I Gede Soma
Laboratorium Fisiologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana; Pusat Penelitian Satwa Primata Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Universitas Udayana Jln. Sudirman, Denpasar, Bali, Indonesia 80234

Published : 58 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Kasus: Gangguan Lower Motor Neuron pada Anjing Lokal Marmanto, Tessa Saputri; Soma, I Gede; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.326 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.28

Abstract

Anjing lokal berusia dua tahun dengan bobot badan 13 kg diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil pemeriksaan anjing jantan yang berjalan dengan kaki depan menopang tubuh dan memiliki langkah kaki depan pendek ini, menunjukkan tanda klinis paraplegia dan inkontinensia urin. Pemeriksaan neurologi yang dilakukan mengindikasikan terjadinya gangguan lower motor neuron. Pemeriksaan darah rutin menunjukkan anemia normositik hiperkromik [PCV 22.8% (37-55%), MCV 60.9 fl (60-77 fl), dan MCHC 49.3 g/dl (31-34 g/dl)] dan limfositosis [7.6 x 109 (1.0-4.8 x 109 )]. Hasil pemeriksaan rontgen tidak menunjukkan perubahan anatomis yang terlihat. Dari rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan, anjing didiagnosis menderita gangguan lower motor neuron. Gangguan lower motor neuron adalah gangguan saraf yang menyebabkan kelumpuhan otot skeletal pada kaki belakang dan kandung kemih. Prognosa anjing yang mengalami gangguan lower motor neuron adalah infausta. Terapi yang diberikan berupa terapi supportif dengan pemberian neurotropik, vitamin B kompleks tablet, dan ferrous gluconate 250 mg. Hasil terapi tidak menunjukan adanya perubahan.
Laporan Kasus: Anaplasmosis pada Anjing Peranakan Kintamani Tahlia, Ninis Arsyi; Suartha, I Nyoman; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.304

Abstract

Anaplasmosis merupakan penyakit pada anjing yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular gram negatif yang termasuk dalam famili Anaplasmataceae. Seekor anjing mix kintamani berumur 1 tahun diperiksa di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan; gatal-gatal, infestasi caplak, lemas, nasfu makan menurun dan eritema di seluruh tubuh anjing. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan membran mukosa mulut pucat, anjing lemah, infestasi caplak Rhiphicephalus pada kulit. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadi anemia normositik hiperkromik, dan trombositopenia. Pemeriksaan ulas darah positif ditemukan agen Anaplasma spp. Terapi yang diberikan berupa terapi secara kausatif, simtomatis dan suportif. Terapi kausatif diberikan doksisiklin dosis 10 mg/kg BB diberikan secara oral selama 28 hari, ivermectin dosis 0,2-0,3 mg/kg BB, disuntikkan secara subkutan satu minggu sekali selama tiga minggu, terapi simtomatis dengan vetadryl dosis 1-5 mg/kg BB,disuntikkan secara subkutan satu minggu sekali selama tiga minggu, sedangkan terapi suportif diberikan pemberian vitamin livron b-pleks sehari sekali selama 10 hari. Pengobatan dengan doksisiklin, ivermectin, vetadryl dan livron b-pleks memberikan hasil yang baik terhadap anjing kasus dari segi keaktifan hewan, pertumbuhan rambut, nafsu makan yang baik dan hewan bebas dari caplak.
Laporan Kasus: Rhinitis Infeksi Bakteri pada Kucing Peliharaan Taruklinggi, Utari Resky; Suartha, I Nyoman; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.316

