukup pesat. Sering berkembangnya kota, pertumbuhan penduduk dalam kota juga terus meningkat. Jumlah penduduk yang terus bertambah mengakibatkan kebutuhan akan lahan untuk hunian juga ikut meningkat, apalagi di tengah kota yang memiliki keterbatasan lahan dan nilai jual lahan yang cukup tinggi. Hal seperti ini merupakan permasalahan yang selalu dijumpai di kota-kota besar atau kota-kota yang sudah berkembang. Apartemen menjadi solusi untuk memecahkan masalah pemukiman yang ada dalam kota. Konsep apartemen yaitu perumahan massal yang ditumpuk ke atas, menjadi penjawab kebutuhan akan hunian di tengah kota yang memiliki keterbatasan lahan. Fractal geometry sebagai tema perancangan memberi inovasi baru dan berbeda dalam sebuah perancangan. Terlebih khusus untuk apartemen sebagai bangunan komersial yang membutuhkan konsep perancangan yang mampu menciptakan karakter/citra yang kuat dari apartemen sehingga dapat meningkatkan daya tarik bagi konsumen. Kata Kunci : Bitung, permasalahan kota, apartemen, fractal geometry
LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DI MANADO. Teori Gestalt dalam Arsitektur Kolondam, Januar; Franklin, Papia J. C.; Siregar, Frits O. P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17261

Abstract

Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila membuka pemikiran- pemikiran baru mengenai fungsi pembinaan yang tidak lagi sekedar penjaraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Beberapa fenomena yang menjadi kendala bagi sistem pembinaan dan pembimbingan di lembaga pemasyarakatan sampai saat ini belum mendapat titik penyelesaian, sehingga penilaian masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan tidak ada bedanya dengan penjara membuat mantan narapidana sulit diterima oleh masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau dalam bahasa masyarakat awam disebut penjara,merupakan tempa/kediaman bagi orang-orang yang bermasalah dngan hukum.Penerapan teori gestalt terhadap bangunan dapat menghasilkan konsep baru bagi desain lapasLuas site yang akan di bangun 38.417 m2,BCR bangunan 26,443.9m2  dalam kawasan terdapat 11 masa bangunan,terdiri dari masa perkantoran ,rg.kunjungan,dapur,poliklinik,workshop,aula,hunian umum,narkoba dan tipikor.Dengan ketinggian lantai berfariasi tergantung kebutuhan.Untuk mencapai bangunan tujuan bangunan lapas yang dapat memanusiakan manusia di terapkan 2 hukum gestalt yaitu hukum similarity atau kelarasan pada fasade bangunan dan hukum ketertutupan pada konsep layout.Kata kunci : Lembaga Pemasyarakatan, Gestalt 
MUSEUM MUSIK TRADISIONAL DI MANADO. Gesture dalam Arsitektur Namare, Krystyenson; Siregar, Frits O. P.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17596

Abstract

Dunia musik di Indonesia telah menunjukan pertumbuhan yang sangat pesat terutama dalam musik tradisional. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai kelompok musik tradisional.musik tradisional mulai masuk di Indonesia sejak jaman hindu – budha dan terus berkembang sampai saat ini. Ironisnya, musik tradisional kurang  dikenal oleh masyarakat terlebih para pemuda penerus bangsa. Karena itu, kehadiran fasilitas rekreasi dan edukatif, dalam bentuk museum musik tradisional, diperlukan untuk lebih memperkenalkan tradisi musik tradisional kepada masyarakat terlebih di kota Manado.Pada objek desain ini menggunakan beberapa pendekatan desain, terutama dalam bentuk studi tentang tipologi objek, tapak dan lingkungannya, dan studi tematik. Secara khusus, pendekatan tematik didasarkan pada studi tentang “ Gesture DalamArsitektur “. Tema ini diterapkan karena memiliki keterkaitan dengan musik tradisional yang mempunyai gesture atau Bahasa non-verbalnya sendiri.Berdasarakan pendekatan, terutama proses tematik, hasil desain merupakan bangunan museum musik tradisional. Nilai signifikan bangunan ini mengarah pada bentukan bangunan dan pola penataan ruang, yang bertujuan menghadirkan sarana edukatif dan rekreasi bagi pengunjung, terutama masyarakat kota Manado.Kata kunci : Museum Musik Tradisional Di Manado, Manado, Gesture Dalam Arsitektur.
YOUTH CENTER DI MANADO. Arsitektur Regionalisme Mawu, Gabriel; Siregar, Frits O. P.; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17628

