Claim Missing Document
Check
Articles

STRATEGI PENGEMBANGAN HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN JORONG KABUPATEN TANAH LAUT KABUPATEN KALIMANTAN SELATAN Aldha Alfian Noer Dwi; Abdi Fithria; Kissinger Kissinger
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v9i1.10476

Abstract

Mangrove forests in South Kalimantan have been converted into fish ponds, settlements, ports and other uses. The condition of damaged mangrove forests is very alarming. The purpose of this study is to formulate a development and conservation strategy for mangrove forests in Jorong District. This research uses interviews, direct observation in the field to analyze the factors that cause mangrove damage, descriptive analysis through the In depth interview approach with key information about to formulate a strategy for developing and conserving mangrove forests in Jorong District. The results of changes in the distribution and extent of mangroves decreased from 2010 (2.324 ha) to 2020 (1.665 ha). The dynamics of mangrove damage are caused by mining activities and oil palm company expansion. The formulation of the strategy is socialization to the community related to the development of mangrove forests that contribute to high biota, the concept of developing mangrove ecotourism to improve the living standards of the poor, applying the pattern of developing mangrove forests for the common good.
PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH SUKU DAYAK MERATUS KALIMANTAN SELATAN Arfa Agustina Rezekiah; Abdi Fithria; Adi Rahmadi
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v9i2.11273

Abstract

Dayak Meratus in Loklahung Village, Loksado District, South Hulu Sungai Regency, South Kalimantan is one of the tribes living around the forest. They use forest resources to meet their daily needs. This research aims to analized the utilization of types and the forms of forest resources by indigenous peoples.   Data collecting that used in this research are in-depth interviews and field observations. The analysis of data used tabulation matrix and qualitative description. The results showed that the utilization of forest resources is inherited from ancestors. The utilization of forest resources is mostly carried out in the forest in the form of activities: (1) Finding fuel and firewood; (2) Hunting; (3) Looking for handicraft materials; (4) Looking for nontimber forest products and (5). Looking for medicinal ingredients.  The perception of dayak meratus people to the impact of forest resource utilization both flora and fauna belongs to the moderate category.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DAYAK TERHADAP TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DI LAHAN AGROFOREST KABUPATEN BARITO UTARA Mahrus Aryadi; Abdi Fithria; Susilawati Susilawati; Fatria Fatria
Jurnal Hutan Tropis Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v2i3.2250

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat berbasis kearifan lokal pada masyarakat Dayak yang tumbuh di lahan agroforest. Subjek penelitian adalah suku Dayak Bakumpai dan suku Dayak Dusun Tengah yang ada di Kecamatan Teweh Tengah Kabupaten Barito Utara.  Metode penelitian bersifat kualitatif dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data dengan teknik wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian telah menemukan 100 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan obat oleh suku Dayak Bakumpai dan suku Dayak Dusun Tengah.Hampir semua bagian organ tumbuhan dapat digunakan untuk pengobatan, yaitu akar, batang, daun, kulit kayu, pucuk, rimpang, umbi, bunga, buah, dan biji. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun, diantaranya sebagai obat kulit, masalah kewanitaan, pencernaan, demam, dan beberapa penyakit keras.This study aims to identify the utilization of medicinal plants based on local wisdom of Dayak communities that grow on their land agroforests. Subjects were Dayak  Bakumpai tribe and Dayak Dusun Tengah tribe at Teweh Tengah sub-district, Barito Utara District. The research method is qualitative descriptive analysis. Collecting data used  with in-depth interviews and observation techniques. The results have been found 100 species of plants used as medicine by the Dayak  Bakumpai tribe and Dayak Dusun Tengah tribe. Almost all parts of the plant organs can be used for treatment, likes the roots, stems, leaves, bark, shoots, rhizomes, tubers, flowers, fruits, and seeds. Parts of the plant most widely used are the leaves, such as for skin medications, female problems, indigestion, fever, and some intractable diseases
ESTIMASI CADANGAN KARBON DAN EMISI KARBON DI SUB-SUB DAS AMANDIT Abdi Fithria; Syam’ani Syam’ani
Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v1i3.1542