Abstract

Seekor kucing lokal betina bernama Calico berumur 1,5 tahun dengan bobot 2,5 kg diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Berdasarkan anamnesis, kucing menunjukan bersin-bersin dan mengeluarkan leleran hidung dari kedua lubang hidung sejak berumur tiga bulan. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan terdapat bercak leleran hidung yang mengering pada kedua lubang hidung dan pemeriksaan sinar X menunjukkan adanya gambaran radiopaque pada rongga hidung. Pemeriksaan ulas leleran hidung berhasil diidentifikasi bakteri Klebsiella sp. dan Staphylococcus sp. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan kucing kasus mengalami leukositosis dan limfositosis. Kucing didiagnosis menderita rhinitis infeksi bakteri dengan prognosis fausta dari rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan. Terapi yang diberikan pada kucing kasus terdiri dari antibiotik cefixime (sediaan 100 mg, dosis 10 mg/kg bobot badan (BB), diberikan per oral (PO) dua kali sehari selama 10 hari) antiinflamasi meloxicam (sediaan 7,5 mg, dosis 0,1 mg/kg BB, diberikan PO satu kali sehari selama empat hari) dan imunomodulator Echinacea purpurea (sejumlah 2 mL, diberikan PO satu kali sehari selama 10 hari). Hasil pengobatan selama 10 hari menunjukkan terjadi perubahan leleran hidung yang tadinya berupa purulen menjadi serous serta frekuensi bersin berkurang yang menandakan kucing mulai membaik.
Laporan Kasus: Glaukoma pada Mata Kiri Anjing Cihuahua Nggaba, Erlin; Widyastuti, Sri Kayati; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.370

Abstract

Glaukoma merupakan kondisi tekanan intraokular (intraocular pressure/IOP) mengalami peningkatan karena obstruksinya sirkulasi aqueous humor. Hewan kasus adalah anjing ras Cihuahua dengan jenis kelamin betina, berumur enam tahun dengan berat badan 1,9 kg dan rambut berwarna coklat muda. Pemilik melihat hewan kasus mengalami kekurusan, mata kiri berair (hiperlakrimasi), kemerahan, bengkak, dan keruh/memutih. Hewan sempat diberikan terapi berupa injeksi antibiotik (penicilline-streptomicine) dan antiinflamasi (dexamethason), serta obat topikal berupa erlamycetin. Pascapengobatan dengan obat topikal selama tiga hari dengan pemberian dua kali sehari, hewan kasus tidak kunjung membaik, bahkan semakin parah. Pemilik memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatan. Pada pemeriksaan klinis teramati mata kiri mengalami exophthalmos, vaskularisasi pada sklera, terdapat refleks kedipan tetapi palpebrae tidak dapat menutupi mata secara sempurna saat berkedip, kekeruhan (opaque) menyeluruh pada kornea, bentuk kornea lebih cembung/menajam, tidak ada refleks pupil terhadap cahaya, tidak berespons terhadap manace test. Hasil IOP test sebesar 40 mmHg. Berdasarkan data tersebut, anjing kasus didiagnosis menderita glaukoma dengan prognosis buruk. Pengobatan dilakukan dengan pemberian brinzolamide 1% tetes mata dan timolol maleate 0,25% tetes mata sebanyak satu tetes dua kali sehari selama dua minggu. Setelah dua minggu pascapengobatan, tidak terjadi perubahan yang berarti pada tanda klinis mata hewan kasus. Hasil IOP test pada mata kiri mengalami penurunan menjadi 30 mmHg.
Laporan Kasus: Keberhasilan Memulihkan Demodekosis General pada Anjing Pomeranian Betina dalam Tempo Satu Bulan Hasanah, Putri Nur; Soma, I Gede; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.504