Abstract

Perkembangan Teknologi Informasi mempermudah para masyarakat untuk mengakses informasi yang dinginkan baik itu informasi dari dalam daerah kota  Manado ,dari luar daerah ataupun luar negeri. Secara tak langsung hal  ini tentunya mendorong masayarakat khusunya para remaja sebagai generasi muda untuk lebih berkreatifitas lagi dalam mengekspresikan bakat dan talenta mereka, seperti dalalm bidang seni ataupun olahraga, karena pada masa itu mereka cenderung ingin mencoba hal-hal baru dan mengembangkannya sesuai yang mereka lihat di media informasi. Karena itu dibutuhkan tempat yang mampu dijadikan pusat untuk memfasilitasi minat dan bakat para remaja di Manado secara terpadu serta aman bagi perkembangan fisik dan emosional remaja yaitu Youth Center di Manado. Adapula dampak negatif dari perkembangan teknologi dan informasi di Manado yang telah mepengaruhi gaya hidup serta sosial budaya masyarakat termasuk para remaja.  Dimana sebagian besar masyarakat lebih cenderung megesampingkan dan melupakan gaya kedaerahan yang menjadi ciri khas dari kota Manado, karena masyarakat lebih mengenal gaya dari luar negeri, baik itu gaya arsitektur maupun gaya hidup sehari-hari. Karena itu perancangan Youth Center di Manado dengan konsep Regionalisme dimaksudkan untuk mendesain bangunan Youth Center di Manado yang lebih mampu memfasilitasi semua aktifitas pemuda-pemudi untuk berekspresi di bidang seni dan olahraga masa kini dengan menghadirkan bangunan dengan teknologi serta perancangan arsitektur masa kini yang mengadopsi gaya kedaerahan lokal di Manado, dan secara tak langsung telah menghadirkan bangunan yang mampu mengekspresikan ciri khas dari kota Manado sendiri. Kata kunci : Remaja, Youth Center di Manado, Arsitektur Regionalisme 
REDESAIN EX SHOPPING CENTER PASAR 45 & GEDUNG PARKIR DI MANADO. Arsitektur Simbiosis (Symbiosis Nature & History and Present) Bawole, Andretha M. V.; Siregar, Frits O. P.; Mastutie, Faizah
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.18397

Abstract

Shopping center yang populer pada tahun 1980-1990an kini sudah tidak seperti dulu. Selain karena bermunculan tempat-tempat perbelanjaan yang baru, secara arsitektural bangunan ini sudah tidak representatif lagi. Walaupun begitu, kawasan ini merupakan salah satu tempat yang memiliki nilai historis terhadap perkembangan kota Manado, baik pelabuhan, perkampungan Cina, perkampungan Arab, hingga Taman Kesatuan Bangsa. Untuk itu diperlukan sebuah pendekatan perancangan yang mampu menghidupkan kawasan ini serta memaksimalkan potensi akan zona-zona tersebut. Dengan melakukan redesain gedung ex Shopping Center serta menghadirkan gedung parkir diharap mampu menjawab permasalahan yang ada di kawasan ini. Konsep Arsitektur Simbiosis ((Nature & History and Present) dipakai dalam rancangan ini dengan memadukan bangunan terhadap kondisi lingkungan sekitar, menggabungkan nilai-nilai masa lalu serta masa yang sekarang. Berdasarkan Analisa pada site, bangunan yang dihasilkan mampu menjawab tantangan yang ada. Selain menghadirkan suasana yang baru, bangunan ini juga mampu mengakomodir nilai-nilai masa lalu namun tetap menonjolkan kesan yang modern.Kata kunci: Arsitektur Simbiosis, Gedung Parkir, Redesain Shopping CenterÂ