Nurcholif Diah Sri Lestari
Departement Of Mathematics Education, University Of Jember

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

BAGAIMANA SISWA DAPAT BERKOMUNIKASI DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA? Meilysa Ajeng Kartika Putri; Nurcholif Diah Sri Lestari; Fiqih Nur Hakiki; Theresia Siska Rikna Sari; Didik Sugeng Pambudi
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.659 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.5754

Abstract

Kemampuan komunikasi matematis siswa memerlukan perhatian dalam proses pembelajaran. Berdasarkan wawancara dengan guru matematika, kemampuan komunikasi matematis tulis siswa masih kurang, terutama dalam proses penyelesaian masalah yang berkaitan dengan materi sistem persamaan linier tiga variabel. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan komunikasi matematis tulis siswa SMK pada materi sistem persamaan linear tiga variabel. Teknik pengumpulan data penelitian ini diterapkan dengan tiga tes pada tes dan wawancara semi terstruktur untuk siswa dengan kemampuan komunikasi matematis tertulis baik, kemampuan komunikasi matematis tertulis sedang dan kemampuan komunikasi matematis tulis lemah. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis data deskriptif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan inferensi. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, ditemukan bahwa siswa dengan kemampuan komunikasi matematis tinggi mampu mengungkapkan, menginterpretasikan dan mengevaluasi ide matematika secara tertulis dan menggunakan simbol matematika saat menyelesaikan masalah. Siswa dengan kemampuan komunikasi matematika sedang dapat mengungkapkan melalui menulis, mengevaluasi, dan menggunakan simbol matematika untuk menyelesaikan masalah matematika, tetapi menambahkan variabel masih menimbulkan kebingungan. Sedangkan untuk siswa dengan kemampuan komunikasi matematis rendah, mereka tidak dapat mengungkapkan ide matematika secara tertulis.Students' mathematical communication skills require attention in the learning process. Based on interviews with mathematics teachers, students' written mathematical communication skills are still lacking, especially in the process of solving problems related to the material on a system of three-variable linear equations. Therefore, this study aims to analyze the written mathematical communication skills of SMK students on the material system of three-variable linear equations. The research data collection technique was applied to three tests on tests and semi-structured interviews for students with good written mathematical communication skills, medium written mathematical communication skills and weak written mathematical communication skills. Data analysis in this study was carried out using descriptive data analysis methods which included data reduction, data presentation, and inference. Based on the results of data analysis and discussion, it was found that students with high mathematical communication skills were able to express, interpret and evaluate mathematical ideas in writing and use mathematical symbols when solving problems. Students with moderate mathematical communication skills can express through writing, evaluating, and using mathematical symbols to solve mathematical problems, but adding variables still creates confusion. Whereas for students with low mathematical communication skills, they cannot express mathematical ideas in writing.
ANALYSIS OF STUDENTS’ ERRORS IN SOLVING CURVED FACE THREE-DIMENSIONAL PROBLEMS BASED ON KASTOLAN’S STAGE REVIEWED FROM FIELD DEPENDENT AND FIELD INDEPENDENT COGNITIVE STYLES: ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL BANGUN RUANG SISI LENGKUNG BERDASARKAN TAHAPAN KASTOLAN DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT DAN FIELD INDEPENDENT Erfan Yudianto; Liski Roswita Dinia; Titik Sugiarti; Dian Kurniati; Nurcholif Diah Sri Lestari
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 10 No 2 (2022): DECEMBER
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2022v10n2a1