Abstract

Cadangan karbon yang terdapat di suatu bentang lahan dapat diestimasi dari hasil pengukuran kandungan karbon satuan-satuan penggunaan lahan yang terdapat di bentang lahan tersebut, yang diintegrasikan dengan data penutupan atau penggunaan hasil klasifikasi dari citra penginderaan jauh. Dalam kasus penelitian ini, bentang lahan yang dimaksud adalah Sub-sub DAS Amandit yang memiliki luas wilayah sekitar 250.470 hektar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung karbon tersimpan di Sub-sub DAS Amandit;            menghitung emisi karbon di Sub-sub DAS Amandit selama periode tahun 1992-2010, berdasarkan data tutupan lahan tahun 1992, 2000 dan 2010; dan memprediksi serta membuat simulasi emisi karbon sampai tahun 2050 berdasarkan data tutupan lahan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa Hutan Primer memiliki kandungan karbon paling tinggi, yaitu 214,23 Ton/Ha. Sementara Tegalan memiliki kandungan karbon paling rendah, yaitu 1,16 Ton/Ha. Berdasarkan hasil estimasi emisi karbon terlihat bahwa cadangan karbon di Sub-sub DAS Amandit pada periode tahun 1992, 2000 dan 2010 mengalami penurunan. Yakni dari 8.041.050,28 ton pada tahun 1992, menjadi 7.176.139,49 ton pada tahun 2000, dan hanya tersisa 4.476.645,10 ton pada tahun 2010. Ternyata menunjukkan bahwa emisi karbon di Sub-sub DAS Amandit terus turun hingga tahun 2050.Kata Kunci: Cadangan karbon, emisi karbon, sequestrasi karbon
PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DI SUB-SUB DAS AMANDIT Abdi Fithria; Gunawansyah Gunawansyah; Badaruddin Badaruddin; Hafizianor Hafizianor
Jurnal Hutan Tropis Vol 13, No 2 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 2 Edisi September 2012
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v13i2.1524

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi, mengklasifikasikan dan memetakan tutupan lahan yang ada di Sub-sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Amandit dengan menggunakan Citra Satelit Landsat 5 TM path/row: 117/062 tahun perekaman 1992, dan Citra Satelit Landsat 7 ETM+ path/row: 117/062, tahun perekaman 2000 dan 2010; dan menganalisis perubahan tutupan lahan di Sub-sub DAS Amandit periode tahun 1992-2000, 2000-2010 dan 1992-2010. Metode klasifikasi tutupan lahan yang digunakan adalah segmentasi citra. Selanjutnya, data perubahan tutupan lahan diekstrak dengan metode tumpang susun dan analisis tabel pivot (cross tab).Hasil analisis perubahan tutupan lahan jelas memperlihatkan bahwa Semak Belukar dan Tegalan adalah 2 kelas tutupan lahan yang mengalami laju perubahan terbesar selama kurun waktu 1992-2000-2010. Keduanya bertolak belakang, Semak Belukar mengalami pertambahan luas paling besar, sementara Tegalan mengalami pengurangan luas paling besar. Baik peta tutupan lahan maupun matriks perubahan tutupan lahan, juga memperlihatkan kemunculan 2 tipe tutupan lahan baru pada tahun 2010, yaitu Hutan Tanaman dan Kebun Sawit. Seluruh daerah berhutan, baik Hutan Primer, Hutan Sekunder, maupun Hutan Rawa, mengalami pengurangan luas yang cukup signifikan. Kecuali Hutan Tanaman yang luasnya bertambah. Jika ditotalkan, laju deforestasi di Sub-sub DAS Amandit selama kurun waktu 18 tahun (1992-2010) adalah sekitar 1.519,88 hektar per tahun.Kata Kunci: Tutupan lahan, deforestasi, amandit, feature extraction, pivot table
TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT MASYARAKAT DAYAK MERATUS BALAI ADAT CABAI DESA PATIKALAIN KECAMATAN HANTAKAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Abdullah Abdullah; Kissinger Kissinger; Abdi Fithria
Jurnal Hutan Tropis Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Hutan Tropis Volume 8 No 1 Edisi Maret 2020
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v8i1.8156