Abstract

Anjing berumur ±3 tahun, ras Pomeranian berjenis kelamin betina dengan gejala klinis eritema pada bagian wajah, ekor, dan bagian kaki, multifokal alopesia, crusta, hiperkeratosis pada bagian wajah dan ekor, dan hiperpigmentasi pada seluruh bagian kulit sehingga kulit terlihat menghitam. Anjing tidak terlalu sering menggaruk dan tercium bau tengik. Pada pemeriksaan deep skin scraping, trichogram dan skin tape ditemukan tungau Demodex sp. Isolasi dan identifikasi jamur dilakukan dengan hasil negatif. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik hiperkromik dan neutrofilia. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang, anjing kasus didiagnosis menderita demodekosis general. Pengobatan dilakukan dengan pemberian amitraz, ivermectin, dipenhydramin HCl, fish oil, dan Vi-sorbits selama empat minggu. Pada minggu keempat setelah pengobatan menunjukkan adanya perbaikan dengan sudah tidak ditemukannya lesi pada kulit dan rambut tumbuh dengan baik sehingga rambut tampak sehat dan bertambah lebat.
Laporan Kasus: Gestational Diabetes Mellitus pada Anjing Pug Betina Pascamelahirkan yang Ketiga Swandewi, Ni Kadek Meita; Soma, I Gede; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.452

Abstract

Seekor anjing betina ras Pug berumur empat tahun dengan bobot badan 4,5 kg menunjukkan tanda klinis berupa poliuria, polidipsia, polipagia, dan penurunan bobot badan yang sangat signifikan dalam waktu tiga bulan setelah melahirkan. Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah hingga 669 mg/dL dan pengujian dipstick urin menunjukkan adanya glukosa di dalam urin dengan hasil ? 2000 mg/dL. Anjing didiagnosis mengalami diabetes mellitus. Hewan kasus diberikan terapi berupa penggantian pakan menggunakan pakan khusus diabetik (Royal Canin Diabetic food ®) dan injeksi insulin glargine dengan dosis 0, 44 IU/kg BB dua kali sehari sebelum makan. Setelah dua minggu terapi, anjing kasus menunjukkan perkembangan yang baik yang ditunjukkan dengan menurunnya kadar glukosa darah menjadi 163 mg/dL dan menurunnya gejala klinis berupa poliuria, polidipsia, dan polipagia, walaupun bobot badan belum berhasil dipulihkan sepenuhnya.
Laporan Kasus : Gingivostomatitis dan Infeksi Parasite Otodectes Cynotis pada Kucing Lokal Anggung Praing, Umbu Yabu; Soma, I Gede; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (3) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.3.478

Abstract

Feline chronic gingivostomatitis (FCGS) is a painful inflamation in the oral cavity of cats. The case study is a male local cat, named Haru. Haru is 4 years old cat, weight 5.5 kg, with yellow and white hair. The owner came to a veterinary clinic, report that Haru had a decreased appetite for eating and drinking, and one week before the cat had vomited food when he was given dry feed and had difficulty in chewing food. The owner also saw his cat was scratching the ear area, in the cat's mouth area, the hypersalivation started to appear mixed with blood from one week earlier and gradually became more pronounced, and there was a black crust around the cat's mouth that was visible from the previous one week. The cat is one of the 19 cats kept by the owner. On clinical examination of cat's oral cavity, it was observed that there was inflammation of the gums starting from the cranial to the caudal part. Severe inflammation was seen of the caudal oral mucosa. Inflammation occurs bilaterally. Besides, ulceration was clearly visible, redness, swelling and feeling discomfort when the oral cavity is opened. The cat was diagnosed gingivostomatitis with a fausta prognosis. Dry dark brown substance was found in the inner part of the ears. Under the microscope, the dark brown substance contained Otodectus cynotis. Treatment for gingivostomatitisis carried out by administering dexamethasone 0,91 mg/KgBB given one a day for five days, cefotaxime 60 mg/KgBB given twicw a day for seven days, infusion of RL for seven days, and multivitamins hematodine 0,2 ml/KgBB once day for three days. After one - week treatment, Haru gradually recovered. Eardrops containing pyrethrine was used to treat Otodectus cynotis infestation. On examination of earwax after a week, Otodectus cynotis was not found. The treatmen was given only symptomatic relief but not the agent causing the infection so that the case recurs seven days after the treatment, so it is recommended to do tooth extraction or scalling. Key words: Local cat; feline chronic gingivostomatitis; oral cavity; Otodectes cynotis.
Laporan Kasus: Pyelonefritis dan Cystitis pada Anjing Pitbull Paramita, Putu Wahyuni; Soma, I Gede; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (4) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.4.657