Abstract

This study aims to analyze the types of errors made by students in solving curved face three-dimensional problems based on Kastolan’s stages reviewed from field-dependent and field-independent cognitive styles. This study uses descriptive research with a qualitative approach. The subjects in this study were 4 students of class IX A SMP Muhammadiyah 1 Jember who had completed the cognitive style test and soblukan ethno mathematical story questions, then continued with interviews to obtain more in-depth information. The subject was chosen based on the work of students who made the most mistakes according to the Kastolan error stage indicator. The results obtained in this study are field-dependent students mostly make conceptual, procedural, and technical errors. The form of conceptual error experienced was that students misinterpreted the problem in the form of pictures, students did not conceptualize the height of the cone, and students misinterpreted the shape of the cylinder. The form of procedural error experienced was wrong in determining the formula and students were wrong in determining the surface area of ​​the soblukan’s lid. The form of technical error experienced, students were wrong in doing calculations. The field-independent students made more technical errors. The form of technical error is that students are wrong in doing calculations. Through this research, it is expected that teachers can design learning to minimize student errors in solving problems by looking at the types of errors that have the most.
Pengembangan E-Modul Berbantuan Geogebra pada Materi Transformasi Geometri SMA Budi Wahyu Agung Pramana; Susanto; Abi Suwito; Nurcholif Diah Sri Lestari; Randi Pratama Murtikusuma
GAUSS: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/gauss.v5i2.5694

Abstract

GeoGebra yang valid, praktis, dan efektif. Model pengembangan yang diterapkan merupakan model Thiagarajan (4D) dengan empat tahap yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Luaran penelitian berupa e-modul yang dapat diakses secara daring di situs web GeoGebra dan secara luring melalui modul berformat pdf atau ggb. Subjek penelitian merupakan peserta didik kelas XI MIPA 1 SMAN 2 Tanggul. Berdasarkan hasil pengembangan diperoleh e-modul yang sangat valid dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,85, memenuhi kriteria kepraktisan dengan tingkat cukup praktis ditinjau dari perolehan skor angket respons peserta didik sebesar 76,88%, dan tergolong dalam kategori efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep peserta didik yang ditinjau dari rata-rata N-Gain sebesar 0,48. E-modul yang dikembangkan mampu meningkatkan pemahaman konsep peserta didik pada materi Transformasi Geometri SMA karena kemudahan dalam mengetahui hasil bayangan objek matematika dari suatu transformasi dan kemudahan dalam mengakses.
PENGEMBANGAN PAKET TES GEOMETRI BANGUN DATAR UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMP Handariyatul Masruroh; Susanto Susanto; Nurcholif Diah Sri Lestari
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.824 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v12i1.6729

Abstract

Tes merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk mengukur ketercapaian pembelajaran matematika. Dengan adanya pengembangan paket tes geometri, guru dapat mengukur kemampuan penalaran matematis siswa sehingga guru akan lebih mudah dalam merancang pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan penalaran matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan paket tes geometri pokok bahasan bangun datar untuk mengukur kemampuan penalaran matematis siswa SMP yang valid, praktis, dan efektif, serta untuk mendeskripsikan profil kemampuan penalaran matematis siswa SMP dalam menyelesaikan paket tes geometri bangun datar. Penelitian ini mengkombinasikan penelitian pengembangan dan penelitian kualitatif. Model penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah formative evaluation yang terdiri dari enam tahap, yaitu: preliminary, self evaluation, expert review, one-to-one, small group dan field test. Setelah paket tes geometri yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif dilakukan penelitian kualitatif untuk mengetahui profil kemampuan penalaran matematis siswa. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan lembar validasi, tes geometri, angket respon siswa, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paket tes geometri yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif. Analisis kemampuan penalaran matematis siswa SMP menunjukkan siswa berkemampuan penalaran matematis tinggi mampu memenuhi enam aspek penalaran matematis yaitu analisis. menyatukan/sintesis, generalisasi, membenarkan, menarik kesimpulan, dan mengevaluasi. Siswa berkemampuan penalaran matematis sedang mampu memenuhi empat aspek penalaran yaitu analisis, menyatukan/sintesis, generalisasi, dan membenarkan. Siswa berkemampuan penalaran matematis rendah tidak mampu memenuhi aspek penalaran atau hanya mampu memenuhi satu aspek penalaran yaitu analisis
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MODEL CORE DENGAN PENDEKATAN RME UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS Any Isroaty; Sunardi Sunardi; Nurcholif Diah Sri Lestari; Didik Sugeng Pambudi; Dian Kurniati
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.911 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v12i1.6732