Abstract

Meratus Mountain,which lies across some regencies of South Borneo, is a forest area considered as main source of society who resides in the area. Dayak Meratus Ethnic Balai Adat Cabai of Patikalain Hantakan, Hulu Sungai Tengah, South Borneo is one of the communities whose life depends on the forest of Meratus Mountain. The utilization of plants as medicine by society is conducted by selecting and designating the plant variety to heal certain disease, the taking method, the process, and the usage. Each of them would be varied in every ethnic. This study aimed at analyzing the medicinal plants utilization of Dayak Meratus Society Balai Adat Cabai of Patikalain, Hantakan, Hulu Sungai Tengah, South Borneo. The result of this study found that 32 varieties of plants were utilized as medicine of 24 different families
PENGEMBANGAN WISATA ALAM DESA LUMPANGI KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Herman Herman; Abdi Fithria; Khairun Nisa
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i4.6265

Abstract

The purpose of this research is to review the development of Natural Tourism in Lumpangi Village Hulu Sungai Selatan Regency, reviewing the biophysical identification of Lumpangi Village, inventory of natural attractions, community perception, and determine Development Strategy. The method used to determine community respondents using purposive sampling methodology and visitor respondents using accidental sampling. The results showed the identification of flora amounted to 33 flora and the number of fauna as much as 25 fauna physical state of Lumpangi Village field is hills and slopes. While the inventory of natural attractions there are rivers, mountains, forests, diversity of fauna, and diversity of flora. Public perception of the development of nature tourism in Bukit Langara has a positive impact, namely increasing the economy. Determining the right development strategy judging by SWOT analysis by evaluation using IFAS and EFAS matrices with determination based on the position in the quadrant of the matrix. Based on IFAS and EFAS Results the number of strengths and opportunities (S+O=3.85+3.85 = 7.7; number of strengths and threats (S+T) = 3.85 + (-2.40) = 1.45; number of weaknesses and threats (W+T) = (-2,40)+(-2.40) = -4.80 and number of weaknesses and odds (W+O) = (-2.40)+(3.85) = 1.45. The value of the internal factor is 1.45 as the value of X, while the value of external factors is also 1.45 as the value of Y, which concluded that the natural tourism of Langara Hill is positive.Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengkaji pengembangan Wisata Alam Desa Lumpangi Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Mengkaji Identifikasi Biofisik Desa Lumpangi, Inventarisasi atraksi alam, persepsi masyarakat dan menentukan Strategi Pengembangan. Metode yang di gunakan untuk menentukan responden masyarakat menggunakan metode purposive sampling dan responden pengunjung menggunakan accidental sampling. Hasil Penelitian menunjukkan identifikasi flora berjumlah sebanyak 33 flora dan  jumlah fauna sebanyak 25 fauna keadaan fisik lapangan Desa Lumpangi merupakan perbukitan dan lereng-lereng, sedangkan inventarisasi atraksi alam terdapat sungai, gunung, hutan, keanekaragaman fauna, dan keanekaragaman flora. Persepsi masyarakat terhadap pengembangan wisata alam Bukit Langara memberikan dampak positif yaitu peningkatan perekonomian. Strategi pengembangan yang tepat dilihat dari analisis SWOT dengan evaluasi menggunakan matriks IFAS dan EFAS dengan penentuan strategi berdasarkan posisi pada kuadran matriks. Berdasarkan Hasil IFAS dan EFAS jumlah kekuatan dan peluang (S+O=3,85+3,85 = 7,7 ; jumlah kekuatan dan ancaman (S+T) = 3,85 + (-2,40) = 1,45; jumlah kelemahan dan ancaman (W+T = (-2,40)+(-2,40) = -4,80 dan jumlah kelemahan dan peluang (W+O) = (-2,40)+(3,85) = 1,45. Nilai dari Faktor internal 1,45 sebagai nilai X, sedangkan nilai faktor eksternal juga 1,45 sebagai nilai Y maka dapat di simpulkan bahwa wisata alam Bukit Langara bersifat positif.
STUDI RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN EKOWISATA DI DESA PAGATAN BESAR Frisca Septiana Pratiwi; Abdi Fithria; Wahyuni Ilham
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i5.6697