Abstract

Penyakit saluran kemih bagian bawah adalah penyakit umum pada anjing yang dapat terjadi pada anjing jantan dan betina. Penyakit ini dapat mengancam nyawa, terutama jika muncul sebagai penyakit obstruktif. Diagnosis dan pengobatan dini diperlukan, jika tidak maka dapat menyebabkan kematian. Seekor anjing Pitbull jantan berumur lima tahun dengan bobot 26 kg memiliki riwayat mengalami stranguria disertai hematuria selama tiga hari serta kelemahan pada kaki belakang. Pemeriksaan fisik menunjukkan vesika urinaria mengalami pembesaran dan nyeri saat dipalpasi. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anemia mikrositik hipokromik. Hasil pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan kadar glukosa (381.86 mg/dL). Urinalisis menunjukkan darah (+), protein 100 mg/dL, leukosit (+), pH 8 dan berat jenis 1,005. Sedimentasi urin menunjukkan adanya eritrosit pada endapan urin. Pemeriksaan radiografi menunjukkan distensi pada vesika urinaria. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan peradangan pada medula ginjal kanan dan dinding vesika urinaria. Berdasarkan hasil temuan ini, anjing kasus didiagnosis mengalami pyelonefritis dan cystitis. Penanganan pertama dilakukan dengan pemasangan kateter. Urin yang berhasil dikeluarkan sebanyak 750 mL berwarna merah kecoklatan dan berbau amonia yang samar serta anyir. Terapi cairan Ringer Laktat diberikan untuk mengembalikan hidrasi anjing kasus. Terapi untuk penanganan pyelonefiritis dan cystitis diberikan amoxicillin 15 mg/kg BB selama tiga hari dan dexametasone 0,5 mg/kg BB selama 3 hari. Karena belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, pada hari ketujuh penggunaan amoxicillin diganti dengan cefotaxime 12 mg/kg BB selama tujuh hari. Terapi simtomatik diberikan kejibeling (1 kapsul/hari, p.o) selama 14 hari, Hematodin dan calcium glukonate 10% selama tujuh hari. Setelah menjalani terapi selama 14 hari anjing kasus menunjukkan kondisi yang semakin membaik ditandai dengan tidak terjadinya hematuria dan stranguria.
Laporan Kasus: Skabiosis Akibat Infeksi Tungau Sarcoptes scabiei pada Anjing Kampung Purwaka Putra, Putu Adi Guna; Soma, I Gede; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (4) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.4.633

Abstract

Skabiosis adalah penyakit kulit menular, bersifat zoonosis yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Anjing lokal berumur tujuh tahun dengan bobot 8 kg mengalami masalah kulit berupa alopesia, kerak, penebalan dan pelipatan kulit di seluruh badan. Hasil pemeriksaan kerokan kulitnya dengan metode pemeriksaan kerokan kulit ditemukan tungau Sarcoptes scabiei. Anjing tersebut didiagnosis menderita skabiosis. Terapi kausatif diberikan dengan cara menginjeksikan ivermectin dengan dosis 300 mcg/kg BB secara subkutan (SC) dan untuk terapi simptomatisnya digunakan difenhidramin. Ivermectin diberikan satu kali dalam satu minggu selama empat minggu. Difenhidramin diberikan untuk mengurangi rasa gatal, pengobatan topikal dengan lime sulfur. Selain itu pengobatan topikal lainnya adalah dengan pemberian permethrin 5% untuk membantu kerja ivermectin.
Laporan Kasus: Dermatofitosis oleh Microsporum spp., dan Curvularia spp., pada Anjing Pomeranian Kurniawati, Ni Made Ayu; Erawan, I Gusti Made Krisna; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.804