Abstract

Abstrak Rendahnya kemampuan koneksi matematis membuat peserta didik kesulitan dalam mengaitkan antara ide matematika satu dengan yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika menggunakan model Connecting, Organizing, Reflecting and Extending (CORE) dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) yang disusun untuk meningkatkan kemampuan koneksi matematis peserta didik. Perangkat yang dikembangkan terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan Tes Hasil belajar (THB) yang berupa tes kemampuan koneksi matematis yang valid, praktis dan efektif. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pengembangan dengan menggunakan model 4D Thiagarajan Semmel & Semmel dan dilakukan penelitian eksperimen untuk menganalisis pengaruh peningkatan perangkat yang dikembangkan terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran model CORE dengan pendekatan RME termasuk pada kriteria valid, praktis dan efektif. Berdasakan uji hipotesis terhadap hasil penelitian eksperimen diperoleh nilai Sig. (2-tailed)  (Sig. (2-tailed ) sehingga dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran model CORE dengan pendekatan RME berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematis. Abstract The low of the ability of mathematical connections makes it difficult for students to connect one material or concept to another. The study aim is to develop mathematics learning tools using Connecting, Organizing, Reflecting and Extending (CORE) models with Realistic Mathematics Education (RME) approaches to improved the mathematical connection ability of students. The developed device consists of the learning implement plan (RPP), Student Worksheet (LKPD) and learning test (THB) of mathematical connection capability test a valid, practical and effective. Research methods used in this study are development using the 4D model thiagarajan semmel & semmel and experimental studies are conducted to analyze the effect of improved devices developed on improving mathematical connection capabilities. Research shows that the CORE model learning tool with the RME approach meets valid, practical and effective criteria. Based on a hypothesis test of experimental research based on sig. (2-tailed) = 0.007 (sig. (2-tailed < 0.05) so it can be seen that the CORE model learning device with the RME approach has a significant effect on improving mathematical connection capabilities 
HOW DO STUDENTS' DECISION-MAKING ABILITY IN SOLVING OPEN-ENDED PROBLEMS? Wasilatul Murtafiah; Nurcholif Diah Sri Lestari; Faridah Hanim Yahya; Davi Apriandi; Edy Suprapto
Jurnal Infinity Vol 12 No 1 (2023): VOLUME 12, NUMBER 1, INFINITY
Publisher : IKIP Siliwangi and I-MES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/infinity.v12i1.p133-150

Abstract

An open-ended problem in learning mathematics is a problem with more than one answer or method of solving. In solving open-ended problems in learning mathematics, one of the abilities students must use is decision-making ability. Each student has a variety of capacities, so this study aims to determine students' decision-making abilities in solving open-ended problems in learning mathematics. The type of research used is descriptive qualitative research. The subjects of this study were four students with different numbers of correct answers in working on open-ended problems. Data collection was carried out using tests and interviews. The results showed that (1) the decision-making ability of the subject who answers correctly for both problems is complete because they fulfill all indicators, the subject can identify goals, make decisions, evaluate the results of determination, and present and remember between problems with things known to the problem and related to decisions that have been taken correctly; (2) decision-making ability for subjects with wrong answers on one number or two numbers is incomplete because they only fulfilled two indicators, the subject can identify goals, make decisions, is less able to evaluate decision results and present and remember between problems with things known to the problem, and related to decisions that have been taken with correct. Mathematics teachers should often reinforce students to practice operating integers because it is a prerequisite for learning mathematics at the middle and high school levels.
Kemampuan Berpikir Komputasi Siswa dalam Menyelesaikan Soal Numerasi Tipe AKM Materi Pola Bilangan Hanifah Rizki Mubarokah; Didik Sugeng Pambudi; Nurcholif Diah Sri Lestari; Dian Kurniati; Dhanar Dwi Hary Jatmiko
JNPM (Jurnal Nasional Pendidikan Matematika) Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.213 KB) | DOI: 10.33603/jnpm.v7i2.8013