Abstract

Pagatan Besar is a village located in Takisung District, Tanah Laut Regency which has potential tourist attractions to be developed as an ecotourism area. It has potential landscape, flora, and fauna that can be developed as a tourist attraction. The existence of a potential tourist attraction in Pagatan Besar Village can be used as a study to develop an ecotourism area with the right strategy. This study aims to analyze the development plan of potential tourist attraction objects in Pagatan Besar Village. Data collection was done by field observations and interviews. Respondents were determined by the purposive sampling method. The results of the data were analyzed descriptively qualitatively and using SWOT analysis. Pagatan Besar Village has a potential tourist attraction, namely mangrove ecotourism, coastal tourism, and river areas that have not been developed. Based on the calculation of IFAS and EFAS, the internal factor value is 1.53 and the external factor is 1.58. The SWOT analysis results show that Pagatan Besar Village is in quadrant I, so the chosen strategy is the S-O strategy. Strategies that can be input in efforts to develop ecotourism include improving facilities and infrastructure, developing and providing tour packages, providing training and counseling to the community, and building facilities for the preservation of flora and faunaDesa Pagatan Besar merupakan salah satu desa di Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut yang memiliki potensi objek daya tarik wisata yang dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Terdapat potensi lanskap serta flora dan fauna yang bisa menjadi daya tarik. Adanya potensi objek daya tarik wisata di Desa Pagatan Besar dapat dijadikan kajian untuk mengembangkan sebuah kawasan ekowisata dengan strategi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rencana pengembangan potensi objek daya tarik wisata di Desa Pagatan Besar. Pengambilan data dilakukan dengan observasi lapangan dan wawancara. Responden ditentukan dengan metode Purposive Sampling. Hasil data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan menggunakan analisis SWOT. Desa Pagatan Besar memiliki potensi daya tarik wisata yaitu ekowisata mangrove, wisata pantai dan kawasan sungai yang belum dikembangkan. Berdasarkan perhitungan IFAS dan EFAS, diperoleh nilai faktor internal sebesar 1,53 dan faktor eksternal sebesar 1,58. Hasil analisis SWOT menunjukkan Desa Pagatan Besar berada pada kuadran I, sehingga strategi terpilih adalah strategi S-O. Strategi yang dapat menjadi masukan dalam upaya pengembangan ekowisata diantaranya perbaikan sarana dan prasarana, mengembangkan dan menyediakan paket wisata, memberikan pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat, serta pembangunan fasilitas untuk pelestarian flora dan fauna
KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN TANAMAN PADA LAHAN PEKARANGAN DESA SUNGAI BAKAR DI SEKITAR AREA PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL Noor Adina Husnawaty; Setia Budi Peran; Abdi Fithria
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i4.6138

Abstract

The purpose of this study was to analyze the composition, dominance, similarity between gardens, and diversity of plant species in the garden in Sungai Bakar Village, a village around the Social Forestry program area. Determination of the sample is done by Simple Random Sampling by taking random samples by means of lottery (lottery technique) based on the number of houses in Sungai Bakar Village. Samples taken as much as 10% of the total number of households, namely 55 families. The results of the study the composition of plants found in the garden in Sungai Bakar Village consisted of 54 species, 35 families and 816 individual plants. The similarity between gardens shows that most of the gardens only have 1.14% similarity and 98.65% tend to have no similarity in composition. The diversity index (H') of plants in the garden belongs to the medium level of species diversityTujuan penelitian ini adalah menganalisis komposisi, dominansi, kemiripan antar pekarangan, dan keanekaragaman dari jenis tanaman pada pekarangan di Desa Sungai Bakar, desa yang berada di sekitar area program Perhutanan Sosial. Penentuan sampel menggunakan Simple Random Sampling dengan melakukan pengambilan sampel secara acak dengan cara mengundi (lottery techinuque) berdasarkan nomor rumah di Desa Sungai Bakar. Sebanyak 10 % sampel yang diambil berdasarkan dari jumlah KK, sebanyak 55 KK. Hasil penelitian Komposisi tanaman yang ditemukan pada pekarangan di Desa Sungai Bakar terdiri dari 54 jenis, 35 famili dan 816 individu tanaman. Kemiripan antar lahan pekarangan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan pekarangan hanya memiliki 1,14% kemiripan dan 98,65% cenderung tidak memiliki kemiripan komposisi. Indeks keanekaragaman (H') tanaman pada lahan pekarangan tergolong kedalam tingkat keanekaragaman jenis sedang.
The Face of the Banjarbaru City Wetlands in Last Four Decades Syam'ani Syam'ani; Abdi Fithria; Eva Prihatiningtyas
Journal of Wetlands Environmental Management Vol 6, No 2 (2018): July-December
Publisher : Center for Journal Management and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.773 KB) | DOI: 10.20527/jwem.v6i2.183