Abstract

Dermatofitosis merupakan infeksi jamur yang sering disebabkan oleh Microsporum canis, M. gypseum, dan Trichophyton mentagrophytes. Anjing dalam kasus ini merupakan anjing ras pomeranian jantan berusia lima tahun dengan bobot badan 6 kg. Anjing kasus menderita lesi kemerahan pada permukaan kulit, yang kemudian menjadi keropeng dan menyebar ke beberapa bagian tubuh secara multifokal. Anjing kasus sempat dibawa ke dokter hewan untuk pengobatan, namun lesi semakin parah dan obat sebelumnya tidak dapat dinilai. Pemeriksaan penunjang berupa tape skin test dilakukan untuk melihat agen penyebab penyakit. Sampel diambil dari lesi yang ada dipermukaan kulit, dan rambut hewan. Kapang Microsporum spp. dan Curvularia spp. ditemukan pada pemeriksaan tape skin test. Anjing diberikan pengobatan antijamur berupa itraconazole (5 mg/kg, q 24 jam) selama 28 hari dan cephalexin (15 mg/kg, q 12 jam) selama tujuh hari. Pengamatan pascaterapi menunjukkan keadaan hewan kasus kembali normal dengan pertumbuhan rambut yang bagus.
Co-Authors Agus Wawan Darmawan Aida Lousie Tenden Rompis Aminuyati Anak Agung Gde Jaya Wardhita, Anak Agung Gde Jaya Anak Agung Ngurah Subawa Anggung Praing, Umbu Yabu Aryana, Carissa Saraswati Putri Brotcorne, Fany Deny Rahmadani Dewi, Putu Ayu Purbani Novia Dini Maharani Dyah Utami Dewi Evi kumala dewi FERDANIAR FAKHIDATUL ILMI Firdaus, Ihanul Gafar, Azijul Gurning, Santri Devita Sari Hasanah, Putri Nur Hutagaol, Wanda Della Oktarin I Dewa Ketut Harya Putra I GA Artha Putra I Gusti Agung Arta Putra I Gusti Made Krisna Erawan I Gusti Ngurah Sudisma I K. SUATHA I Ketut Suatha I Made Agus Miyasa Jaya I Made Kardena I MADE SUMA ANTARA i Nengah Wandia I Nyoman Suartha I Nyoman Sulabda I Putu Gede Yudhi Arjentinia I Wayan Batan I Wayan Bebas I Wayan Gorda I Wayan Wirata Ida Ayu Putri Utami Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Windia Adnyana Kadek Intan Dwityanti Devi Khadafi, Gde Erwin Ali Kurniawati, Ni Made Ayu Lestari, Annisa Astuti Luh Gde Sri Surya Heryani Made Rahayu Kusumadewi Marmanto, Tessa Saputri maulana, Ibrahim MIKEU PAUJIAH MUR Muh Imam Subiarsyah Muhamad Rifaid Aminy Nggaba, Erlin Ni Ketut Suwiti Ni Luh Eka Setiasih Ni Nyoman Werdi Susari Nikmatur rayan Ningrum, Ni Made Adinda Arya Nugraha, Elisabeth Yulia NURI DWI YUDARINI Paramita, Putu Wahyuni Patricia, Clarissa Purwaka Putra, Putu Adi Guna Purwitasari, Made Santi Pusparini, Ni Putu Dyah Prashanti Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Putu Devi Jayanti Rostiani Silta S. K. WIDYASTUT SARI PUTRIANI Sewoyo, Palagan Senopati Sihombing, Tri Indra Erikson Sis wanto Siswanto - Siswanto Sousa, Rojelio Dias Trindade Sri Kayati Widyastuti Swandewi, Ni Kadek Meita Tahlia, Ninis Arsyi Taruklinggi, Utari Resky Widiastuti, Wayan Arni Winda Ara Yulisa Wulandari, Chitra Dwi Yulianty, Syifaurrachmah Zumara Mufida Hidayati