Abstract

Abstrak. Kemampuan berpikir komputasi sangat penting untuk dikembangkan sehingga dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam merancang bahan pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir komputasi siswa dan mendeskripsikan kemampuan berpikir komputasi 6 orang subjek penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah 6 siswa terpilih dari 25 siswa kelas VIII G SMP Nuris Jember. Instrumen penelitan berupa soal tes pola bilangan, pedoman wawancara serta lembar validasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 25 siswa menunjukkan 16% siswa yang mempunyai kemampuan berpikir komputasi rendah, 64% siswa yang mempunyai kemampuan berpikir komputasi sedang, dan 20% yang mempunyai kemampuan berpikir komputasi tinggi. Siswa kelas VIII G rata-rata mampu memenuhi indikator kemampuan berpikir komputasi yaitu dekomposisi, berpikir algoritma, pengenalan pola. Namun, belum maksimal pada indikator abtraksi dan generalisasi. Siswa dengan kemampuan berpikir komputasi tinggi mampu memenuhi semua indikator berpikir komputasi yaitu dekomposisi, berpikir algoritma, pengenalan pola, dan abtraksi dan generalisasi. Walaupun, pada tahap abstraksi dan generalisasi masih terdapat kesalahan. Siswa dengan kemampuan berpikir komputasi sedang mampu memenuhi indikator dekomposisi, berpikir algoritma, dan pengenalan pola. Siswa dengan kemampuan berpikir komputasi rendah mampu memenuhi indikator dekomposisi dan berpikir algoritma, namun masih terdapat beberapa kesalahan.Kata Kunci: Berpikir Komputasi, Numerasi, Pola bilangan.
Profil Pemecahan Masalah Higher Order Thinking Skill Ditinjau dari Self-Eficacy Siswa Putri Wulandari; Nurcholif Diah Sri Lestari; Inge Wiliandani Setya Putri; Dian Kurniati; Saddam Hussen
Jurnal Tadris Matematika Vol 6 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/jtm.2023.6.1.1-14

Abstract

The phenomenon of students not being used to solving higher order thinking questions often occurred in one of the Islamic Senior High School in Sidoarjo. Therefore, this research aims to describe the profile of students' problem-solving in overcoming HOTS questions based on the self-efficacy. The research subjects were three selected students of XI-IPA class who were categorized into low, moderate, or high self-efficacy based on self-efficacy questionnaires and had good communication skills. The data were collected through tests, triangulated by interviews and analyzed using Polya's problem-solving indicators (unerstanding the problem, devising a plan, carrying the plan, and looking back). The results show that: 1) Students with low self-efficacy able to solve an “analyze” problem eventhough without looking back and solve the “evaluate” problem through all of the stages. Eventhough, he need help to work on the “creative” problem; 2) Students with moderate self-efficacy able to solve an “analyze” problem through all stages. However, while working on evaluate and creative problem, he could only complete the stages of understanding the problem, devise an incomplete plan and never try to carry out the plan; 3) Students with high self-efficacy can solve the problem on analyze, evaluate, and create in a complete stage. Teachers must become accustomed to asking HOTS questions to students in order to increase student self-efficacy and problem-solving abilities.
KESIAPAN GURU MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH DALAM MENGAJARKAN LITERASI DAN NUMERASI MELALUI KURIKULUM MERDEKA Nurcholif Diah Sri Lestari; Didik Sugeng Pambudi; Dian Kurniati; Abdillah Putra Maulana; Wasilatul Murtafiah; Suwarno Suwarno
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v12i2.6674