Abstract

The change of Banjarbaru city status into the central government of South Kalimantan Province, has the potential to increase the need for land. This directly affects wetlands conversion activities into other forms of land closure. This research aims to map the spatial distribution of wetlands, and the spatial distribution of wetlands conversion existing in Banjarbaru City in every decade over the last four decades, ie from the 1970s to the present. Wetlands spatial data are extracted from multitemporal satellite imagery, Landsat 5 in 1973, Landsat 5 in 1989, Landsat 5 in 1997, Landsat 5 in 2007, and Landsat 8 in 2016. The method used to extract wetlands is Object Based Image Analysis (OBIA), with Full Lambda-Schedule algorithm. The research results show that over the past last decades, the total area of Banjarbaru City's wetlands has been reduced continuously. The average total reduction rate is 534.53 hectares per decade or about 53.5 hectares per year, with a linear pattern over the past four decades.
Co-Authors Abdul Haris Abdullah Abdullah Abdus Samad Adi Rahmadi Aditya Renaldy Agus Hadi Pranata Ahmad Al Fajar Ahmad Jauhari Ahmad Yunani Ajeng Dian Utami Akhmad Rizalli Saidy Aldha Alfian Noer Dwi Algifari Musthofan Andi Harahap Arfa Agustina Rezekiah Badaruddin Badaruddin Badaruddin Badaruddin Basir Achmad Basuki Rahman Bunga Resa Hartati Candra Candra Damaris Payung Danang Biyatmoko Daniel Hutomo Putra Ulianata Dewi Permatasari Didi Ali Hamidi Dimas Bagus Ramadhon Dwi Tratna Wibawa Edy Kurniawan Emmy Sri Mahreda Eny Dwi Pujawati Erly Wahyuni Eva Prihatiningtyas Fatkhunnisa Irkhamni Fatria Fatria Fitria Naimatin Khasanah Fonny Rianawati Frisca Septiana Pratiwi Friska Septian Pratiwi Gunawansyah Gunawansyah Gunawansyah Gunawansyah Gusti Syeransyah Rudy Gusti Syeransyah Rudy Hafif Abdul Rahman Hafizianor Hafizianor Hafizianor Hafizianor Hamdani Fauzi Heri Purwanto Herman Herman Idiannor Mahyudin Indah Komala Sari Jonli Jonli Kasumahadi Kasumahadi Khairun Nisa Kissinger Kissinger Lisnaini Lisnaini M Yunus Agisna Iswan Mahrus Aryadi Moehansyah Moehansyah Mufidah Asy’ari Muhamad Nurrahman Abdi Muhammad Hasbi Muhammad Ruslan Noor Adina Husnawaty Noor Arida Fauzana Nor Aida Azizah Normela Rachmawati Rahmat Hidayat Ratih Nur Islamiah Rina Kanti Ririn Retanti Riyanto Imam Setia Budi Peran Siti Aminah Siti Saidah Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati Syamani D. Ali Syam’ani Syam’ani Teguh Iman Basoeki Trisnu Satriadi Tuti Haryati Wahyuni Ilham Winda Aryani Prasetyo Yazid Busthami Yudi Firmanul Arifin