Abstract

Literasi dan Numerasi merupakan kompetensi yang perlu dikuasai dan diajarkan di sekolah. Namun, guru belum pernah mempelajari bagaimana cara mengajarkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan guru matematika sekolah menengah dalam mengajarkan literasi dan numerasi. Data diperoleh melalui metode survei dengan desain cross-sectional pada awal implementasi kurikulum merdeka di Indonesia. Responden adalah 47 guru matematika yang merespon survei, yaitu 52,2% guru di sekolah menengah atas atau sederajat dan 47,8% guru di tingkat sekolah menengah pertama atau sederajat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) sebanyak 51,1% responden dikategorikan siap untuk mengajarkan literasi dan numerasi, 2) sebanyak 19,2% guru menyatakan siap dan telah mengajarkan literasi numerasi tetapi memilih metode pengajaran yang kurang tepat, 3) sebanyak 6,3% guru menyatakan siap mengajarkan literasi numerasi namun belum mempunyai pengalaman dalam mengajarkan literasi numerasi ataupun pemecahan masalah, 4) sebanyak 23,4% guru mempunyai pengalaman mengajar literasi numerasi melalui pemecahan masalah tetapi menyatakan tidak siap mengajarkan literasi numerasi. Temuan penelitian ini adalah hampir separuh jumlah guru masih belum siap mengajarkan literasi dan numerasi karena kurangnya keyakinan untuk mengajarkannya ataupun kurangnya pemahaman terhadap literasi dan numerasi. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan dilaksanakannya sosialisasi atau pelatihan pengajaran literasi dan numerasi melalui media online sebagai sumber informasi yang paling diminati responden 
APLIKASI TEORI NEWMAN: : BAGAIMANAKAH KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA BERDASARKAN KEPRIBADIAN DAN KEMAMPUAN MATEMATIKA? Suwarno Suwarno; Jamilatus Sholehah; Nurcholif Diah Sri Lestari
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan Vol 11, No 1 (2023): Kwangsan
Publisher : Balai Besar Guru Penggerak Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31800/jtp.kw.v11n1.p363--382

Abstract

Mathematics is a subject in the spotlight because many students think that mathematics is a complex subject. Students find it difficult to solve word problems, so they make mistakes when encountering them. Some factor that influences student errors is students' mathematical abilities and personality types. Therefore, this study aims to describe the mistakes of extrovert and introvert students (as personality types) with high, medium, and low mathematical abilities (as mathematical abilities levels). This study used a descriptive method with a qualitative approach by collecting data using personality-type questionnaires, tests, interviews, and documentation involving three extrovert students with high, medium, and low mathematical abilities and three introvert students with high, medium, and low abilities. The results showed that 1) types of errors made by extrovert students with high mathematical abilities made Comprehension errors, 2) introverted students with high abilities made encoding errors, 3) extrovert students with moderate abilities made process skill errors and encoding errors, 4) introverted students had the ability making transformation error types, process skill errors, and encoding errors, 5) Extrovert students with low abilities make transformation errors, process skill errors, and encoding errors. Also, 6) introverted students with low ability make comprehension, transformation, process skills, and encoding errors. AbstrakMatematika merupakan salah satu mata pelajaran yang menjadi sorotan, karena banyak siswa yang berpikir bahwa mata pelajaran matematika ialah mata pelajaran yang sulit. Siswa merasa kesulitan pada saat menyelesaikan soal berbentuk cerita sehingga siswa melakukan kesalahan pada saat menemui soal berbentuk soal cerita. Salah satu faktor yang mempengaruhi kesalahan siswa adalah kemampuan matematis siswa dan tipe kepribadian siswa yang berbeda. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan kesalahan yang dilakukan oleh siswa extrovert dan introvert berkemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan mengumpulkan data menggunakan angket tipe kepribadian, tes, wawancara dan dokumentasi yang melibatkan 3 siswa extrovert berkemampuan matematika tinggi, sedang, rendah, dan 3 siswa introvert berkemampuan Tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) jenis kesalahan yang dilakukan siswa extrovert berkemampuan matematika tinggi melakukan Comprehension error, 2) siswa introvert berkemampuan tinggi melakukan jenis kesalahan encoding error, 3) siswa extrovert berkemampuan sedang melakukan process skill error dan encoding error, 4) siswa introvertberkemampuan sedang melakukan jenis kesalahan transformation error, process skill error dan encoding error, 5) Siswa extrovert berkemampuan rendah melakukan transformation error, process skill error dan encoding error. Serta, 6) siswa introvert berkemampuan rendah melakukan comprehension error, transformation error, process skill error dan encoding error.